Monday, 24 February 2020

Fenomena Kemunduran Islam Abad Kini

Oleh; Istiqamatul Masyithah al-Jakfar



Sejarah telah mencatat, selama tujuh periode lebih Islam menjadi “The Greatest World’s Civilization” (peradaban terbesar di dunia). Sejak zaman Rasulullah Saw. hingga dinasti Abbasiyah (1258) umat Islam tampil  sebagai pemimpin dunia. Tujuh periode kejayaan Islam telah berlalu dan tujuh periode kemunduran telah berlangsung. Kini umur dunia memasuki periode 21. Akan tetapi muslim belum bisa mengembalikan kejayaannya  menyerupai yang tertulis dengan  tinta  emas sejarah kegemilangan dahulu.

Seharusnya umat Islam mencar ilmu dari sejarah kejayaan dan kemunduran Islam. Agar bisa menyiasati dan mengatasi kemunduran yang merupakan problematika umat bakir balig cukup akal ini. Namun ironisnya, hari ini kita semakin jauh dengan nilai-nilai keislaman. Seorang pembaharu Islam dari Mesir  menyampaikan " Islam mahjubun lilmuslim" ( Islam tertutupi dengan umat Islam sendiri).

Secara umum, kemunduran yang dialami umat Islam disebabkan oleh semakin jauhnya umat dari nilai-nilai Al-Quran-Hadis yang tidak berperan lagi sebagai  khairu ummah. Penegak amar ma’ruf nahi munkar. Sikap dan prilaku umat tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Muslim membaca Al-Quran tetapi tidak mentadaburinya, atau membaca dan mentadaburinya tetapi tidak mengamalkannya.

Muhammad Abduh pernah berkata "Wajadtu islam fi baris falam ajid al-muslim, wa wajadtu al-muslim fi misr falam ajid al-islam". (saya menemukan Islam di Paris tetapi tidak terdapat muslim, dan saya mendapat muslim di Mesir tetapi tidak menemukan Islam). Ini yaitu kritikan bagi umat Islam.

Aplikasi terhadap aliran Islam dalam seluruh aspek kehidupan merupakan kunci kejayaan Islam. Namun  Sebaliknya, perilaku acuh, malas, pesimis dan hilangnya ruh-ruh keislaman yaitu kunci keterbelakangan umat. Muslim sejati yaitu muslim yang berani nenunjukkan jati dirinya sebagai muslim.
Jika  ingin mengetahui  wacana Islam , maka perhatikan prilakunya. Hal ini telah dibuktikan oleh baginda Rasulullah Saw.. Ketika seseorang bertanya pada Aisyah r.a. wacana bagaimana adab Rasulullah, Aisyah menjawab akhlaknya yaitu Al-Quran. Beliaulah uswah al-hasanah bagi umat manusia.

Dewasa ini, kemunduran Islam dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: internal dan eksternal. Faktor internal  berupa kelemahan dalam tubuh  muslim sendiri, seperti: umat Islam yang tidak konsisten dengan agamanya serta pengkhianatan terhadap agama, dengan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Islam mengalami krisis para ulama, ilmuwan dan cendikiawan muslim yang berjuang demi Islam dan istiqamah di jalanNya.

Banyak konflik dan kasus yang terjadi, diantaranya: penyalahgunaan jabatan, penyelewengan dana dan korupsi merajalela, sedangkan penegak aturan tidak berperan sebagaimana mestinya. Masih ada komunitas muslim dalam kemiskinan, sehingga tak heran kita dapati muslim yang rela menjual aqidahnya hanya untuk sekardus mie instan.
Sebesar apapun problematika umat, bisa diselesaikan jikalau ukhuwah islamiyah terjalin berpengaruh dan umat Islam berada dalam satu barisan untuk mewujudkan harapan demi meraih kejayaan. Namun, realita yang kita saksikan hari ini justru sebaliknya.

Rasulullah telah mensinyalir bahwa hampir datang masanya dimana bangsa-bangsa lain akan menyerbu umat Islam, menyerupai makanan di atas meja hidangan. Lalu sahabat merasa heran lantas bertanya kepada Rasulullah: “ apakah jumlah kami waktu  itu sedikit sehingga kami diserbu menyerupai makanan yang dihidangkan?”, kemudian nabi Saw. menjawab: “tidak, bahkan jumlah kau ketika itu lebih banyak, tetapi tidak mempunyai kualitas dan terpecah belah satu sama lain”.

Prediksi Rasulullah di atas terjadi pada periode millennium ini, sebagai contoh: umat Islam tidak mempunyai keberanian untuk melawan Israel, organisasi konferensi Islam (OKI) yang bertujuan menggalang persatuan umat Islam dunia hanya berani mengecam dan mengutuk setiap tindak kekerasan militer yang dilakukan tentara Israel, Afganistan dihujani bom, Irak dirudal dan kini Palestina, tetapi OKI membisu seribu bahasa.

Andai para Pemimpin  Arab bersatu dan mengambil sikap, sanggup dipastikan Israel terhapus dari peta timur tengah. Sayangnya, Dunia Islam ketika ini telah terjangkit penyakit ganas yang menggerogoti ruh- ruh Islam dalam jiwa muslim. Penyakit itu yaitu “wahn”  yaitu cinta dunia dan takut mati.

Adapun faktor eksternal, diantaranya; serangan dari luar. Adapun Perperangan di era modern ini tidak lagi terfokus pada perang fisik semata, melainkan perang pemikiran yang disebut ghazw al-fikr. Para musuh Islam cukup sadar akan kekuatan umat Islam. Perang Arab-Israel pada tahun 1948,1956,1973 dan 1982 yaitu bukti konkrit kemampuan Negara Arab melawan zionis Israel.

Westernisasi, kristenisasi sekularisme, liberalisme, orientalisme dan feminisme merupakan bentuk perang pemikiran yang digencarkan oleh para anti islam. Mereka memakai metode ini lantaran dianggap paling ampuh mencuci otak para muslimin. Bagi mereka menjadikan umat Islam jauh dari nilai-nilai keislaman yaitu kesuksesan besar, lantaran dengan demikian tanpa disadari umat Islam akan menghancurkan agama mereka dengan tangan sendiri.

Demikianlah sekilas potret dunia islam ketika ini. Berbagai problematika yang dihadapi menjadikan kemunduran kita, namun hal ini dilarang menjadikan muslimin berputus asa, melainkan menumbuhkan semangat untuk bangun dari keterpurukan dan menjadi muslim yang kuat.

Islam akan kembali kepada kejayaannya dengan perjuangan, doa, pengorbanan, kegigihan, optimis dan kesabaran dari umat Islam seluruh dunia. Allah telah berfirman " Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri". (QS Ar- ra’d:11)

Tulisan sederhana ini bukanlah sebuah pengetahuan gres bagi para pembaca budiman, namun penulis hanya ingin membangkitkan kembali sense of belonging (rasa memiliki) terhadap Islam dan menjadi muslim yang peduli.

Mengembalikan keagungan islam dan mengukir senyum di wajah dunia Islam yaitu kewajiban dan tanggungjawab kita sebagai muslim. Maka patutlah kita bertanya pada diri masing-masing, bantuan apa yang telah kita berikan untuk Islam? Wallahu a’lam bishawab (dari banyak sekali sumber)

*Tulisan ini telah dimuat pada buletin el-Asyi Edisi 106.



Friday, 21 February 2020

Ternyata Amerika Itu Yakni Negeri Muslim Yang Hilang (1)



Suatu malam ditingkah rinai gerimis yang membasahi aspal jalan, saya melangkah masuk ke sebuah resto besar dan cukup populer di tempat elit Kemang, Jakarta Selatan. Ba’da Isya itu saya ada kesepakatan bertemu dengan dua sahabat yang sudah beberapa bulan tidak pernah bertemu muka, kecuali lewat media umum saja. Yang pertama seorang Chef Selebritis yang lengannya dipenuhi tatto namun telah menyandang gelar haji dan kini tengah menekuni Islam dengan baik, bahkan sudah mengembalikan beberapa sahabatnya ke jalan Islam. Yang kedua seorang lelaki muda yang punya karir cemerlang sebagai eksekutif utama sebuah perusahaan nasional-pribumi dengan jumlah karyawannya mencapai 16.000 orang. Keislamannya pun cukup baik. Keduanya cucu dari tokoh-tokoh nasional Indonesia di masa keemasan di zaman Bung Karno.

Sambil menyantap makanan, kami ngobrol ngalor-ngidul sambil ditingkahi gurauan. Tiba-tiba Chef yang aktif dalam komunitas motor besar itu bertanya kepada saya,

“Riz, elo kapan naik haji?”

Deg! Saya terdiam. Saya hanya nyengir dan malah bertanya kepada sahabat dirut yang satu lagi,

“Nah, kalo Mas sudah pernah ke Mekkah belum?”

Sang Dirut muda yang wajahnya sekilah menyerupai penyanyi Dian Pramana Putera itu tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya,

“Belum.”

Chef bertubuh tinggi besar laiknya bawah umur motor besar itu berkata bijak, “Kalo ada kesempatan, pergilah ke Mekkah. Di sana dunia itu satu: Islam!”

Sambil bercanda saya berkata, “Saya ingin keliling Eropa dan Amerika dulu sebelum ke Mekkah, Chef…”



Dia malah tertawa, “Saya sudah keliling Amerika dan Eropa berkali-kali. Dan apa yang ada di sana? Di jalanan ramai di New York misalnya, itu dipenuhi orang-orang banyak sekali warna. Bule nyaris tidak kelihatan. Orang Islam yang banyak ada di sana kini ini. Demikian juga di kota-kota besar di Eropa. Islam itu dunia, Riz…”

Saya takjub mendengarnya. Chef itu meneruskan ceritanya ihwal perjalanannya menyinggahi banyak sekali pelosok dunia. Juga peristiwa-peristiwa asing di dalam kehidupannya. Wajar saja, alasannya yaitu sahabat saya yang satu ini dianugerahi Allah Swt kebisaan yang jarang sekali dimiliki insan biasa. Dia bisa melihat “dunia lain”, bahkan bisa melaksanakan proyeksi astral.


Tak terasa jarum jam sudah nyaris menyentuh puncak malam. Karena besok bukan hari libur, silaturahim ini saya sudahi. Kami pun berpisah dengan kesepakatan akan mengadakan pertemuan serupa tapi nanti di tempat Kuningan dimana Sang Dirut muda ini berkantor.

Dalam perjalanan pulang menembus gelapnya malam, saya terus memikirkan ihwal Amerika, yang berdasarkan pengamatan sahabat Chef saya tadi akan kembali menjadi negeri kaum Muslimin.



Ya, sebelum berjulukan Amerika (catatan: benua ini dinamakan “Amerika” oleh Colombus dengan mengambil nama temannya yang berjulukan Amerigo Vespucci), benua besar itu memang milik kaum Muslimin. Christopher Colombus pun mengakui hal itu dari catatan hariannya.

Colombus, Sang Pewaris Templar

Christopher Colombus bergotong-royong bukan penemu daratan besar ini, pun bukan pula Laksamana Muslim Cheng Ho yang 70 tahun tiba lebih dulu di Amerika ketimbang Colombus. Lima masa sebelum Colombus tiba, para pelaut Islam dari Granada dan Afrika Barat, sudah menjejakkan kaki di daratan-benua yang masih perawan dan hanya ditinggali suku-suku orisinil yang tersebar di beberapa bagiannya.

Imigran Muslim pertama di daratan ini tiba sekira tahun 900 sampai setengah masa kemudian pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah. Salah satunya berjulukan Khasykhasy Ibn Said Ibnu Aswad dari Cordoba. Orang-orang Islam inilah yang mendakwahkan Islam pertama kali pada suku-suku orisinil Amerika. Sejumlah suku Indian Amerika pun telah memeluk Islam ketika itu. Suku-suku itu antara lain suku Iroquois dan Alqonquin.

Setelah jatuhnya Granada pada 1492, disusul Inquisition yang dilakukan Gereja terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol, maka imigran gelombang kedua tiba di Amerika pada pertengahan masa ke-16 Masehi. Raja Spanyol, Carlos V, di tahun 1539 sempat mengeluarkan larangan bagi Muslim Spanyol untuk hijrah ke Amerika.

Bahkan, berdasarkan prasasti berbahasa Arab yang ditemukan di Mississipi Valey dan Arizona, dikatakan kalau orang-orang Islam yang tiba ke daratan ini juga membawa gajah dari Afrika!

Colombus sendiri gres tiba ke “Amerika” di simpulan masa ke-15 Masehi ketika benua itu sudah didiami Muslimin Indian. Dalam ekspedisi pertamanya, Colombus dibantu dua nakhoda Muslim bersaudara: Martin Alonzo Pizon yang memimpin kapal Pinta dan Vicente Yanez Pizon yang ada di kapal Nina. Keduanya kerabat Sultan Maroko dari Dinasti Marinid, Abuzayan Muhammad III (1362-1366).

Bahkan, Colombus sendiri, di dalam catatan perjalanannya, menulis bahwa pada hari Senin, 21 Oktober 1492, ketika berlayar di erat Gibara di tenggara pantai Kuba, beliau mengaku melihat sebuah masjid dengan menaranya yang tinggi yang bangun di atas puncak bukit yang indah.

Doktor Barry Fell dari Oxford University juga menemukan kalau berabad sebelum Colombus tiba di Amerika, sekolah-sekolah Islam sudah tersebar di banyak wilayah, antara lain di Valley of Fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon, Washoe, Mesa Verde di Colorado, Hickison Summit Pass di Nevada, Mimbres Valley di Mexico, dan Tipper Canoe-Indiana.



Hal ini dikuatkan dengan temuan nama-nama Islam di banyak sekali kota besar di Amerika Serikat. Di tengah kota Los Angeles terdapat tempat berjulukan Alhambra, juga nama Teluk El-Morro dan Alamitos. Juga nama-nama seperi Andalusia, Aladdin, Alla, Albani, Alameda, Almansor, Almar, Amber, Azure, dan La Habra.

Di tengah Amerika, dari selatan sampai Illinois, terdapat nama-nama kota kecil menyerupai Albany, Atalla, Andalusia, Tullahoma, dan Lebanon. Di negara bab Washington juga ada nama tempat Salem. Di Karibia, kata yang juga berasal dari kata Arab, terdapat nama Jamaika dan Kuba, yang berasal dari bahasa Arab “Quba”. Ibukota Kuba, Havana juga berasal dari bahasa Arab “La Habana”.

Seorang sejarawan berjulukan Dr. Yousef Mroueh menghitung, di Amerika Utara ada sekurangnya 565 nama Islam pada nama kota, sungai, gunung, danau, dan desa. Di Amerika Serikat sendiri ada 484 dan di Kanada ada 81.

Dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah, nama keduanya juga telah ditorehkan para pionir Muslim di tanah Amerika jauh sebelum Colombus lahir. Nama Mecca ada di Indiana, kemudian Medina ada di Idaho, New York, North Dakota, Ohio, Tenesse, Texas, Ontario-Canada. Bahkan, di Illinois, ada kota kecil berjulukan Mahomet yang berasal dari nama Muhammad.

Suku-suku orisinil Amerika pun, kaum Muslim Indian, banyak yang nama sukunya berasal dari nama Arab, seperti: Apache, Anasazi, Arawak, Cherokee, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mohican, Mohawk, Nazca, Zulu dan Zuni. Bahkan, kepala suku Indian Cherokee yang terkenal, Se-quo-yah, yang membuat silabel karakter Indian yang disebut Cherokee Syllabari pada 1821 yaitu seorang Muslim yang senantiasa mengenakan sorban, bukan ikat kepala dari bulu burung. [Bersambung/Rizki Ridyasmara/eramuslim.com]

Tuesday, 18 February 2020

Khutbah Jum’At; Rasulullah Penghulu Seluruh Nabi Dan Rasul


Bersama Syeikh: Jamal Faruq Ad Daqqaq

Fajar Rabiul Awwal telah terbit menyapa umat Islam. Ia merupakan bulan yang telah Allah pilih untuk lahir padanya pemimpin seluruh umat manusia, bahkan pemimpin seluruh makhluk, yaitu Rasulullah Muhammad Saw, Said Al Maujud.

Rasululah Saw. tidak hanya diutus untuk umatnya saja, Beliau merupakan epilog para nabi dan Rasul dengan membawa risalah penyempurna bagi risalah-risalah sebelumnya.
Pada permulaan surat Ibrahim, Allah SWT membuka surat tersebut dengan firmannya:

 الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

Artinya: Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) supaya Engkau mengeluarkan insan dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji. (Ibrahim: 1)

Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa risalah yang dibawa oleh Saiduna Muhammad Saw. yaitu risalah ‘Ammah (umum), risalah bagi insan seluruhnya, bukan umatnya saja.
Tetapi mari kita lihat bagaimana Allah mengkhitab Saidana Musa as, masih dalam surat yang sama, hanya berselang tiga ayat, Allah mengatakan:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ

Artinya: Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa gejala (kekuasaan) Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya), “Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.”(Ibrahim:5)

Ayat ini mengisyratkan bahwa risalah yang dibawa oleh nabi Musa as. khusus bagi umatnya saja, hal ini sanggup kita pahami dari firman Allah An Akhrij qaumaka (keluarkanlah kaummu).  Berbeda halnya dengan Rasulullah, Allah berfirman Litukhrijannas (agar engkau mengeluarkan manusia).

Tidak ada keraguan, bahwa para nabi dan rasul terdahulu masing-masing membawa risalah yang sama, yaitu risalah at tauhid. Akan tetapi Rasulullah Saw. diberi keistimewaan untuk menjadi epilog sekalian nabi, dengan membawa risalah penyempurna bagi risalah- risalah yang telah lalu.

Risalah yang Allah turunkan sebelum Al Quran, dan para nabi yang diutus merupakan persiapan untuk menyambut Rasulullah Saw.

Ingatkah kita akan komitmen yang Allah ambil atas para nabi yang termaktub di dalam surat Ali Imran.

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memperlihatkan kitab dan pesan yang tersirat kepadamu kemudian tiba kepada kau seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, pasti kau akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kau baiklah dan mendapatkan perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, “Kalau begitu bersaksilah kau (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.”(Ali ‘Imran:81)

Dalam Ayat yang lain Allah juga menandakan bagaimana kelebihan Nabi Muhammad Saw. atas para nabi yang lainnya, yaitu dalam surat Ad Dhuha. Allah berfirman:

وَالضُّحَى. وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى

Artinnya: Demi waktu duha(ketika matahari naik sepenggalah). Dan demi malam apabila telah sunyi .

Imam Ar Razi pernah ditanyakan “Kenapa Allah hanya bersumpah dengan waktu duha yang merupakan salah satu waktu diantara waktu siang hari, sedangkan Allah ta’ala bersumpah dengan seluruh waktu malam?

Imam Ar Razi menjawab : “Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa waktu duha kelebihannya seimbang dengan waktu malam seluruhnya, sebagaimana Rasulullah Saw. jikalau dibandingkan dengan seluruh para nabi dan rasul.

Oleh alasannya yaitu Rasulullah diutus sebagai panghulu seluruh nabi dan rasul, Rasul bagi seluruh ummat, dan pembawa risalah yang menyempurnakan risalah- risalah sebelumnya, maka Allah kumpulkan seluruh kelebihan dan keagungan seluruh nabi dan rasul pada Rasulullah Saw.

Dalam diri Rasulullah bersemanyam kekuatan nabi Nuh, ketulusan hati Ibrahim dan kasih sayangnya, mukjizat nabi musa sebagai kalimullah dan ketegasannya, ketampanan yusuf, kehikmatan Sulaiman  dan kebijaksanaan ‘Isa ‘alaihimussalam.

وليس على الله بمستنكر أن يجمع العالم في واحد.

Dan tidak ada yang menghalangi jikalau Allah berkehendak untuk mengumpulkan segala kebaikan dunia pada seseorang.

Menjelang fajar hari lahirnya Rasulullah Saw.

Saat-saat sebelum Rasulullah lahir, para Sejarah telah mencatat kejadian- kejadian asing yang terjadi untuk menyambut Kelahiran Rasulullah Saw. Kejadian- kejadian tersebut diistilahkan dengan Al Irhashath.

Diantaranya yaitu kejadian al fil, ketika raja Abrahah mencoba menghancurkan Ka’bah. Sebelum masuk ke kota Mekah, pasukan tersebut diserang burung- burung yangmelempari mereka dengan batu- kerikil kecil sehingga mereka musnah.

Peristiwa tersebut termaktub didalam Al Alquran bahkan Allah menamakan surah tersebut dengan surah al fil, Allah berfirman:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

Artinya: Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?(Al Fil: 1)

Jika diperhatikan, maka ayat ini sangatlah ajaib, alasannya yaitu Allah ta’ala tidak mengakibatkan umat islam sebagai khitabnya, tetapi hanya mengkhitab Rasulullah, seolah- olah Allah berfirman “Wahai Muhammad bersama-sama kami melaksanakan itu hanya sanya untuk memuliakanmu dan risalah yang ada bersamamu.”

Tafakkur

Hari ini kita telah memasuki hari pertama dibulan Rabiul Awwal. Bulan yang sangat mulia ini tidak seharunya kita lewatkan begitu saja tanpa mengambil pelajaran apapun.

Hari lahir Rasulullah merupakan hari yang paling mulia secara ithlaq, melebihi kemuliaan hari Arafah, hari Jum’at, bahkan malam al qadr. Karena, kalaulah hari ini tidak ada maka tidak ada yang namanya kemulian, tidak ada syariah, tidak ada Al Quran, bahkan tidak ada yang namanya Islam. Semunya itu tergantung kepada lahirnya Rasulullah.

Oleh alasannya yaitu itu ketika seluruh umat Islam diseluruh pelosok dunia memperingati maulid nabi Saw, itu tak lain dan tak bukan melainkan tanda cinta mereka kepada nabi terpilih Muhammad Saw.

Telah disebutkan didalam kitab yang paling shahih sehabis Al Quran, yaitu kitab Shahih imam Bukhari, wacana cerita Tsuwaibah, seorang budak wanita Abu lahab, paman Rasulullah Saw.

Ketika mengetahui Rasulullah Saw. telah lahir, Tsuwaibah bergegas memberitahukan Abu lahab, bahwa keponakannya Muhammad telah lahir. Berita tersebut menciptakan Abu Lahab senang tak terkira. Lalu Abu Lahab memerdekakan budak tersebut, untuk memuliakan hari lahirnya Rasulullah Saw.

Abu lahab merupakan satu- satunya kerabat Rasulullah yang disebutkan namanya dalam Al Quran, Allah telah menyatakan bahwa ia merupakan salah satu penduduk neraka alasannya yaitu memusuhi Rasulullah Saw.

Namun demikian Allah SWT. tidak menyia-nyiakan amal baik manusia. Allah tidak menyia-nyiakan kebahagiaan Abu lahab ketika lahir Rasulullah, Allah tidak menyia-nyiakan fahala dikala ia memerdekakan Tsuwaibah.

Ketika Abu lahab meninggal, Abbas ibn Abdul Mutthalib bermimpi bertemu dengannya. Abbas bertanya, “ Apa yang Allah berikan kepadamu?”. Abu lahab menjawab, “Aku ditempatkan oleh Allah didalam neraka selama-lamanya. Hanya saja diringankan bagiku (siksaan) setiap malam senin dan dituangkan diantara dua jariku air sebesar ini (sambil mengisyaratkan dengan ujung jarinya) alasannya yaitu saya memerdekakan Tsuwaibah ketika memberitahukan saya isu kelahiran Muhammad Saw.

Al Imam Ibn Nashiruddin Ad Dimasyq mengatakan, jikalau ini yaitu akhir bagi orang kafir yang senang hatinya dengan kelahiran Rasulullah, kemudian bagaimanakah akhir yang akan Allah berikan kepada umat yang senang dengan kelahiran Rasulullah yang meninggal dalam keadaan Islam.”

Wahai umat islam! Wahai umat yang meyakini bahwa tiada dewa selain Allah, dan bahwa islam yaitu agama yang haq, serta Muhammad Saw. sebagai rasulullah! Setelah mendengarkan cerita Tsuwaibah dan Abu lahab, adakah terngiang dalam benak kita untuk berdebat wacana aturan merayakan Maulid Rasulullah Saw?

Telah diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah tiba ke Madinah, Rasulullah mendapati para yahudi berpuasa pada hari ‘Asyurak. Rasulullah bertanya, “Kenapa kalian berpuasa?” Mereka menjawab, “Hari ini yaitu hari diselamatkannya Musa oleh Allah dari kejaran fir’un.” Rasulullah bersabda “Kami lebih berhak untuk mengenang Musa.” Lalu Rasulullahpun berpuasa dan menyuruh para sahabat untuk berpuasa pula.

Wahai umat Islam, jikalau ini yaitu hari diselamatkannya Musa dari Fir’un, kemudian bagaimana dengan hari ketika diselamatkan seluruh umat insan dari kegelapan menuju kepada cahaya hidayah, yaitu hari lahirnya Rasulullah Saw.

Tanbih

Bagi mereka yang mengingkari perayaan Maulid Nabi Saw, mereka perlu tau bahwa para ulama- ulama besar Islam, mulai dari Masyriq hingga Maghrib, telah berfatwa membolehkan Maulid Nabi Saw. Diantara mereka yaitu Ibn Hajar Al ‘Asqalani, imam As Suyuthi, imam An Nawawi, Ibn Katsir, Ibn ‘Abidin, Ibn Rajab Al Hanbali, Al Hafidh Az Zahabi bahkan Syeikh Ibn Taimiyah dalam kitabnya Iqtidhak As Shirath Al Mustaqim juga juga membolehkan maulid Rasulullah Saw.

Kemudian, cobalah kita lihat apa yang biasa umat Islam lakukan ketika merayakan Maulid nabi, adakah mereka berpesta dengan khamar ataupun bermaksiat?

Yang mereka lakukan Justru berkumpul untuk sama-sama mengingat Rasulullah, sama-sama kembali menyiram hub Rasulillah (cinta kepada Rasulullah) sehabis empat belas masa berpisah dengannya, membaca zikir, kebanggaan kepada Rasulullah, membaca Al Alquran dan saling menasehati dalam kebaikan dan taat. Kesemua perkara tersebut yaitu perkara yang tidak diragukan lagi masyr’uk(dianjurkan) dalam Islam. Dan dalam sebuah kaidah dikatakan “Sesuatu yang terbentuk dari hal-hal yang masyruk, maka hukumnya yaitu masyr’uk.
Semoga Allah mengakibatkan kita diantara orang-orang yang menyadari akan aibnya masing-masing, dan memperlihatkan kita kepada jalan yang lurus dalam mengetahui yang hak dan batil.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Habibina Al Mushtafa Muhammad Shallahu ‘Alaihu wasallam.(HN)

*Ringkasan Khutbah Jum’at 3 januari 2014, di mesjid madinah al buust al Islamiyah, Abbasiah, Kairo. Bersama Syeikh Jamal Faruq Ad Daqqaq, guru besar Akidah wal falsafat, Universitas Al Azhar,Kairo.

Monday, 10 February 2020

Al-Azhar Tolak Pemutaran Film Noah



kmamesir.org - Al-Azhar kembali mengajukan penolakan terhadap pemutaran film Noah serta melarang tindakan anarkis umat dalam memberikan aspirasi sebagai bentuk protes terhadap film ini. Lebih lanjut Al-Azhar juga tidak menyetujui permintaan untuk merusak bioskop yang memutar film tersebut.

Al-Azhar secara keseluruhan menolak film tersebut alasannya menodai kesucian perwujudan Nabiullah dan para sobat Nabi dengan alasan menjunjung tinggi karya dan nilai seni. Hal senada juga disampaikan Departemen Informasi dan Budaya,  secara resmi mereka mengajak untuk menghindari tindakan anarkis dalam merespon film ini nantinya.[mh]

Mengapa Zionis Merampas Bumi Palestina?


Oleh; Abdul Hamid M Djamil*



Mulanya rencana Zionis untuk mendirikan Negara Yahudi di tanah Palestina yakni sebuah kesepakatan yang muncul dalam sebuah seminar internasional yang diadakan di Basel, Swiss pada tanggal 27-29 Agustus tahun 1897, sebagaimana yang disebutkan Dr. Muhksin Muhammad Shalih.  Hasil yang terlaksana dalam seminar tesebut menjadi lampu hijau bagi mereka untuk mendirikan negaranya di bumi Palestina.

Pada kurun ke 19 dunia dikejutkan oleh iming-iming mereka untuk merampas bumi Palestina. Siapakah yang membuka jalan politik bagi mereka untuk merampas bumi Palestina? Dan faktor apa saja yang menciptakan Yahudi berhasil mempunyai bumi Palestina 80% menyerupai hari ini? Padahal literatur sejarah menyebutkan kehidupan Yahudi tidak ada kaitannya dengan Palestina. Mereka juga bukan keturunan Bani Israil yang hidup di zaman Nabi Ya'kub, Nabi Musa, dan Nabi Isa  as.

Dibalik semua itu ada satu polemik yang sedang berpesta pora di alam jagat raya ini. Bangsa Yahudi mengakui mereka yakni bangsa yang bercerai berai akhir dosa yang mereka lakukan. Oleh alasannya yakni itu tujuan mereka mendirikan negaranya di Palestina selain untuk berkumpul yakni untuk menunggu turunya "Al-Masih" untuk menembus dosa-dosa mereka.

Namun, kita tidak bisa mengetahui dengan terang akan latar belakang rancangan mereka untuk merampas bumi Palestina kecuali dengan menelisik beberapa poin penting yang terjadi di Eropa terutama pada kurun ke 16 M, di antaranya adalah:

1. Munculya Katolik Protestan dan tersebarnya "Zionis selain Yahudi"  telah menciptakan sebuah gerakan yang bertujuan untuk melestarikan kebangkitan agama bagi pemikir Yahudi ketika beriman dengan perjanjian usang (Taurat), dan kepercayaan Bangsa Yahudi yang akan berkumpul di Palestina untuk menunggu kembalinya Al-Masih untuk menolong mereka.

2. Terjadinya perubahan politik di Eropa yang telah menciptakan interaksi bangsa Yahudi dengan bangsa Eropa kian terancam. Dimana bangsa Yahudi telah memandang hina terhadap bangsa Eropa ketika itu. Kehidupan mereka di Benua Eropa ketika itu sudah sangat bebas, bahkan keadaan mereka sudah menyerupai di negaranya sendiri. Maka terlihatlah pada kurun ke 19 kebangkitan Yahudi di Eropa, baik di bidang politik maupun ekonomi.

3. Lahirnya perpecahan antar kaum di Eropa, setiap kaum memperkuatkan eksistensi kaumnya (primordialisme) serta ingin tampil beda dengan kaum-kaum yang lain. Maka bersatulah Jerman di bawah kepemimpinan Bismarck dan Italia di bawah kepemimpinan perdana menteri Cavour. Pada ketika itu pula bersatunya Bangsa Yahudi yang sedang terpencar di seluruh Eropa. Dan ketika itu lahir dua poin penting dari pemikir Yahudi,  yaitu :

a. Yahudi akan tetap menjadi bangsa yang lemah bila tidak bersatu, berdomisili di Negara Eropa berdasarkan mereka akan membuat mereka menyerupai cowok yang tidak mempunyai negara asalnya.

b. Keinginan mereka untuk berkumpul dan berdomisili di Eropa bab timur. Kemudian niat jahat mereka berubah untuk mengakibatkan negaranya di Bumi   Palestina. 

*Penulis yakni mahasiswa tingkat selesai Fak. Syariah Wal Qanun Jur. Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar Mesir



Sunday, 9 February 2020

Mengembalikan Ruh Pendidikan Dewasa Islam

Oleh: Abdul Hamid M Djamil*



Dekandensi ahklak semakin meraja rela dalam kehidupan sosial masyarakat muslim hari ini, terutama di kalangan remaja. Pada mulanya kemerosotan ahklak ini hanya terjadi pada remaja-remaja yang tidak tersentuh dengan dunia pendidikan. Pada tahun  berikutnya dekandensi ahklak sudah merasuki remaja-remaja terpelajar.

Hal ini sanggup dilihat dari pergaulan mereka sehari-hari. Mulai dari pergaulan bebas, mabuk-mabukan, berjudi, berzina, berpacaran, dan lain sebagainya. Kemorosotan ahklak kaum cukup umur semakin terlihat dengan banyaknya media-media yang mengekspos banyak sekali masalah negatif yang mereka lakukan.

Seharusnya para cukup umur merasa aib dengan kasus-kasus yang terkuak ke mata publik. Sekaligus timbul rasa penyesalan dan bercita-cita untuk tidak mengulangi lagi. Tapi realitanya dengan benyaknya masalah yang terungkap, semakin semangat para cukup umur untuk melaksanakan hal-hal kejahatan. Naas!

Akibatnya sudah banyak dari remaja-remaja terpelajar yang kehilangan jati dirinya sebagai orang terdidik yang seharusnya berahklak terpuji.  Padahal ahklak inilah yang menjadi pembeda antara cukup umur terpelajar dengan cukup umur liar (baca: tidak terdidik).

Setelah terungkap kasus-kasus yang mereka lakukan, bermacam-macam kutukan pun dilemparkan atas mereka oleh banyak sekali pihak. Hal ini dilakukan untuk memberi instruksi yang bahwa perbuatan itu tidak baik, bertentangan dengan norma agama dan sosial masyarakat. Sangat disayangkan pada hari berikutnya mereka kembali melaksanakan kejahatan yang sama.

Sebagai cukup umur terpelajar tentu sanggup membedakan antara kejahatan dengan kebaikan. Sesudah melaksanakan kejahatan dan menerima bermacam-macam kutukan, mereka niscaya tidak akan melakukannya lagi. Mereka niscaya merasa aib ketika kasus-kasus negatif terpampang ke mata publik. Namun kebanyakan cukup umur kini sama sekali tidak sadar.

Kelakuan mereka yang tak kunjung sadar itu terkadang menyebabkan bermacam-macam pertanyaan. Apakah remaja-remaja menyerupai itu hanya hadir sekolah untuk mengisi ketidakhadiran kehadiran saja? Atau sekedar menampakan diri mereka ke mata masyarakat bahwa mereka pelajar? Ternyata tidak, kebanyakan dari mereka orang serius dalam mencar ilmu dan aktif dalam organisasi.

Sebagian orang menganggap kelakuan bejat mereka lahir dari diri mereka sendiri. Padahal jikalau diteliti ahklak cukup umur semacam ini terindikasi oleh pendidikan balianya. Karena pendidikan yang diberikan semenjak kecil akan kuat besar dalam pembentukan cukup umur seseorang.

Buruknya ahklak cukup umur kini berefek dari didikan balinya. Karena orang bau tanah kini lebih menentukan untuk menunjukkan pendidikan umum kepada anak-anaknya ketimbang pendidikan agama. Sejak lahir ilmu pertama sekali yang diajarkan ialah cara main HP, buka laptop, main game, cara berhitung, bahasa inggris, dan lain sebagainya.

Cara mendidik menyerupai ini akan melahirkan anak yang tidak mengenal tuhannya. Agama yang ia yakini tidak akan menciptakan dia terarah sesuai dengan jalur agama. Yang pada jadinya si anak akan hidup sesuai kehendak hatinya. Se akan-akan dia merdeka untuk melaksanakan apa saja. Faktor pendidikan menyerupai inilah yang telah menciptakan kaum cukup umur bobrok ahklaknya.

Kebanyakan orang bau tanah kini dalam mendidik anak sudah menjiplak cara barat. Sehingga tidak heran jikalau pada dikala remaja, belum dewasa mereka berkelakuan menyerupai remaja-remaja barat. Selanjutnya pendidikan balia si anak menyerupai ini tidak sesuai dengan metode-metode pendidikan Islam.

Sebagai ummat Islam pendidikan pertama yang harus diberikan kepada anak-anaknya ialah mengenalkan Allah Swt (ilmu tauhid). Ketika si anak sudah mengenal Allah, ajarkan cara beribadat (ilmu fiqih). Selanjutnya ajarkan cara menjaga ibadat tersebut semoga tidak sirna (ilmu tasauf).

Jika ke tiga pendidikan ini sudah ada pada diri si anak, ketika beranjak masa cukup umur belum dewasa kita akan menjadi eksklusif yang baik kecerdikan pekertinya, lembut tutur katanya. Karena ke tiga pendidikan di atas sudah merepresentasi bagaimana cara berintereaksi dengan Allah dan cara berintereaksi dengan manusia.

Dalam kitab suci Alquarn sudah tertera cara mendidik anak serta ilmu apa pertama kali yang harus ditanamkan oleh orang tua. Banyak kisah-kisah para pendahulu kita yang sukses mendidik anak dengan metode Alquran. Sebut saja Lukmanul Hakim. Lalu pelajaran apa saja yang dia berikan kepada anaknya?

Pertama, duduk kasus aqidah. Sebagaimana firman Allah," Wahai anak ku jangan sekali-kali engkau sekutukan Allah" (QS: Al-Lukman:13).

Ke dua, rasa hormat kepada orang tua. Sebagai mana firman Allah," Dan kami perintahkan kepada insan (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapakya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada ku dan ke dua ibu bapak mu, hanya kepada ku lah kembalimu" (QS: Al-Lukman: 14).

Ke tiga, pendidikan moral. " Wahai anakku bila ada kebaikan yang kau kerjakan, kecil (tidak nampak oleh pandangan mata yang zahir), yang kecil itu tersembunyi dipuncak langit, di dasar bumi yang paling dalam atau di tengah-tengah kerikil hitam sekalipun, Allah niscaya akan mengetahuinya dan niscaya akan menunjukkan jawaban yang sedail-adilnya" (QS: Al-Lukman: 16). 

Ke empat, tatanan hidup si anak. "Wahai anakku dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah" (QS: Al-Lukman: 17). 

Inilah dasar-dasar agama dalam mendidik anak yang harus diaplikasikan oleh setiap orang bau tanah sebelum menunjukkan banyak sekali disiplin ilmu lainnya. Mantapkan aqidah, tanamkan rasa hormat kepada orang tua, ajarkan ahklak dan tingkah laris yang baik, lalu berikan tatanan hidup yang sesuai dengan Islam.

Kalau metode pendidikan Lukmanul Hakim sudah menjadi prioritas orang-orang bau tanah kini dalam mendidik anak, insya Allah belum dewasa kita nantinya akan tumbuh sebagai cukup umur yang taat kepada Allah, patuh kepada orang tua, dan jauh dari tingkah laris yang tercela. Kita lihat saja.

*Penulis ialah mahasiswa tingkat final Fak. Syariah Wal Qanun Jur. Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar Mesir













Organisasi Zionis Di Dunia

Oleh; Abdul Hamid M Djamil*

simbol kongres pertama organisasi zionis dunia. image doc. google

Zionisme ialah sebuah gerakan politik kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali lagi ke Zion (bukit di mana kota Yarussalem berdiri). Gerakan yang muncul pada periode ke-19 ini semula berorientasi untuk mendirikan negaranya di Afrika, Kemudian niat jahat mereka berubah untuk menjadikan negaranya di Bumi Palestina yang kala itu dikuasaai kekaisaran Ottoman (Khalifah Ustmaniah) Turki.

Istilah Zionis pertama kali digunakan oleh perintis kebudayaan Yahudi, Mathias Acher (1864-1937). Gerakan ini diorganisasi oleh dua orang dari tokoh Yahudi, Dr Theodor Herzl dan Dr Chaim Weizmann. Dr Theodor Herzl menyusun kepercayaan Zionisme semenjak tahun 1882 yang kemudian disistematisasikan dalam bukunya 'Der Judenstaat' (Negara Yahudi) pada tahun 1896. Doktrin ini dikonkritkan melalui kongres Zionis sedunia pertama kali di Basel, Swiss tahun 1897 M.

Setelah berdirinya Negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, tujuan kaum Zionis bermetamorfosis pembela negara gres ini. Rapat Dewan Umum PBB ketika itu mengeluarkan resolasi 3379 tanggal 10 Desember 1975 yang menamakan Zionisme dengan diskriminasi rasial. Akan tetapi pada tanggal 16 Desember 1991 resolasi tersebut dicabut kembali.

Akan tetapi, Mantan Kepala BAKIN, ZA. Maulani membantah bahwa gerakan Zionisme mengambil pandangan gres kata dari bahasa Ibrani, yaitu “Zion” yang berarti “Batu Karang.” Maksudnya ialah merujuk pada watu bangunan Haykal Sulaiman yang didirikan di atas sebuah watu karang berjulukan “Zion” yang terletak di sebelah barat daya al-Quds (Jerussalem). Bukit ini mempunyai landasan teologis yang sangat penting bagi orang Yahudi, menyerupai yang tercantum dalam Taurat, “al-Masih dijanjikan akan menuntun kaum Yahudi memasuki tanah yang dijanjikan. Dan, al-Masih akan memerintah dari atas puncak bukit Zion.”

Eksplorasi Pemikir Zionis

Salah satu tonggak penting dari perkembangan gerakan Zionisme ialah dengan terbitnya buku Theodor Herzl  Pada tahun 1896 yang berjudul , Der Judenstaat (Negara Yahudi). Buku tersebut terbit di Leipzig dan Wina. Buku ini mempunyai sub judul “Versuch einer modernen Lösung der Judenfrage”, (Proposal untuk sebuah solusi modern mengenai problem Yahudi). Buku ini aslinya ditujukan kepada dinasti perbankan Rotschild yang sangat berperan dalam merealisasikan sebuah Negara Zionis di Palestina. Menurut Herzl, cara terbaik untuk menghindari anti-Semitisme di Eropa ialah dengan mendirikan sebuah Negara Yahudi yang merdeka.

Ide pendirian sebuah negara bagi orang Yahudi sesungguhnya telah usang ada. Gerakan ini pada permulaannya terindikasi oleh rasa kerinduan yang sahih dari suatu bangsa yang tertindas untuk mempunyai tanah air sendiri. Dari kalangan Pencinta Zion (Choveve Zion) beropini dengan kedatangan Juru Selamat (Messiah/ Al-Masih) di final zaman, maka kerajaan Tuhan setiap keluarga bumi dipanggil dan disiapkan untuk seluruh manusia.

Pendapat messianistik ini ditemukan dalam Kitab Kejadian 13:13.18. Oleh alasannya ialah itu, selain alasannya ialah desakan dan kebutuhan untuk berdirinya sebuah Negara, orang-orang Yahudi yang shaleh pergi ke Palestina. Terutama sehabis mengalami penindasan yang dilakukan raja-raja Katholik di Spanyol. Penindasan ini terjadi sehabis mereka mengalami hidup bersama dalam kedamaian dengan orang-orang Islam di Spanyol dalam jangka waktu yang cukup lama.

Abdul Hamid M Djamil.
photo doc. redaksi
Kesadaran nasionalitas bangsa Yahudi itu terutama di kalangan cendekiawan yang mengalami transformasi menjadi kekuatan positif dengan membentuk organisasi-organisasi Zionis.  Ini sanggup dilihat dari pengorganisasian yang dilakukan  oleh beberapa tokoh Yahudi antara lain Theodor Herzl dan Chaim Weizmann. Herzl menyusun kepercayaan Zionisme semenjak 1882 yang kemudian disistematisasikan dalam bukunya “Der Judenstaat“. Doktrin ini dikonkritkan melalui Kongres Zionis Sedunia pertama di Basel, Swiss, tahun 1897 sebagaimana yang  penulis uraikan pada bab pertama dari goresan pena ini.
Setelah berakhirnya kongres itu, Herzl menulis perihal cita-citanya dalam buku hariannya, sebuah optimisme akan berdirinya negara Yahudi yang bunyinya:

“Kalau saya harus menyimpulkan apa hasil dari kongres Basel itu dalam satu kalimat singkat—yang tidak berani saya utarakan kepada publik—saya akan berkata: “Di Basel saya membuat Negara Yahudi! (Lihat ZA. Mualani hal. 18).

Pertama-tama Herzl cenderung mendorong adanya asimiliasi Zionis dengan Eropa. Kemudian ide ini ia buang alasannya ialah tidak realistik. Akhirnya, ide untuk pendirian Negara Israel menjadi pilihan mati yang harus diwujudkan dengan bermacam cara. Kekerasan dan pembunuhan  berdasarkan kaum Zionis hal biasa terjadi, alasannya ialah berdasarkan mereka orang non-Yahudi ialah “goyyim” (setengah manusia). Bahkan kontek kekerasan ini sudah terdokumentasi dalam Talmud (salah satu kitab Yahudi) yang berbunyi, “Tob shebe goyyim harog”, (Bahkan orang kafir yang baik sekalipun seluruhnya harus dibunuh).

Setelah Kongres Zionisme Internasional ke 1 tahun 1897 terwujud kecenderungan politik kaum Yahudi Zionis bekerja dengan dua arah. 

Pertama dilakukan secara belakang layar dengan tujuan menghancurkan dan menguasai negara-negara non-Yahudi di seluruh dunia. 

Kedua membentuk sebuah negara Yahudi di tanah Palestina yang berdasarkan kelompok ini “tanah tanpa bangsa untuk bangsa tanpa tanah air.” Selanjutnya, dalam pendirian Negara Yahudi orang Arab Palestina pun diusir. Ini sesuai dengan titah Herzl yang ditulis dalam buku hariannya.

“Kami harus mencoba mengeluarkan kaum tidak berduit (baca: Palestina) dari perbatasan dengan cara menyediakan pekerjaan di negara-negara tetangga. dan bersamaan dengan itu, mencegah mereka memperoleh lapangan kerja di negeri kami. Kedua proses, baik pembatalan kepemilikan dan pemindahan kaum miskin itu, harus dikerjakan dengan kehati-hatian dan kewaspadaan.” Tema perihal pengusiran ini kemudian dibenarkan oleh lebih banyak didominasi pendukung Zionisme.

Menurut ZA. Maulani, statistik pengusiran rakyat Palestina ditempuh oleh kalangan Yahudi Zionis dengan tiga cara:

1. Melalui imigrasi. Banyak dari kaum Zionis yang percaya bahwa imigrasi dengan jumlah yang besar dari Eropa ke Palestina dalam waktu singkat akan memecahkan problem mereka dengan membangun masyarakat Yahudi.

2. Penutupan lapangan kerja. Dengan penutupan kesempatan kerja bagi petani dan buruh Palestina, maka itu akan memaksa orang Arab-Palestina untuk bermigrasi meninggalkan tanah airnya.

3. Pembatasan informasi. Kedua rencana di atas pada hakikatnya kurang diketahui oleh lebih banyak didominasi manusia. Sebaliknya, rencana “baik” itu menyerupai penyediaan lapangan pekerjaan lebih banyak diperbincangkan di koridor-koridor kekuasaan, menyerupai di Berlin, London, dan Washington dengan tujuan semoga mendapatkan sponsorship sekaligus sebagai legitimasi terhadap klaim Yahudi sebagai imbangan terhadap hak-hak lebih banyak didominasi penduduk Arab-Palestina.

Menurut M. Amien Rais, informasi untuk berimigrasi ke Palestina menjadikan dua kelompok di kalangan Yahudi, Zionisme Politik dan Zionisme Kultural/Spiritual. Zionisme Politik diwakili oleh Herzl, Moshe Lilienblum, Leo Pinsker, Chaim Weizmann, Jabotinsky, Menachem Begin, Moshe Dayan, dan Yitzhak Shamir. Sedangkan Zionisme Kultural yang menentang ide itu diwakili oleh Ahad Ha-am, Judas Magnes, Martin Buber, Hans Kohn dan fisikawan Albert Einstein.

Metode mengambilan tanah Palestina berdasarkan kelompok pertama ialah dengan tiga cara. Pertama, wilayah tersebut harus direbut dari tangan orang-orang Arab. Caranya ialah dengan memperoleh tanah seluas mungkin di Palestina. Kedua, penduduk Arab harus diusir dari tanah airnya ke negara-negara Arab. Sensus Inggris pada tahun 1922 mencatat ada 660.641 orang Arab yang diusir dari Palestina. Ketiga, dengan menteror secara sistematik. Fungsi ini dipahami oleh para tokoh Zionis sebagai cara paling simpel dan murah untuk menghabisi nyali Bangsa Palestina.

Sedangkan kelompok kedua (penentang) juga mempunyai tiga alasan. Pertama, sangat in-moral bila kaum Yahudi mendesak dan mengusir bangsa Palestina yang notabene tanah itu ialah tanah air sah Palestina. Kedua, bila Zionisme menekankan hak historis bangsa Yahudi untuk kembali ke Palestina, maka bangsa Arab Palestina pun punya hak historis yang harus dihormati. Ketiga, pemecahan adil bagi konflik Israel-Palestina ialah dengan mendirikan sebuah bi-national state, yaitu negara dengan dwi-kebangsaan daerah orang Yahudi dan Arab hidup berdampingan secara damai.

Meskipun di kalangan internal Yahudi timbul perbedaan pendapat, sehabis melewati lobi dengan banyak sekali kalangan (termasuk dengan Khilafah Utsmaniyah) walau gagal membuahkan hasil. kemudian lobi kepada Parlemen Inggris oleh Chaim Weizmann pada 1917 untuk meminta pertolongan pembentukan Negara Yahudi di Palestina. Setelah itu, nota persetujuan pun dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris Lord Balfour kepada Parlemen Inggris yang berbunyi:

“Menurut pendapat Pemerintah Inggris, mempertahankan Terusan Suez akan mencapai hasil maksimal dengan mendirikan suatu Negara Palestina yang terikat dengan kita. Dengan mengembalikan orang Yahudi ke Palestina dibawah pengawasan Inggris akan menjamin rencana itu.”

Dukungan Inggris atas pembentukan Negara Yahudi ini memang tidaklah dilepaskan dari ambisi imperialisme, menyerupai ditegaskan Winston Churchill pada 1921 (Menteri Luar Negeri waktu itu), yang bahwa:

“Kalau Palestina tidak pernah ada, maka berdasarkan keyakinan saya, demi kepentingan imperium, ia harus diciptakan.”

Akhirnya, dengan Deklarasi Balfour tahun 1917 itu gerakan Zionisme terus melaksanakan semua upaya untuk mendukung kepentingan Inggris di Timur Tengah termasuk dengan membentuk “Jewish Corps” yang terdiri dari 500 cowok Yahudi di bawah latihan Inggris. Pada tahun 1940 guna persiapan pembentukan negara juga dibuat “Squadron ke 40 the Royal Assault Arms” yang belakangan hari anggota-anggotanya menjadi kader pimpinan pada Israel Defence Forces (IDF) sehabis Negara Israel terbentuk. 

*Penulis ialah mahasiswa tingkat akhir, Fak. Syariah Wal Qanun, Jur. Syariah Islamiyah, Universitas Al-Azhar, Mesir.