Tuesday, 4 February 2020

Keutamaan Shalat Tarawih Dan Rahasianya

Assalamualaikum Warahmatullahhiwabarakatuhu...
Sahabat 1001-kisah Islami... Solat Tarawih ialah solat yang dikerjakan pada malam-malam dalam bulan Ramadhan al-Mubarak dan waktu mengerjakannya ialah selepas solat Isyak dan sebelum solat Witir. Solat Tarawih ialah salah satu daripada ibadah-ibadah dalam bulan Ramadhan yang penuh berkat dan paling besar karenanya dihati kaum Muslimin. Ia juga memiliki darjat dan keutamaan yang dirahsiakan oleh Allah s.w.t.
                        Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Sesiapa beribadat pada malam-malam bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan akan pahala deripada Allah (s.w.t.), nescaya dosa-dosanya yang telah kemudian akan diampuni oleh Allah (s.w.t.)."    (Riwayat al-Bukhari)
1. Barang Siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam pertama (1 Ramadhan), Allah SWT akan mengampuni dosanya menyerupai bayi gres dilahirkan ibunya.
2. Barang siapa yang melakukan sholat Tarawih pada malam ke 2, Allah SWT Akan mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
3. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 3, Malaikat akan memanggil dari bawah Arsy dan Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya terdahulu.
4. Barang siapa yang melakukan sholat Tarawih pada malam ke 4 , maka pahalanya menyerupai pahala orang yang membaca kitab Taurat, kitab Jabur, kitab Injil, dan Kitab suci Alqur'an.
5. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 5, Allah SWT akan menunjukkan pahala menyerupai orang yang sholat di Masjidil Haram dan Masjidil Aqso.
6. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 6 , Allah SWT akan menunjukkan pahala menyerupai orang yang Thowaf di Baitul Ma'murdan.
7. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 7, Allah SWT akan menunjukkan pemberian menyerupai pemberian Allah SWT kepada Nabi Musa AS dari Fir'aun dan Hamman.
8. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 8, Allah SWT akan menunjukkan pahala menyerupai pahala yang telah Allah SWT berikan kepada nabi Ibrahim AS.
9. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 9, Allah SWT akan menunjukkan pahala menyerupai pahala ibadahnya Nabi Muhammad SAW.
10. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 10, Allah SWT akan menunjukkan rizki kebaikan dunia akhirat.
11. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 11, maka saat ia keluar dari dunia menyerupai gres dilahirkan dari perut ibunya.
12. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 12, maka ia tiba pada hari selesai zaman dengan wajahnya menyerupai bulan purnama.
13. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 13, maka ia akan tiba pada hari selesai zaman diselamatkan dari setiap kejelekan.
14. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 14, malaikat akan tiba dan mereka bersaksi bahwa ia shalat Tarawih. Maka Allah SWT tidak akan menghisabnya pada hari kiamat.
15. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 15, malaikat Rahmat, Arsy, dan Kursy akan membaca shalawat kepadanya.
16. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 16, Allah SWT akan menulisnya bebas dari neraka dan masuk ke dalam surga.
17. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 17. Allah SWT akan menunjukkan pahala kepadanya menyerupai pahala para nabi.
18. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 18, Malaikat akan memanggilnya:"Wahai Hamba Allah SWT, bergotong-royong Allah SWT Ridho pada engkau.
19. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 19, Allah SWT akan mengangkat derajatnya dalam nirwana firdaus.
20. Barang siapa yang melakukan shalat tarawih pada malam ke 20, Allah SWT akan menunjukkan pahala kepadanya menyerupai pahala para sahabat.
21. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 21, Allah SWT akan membangun Rumah untuknya disurga yang terbuat dari cahaya.
22. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 22, ia akan tiba pada hari   kiamat dan diselamatkan dari berbagaikesusahan..
23. Barang siapa yang melakukan shalatTarawih pada malam ke 23, Allah SWT akan membangun sebuah kota disurga untuknya.
24. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 24, Allah SWT akan mengabulkan dari 24 Doanya.
25. Barang siapa yang melakukan shalatTarawih pada malam ke 25, Allah SWT akan mengangkat baginya dari siksa kubur.
26. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 26, Allah SWT akan mengangkat pahalanya selama 40 tahun.
27. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 27, ia akan berjalan dijembatan Shirathul Mustaqim bagai kilat yang menyambar.
28. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 28, Allah SWT akan
mengangkatnya 1000 (Seribu) derajat didalam surga.
29. Barang siapa yang melakukan shalatTarawih pada malam ke 29, Allah SWT akan mengabulkan 1000 (Seribu) Hajatnya.
30. Barang siapa yang melakukan shalat
Tarawih pada malam ke 30, Allah SWT berfirman,"Wahai Hambaku, makanlah dari buah-buahan nirwana dan mandilah di sungai Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar" kemudian Allah SWT berfirman:"Aku tuhanmu dan engkau hamba-Ku.

Semoga bermanfa'at. Aamiin

Amalan Dibulan Ramadhan

Assalamualaikum Warahmatullahhiwabarakatuhu...
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ أمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة: 183)
Di Bulan Ramadhan, selain melaksanakan ibadah yang wajib menyerupai berpuasa dan sholat, ada beberapa amalan ibadah sunat lainnya yang sanggup kita praktekan di keseharian kita. Dengan mendampingkan ibadah wajib dengan ibadah sunnah, pada selesai bulan Ramadhan kita sanggup mencicipi hari kemenangan (Idul Fitri) dengan penuh sukacita. Ingin tahu apa saja amalan ibadah penyempurna Ibadah puasa ini? Mari kita simak bersama.
1. Membaca Al-Qur’an
Seperti yang sudah sering diungkapkan bahwa ibadah pada bulan mulia pahalanya dilipatgandakan, begitu juga dengan membaca Al-Quran. Diriwayatkan, membaca Al-Quran pada bulan Ramadhan mempunyai keutamaan bahwa tiap karakter yang kita baca akan mendapat pahala sebanyak 27 kali. Tidak hanya membaca saja, sekedar mendengar bacaan Al-Qur’an saja bagi umat muslim yaitu pahal, maka perbanyaklah mendekatkan diri pada kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan bacaan Al-Qur’an selama bulan suci Ramadhan.
Bahkan tidak hanya mendengar atau membaca, jikalau kita masih terbata-bata (belum lancar) dalam membaca Al-qur’an pun, kita akan mendapat pahala, diluar maupun didalam bulan Ramadhan.
2. Sedekah
Penyempurna ibadah puasa Ramadhan lainnya ialah bersedekah. Diriwayatkan dalam hadist shahih:
Rasullah ditanya: “sedekah manakah yang paling utama? dia menjawab: Sedekah di Bulan Ramadhan.” (H.R. Turmudzi).
Maka dari itu daripada sering-sering bermegah dengan harta yang kita miliki, lebih baik harta yang kita miliki kita sisihkan sebagian untuk para fakir miskin  yang membutuhkan. Apalagi bulan Ramadhan juga bulan dimana amal baik dilipatgandakan pahalanya disisi Allah SWT.
3. Shalat Tarawih
Amalan ibadah yang satu ini termasuk sunnah muakad artinya tidak wajib, namun sayang sekali pada kesempatan bulan Ramadhan dimana pahala dilipatgandakan ini kita tidak melaksanakan amalan sunnah. Maka daripada sesudah berbuka dan magrib kita hanya sekedar terdiam atau tidur, lebih baik melaksanakan shslat tarawih.
Kita sanggup mengajak keluarga atau bahkan sesekali kawan-kawan untuk shalat tarawih bersama sebagai bentuk silaturahmi yang berpahala juga. Maka belum afdol rasanya jikalau melaksanakan puasa Ramadhan tanpa melaksanakan shalat tarawih.
Shalat tarawih ini juga dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad saw:
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan puasa Ramadhan dan saya telah mensunatkan qiyamnya (shalat di malam harinya). sebab itu, barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dan shalat dimalah harinya sebab keyakinan dan mengharap pahala serta ridha Allah, maka keluarlah dosanya sebagaimana pada hari dia dilahirkan oleh ibunya” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).
4. Shalat Witir
Shalat witir umumnya dilaksanakan sekaligus sesudah tawarih dilakukan. Seperti tarawih, sholat witir juga hukumnya sunnah muakad dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw untuk dilakukan tiap malam.
Ali r.a. berkata, bahwasannya Nabi saw. pernah bersabda: “barang siapa tidak mengerjalan (shalat) witir, maka bukan dari golonganku.” (H.R. Ahmad).
Begitu pentingnya shalat witir ini terungkap menyerupai hadist diatas. Makara jikalau kita melaksanakan shalat tarawih, semoga lebih tepat lagi dirikanlah pula shalat witir setelahnya, Insha Allah ibadah-ibadah ini merupakan jalan menuju kesempurnaan puasa Ramadhan.
5. Itikaf
Ibadah lainnya yaitu yaitu Beritikaf (berdiam sejenak di masjid dengan niat itikaf). ibadah ini disunahkan dilakukan pada setiap waktu, terutama pada sepuluh hari terakhir sebab pada 10 terakhir Ramadhan dan malam-malam ganjil terdapat malam “lailatul Qadr.”

Semoga bermanfa'at.... Aamiin

Wednesday, 25 December 2019

Apakah Dosa Dilipatgandakan Di Bulan Dan Kawasan Yang Mulia?

Apakah Dosa Dilipatgandakan Di Bulan Dan Kawasan Yang Mulia?
Apakah Dosa Dilipatgandakan Di Bulan Dan Tempat Yang Mulia Apakah Dosa Dilipatgandakan Di Bulan Dan Tempat Yang Mulia?


Bismillah walhamdulillah wah shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, dalam syari’at Islam yang mulia, telah dijelaskan adanya beberapa daerah dan bulan yang mempunyai kemuliaan, di antaranya ialah bulan Ramadhan yang sedang kita hadapi ini.
Suatu perilaku yang baik bagi seorang muslim ialah memuliakan sesuatu yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, termasuk memuliakan bulan Ramadhan ini. Sikap memuliakannya ialah berusaha melaksanakan banyak sekali bentuk ketaatan kepada Allah dan menjauhi semua kemaksiatan di bulan ini. Nah, lalu apakah yang akan didapatkan seseorang ketika melaksanakan ketaatan atau kemaksiatan di bulan ini?
Berikut ini pedoman tentang apakah keburukan dan kebaikan dilipatgandakan pada bulan Ramadhan? Jika jawabannya ya, kemudian apakah hal itu berlaku juga untuk bulan-bulan yang mempunyai keutamaan selain bulan Ramadhan? Bagaimana jikalau melaksanakan ketaatan dan kemaksiatan di tempat-tempat yang mempunyai keutamaan?
Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah
Fatwa no. 38213: Apakah keburukan dan kebaikan dilipatgandakan pada bulan Ramadhan?
Apakah benar bahwa keburukan dilipatgandakan di bulan Ramadhan, sebagaimana kebaikan dilipatgandakan juga? Apakah ada dalil yang menyampaikan hal itu?
Jawab:
“Segala puji bagi Allah, benar, kebaikan dan keburukan dilipatgandakan pada waktu dan daerah yang utama, akan tetapi di sana ada perbedaan antara pelipatgandaan kebaikan dengan pelipatgandaan keburukan. Adapun pelipatgandaan kebaikan adalah pelipatgandaan kuantitas dan kualitas. Maksud dari kuantitas ialah bilangan, sehingga satu kebaikan (dilipatgandakan) menjadi sepuluh kali lipat atau lebih. Sedangkan yang dimaksud dengan (pelipatgandaan) kualitas ialah pahalanya lebih besar dan lebih banyak. Adapun keburukan, maka pelipatgandaannya dalam kualitas saja, bahwa dosanya lebih besar dan siksanya lebih berat, namun dari sisi bilangan, maka satu keburukan dihitung satu (kesalahan) saja, mustahil dihitung lebih dari satu kesalahan.”
Disebutkan dalam kitab Mathalib Ulin Nuha (2/385) :
(وتضاعف الحسنة والسيئة بمكان فاضل كمكة والمدينة وبيت المقدس وفي المساجد، وبزمان فاضل كيوم الجمعة، والأشهر الحرم ورمضان. أما مضاعفة الحسنة: فهذا مما لا خلاف فيه، وأما مضاعفة السيئة، فقال بها جماعة تبعا لابن عباس وابن مسعود . . . وقال بعض المحققين: قول ابن عباس وابن مسعود في تضعيف السيئات: إنما أرادوا مضاعفتها في الكيفية دون الكمية ) اهـ .
“Kebaikan dan keburukan menjadi berlipatganda pada daerah mulia menyerupai Mekah, Madinah, Baitul Maqdis dan di masjid. Dan (berlipatganda pula) di waktu yang mulia menyerupai pada hari jum’at, bulan-bulan haram dan Ramadhan. Adapun pelipatgandaan kebaikan, maka ini ialah masalah yang tidak ada perselisihan (di antara ulama) tentangnya. Adapun pelipatgandaan keburukan, maka sekelompok ulama menyatakan hal itu, mereka mengikuti (pendapat) Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud…. dan berkata sebagian ulama peneliti perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud dalam pelipatgandaan keburukan mereka hanyalah memaksudkannya sebagai (pelipatgandaan) kualitas dan bukan kuantitas”.
Syaikh Bin Baz rahimahullah  pernah ditanya, “Apakah puasa menjadikan seorang muslim mendapat peleburan dosanya, baik kecil maupun besar? Apakah dosa sanggup berlipatganda ketika bulan Ramadhan?”.
Beliau menjawab, “perkara yang disyari’atkan bagi seorang muslim pada bulan Ramadhan dan di bulan selainnya ialah berjihad menundukkan jiwa yang banyak menyuruh kepada keburukan sehingga menjadi jiwa yang tenang, yang suka memerintahkan kebaikan dan mencintainya. Wajib baginya berjihad memerangi musuh Allah, yaitu iblis, hingga selamat dari kejahatannya dan tipu dayanya. Maka seorang muslim di dunia ini berada di dalam aktifitas jihad yang besar secara terus menerus, baik melawan jiwa (yang buruk), hawa nafsu, maupun setan. Hendaklah ia memperbanyak taubat dan istighfar pada setiap waktu dan kesempatan, akan tetapi waktu itu berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Bulan Ramadhan ialah bulan yang paling mulia dalam setahun, ia merupakan bulan ampunan, rahmat dan pembebasan dari api Neraka. Jika suatu bulan itu mempunyai keutamaan dan suatu daerah itu mempunyai keutamaan maka dilipatgandakan kebaikan-kebaikan (di dalamnya), dan menjadi besar dosa keburukan-keburukan (yang dilakukan di dalamnya). Makara satu keburukan yang dilakukan pada bulan Ramadhan lebih besar dosanya daripada satu keburukan yang dilakukan di luar Ramadhan, sebagaimana satu ketaatan yang dilakukan di bulan Ramadhan lebih besar pahalanya di sisi Allah daripada satu ketaatan  yang dilakukan di luar Ramadhan.
Ketika (sudah diketahui bahwa) Ramadhan mempunyai kedudukan yang agung, maka tentunya ketaatan yang dilakukan di dalam bulan tersebut mempunyai keutamaan yang agung dan berlipat ganda pula dengan kelipatan yang banyak, sedangkan dosa maksiat yang dilakukan di dalamnya lebih parah dan lebih besar dosanya dibandingkan dengan dosa yang dikerjakan di bulan selainnya. Maka, seorang muslim hendaknya mengambil kesempatan di bulan yang diberkahi ini dengan melaksanakan ketaatan dan amal shalih serta berhenti dari melaksanakan keburukan. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menganugerahkan kepadanya penerimaan amal dan memberi taufik semoga istiqamah di atas (jalan) kebenaran. Akan tetapi, (kalau) keburukan/dosa, tetaplah semisal kemaksiatannya, tidak dilipatgandakan dalam jumlah, tidak di bulan Ramadhan dan tidak pula di bulan selainnya. Adapun kebaikan, maka dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya hingga berlipat-lipat ganda dengan kelipatan yang banyak, menurut firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat Al-An’aam:
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka beliau tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (Al-An’aam :160).
Dan Ayat-Ayat yang semakna dengannya banyak jumlahnya. Demikian pula terkait dengan daerah yang mulia, menyerupai dua tanah haram yang mulia (Mekah dan Madinah), (kebaikan) dilipatgandakan di kedua daerah tersebut dengan kelipatan yang banyak, baik itu secara kuantitas maupun secara kualitas. Adapun keburukan, maka tidak dilipatgandakan secara kuantitas, namun dilipatgandakan secara kualitas (jika dilakukan) di waktu dan daerah yang mulia, sebagaimana telah berlalu instruksi akan hal itu, wallahu waliyyut taufiq”. (Sumber: Majmu’ Fatawa wa Maqalat mutanawwi’ah 15/446).
Syaikh Ibnu Utsaimin dalam “As-Syarhul Mumti’ (7/262) menyampaikan kebaikan dan keburukan dilipatgandakan pada daerah dan waktu yang mulia. Kebaikan dilipatgandakan dengan (pelipatgandaan) kuantitas dan kualitas, adapun keburukan,maka dengan pelipatgandaan kualitas, bukan dengan kuantitas .
Karena Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-An’aam -surat ini ialah surat Makkiyyah- :
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka beliau tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (An-An’aam : 160)
Dan Allah berfirman:
{مَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ}
“Barangsiapa yang bermaksud di dalamnya (Masjidil Haram) melaksanakan kejahatan secara zalim, pasti akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih” (Al-Hajj:25) [1],
(Di dalam Ayat ini) Allah  tidaklah berfirman “(niscaya) Kami lipatgandakannya untuknya,” namun berfirman
{نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ}
“Niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.”
“Maka, (kesimpulannya) pelipatgandaan keburukan di Mekah atau di Madinah ialah pelipatgandaan kualitas. [Maksudnya: Siksanya lebih pedih dan menyakitkan, (hal ini) menurut firman Allah Ta’ala
{مَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ }
“Barang siapa yang bermaksud di dalamnya (Masjidil Haram) melaksanakan kejahatan secara zalim, pasti akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih. (Al-Hajj:25)[3].
Wallahu a’lam”. 
***
Catatan kaki
[1] Kalimat ini tidak penulis temukan di kitab aslinya:  Asy- Syarhul Mumti‘ 7/227, wallahu a’lam
[2] Kalimat ini tidak penulis temukan di kitab aslinya:  Asy- Syarhul Mumti‘ 7/227, wallahu a’lam
___
Penerjemah: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Madrasah Puasa Ramadhan, Sudahkah Kita Raih Buahnya? (1)

Madrasah Puasa Ramadhan, Sudahkah Kita Raih Buahnya? (1)
 ibadah Puasa Wajib kita lakukan di bulan suci ini Madrasah Puasa Ramadhan, Sudahkah Kita Raih Buahnya? (1)


Beberapa hari sudah, berlalu bulan Ramadhan yang mulia ini….
Beberapa kali sudah, ibadah Puasa Wajib kita lakukan di bulan suci ini…
Beberapa rakaat sudah, Taraweh kita jalani…
Sahur dan buka puasa Ramadhan pun sudah mulai terbiasa kita lakukan…
Ta’jil dan ifthar jama’i pun sudah mulai erat di indera pendengaran kita…
Baca Al-Qur’an, kuliah subuh dan banyak sekali kajian Ramadhan pun kembali bermunculan dengan semarak…
Namun, lihatlah hati kita, adakah kekhusyukan bertambah?
Lihatlah amal kita, adakah keihklasan bertambah dan perhatian terhadap benarnya ibadah juga bertambah?
Ingatlah, Allah hanya melihat hati dan amal seorang hamba! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلاَ إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Sesungguhnya Allah tidaklah melihat kepada bentuk badan dan harta kalian, akan tetapi melihat kepada hati-hati dan amal-amal kalian (HR. Muslim).

Tiga bentuk tarbiyyah dalam madrasah puasa Ramadhan, manakah yang sudah kita raih?

Hamba Allah yang menjalani ibadah puasa Ramadhan hendaknya melaksanakan tiga bentuk intropeksi diri (muhasabah) berikut ini,
  1. Muhasabah kekerabatan dengan Allah Ta’ala. Adakah kekerabatan kita dengan Allah Ta’ala semakin dekat?
  2. Muhasabah kekerabatan (sikap) dengan diri sendiri. Adakah jihad kita semakin gencar melawan jiwa yang ammaratun bis suu`, suka memerintahkan kepada keburukan?
  3. Muhasabah kekerabatan dengan orang lain. Adakah mu’amalah kita dengan saudara kita yang seiman semakin lembut dan baik?
Itulah tiga bentuk tarbiyyah (pendidikan) dari Madrasah Puasa Ramadhan! Ketiga kasus tersebut terkumpul dalam hadits berikut:
عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»
Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdir Rahman Muadz bin Jabalradhiyallahu’anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, pasti kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan insan dengan adat yang baik” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata hadits hasan Shahih dan dishahihkan oleh Al-Albani).
Mengapa demikian? Bukankah Madrasah Puasa Ramadhan merealisasikan kandungan hadits di atas? Perhatikanlah! Hadits di atas mengandung tiga bentuk tarbiyyah(pendidikan) semoga seorang hamba menjadi baik dan semakin baik, yaitu Ash-Shalaah wal-Ishlah,
Pertama: Baiknya kekerabatan dengan Allah Ta’ala, dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:
« اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ»
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.”
Kedua: Baiknya kekerabatan (sikap) dengan diri sendiridalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:
« وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا»
“Iringilah keburukan dengan kebaikan, pasti kebaikan tersebut akan menghapuskannya”.
Ketiga: Baiknya kekerabatan dengan orang laindalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
«وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»
“Dan bergaullah dengan insan dengan adat yang baik.”
Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah dalam khuthbah jumatnya yang berjudul “Ramadhan Madrasah Shalah wal Ishlah”:
هذا الحديث العظيم عدَّه العلماء في جوامع كلِم الرسول صلى الله عليه وسلم ؛ لأنه جمَع للمسلم كل ما يحتاج إليه في باب الصلاح والإصلاح ؛ صلاحه فيما بينه وبين الله ، وصلاحه فيما بينه وبين نفسه ، وصلاحه في تعامله مع عباد الله تبارك وتعالى . فهو حديث جامعٌ عظيم في باب تحقيق الصلاح والإصلاح
“Ulama mengelompokkan hadits yang agung ini ke dalam Jawami’u Kalim Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sabda yang singkat, namun luas cakupannya), sebab mengumpulkan untuk seorang muslim, seluruh apa yang dibutuhkannya dalam upaya semoga dirinya menjadi baik (Ash-Shalah) dan upaya melaksanakan perbaikan (Al-Ishlah), meliputi:
  • Kebaikan kekerabatan dirinya dengan Allah,
  • Kebaikannya dalam bersikap terhadap diri sendiri,
  • Kebaikannya dalam bermu’amalah dengan hamba-hamba Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Maka (kesimpulannya) Hadits tersebut yakni Hadits universal lagi agung dalam merealisasikan Ash-Shalah (kebaikan) dan Al-Ishlah (perbaikan)”
وإذا تأملتَ في مدرسة الصيام وجدتَ أنها محققةً هذه الأمور الثلاثة التي اشتمل عليها هذا الحديث الجامع العظيم
“Dan kalau Anda memperhatikan madrasah puasa (Ramadhan), pasti Anda akan mendapat bahwa madrasah tersebut  merealisasikan ketiga kasus yang tercakup dalam Hadits universal dan agung ini.”
***
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Tuesday, 24 December 2019

Madrasah Puasa Ramadhan, Sudahkah Kita Raih Buahnya? (2)

Madrasah Puasa Ramadhan, Sudahkah Kita Raih Buahnya? (2)
 Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdir Rahman Muadz bin Jabal Madrasah Puasa Ramadhan, Sudahkah Kita Raih Buahnya? (2)


Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdir Rahman Muadz bin Jabalradhiyallahu’anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, pasti kebaikan tersebut akan menghapus keburukan tersebut. Bergaullah dengan insan dengan tabiat yang baik” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata, Hadits Hasan Shahih dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Perhatikanlah! Hadits di atas mengandung tiga bentuk tarbiyyah (pendidikan) semoga seorang hamba menjadi baik dan semakin baik (Ash-Shalaah wal-Ishlah).

Tiga bentuk Tarbiyyah tersebut adalah:

Pertama Baiknya kekerabatan dengan Allah Ta’ala (Taqwallah)dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.”
Kedua Baiknya kekerabatan (sikap) dengan diri sendiridalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
“Iringilah keburukan dengan kebaikan, pasti kebaikan tersebut akan menghapus keburukan tersebut”.
Ketiga Baiknya kekerabatan dengan orang laindalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Dan bergaullah dengan insan dengan tabiat yang baik.”
Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah dalam khuthbah Jum’atnya yang berjudul “Ramadhan Madrasah Shalah wa Ishlah” mengatakan,
وإذا تأملتَ في مدرسة الصيام وجدتَ أنها محققةً هذه الأمور الثلاثة التي اشتمل عليها هذا الحديث الجامع العظيم
“Dan jikalau Anda memperhatikan madrasah puasa (Ramadhan), pasti Anda akan mendapat bahwa madrasah tersebut  merealisasikan ketiga kasus yang tercakup dalam Hadits yang universal dan agung ini.”
Berikut penjelasannya:
1. Tentang baiknya kekerabatan dengan Allah Ta’ala Taqwallah
Maka ketahuilah, bahwa puasa Ramadhan merupakan madrasah yang sangat agung dalam merealisasikan ketakwaan. Perhatikanlah bagaimana Allah Azza wa Jalla membuka Ayat-Ayat perihal puasa dalam surat Al-Baqarah dengan firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa (Ramadhan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian semoga kalian bertakwa” (Al-Baqarah : 183).
Kemudian Allah Jalla wa ‘Ala tutup Ayat-Ayat puasa dalam Surat tersebut dengan firman-Nya,
كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Demikianlah Allah menandakan Ayat-Ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa” (Al-Baqarah: 187).
Makara -sekali lagi- puasa Ramadhan merupakan madrasah yang sangat agung dalam merealisasikan ketakwaan, alasannya yaitu seorang yang melaksanakan puasa Ramadhan, merasa diawasi oleh Allah baik ketika sendirian maupun ketika bersama orang lain, bersabar menghindari pembatal puasa dan kasus yang mengurangi pahala puasanya. Dan pada diri orang yang berpuasa dengan baik ada kekhusyu’an hati dan ketenangan tingkah laris sehingga berhati-hati dalam bersikap dan tidak terburu-buru, semua ini merupakan bentuk-bentuk ketaqwaan!
Oleh alasannya yaitu itulah, dalam sebuah Hadits, Allah Tabaraka wa Ta’ala  berfirman,
الصِّيَامُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Sesungguhnya ibadah puasa itu khusus dilakukan untuk-Ku semata dan Aku sendiri yang membalasnya (dengan pahala yang hanya Aku yang mengetahui besar dan banyaknya)” (HR. Al-Bukhari).
Demikian istimewanya ibadah puasa itu alasannya yaitu memang dalam puasa terdapat realisasi takwa yang sangat besar dan bahwa puasa yaitu ibadah yang menjadi diam-diam antara seorang hamba dengan Rabbnya.
2. Tentang madrasah ibadah puasa Ramadhan merealisasikan bentuk Tarbiyyah yang kedua, yaitu baiknya perilaku terhadap diri sendiri
maka hadits berikut menyampaikan bahwa seorang hamba ketika bulan Ramadhan tertuntut untuk melaksanakan amal-amal shaleh, selain untuk mengharap keridhoan Allah, juga dalam rangka melebur dosa-dosanya. Ini semakna dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
“Iringilah keburukan dengan kebaikan, pasti kebaikan tersebut akan menghapuskan keburukan tersebut.”
Berikut ini beberapa amalan yang sanggup melebur dosa seorang hamba di bulan Ramadhan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar” (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan alasannya yaitu beriman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan (shalat tarawih) alasannya yaitu beriman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar alasannya yaitu beriman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah kemudian akan diampuni” (HR. Al-Bukhari).
Hadits yang lainnya semisal ini hakikatnya mendorong seseorang yang menjumpai bulan Ramadhan untuk menunaikan ibadah puasa dan ibadah-ibadah yang lainnya, yang sanggup menjadi pelebur dosa-dosanya, alasannya yaitu ia mengetahui bahwa di antara sifat jiwa itu adalah ammaratun bis suu`, suka memerintahkan kepada keburukan dan iapun mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Seluruh anak keturunan Nabi Adam banyak melaksanakan dosa dan sebaik-baik orang yang banyak melaksanakan dosa yaitu orang-orang yang banyak bertaubat” (HR Ibnu Maajah, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
***
[serialpost]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Madrasah Puasa Ramadhan, Sudahkah Kita Raih Buahnya? (3)

Madrasah Puasa Ramadhan, Sudahkah Kita Raih Buahnya? (3)
amalah dengan sesama dengan budpekerti yang baik Madrasah Puasa Ramadhan, Sudahkah Kita Raih Buahnya? (3)


Adapun budpekerti yang mulia dan mu’amalah dengan sesama dengan budpekerti yang baik, maka madrasah ibadah puasa Ramadhan pun mendorong akan hal itu.
Ketahuilah, bahwa puasa mempunyai efek terhadap budpekerti yang baik. Madrasah puasa yakni madrasah yang agung dan diberkahi. Dalam madrasah ini jiwa dididik, hati dilembutkan supaya menyayangi budpekerti yang mulia dan budpekerti Islam yang tinggi. Dalam madrasah ini juga anggota tubuh diperintahkan untuk berakhlak mulia. Oleh alasannya yakni itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Dan bergaullah dengan insan dengan budpekerti yang baik.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
-‏الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلا يَرْفُثْ وَلا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ ـ مَرَّتَيْنِ
“Puasa itu yakni perisai, maka janganlah (seseorang yang sedang berpuasa) mengucapkan ucapan yang kotor, dan janganlah bertindak bodoh, dan kalau ada orang yang memusuhinya atau mencelanya, maka katakan “Saya sedang puasa” -dua kali-” (HR. Al-Bukhari).
Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata,
قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ! إِنَّ فُلَانَةَ – يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا – غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ قَالَ : هِيَ فِي النَّارِ .
قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ! فَإِنَّ فُلَانَةَ – يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا – وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنْ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ قَالَ : هِيَ فِي الْجَنَّةِ
“Seseorang bertanya Wahai Rasulullah! Sesungguhnya ada seorang perempuan yang populer dengan banyaknya shalat, puasa dan shodaqahnya, hanya saja ia dikenal pula suka menyakiti tetangganya dengan lisan. Beliau sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Dia masuk Neraka.’ Lalu orang tersebut berkata lagi, ‘Wahai Rasulullah! sebenarnya ada seorang perempuan yang dikenal sedikit puasa, shodaqah, dan shalatnya, dan dia bershadaqah dengan sepotong keju, namun ia tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. Beliau sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Dia masuk Surga’” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Mundziri).
Hadits yang lainnya semisal ini hakikatnya mengatakan bahwa puasa tidaklah sekedar menahan dari lapar dan dahaga, namun puasa juga sebuah Madrasah Tarbawiyyah (Sekolah Pendidikan) yang agung. Madrasah ini mendorong seseorang untuk bertakwa dan banyak melaksanakan kebaikan.
Oleh alasannya yakni itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan kita dengan sabda beliau
رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش
“Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga” (HR. Ibnu Majah, Al-Hakim dan dia menshahihkannya. Al-Albani berkata: “Hasan Shahih).

Penutup

Tiga bentuk tarbiyyah di atas terkumpul dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla berikut ini,
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
(133) “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada nirwana yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,”
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(134) “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
(135) “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, kemudian memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang sanggup mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”
أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
(136) “Mereka itu akibatnya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan nirwana yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka awet di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”
***
Diolah dari khuthbah Jum’atnya yang berjudul “Ramadhan Madrasah Shalah wa Ishlah” oleh Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah.

***
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Apakah Orang Yang Berbuka Puasa Tetap Dianjurkan Menjawab Adzan?

Apakah Orang Yang Berbuka Puasa Tetap Dianjurkan Menjawab Adzan?
Apakah Orang yang Berbuka Puasa Tetap Dianjurkan Menjawab Adzan Apakah Orang yang Berbuka Puasa Tetap Dianjurkan Menjawab Adzan?12 Hadits Lemah dan Palsu Seputar Ramadhan
[2] Ulama Ahlul Hadits rahimahumullah berselisih pendapat ihwal embel-embel kalimat لا تخلف الميعاد, pendapat yang terkuat bahwa kalimat embel-embel ini syaadz, sehingga tidak disyari’atkan untuk diucapkan. Wallahu a’lam.
___
Penyusun: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Ramadhan Yaitu Bulan Kesabaran (1)

Ramadhan Yaitu Bulan Kesabaran (1)
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu  Ramadhan Adalah Bulan Kesabaran (1)


Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:
Adalah sebuah anugerah yang besar saat seorang hamba menjumpai bulan Ramadhan yang diberkahi ini, sebab ia akan memetik sekian banyak faedah yang besar jikalau ia benar-benar memanfaatkan bulan yang agung ini untuk beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Diantara faedah yang besar itu yakni diraihnya kesabaran , baik dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, menjauhi kemaksiatan maupun didalam menghadapi taqdir Allah yang terasa berat dirasa oleh seorang hamba. Berikut penulis bawakan terjemah dari makalah yang disampaikan oleh Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullahu Ta’ala, yang bersumber dari situs resmi dia [1].
Berkata Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullahu Ta’ala,

Ramadhan Adalah Bulan Kesabaran

Sesungguhnya kesabaran yakni asas yang terbesar bagi setiap moral yang indah dan bagi upaya menghindari moral yang hina. Dan sabar itu yakni menahan diri dari kasus yang tidak disukai oleh hawa nafsu dan menyelisihi seleranya, dalam rangka meraih ridho Allah dan pahalanya.
Termasuk cakupan kesabaran yakni sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, dalam menghindari maksiat kepada Allah dan dalam menghadapi takdir Allah yang berat (yang dirasakan oleh seorang hamba). Ketiga hal ini -yang mengumpulkan seluruh pedoman agama Islam ini- tidaklah sanggup terealisasi kecuali dengan kesabaran.
  1. Ketaatan-ketaatan -khususnya yang berat , menyerupai jihad di jalan Allah, ibadah yang kontinyu,seperti menuntut ilmu dan terus menerus berucap dan berperilaku yang bermanfa’at- (semua itu) tidaklah sanggup terealisasi kecuali dengan kesabaran melakukannya dan melatih diri untuk terus menerus, senantiasa melakukannya dan membiasakan diri dengannya. Jika melemah kesabaran, melemah pula amalan-amalan sholeh ini, bahkan sanggup jadi berhenti dilakukan.
  2. Dan demikian pula menahan diri dari melaksanakan kemaksiatan-kemaksiatan -khususnya kemaksiatan yang hawa nafsu berselera tinggi terhadapnya- tidaklah sanggup meninggalkannya kecuali dengan kesabaran dan berusaha untuk sabar dalam menyelisihi hawa nafsu dan tahan mencicipi beratnya hal itu.
  3. Demikian pula musibah-musibah, saat menimpa seorang hamba, sedangkan ia hendak menghadapinya dengan ridho, syukur dan memuji Allah atas anugerah peristiwa alam itu[2], tidaklah sanggup muncul sikap-sikap tersebut kecuali dengan sabar dan mengharap pahala Allah.
Kapanpun seorang hamba melatih diri untuk sabar dan mempersiapkan diri untuk tahan di dalam mencicipi berat dan sulitnya hal itu, bersungguh-sungguh dan berjuang untuk menyempurnakan sikap-sikap tersebut , maka hasilnya yakni keberuntungan dan kesuksesan.
Dan tidaklah seseorang bersungguh-sungguh dalam mencari sesuatu dan diiringi dengan kesabaran melainkan ia akan membawa kemenangan, namun orang yang bersungguh-sungguh menyerupai ini jumlahnya sedikit.
Sesungguhnya bulan Ramadhan yakni madrasah yang agung dan bangunan (keimanan) yang tinggi, yang para hamba mengambil darinya banyak ibroh dan pelajaran bermanfaat yang mendidik jiwa dan meluruskannya pada bulan Ramadhan ini dan di sisa umurnya. Dan salah satu (pelajaran besar) yang diambil oleh orang-orang yang berpuasa di bulan yang agung dan demam isu yang diberkahi ini yakni membiasakan diri dan membawanya kepada kesabaran, oleh sebab itu , terdapat dalam beberapa Hadits, (bahwa) Nabi yang sangat penyayang –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mensifati bulan Ramadhan dengan “bulan kesabaran”.

Hadits Tentang Bulan Ramadhan Adalah Bulan Kesabaran

Sesungguhnya bulan Ramadhan yakni madrasah yang agung dan bangunan (keimanan) yang tinggi, yang para hamba mengambil darinya banyak ibroh dan pelajaran bermanfaat yang mendidik jiwa dan meluruskannya pada bulan Ramadhan ini dan di sisa umurnya. Dan salah satu (pelajaran besar) yang diambil oleh orang-orang yang berpuasa di bulan yang agung dan demam isu yang diberkahi ini yakni membiasakan diri dan membawanya kepada kesabaran, oleh sebab itu , terdapat dalam beberapa Hadits , (bahwa) Nabi yang sangat penyayang –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mensifati bulan Ramadhan dengan “bulan kesabaran”.
Diantaranya yakni Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim dari Hadits Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ))
“Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan yakni puasa sepanjang tahun”. [3]
وأخرج الإمام أحمد عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنِ الْأَعْرَابِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وذكر الحديث أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (( صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ يُذْهِبْنَ وَحَرَ الصَّدْرِ ))
Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Yazid bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir, dari Al-A’rabii berkata saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan dia menyebutkan Hadits bahwa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
(( صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ يُذْهِبْنَ وَحَرَ الصَّدْرِ ))
“Puasa bulan Kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan menghilangkan wahar[4] dada”. [5]
An-Nasa`i meriwayatkan dari Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((صمْ شهرَ الصبرِ وثلاثةَ أيامٍ من كلِّ شهر…))
Puasalah pada bulan Kesabaran dan puasalah di tiga hari pada setiap bulan…” [6]
Dalam ketiga Hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifati bulan Ramadhan sedbagai bulan kesabaran, hal itu dikarenakan terkumpul dalam bulan Ramadhan seluruh jenis kesabaran; sabar melaksanakan ketaatan kepada Allah, sabar meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya dan sabar dalam menghadapi takdir Allah yang berat (yang dirasakan oleh seorang hamba)
Penjelasannya sebagai berikut :
  1. Didalam bulan Ramadhan terdapat ibadah puasa, shalat Taraweh, membaca Alquran, kebaikan, Ihsan, dermawan, memberi makan, dzikir, do’a, taubat, istighfar dan selainnya dari banyak sekali macam ketaatan-ketaatan, dan (semua) ini membutuhkan kesabaran, semoga seseorang sanggup melakukannya dalam bentuk yang paling tepat dan paling utama.
  2. Didalam bulan Ramadhan terdapat sikap menahan verbal dari dusta, menipu, sia-sia, mencela, mencerca, teriak, debat, menggunjing, mengadudomba, mencegah anggota badan lainnya dari melaksanakan seluruh kemaksiatan, dan (semua) ini (tertuntut) di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Sedangkan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan ini membutuhkan  kesabaran,sehingga seorang hamba sanggup menjaga dirinya semoga tidak terjatuh kedalamnya.
  3. Didalam bulan Ramadhan terdapat sikap meninggalkan makan ,minum dan  semua yang terkait dengannya, sedangkan nafsunya menginginkannya. Demikian pula menahan diri dari apa yang Allah bolehkan berupa mengikuti syahwat (yang halal) dan kelezatan (yang mubah), menyerupai bersetubuh dan pendahuluannya, dan (semua) ini jiwa tidaklah sanggup meninggalkannya kecuali dengan kesabaran, maka (kesimpulannya) Ramadhan meliputi seluruh jenis kesabaran.
[Bersambung, in sya Allah]
***
Catatan kaki
[1] dalam situs resmi dia : http://al-badr.net/muqolat/2516
[2] Hakekatnya peristiwa alam yang menimpa dunia seseorang itu yakni anugerah Allah kepada hamba-Nya, sebab banyak faedah yang didapatkan dari adanya peristiwa alam tersebut, bagi orang yang beriman.
[3] [Musnad Imam Ahmad  (7567، 8965) dan Imam Muslim  (1162), dan ini lafadz riwayat Imam Ahmad].
[4] Wahar dada adalah  benci & memusuhi serta waswas hati, ada yang berpendapat: benci & memusuhi dalam hati serta murka dan ada pula yang beropini selainnya. [http://www.saaid.net/mktarat/ramadan/299.htm]
[5] Musnad Imam Ahmad (22965). Dan Hadits dengan lafadz yang sama diriwayatkan oleh Al-Bazzar, Ath-Thabarani dan Al-Baghawi terdapat dalam Shahiih Jaimi’ish Shaghiir 3804, [http://www.saaid.net/mktarat/ramadan/299.htm].
[6] HR. An-Nasa`i ( 2756) , lihat Shahiihul Jaami’ (3794) .
___
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Monday, 23 December 2019

Ramadhan Ialah Bulan Kesabaran (2)

Ramadhan Ialah Bulan Kesabaran (2)
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu  Ramadhan Adalah Bulan Kesabaran (2)


Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:

Tipe Manusia Dalam Bersabar

Berkata Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullahu Ta’ala dalam situs resmi ia [1] :
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :
والنفس فيها قوتان : قوة الإقدام ، وقوة الإحجام ؛ فحقيقة الصبر أن يجعل قوة الإقدام مصروفة إلى ما ينفعه ، وقوة الإحجام إمساكاً عما يضره 
Dan jiwa itu mempunyai dua kekuatan : Kekuatan berbuat dan kekuatan menahan diri. Sedangkan hakekat sabar yakni menyebabkan “kekuatan berbuat” terarah kepada masalah yang bermanfaat dan  menjadikan “kekuatan menahan diri” sebagai bentuk menahan diri dari masalah yang membahayakannya.
ومن الناس من تكون قوة صبره على فعل ما ينتفع به وثباتُه عليه أقوى من صبره عما يضره فيصبر على مشقة الطاعة ولا صبر له عن داعي هواه إلى ارتكاب ما نُهي عنه ، ومنهم من تكون قوة صبره عن المخالفات أقوى من صبره على مشقة الطاعات ، ومنهم من لا صبر له على هذا ولا ذاك ،
Dan diantara insan ada orang yang kekuatan sabarnya dalam melaksanakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan dalam keistiqomahan melakukannya, lebih besar lengan berkuasa daripada kesabarannya dalam menghindari sesuatu yang membahayakannya, sehingga ia  sabar terhadap beratnya ketaatan, namun tidak sabar terhadap tarikan hawa nafsunya yang mengajak kepada perbuatan yang terlarang.
(Sebaliknya) diantara mereka ada yang kekuatan kesabarannya dalam menghindari perkara-perkara yang menyelisihi Syari’at, lebih besar lengan berkuasa daripada kesabarannya dalam menghadapi beratnya ketaatan.
(Namun, ada juga) diantara mereka yang tidak mempunyai kesabaran dalam menghadapi beratnya melaksanakan ketaatan dan tidak pula mempunyai kesabaran dalam dalam menghindari sesuatu yang membahayakannya.
وأفضل الناس أصبرهم على النوعين ، فكثير من الناس يصبر على مكابدة قيام الليل في الحر والبرد وعلى مشقة الصيام ولا يصبر عن نظرة محرمة
Dan insan paling utama yakni orang yang paling sabar diantara mereka, di dalam dua jenis kesabaran (tersebut di atas sekaligus). Banyak diantara insan yang sabar menanggung beratnya shalat malam, baik dikala cuaca panas ataupun dingin, dan sabar dalam menanggung beratnya puasa, namun ia tidak sabar menahan matanya dari melihat sesuatu yang haram dilihat.
وكثير من الناس يصبر عن النظر وعن الالتفات إلى الصور ولا صبر له على الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر وجهاد الكفار والمنافقين بل هو أضعف شيء عن هذا وأعجزه ، وأكثرهم لا صبر له على واحد من الأمرين ، وأقلهم أصبرهم في الموضعين
Banyak diantara insan yang sabar menahan matanya dari melihat gambar yang haram dilihat dan menoleh kepadanya , namun ia tidak sabar dalam memerintahkan insan kepada kebaikan maupun melarang mereka dari berbuat mungkar, jihad melawan orang kafir dan orang-orang munafik, bahkan ia yakni orang yang paling lemah dan paling tidak tidak bisa (bersabar) terhadapnya. Yang terbanyak (ditemukan) yakni (kelompok) orang yang tidak mempunyai salah satu diantara dua jenis kesabaran tersebut, adapun paling sedikitnya yakni (kelompok) orang yang  mempunyai kedua jenis kesabaran tersebut sekaligus. [2]
Beliau berkata juga:
فالإنسان منا إذا غلب صبرُه باعثَ الهوى والشهوة الْتحق بالملائكة ، وإن غلب باعثُ الهوى والشهوة صبرَه الْتحق بالشياطين ، وإن غلب باعثُ طبعه من الأكل والشرب والجماع صبرَه التحق بالبهائم
Seseorang diantara kami, jikalau kesabarannya mengalahkan pendorong hawa nafsu dan syahwatnya maka ia bisa meraih (kedudukan) menyerupai malaikat, namun jikalau (sebaliknya) pendorong hawa nafsu dan syahwatnya mengalahkan kesabarannya,  maka ia bisa meluncur (kedudukannya) menyerupai setan. Dan jikalau pendorong nalurinya untuk makan, minum dan bersetubuh mengalahkan kesabarannya, maka ia bisa meluncur (kedudukannya) menyerupai binatang. [3]

Indahnya Sabar dalam Quran dan As-Sunnah

Allah memerintahkan untuk bersabar dan memuji orang-orang yang bersabar dan mengkabarkan bahwa mereka mempunyai kedudukan-kedudukan yang tinggi dan kemuliaan-kemuliaan yang  mahal dalam banyak Ayat Quran dan mengkabarkan bahwa merekalah orang-orang yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah, semoga kalian beruntung. (Ali ‘Imraan: 200).
Allah Ta’ala berfirman :
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Jadikanlah sabar dan shalat sesuatu yang membantu kalian. Dan gotong royong yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ . (Al-Baqarah: 45).
Allah Subhanahu berfirman :
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
(155) Dan berikanlah gosip besar hati kepada orang-orang yang sabar.
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
(156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
(157) Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang tepat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.(Al-Baqarah: 155-157).
Allah Ta’ala berfirman :
وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah:177).
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah:153).
Dan Allah Ta’ala berfirman ihwal jawaban orang-orang yang bersabar dan pahala mereka:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Az-Zumar:10).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ))
“Dan barangsiapa berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bersabar” (HR. Al-Bukhari : 1469).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ))
“Dan gotong royong dukungan (Allah) bersama kesabaran” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya, 2666 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 6304).
Dan cukuplah bagimu sebuah (kesabaran sebagai sebuah) adat yang meringankan beratnya ketaatan bagi seorang hamba dan meringankan baginya meninggalkan apa yang disukai hawa nafsu berupa penyimpangan Syari’at dan menghiburnya dari terkena petaka dan menguatkan seluruh akhlak-akhlak yang indah, (sehingga) bagi akhlak-akhlak yang indah tersebut kedudukannya menyerupai pondasi sebuah bangunan.
Dan kapan seorang hamba mengetahui apa yang terkandung dalam ketaatan berupa kebaikan di Dunia maupun di Akherat, dan apa yang terdapat didalam kemaksiatan berupa bahaya-bahaya di Dunia maupun di Akherat, dan apa yang terdapat dalam kesabaran  menghadapi petaka berupa pahalayang banyak dan jawaban yang agung, tentu akan gampang kesabaran itu bagi jiwanya.
Dan bisa jadi jiwa tersebut tiba membawa kesabaran  dalam keadaan damai mencicipi manisnya buah kesabaran.
Dan jikalau jago dunia saja, akan meringankan mereka untuk sabar atas jerih payah yang besar dalam memanen hasil duniawi, maka bagaimana (kesabaran) itu tidak meringankan orang yang beriman yang mendapat taufik untuk bisa bersabar dalam melaksanakan sesuatu yang dicintai oleh Allah guna memetik buahnya? Dan setiap kali seorang hamba bersabar dengan nrimo alasannya Allah, maka Allah akan senantiasa bersamanya, alasannya gotong royong Allah bersama dengan orang-orang yang bersabar dengan pertolongan, taufik, pengokohan dan pelurusan dari-Nya.
Ya Allah, berilah taufik kepada kami untuk bisa menunaikan hak bulan Ramadhan ini dan sucikan kami dari kotoran hati serta pakaikan kepada kami pemanis yakin dan sabar di dalam hati kami.
***
Catatan kaki
[2] Uddatush Shabirin wa Dzkhiiratisy Syaakirin, hal. 37
[3] Idem, hal. 44
___
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id