Thursday, 20 February 2020

Kepemimpinan Umar Bin Khottob Ra




Saat itu Beliau menangis memikirkan bagaimana kalau seandainya ada satu ekor keledai yang terperosok dijalan berlubang. Atau ketika Beliau menggendong sekarung gandum yang akan diberikan pada seorang ibu yang kedapatan oleh Beliau memasak watu dalam kuali demi membohongi anaknya yang kelaparan dan meminta makan.

Atau ketika dia menawarkan sebuah tulang unta yang telah digores lurus oleh pedangnya yang diberikan kepada seorang Yahudi untuk disampaikan kepada gubernur Amr bin Ash ra.

Sedikit bencana yang tertulis diatas menandakan tingginya kualitas kepemimpinan Umar bin Khattab ra dengan tingkat fatwa dan keimanan yang sangat tinggi.

Hal ini memperlihatkan betapa dia sangat faham makna dari politik yaitu mengurusi urusan umat. Juga menandakan betapa dia sangat memahami betapa berat konsekuensi yang akan diperoleh oleh seorang pemimpin kalau hingga ada satu insan yang mengadu kepada Allah SWT atas kerusakan, kezaliman dan ketidakadilan yang dibentuk lantaran kepemimpinnya. Ngeri, apa lantaran ?, lantaran Allah SWT akan menjauhkan nirwana dari pemimpin -pemimpin yang dzolim. Umar bin Khattab sangat memahami hal tersebut.

Wilayah kekuasaan Umar bin Khattab sangat luas. Dakwah dan jihad dilaksanakan denggan sungguh-sungguh, apa lantaran ?, lantaran dia sangat memahami tidak ada yang lebih indah untuk disampaikan kepada umat insan selain Islam. Islam akan membebaskan umat insan dari penghambaan kepada sesama umat manusia. Islam akan membuka banyak jalan kebaikan bagi umat manusia. Walaupun Islam tidak pernah memaksa satu umatpun untuk masuk kedalamannya kecuali dengan keridloannya, kecuali dengan keiikhlasannya. Ini yang dibuktikan oleh Umar bin Khattab ra.
Beliau bergerak berdakwah dan berjihad memberikan Islam hingga cahayanya masuk ke negeri Syam.

Khalifah Umar bin Khattab ra sangat memahami bahwa ditangan dan dipundak kepemimpinannya harus terbuka jalan jalan kebaikan untuk umat manusia, maka dia membuka jalan jalan kebaikan itu. Beliau sangat faham kalau rezeki sebagai jaminan dari Allah SWT harus tiba dengan wasilah kebijakan yang memudahkan insan untuk memperolehnya bukan dengan menyulitkannya.

Maka wajarlah kalau peradaban hidup yang dibangun dimasanya ialah peradaban insan yang sangat tinggi. Keadilan, kemaslahatan dan keberkahan hidup dirasakan seluruh umat insan dibawah kepemimpinannya.

Berbanding terbalik dengan kondisi peradaban insan ketika ini, yang penuh dengan kerusakan dalam tatanan kehidupan masyarakatnya, baik dari sisi politik, aturan dan sosial kemasyarakatan.

Maka sudah sepatutnya para pemimpin ketika ini, berkaca dan berguru dari kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab ra yang ditulis dengan tinta emas sejarah perihal keberhasilan kepemimpinannya.

Benarlah apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah Muhammad saw, bahwa insan selamanya tidak akan tersesat selama berpegang teguh dengan dua hal yaitu Kitabullah wa Sunnaturrasul. Kegemilangan kepemimpinan Umar bin Khattab ra telah membuktikannya, dan umat insan akan menjadi saksi kebaikan kepemimpinannya dizamannya didunia hingga kelak ketika dibangkitkan kembali di yaumil akhir. wamataufiki illabillah.

Wednesday, 19 February 2020

Kisah Khansa Binti Amr Ra




Tumadhir binti Amr bin Harits, atau lebih dikenal dengan nama Khansa yakni seorang penyair perempuan yang cukup populer pada masa jahiliah. Ketika Nabi SAW telah berada di Madinah, bersama beberapa orang kaumnya dari kabilah Bani Sulaim, ia tiba menghadap dia untuk memeluk Islam. Ia memiliki empat orang anak lelaki yang kesemuanya ikut memeluk Islam, dan berhijrah untuk tinggal bersama Nabi SAW di Madinah.

Kemampuan Khansa melantunkan syair cukup dikagumi Rasulullah SAW. Ketika Adi bin Hatim memeluk Islam, ia menyampaikan kepada Nabi SAW, bahwa penyair paling ulung yakni Amr al Qais, orang yang paling pemurah yakni Hatim bin Sa’d dan penunggang kuda paling cendekia yakni Amr bin Ma’dikarib. Tetapi Nabi SAW bersabda, “Wahai Ibnu Hatim, bukan mereka!! Penyair paling ulung yakni Khansa binti Amr, orang yang paling pemurah yakni Muhammad (Rasulullah SAW), dan orang yang paling cendekia menunggang kuda yakni Ali bin Abu Thalib..!”

Sungguh penghargaan yang sangat tinggi terhadap Khansa, alasannya yakni dia ‘mensejajarkan’ namanya dengan nama dia sendiri dan Ali bin Abu Thalib.

Sejak keislamannya, Khansa tidak hanya bersemangat dalam melantunkan syair, tetapi ia terjun dalam beberapa medanpertempuran, baik dikala bersama Rasulullah SAW ataupun sehabis dia wafat. Dengan syair-syairnya, ia membangkitkan dan memperabukan semangat para sobat untuk terus berjuang menegakkan kalimat-kalimat Allah. Terkadang dikala pasukan dilanda kelelahan dan kejenuhan, ia juga melantunkan syair-syairnya sehingga mereka kembali segar dan bersemangat

Ketika terjadi perang Qadisiyah pada tahun 16 H, pada masa khalifah Umar bin Khaththab, Khansa memotivasi anak-anaknya untuk turut serta dalam perang tersebut. Keahliannya bersyair digunakannya untuk mempengaruhidan memperlihatkan semangat jihad pada mereka. Diingatkannya wacana kemuliaan berjuang di jalan Allah, keteguhan ayah dan paman-pamannya dalam membela agama Allah. Sampai karenanya ia berkata, "Jika besok kalian bangun dalam keadaan sehat, berjihadlah kalian dengan penuh keberanian dan dengan mengharap pemberian Allah. Majulah dengan semangat juang yang tinggi, dan masuklah dalam pertempuran, lawanlah para pemimpin orang-orang kafir itu, insya Allah kalian akan masuk nirwana dengan penuh kemuliaan dan kehormatan."

Ucapan-ucapannya tersebut dirangkaikannya dalam sebuah rangkaian syair yang sangat indah, dan amat membekas di hati putra-putranya sehingga semangat mereka begitu menggelora untuk segera terjun dalam pertempuran tersebut. Keesokan harinya, mereka berempat berjuang dengan perkasa melawan pasukan Persia. Mereka bertempur sambil membaca syair-syair ibunya, hingga karenanya satu persatu mereka menemui syahidnya.

Ketika info ini disampaikan kepada Khansa, sang ibu yang kehilangan empat putranya tersebut sama sekali tidak bersedih, justru ia bersyukur dan berkata, "Alhamdulillah, Segala Pujian hanya kepada Allah, yang telah memuliakan aku, dengan mengakibatkan anak-anakku sebagai syuhada’. Semoga dengan syahidnya mereka, dosa-dosaku akan diampuni oleh Allah, dan saya berharap dengan rahmat-Nya, semoga bisa dikumpulkan dengan mereka di surga-Nya."Setelah hidup menyendiri, Khansa tetap mengabdikan dirinya memperabukan semangat kaum muslimin dengan syair-syairnya. Umar sangat menghargai dan selalu memberi santunan kepada Khansa, sebagaimana dahulu Rasulullah SAW melakukannya. Tidak usang sehabis Utsman bin Affan menggantikan Umar, Khansa wafat di sebuah perkampungan Badui, yakni pada tahun 24 H.

Sosok Pemimpin Sejati




Ramai orang sampaumur ini berebut-rebut hendak menjadi pemimpin atau ketua. Bagi mereka yang menyedari perihal besarnya risiko memegang jawatan sebagai ketua sudah tentu keberatan mendapatkan jawatan tersebut. Saiyidina Abu Bakar sendiri semasa hendak meninggal dunia, mengeluh dan kesal kerana dilantik sebagai ketua (khalifah).

Begitu juga dengan Saiyidina Umar yang dilantik sebagai khalifah selepas kematian Saiyidina Abu Bakar. Saiyidina Umar sangat mengambil berat perihal kebajikan rakyatnya. Pada suatu malam sedang ia meronda di sekeliling kota dan kampung untuk melihat hal rakyatnya, ia terdengar tangisan kanak-kanak. Saiyidina Umar menghampiri pondok jelek daerah tinggalnya kanak-kanak itu.

Dia mendengar ibunya menjerang sesuatu. Kanak-kanak tadi senyap seketika apabila melihat ibunya sedang memasak. Namun masakannya tidak siap-siap sehinggalah anaknya tertidur dalam kelaparan. Melihat keadaan yang menyayat hati itu, Saidinia Umar memberi salam dan meminta izin untuk masuk. Wanita itu tidak sedar bahawa tetamu itu ialah Saiyidina Umar. Saiyidina Umar bertanya perihal hal kehidupan perempuan itu. Wanita itu mengadu yang ia dan anaknya sudah berhari-hari tidak makan. Apabila anaknya menangis hendakkan makanan, ia akal-akalan memasak dengan memasukkan beberapa ketul kerikil ke dalam periuk. Melihat keadaan itu, anaknya membisu sebentar kerana menyangka ibunya memasak sesuatu.

Wanita itu mengadu dan mengutuk Khalifah Saiyidina Umar kerana tidak bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Mendengar kutukan perempuan itu, Saiyidina Umar melamun sejenak. Sebentar kemudian, ia memohon diri meninggalkan keluarga perempuan itu. Dalam kegelapan malam, Saiyidina Umar terus menuju ke Baitul Mal kemudian mengambil sendiri beberapa pundi gandum untuk dihantar ke rumah perempuan itu.

Sebaik hingga di rumah perempuan itu, Saiyidina Umar memberi salam dan masuk ke rumahnya buat kali kedua. Dia mengambil gandum dari pundi kemudian terus memasakkan untuk perempuan dan anaknya. Wanita itu masih tidak sedar bahawa orang yang tiba membawa gandum dan memasak itu ialah khalifah sendiri. Setelah siap, Saiyidina Umar sendiri menghidangkan masakan untuk perempuan dan anaknya.

Melihat mereka gembira mengadap makanan, Saiyidina Umar berasa amat bahagia hati dan beredar dari situ. "Kalaulah Saiyidina Umar buat begini, alangkah baiknya....", kata perempuan itu tanpa menyedari orang yang berada di hadapannya ialah Saiyidina Umar sendiri.


Moral & Iktibar

Tanggungjawab sebagai pemimpin amat berat. Mengikut Nabi Muhammad s.a.w. Setiap kita yakni gembala dan akan ditanya perihal haiwan gembalaannya. Ini bermaksud kita akan dipersoalkan perihal orang di bawah jagaan/tanggungan kita.

Pemimpin yang benar-benar bertanggungjawab terhadap rakyat sentiasa memastikan kebajikan mereka dijaga dengan baik.

Pemimpin tulen ialah mereka yang sentiasa mengutamakan kebajikan rakyat terutama yang msikin lebih daripada kepentingan sendiri.

Amalan yang nrimo tanpa mengharapkan kebanggaan makhluk yakni satu amalan yang terpuji.

Setiap pemimpin (raja, menteri, atau wakil rakyat) sepatutnya mampu turun padang setiap saat untuk melihat sendiri kehidupan rakyat dan hulurkan pemberian kepada mereka yang miskin dan memerlukan dengan nrimo kerana Allah, bukan mengharapkan kebanggaan dan sanjungan.

Kegagalan seseorang pemimpin mentadbir negara dengan adil dan saksama akan menjadikan dirinya jauh dari syurga dan hampir dengan neraka.

Walau setinggi manapun pangkat dan darjat kita tidak akan dinilai Allah. Apa yang diambil kira ialah amalan yang diikhlaskan untuk Allah.

Untuk keselamatan dunia dan darul abadi hendaklah kita mencontohi pekerti Nabi Muhammad dan sahabat-sahabat Baginda.
Pemimpin yang baik ialah mereka yang mampu mendengar kritikan rakyat jelata serta mengambil tindakan segera untuk menuntaskan dilema yang mereka hadapi.




Sunday, 16 February 2020

Rumah Dan Hati Yang Sempit



Syahdan, di suatu masa hidup seorang pria yang punya sifat kikir (pelit). Ia memiliki sebuah rumah yang cukup besar. Di dalam rumah itu ia tinggal bersama seorang istri dan 3 orang anaknya yang masih kecil-kecil.

Laki-laki ini merasa rumahnya sudah sangat sempit dengan keberadaannya dan keluarganya, namun untuk memperluas rumahnya, sang lelaki ini merasa sayang untuk mengeluarkan uang.

Ia kemudian memutar otaknya, bagaimana caranya biar ia dapat memperluas rumahnya tanpa mengeluarkan banyak uang. Akhirnya, ia mendatangi Abunawas, seorang yang populer pandai di kampungnya. Pergilah ia menuju rumah Abunawas.

Si lelaki : “Salam hai Abunawas, semoga engkau selamat sejahtera.”

Abunawas : “Salam juga untukmu hai orang asing, ada apa gerangan kau mendatangi kediamanku yang reot ini ?”

Si lelaki kemudian menceritakan duduk kasus yang ia hadapi. Abunawas mendengarkannya dengan seksama. Setelah si lelaki tamat bercerita, Abunawas tampak tepekur sesaat, tersenyum, kemudian ia berkata :

“Hai Fulan, jikalau kau menghendaki kediaman yang lebih luas, belilah sepasang ayam, jantan dan betina, kemudian buatkan sangkar di dalam rumahmu. Tiga hari lagi kau lapor padaku, bagaimana keadaan rumahmu.”

Si lelaki ini menjadi bingung, apa hubungannya ayam dengan luas rumah, tapi ia tak membantah. Sepulang dari rumah Abunawas, ia membeli sepasang ayam, kemudian berbagi sangkar untuk ayamnya di dalam rumah. Tiga hari kemudian, ia kembali ke kediaman Abunawas, dengan wajah berkerut.

Abunawas : “Bagaimana Fulan, sudah bertambah luaskah kediamanmu?”

Si lelaki : “Boro boro ya Abu. Apa kau yakin idemu ini tidak salah? rumahku tambah kacau dengan adanya kedua ekor ayam itu. Mereka menciptakan keributan dan kotorannya berbau tak sedap.”

Abu nawas : “( sambil tersenyum ) Kalau begitu tambahkan sepasang angsa dan buatkan sangkar di dalam rumahmu, kemudian kembalilah kemari tiga hari lagi.”

Si lelaki terperanjat. Kemarin ayam, kini bebek, memangnya rumahnya peternakan, apa?, atau si pandai Abunawas ini sedang kumat jahilnya?

Namun menyerupai dikala pertama kali, ia tak berani membantah, alasannya ingat reputasi Abunawas yang selalu berhasil memecahkan banyak sekali masalah. Pergilah ia ke pasar, dibelinya sepasang bebek, kemudian dibuatkannya sangkar di dalam rumahnya. Setelah tiga hari ia kembali menemui Abunawas.

Abunawas : “Bagaimana Fulan, kediamanmu sudah mulai terasa luas atau belum ?”

Si lelaki : “Aduh Abu, ampun, jangan kau mengerjai aku. Saat ini yakni dikala paling parah selama saya tinggal di rumah itu. Rumahku kini sangat menyerupai pasar unggas, sempit, padat, dan baunya bukan main.”

Abunawas : “Waah, anggun kalau begitu. Tambahkan seekor kambing lagi. Buatkan ia sangkar di dalam rumahmu juga, kemudian kembali kesini tiga hari lagi.”

Si lelaki : “Apa kau sudah gila, Abu? Kemarin ayam, angsa dan kini kambing. Apa tidak ada cara lain yang lebih normal?”

Abunawas : “Lakukan saja, jangan membantah.”

Lelaki itu tertunduk lesu, bagaimanapun juga yang memberi ilham yakni Abunawas, sicerdik pandai yang tersohor, maka dengan pasrah pergilah ia ke pasar dan membeli seekor kambing, kemudian ia berbagi sangkar di dalam rumahnya. Tiga hari kemudian ia kembali menemui Abunawas.

Abunawas : “Bagaimana Fulan ? Sudah membesarkah kediamanmu ?”

Si lelaki : “Rumahku kini benar-benar sudah jadi neraka. Istriku mengomel sepanjang hari, belum dewasa menangis, semua hewan-hewn berkotek dan mengembik, bau, panas, sumpek, betul-betul parah. Ya Abu, tolong aku, Abu, jangan suruh saya beli sapi dan mengandangkannya di rumahku, saya tak mampu ya Abu.”

Abunawas : “Baiklah, kalau begitu, pulanglah kamu, kemudian juallah kambingmu kepasar, besok kau kembali untuk menceritakan keadaan rumahmu.”

Si lelaki pulang sambil bertanya-tanya dalam hatinya, kemarin disuruh beli, kini disuruh jual, apa maunya si Abunawas. Namun, ia tetap menjual kambingnya ke pasar. Keesokan harinya ia kembali ke rumah Abunawas.

Abu nawas : “Bagaimana kondisi rumahmu hari ini ?”
Si lelaki :”Yah, tidak mengecewakan lah Abu, paling tidak amis dari kambing dan bunyi embikannya yang berisik sudah tak kudengar lagi.”

Abu nawas : “Kalau begitu juallah bebek-bebekmu hari ini, besok kau kembali kemari”

Si lelaki pulang ke rumahnya dan menjual bebek-bebeknya ke pasar. Esok harinya ia kembali ke rumah Abunawas.

Abunawas : “Jadi, bagaimana kondisi rumahmu hari ini?”

Si lelaki : “Syukurlah Abu, dengan perginya bebek-bebek itu, rumahku jadi jauh lebih damai dan tidak terlalu sumpek dan amis lagi. Anak-anakku juga sudah mulai berhenti menangis.”

Abunawas. “Bagus. Kini juallah ayam-ayammu ke pasar dan kembali besok ”

Si lelaki pulang dan menjual ayam-ayamnya ke pasar. Keesokan harinya ia kembali dengan wajah yang berseri-seri ke rumah Abunawas.

Abunawas : “Kulihat wajahmu cerah hai Fulan, bagaimana kondisi rumahmu dikala ini?”

Si lelaki :”Alhamdulillah ya Abu, kini rasanya rumahku sangat lega alasannya ayam dan kandangnya sudah tidak ada. Kini istriku sudah tidak marah-marah lagi, anak-anakku juga sudah tidak rewel.”

Abunawas : “(sambil tersenyum) nah nah, kau lihat kan, kini rumahmu sudah menjadi luas padahal kau tidak menambah bangunan apapun atau memperluas tanah banguanmu. Sesungguhnya rumahmu itu cukup luas, hanya hatimu sempit, sehingga kau tak melihat betapa luasnya rumahmu.

Mulai kini kau harus lebih banyak bersyukur, alasannya masih banyak orang yang rumahnya lebih sempit darimu. Sekarang pulanglah kamu, dan atur rumah tanggamu, dan banyak-banyaklah bersyukur atas apa yang dirizkikan Tuhan padamu, dan jangan banyak mengeluh.”

Si lelaki pun melamun sadar atas segala kekeliruannya, ia terpana akan kecendikiaan sang tokoh dan mengucapkan terima kasih pada Abunawas.
=====================

Demikianlah semoga bermanfaat untuk kita semua. Amin ya Robbal 'Alamin....

Monday, 3 February 2020

Teladan Dari Kondisi Negara Islam Dibawah Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw


Oleh : Muhammad Yusron Mufid

“Apakah insan itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sebenarnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sebenarnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sebenarnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Q.S. Al Ankabut : 2-3)

Sebagai muslim, tentu tidak ada yang patut kita teladani selain peri kehidupan nabi Muhammad S.A.W. dalam segala aspek kehidupan. Tidak hanya dalam hal ritual tetapi dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Seorang ilmuwan barat berjulukan Michael Hart menempatkan pribadi nabi Muhammad sebagai orang nomor 1 dari daftar 100 orang paling kuat di dunia menyampaikan salah satu alasannya meskipun umat Islam bukanlah pemeluk agama terbanyak di dunia namun pribadi Muhammad bukan hanya sosok pemimpin spiritual, tetapi yakni seorang pemimpin politik dan seorang Negarawan. Meskipun sosoknya telah tiada, akan ada umat Islam yang meneruskan misi perjuangannya sampai hari tamat zaman tiba.

Menjadikan nabi Muhammad sebagai teladan berarti menyebabkan dia sebagai contoh dalam membangun cara hidup Islam. Jika kita mengamati pelaksanaan Islam dimasa Rasulullah maka kita akan tahu bahwa Islam yang Rasulullah ajarkan bukanlah Islam yang hanya terpusat kepada ibadah ritual saja melainkan yakni sistem aturan efektif yang berlaku di masyarakat. Bangunan Islam awal yang Rasulullah bangkit di Madinah ditegakkan dengan pilar adanya masyarakat Islam yaitu warga Madinah, Pemerintahan yang dipimpin pribadi oleh Rasulullah, dan wilayah kekuasaan meskipun di periode awal dalam lingkup yang kecil yaitu wilayah madinah dan sekitarnya. Dengan demikian, pemberlakuan Islam di masa Rasulullah telah memenuhi unsur berdirinya sebuah Negara dengan adanya rakyat, pemerintahan dan wilayah kekuasaan. Sebuah Negara Islam dibawah kepemimpinan pribadi Rasulullah Muhammad S.A.W.

Membayangkan Negara Islam di masa nabi pada awal berdirinya bukanlah Negara Islam (Kekhilafahan) pada masa Harun Ar Rasyid yang konon kehidupan pada waktu itu makmur dan kekayaan melimpah. Namun ternyata identik dengan usaha dan ketabahan. Ini menjadi pelajaran bagi kita supaya orientasi yang dibangun untuk menegakkan Kekhilafahan Islam bukanlah untuk kemakmuran materi dan kemapanan ekonomi belaka tetapi orientasi utama yakni sebagai sarana untuk melaksanakan tauhid, kewajiban menyembah Allah, merealisasikan hukum-hukum dan syariatNya serta mengemban dakwah Islam seantero muka bumi. Disini saya akan bercerita sedikit bahwa para sahabat rela meninggalkan tanah air dan tumpah darahnya ke negeri yang menyerupai “Neraka” bukan sebab sumber daya alam melimpah di negeri tersebut, motif ekonomi dan perut belaka akan tetapi demi ketulusan kepercayaan mereka, demi pembuktian cinta kepada Allah dan RasulNya. Mari kita simak.

Dari sisi kesehatan, negeri madinah pernah Allah berikan cobaan kepada penduduknya dengan wabah demam. Demam yang amat menyiksa para penduduknya terutama oleh kaum muhajirin yang memang tak terbiasa dengan cuaca di negeri lain. Seperti yang digambarkan oleh sahabat Am’r bin Ash ia berkata, “Ketika tiba di Madinah banyak dari kami yang meninggal dunia sebab demam yang tinggi. Sampai saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar para sahabat sedang shalat sunnah sambil duduk, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat sambil duduk pahalanya separuh shalat sambil berdiri.”

Selain itu, Sahabat yang mulia Bilal pernah mendoakan laknat kepada para pembesar Negeri Mekkah yang telah mengusir mereka ke Negeri yang dilanda wabah penyakit yaitu negeri Madinah. Seperti yang dikisahkan Aisyah dalam Shahih Bukhari “Ya Allah laknatlah Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi‟ah dan Umayyah bin Khalaf sebagaimana mereka mengusir kami dari negeri kami ke negeri yang penuh wabah penyakit.”

Bahkan dari sebuah riwayat dari HR Bukhari disebutkan bahwa ada beberapa orang Islam yang kembali murtad sebab tidak tahan terhadap wabah penyakit yang sedang melanda negeri Islam tersebut. Berkat Kejadian ini, Rasulullah bersabda bahwa hal ini yakni watak negeri Islam madinah yang dengannya akan menjadi proses seleksi siapa hamba-hambaNya yang nrimo menyayangi Allah dan RasulNya.
“Saya diperintahkan hijrah ke sebuah tempat yang mempunyai banyak keutamaan dibanding daerah- tempat yang lain. Orang-orang menamakan tempat itu dengan nama Yatsrib. Itulah yang kini berjulukan Madinah. Ia menyeleksi insan sebagaimana al-kiir menghilangkan penggalan dari besi yang buruk.” (HR Bukhari).

Tak hanya dari sisi kesehatan, pun halnya dari sisi ekonomi. Dalam Shahih Muslim, ada riwayat dari Abu Sa‟id maula Al-Mahri, bahwa ia mendatangi Abu Sa‟id Al-Khudhriy pada malam yang panas. Ia meminta saran kepada Abu Sa‟id Al-Khudhriy akan meninggalkan Madinah dan mengeluhkan harga barang-barang yang mahal, keluarganya yang banyak dan memberi tahunya bahwa ia tidak sabar lagi menanggung kesulitan dan ujian Madinah. Maka Abu Sa‟id Al- Khudhriy menjawab, “Celaka kamu, saya tidak menyuruhmu melakukannya. Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seseorang bersabar menahan rasa lapar di Madinah kemudian meninggal dunia melainkan saya akan menjadi penolong (syafii‟) atau saksi (syahiid) baginya kelak pada hari kiamat, kalau ia seorang muslim.”

Bahkan diriwayatkan Dalam Shahih Bukhari pada suatu saat bahwa para tamu mulia di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana seluruh sahabat melihat mereka jatuh tersungkur sebab sakit saking laparnya, tidak punya apa-apa. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Orang yang paling baik terhadap orang-orang miskin yakni Ja‟far bin Abu Thalib. Ia sering mengunjungi kami dan menawarkan makanan kepada kami apa saja yang ada di dalam rumahnya. Sampai ia pernah menawarkan ukkah (bejana kecil terbuat dari kulit biasanya untuk wadah mentega) yang sudah tidak ada apa- apanya, kemudian kami menyobekinya kemudian kami menjilati apa yang tersisa”

Perlu para pembaca ketahui bahwa Ja’far bin Abi Thalib yang diriwayatkan pada dongeng diatas gres tiba ke Negeri Islam Madinah yakni sehabis penaklukkan benteng Khaibar yaitu 7 tahun sehabis berdirinya negeri Islam Madinah. Artinya dalam waktu 7 tahun kelaparan masih melanda negeri kaum muslimin.

Bahkan pemimpin Negaranya sendiri, insan mulia Rasulullah S.A.W tak luput dari deraan rasa lapar yang luar biasa menyerupai yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim ‘dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Pada sauatu hari saya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya mendapati dia sedang duduk berbincang-bincang dengan para sahabatnya. Dan dia mengikat perutnya dengan sebuah perban. Usamah berkata, “-Saya ragu-ragu- dengan sebuah batu.” Saya bertanya kepada beberapa sahabat, “Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikat perutnya?” Mereka menjawab, “Karena lapar.”

Dari sisi keamanan pun Negara Islam dimasa Rasulullah ada dalam kondisi terhimpit dari segala penjuru oleh kepungan musuh-musuhNya, menyerupai yang diucapkan oleh pemimpin kaum Anshar kepada pengikutnya saat mereka mempertimbangkan akan melindungi Rasulullah bahwa mereka akan menjadi musuh bersama segenap bangsa Arab. Penuh resiko militer dari penyerbuan mereka. Hingga kesudahannya mereka paham dan tetap dengan Ikhlas mebaiat Rasulullah. Pun saat Rasulullah dan para sahabatnya sudah di Madinah tetap dihantui rasa kecemasan terhadap keamanan sampai Rasulullah selalu membawa senjata di pinggangnya dan para sahabat menjaga Rasulullah di waktu malam.

Demikianlah citra singkat Kondisi Daulah Nabawiyah di masa awalnya yang amat memprihatinkan, saya tidak bisa membayangkan akan berapa kali Rakyat Madinah melaksanakan demonstrasi kepada Rasulullah sebab urusan perut dan uang kalau pola pikir mereka menyerupai rakyat sekarang. Ini juga menjadi pelajaran bagi Gerakan Islam yang mempunyai harapan mulia yaitu tegaknya Kekhilafahan Islam bahwa para sahabat bisa begitu sabar dan sabar menghadapi kondisi yang demikian sebab keberhasilan proses penanaman pemahaman (Tarbiyah) dari Rasulullah yang berorientasi kepada tauhid dan kepercayaan Islam. Bukan sebab iming-iming ekonomi, penguasaan SDA, BBM Murah, pendidikan terjangkau, bebas pajak, serta kemakmuran materi lainnya. Melainkan pendidikan yang ditanamkan Rasulullah kepada para sahabat yakni perihal tujuan hidup bahwa mereka diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah saja tanpa menyekutukanNya, tunduk kepada hukum-hukum dan syariatNya, mereka hidup untuk menjalani ujian, akan adanya hidup sehabis mati serta keyakinan terhadap komitmen Allah akan menjayakanNya dimuka bumi kalau bersabar dalam menjalani ujian dan kesulitan. Pemahaman itulah yang menciptakan para sahabat begitu tegar menghadapi segala bentuk petaka dan ujian.

Ini juga sebagai kritik kepada mereka yang menyatakan bahwa negara Islam layak berdiri saat sudah benar-benar bisa melayani kebutuhan masyarakat baik pangan, sandang dan papan. Lalu bagaimana keadaan Negara Islam zaman Rasulullah yg amat memprihatinkan tsb ? Tidak lain bahwa Negara Islam layak berdiri sebab kesadaran dan komitmen umatnya untuk menegakkan aturan Allah, menegakkan tauhid dan mencegah kemungkaran dan sekali lagi bukan sebab motif perut dan uang.

Melihat pengorbanan para Sahabat, kita tentu patut malu sebab banyak mengeluh saat tiba kesulitan dalam ketaatan. Padahal kesulitan yang kita alami belumlah menyerupai Rasulullah dan para sahabat yang mulia. Wallahua’lam

“Apakah kau mengira bahwa kau akan masuk surga, padahal belum konkret bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum konkret orang-orang yang sabar”. (QS. 3:142)



“Apakah kau mengira bahwa kau akan masuk surga, padahal belum tiba kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan majemuk cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya santunan Allah“. Ingatlah, sebenarnya santunan Allah itu amat dekat”. (QS 2:214)

Artikel : eramuslim.com

*Disarikan dari teks materi ceramah Abu Hamzah Al Muhajir dengan judul Daulah Nabawiyah