Saturday, 8 February 2020

Setahun Syeikh Buthi: Resensi Kitab Hadza Walidi (Pertama)


www.fikr.com

Oleh: Rizki Syahputra. Lc*

Judul Buku               : Hadza Walidi (inilah Ayahku)
Penulis                    : Syekh Al-syahid Muhammad Said Ramadhan Al-bhouthi
Penerbit                  : Dar al-fikri
Tanggal Terbit          : 2010 cetakan ke 12
Halaman                  : 199
Kategori                  : Biografi
Teks                        : Bahasa Arab

Sekilas ihwal Penulis
Penulis buku ini, Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-bhouthi populer sebagai ulama Rabbani yang mendunia. Dilahirkan di Cileka 1929 di Bhouthan (perbatasan antara Turki dan Suriah).  Karena hegemoni Attaturk yang menguasai Turki dan melarang segala bentuk praktik islam di Turki pada ketika itu, kemudian keluarganya hijrah ke Suriah. Syekh Bhouthi berguru dengan syekh Hasan Al-Bannakah di Ma’had al-Taujih Islami Damaskus dan kemudian ia melanjutkan studi di Universitas Al-azhar, Mesir.

Beliau yaitu ulama yang sangat produktif dalam menulis, salah satu karya besar Syekh Bhouthi yaitu kitab Fiqh al-sirah, yang ia tulis ketika masih remaja. Bisa dibilang, dalam waktu  satu bulan syekh Bhouthi sanggup menerbitkan satu atau dua buku. Beliau juga aktif mengajar di mesjid Al-Umawi di Damaskus, dan beberapa mesjid di Suriah lainnya. Konon, majelis ia tersebut selalu di penuhi oleh ratusan jamaah.

Sebenarnya, dibalik kepribadian dan kesuksesan syekh Al-bhouthi ada sosok yang sangat mensugesti kehidupan beliau. Sosok inilah yang bergotong-royong menjadi referensi Syekh Bhouthi dalam banyak sekali hal. Sosok ini pula yang mendidik Syekh Bhouthi hingga menjadi seorang ulama rabbani yang mendunia. Beliau yaitu Mulla Ramadhan Al-bhouthi, ayah dari Syekh Said Ramadhan Al-bhouthi sendiri. 

Ide untuk menuliskan buku ini
Walaupun Syekh Bhouthi sangat mengagumi  ayahnya, ia sama sekali tidak menulis biografi syekh Mulla hingga ketika beberapa sobat Syekh Mulla  meminta syekh Bhouthi untuk menulis biografi ayahnya demi mengenang jasa-jasa Mulla Ramadhan.

Meski demikian, Syekh Bhouthi tetap khawatir jikalau seandainya hal tersebut tidak diridhai oleh Mulla Ramadhan.  Telebih ia memandang kehormatan orang yang sudah wafat sama ibarat yang masih hidup. Namun syekh Bhouthi teringat bahwa Mulla Ramadhan sering membacakan kepadanya kisah-kisah ulama Kurdi untuk diambil pelajaran. Dan Mulla juga menyayangkan kisah-kisah tersebut tidak ditulis oleh siapapun hinga jadinya karam ditelan waktu.  Oleh Karena itu syekh Bouthi berniat menulis biografi Mulla Ramadhan ini supaya masyarakat  dapat mengambil ibrah dari perjalanan kehidupan beliau. Syekh Bhouthi mulai menulis buku ini sehabis beristikharah dan memohon petunjuk Allah.

Akan tetapi buku ini tidak hanya berbicara ihwal perjalaanan kehidupan Mulla Ramadhan, tapi juga kehidupan syekh Bhouthi dan keluarga beliau. Buku ini mengajak pembaca untuk mencicipi bagaimana indahnya besar dalam keluarga ulama. Tak diragukan lagi, membacanya satu hingga beberapa kali, pembaca akan mencicipi sendiri perubahan dalam diri yang sanggup diambil dari buku ini.

Mengenal Sosok Mulla Ramadhan Al Bouthi

Di kepingan pertama dari kitab ini, syekh bhouthi menceritakan latar belakang Mulla Ramadhan dimana ia dilahirkan tahun 1988 dari orangtua yang bersuku Kurdi. Juga ia menceritakan kisah perjalanan Mulla dalam menuntut Ilmu serta  sistem pembelajaran Ilmu agama didaerah perkampungan Kurdi yang unik, hingga penyakit yang diderita Mulla Ramadhaan ketika masih muda yang menciptakan ia hampir meninggal. Konon ketika ia terjangkit penyakit tersebut ia pernah melihat malaikat maut ingin mencabut nyawa beliau. Namun atas izin Allah ia sembuh sehabis Ayah ia bernazar jikalau ia sembuh dari penyakit maka ia akan menginfakkan beberapa domba.

Mulla Ramadhan juga pernah mengikuti jihad  perang dunia pertama di bahari hitam hingga di perbatasan Turki Usmani dan Rusia. Namun peperangan tersebut membuahkan hasil  yang pahit bagi Mulla Ramadhan, alasannya ia  mengikuti peperangan dengan niat jihad fi sabilillah mempertahankan khilafah Islam.  Akan tetapi para prajurit  kekhalifahan  justru lalai dalam melakasanakan perintah Allah, bahkan sebagian ada yang berbuat maksiat. Saat itu Mulla Ramadhan sudah mengerti bahwa khilafah Islam diambang keruntuhan.

Pernikahan

Mulla Ramadhan  menikah dengan dengan pemudi yang masih kerabat dengan ia berjulukan Manji. Dari rahim istri pertama lahirlah  anak laki-laki satu-satunya yaitu  Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-bhouthi. Mulla Ramadhan kemudian membawa bayi pertama ia kepada seorang gurunya yang sangat ia hormati, ia yaitu Syekh Said , salah seorang ulama Kurdi  yang populer dengan julukan Syekh Saidan. Syekh Said pun memeluk bayi tu dan berdoa untuknya sekaligus menamai bayi itu dengan namanya, Muhammad Said.

Setahun sehabis kelahiran anak lelakinya, Mulla ramadhan melaksanakan ibadah manasik haji ke Baitullah. Dan selepas pulang dari haji itu ia terjangkit lagi penyakit yang parah. Dalam kondisi demikian yang ia fikirkan yaitu bagaimana jikalau ia meninggal sedangkan anak lelakinya itu tidak ada yang mendidik. Beliau khwatir jikalau hingga anaknya tumbuh dan terpengaruh oleh suasana kampung Kurdi yang masih kolot dan jauh dari agama. Karena itu sehabis ia sembuh Mulla Ramadhan pun menulis sebuah buku khusus untuk anak ia yang berisi nasehat dan wasiat yang harus dijalani ketika anaknya beranjak dewasa.

Hal ini menunjukkan  tingkat kepedulian Mulla Ramadhan terhadap anak dan keluarga beliau. Walaupun ia seorang Ulama yang masyhur namun ia hanya menulis satu kitab dan hanya diperuntukkan untuk anak lelaki ia satu-satunya yaitu Syekh Said Ramadhan Al-bhouthi. Walhasil , syekh Bhouthipun menjadi ulama rabbani yang namanya terdengar keseantero dunia. Keilmuannya tidak diragukan, baik dalam bidang aqli maupun naqli. Beliau tak hanya menguasai agama, namun juga menguasai filsafat. Tulisan disertasi ia dibidang Maslahat Mursalah merupakan yang paling detail dan dalam.  Semua ini tidak lepas dari efek Mulla Ramadhan dalam kehidupan beliau.

HIjrah ke Damasakus.

Tahun 1923 khilafah Islam ditumbangakan oleh Attaturk dan  melarang segala praktik yang berbau Islam. Mesjid dihentikan mengumandangkan Azan berbahasa arab tapi harus dengan bahasa Turki. Alquran berbahasa Arab dilenyapkan kemudian diganti dengan bahasa Turki. Majelis-majelis keilmuan di Turki ditiadakan. Dan ia juga mengganti aksara arab dengan aksara latin dan memaksa laki-laki dan perempuan mengenakan dandanan ala barat serta memaksa perempuan melepaskan jilbab dan niqab. Semua ini dilakukan oleh Attaurk untuk memusnahkan Islam sehabis menumbangkan Kekhalifah dari Turki.

Dalam kondisi ibarat ini murid Mulla Ramadhan berjulukan Mulla Yusuf tiba kepada ia sambil menangis alasannya ia bermimpi melihat Rasulullah memerintahkannya dan Mulla Ramadhan untuk Hijrah dari turki.

Oleh alasannya situasi yang tidak nyaman di Turki pada ketika itu, Mulla Ramadhan berinisiatif pindah ke Negara lain, yaitu Suriah. Akan tetapi ia masih ragu dan khawatir jikalau seandainya hijrah itu akan membahayakan ia dan keluarga. Namun ketika ia mentadabur Al Alquran hingga di pertengahan surat An-nisa, ia menemukan sepotong ayat, disana seakan-akan Allah menjawab akan kekhawatirannya:

“Dan barangsiapa berhijrah dijalan Allah, pasti mereka akan mendapatkan dibumi  ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Dan barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah alasannya Allah dan Rasul-Nya, kemudian maut menimpanya (sebelum hingga ke tempat yang dituju)), maka sungguh,pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (An-Nisa: 100)

Lalu Mulla Ramadhan bermusyawarah dengan Istri  dan mengambil komitmen dari Istri ia supaya tetap setia dan sabar mendapatkan segala ketentuan Allah yang akan terjadi. Setelah mendengar persetujuan dari Istrinya, kemudian Mulla Ramadhan berkemas-kemas untuk melaksanakan perjalanan. Tanah pertanian yang dimiliki Mulla ditingalkan begitu saja untuk kerabat karib beliau.

Dengan hanya  mengantongi 8 lira emas, perjalan berbahaya tersebut  dilakukan dengan menumpangi sampan menyusuri sungai Dajla hingga ke perbatasan Turki dan Suriah. Jika saja tentara Attaturk melihat, mereka akan pribadi ditangkap dan ditembak.

Namun Allah melindungi Mulla dan dan keluarganya, sepanjang perjalanan ia tidak pernah berhenti berzikir hingga jadinya atas izin Allah ia melewati perbatasan Turki dan hingga di perkampungan pertama wilayah Suriah berjulukan Ain Diwar. Disana ia dan keluaraga beristirahat selama beberapa hari dan memeperoleh kewarganegaraan Suriah serta akte kelahiran Syekh Bhouthi.


Bersambung

Tuesday, 1 October 2019

Upaya Menghentikan Kebiasaan Salah Titik Koma

Oleh : Muhammad Mutawalli Taqiyuddin*



(Image : pribadi) 


Judul buku : REUSAM (Rujukan Menulis Media KMA)

Pengarang : Tim Penyusun (As’adi Muhammad, Muhibussabri Hamid, Husni Nazir, Khalid Muddatstsir, Mawaddah, Nasruddin, Adlina, Nani Hidayati, Yasmin Thahira)

Tebal            : 150 halaman

Penerbit       : KMA Press

Tahun Terbit : 2015



Ilmu pengetahuan yang selama ini masih bertahan dan lestari hingga kini tak lain alasannya ialah masih berjalannya budaya tulis-menulis. Menulis ialah pekerjaan mulia, ulama terdahulu namanya selalu dikenang alasannya ialah produktifitasnya melestarikan ilmu pengetahuan di atas lembaran kertas. Hingga ketika ini atas rahmat Allah Swt. budaya ini masih terus berjalan.

Dalam dunia tulis menulis khususnya berbahasa Indonesia, perlu adanya kaedah-kaedah yang sudah ditentukan atau lebih dikenal dengan Kaedah Yang Disempurnakan (EYD). Terkadang kaedah-kaedah ini malah tidak diikuti bahkan diabaikan oleh mereka yang bergelut dalam dunia kepenulisan. Buktinya ada saja penulis yang masih salah dalam hal kaedah penulisan bahkan hingga pada hal titik koma pun masih bermasalah.

merupakan salah satu kekeluargaan yang beranggotakan seluruh masyarakat Aceh yang ada di Mesir. Dalam hal ini, KMA sangat memperhatikan dunia kepenulisan. Buktinya ialah dengan lahirnya buletin el-Asyi, terbentuknya website KMA hingga diselenggarakannya Sekolah Menulis KMA yang hingga ketika ini sudah ada 8 generasi. Buku REUSAM hadir sebagai anutan menulis untuk semua media tersebut.

Terbitnya buku REUSAM pula sebagai seruan tersirat biar seluruh warga KMA terjun serta memperhatikan dunia kepenulisan. Untuk memaksimalkan mesin-mesin pengetahuan dalam kemampuan tulis-menulis tersebut di KMA, maka dipilihlah REUSAM sebagai panduan. Untuk penamaan, REUSAM sendiri diambil dari bahasa Arab, yaitu Ar-Rusum bentuk jama’ dari Ar-Rasm. Dalam tatanan bahasa Aceh, REUSAM mempunyai makna keprotokolan. Dapat disimpulkan bahwa maksud judul buku ini ialah sebagai hukum protokolan kepenulisan media KMA.

Kelebihan dari buku REUSAM ialah bahasanya yang gampang dipahami semua kalangan terutama pelajar. Jika dibandingkan, buku ini tidak kalah ilmiah dengan buku-buku Bahasa Indonesia untuk setingkat SMA. Bahkan ada buku bidang studi Bahasa Indonesia yang memakai bahasa lebih rumit dari buku REUSAM.

Maka dari itu buku ini juga bisa memudahkan siswa-siswa setingkat SMA/MAN dalam memahami kaedah kepenulisan. Memang objek utama dituliskannya ialah untuk para warga KMA yang bergelut dalam media, tapi bagi peresensi sendiri, tak ada duduk kasus kalau buku ini dijadikan kaedah umum kepenulisan media lain. Dapat dilihat juga dari daftar pustaka sebagai acuan penyusunan, buku ini diambil dari sumber-sumber yang benar-benar standar di negara kita Indonesia.

Jika anda bergabung dalam media KMA, maka sangat sering disinggung dan diperingati berkali-kali duduk kasus EYD. Selalu diingatkan bahwa kalau bisa, titik koma itu janganlah menjadi kesalahan yang terus-menerus terulang. Oleh alasannya ialah itu, buku REUSAM ialah sebagai upaya untuk menghentikan kebiasaan salah titik koma (EYD).

Bab pertama diisi dengan pendahuluan, sebagai latar belakang mengapa disusun buku ini. Kemudian pada bab kedua membahas anutan umum ejaan, dalamnya dibahas pemakaian aksara (kapital miring) dan penulisan kata mulai dari kata dasar hingga pembahasan kata 'si' dan 'sang'.

Pada bab ketiga dipaparkan pembahasan mengenai gaya selingkung yang diisi dengan anutan transliterasi, istilah keislaman, kosakata khas serta penulisan singkatan dan akronim. Bab keempat membahas bahasa jurnalistik, diisi dengan menulis hemat, menulis jelas, tujuh elemen goresan pena yang baik dan tujuh kegagalan tulisan.

Bab kelima diisi dengan beberapa panduan menulis menyerupai menulis berita, artikel, features, biografi dan autobiografi, resensi buku, hikayat dan panduan mengedit. Bab terakhir yaitu keenam mempresentasikan atau mensosialisasi beberapa media KMA antara lain el-Asyi, website KMA dan Zawiyah. Kemudian buku ini ditutup dengan beberapa komentar atau quote dari para penulis KMA.

Jika semua materi yang dipaparkan dipahami dengan baik, maka pemahaman tersebut sanggup dipakai terus menerus bahkan hingga masuk ke media-media ternama di Aceh bahkan di level nasional. Itulah sinopsis dan beberapa kelebihan yang menjadi zat buku ini.

Kemudian perlu diketahui, buku ini juga termasuk buku yang perlu dievaluasi. Dari segi pembahasan utama buku, seharusnya untuk serpihan ‘Pendahuluan’ menjadi serpihan tersendiri, bukan termasuk ke dalam ‘Bab I’ yang selayaknya sanggup diisi dengan pembahasan utama. Karena pendahuluan biasanya berisi latar belakang mengapa buku ini ditulis dan itu lebih baik dimasukkan dalam serpihan khusus. Contohnya pembahasan ‘Pedoman Umum Ejaan’ masuk ke dalam Bab I dan seterusnya. Ini akan menjadi materi kritik tersendiri dari para kritikus buku.

Jika diteliti lebih dalam lagi, pada pembahasan anutan menulis features, bagi anda yang belum pernah mendengar apa itu features, kemungkinan sehabis membaca pembahasan ini, anda masih belum tergambar bagaimana goresan pena features. Sebabnya ialah alasannya ialah tidak ada definisi pastinya, hanya ditulis bagaimana menulis features yang baik dan aspek-aspek lainnya, tapi definisinya belum jelas. Bagaimana seseorang bisa menulis features yang baik kalau gambarannya saja belum jelas.

Maka dari itu menjadi penilaian di serpihan ini dengan menambahkan definisi tetapnya. Kemudian masih dalam pembahasan serpihan pedoman, seharusnya semua anutan yang sudah dijelaskan ditambah dengan satu pola goresan pena penuh dari isu atau features. Ini bertujuan untuk memperkuat citra pembaca.

Dari beberapa materi penilaian tersebut, maka selayaknya buku ini harus diperbaharui dengan dicetak edisi selanjutnya, tentunya dengan pemanis beberapa unsur tadi.

Kesimpulannya, buku ini bisa mengubah mereka yang kurang paham dengan kaedah kepenulisan dalam bahasa Indonesia menjadi paham sehingga menjadi penulis yang handal alasannya ialah sanggup menciptakan penulisnya berhenti dari kebiasaan salah EYD.

Buku ini perlu dibaca oleh seluruh warga KMA maupun non-KMA biar menjadi pemanis wawasan individu dalam dunia kepenulisan. Untuk cetakan selanjutnya, mungkin bisa ditambahkan dengan pembahasan “Ilmu Lingusitik dan Sintaksis” serta profil “Sekolah Menulis KMA” yang kini sudah banyak menerbitkan banyak karya, serta tambahan-tambahan menyerupai definisi features dan banyak sekali pola goresan pena penuh dari pedoman-pedoman yang sudah dijelaskan. Itu semua dirasa akan menjadi penilaian yang baik bagi kelangsungan buku ini. Wallahu A’laa wa A’lam.[]

*Penulis ialah mahasiswa tingkat I Universitas Al-Azhar, Fakultas Ushuluddin.

Thursday, 19 September 2019

Bangun Cinta, Bukan Jatuh Cinta!

Oleh : Deffa Cahyana Harits*



(Image Source : Instagram.com)


Judul Buku : Jalan Cinta Para Pejuang
Penulis : Salim A. Fillah
Penerbit : Pro-U Media
Tahun Terbit : 2008
Nomor Edisi : ISBN 979-1273-08-1
Jumlah Halaman : 344 Halaman 



“Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja, maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraf sejarah. Jika kita menghijrahkan cinta; dari jatuh cinta menuju berdiri cinta, maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga.” Begitulah, kata yang tertulis di sampul muka buku ini. 


Buku “Jalan Cinta Para Pejuang” yaitu Sebuah buku yang sanggup membuka cakrawala pikir kita biar sanggup membangun cinta tanpa harus jatuh cinta yang kebanyakan menyisakan luka. Agar tak selamanya menjadi budak cinta. Tapi berusaha untuk menjadi tuan atas kata cinta. Dan Dia (Allah) selalu dijadikan alasan atas segala usaha itu. 

Buku ini menyadarkan kita mengenai hakikat cinta. Bukan cinta menyerupai yang ada di buku-buku roman. Tapi cinta yang suci. Cinta yang hakiki. Cinta yang dilandasi ridha Ilahi. 

Buku yang ditulis oleh Salim A. Fillah ini juga berisi penggalan kisah Rasulullah Saw, para sahabat dan umat terdahulu dalam menggapai cintanya tanpa selingkuh cinta-Nya. Ada juga yang tak sesuai dengan jalan-Nya sehingga karam dalam sengsara. Gila lantaran cinta. Seperti kisah Majnun dan Layla. 

Salim A. Fillah memang dikenal sebagai penulis yang piawai memadukan dalil dengan kisah, norma dengan hikmah, dan membingkainya dengan nuansa yang indah. Ada keberanian kata dalam tulisannya untuk tak selalu membaku, tetapi justru menjadi kekhasan rasa penuh makna. Gaya bertuturnya melompat lincah, meliuk cepat, kadang mengalun syahdu, dan menciptakan pembacanya merasa diajak berbicara serta terlibat dalam gagasan-gagasannya. 

Penulisan buku ini dibagi menjadi tiga langkah. Langkah pertama; Dari dulu beginilah cinta. Disini mengupas wacana akar dari lantaran sesatnya pikiran dalam cinta sehingga menyiksa jiwa. 

Langkah kedua; Dunia kita hari ini. Pada pecahan ini penulis mengelanai bingkai jalan kita. Ada citra wacana sebuah dunia yang berubah dengan cepat, dan kita sebagai pemain di jalan cinta para pejuang harus terampil mengendarainya. 

Dan langkah ketiga; Jalan cinta para pejuang. Ini yaitu inti dari pembahasan buku ini. Langkah terakhir ini terdiri dari empat tapak. Tapak pertama yaitu Visi, yang memaparkan dimensi intelektual. Disusul dengan tapak-tapak berikutnya: Gairah, yang mengurai dimensi emosional. Nurani, yang membicarakan dimensi spiritual. Dan yang terakhir Disiplin, yang membahas wacana dimensi fisik. 

Uniknya, buku ini sanggup dikemil pribadi ditiap judul kecil. Sekaligus sanggup dikunyah secara tertib. Dalam artian pembaca boleh saja pribadi menuju ke judul sub-bab jikalau tak betah menelusuri dari awal sampai akhir. Insyaallah takkan merasa ada yang hilang meskipun memulainya dari yang tengah atau bahkan yang paling akhir. Tapi meskipun begitu, cinta yaitu perkara yang tak ada habisnya. 

Buku ini disarankan untuk dibaca oleh para pejuang cinta. Karena buku ini menceritakan sebuah perjalanan wacana cinta seseorang. Dan satu lagi, buku ini bukan untuk dikonsumsi anak-anak. Selamat tiba di jalan cinta para pejuang. Selamat membaca![]

*Penulis Merupakan mahasiswi Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar