Friday, 3 January 2020

Beginilah Cara Mempelajari Kitab Para Ulama (2)

Beginilah Cara Mempelajari Kitab Para Ulama (2)
Beginilah Cara Mempelajari Kitab Para Ulama  Beginilah Cara Mempelajari Kitab Para Ulama (2)bagian pertama telah dijelaskan bahwa ada tiga kunci fundamental untuk sukses menuntut ilmu syar’i yang diterapkan para ulama rahimahumullah, yaitu Ikhlas, sesuai dengan sunnahyaitu ar-rifqu. Para ulama menjelaskan tentang ar-rifqu, maknanya ialah berhati-hati, teliti, tidak terburu-buru dan sedikit demi sedikit dalam setiap urusan, lawannya ialah mengambil sesuatu (langkah/keputusan/aktifitas) dengan berangasan dan terburu-buru.
Dalam menuntut ilmu syar’i, bentuk ar-rifqu adalah menuntut ilmu syar’i secara bertahap, tidak sekaligus dan tidak eksklusif mencar ilmu secara luas, mendetail dan mendalam, namun mempelajari dasar banyak sekali disiplin ilmu yang ringkas terlebih dahulu kemudian meningkat ke ilmu lanjutan yang menengah, dan selanjutnya ke tingkatan yang lebih tinggi, demikian seterusnya sesuai dengan yang dimudahkan oleh Allah baginya.
Contohnya:
Seorang penuntut ilmu syar’i pemula yang mempunyai semangat mempelajari ilmu tafsir -di awal tangga menuntut ilmu- menginginkan eksklusif menguasai pembahasan tafsir yang luas, yang disebutkan di dalamnya banyak perbedaan pendapat para andal tafsir, detail, dan lengkap dengan sanadnya serta alasan-alasan ilmiyahnya, padahal ia tidak pernah mempelajari tafsir yang ringkas sebelumnya, yang mengajarkan dasar-dasar ilmu tafsir dan tidak pernah pula mempelajari kaidah-kaidah permintaan tafsir, kaidah tafsir, kaidah tarjih (menguatkan pendapat), tata bahasa Arab maupun ilmu lainnya yang diharapkan untuk memahami pembahasan tafsir yang detail dan mendalam.
Misalnya saja, penuntut ilmu pemula tersebut eksklusif mempelajari kitab tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari yang tergolong memuat secara umum dikuasai ilmu tafsir, sebuah kitab yang terdiri dari belasan jilid yang tebal. Jika Anda bertanya kepadanya perihal tafsir Ayat tertentu, maka biasanya ia tidak bisa menjelaskannya dengan baik, hanya ingat saja bahwa dirinya pernah baca tafsir Ayat tersebut, tidak lebih dari itu.
Begitu juga ketika ia ingin mempelajari ilmu hadits, ia eksklusif mencar ilmu kitab SyarahShahihul Bukhari dan Fathul Baari.  Orang menyerupai ini tidak akan bisa menguasai ilmu tersebut sebagaimana yang dimiliki ulama atau penuntut ilmu syar’i yang mapan ilmunya. Ia hanyalah berstatus orang yang “berwawasan luas” (berwawasan luas dalam tanda petik) alias “pernah banyak tahu atau dengar” saja, namun banyak lupa dan banyak tidak memahami masalah-masalah atau bab-bab dalam disiplin ilmu syar’i tersebut.
Di antara penuntut ilmu syar’i pemula, terkadang ada yang suka menghadiri majelis-majelis atau membaca kitab-kitab yang mengajarkan ilmu-ilmu tafshiilaat (perincian secara detail) perihal suatu dilema atau pecahan tertentu, selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Ia menyangka dengan itu dirinya akan mendapat ilmu yang mendalam sebagaimana ulama, padahal ia belum pernah mempelajari ilmu-ilmu pengantar, ilmu-ilmu dasar dan kaidah-kaidah umum yang diharapkan untuk menguasai dilema tersebut dengan kokoh.
Orang yang menyerupai ini biasanya akan banyak lupa perincian ilmu yang telah ia pelajari selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun itu lantaran ia tidak menguasai ilmu pengantar dan kaidah-kaidah dasar atau alat yang mengikat perincian yang sangat detail itu, sehingga ia gampang lupa atau sulit memahaminya. Ketahuilah, bukan demikian metode menuntut ilmu syar’i yang benar. Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya menjadi rabbaniyyin,
وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
“Akan tetapi (dia berkata), “Hendaklah kalian menjadi orang-orang rabbani, lantaran kalian selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kalian tetap mempelajarinya” (Ali ‘Imran:79).
Imam Al-Bukhari rahimahullah menafsirkan rabbaniyin dalam kitab shahihnya,
الرباني هو الذي يربي الناس بصغار العلم قبل كباره
“Rabbani ialah orang yang mendidik insan dengan ilmu yang dasar dan ringkas sebelum ilmu yang tinggi dan panjang lebar pembahasannya.” Inilah metode yang benar dalam mencar ilmu maupun mengajarkan ilmu syar’i. Seorang guru yang rabbani tidaklah memberikan semua yang ia ketahui kepada muridnya, ia memberikan apa yang diharapkan muridnya sesuai dengan tingkatan ilmunya dan pemahamannya. Demikian pula seorang murid yang ingin menjadi seorang da’i, syaikh, ulama rabbaniyyin atau sebatas menjadi pendidik bagi diri dan keluarganya dengan benar, maka ia mendidik dirinya dengan ar-rifqu (kelembutan) dalam menuntut ilmu syar’i, tidak membebani dirinya dengan beban-beban menuntut ilmu yang berat sebelum yang dasar, ringkas, dan mudah.

Hendaklah Penuntut Ilmu Syar’i Memberikan Waktu Paling Baik dan Mahal untuk Meraihnya

Seorang penuntut ilmu syar’i yang ingin menjadi generasi penerus ulama ahlus sunnah wal jama’ah janganlah memperlihatkan “waktu-waktu sisa” dalam ibadah thalabul ‘ilmi. Janganlah ia berikan waktu sisa-sisa bekerja sehabis tenaga banyak terkuras untuk kerja. Janganlah ia berikan waktu sisa-sisa sibuk (waktu senggang), ketika pikiran sudah penat. Begitu pula, waktu sisa-sisa umur, ketika sudah hilang umur-umur emas bisa menghafal dengan berpengaruh (sudah tua).
Bukan berarti ada kata terlambat untuk jadi ulama bagi yang sudah berusia tua. Namun maksudnya kita bicara sesuatu yang ideal untuk menjadi ulama. Untuk menguasai ilmu syar’i dengan baik, berikanlah waktu paling mahal Anda, ketika pikiran masih segar, hafalan masih kuat, usia masih muda, tidak sedang disibukkan dengan urusan lain, itupun, sebagaimana kata mutiara mengatakan,
العلم إنْ أعطيته كلّك أعطاك بعضه، وإنْ أعطيته بعضك لم تدرك منه شيئا
“Ciri khas ilmu syar’i itu, seandainya Anda telah memperlihatkan pengorbanan semua yang Anda miliki, maka Ilmu tersebut hanyalah akan memperlihatkan kepadamu sebagiannya saja”
Ketahuilah, memperlihatkan waktu yang paling baik dan paling mahal untuk meraih ilmu syar’i dan menguasainya bisa terwujud dengan dua kasus berikut ini:
  1. Pembagian Waktu yang TepatBagilah waktu sesuai dengan ilmu yang Anda pelajari. Waktu-waktu yang “emas” pakailah untuk mempelajari ilmu-ilmu yang membutuhkan kosentrasi dan anutan yang berat, semisal fikih, ushul fikih, dan yang semisalnya. Waktu-waktu “perak” gunakanlah untuk mempelajari ilmu-ilmu yang kurang membutuhkan kosentrasi dan anutan yang berat, semisal tafsir, hadits dan mushthalahnya. Waktu-waktu “perunggu”, yaitu waktu disaat Anda sudah penat, capek dan lelah berpikir, namun masih bisa untuk terus belajar, maka manfa’atkan waktu-waktu tersebut untuk membaca kitab-kitab perihal Adab, biografi ulama, dan yang semisalnya.
  2. Hiduplah Bersama dengan Ilmu dan Amal, dimanapun Anda BeradaJadikanlah hatimu senantiasa tertuju kepada ilmu dan amal serta jadilah sosok insan yang haus ilmu dan pengamalannya, kapanpun dan dimanapun Anda berada. Pagi, siang, dan malam bersama dengan ilmu dan amal, berdiri tidur sibuk dengan membuka lembaran-lembaran kitab ulama, hendak tidurpun menyanding kitab-kitab ulama semoga suatu ketika Anda membutuhkan pembahasan dilema ilmiyyah tertentu, Anda pun membacanya kemudian segera menulisnya semoga tidak hilang dari ingatannya.
Kaprikornus intinya, kalau Anda ingin menjadi ulama, maka tempuhlah jalan yang telah mereka tempuh, sebagaimana sebuah sya’ir,
ترجو النجاة ولم تسلك مسالكها … إن السفينة لا تجري على اليبس
“Anda mengharapkan kesuksesan, namun Anda tidak menempuh jalan-jalan yang semestinya #  Sesungguhnya kapal bahari itu tidaklah berjalan di atas daratan”
Maka bagaimana mungkin kapal bahari lewat darat akan hingga tujuannya? Begitu pula, mungkinkah seorang penuntut ilmu syar’i menjadi ulama, kalau menempuh suatu cara yang bukan caranya ulama?
Oleh lantaran itu, jadilah sosok orang yang senantiasa bersama ilmu sebagaimana ulama. Bagi ulama, tidak ada satu saatpun paling indah dan bagus dalam hidupnya kecuali bersama dengan ilmu yang diamalkan. Baginya, tidak ada satupun piknik, tamasya, dan jalan-jalanyang mampu menggantikan kelezatan menuntut ilmu syar’i, mengamalkan, dan mendakwahkannya. Oleh lantaran itu, malu bagi seorang yang mengaku sebagai penuntut ilmu syar’i, namun ia terbiasa menghabiskan waktunya berjam-jam untuk aktifitas yang tidak ada hubungannya dengan ilmu, hanya sekedar majelis qila wa qala (obrolan gak jelas)baik dalam bentuk ngobrol ngalor-ngidul, pesbuk-an, ngetweet, atau cuci mata dan nongkrong. Orang yang menyerupai ini tidaklah pantas disebut sebagai thalibul ‘ilmi, apalagi disebut sebagaipakar ilmu syari’at. Ia lebih pas dikatakan “pakar/tukang ini atau itu” sesuai dengan majelis qila wa qala yang ditekuninya. Wallahu a’lam.
Insyaallah akan berlanjut klarifikasi perihal “Empat kaidah umum dalam mempelajari kitab ulama”. Silahkan baca Cara Mempelajari Kitab-Kitab Ulama (bag. 3).

(Diolah dari transkrip muhadharah Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafizhahullah di web resmi beliau
Manhajiyyah fi Thalabil ‘Ilmi, dari http://saleh.af.org.sa/node/31 & Al-Manhajiyyah fi qiraa`ati kutubi Ahlil ‘Ilmi, dari http://saleh.af.org.sa/node/28).
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id

Skala Prioritas Dalam Berguru Agama Islam (4): Ilmu Inti Dan Ilmu Penunjang

Skala Prioritas Dalam Berguru Agama Islam (4): Ilmu Inti Dan Ilmu
Penunjang
Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam  Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (4): Ilmu Inti dan Ilmu Penunjang1
Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafizhahullah mengatakan,
من المعلوم أنّ العلم قسمان كما يقول طائفة من أهل العلم منهم الشاطبي في أول الموافقات: ((العلم قسمان عُقَدٌ وملَح))، والعقد تعقد القلب مع العلم والملح لابد منها للمسير في طلب العلم
Merupakan kasus yang sudah diketahui, bahwa disiplin ilmu Syar’i terbagi menjadi dua, sebagaimana disebutkan oleh sekelompok Ulama diantaranya yaitu Asy-Syathibi di awal kitab Al-Muwafaqat, bahwa ilmu Syar’i ada dua macam, ‘Uqod (inti) dan Mulah (penunjang). ‘Uqod (ilmu inti) sifatnya yaitu ilmu yang mengikat hati dengan kuat, sedangkan Mulah (ilmu penunjang) sifatnya yaitu ilmu yang harus ada untuk keistiqomahan perjalanan menuntut ilmu Syar’i.2
Dari pernyataan di atas, sanggup diambil kesimpulan bahwa ilmu Syari’at ditinjau dari sisi, bahan inti atau tidaknya, terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Ilmu Inti (Shulbul ‘Ilmi)
Ulama menyebut ilmu ini dengan sebutan ‘Uqodul ‘Ilmi (Simpul Ilmu) karena sifatnya sebagai simpul pengikat hati, sehingga ilmu itu benar-benar terikat berpengaruh dan akrab dalam hati.
Ada pula yang menyebut ilmu ini dengan sebutan Shulbul ‘Ilmi (Inti Ilmu) karena sifatnya sebagai inti utama ilmu Syari’at, dijadikan pegangan oleh seorang hamba dalam memahami dan mengamalkan agama Islam.
Ilmu Ini Terbagi Menjadi Dua, yaitu:
  1. Ilmu Al-Ashliyyah (Ilmu Pokok/Tujuan) atau Ilmu maqsudun li dzatihi (ilmu tujuan), yang dimaksud dengan ilmu ini yaitu ilmu perihal Al-Qur`an (Tafsir), As-Sunnah (ilmu Hadits), Tauhid dan Fiqh.
  2. Ilmu Ash-Shinaiyyah (Ilmu Alat) atau Ilmu maqsudun li ghairihi (ilmu sarana), menyerupai : Ushul Fikih,Ushul Tafsir,Mushtholahul Hadits, Siroh, Tajwid dan Tahsin, Nahwu, Shorof, Al-Ma’ani wal Bayan, Balaghoh, dan yang semisalnya (Penjelasan lebih lanjut baca Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (3))
Sifat Ilmu Inti
Ulama menjelaskan bahwa sifat ilmu Inti ini yaitu sebagai ilmu yang pokok, menjadi pegangan, sentra perhatian dalam aktifitas menuntut ilmu dan puncak arah tujuan Ulama yang kokoh ilmunya, sebagaimana perkataan Asy-Syathibi rahimahullah setelah memberikan ketiga macam ilmu di atas:
فهذه ثلاثة أقسام : القسم الأول : هو الأصل والمعتمد ، والذي عليه مدار الطلب ، وإليه تنتهي مقاصد الراسخين
“Maka ilmu ini ada tiga macam, yang pertama (Ilmu Inti) yaitu ilmu pokok dan
menjadi pegangan, serta ilmu yang menjadi sentra perhatian dalam aktifitas menuntut ilmu, kepadanyalah puncak arah tujuan Ulama yang kokoh ilmunya.” 3
Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafizhahullah berkata,
العلم منه عُقَد يصار إليها ومنه ملح مساندة
“Di antara disiplin Ilmu Syar’i ada yang jenis ilmu inti, sebagai puncak arah tujuan (dalam menuntut ilmu Syar’i) dan ada juga yang merupakan ilmu penunjang, sebagai penunjang/penguat ilmu Inti.” 4
2. Ilmu Penunjang (Mulahul ‘Ilmi)
Ulama menyebut ilmu ini dengan sebutan Mulahul ‘Ilmi, yaitu suatu ilmu yang berkedudukan sebagai penunjang dan penguat ilmu Inti, sebagai aksesori bagi ilmu Inti serta sebagai sarana untuk bisa istiqamah dalam menuntut ilmu Inti. Di antara ilmu penunjang ini yaitu lmu perihal sya’ir, perumpaman-perumpamaan yang baik, kisah-kisah Ulama, biografi Ulama, dongeng perihal perdebatan Ulama dan ilmu Sejarah Islam.
Sifat Ilmu Penunjang ini adalah:
  • Ilmu Penunjang ini menyempurnakan pemahaman seseorang terhadap ilmu Inti.
  • Ilmu Penunjang ini memang bermanfa’at, akan tetapi barangsiapa yang tidak mempelajarinya tidaklah mengapa, alasannya yaitu ketidaktahuannya tidak membahayakan ilmunya.
  • Jika seseorang ingin mempelajari ilmu Penunjang ini dengan sekedarnya, tidak harus mempelajarinya dari seorang Ulama yang jago dalam ilmu tersebut, cukup ia membacanya sendiri dengan seksama, alasannya yaitu bukanlah ilmu tujuan, kecuali kalau ingin menjadi pakar dalam ilmu-ilmu Penunjang ini, contohnya ingin menjadi penya’ir atau sejarawan.
  • Memperluas wawasan dengan mengetahui ilmu Penunjang ini, berfungsi juga sebagai penyemangat dan penggembira dalam mempelajari ilmu Inti yang berat, alasannya yaitu kalau seorang penuntut ilmu Syar’i hanya mempelajari ilmu Inti saja, maka dikhawatirkan ia merasa berat, monoton dan bosan, kemudian menjadi lemah semangat dan alhasil berhenti dari menuntut ilmu Syar’i ini.
    Membaca kitab-kitab perihal ilmu Penunjang ini, perlu dilakukan sebagai selingan, contohnya membaca kitab perihal biografi Ulama, bagaimana ketekunan dan kiat-kiat mereka dalam menuntut ilmu Syar’i, atau bagaimana kemiskinan mereka, namun berhasil menjadi Ulama. Hal ini memompa semangatnya untuk bisa istiqomah dalam menuntut ilmu Syar’i.
  • Seorang penuntut ilmu Syar’i bebas menentukan membaca kitab-kitab dalam ilmu Penunjang ini, baik itu kitab-kitab jenis mukhtashoroh (ringkas), mutawassithoh (menengah) maupun muthowwalat (panjang), asal bisa memahaminya, alasannya yaitu sifatnya sebatas penunjang dan untuk memperluas wawasan. Hal ini beda dengan berguru Ilmu Inti yang sifatnya Ta`shili (pendasaran yang kokoh) .
(Keterangan lebih lanjut baca Cara Mempelajari Kitab-Kitab Ulama (bag. 3))

Imbangi Ilmu Inti dengan Ilmu Penunjang

Maksud mengimbangi di sini, bukan berarti harus memperlihatkan perhatian yang sama persis antara berguru ilmu Inti dengan ilmu Penunjang! Tidaklah demikian, namun maksudnya, berikanlah kepada tiap-tiap ilmu sesuai dengan haknya masing-masing! Berikanlah kepada ilmu Inti sesuai dengan porsinya, demikian pula berikanlah kepada ilmu Penunjang sesuai dengan porsinya pula. Tentu hak ilmu Inti jauh lebih besar daripada ilmu Penunjang.
Mengimbangi ilmu Inti dengan ilmu Penunjang itu kasus yang penting, alasannya yaitu seorang penuntut ilmu Syar’i biasanya mengalami saat-saat semangat kuat, tengah-tengah, dan menurun.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتـِي فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ
Setiap amalan ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat, ada masa jenuhnya. Barangsiapa kejenuhannya terarah kepada sunnahku berarti dia telah beruntung, dan barangsiapa yang kejenuhannya tidak membawa dia kepada yang demikian maka dia telah binasa” (HR. Ahmad, lihat Shahih At-Targhib).
Jadi, kalau Anda dapatkan diri Anda sedang semangat-semangatnya belajar, maka hadirilah majelis Ilmu Inti dengan sungguh-sungguh, pahami pelajaran dengan baik, catatlah dan hafalkanlah! Perbanyak membaca kitab-kitab Ulama dan melaksanakan pembahasan ilmiyyah!
Namun, kalau Anda dapatkan diri Anda lemah dan turun semangat atau jiwa Anda sedang membutuhkan selingan, maka janganlah Anda keluar dari ilmu kecuali kepada ilmu atau amal! Silahkan Anda keluar sementara dari ilmu Inti menuju kepada ilmu Penunjang, pasti akan bermanfaat bagi Anda!
Adapun seorang penuntut ilmu ketika mencicipi turun semangat belajarnya, kemudian keluar dari ilmu kepada permainan atau jalan-jalan, obrolan, dan nongkrong menyerupai orang awam yang melalaikan, maka hal ini tidaklah selayaknya dilakukan.

Ulama dan Ilmu Penunjang

Janganlah Anda merasa absurd ketika seorang Ulama besar terkadang memperlihatkan perhatian kepada ilmu Penunjang ini di sela-sela waktu sibuknya, sesekali saja! Bukan berarti mereka punya waktu nganggur yang kosong dari kesibukan untuk berleha-leha, bermain-main pelesiran kesana kemari yang melalaikan mereka dari ilmu Syar’i. Tidaklah demikian!
Namun, mereka memperlihatkan perhatian kepada ilmu Penunjang ini di sela-sela waktu sibuknya dalam rangka menjaga kesimbangan dalam perjalanan ilmiyyahnya, semoga tidak keluar dari ilmu kecuali kepada ilmu! Dan semoga tidak terputus perjalanan ilmiyyahnya di tengah jalan!
Berikut dua teladan aktual tersebut:
  1. Diriwayatkan bahwa Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri rahimahullah, dahulu pernah suatu ketika ketika dia selesai memberikan pelajaran Hadits, berkata kepada murid-muridnya, “Sampaikan ilmu-ilmu “Mulah” kalian! Datangkan sya’ir-sya’ir kalian! Riwayatkan berita-berita kalian!”, akhirnya merekapun ada yang mengkisahkan dongeng ini dan itu, meriwayatkan kabar ini dan itu, dan seterusnya, sampai mereka pun bangga dan semangat.
  2. Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah juga demikian, di samping dia mempunyai tulisan-tulisan dalam disiplin ilmu Inti, dia juga mempunyai tulisan-tulisan dalam problem ilmu Penunjang.
Beliau banyak mempunyai goresan pena dalam ilmu Inti, menyerupai kitab At-Tamhiid, perihal syarah Hadits, kitab Al-Istidzkar, perihal syarah Hadits pula, kitab Al-Kaafii tentang fikih madzhab MalikiyyahNamun dia juga menulis kitab-kitab “Mulah , menyerupai Bahjatul Majalis, perihal sya’ir dan kabar.

Peringatan: Jangan Anda Jadikan Ilmu Penunjang Sebagai Ilmu Inti!

Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah mengatakan,
فمن رام المُلح وترك عقد العلم، فإنّه لن يدرك بل سيكون عنده أخبار كثيرة ومعلومات أو ثقافة لكن لا يستطيع أنْ يتكلم بوضوحٍ في مسألة عقدية، أو في مسألة فقهية
Maka barangsiapa mencari (dan memberi perhatian besar kepada) ilmu Penunjang dan meninggalkan ilmu Inti, maka ia tidakakan menguasai (ilmu Syari’at dengan baik), yang ada hanyalah ia mempunyai kabar dan info-info atau wawasan (keislaman) semata, akan tetapi tidak bisa (secara ilmiyyah) berbicara dengan terperinci (sistematis) dalam problem Aqidah atau Fikih (Ilmu Inti).” 5
Wallahu a’lam.
***
Referensi:
Diolah dari transkrip Muhadharah Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafizhahullah, berjudul Al-Manhajiyyah fi qira`ati kutubi Ahlil ‘Ilmi, dari http://saleh.af.org.sa/node/28 dan Al-Farqu bainal ‘Uqod wal Mulah, http://saleh.af.org.sa/node/45.
Catatan kaki

Thursday, 2 January 2020

Jasa Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam

Jasa Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam
 Kebutuhan penduduk bumi kepada para Rasul Jasa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam


Kebutuhan penduduk bumi kepada para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam tidaklah sama menyerupai kebutuhan mereka terhadap matahari, bulan, angin, dan hujan. Bahkan tidaklah sanggup disamakan dengan kebutuhan insan terhadap hidupnya, tidak pula sama menyerupai kebutuhan bola mata insan kepada cahaya, dan tidak pula sama  seperti kebutuhan badan kepada makanan dan minuman. Bahkan lebih dari itu semua.
Ketahuilah, semoga Allah merahmati Anda, bahwa kedudukan para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah mediator antara Allah dengan hamba-Nya dalam memberikan perintah dan larangan-Nya. Mereka yaitu utusan Allah kepada makhluk-Nya, mengajak insan melakukan fatwa agama Allah, memberikan risalah Allah dan memberi petunjuk mereka kepada jalan Allah yang lurus.
Melalui siapakah insan mendapat rahmat Allah?
Rasulullah Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan epilog para Nabi dan para Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, pemimpin, paling utama dan  paling mulia diantara mereka disisi Allah Ta’ala, telah Allah Ta’ala utus untuk menjadi rahmat bagi alam semesta,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiyaa`: 107).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,
ثم أثنى على رسوله، الذي جاء بالقرآن فقال: { وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ } فهو رحمته المهداة لعباده، فالمؤمنون به، قبلوا هذه الرحمة، وشكروها، وقاموا بها، وغيرهم كفرها، وبدلوا نعمة الله كفرا، وأبوا رحمة الله ونعمته.
“Kemudian Allah memuji Rasul-Nya yang membawa Wahyu Al-Qur`an, dengan berfirman وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ , maka ia yaitu bentuk kasih sayang-Nya yang dihadiahkan kepada hamba-hamba-Nya” (Tafsir As-Sa’di, hal. 618).
Al-Baghawi rahimahullah mengatakan,
[وقال ابن عباس : هو عام في حق من آمن ومن لم يؤمن فمن آمن فهو رحمة له ] في الدنيا والآخرة ومن لم يؤمن فهو رحمة له في الدنيا بتأخير العذاب عنهم
Ibnu Abbas menjelaskan, ‘Hal ini (tentang keberadaan ia sebagai rahmat) sifatnya umum, baik rahmat untuk orang yang beriman, maupun untuk orang yang tidak beriman. Barangsiapa yang beriman maka ia menjadi rahmat baginya] di dunia dan akhirat. Adapun orang yang tidak beriman, maka ia rahmat baginya di Dunia (saja) dalam bentuk diakhirkan adzab dari orang tersebut’”. (Tafsir Al-Baghawi :196).
Dengan diutusnya  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita, berarti Allah menyayangi kita, dengan menurunkan wahyu yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisikan petunjuk kepada setiap kebaikan dan menjauhkan insan dari setiap keburukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyayangi kita, dengan menjelaskan wahyu tersebut dengan sebaik-baik klarifikasi dan menberi teladan bagaimana mengamalkannya. Beliau sangat sayang kepada umatnya, sehingga tidak ada satupun kebaikan kecuali ia tunjukkan dan tidak ada satupun keburukan kecuali ia peringatkan umat darinya. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rahmatan lil’alamin.
Allah pun mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya untuk ta’at kepada beliau, mencintainya, memuliakannya, dan menunaikan hak-haknya .Beliau juga diutus oleh Allah sebagai hujjah atas seluruh makhluk-Nya.
Siapakah yang mengajarkan petunjuk Allah kepada umat ini sehingga mereka sanggup keluar dari kegelapan menuju cahaya?  
Allah Subhanahu mengutus beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masa kosongnya pengutusan para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, ketika diselewengkannya kitab Allah sebelum Al-Qur`an dan digantinya ajaran-ajaran syari’at sebelum Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ)
“Sesungguhnya Allah melihat penduduk bumi, Dia sangat membenci mereka, baik bangsa Arab maupun non-Arab  kecuali orang-orang dari Ahlul Kitab (yang masih berpegangteguh dengan agama mereka yang murni)” (HR. Imam Muslim : 2865). Demikianlah keadaan masyarakat ketika diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, banyak diantara mereka yang karam ke dalam kesyirikan dan kerusakan.
Kemudian Allah pun memberi hidayah merekamenjelaskan kepada mereka jalan kebenaran, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan cara mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka, Allah berfirman,
…قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا
… Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepada kalian,
رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقًا
(Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Allah yang pertanda (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan berinfak saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh pasti Allah akan memasukkannya ke dalam Surga-Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka baka di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memperlihatkan rezeki yang baik kepadanya. (Ath-Thalaaq: 10-11).
Melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamlah Allah mengakibatkan orang yang buta hatinya menjadi melihat, orang yang menyimpang menjadi lurus. Allah mengakibatkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang menjelaskan perbedaan Surga dan Neraka, perbedaan jalan keduanya dan perbedaan penduduk keduanya. Allah jadikan petunjuk dan keberuntungan ada pada mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kesesatan dan kesengsaraan ada pada mendurhakai dan menyimpang dari petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bagaimanakah insan sanggup selamat dari siksa di alam kubur?
Allah Ta’ala menguji para makhluk di alam kubur dengan diajukan pertanyaan wacana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka.
فعن أنس رضي الله عنه : عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَيَقُولُ : أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ، فَيُقَالُ : انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ . قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا ، وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ ، فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ . ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ))
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba bila diletakkan di dalam kuburnya dan para pengantarnya telah kembali pulang, serta teman-temannyapun telah pergi sampai dia benar-benar mendengarkan ukiran sandal-sandal mereka. Datang kepadanya dua malaikat, maka keduanya mendudukkannya dan bertanya kepadanya, ‘Apa pendapatmu wacana orang ini (yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam)? Adapun seorang yang mukmin akan menjawab, ’Aku bersaksi bekerjsama dia yaitu hamba Allah dan Rasul-Nya’. Maka dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah kepada tempatmu di Neraka, sungguh telah digantikan oleh Allah dengan sebuah daerah di Surga. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kemudian dia melihat kedua daerah tersebutAdapun orang kafir atau munafik, maka dia akan menjawab, “Aku tidak tahu, dulu saya hanya berkata mengikuti apa yang dikatakan kebanyakan orang.” Maka dikatakan kepadanya, “Kamu tidak mengetahuinya dan tidak mengikuti orang yang mengerti”. Kemudian dia dipukul dengan palu godam besar yang terbuat dari besi dengan sekali pukulan di antara kedua telinganya, maka dia berteriak dengan teriakan yang sanggup didengar oleh yang ada di sekitarnya kecuali oleh dua makhluk (jin dan manusia).”  (HR. Al-Bukhari: 1338 dan Muslim: 2870).
Bagaimana seseorang sanggup menjawab pertanyaan di alam kubur, bila tidak mengenal dan menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajarannya, tidak mengikutinya dan tidak taat kepadanya?
Bagaimanakah Anda sanggup tahu tata cara beribadah yang dikehendaki oleh Allah?
Begitu sayangnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita, sehingga mengajarkan kepada kita bahwa tujuan hidup insan yaitu mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya saja. Beliapun tidak membiarkan kita kebingungan mencaritahu tatacara beribadah kepada Allah yang benar, bahkan dengan sabar dan telatennya ia mengajarkan bagaimana tatacara beribadah tersebut kepada kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan sholat, dengan bersabda,
وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya shalat” (HR. Al-Bukhari dan yang lainnya).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan tatacara haji, dengan bersabda,
خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِى لَعَلِّى أَنْ لاَ أَحُجَّ بَعْدَ حَجَّتِى هَذِهِ
“Ambillah dariku manasik-manasik haji kalian, alasannya sesungguhnya saya tidak mengetahui, mungkin saja saya tidak berhaji sehabis hajiku ini” (HR. Muslim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah mengajarkan kepada umatnya,
مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
‘Barangsiapa yang berwudhu menyerupai wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat, tidak berkata-kata di jiwanya (khusyu’) dalam dua roka’at tersebut, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.’” (HR. Bukhari  dan Muslim).
Bagaimanakah Anda sanggup masuk Surga?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya tips supaya mereka masuk Surga,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
Setiap umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.” Mereka bertanya, “Siapa yang enggan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, Barang siapa ta’at kepadaku maka dia pasti masuk Surga dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku maka dialah yang enggan” (HR. al- Bukhari)
Betapa besarnya jasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita, maka pantaslah bila setiap apa yang dilakukan oleh umat Islam, ia mendapat pahala menyerupai pahala perbuatan mereka!
Dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshori Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang memperlihatkan kepada kebaikan, maka dia mendapat pahala sebagaimana pahala pelakunya“.
Oleh alasannya itu Ulama telah menjelaskan bahwa setiap yang dilakukan oleh umat Islam, maka ia mendapat pahala menyerupai pahala perbuatan mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun juga, alasannya beliaulah yang memperlihatkan kepada mereka seluruh amal kebaikan.
***
Diolah dari goresan pena Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah yang berjudul: فضل النبي صلى الله عليه وسلم ووجوب اتباعه
di: http://al-badr.net/muqolat/2545, dengan beberapa tambahan.

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id

Wednesday, 1 January 2020

Pentingnya Mengenal Sifat Fisik Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam

Pentingnya Mengenal Sifat Fisik Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam
Pentingnya Mengenal Sifat Fisik Rasulullah Shallallahu Pentingnya Mengenal Sifat Fisik Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam


Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkumpul dua kesempurnaan:
  1. Kesempurnaan agama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
  2. Kesempurnaan fisik beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan ia untuk mengemban kiprah kerasulan dan AllahTa’ala lebih mengetahui kepada siapa Dia memperlihatkan kiprah kerasulan, AllahTa’ala berfirman,
اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ
Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan kiprah kerasulan” (QS. Al-An’am: 124).

Kesempurnaan Agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kesempurnaan agama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tercermin dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إن أتقاكم وأعلمكم بالله أنا
Demi Allah, sesungguhnya orang yang paling bertakwa di antara kalian dan orang yang paling tahu perihal Allah yaitu saya” (HR. Al-Bukhari).
Mengenal kesempurnaan agama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangatlah penting semoga kita terdorong semakin berpengaruh untuk mengikuti dan mencontoh ia dalam menjalankan agama Islam ini. Berakidah sesuai dengan aqidah beliau, beribadah sesuai dengan ibadah beliau, demikian pula dalam berakhlak, bermu’amalah, dan dalam seluruh bentuk beriman dan berinfak sholeh mencontoh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kesempurnaan Fisik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Adapun kesempurnaan fisik beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tercermin penuturan Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu,
(كان ـ صلى الله عليه وسلم ـ أحسن الناس وجها، وأحسنهم خَلْقا) رواه البخاري
Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sosok insan yang paling ganteng wajahnya dan paling anggun perawakannya (HR. Al-Bukhari).
Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
و كان خلقه صلى الله عليه و سلم و صورته من أكما الصور و أتمها و أجمعها للمحاسن الدالة على كماله
“Sifat fisik dan perawakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penampilan yang tepat dan terkumpul dalam fisik ia semua ciri-ciri ketampanan yang memperlihatkan kesempurnaan beliau” (Syarah Syamail an-Nabi oleh Syaikh Abdurrazzaq al-Abbad PDF, Hal. 19).

Pentingnya Mengenal Kesempurnaan Fisik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Mengenal kesempurnaan fisik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hal yang sangat penting dan tidak sanggup disepelekan. Bahkan di dalamnya terdapat faedah yang banyak, diantaranya:
1. Salah Satu Faktor yang Menyebabkan Seseorang Masuk Islam
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa hidayah Allah Ta’ala memiliki lantaran dan jalan yang beranekaragam. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan kadar akal, nalar, dan pandangan mereka. Kunci hidayah yang beranekaragam ini memperlihatkan kebijaksanaan dan rahmat Allah Ta’ala bagi hamba-Nya.
Di antara faktor kunci hidayah tersebut, yaitu memperhatikan keadaan dan sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ini merupakan lantaran hidayah sebagian orang (Asbab Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi PDF , Hal. 30).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
(ولهذا كان الرجل المنصف الذي ليس له إرادة إلا اتباع الحق، بمجرد ما يراه ويسمع كلامه يبادر إلى الإيمان به صلى الله عليه وسلم، ولا يرتاب في رسالته، بل كثير منهم بمجرد ما يرى وجهه الكريم يعرف أنه ليس بوجه كذاب … )
“Oleh lantaran inilah bahwa orang yang adil, yang tidak mempunyai harapan kecuali mengikuti kebenaran, hanya dengan sekedar melihat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendengarkan sabdanya, akan segera beriman kepada ia dan tidak ragu terhadap risalahnya. Banyak orang yang hanya sekedar menyaksikan wajah ia yang mulia menjadi yakin bahwa wajah itu bukanlah wajah seorang pendusta” (Asbab Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi PDF, Hal. 31).
2. Meningkatkan keimanan seorang hamba
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah ketika menjelaskan surat Al-Mukminuun ayat 69
أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ
Ataukah mereka tidak mengenal Rasul mereka, lantaran itu mereka memungkirinya?
أي فمعرفته صلى الله عليه و سلم توجب للعبد المبادرة للإيمان ممن لم يؤمن و زيادة الإيمان ممن آمن به
ia rahimahullah berkata, “Maksudnya mengenal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammenyebabkan orang yang belum beriman akan segera beriman kepada ia dan bagi orang yang telah beriman kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan meningkat keimanannya” (Asbab Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi PDF, Hal. 30).
3. Mampu mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi
Di antara faIdah mengenal sifat fisik beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang muslim mengenal bentuk badan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan rinci dan terperinci sebagaimana melihat ia langsung, sehingga saat Allah memuliakannya dengan memperlihatkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di mimpinya, maka ia sanggup mengenal dengan terperinci apakah orang yang dilihat dalam mimpinya tersebut benar-benar ia atau tidak. Karena sesungguhnya syetan tidak sanggup memalsukan beliau.
Dari Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي حقاً، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي
Barang siapa yang melihatku di mimpi maka ia sungguh telah melihatku, lantaran syaitan tidak sanggup meniruku” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Salah satu lantaran dikumpulkan seorang hamba bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Surga
Mengenal fisik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan detail mengakibatkan seorang muslim semakin menyayangi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ingin bersama dengan ia dan ingin bersahabat dengan ia di Surga.
Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahihnya menyebutkan,
عن أنس رضي الله عنه: ((أن رجلاً سأل النبي صلى الله عليه وسلم عن الساعة فقال: متى الساعة؟ قال:” وماذا أعددت لها “؟ قال: لا شيء إلاَّ أني أحب الله ورسوله صلى الله عليه وسلم، فقال:” أنت مع من أحببت “)). قال أنس: فما فرحنا بشيء فرَحَنا بقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((أنت مع من أحببت))، قال أنس: فأنا أحب النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر، وأرجو أن أكون معهم بحبي إياهم وإن لم أعمل بمثل أعمالهم.
Dari Anas bin Malik, ia menyampaikan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal hari Kiamat, ‘Kapan terjadi hari Kiamat?’ Beliau bersabda, ‘Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?’ Orang tersebut menjawab, ‘Tidak ada selain amalan yang wajib, hanya saja saya menyayangi Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.‘”
Anas berkata, “Kami tidaklah pernah merasa bangga sebagaimana rasa bangga kami saat mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (أنت مع من أحببتEngkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
Anas pun mengatakan, “(Kalau begitu) saya menyayangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap sanggup bersama dengan mereka lantaran kecintaanku pada mereka, walaupun saya tidak sanggup berinfak ibarat amalan mereka” (HR. Bukhari).
Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu’anhu, ia berkata,
” كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ ، فَقَالَ لِي : سَلْ ، فَقُلْتُ : أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ ) رواه مسلم في ” صحيحه “.
Aku pernah bermalam bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian saya menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu ia Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu semoga memberi petunjuk kepadaku perihal sebab-sebab semoga saya sanggup menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’ ‘Itu saja cukup ya Rasulullah.’ Jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah saya atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud‘ (HR. Muslim).
Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata saat menjelaskan makna (أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ)
فالمعنى: أسألك أن ترشدني إلى الأسباب التي تجعلني رفيقاً لك في الجنة
“Maknanya yaitu Aku meminta kepadamu semoga memberi petunjuk kepadaku perihal sebab-sebab semoga saya sanggup menemanimu di Surga” (http://www.binbaz.org.sa/mat/10229).
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
وإذا أردت أن تعرف مراتب الهمم فانظر إلى همَّة ربيعة بن كعب الأسلمي رضي الله عنه وقد قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: «سلني»، فقال: أسألك مرافقتك في الجنة. وكان غيره يسأله ما يملأ بطنه، أو يواري جلده”
“Apabila kau ingin mengetahui tingkatan tekad kuat, maka perhatikanlah tekadnya Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya, ‘Mintalah sesuatu kepadaku’, kemudian ia berkata, ‘Saya meminta semoga saya sanggup menemanimu di Surga,’ sementara orang selainnya meminta sesuatu yang memenuhi perutnya atau menutupi kulitnya” (http://www.saaid.net/Doat/mehran/116.htm).
(Apakah maksud bersama dan menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Surga, silahkan baca Apakah yang dimaksud menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Surga?). Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai orang yang mendapat kesempatan menemani beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Surga.
***
Referensi:
Terinspirasi dari http://buletin.muslim.or.id/akhlaq/sifat-fisik-dan-akhlak-Nabi, dengan aneka macam rujukan lain.

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id