Wednesday, 26 February 2020

Dialog Bulan Ramadan Di Hadapan Allah



Di darul abadi semua amal kebajikan boleh dilihat dan ditimbang. Amal kebajikan tiba dengan rupa dan paras yang sangat elok menyerupai bulan purnama; sementara amal kejahatan kelihatan amat jelek dan busuk.

Ramadhan merupakan satu bulan di mana amalan puasa diwajibkan. Pada hari simpulan zaman ia kelihatan amat cantik. Satu dikala Ramadhan tiba ke hadrat Allah swt. memohon sesuatu recommedation bagi insan yang berpuasa di bulan Ramadhan. Allah bertanya : Apa hajat kamu ya Ramadhan?. Ramadhan meminta Allah memakaikan mahkota kepada setiap orang yang berpuasa di bulan ini. Allah lantas perkenankan dengan mengurniakan 1000 mahkota kepada setiap pengamal puasa di bulan Ramadhan. Di samping itu ada pelengkap lain iaitu setiap orang diberikan syafaat untuk membebaskan 70,000 orang yang berdosa besar. Kemudian dikahwinkan setiap orang dengan 1000 bidadari yang rupawan. Setiap bidadari itu dilayan oleh 70000 dayang-dayang. Untuk kelengkapan menerawang di syurga mereka diberikan kenaikan BORAQ sebagai kapal terbang.

Ramadhan masih tegak tidak berganjak. Allah bertanya "Apa lagi kehendakmu ya Ramadhan?" Ramadhan meminta Allah menempatkan pengamal puasa Ramadhan semoga ditempatkan bersama Nabi di Syurga Firdaus. Allah memperkenankan hajatnya dengan pelengkap setiap orang diberi 100 bandar daripada permata merah ya'qut. Setiap bandar pula dilengkapkan dengan 1000 mahligai. Betapa hebatnya pengurniaan Allah terhadap orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.


Moral & Iktibar

Setiap amal kebajikan akan memberi pemberian kepada pengamalnya sama ada di dalam kubur atau di darul abadi kelak Fadhilat Ramadhan amat banyak tidak terbatas. Amalan puasa diberikan akibat tanpa had.
Mengosongkan perut kerana mengharap keredhaan Allah ialah satu amalan yang terpuji.
Balasan bagi orang berpuasa di bulan Ramadhan atas hak Allah teristimewa dalam Lailatul-Qadr.
Orang berpuasa tinggal bersama nabi di Syurga Firdaus.
Mereka tinggal dalam kediaman yang tidak sanggup digambarkan dengan mata kepala bersama bidadari dan kenaikan yang paling canggih.
Amat rugilah mereka yang tidak berpuasa dengan adat yang betul sepanjang Ramadhan ini.


Tuesday, 25 February 2020

Istri Nabi Nuh Perempuan Yang Durhaka


Istri Nabi Nuh Wanita Yang Durhaka Allah swt mengisyaratkan cerita Nabi Nuh as dalam beberapa surah Al-Quran, diantaranya surah Al-A'raf, Yunus, Hud, Al-Anbiya, Al-Mu'minun, Al-Syu'ara, Al-Ankabut, Al-Shaffat, dan Al-Qamar. Bahkan, secara khusus Allah menamai sebuah surah dalam Al-Quran dengan nama Nuh. Hanya, dari sekian banyak ayat yang mengisahkan perihal istri Nabi Nuh, tidak ada satu pun yang menyebutkan secara pribadi perihal istri Nabi Nuh, kecuali dalam satu ayat yang terdapat dalam Surah Al-Tahrim.

"Allah telah menciptakan istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan hamba yang saleh diantara hamba-hamba Kami. Lalu, kedua istri itu mengkhianati kedua suaminya. Maka, kedua suaminya itu tidak sanggup membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah. Dan, dikatakan kepada (keduanya), "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)!" [QS. Al-Tahrim 66 : 10]


Ketika Allah mengutus Nabi Nuh as tidak banyak orang yang beriman kepadanya. Bahkan, istrinya pun termasuk salah seorang dari yang tidak beriman. Dia ditelan banjir bandang bersama orang-orang yang tidak beriman lainnya. Dia binasa bersama dengan mereka yang binasa.

Istri Nabi Nuh yang tidak beriman tersebut ialah wanita yang melahirkan empat anak Nuh, yaitu Ham, Sam, Yafis, dan Yam. Nama yang terakhir ini lebih dikenal dengan nama Kan'an yang ikut ditelan banjir.

Istri-Nabi-Nuh-Wanita-Yang-Durhaka
Hikmah Kisah
Banyak Pelajaran yang sanggup diambil dari cerita istri nabi Nuh as diatas, diantaranya:
Keimanan tidak ada hubungannya dengan faktor keturunan, baik keturunan nabi maupun rasul.
Allah sanggup saja menunjukkan keturunan yang jahat kepada orang saleh dan keturunan yang saleh kepada orang jahat. Buktinya, istri Nabi Nuh ialah orang kafir. Namun, sebagian besar anaknya ialah orang-orang yang saleh. Sementara itu, ayah Nabi Ibrahim ialah orang kafir. Namun, beliau melahirkan keturunan yang saleh.
Pengkhianatan istri Nabi Nuh yang disebutkan dalam ayat Al-Quran diatas ialah dalam hal kekufuran, bukan perselingkuhan. (Sebagian pendapat menyatakan bahwa istri Nuh berselingkuh dengan pria lain). Ibn 'Abbas berkata, "Tidak ada seorang istri Nabi pun yang menjadi pelacur."

Kisah Istri Dan Putra Nuh Yang Durhaka


Banyak yang mempertanyakan sikap Nuh ketika membangun sebuah perahu besar yang jauh dari bahari dan sungai. Nuh dianggap sebagai orang asing oleh kaumnya. Keraguan yang disematkan kepada Nuh bahu-membahu merupakan bab dari ketidakimanan mereka terhadap risalah yang telah dibawa oleh Nuh.

Saat Bahtera Nuh telah usai, Nuh diperintahkan untuk memasukkan semua kaumnya yang beriman beserta hewan-hewan secara berpasang-pasangan.

Mendung mulai menyelimuti tanah Nuh. Tidak ada celah cahaya sama sekali. Siang ketika itu bagaikan malam alasannya yaitu tertutup mendung tebal. Hujan dan banjir bisa kapan saja melanda, tinggal menunggu perintah dari Yang Maha Kuasa, Allah Swt.

Saat hujan mulai turun, Nuh memastikan semua rombongannya benar-benar masuk ke Bahtera, termasuk seluruh keluarganya. Karena bagaimanapun juga, keluarga yaitu bab dari kehidupan setiap orang. Keluarga yaitu suatu hal yang harus diutamakan.

Begitu juga dengan Nabi Nuh. Risalah yang dibawanya mengajak semua kaumnya untuk beriman kepadanya dan masuk ke dalam Bahtera yang telah dibangunnya seorang diri, tak terkecuali keluarganya.

Sementara dalam barisan kaumnya yang mulai masuk ke dalam Bahtera, Nuh masih belum melihat gejala keikutsertaan istri dan anak-anaknya.

Nuh mulai mencari bagian-bagian keluarganya yang tertinggal. Saat ia bertemu istrinya, sang Istri malah menolak mentah-mentah ajakannya. Sang Istri malah mewaspadai keabsahan risalah yang dibawanya. Ia lebih mempercayai para pembesar kaumnya yang dari awal menolak dakwah suaminya, Nuh.

Nuh sangat sedih, alasannya yaitu ia tidak bisa mengajak istri yang ia cintai beriman kepada Allah dan risalah yang ia bawa. Ia tertunduk lesu. Ia masih berharap semoga sang istri berubah fikiran dan mau mendapatkan ajakannya.

Sayangnya, itu yaitu impian kosong bagi Nuh. Istrinya tetap durhaka. Sambil berlalu, ia sama sekali tak mau menengok kebelakang. Pilihannya sudah bulat. Mengikuti para pembesar kaumnya yang sangat ia hormati melebihi hormatnya terhadap sang suami dan risalah yang dibawa suaminya.

Nuh mencoba mengikhlaskan Istrinya. Setelah gagal mengajak sang Istri, Nuh mencoba mencari keberadaan sang putra. Putranya yang berjulukan Kan’an juga masih belum terlihat di antara kerumunan kaumnya.

Sementara hujan sudah mulai turun. Mendung-mendung gelap yang menyelimuti kaum Nuh sudah mulai bermetamorfosis hujan yang siap membinasakan kaumnya.

Nuh melihat anaknya di kejauhan. Kan’an sedang mengayuh tali menaiki gunung. Ia percaya bahwa azab yang dijanjikan itu tak akan pernah bisa menjangkau dirinya bila ia lari ke gunung.

Air semakin tinggi, mengejar seorang Kan’an yang dengan pongahnya menolak undangan sang ayah dan lebih menentukan jalannya sendiri, menaiki gunung yang tinggi. Sementara banjir semakin tinggi. Banjir itu mulai menenggelamkan semua hal yang ditemuinya. Bahkan gunung yang dinaiki Kan’an pun mulai tenggelam.

Nuh yang iba dengan putranya mulai mengarahkan bahteranya ke gunung kawasan sang putra berpijak.

“Wahai anakku, raihlah tanganku, naiklah ke perahu bersama kaummu yang selamat!”

“Tinggalkanlah aku, saya akan mencari derma ke gunung yang sanggup menyelamatkanku dari air bah!”

“Wahai anakku, hari ini tidak ada yang sanggup memperlihatkan keselamatan kecuali keselamatan dari Allah Swt.”

Ajakan seorang ayah itu serta merta ditolak oleh sang anak. Ia sama sekali tidak memerdulikan keselamatannya. Ia telah menjadi bab dari kaum Nuh yang kafir.

Nuh melihat anaknya karam dan binasa di depan matanya. Ia begitu murung melihat keluarganya binasa alasannya yaitu kekafirannya.

Seketika Allah memperlihatkan balasan atas kegelisahannya.

“Wahai Nuh, mereka sejatinya bukanlah keluargamu. Keluargamu yang sejati yaitu yang memercayai risalah dan beriman kepadamu. Sebaliknya, orang yang mengingkarimu dan mendustakan kalimat Tuhanmu, mereka telah keluar dari ikatan keluargamu.”


Sunday, 23 February 2020

Akibat Kezaliman Terhadap Yang Lemah




Seorang lelaki yang tangannya buntung hingga bahunya, berseru dengan keras di pinggir pantai, “Wahai, siapa yang melihat (keadaan) saya ini, janganlah kalian berlaku dzalim kepada siapapun juga!!”

Dia mengulang-ulang ucapannya itu kepada orang-orang di sekitarnya. Mungkin hanya sebuah nasehat sederhana, tetapi lantaran berseru lantang dan berulang-ulang, hal itu menarik perhatian dari seorang lelaki Bani Israil yang melihatnya, dan berkata, “Hai hamba Allah, apakah yang terjadi denganmu?”

Lelaki buntung itu lalu bercerita, bahwa dahulunya ia yaitu seorang petugas polisi, yang dengan kedudukannya itu terkadang ia bersikap egois dan ‘sok kuasa’. Suatu ketika ia berada di pinggir pantai itu, dan melihat seorang nelayan (pemancing) yang memperoleh seekor ikan yang cukup besar. Ia sangat tertarik dengan ikan tangkapannya itu, dan berkata “Serahkan ikan tangkapanmu itu kepadaku!!”

“Jangan, ikan ini satu-satunya masakan untuk keluargaku“ Kata nelayan itu.

Ia benar-benar tertarik dengan ikan itu, karenanya ia berkata, “Kalau begitu, biarkanlah saya membelinya!!”

Tetapi sang nelayan tetap saja menolaknya. Ia menjadi murka dan memukul sang nelayan dengan pecutnya dan mengambil ikan tersebut dengan paksa dan membawanya pergi. Ketika hingga di rumahnya, ikan itu tiba-tiba menyerupai hidup dan menggigit ibu jarinya. Tampaknya hanya menyerupai gigitan biasa, tetapi susah sekali dilepaskan. Setelah dengan susah payah berusaha, gigitan itu dapat dilepaskan, tetapi ibu jarinya telah nanah membesar, dan rasa sakit yang tidak terperikan.

Sang polisi tiba ke seorang dokter untuk mengobati luka kecil akhir gigitan ikan di ibu jarinya itu. Sang dokter mengusut luka tersebut dan ia tampak keheranan dengan luka sederhana itu, dan ia berkata, “Ibu jarimu harus diamputasi (dipotong), jikalau tidak akan dapat membahayakan jiwamu!!”

Karena rasa sakit yang tak tertahankan dan dokter telah menciptakan keputusan menyerupai itu, ia merelakan ibu jarinya diamputasi. Seketika itu ia merasa baikan dan rasa sakitnya hilang. Tetapi satu dua hari lalu rasa sakit menyerupai sebelumnya menjalari telapak tangannya, dan ia pergi ke dokter untuk memeriksakannya. Setelah mengusut tangannya itu, lagi-lagi sang dokter keheranan dan kesannya memutuskan, “Telapak tanganmu harus diamputasi (dipotong), jikalau tidak akan dapat membahayakan jiwamu!!”

Tidak ada pilihan lain kecuali menurutinya, dan telapak tangannya diamputasi. Hanya sembuh satu dua hari, rasa sakit menjalar ke lengannya di bawah siku. Dan ketika dibawa ke dokter, sang dokter tetapkan untuk mengamputasi hingga batas sikunya untuk menyelamatkan jiwanya. Dua tiga hari lalu rasa sakit itu menjalar lagi, dan dokter tetapkan untuk mengamputasi hingga batas bahunya.

Ada seseorang yang memperhatikan keadaannya semenjak awal ia tiba ke dokter, dan ia menanyakan lantaran penyakitnya itu. Sang polisi berkata, “Sebenarnya ini bermula dari luka kecil gigitan ikan….!!”

Kemudian ia menceritakan secara lengkap peristiwanya yang dialaminya. Tampaknya orang yang bertanya tersebut sangat bijaksana dan memahami ‘rahasia’ kekuasaan Allah, maka ia berkata kepada sang polisi, “Jika saja semenjak awal engkau tiba kepada nelayan (pemancing ikan) itu untuk meminta maaf dan meminta halalnya, engkau tidak akan kehilangan tanganmu. Maka sebaiknya engkau kini mencari dan menemui nelayan tersebut untuk meminta maaf dan meminta halalnya, sebelum penyakitmu itu akan menjalar ke seluruh tubuhmu!!”

Sang polisi terbuka mata hatinya dan ia gres menyadari kekeliruannya yang sepertinya sepele saja. Ia segera memenuhi nasehat orang yang tidak dikenalnya itu. Begitu bertemu di tepi pantai yang sama, ia segera berlutut dan mencium kaki nelayan itu, sambil menangis ia berkata, “Wahai tuan, saya meminta maaf kepadamu!!”

Sang nelayan yang tidak mengenali lagi sang polisi itu dengan heran berkata, “Siapakah engkau ini?”

“Aku yaitu polisi yang dulu pernah merampas ikanmu!!”

Kemudian ia menceritakan insiden dan penderitaannya, hingga bertemu seseorang tak dikenal yang menasehatinya untuk meminta maaf kepadanya. Sang polisi menunjukkan keadaan tangannya yang buntung hingga bahunya. Nelayan itu menangis melihat penderitaan orang yang pernah mendzaliminya itu, dan berkata, “Sungguh saya tidak menyangka akan menyerupai ini keadaannya, saya halalkan dan saya maaafkan semua kesalahanmu kepadaku!!”

Polisi itu memeluk sang nelayan sambil menangis bercampur gembira. Setelah suasana emosional itu mereda, sang polisi berkata, “Apakah engkau berdoa kepada Allah sehabis saya merampas ikanmu itu?”

Sang nelayan berkata, “Benar, saya berdoa : Ya Allah, orang itu telah menganiaya (mendzalimi) saya dengan kekuatannya atas kelemahanku. Karena itu balaslah dia, perlihatkanlah kepadaku Kekuasaan/Qudrah-Mu kepada orang itu!!”

Polisi itu ‘mengangkat’ sisa lengannya yang buntung dan berkata, “Inilah dia, Allah telah menunjukkan kepadamu Qudrah-Nya atas diriku. Dan kini saya bertaubat kepada Allah dari semua yang telah saya lakukan dahulu!!”

Setelah menceritakan semuanya itu, sang mantan polisi itu berkata kepada orang Bani Israil yang menghampirinya, “Sesekali saya tiba ke sini untuk mengenang insiden tersebut, sekaligus menasehati orang-orang biar tidak mengalami hal yang sama menyerupai aku. Tetapi sungguh saya bersyukur Allah memperingatkan saya di dunia, dan mengambil kaffarat dosa-dosaku dengan sebelah tanganku ketika ini. Jika tidak, mungkin saya hanya akan menjadi materi bakar api neraka di darul abadi kelak!!”

Saturday, 22 February 2020

Keberkahan Dari Penguasa Yang Adil



Suatu masa sebelum diutusnya Nabi SAW, salah seorang Kisra (Raja) Persia yang adil bijaksana sedang berburu di hutan belantara. Karena asyiknya mengejar buruan, sang Raja terpisah dari pasukannya, padahal ketika itu hujan mulai turun. Ia melihat sebuah gubug sederhana dan minta ijin berteduh, yang segera saja diijinkan. Penghuni gubug itu, seorang perempuan renta dan anak gadisnya tidak mengenal sang raja alasannya yaitu ketika itu tidak menggunakan pakaian kebesarannya.

Di salah satu sudut gubug itu ada seekor lembu, sang gadis memerah susunya dan memperoleh hasil yang melimpah (banyak sekali), untuk menjamu tamunya tersebut. Sang Raja minum dan dia eksklusif mencicipi kesegarannya. Melihat keadaan itu, terbersit dalam hati sang Raja untuk menerapkan hukum pemungutan cukai (pajak) bagi pemilik lembu. Hal itu akan menjadi sumber pemasukan (PAD) yang sangat tidak mengecewakan bagi kerajaan.

Ketika malam menjelang, sang gadis akan memerah susu lembu menyerupai biasanya, tetapi dia tidak mendapat setetespun, maka dia berseru, “Wahai ibu, tampaknya raja memiliki niat jahat terhadap rakyatnya!!”

Ibunya berkata, “Mengapa engkau berkata menyerupai itu??”

Sang gadis berkata, “Karena lembu ini tidak mengeluarkan susunya walau hanya setetes!!”

Sang ibu berkata, “Sabarlah, ini masih malam, nanti menjelang subuh, cobalah lagi untuk memerahnya!!”

Sang raja yang tengah beristirahat di atas tumpukan jerami itu dengan terang mendengar pembicaraan ibu dan anak tersebut. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Begitu besarkah pengaruhnya dari apa yang saya putuskan??”

Ia berkutat dengan pikirannya sendiri, dan jadinya membatalkan keinginannya untuk menarik pajak (cukai) bagi pemilik lembu, yang kehidupan mereka umumnya sangat sederhana. Menjelang subuh, sang gadis mencoba memerah susu lembunya, dan dia memperoleh hasil yang melimpah menyerupai sebelumnya. Maka dia berseru, “Wahai ibu, rupanya niat jahat sang raja telah hilang, lembu ini telah mengeluarkan susunya lagi!!”

Sang ibu mengucap syukur, begitu juga dengan sang raja yang ikut mendengarnya. Ketika hari telah terang, sang raja berpamitan dan mengucap terima kasih, tetapi tetap tidak membuka jati dirinya. Tidak usang berselang, tiba serombongan pasukan yang membawa ibu dan anak penghuni gubug sederhana itu ke kotakerajaan. Mereka diperlakukan dengan hormat dan penuh penghargaan.

Ketika mereka dihadapkan kepada sang Raja, barulah mereka menyadari kalau tamunya semalam yaitu penguasa yang sempat ‘dirasani’nya (dibicarakan, dighibah). Mereka berdua meminta maaf, tetapi raja yang bijaksana itu berkata, “Tidak mengapa, tetapi bagaimana engkau dapat mengetahui hal itu??”

Sang ibu berkata, “Kami telah tinggal puluhan tahun lamanya di tengah hutan itu. Jika raja yang memerintah berlaku adil dan baik, maka bumi kami ini subur, kehidupan kami luas dan lapang, serta ternak kami banyak menghasilkan. Tetapi bila raja yang memerintah berlaku kejam dan buruk, maka bumi kami ini kering, tanah dan ternak-ternak kami tidak menghasilkan apa-apa, sehingga kehidupan kami menjadi sempit!!”


Keadilan Pemimpin Lebih Baik Daripada Keindahan

Anu Sirwan yakni salah satu Kisra (Kaisar) Persia yang cukup populer alasannya keadilan dan kearifan (kebijaksanaan)-nya kepada rakyatnya. Ia hidup jauh sebelum diutusnya Nabi SAW, tetapi kisah-kisah keadilannya cukup populer dan menyebar di kalangan masyarakat Arab, walau gotong royong ia dan rakyatnya yakni penyembah api, yakni beragama Majusi.

Salah satu kisahnya yakni ketika Anu Sirwan akan melaksanakan pembangunan untuk meluaskan istananya. Ketika ia melaksanakan penggusuran dan pembebasan tanah beberapa orang rakyatnya, ternyata ada seorang perempuan renta dengan gubug reotnya yang menolak untuk menjual. Berbagai upaya, bahaya dan rayuan, cara halus hingga keras dilakukan tetapi perempuan itu tetap bertahan. Wanita itu berkata, “Saya tidak akan menjual walau akan dibayar dengan sekeranjang uang emas. Tetapi kalau ia (yakni Kisra Anu Sirwan) akan menggusurnya, dan ia memang bisa melakukannya, maka terserah saja!!”

Parapelaksana pembangunan ekspansi istana itu melaporkan hal itu kepada Anu Sirwan, dan berencana menggusur gubug reot perempuan renta itu, alasannya posisinya memang tepat di tengah-tengah istana itu, di bab depan pula. Tetapi Anu Sirwan berkata, “Jangan lakukan itu, biarkan saja gubug itu di tempatnya, tetapi tetap laksanakan ekspansi pembangunan!!”

Pembangunan terus dilaksanakan, hanya saja ada pembengkokan untuk menghindari gubug perempuan tua. Ketika telah final dan tamu-tamu tiba untuk menghadiri usul Kisra Abu Sirwan dalam suatu program di istana, aneka macam yang berkomentar, “Alangkah indahnya istana ini kalau saja tidak ada bengkoknya (yakni gubug perempuan renta itu)!!”

Mendengar komentar-komentar ibarat itu, Anu Sirwan berkata, “Justru dengan kebengkokan itulah perkaranya menjadi lurus, dan keindahannya semakin sempurna!!”

Walau secara penampilan memang ‘kurang indah’, tetapi itulah memang yang benar dan lurus. Keadaan dan ‘keindahan’-nya menjadi tepat alasannya memang tidak ada satu pihakpun, walau sangat lemah dan tidak berdaya, yang merasa didzalimi dengan perilaku sang penguasa.

Peristiwa yang hampir sama terjadi ketika Mesir masuk menjadi wilayah Islam sehabis terlepas dari Rumawi pada masa khalifah Umar bin Khaththab. Gubernur Mesir ketika itu, Amr bin Ash bermaksud mendirikan sebuah masjid (yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Amr bin Ash), tetapi seorang perempuan Qibhti beragama Nashrani menolak ketika gubug reotnya akan dibeli/diganti dengan harga berapapun. Hanya saja Amr bin Ash tetap memerintahkan untuk menggusur rumah perempuan Qibhti itu biar pembangunan masjidnya segera selesai.

Wanita Qibthi yang merasa didzalimi oleh tindakan sang gubernur itu berjalan kaki menuju Madinah untuk mengadukan persoalannya kepada khalifah. Mendengar pengaduan itu, Umar mengambil penggalan tembikar, dan menulis dengan pedangnya, “Kita lebih berhak (wajib) berbuat keadilan daripada Kisra Anu Sirwan!!”

Umar memerintahkan perempuan Qibhti itu menyerahkan ‘surat’ penggalan tembikar itu kepada Gubernur Amr bin Ash. Ia juga menawarkan perbekalan yang berlebih kepada perempuan beragama Nashrani itu, biar bisa hingga kembali ke Mesir dengan selamat. Ketika Amr bin Ash mendapatkan ‘surat’ dari Umar itu, ia eksklusif meletakkan penggalan tembikar tersebut di atas kepalanya, sambil menangis memohon ampunan kepada Allah. Ia memerintahkan para pelaksana pembangunan untuk mendirikan kembali gubug perempuan Qibhti itu, dan membelokkan bangunan masjid, sehingga bentuknya membengkong.

Tuesday, 18 February 2020

Dongeng Fatimah Ra: Proteksi Yang Mendatangkan Rahmat



Suatu waktu, ada yang mengetuk pintu rumah Fatimah Ra. Ternyata yang bertamu yakni orang bau tanah dengan pakaian compang-camping. Sepertinya ia gres melaksanakan perjalanan jauh yang telah menciptakan segala yang dimilikinya yang semakin menua dimakan umur.

Lalu, Fatimah menanyakan keperluan orang bau tanah itu bertamu. Orang tersebut menceritakan nahwa ia telah bertemu Rasulullah Saw. mengadukan keadaannya yang kelaparan dan kehabisan bekal untuk pulang kerumah. Dan atas saran beliau, ia menemui Fatimah untuk minta bantuan.

Mendengar penuturan orang bau tanah itu, Fatimah pun bingung. Sebab, dirinya juga tidak memiliki persediaan makanan ataupun uang untuk diberikan kepada orang bau tanah itu. Untuk hari itu saja, ia belum makan, alasannya yakni memang tak ada sesuatu yang bisa dimakan. Pikir Fatimah, apabila ia mengusirnya, tentu saja orang bau tanah itu akan semakin bertambah kesengsaraannya.

Tak beberapa kemudian, Fatimah gres ingat bahwa beberapa hari yang lalu, ia pernah dihadiahi sebuah kalung oleh putri Hamzah bin Abdul Muthalib. Tanpa merasa berat sedikitpun, demi menolong orang bau tanah itu, ia menunjukkan satu-satunya harta berharga yang dimilikinya.

"Juallah kalung ini Insya Allah, engkau sanggup memenuhi semua kebutuhan dan bisa pulang kerumahmu," kata Fatimah.

Setelah mendapatkan pemberian Fatimah, pria bau tanah itu pergi ke masjid. Saat itu, Rasulullah Saw. masih duduk bersama para sahabat. Kemudian, ia memberitahukan pemberian Fatimah kepada Rasulullah Saw. sambil berkata,

"Wahai Rasulullah, putrimu Fatimah telah menunjukkan klung ini kepadaku untuk dijual demi memenuhi segala kebutuhanku."

Mendengar perkataan orang itu, kedua mata Rasulullah Saw. terlihat lembap dan terisak-isak. Beliau tahu perihal kalung itu yang sangat disenangi oleh putrinya itu, namun direlakan untuk diberikan demi membantu orang yang tidak mampu. Melihat hal itu, seorang sahabat yang berjulukan Amar bin Yasir minta izin kepada dia untuk membelinya. Setelah itu diizinkan, kemudian ia menanyakan harga kalung tersebut.

Kisah Nelayan Dan Jin Ifrit (#6)


Nelayan itu menyadari bahwa keputusan jin ifrit sudah tidak dapat diubah lagi. Ia murung teringat anak-anaknya dan nasib mereka bila dia mati. Namun di ketika itu tiba-tiba muncul sebuah ide.

“Wahai Jin, kematianku sudah di depan mata, dan saya menerimanya sebagai takdirku. Tapi sebelum saya menentukan caraku mati, atas nama Alloh yang namanya tercetak di atas segel yang mengunci botol ini, maukah kau menjawab dengan jujur satu pertanyaanku?” tanya nelayan.

Mendengar nama Alloh, badan Jin itu gemetar ketakutan. “Baiklah, saya bersumpah atas nama Alloh akan menjawab dengan jujur pertanyaanmu.”
“Benarkah kau pernah terkurung di dalam botol ini?” tanya nelayan.
“Ya, betul!” jawab Jin.

“Sebenarnya saya tidak percaya dengan ceritamu. Botol ini bahkan tidak dapat memuat kakimu yang besar, bagaimana mungkin dia dapat memuat seluruh tubuhmu,” kata nelayan.
“Kamu tidak percaya ceritaku?” tanya jin dengan marah.
“Aku tidak percaya hingga saya melihatnya sendiri,” tantang nelayan.
“Baiklah akan kubuktikan padamu!” seru Jin.

Sedikit demi sedikit badan jin Ifrit menjelma asap dan masuk kembali ke dalam botol.
“Nah nelayan, kini kau percaya dengan ceritaku?” teriak Jin dari dalam botol.



Namun si nelayan dengan cepat menutupnya dan berkata, “Hei Ifrit, kini giliranmu untuk menentukan cara mati yang kau inginkan! Tapi tidak! Lebih baik saya melemparkanmu kembali ke tengah laut!

Aku akan membangun rumah di sini dan selama sisa hidupku saya akan mencegah siapapun yang ingin mencari ikan di sini. Akan kukatakan bahwa disini ada jin jahat yang akan membunuh siapapun yang membebaskannya dari dalam botol.”

Mendengar perkataan si nelayan, jin Ifrit menangis dan memohon semoga si nelayan membebaskannya.

“Bukankah sudah kubilang padamu jin, bila kau menyelamatkanku maka Alloh akan menyelamatkanmu. Tapi kau tidak mau. Maka inilah balasannya!” kata nelayan.
“Tolong bebaskan aku,” ratap jin.

“Kamu pembohong! Aku dan kau menyerupai Wezirnya raja Yunan dengan guru Duban!” kata nelayan.

“Siapakah mereka?” tanya Ifrit.
“Aku akan menceritakannya padamu!”

Dan nelayan itu memulai ceritanya…


Kisah Nelayan Dan Jin Ifrit (#5)


Begitulah saya terkurung di dalam botol ini selama seribu tahun. Saat itu saya bersumpah dalam hati, kalau ada seseorang yang dapat membebaskanku dari botol ini maka saya akan membuatnya kaya seumur hidupnya.

Namun seribu tahun berlalu dan tak ada seorang pun yang tiba membebaskanku.

Kemudian saya bersumpah akan menawarkan semua harta karun yang ada di bumi kepada siapapun yang dapat membebaskanku, tapi empat ribu tahun berlalu dan tak ada yang datang.

Lalu saya bersumpah akan mengakibatkan siapapun penolongku, seorang raja yang berkuasa selamanya dan akan mengabulkan setiap harinya tiga permintaan, dan lihatlah! Tak ada seorang pun yang datang.

Hingga alhasil saya murka dan bersumpah akan membunuh siapapun yang membebaskanku. Dan hanya akan mengabulkan satu permintaanya yaitu caranya ia mati. Dan kini kamu tiba membebaskanku, maka nelayan kini pilihlah cara mati menyerupai apa yang kamu inginkan?,” kata Jin.


Baca Juga:Kisah Umar Bin Khattab


Mendengar dongeng Ifrit tersebut si nelayan berkata, “Wahai Jin, dengan nama Alloh maafkanlah saya yang telah membebaskanmu di waktu yang salah dan tolong jangan bunuh aku.”

“Tidak bisa! Aku niscaya akan membunuhmu, itulah sumpahku! Sekarang cepat pilih dengan cara apa saya membunuhmu!” hardik jin.

“Oh betapa sialnya saya yang telah menolong makhluk yang tidak tahu berterima kasih. Maafkan saya maka Alloh akan memaafkanmu. Tapi kalau kamu berbuat jahat padaku, maka Alloh niscaya akan membalasnya dengan azab-Nya.” ratap nelayan.

“Hei nelayan, kematianmu yaitu hal yang pasti, alasannya itu yaitu sumpahku! Dan saya tidak pernah melanggar sumpah yang kuucapkan!” kata Jin.


⏩ Selanjutnya... ⏪ sebelumnya...

Monday, 17 February 2020

Kisah Nelayan Dan Jin Ifrit (#4)


Terkejut dan takut, itulah yang dirasakan si nelayan. Lututnya hampir-hampir tak mampu menyangga tubuhnya, giginya gemeletuk ketakutan dan dia hampir tidak dapat menelan air ludahnya yang tiba-tiba mengering.

Suara jin Ifrit terdengar menggelegar dikala berkata pada si nelayan, “Tiada Tuhan selain Alloh dan Sulaiman utusan Alloh. Wahai nabi Alloh janganlah kau membunuhku. Aku berjanji tidak akan menentang perkataanmu ataupun mengkhianatimu.”

“Oh, Jin” kata nelayan, “Nabi Sulaiman, raja terkaya sepanjang masa, telah meninggal delapan ribu tahun yang kemudian dan sekarang ialah final zaman. Ceritakan padaku wahai jin, kenapa kau dapat terkurung di dalam botol ini?”

Jin menatap si nelayan dan berkata, “siapakah kau yang berani memanggilku dengan sebutan Jin?”
“Lalu apakah saya harus memanggilmu setan yang baik?” tanya nelayan.

“Jaga bicaramu, sebelum saya membunuhmu!” seru Jin.
“A..apa? Kenapa kau ingin membunuhku? Bukankah saya sudah membebaskanmu dari dalam lautan dan melepaskanmu dari botol yang mengurungmu?” tanya nelayan ketakutan.

“Tentu saja saya ingat! Tapi saya tetap akan membunuhmu. Aku hanya akan memberimu satu kebaikan,” kata Jin.
“Apakah itu?” tanya nelayan.
“Kau boleh menentukan dengan cara bagaimana kau ingin mati.” kata Jin.

“Tapi kenapa? Bagaimana dapat kau membalas kebaikanku dengan perbuatan jahat,” kata nelayan.

“Aku tidak dapat membalasmu dengan kebaikan,” katanya. “Kalau kau ingin tahu sebabnya, dengarlah kisahku!”

“Aku ialah jin yang menentang pedoman Sulaiman anak Daud. Lalu Sulaiman mengirim Asaf bin Barkhiya sang Wezir agung untuk menangkapku dan menghadapkanku kepada Sulaiman.

Dia menyuruhku untuk beriman kepada Alloh dan mengakui kenabiannya, tapi saya menolak. Maka dia menjebloskanku ke dalam botol ini. Dan semoga saya tidak dapat meloloskan diri dia menyegelnya dengan nama Alloh, kemudian menyuruh beberapa orang jin untuk melemparkanku ke tengah lautan...

Kisah Spesialis Ibadah Dengan Seekor Anjing


Illustrasi
Dahulu kala, ada seorang Abid (ahli ibadah) yang selalu beribadah dan berdo’a kepada Tuhan di sebuah gunung. Karena kedudukan dan kedekatannya dengan Tuhan yang sangat tinggi, Tuhan memerintahkan para malaikat-Nya untuk selalu membawakan untukmya kuliner dari surga. Dan dengan cara inilah Tuhan membuatnya kenyang. Setelah 70 tahun beribadah, suatu hari Tuhan berkata kepada para malaikat-Nya, “Untuk malam ini janganlah kalian bawakan ia makanan, kita akan mengujinya!”

Malam itu Abid menunggu dengan sabar makanannya, tapi tak kunjung tiba, sampai ia sudah tak bisa lagi menahan rasa lapar. Kesabarannya pun sudah habis, ia sudah tidak berpengaruh lagi, hasilnya ia turun dari gunung dan pergi menuju rumah penyembah api yang berada di kaki gunung untuk meminta roti kepadanya, penyembah api memperlihatkan kepadanya 3 potong roti kemudian ia pergi menuju daerah ibadahnya.




Anjing penjaga rumah penyembah api berlari mengikutinya dan menghentikannya. Sang Abid melemparkan sepotong roti kepadanya sehingga ia kembali dan Abid bisa meneruskan perjalannya, anjing menghabiskan roti dan kembali menghentikan sang Abid, Abid pun melemparkan roti keduanya kepadanya dan dikala ingin pergi, namun anjing tidak melepaskannya dan tidak membiarkan Abid meneruskan perjalanannya. Sang Abid dengan murka melemparkan roti ketiganya kepadanya dan berkata: “Hai hewan kenapa kau tidak punya rasa malu! Tuanmu memperlihatkan roti ini kepadaku, namun kau tidak membiarkanku membawanya?”

Dengan izin Tuhan yang Maha Besar, anjing itu pun bisa berbicara dan berkata, “Saya bukannya tidak punya rasa malu, saya ialah anjing yang bertahun-tahun tinggal dirumah seseorang, dikala ia memperlihatkan makan kepada saya, saya tinggal bersamanya, dikala ia tidak memperlihatkan kuliner kepada saya, saya tetap berada disampingnya, suatu dikala ia mengusirku dari rumahnya, saya duduk menunggu di luar pintunya sampai shubuh, tapi justru sebaliknya kau yang tidak punya rasa malu, Tuhanmu selalu mengirimi kau kuliner setiap malam dan apapun yang kau minta Dia memberikannya, hanya satu malam saja kuliner tidak datang, kau sudah melupakan-Nya dan memutuskan korelasi dengan-Nya dan tiba kepada penyembah api untuk memenuhi hajatmu dan meminta roti kepadanya.”

Setelah mendengar perkataan ini ia sangat terkejut dan menyesal dan kembali ke daerah ibadahnya kemudian bertobat.

Kisah Iblis Yang Ingin Bertobat



Dalam sebuah kitab diterangkan bahawa sebetulnya Iblis telah tiba berjumpa dengan Nabi Musa a.s. dengan berkata: "Wahai Musa, engkau yaitu seorang yang telah diutus oleh Allah s.w.t. dan Dia telah berkata-kata denganmu secara langsung." Kemudian Nabi Musa a.s. berkata: "Memang benar apa yang kau kata, kau ini siapa dan apa yang kau mahu dariku?"

Lalu berkata Iblis: "Aku yaitu Iblis! Wahai Musa saya mahu kau tolong katakan kepada Tuhanmu bahawa seorang makhluk-Nya ingin minta taubat kepadaNya." Lalu Nabi Musa a.s. berdoa kepada Allah s.w.t. dan memberikan apa yang diucap oleh Iblis, lalu Allah s.w.t. pun menurunkan wahyu yang bermaksud: "Wahai Musa, katakan padanya bahawa sebetulnya Aku berkenan mendapatkan permohonannya itu dengan syarat mestilah terlebih dahulu ia (Iblis) sujud di kubur Adam, jikalau ia mahu sujud maka saya sedia mengampuni segala dosanya."

Setelah Nabi Musa a.s. mendapatkan wahyu dari Allah s.w.t. maka Nabi Musa a.s. pun terus memberitahu Iblis perihal apa yang telah Allah perintahkan.

Sebaik sahaja simpulan Nabi Musa a.s. memberitahu segala perintah Allah s.w.t. maka dengan sombong dan bongkak Iblis berkata: "Wahai Musa, saya tidak sujud pada Adam saat ia hidup di syurga, bagaimana saya hendak sujud padanya setelah ia mati." Begitulah sifat sombong Iblis yang tetap dengan kedegilannya, walaupun ia tahu bahawa api neraka itu akan memakannya tapi ia tetap tidak mahu beriman pada Allah s.w.t.

Dalam sebuah hadis membuktikan bahawa sebetulnya Allah s.w.t. mengeluarkan Iblis dari neraka setiap 1000 tahun sekali, dan mengeluarkan Adam a.s. dari syurga, serta memerintahkan Iblis semoga sujud kepada Adam a.s. Disebabkan perilaku angkuhnya ia tetap enggan sujud, maka dikembalikan Iblis ke dalam neraka.....


Kisah Nelayan Dan Jin Ifrit (#3)


Ia lalu membersihkan badannya, berwudhu dan melaksanakna sholat Dzuhur. Kemudian ia menengadahkan wajahnya ke langit, berdoa: “Ya Alloh, Engkau niscaya tahu bahwa saya hanya menebarkan jalaku 4 kali setiap melaut, dan sekarang hanya tinggal lemparanku yang terakhir.

Hamba berharap ya Alloh, berilah hamba dukungan dari kebaikan lautmu, mirip Engkau telah memperlihatkan kebaikan kepada nabi Musa AS. Bismillah!”

Selesai berdoa, Nelayan kembali melemparkan jalanya dan dengan penuh harap menanti hingga airnya tidak lagi beriak. Lagi-lagi jalanya terasa berat sehingga ia harus kembali meyelam untuk membebaskannya.

Tidak ada satu ekor ikan pun yang tertangkap oleh jalanya, namun ia menemukan sebuah botol tembaga berwarna keemasan tersangkut di dalamnya. Botol itu tampaknya penuh berisi sesuatu, alasannya yaitu terasa berat dikala diangkat. Saat diteliti botol tersebut tertutup dan terkunci dengan seal yang rapat.

“Lumayanlah, jikalau saya jual di toko tembaga, harganya dapat hingga 10 keping emas,” pikirnya. “Uangnya dapat saya pakai untuk membeli makanan.”

Dia mengangkat botol tersebut, ternyata berat sekali. “Pasti ada sesuatu di dalamnya,” pikir nelayan.

“Aku harus tahu isinya. Siapa tahu isinya barang berharga,” pikirnya lagi.

Dia mengambil pisau untuk merobek segelnya, lalu membuka penyumbatnya. Digoncangnya botol tersebut untuk mengeluarkan isinya.

Tapi tidak ada apapun di dalamnya selain segulung asap berwarna kelabu. Asap itu naik ke udara dan lama-kelamaan membentuk sesosok Jin Ifrit yang tinggi besar. Demikian tingginya hingga kepalanya yang sebesar kubah hampir menyentuh awan.

Mengerikan sekali ia, tangannya mirip garpu raksasa, kakinya sebesar tiang kapal, bibirnya ibarat gua besar, lubang hidungnya mirip terompet, matanya menyala mirip lampu dan rambutnya yang kelabu tampak kusut awut-awutan...

Kisah Nelayan Dan Jin Ifrit (2)


Ia harus memperbaiki dulu jalanya yang robek di sana sini. Lalu dengan mengucap Bismillah, nelayan itu kembali menebarkan jalanya. Lagi-lagi jalanya terasa berat saat ditarik. Bahkan lebih berat dari sebelumnya.

“Mungkin banyak ikan yang tertangkap,” pikirnya. Maka ia mengikatkan tali jalanya di tiang dan beliau pun kembali menyelam. Tapi apa daya, ternyata jalanya hanya berisi keranjang yang sudah penuh dengan lumpur.

Ia kembali mengeluh:
“Duhai benar-benar jelek nasibku!
Wahai nasib buruk, pergilah! Atau setidaknya ringankanlah!
Bukankah saya tidak pernah meminta lebih?
Aku hanya mencari sedikit rizki, tapi yang kudapati hanyalah rasa letih.

Tapi saya salah mengeluh padamu, alasannya yaitu menciptakan orang menjadi sengsara yaitu kesenanganmu.

Orang yang baik kamu buat menderita sementara orang-orang jahat yang tidak mempunyai kebaikan kamu muliakan.”

Sedetik lalu nelayan itu meratapi perkataannya dan sambil membersihkan jaringnya beliau memohon ampun atas ketidaksabarannya. Masih dengan sedikit marah, nelayan itu menebarkan jalanya untuk ketiga kalinya namun yang didapatinya hanyalah setumpuk kulit kerang, watu dan lumpur. Bayangkan betapa murung dan marahnya sang nelayan, alasannya yaitu sampai waktu Dzuhur tiba, belum satu pun ikan yang ia dapatkan...

Kisah Nelayan Dan Jin Ifrit


Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang nelayan bau tanah dan lemah, yang mempunyai seorang istri dan tiga orang anak. Mereka sangaaaaat miskin sehingga ia adakala tidak makan sepanjang hari.

Setiap hari si nelayan pergi ke pantai pagi-pagi sekali. Ia mempunyai sebuah kebiasaan unik ketika mencari ikan, yaitu beliau hanya akan menebarkan jalanya 4 kali saja setiap harinya.

Suatu hari sebelum bulan terbenam beliau pergi ke tepi bahari dan sehabis menanggalkan pakaiannya ia menebarkan jalanya. Dia menunggu sampai airnya tidak lagi beriak, gres kemudian menarik kembali jalanya. Ternyata jala itu berat sekali, ibarat ada ikan yang sangat besar terperangkap di dalamnya.

Dia mencoba menariknya dengan sekuat tenaga, namun tetap saja tidak berhasil. Nelayan itu mengikatkan ujung tali jalanya ke sebuah tiang di pinggir pantai, kemudian beliau menyelam sambil terus menarik jalanya. Alangkah kecewanya ia, ketika datang di ujung jalanya, ternyata hanya sisa-sisa bangkai seekor keledai.

Begitu sedihnya ia sehingga mengeluh dalam hati:
“Wahai engkau yang merajai kegelapan malam dan kematian. Hindarkan saya dari rencana jahatmu, alasannya ialah Alloh akan meridhoi kerja kerasku!”
Dia melepaskan bangkai hewan itu dari jalanya dan kembali ke tepi pantai.

Sunday, 16 February 2020

Jenazah Menjelma Babi Hutan



Seorang anak mendatangi Rasulullah sambil menangis. Peristiwa itu sangat mengharukan Rasulullah S.A.W yang sedang duduk bahu-membahu sahabat yang lain.

"Mengapa engkau menangis wahai anakku?" tanya Rasulullah. "Ayahku telah meninggal tetapi tiada seorang pun yang tiba melawat. Aku tidak memiliki kain kafan, siapa yang akan memakamkan ayahku dan siapa pula yang akan memandikannya?" Tanya anak itu.

Segeralah Rasulullah memerintahkan Abu Bakar dan Umar untuk menjenguk mayat itu. Betapa terperanjatnya Abu Bakar dan Umar, mayat itu menjelma seekor babi hutan. Kedua sahabat itu kemudian segera kembali melapor kepada Rasulullah S.A.W.

Maka datanglah sendiri Rasulullah S.A.W ke rumah anak itu. Didoakan kepada Allah sehingga babi hutan itu kembali menjelma mayat manusia. Kemudian Nabi menyembahyangkannya dan meminta sahabat untuk memakamkannya. Betapa herannya para sahabat, dikala mayat itu akan dimakamkan berubah kembali menjadi babi hutan.

Melihat bencana itu, Rasulullah menanyakan anak itu apa yang dikerjakan oleh ayahnya selama hidupnya.

"Ayahku tidak pernah mengerjakan solat selama hidupnya," jawab anak itu. Kemudian Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, "Para sahabat, lihatlah sendiri. Begitulah hasilnya jika orang meninggalkan solat selama hidupnya. Ia akan menjadi babi hutan di hari kiamat."
=====================

Demikianlah biar bermanfaat untuk kita semua. Amin ya Robbal 'Alamin....

Thursday, 13 February 2020

Hikmah Dibalik Belum Terkabulnya Doa


Ada seseorang yang rajin berdoa, minta sesuatu sama Allah. Orangnya sholeh. Ibadahnya baik. Tapi doa tak kunjung terkabul. Sebulan menunggu masih belum terkabul juga. Tetap ia berdoa. Tiga bulan juga belum. Tetap ia berdoa. Hingga hampir satu tahun doa yang ia panjatkan, belum terkabul juga.

Dia melihat sahabat kantornya. Orangnya biasa saja. Tak istimewa. Sholat masih bolong-bolong. Kelakuannya juga sering nggak beres, sering tipu-tipu, bohong sana-sini. Tapi anehnya, apa yang ia doain, semuanya dipenuhi. Orang sholeh ini pun heran.

Akhirnya, ia pun dateng ke seorang ustadz. Ceritalah ia permasalahan yang sedang dihadapi.
Tentang doanya yang sulit terkabul padahal ia taat, sedangkan temannya yang bandel, malah sanggup apa yang ia inginkan.

Tersenyumlah ustadz ini. Bertanyalah si ustadz ke orang ini. Kalau Anda lagi duduk di warung, lalu tiba pengamen, tampilannya urakan, maen musiknya gak bener, suaranya fals, bagaimana?
Orang sholeh tadi menjawab, segera saya kasih pak ustadz, gak nahan ngeliat dan ndengerin ia lama-lama di situ, sambil nyanyi pula. Kalau pengamennya yang dateng rapi, main musiknya enak, suaranya empuk, bawain lagu yang kau suka, bagaimana? Wah, kalo gitu, saya dengerin ustadz. Saya biarin ia nyanyi hingga habis. Lama pun nggak masalah. Kalau perlu saya suruh nyanyi lagi. Nyanyi hingga sealbum pun saya rela.

Kalau pengamen tadi saya kasih 500, yang ini 10.000 juga berani, ustadz. Pak ustadz pun tersenyum. begitulah nak. Allah saat melihat engkau, yang sholeh, tiba menghadap-Nya, Allah betah ndengerin doamu. Melihat kamu. Dan Allah pengen sering ketemu kau dalam waktu yang lama. Buat Allah, ngasih apa yang kau mau itu simpel betul. Tapi Dia pengen nahan kau supaya khusyuk, supaya deket sama Dia. Coba bayangin, kalo doamu cepet dikabulin, apa kau bakal sedeket ini? Dan di penghujung nanti, apa yang kau dapatkan kemungkinan besar jauh lebih besar dari apa yang kau minta. Beda sama temenmu itu. Allah gak mau kayaknya, ia deket-deket sama Allah. Udah dibiarin supaya bergelimang dosa aja ia ini. Makanya Allah buru-buru kasih aja. Udah. Jatahnya ya segitu doang. Gak nambah lagi.
Dan yakinlah, kata pak ustadz, kalaupun apa yang kau minta ternyata gak Allah kasih hingga simpulan hidupmu, masih ada akhirat, nak.

Sebaik-baik pembalasan yaitu jatah nirwana buat kita. Nggak bakal ngerasa kurang kita di situ.
Tersadarlah orang tadi. Ia pun beristighfar, sudah berprasangka jelek kepada Allah.
Padahal Allah betul-betul amat menyayanginya. Semoga cerita ini menjadi sanggup pelajaran bagi kita semua... Aamiin ya rabb.

Tuesday, 11 February 2020

Dia Kembali Mencicipi Kebahagiaan Sehabis 9 Tahun Tidak Pernah Merasakannya..




Suatu hari, seorang cowok mendatangiku. Aku memperhatikan wajahnya dan nampaklah sebuah wajah yang gelap. Aku bertanya ihwal hajatnya, namun ia hanya membisu saja. Aku ulangi pertanyaanku dan ia masih tidak mau berbicara. Aku memandang lebih bersahabat kepadanya, ternyata air mata menetes dari kedua matanya. Aku bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Ia berkata, “Aku tidak bisa lagi bernafas lantaran kesempitan yang saya rasakan dan kejenuhan. Demi Allah, wahai Syaikh, seolah-olah di dadaku ada sebuah gunung yang menindih dan menutup pernapasanku… Aku tidak bisa lagi bergaul dengan manusia, teman, bahkan dengan ibu, ayah dan saudara-saudaraku… Aku tidak bisa lagi duduk bantu-membantu mereka… Tertawaku hanyalah basa basi, dan kegembiraanku hanyalah sesuatu yang dibuat-buat… Aku tiba kepadamu biar engkau menyembuhkan saya dengan ruqyah… Atau engkau tunjukkan padaku orang yang bisa meruqyah…”

Aku bertanya, “Kesempitan yang engkau rasakan pastilah mempunyai sebab. Apakah sebabnya?”

Ia menjawab, “Aku tidak tahu..”

Aku bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengan Rabb-mu?”

Ia menjawab, “Buruk!… Tolong dengarkan kisahku…”

Aku berkata, “Ceritakanlah!”

Anak muda itu pun bercerita, “Saat umurku 14 tahun, ayahku pergi ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya dan saya ikut bersamanya. Ayahku melalaikan diriku dan membiarkan saya hidup diantara diskotik dan pusat-pusat perbelanjaan di umurku yang masih sangat belia.

Ketika ayahku menuntaskan studinya selama 2 tahun, kami pun kembali ke Riyadh. Aku menuntut supaya ia mengembalikanku ke Amerika untuk melanjutkan studiku tapi ia menolaknya. Akhirnya saya mencar ilmu di kelas 3 Sekolah Menengan Atas dan saya sengaja untuk tidak lulus dalam semua pelajaranku. Aku mengulanginya lagi setahun dan sengaja lagi untuk tidak lulus. Aku ulangi untuk tahun yang ketiga, dan dengan sengaja saya berusaha untuk tidak lulus. Setelah ayahku melihat hal itu, ia mengirimku kembali ke Amerika. Mestinya, saya bisa menuntaskan studiku dalam 4 tahun, namun ternyata saya menyelesaikannya dalam 9 tahun!!

Tidak tersisa maksiat di muka bumi ini, melainkan saya pernah melakukannya di sana. Karena dahulu saya ingin bersenang-senang dengan keremajaanku selagi saya mampu…

Kemudian saya kembali ke Riyadh dan mulai mencar ilmu di kampus. Aku masih saja melaksanakan dosa-dosa besar maupun kecil, akan tetapi, kesempitan ini… ia mulai menutupi nafasku… menyempitkan hidupku… Aku bosan dengan segala hal… Segala sesuatunya pernah saya coba… Akan tetapi kejenuhan itu masih saja bersamaku…”

Ia mengucapkan seluruh perkataannya dengan tangisan…

Aku bertanya, “Apakah engkau masih shalat?”

Ia menjawab, “Tidak.”

Aku berkata, “Penyembuhan pertama untuk kesempitan ini ialah memperbaiki hubunganmu dengan Dzat, yang hatimu berada di Tangan-Nya, Dia membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya… Jagalah selalu shalatmu di masjid, dan perjanjianku denganmu ialah sehabis 7 hari nanti.”

Hari-hari pun berlalu. Setelah sepekan, cowok itu tiba dengan wajah yang berbeda. Pertama kali melihatku, ia pribadi memelukku dan berkata, “Jazakallahu khairan… Demi Allah, ya Syaikh, saya berada dalam kebahagiaan yang tidak pernah saya rasakan lagi semenjak 9 tahun lalu…”

Aku bertanya kepadanya ihwal kesempitan, kejenuhan dan kegelisahannya? Ternyata, seluruhnya telah hilang dari dirinya…
Benarlah Allah dalam firman-Nya (artinya) :

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, beliau akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari simpulan zaman dalam keadaan buta.

Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan saya dalam keadaan buta, padahal dahulu saya sanggup melihat?’
Dia (Allah) berfirman, ‘Demikianlah, dahulu telah tiba kepadamu ayat-ayat Kami, dan kau mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kau diabaikan.’
Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di darul abadi itu lebih berat dan lebih kekal.”

Saturday, 8 February 2020

Kisah Komitmen Nikah Pertama Ustadz M. Arifin Ilham


Mulanya, dai muda asal Banjarmasin ini pernah mengajukan satu nama perempuan sebagai calon istri kepada ibunya. Namun, sang bunda menyampaikan ketidaksetujuannya. Maka, dengan tegas dia menyampaikan dalam salah satu ceramahnya, “Arifin mustahil mendapatkan orang gres tanpa persetujuan Mamah.”

Berbilang waktu kemudian, sosok dai dengan bunyi bertenaga ini pun bertemu dengan perempuan yang merupakan anak kiyai sekaligus anggota dewan perwakilan rakyat RI kala itu. Tanpa sengaja. Saat keduanya antre dalam sebuah jamuan makan. Jarak keduanya hanya sekitar tiga meter. Tidak sengaja, hanya sekali bertabrakan lirikannya. Lalu, keduanya tersenyum.

Entah berapa usang setelahnya, ada salah satu sobat yang memperlihatkan sosok calon istri ke ustadz muda yang merupakan lulusan Universitas Nasional ini. “Ustadz mau saya kenalkan dengan perempuan sebagai calon istri?” Lanjutnya sampaikan keterangan, “Insya Allah shalihah. Anaknya kiyai. Rumahnya di Kalibata.”



Berniat menjaga diri dari zina dan menjalankan sunnah Nabi, ustadz Arifin menyanggupi. Tetapi, mereka berencana ketemuan di bilangan Depok Jawa Barat.

Di kediaman yang direncanakan, sosok sobat tersebut memperlihatkan selembar foto, kemudian memperlihatkan gadis yang hendak ditawarkan sebagai istri kepada ustadz yang pernah dipatok ular hingga taksadarkan diri selama 21 hari ini. Berselang detik kemudian, gadis yang ada di dalam foto itu pun keluar dari sebuah ruangan bersama ibunya.

Ingatan sang ustadz pun mundur ke belakang. Pasalnya, dia merasa pernah bertemu dengan gadis tersebut. Tetapi, dia lupa kapan, di mana dan dalam program apa. Hingga, dia mengingat pertemuan pertama dalam sebuah antrean makan tempo hari.

Sepulangnya dari rumah tersebut, dia pun melaksanakan shalat istikharah di sepertiga malam yang terakhir. Beliau senantiasa berkonsultasi kepada Allah Ta’ala. Meminta pertimbangan wacana sosok gadis yang dikenalkan kepadanya itu. Hingga akhirnya, dia pun mantap untuk melaksanakan lamaran.

Uniknya, dia melamar dengan pribadi menelpon. Tanpa basa-basi. Pada sebuah pagi selepas Subuh. “Aku Muhammad Arifin Ilham,” ungkap sang ustadz dengan berani. “Aku ingin melamarmu untuk menikah pada tanggal satu Muharram.” Pasalnya, hari itu merupakan tahun gres Hijriyah yang merupakan waktu bersejarah bagi kaum Muslimin di semua tempat.

Selanjutnya, sang ustadz pun memberikan empat hal sehabis niat untuk menikah di tanggal tersebut. Pertama, “Aku ingin menikah alasannya Allah.” Kedua, “Aku ingin menikah alasannya melaksanakan sunnah Nabi.” Ketiga, “Aku ingin terbang. Tetapi, sayapku hanya satu. Dan, saya ingin semoga kamu menjadi sayap kedua.” Dan yang terakhir, “Aku menunggu jawabanmu jam 5 esok pagi. Setelah Subuh.”

Duh, bagaimana kiranya perasaan perempuan yang mendapatkan kehormatan tersebut? Dilamar dengan cara yang baik, kemudian sang lelaki mengajaknya bersegera menikah. Wanita berjulukan lengkap Wahyuniati al-Waly ini pula yang dengan tulus mengizinkan suaminya tersebut menikah untuk yang kedua kali sehabis dua belas tahun pernikahannya. [Pirman/Kisahikmah.com]