Friday, 7 February 2020

Biang Kerok Kerusakan Agama Dan Negara


Kemungkaran berjamaah selalu menjadi demam isu di negara jahiliyah, negara yang sistem kehidupannya tidak terikat dengan syari’at Allah. Pertanyaannya, mengapa di negara Indonesia yang lebih banyak didominasi terbesar penduduknya beragama Islam, cara hidup jahiliyah dan kekafiran menjadi pilihan? Sehingga negara kita karam dalam kerusakan moral, kekerasan seksual menimpa generasi muda ke tingkat yang semakin mengerikan. Korupsi, mabuk miras, dan narkoba menjadi pilihan gaya hidup yang terus mengundang bencana.

Kita sering mendengar wanita dijadikan alat transaksional. Perempuan dijadikan “hadiah” untuk menyogok hakim semoga memenangkan kasus hukumnya.. Menyuap pejabat semoga syahwat politik maupun bisnisnya terpenuhi. Sekarang prilaku bejat itu dicontoh bawah umur muda menyerupai masalah di Bengkulu, 14 orang abg memperkosa seorang gadis. Mengerikan!

Siapa bersama-sama biang kerok kerusakan agama dan negara, sehingga masyarakat terus menerus dirundung nasib tragis? Ada dua faktor utama sebagai penyebabnya:

Pertama, kerusakan agama dipicu oleh perilaku ulama. Krusakan agama yang diproduksi oleh ulama, tokoh agama, yaitu memasukkan unsur bid’ah sebagai belahan dari pedoman agama.

Membangkitkan pedoman Syiah yang menghalalkan mencerca sahabat Nabi Saw dan menista istrti dia yaitu produksi ulama. Munculnya Ahmadiyah dengan ajaran, “ada nabi sesudah Nabi Muhammad” yaitu kerjaan ulama.

Ulama lah yang mencarikan dalil untuk membenarkan kesesatan masyarakat maupun kezaliman penguasa. Berbuat sesat tapi punya alasan memakai dalil agama, tidak mungkin dilakukan orang awam, melainkan ulama. Merekalah yang memberikan soal-soal keagamaan yang keluar dari pedoman kitab suci, lantaran merasa punya otoritas religius.

Bid’ah merupakan salah satu dilema pokok dalam Islam. Karena bid’ah lah, berapa banyak darah tertumpah jawaban saling membunuh sesama muslim. Bagaimana kelompok khawarij menumpahkan darah khalifah Utsman bin Affan. Kekompok Syiah menumpahkan darah kaum muslim dan memicu permusuhan di negara-negara Islam. Beberapa waktu kemudian di Jawa Timur muncul Banser dan Anshar menurunkan bendera yang mengajak menegakkan khilafah, dengan alasan anti Pancasila. Sementara mereka tidak bereaksi dikala PKI muncul dengan kaos bergambar palu arit, padahal PKI yaitu pemberontak terhadap NKRI. Bahkan mereka ikut dalam program sesat Syiah.

Perbuatan bid’ah dilindungi dan dibela oleh ulama dan penguasa. Bid’ah lawannya Sunnah.

Imam Asy Syatibi menyatakan: “Munculnya perpecahan dan permusuhan sesama Muslim dikala muncul kebid’ahan.” Begitupun Ibnu Taymiah pernah berkata, “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.”

Kedua, kerusakan negara dilakukan oleh penguasa dengan memproduksi kezaliman. Untuk menguatkan kezalimannya, penguasa membutuhkan santunan ulama. Kolaborasi ulama su’ dan penguasa zalim, sangat berbahaya bagi kepentingan rakyat.

Berkembangnya opini mungkar, “hubbul wathan minal doktrin (cinta tanah air yaitu belahan dari iman” datangnya dari ulama. Begitupun munculnya pernyataan sesat yang membenarkan muslim mengangkat pemimpin kafir, “Pemimpin kafir yang jujur lebih baik dari pemimpin Muslim yang korup” yaitu produk ulama bejat. Bahkan tidak segan memanipulasi pendapat ulama lain untuk menguatkan kesesatannya.

Lalu bagaimana, berdasarkan Islam, langkah konkrit meluruskan bid’ah yang diproduksi ulama sesat dan mengatasi kezaliman penguasa, dijelaskan dalam Al-Qur’an. Apa penyebab keterpurukan agama dan kehidupan dunia diterangkan dalam ayat berikut:

“Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa mukjizat-mukjizat yang jelas. Kami telah turunkan kitab suci dan syari’at yang adil bersama para rasul, semoga insan menegakkan keadilan. Kami telah menurunkan besi yang memiliki kekuatan jago dan sangat bermanfaat bagi manusia. Allah hendak menguji manusia, siapa di antara insan yang mau membela agama dan rasul-Nya lantaran beriman kepada yang ghaib. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS Al-Hadiid (57) : 25)
Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim. Kami telah menawarkan kenabian dan kitab suci kepada anak keturunan mereka. Di antara anak keturunan Nuh dan Ibrahim ada yang menerima hidayah, tetapi sebagian besar dari mereka kafir. (QS Al-Hadiid (57) : 26)
Kemudian Kami susulkan beberapa; orang rasul kepada generasi-generasi berikutnya. Kami susulkan pula ‘Isa bin Maryam. Kami turunkan Bibel kepada ‘Isa bin Maryam. Kami masukkan rasa kasih sayang, santun, dan sifat menjauhkan diri dari hawa nafsu ke dalam hati pengikut-pengikut ‘Isa. Adapun para pendeta Kristen yang hidup membujang, mereka telah merekayasa syari’at palsu yang sama sekali tidak pernah Kami menetapkan bagi mereka. Mereka sendiri yang merekayasa dengan alasan untuk mencari keridhaan Allah. Para pendeta itu terbukti tidak memperhatikan pedoman Bibel secara benar. Di alam abadi kelak, Kami akan menawarkan pahala kepada Bani Israil yang beriman. Tetapi sebagian besar dari Bani Israil itu kafir.” (QS Al-Hadiid (57) :27)

Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul kepada umat insan untuk memperbaiki kerusakan yang mereka timbulkan. Para utusan itu juga diutus untuk menegakkan keadilan, dan cara menegakkannyapun dijelaskan pada ayat ini. Karena itu, insan tidak akan mungkin sanggup menegakkan keadilan tanpa mengikuti jalan dan methode yang ditempuh para rasul itu.

Menegakkan keadilan, bukan saja pada insan tapi juga pada alam semesta, merupakan hal prinsip dalam Islam. Kezaliman sanggup dilenyapkan bila keadilan ditegakkan. Akan tetapi tidak mungkin keadilan sanggup ditegakkan di atas landasan hawa nafsu. Karena itu pula, penguasa manapun baik muslim maupun kafir jikalau zalim pasti akan dibinasan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keadilan merupakan aksioma kehidupan manusia. Hilangnya keadilan merajalelanya kezaliman. Dan keadilan tidak mungkin sanggup tegak tanpa menegakkan Syariah Ilahy. Penguasa Indonesia hari ini, tidak peduli syariat Allah, dan segala bentuk kerusakan pun terjadi tanpa sanggup ditanggulangi. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Setiap nabi yang Kami utus ke suatu negeri, pasti ada penduduknya yang mengingkari kenabiannya. Karena itu Kami timpakan kesulitan dan penderitaan kepada mereka, supaya mereka mau taat kepada Allah. (QS Al-A’raaf (7) : 94)
Kemudian Kami gantikan nasib jelek mereka dengan nasib yang lebih baik. Ketika kaum nabi itu mencapai kemakmuran dan jumlah mereka semakin banyak, mereka berkata: “Kesengsaraan dan kesejahteraan yang pernah menimpa nenek moyang kami disebabkan perubahan kondisi alam.” Mereka tidak menyadari kesesatannya, maka Kami timpakan siksa kepada mereka secara mendadak. (QS Al-A’raaf (7) : 95)
Sekiranya penduduk aneka macam negeri mau beriman dan taat kepada Allah, pasti Kami akan bukakan pintu-pintu berkah kepada mereka dari langit dan dari bumi. Akan tetapi lantaran penduduk negeri-negeri itu mendustakan agama Kami, maka Kami timpakan adzab kepada mereka jawaban dari dosa-dosa mereka. (QS Al-A’raaf (7) : 96)

Serial Kajian Malam Jum’at, 5 Mei 2016, di Masjid Raya Ar Rasul, Jogjakarta.

Narsum: Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Muhammad Thalib.

Notulen: Irfan S Awwas

Sumber: arrahmah.com

Thursday, 6 February 2020

Antara Lemah Lembut Atau Mengikuti Lubang Biawak



Oleh: Ihsan Tandjung

densus88Semenjak penguasa global dunia menggulirkan megaproyek War On Terror (WOT / Perang melawan terorisme) tidak sedikit aktifis da’wah Islam yang menyerupai menjadi salah tingkah dalam menjalankan aktivitas da’wah. Pasalnya kian tahun kian terang bahwa istilah War On Terror hanyalah sebuah istilah yang faktanya di lapangan berbicara lain. Hampir semua masalah yang diberi label agresi teror selalu saja mengakibatkan umat Islam sebagai fihak tertuduh. Bila aktivitas yang serupa dilakukan oleh bukan muslim media Barat menyerupai seragam untuk tidak menyebutnya sebagai tindakan agresi teror. Bila sebuah agresi jelas-jelas bermuatan teror namun yang melaksanakan orang Barat bukan muslim, maka niscaya ada penjelasannya berdasarkan media Barat. Sebaliknya bila sebuah kejadian masih bermotif multiinterpretasi maka beliau segera dilabel sebagai agresi teror hanya sebab pelakunya berasal dari kalangan muslim.

Semua hal di atas kesudahannya mengarah kepada suatu public opinion making (pembentukan opini umum) bahwa agresi teror identik dengan ummat Islam dan bahkan aliran Islam itu sendiri. Namun demikian penguasa global selalu membantah bahwa proyek WOT merupakan aktivitas memerangi ummat Islam apalagi agama Islam. Akhirnya mereka merumuskan berdasarkan kemauan mereka sendiri apa yang merupakan aliran Islam dan siapa yang merupakan ummat Islam. Islam, kata mereka, yaitu agama yang mengajarkan cinta hening dan pemeluknya alias ummat Islam yaitu mereka yang memahami jihad sebagai aktivitas melawan hawa nafsu. Sehingga bilamana ada orang mengaku muslim namun melaksanakan tindak kekerasan atas nama jihad, berarti yang mereka lakukan itu bukanlah serpihan dari aliran Islam dan pelakunya bukanlah serpihan dari ummat Islam.



Karena hal ini berulang terus maka lambat-laun terbentuklah suatu opini bahwa siapa saja yang mengaku muslim dan terlibat dalam melaksanakan jihad dalam bentuk tindak kekerasan (baca: mengangkat senjata) berarti ia yaitu teroris dan aksinya disebut terorisme. Malah siapa saja yang mengaku muslim dan baiklah –walaupun tidak pernah terlibat- dengan jihad dalam bentuk tindak kekerasan berarti ia yaitu pendukung teroris dan pendukung agresi terorisme. Dan sebaliknya, siapa saja yang mengaku muslim dan tidak pernah terlibat dan tidak baiklah dengan jihad dalam bentuk tindak kekerasan berarti ia bukanlah teroris dan bukan pendukung terorisme. Apalagi kalau ia memiliki pandangan bahwa jihad bermakna usaha melawan hawa nafsu berarti inilah muslim yang sejati, muslim yang moderat berdasarkan kacamata dunia modern dan penguasa global.

Opini menyerupai di atas begitu berpengaruh disebarkan oleh media barat dan pro-barat sehingga sebagian aktifis da’wah pun turut menyuarakannya laksana beo. Maka muncullah di tengah ummat Islam para da’i yang menyerukan semoga menjadi muslim sebagaimana dikehendaki oleh penguasa global barat remaja ini. Hendaknya ummat Islam menjadi muslim moderat yang cinta hening yang bila berbicara jihad berarti maknanya ialah melawan hawa nafsu. Jangan pernah anggap jihad mengangkat senjata sebagai serpihan dari Islam moderat, bahkan serpihan dari Islam samasekali. Mereka inilah yang barangkali dimaksudkan oleh Rasulullah sebagai telah mengekor kepada fihak jago Kitab kemanapun mereka pergi bahkan hingga ke lubang biawak sekalipun.

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا

جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Kamu akan mengikuti sikap orang-orang sebelum kau sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kau ikut memasukinya.” Para sobat lantas bertanya, “Apakah yang anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhary)

Maka muncullah di tengah ummat para aktifis da’wah yang menyeru kepada Islam berdasarkan kemauan penguasa global. Mereka menjadi agen-agen pendukung WOT dalam pengertian memerangi muslim mana saja yang memaknai Islam sebagai suatu aliran jihad fii sabilillah dalam pengertian perlawanan terhadap thaghut tiran dan penjajah. Namun oleh para aktifis da’wah mereka itu dilabel sebagai kaum radikalis dan teroris. Para aktifis da’wah ini tidak menyadari bahwa mereka telah masuk ke dalam perangkap agenda penguasa global yang sejatinya memusuhi Islam dan kaum muslimin. Para aktifis da’wah ini telah salah menanggapi pernyataan George Bush yang pernah dilontarkan beberapa tahun yang kemudian yang berkata: ”It’s either you are with us (the international community) or with them (the terrorists)…!” (Kalian bersama kami -dunia internasional-atau bersama mereka -kaum teroris). Maka dengan naif dan konyolnya para aktifis da’wah tersebut menentukan bersama penguasa global. Jangan-jangan mereka telah memposisikan diri menjadi menyerupai yang Nabi sinyalir di hadapan sobat Hudzaifah, yaitu menjadi:

دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ

Dai – dai yang mengajak ke pintu Jahanam.(HR Bukhary-Muslim)

Namun alhamdulillah di dalam badan ummat Islam masih saja Allah pastikan hadirnya para da’i sejati yang di tengah zaman penuh fitnah ini tetap memelihara identitas dan da’wah Islamiyyah yang otentik sebagaimana dikehendaki Allah dan RasulNya. Mereka yaitu para aktifis da’wah yang di satu sisi faham bahwa Islam memang aliran yang cinta damai. Dan pemahaman mereka tidak ada kaitan dengan opini yang ingin dibangun oleh penguasa global.

Para da’i ini faham bahwa Islam cinta hening sebab memang demikianlah Allah ajarkan dan Rasulullah contohkan. Namun pada dikala yang sama para da’i sejati ini juga tetap menjelaskan tanpa keraguan bahwa Islam yaitu aliran yang mengharuskan pemeliharaan izzul Islam wal muslimin (ketinggian aliran Islam dan kehormatan ummat). Sehingga para da’i murni ini tetap mengajarkan makna bergotong-royong dari segenap aliran Islam, termasuk al-jihad fii sabilillah. Di satu sisi Nabi menyuruh kita semoga senantiasa berharap kepada Allah keselamatan, ketenteraman dan kedamaian. Namun pada sisi lain Rasulullah juga menyuruh kita bersabar ketika musuh sudah berada di hadapan kita. Jangan lari. Sebab nirwana berada di bawah kilatan pedang.

أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا

لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ

“Hai manusia, janganlah berangan-angan ingin segera bertemu musuh dan mohonlah kepada Allah keselamatan. Namun kalau kalian telah berhadapan dengan musuh, maka bersabarlah. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya syurga di bawah naungan/kilatan pedang…”(HR Bukhary)

Berdasarkan hadits di atas terang terlihat bagaimana Nabi menganjurkan seorang muslim untuk mengutamakan keselamatan dan kedamaian. Namun pada hadits di atas pula Nabi peringatkan semoga kita jangan lengah dan pasif bila sudah berhadapan dengan musuh. Bahkan di penghujung hadits terang sekali bahwa Nabi menginginkan semoga setiap muslim senantiasa berada dalam keadaan siaga. Suatu kesiagaan yang boleh jadi hingga membutuhkan pengerahan senjata berperang di jalan Allah demi memelihara izzul Islam wal muslimin.

Berarti jelaslah, saudaraku. Pilihan hanya ada dua: menjadi seorang muslim lemah-lembut sambil sadar bahwa kapanpun kewajiban jihad telah muncul, maka ia harus bersegera menyambutnya. Atau menjadi menyerupai para dai yang mengajak ke pintu Jahanam. Yaitu mereka yang membeo kepada pihak penguasa global kafir dari kalangan jago Kitab. Mereka ikut menyuarakan apa saja yang disuarakan penguasa global sehingga kalau disuruh masuk ke lubang biawak sekalipun, maka para da’i palsu inipun ikut saja. Na’udzubillahi min dzaalika.

eramuslim.com

Monday, 3 February 2020

Dimanakah Ummat Islam?

 Segala kekuatan makar dan unsur jahat di Indonesia, kini secara intensif sedang mengokohkan eksistensinya. Pada 22/4/2016 lalu, kekuatan zionis menggelar perayaan paskah, yaitu perayaan keluarnya bani Israel dari Mesir ketika dikejar Fir’aun, di Hotel PullmanJakarta. Hadir dalam perayaan tersebut wakil Menlu AS Antony Blinken, Ketum Ikatan Muballigh Seluruh Indonesia, Yayan Hendrayana, Zawawi Suat, dan Ketum GPII Karman. Selain zionis, kekuatan makar komunis gencar propagandakan bangkitnya PKI melalui kaos bergambar palu arit dengan slogan, PKI dipalu makin maju, PKI diarit makin bangkit’. Dan yang mengkhawatirkan, kerja sama PDIP dan NU pimpinan Said Aqil Siradj untuk mengganti Pancasila dengan “Kembali ke Pancasila 1 Juni 1945”. Sementara kekuatan jahat Kristen, dengan banyak sekali manuver Ahok dan Hari Tanoe mengelabui umat Islam untuk meraih ambisi kepemimpinan Indonesia. Tokoh ormas Islam yang tertipu, Syafii Maarif dan Said Aqil Siradj mendukung mereka dengan pernyataan kekafiran: “puluhan juta malaikat yang diutus Yesus akan melindungi Ahok,” kata Syafii. Senada dengan itu, Said Aqil bilang, “lebih baik pemimpin kafir yang jujur daripada muslim koruptor.”
Kini bangsa Indonesia sedang mencicipi akhir jelek dari penyimpangan terhadap agama Allah. Berbagai kerusakan menimpa rakyat negeri ini. Kyainya rusak, pejabat negara tidak bermoral, wanita jadi korban zina, cowok dan anak digrogoti narkoba, sedang penguasanya zalim menggadaikan kedaulatan negara pada asing, Komunis China.
Dimanakah umat Islam? Sudah menjadi tabiat semua umat beragama yang menyimpang dari agama Allah, niscaya akan dikalahkan oleh kekuatan jahat. Hari ini umat Islam sedang merana, galau, menderita lahir batin menyaksikan sepak terjang orang-orang kafir. Sebagai kekuatan penjaga agama Allah dan kedaulatan NKRI, umat Islam merasa tidak berdaya, tersingkir dari kekuasaan negara dan dikroyok orang-orang kafir.
Dalam kondisi lemah tak berdaya, bagaimana memenangkan agama Allah berdasarkan sunnatullah, bukan berdasarkan angan-angan dan hawa nafsu kita, dan bukan pula berdasarkan hukum dan UU parpol yang terus menerus mengkhianati aspirasi rakyat? Bagaimana pula melahirkan generasi muda dengan predikat ‘fityatun amanu birabbihim wazidnahum huda (pemuda-pemuda beriman yang diberi petunjuk oleh Allah, surat Alkahfi, 13), yang dapat menginspirasi kekuatan umat Islam untuk bangun menyuarakan kebenaran dan meraih kekuasaan negara sesuai syariat Islam?
Proses kemengan itu tidak mudah. Harus ada figur orang-orang shalih, yang terpuji dan teruji pengalan dan ilmunya, yang siap berkorban memperjuangkan agama Allah.
“Sungguh segala yang ada di muka bumi ini Kami jadikan hiasan bagi bumi. Dengan kesenangan dunia ini Kami menguji manusia, siapa di antara mereka yang paling taat kepada Allah. (QS Al-Kahfi (18) : 7).
Renungkan ayat ini dan perhatikan kondisi negara-negara berbasis lebih banyak didominasi muslim di seluruh dunia. Apakah dengan segala kekayaan dunia yang dianugerahkan Allah, berupa tanah yang luas dan subur makmur, keadaan pemerintahannya lebih baik dari negeri kafir? Ternyata penguasanya bukan mengajak rakyatnya bertakwa pada Allah, malah mengadopsi sistem kuffar, sehingga tidak dapat menjadi rujukan yang baik, maju, sebaliknya menjadi ejekan sebagai negeri terbelakang, intoleran, zalim, tidak aspiratif dllnya. Sementara rakyatnya digiring keprilaku hewan, tidak bermoral, membenci agama, sehingga banyak sekali azab Allah tiba menerpa.
Bukan itu saja, perilaku para penguasa pada rakyat muslim mencontoh kejahatan penguasa kafir. Umat Islam yang berjihad melawan orang kafir malah diposisikan sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Diseru biar menegakkan syariat Islam dituduh radikal. Para ulama, kyai, dan tokoh ormas, ramai-ramai menjadi orang munafik. Di Jawa Timur muncul gerakan anti khilafah, menurunkan spanduk berbendera Lailaha illallah, sementara mereka bungkam menyaksikan kesesatan Syiah dan kejahatan komunis yang kini muncul dengan slogan ‘anak zaman melahirkan zaman baru’ melalui seminar, simposium, pemutaran film PKI dll.
Di Indonesia, penderitaan paling dahsyat yang dirasakan umat Islam sehabis penjajahan kolonial yaitu munculnya orang-orang kafir bermental komunis menjadi gubernur, bupati, walikota, memimpin lebih banyak didominasi umat Islam.
Oleh alasannya yaitu itu, memunculkan model pemimpin yang taat beragama, jujur, punya kapasitas negarawan, pemberani, di tengah-tengah kebobrokan umat Islam dan kecongkakan orang kafir, sangat penting dan prinsipil. Seorang pemimpin dengan huruf “basthatan fil ilmi wal jismi (luas ilmunya, salih, dan berpengaruh mental serta fisiknya)”.
Pemimpin menyerupai dijanjikan: “Tatkala Ibrahim diuji oleh Tuhannya untuk melakukan beberapa perintah, maka ia melakukan semua perintah itu. Allah berfirman: “Wahai Ibrahim, sungguh Aku niscaya mengakibatkan engkau sebagai rasul Allah bagi kaummu.” Ibrahim berkata: “Apakah juga ada di antara keturunanku yang dijadikan rasul Allah?” Allah berfirman: “Wahai Ibrahim, keturunanmu yang berbuat syirik tidak akan memperoleh janji-Ku untuk menjadi rasul-Ku bagi umat manusia.” (QS Al-Baqarah (2) : 124)
Jika pemimpin yang muncul tidak mempunyai ketaatan pada Allah, hingga selesai zaman kita tidak akan ditolong oleh Allah. Apalagi kini muncul tokoh-tokoh munafik yang justru menyodorkan kepemimpinan dipegang orang kafir, Allah bertambah murka. Jika ingin memperbaiki Indonesia dengan meminta tolong pada orang kafir, baik kafir China, Rusia, atau Amerika, maka sama saja dengan mengundang azab dan malapetaka.
Kepemimpinan Islam boleh jadi akan muncul dari sosok ulul albab yang berasal dari pesantren, perguruan tinggi tinggi, atau bahkan cendekiawan lulusan Harvard atau Timur Tengah. Selama mereka berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallalahu alaihi wa sallam. Sebab pangkal kelemahan dan kehancuran umat Islam alasannya yaitu meninggalkan dua warisan ini: Qur’an dan Sunnah. Maka adanya upaya para intelektual muslim untuk bekerja keras melahirkan pemimpin muslim yang berpegang teguh pada adat dan syariat Islam haruslah didukung sepenuhnya oleh umat Islam, bukan dijegal dengan alasan politik atau kepentingan pragmatis oportunistik.
Serial kajian malam Jum’at, 28/4/2016, di Masjid Raya Ar Rasul, Jogjakarta.
Narsum: Amir Majelis Mujahidin Al Ustadz Muhammad Thalib.
Notulen: Irfan S Awwas
(*/arrahmah.com)
Judul mengalami perubahan
Judul Asli : Pemimpin yang terpuji dan teruji