Thursday, 7 November 2019

Mengulas Kode Tauhid Dalam Surat Al-Baqarah (Bagian I)

*Oleh: Khalid Muddatstsir, Lc.

Image:Google
Tauhid merupakan perkara yang sangat urgen bagi kehidupan Muslim. Bagaimana tidak, keselamatan seorang Muslim di alam abadi kelak sangat tergantung kepada keabsahan tauhidnya. Fakta dakwah Sayyidina Muhammad Saw. periode Mekah yang sangat menekankan kepada kepercayaan Islam serta membumikan Laa ilaaha illa Allah menjadi bukti vitalnya tugas tauhid.

Al-Quran sebagai kitab suci ajaran hidup insan dipenuhi dengan ayat-ayat tauhid. Ketika mentadabburi Al-Quran akan didapati ayat-ayat yang mengindikasikan perihal keesaan Allah. Indikator yang mengetuk kebijaksanaan dan hati secara bersamaan yang membuat insan semakin sadar akan keagungan Tuhan Yang Esa dan kelemahan dirinya selaku hamba.

Tak terkecuali Surat Al-Baqarah, surat terpanjang dalam Al-Quran berisi isyarat-isyarat besar lengan berkuasa yang menegaskan perihal ketauhidan. Surat Al-Baqarah yaitu surat Madaniyah yang ayatnya berjumlah 286. Rasulullah Saw. pernah mengabarkan perihal keutamaan surat Al-Baqarah, dia berkata, “Janganlah kau jadikan rumahmu menyerupai kuburan, bahu-membahu setan akan lari jikalau dibacakan surat Al-Baqarah.” (H.R. Muslim)



Penciptaan Semesta

Allah Swt. Berfirman dalam Al-Baqarah ayat 21-22:
“Wahai manusia, sembahlah Tuhan yang membuat kau dan orang-orang sebelum kau semoga kau bertakwa (21). Dialah yang mengakibatkan bumi sebagai hamparan bagimu, dan langit sebagai atapnya. Dan dia menurunkan hujan dari langit, kemudian dia menghasilkan buah-buahan sebagai rezeki bagimu, maka janganlah kau mengakibatkan sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui (22).”

Allah Swt. Memulai ayat di atas dengan menyeru kepada semua insan tanpa terkecuali. Mengajak mereka untuk menyembah-Nya yang membuat segala sesuatu. Juga mengajak mereka untuk tidak menyekutukan-Nya. 

Kenapa demikian? Allahlah yang telah membuat mereka dari ketiadaan. Alah yang mengatur semuanya sehingga kemudian menjadi sebuah formasi insan dari generasi ke generasi. Tidak ada insan yang mengklaim punya andil terhadap penciptaan dirinya sendiri atau insan lainnya. Tidak satu makhlukpun yang mengaku membuat semesta, lantaran yang demikian memang sebuah kemustahilan. Terus kenapa masih ada yang ingkar? Apakah mereka kehilangan kemampuan untuk memaksimalkan fungsi kebijaksanaan mereka? Wal ‘iyazu billah. 

Selanjutnya, jikalau insan tidak menyia-nyiakan potensi kebijaksanaan yang dianugerahi Allah, mereka akan hingga pada kesimpulan bahwa Allah yaitu al-Mubdi’ (Pencipta sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya). Sehingga jikalau dilanjutkan, akan hingga pada titik bahwa Allah itu Esa. Faktanya tidak terbantahkan kecuali mereka yang sudah tertutup mata hati dan tersumbat kebijaksanaan pikirannya. 

Jika insan mau melihat sekelilingnya mereka akan mendapati bumi yang terhampar luas, langit tanpa tiang yang tinggi menjulang. Juga awan yang menumpahkan air secara terukur dan teratur yang mengakibatkan hamparan tanah bumi menjadi subur. Makhluk hidup sanggup mencicipi banyak sekali kenikmatan duniawi dari buah-buahan dan bermacam-macam jenis makanan. 

Sungguh yang demikian tidak mungkin diatur dan dilakukan oleh manusia. Karena jikalau itu yaitu ulah manusia, sudah barang tentu insan lain juga bisa (berpotensi) melakukannya disebabkan adanya persamaan unsur dan komponen yang menyusun mereka. Akal sehat insan akan menafikan seluruh klaim demikian. Seluruh keajaiban semesta kembali ke satu muara, Allah Swt. Sang Pencipta. 

Kekuasaan Mutlak

Allah berfirman dalam Al-Baqarah ayat 107:
“Tidakkah kau tahu bahwa Allah mempunyai kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah.”

Ayat ini menyadarkan insan akan posisinya sebagai hamba. Allah Swt. menegaskan bahwa tidak ada penolong bagi hamba selain-Nya. Semua kekuasaan yaitu milik Allah. Allah yaitu pemilik timur dan barat (Q.S. Al-Baqarah; 115). Kemanapun insan berpaling baik dengan mata maupun dengan hati, maka ia akan mendapat Allah. Allah yang berbeda dengan Makhluk-Nya. Laisa Kamislihi Syai’un.

Adalah sebuah kebodohan mereka yang menuduh bahwa Allah mempunyai anak (Q.S. Al-Baqarah; 116), Maha Suci Allah dari yang mereka sangkakan. Kenyataannya seluruh makhluk yaitu hamba Allah, tunduk kepada keagungan-Nya, patuh lantaran kesempurnaan-Nya, berada di bawah kekuasaan-Nya 

Tuduhan bahwa Tuhan mempunyai keturunan sangat bertolak belakang dengan keabsolutan dan kesucian Zat Allah dari perkara yang tidak layak bagi-Nya Subhanah. Selain juga berbenturan dengan kebijaksanaan sehat. Adalah sebuah keanehan berpikir dikala di satu sisi mengakui-Nya sebagai tuhan, tapi di sisi lain menyamakan Ia dengan makhluk fana yang serba terbatas. Ini yaitu kesesatan yang nyata. 

Bagaimana tidak, anak secara manusiawi membantu dan mengangkat martabat orang tuanya, menjadi penerus gen mereka supaya tidak terputus. Orang bau tanah niscaya membutuhkan kepada si anak di hari bau tanah mereka, di masa uzur mereka. Apakah hal demikian yang akan disandarkan pada Zat Tuhan Yang Agung? Sungguh tidak layak. Allah Swt. lebih andal dari hal tersebut. Itu yaitu sebuah kekurangan yang tidak mungkin dimiliki oleh Zat Allah. 

Al-Iftiqar Alamatu Adh-Dha’fi, membutuhkan kepada sesuatu yaitu tanda kelemahan, begitu kata ulama tauhid. Manusia membutuhkan yang lain lantaran mereka lemah. Makhluk lemah tidak layak jadi tuhan, lantaran Zat Tuhan pastinya Maha Kuasa dan tidak membutuhkan kepada siapapun. 

Nah, Jika demikian, sanggup disimpulkan bahwa Allah tidak mungkin mempunyai anak (Maha Suci Allah dari sangkaan mereka). Karena jikalau itu terjadi, akan menghilangkan marwah ketuhanan-Nya. Berketurunan yaitu ciri makhluk. Sedangkan Allah berbeda dengan makhluk. Sungguh sebuah kemustahilan sangkaan cacat tersebut. Wallahu A’lam.[]

*Alumni Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar Mesir. 

Thursday, 3 October 2019

Golput Dalam Pandangan Islam

Oleh: Ali Akbar Alfata*

(Image: pixabay app)


Tanggal 17 April 2019 nanti merupakan hari bersejarah bagi rakyat Indonesia, pada hari itu kita akan melakukan suatu pesta demokrasi yaitu pemilu. Pemilu sendiri akan dilaksanakan di banyak sekali TPS yang tersebar di masing-masing daerah. Tentu saja, euforia pemilu tidak hanya dirasakan oleh paslon atau timses saja, namun pemilu yakni milik seluruh rakyat Indonesia dimanapun mereka berada, dan pastinya setiap orang sudah memeiliki pilihan, baik itu pilihan di wakil rakyat ataupun pilihan presiden Republik Indonesia. 

Dalam setiap perjalanan pemilu, dari dulu, selalu ada saja ada tindakan yang dilakukan yang menyalahi undang-undang negara Republik Indonesia. Seperti “serangan fajar”, money politic atau muncul orang-orang yang disebut golput (red; golongan putih). Mereka dapat disebut sebagai rakyat Indonesia yang sah dan mempunyai hak bunyi pada pemilu, tapi menentukan untuk tidak memakai hak suaranya pada pesta demokrasi tersebut dengan banyak sekali alasan. Ini merupakan tindakan yang sangat bermasalah lantaran merusak tatanan sistem yang telah dikelola oleh penyelenggara pemilu, dan harus ditemukan solusi untuk meminimalisir golput. 

Kalau kita menelisik lebih jauh, data golput pada pemilu 2014 lalu, partisipasi rakyat pada pemilihan presiden hanya mencapai 69,58 persen, sementara pada pemilu legislatif berkisar pada 75,11 persen. Walaupun bukan angka yang buruk, namun sebenarnya mengalami penurunan yang cukup besar dibandingkan pemilu-pemilu yang lalu. 

Jika kita ingin menelusuri lebih dalam lagi, golput sendiri memilki banyak sekali kondisi. Secara pembagian bergairah dimensi ini mungkin berberntuk sebagai berikut.

Pertama, adakalanya seorang pemilih yang sudah terdaftar di DPT (daftar pemilih tetap) tiba ke TPS, tapi tidak menentukan pilihannya. Ini yakni tindakan yang sia-sia dan sangat merugikan. Pemilih  tiba ke TPS hanya sebagai formalitas biar tidak dianggap golput saja. Hal ini mengimgatkan kita pada insiden tahkim dimana muncul satu fatwa yang tidak membela Ali bin Abi Thalib ataupun Muawiyah, mereka lebih menentukan keluar. 

Kedua, ada juga pemilih yang dapat dibilang merasa ragu buat memilih, sehingga yang mereka lakukan yakni menentukan lebih dari satu pilihan. Tentu saja lagi-lagi ini yakni hal yang sangat mengganggu alasannya yakni sudah merusak aturan yang telah ditetapkan. Padahal, Rasulullah saw pernah bersabda : 

دع ما يريبك الى ما لا يريبك 

“tinggalkanlah sesuatu yang membuatmu ragu dengan yang tidak membuatmu ragu” 

Islam mengajarkan untuk meyakini hal yang kita inginkan. Kita diajarkan untuk meninggalkan rasa ragu, tentu saja hal ini bermakna lebih luas lagi baik itu meninggalkan keraguan dalam ibadah, atau dalam bermuamalah, dan lain-lain. 

Ketiga, mereka yakni pemilih yang terdaftar tapi tidak tiba ke TPS untuk menentukan dan memakai hak suaranya. Alasannya beragam, baik itu malas, dan lain-lain. Padahal satu suaranya pada kontes demokrasi tersebut sangat krusial. 

Bersandar pada hal-hal yang sudah dijelaskan tadi, maka kita dapat memahami bekerjsama golput itu merupakan tindakan tidak terpuji, lantaran merusak tatanan peraturan yang telah disusun oleh penyelenggara pemilu, tindakan menyerupai ini sangat tidak dibenarkan. Dalam pandangan islam sendiri, golput merupakan bab dari pelanggaran. Karena mereka yang golput telah melawan perintah Allah dalam surat An-Nisa ayat 59. 

أطيعوا الله و أطيعوا الرسول و أولي الأمر منكم 

“taatilah Allah dan Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kalian” 

Mayoritas ulama menafsirkan kata ulil amri sebagai pemimpin atau pemerintah. Negara kita Indonesia telah menentukan demokrasi sebagai tatanan negara, hal ini memang telah menjadi konsensus pemerintah Indonesia. Mematuhi aturan yang telah ditetapkan yakni hal yang harus dilakukan oleh setiap rakyatnya, dan ini juga yakni perintah agama. 

Ayat ini menjelaskan ihwal wajibnya bagi setiap rakyat untuk mematuhi ulil amri atau kepada yang diberi mandat untuk memerintah. Menaati kepala negara yakni wajib hukumnya, sehingga menentukan pemimpin pun dapat menjadi wajib hukumnya lantaran jikalau tidak menentukan pemimpin, kita tidak dapat menaati pemimpin lantaran pemimpinnya tidak ada. Dengan demikian, aturan mengangkat seorang pemimpin wajib juga hukumnya. 

Bahkan, pada tahun 2000, majelis fatwa mesir atau Dar Ifta’ Mishriyyah mengeluarkan fatwanya ihwal golput. Majelis fatwa tersebut mengeluarkan fatwa haram golput. Karena, pada setiap kesempatan, islam selalu mengajarkan umatnya untuk berlaku jujur dan amanah dan untuk menjauhi perbuatan dusta dan khianat. Islam juga mengajarkan kita untuk selalu melakukan amanah yang telah diberikan kepada kita apapun bentuk amanah yang diberikan. Dalam surat An-Nisa ayat 58 Allah berfirman 

إن الله يأمركم أن تؤدّوا الأمانات الى أهلها 

“ sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanah kepada Ahlinya” 

Maka, mereka yang tidak menggunakaan hak suaranya secara syara’ dinggap berdosa. 

Oleh alasannya yakni itu, kita sebagai orang mukmin serta muslim tidak akan bangkit pada barisan golput, kita akan memakai hak bunyi kita dengan baik. Memilih pemimpin juga bukan sekedar hak yang diberikan pada kita, satu sisi yakni kewajiban bagi kita. Tentu saja, kita akan menentukan pada pemilu yang tinggal menghitung hari dengan jujur dan adil. 

*Penulis yakni Mahasiswa tingkat I, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir

Al-Quran Dan Pesona Sebait Rasa Cinta.


Oleh: Zaky Mubarrak, Lc*
Suasana Markaz Tahfizh Al-Quran dengan Syeikh Abdul Qadir al-Djiboti. (Foto: Dok. KMA Mesir)


Siapa sih yang tidak ingin menjadi hafiz Al-Quran di usia muda. Saya, anda dan kita semua mempunyai impian yang sama. Toh, ini keinginan dan posisi yang sangat mulia. Ditambah semangat api bagi kita semua di usia yang masih seumur jagung ini. 

Namun terkadang, itu semua terhenti dan tak bisa tercapai hanya sebab faktor-faktor kecil yang sebetulnya bisa dilewati dengan mudah. Contoh rasa cepat bosan misalnya, tak sabaran, atau juga tersendat sebab dihijab oleh aktivitas yang tidak penting. 

So, kenapa hal-hal yang demikian itu bisa terjadi? 

Yang harus kita ketahui, penyebab fundamental bagi seorang penghafal Al-Quran ialah terburu-buru ingin menuntaskan hafalannya dengan perjuangan yang tak seirama. Seperti pepatah Aceh; “U Bek beukah, kuah beu leumak” (Ingin kuahnya lezat, namun santan tak punya). Mungkin itu kalimat yang sempurna untuk menggambarkan hasrat bagi penghafal Al-Quran dengan minim usaha. 

Makanya di zaman kini banyak dari kita sibuk mencari metode cepat menghafal Al-Quran. Yang hasilnya ia hanya menghafal metode saja, namun tidak dengan hafalan Al-Qurannya. Padahal kunci utama untuk bisa menjadi seorang penghafal Al-Quran ialah cinta pada Al-quran itu sendiri. Masak iya, cinta tapi durasinya dipercepat tak karuan. 

Kita dan Al-Quran itu mirip sepasang kekasih. Saling memahami dan memberi rasa. Dia tahu kita dan kitapun tahu akan dirinya. Dan jadinya muncullah cinta yang berkembang menjadi menjadi sebait rasa hingga memberi asa pada satu sama lain. 

Dalam merasa, cinta merupakan modal utama dalam menjalin hubungan, namun itu saja sebetulnya tak cukup. Perlu adanya semangat yang terarah dan waktu yang teratur. Umpamanya sebuah kompor, yang sebesar apapun api kalau kualinya tak diletakkan di atasnya maka gulai tak akan matang juga. 

Juga perlu disadari bahwa menghafal Al-Quran dan melancarkan hafalannya sebetulnya bukanlah tujuan dari seorang hafiz Al-quran itu sendiri. Tapi itu semua ialah wasilah semoga kita bisa hidup dan bernafas dengan Al-Quran. 

Tapi, jangan diambil pusing dikala hafalan tak lancar. Terus ulang dan buat agenda rutin, biasakan diri dengan agenda di bawah bimbingan seorang mursyid dan guru. Insya Allah istiqmah itu akan tiba dengan sendirinya. sebab istiqamah ialah pecahan lain dari kebiasaan. 

Jika ditilik lebih dekat, menghafal Al-Quran sebetulnya pecahan dari proses berkembangnya insan dari dari lahir, terus merangkak, berjalan, gres kemudian ia bisa berlari. Maka nikmatilah proses sebuah proses PDKT dengan Al-Quran. 

Secara umum ada tiga fase dalam mempelajari Al-Quran: 
1. Qiraah 
2. Tartil 
3. Tilawah. 

Jenjang Qiraah ialah jenjang awal di mana sang hafiz mengumpulkan karakter demi karakter untuk dingat. Dan ini sesuai dengan makna dasar qiraah itu sendiri yaitu jam'a atau mengumpulkan. Masa inilah kita perlu belajar dan penuh kesabaran. 

Di jenjang selanjutnya ada tartil, di mana seorang hafiz mulai mencoba dengan menghaluskan hafalannya baik dan benar sesuai kaedah tajwid. Dan sayangnya di masa ini bnyak yang merasa sudah cukup dan berhenti terlalu dini. 

Sedang di pecahan final ada yang namanya tilawah. Di jenjang ini sang hafiz mulai mencapai maqam atau posisi tadabbur dalam membaca Al-Quran, mengkaji makna dan menghayatinya. 

Jadi, siapapun yang sabar melewati tahapan ini semua insya Allah sampailah ia pada maqam sang Hamil Al-Quran sejati. Yang perkataanya ialah Al-Quran, langkahnya Al-Furqan, dan hidupya bagaikan Al-Zikr. 

*Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Tafsir, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Wednesday, 2 October 2019

Ngemis, Kok Punya Toyota Vios?

Oleh: Muhammad Dany*
(Image: Huffpost.com)

Sudah dengar belum ihwal pengemis yang baru-baru ini viral naik kendaraan beroda empat Toyota Vios di kota Lhoksemawe? Katanya sih ia sempat mengamuk ketika direkam warga. Bahkan beredar kabar kalau ia sudah ditangkap, alasannya yakni pada ketika itu ia sering ada di daerah biasa mengemis. 

Hampir setiap tahunnya terutama pada bulan ramadhan, sebagian masyarakat mengeluh karena pengemis dan gelandangan semakin bertambah terutama di daerah yang ramai pengunjungnya. Maka tidak heran mereka sering disebut sampah masyarakat. jikalau ditilik lebih jauh, bukankah bekerja ibarat di warung makan ataupun di barber shop lebih mulia daripada mengemis? banyak gajinya, dan bahkan bisa mencapai 150.000 perharinya. Apa mungkin mereka menentukan untuk mengemis dikarenakan honor melebihi dari itu semua.

Apalagi jikalau masuk bulan ramadhan yang identik dengan bulan bersedekah. Katanya bersedekah di bulan ini akan digandakan jawaban menjadi 700 kali lipatlebih banyak dibandingkan bulan lainnya. Pastilah hal ini memancing adrenalin para pengemis semakin optimis untuk mengemis.

Biasanya shalat tarawih pada minggu-minggu pertama masjid mempunyai penuh dan menurun beriringan simpulan ramadhan hingga tinggal satu shaf. Berbeda halnya dengan pengemis yang saban hari cendrung meningkat. Namun pertanyaannya, apakah ini yang tarawih jadi ngemis? apalagi ketika menjelang berbuka atau sahur tiba, pernah juga dikarenakan banyaknya sedekah yang diberikan, mereka mendapat 4-6 nasi kotak yang tidak habis di makan dalam semalam, disimpan untuk besok  bisa basi, sehingga menentukan memperlihatkan ke pengemis lainnya.

Trus apakah kita mempunyai kewajiban untuk memberi uang kepada pengemis? Bukankah Allah swt telah berfirman pada surat Al-ma’arij : "orang-orang yang didalam hartanya disiapkan bab tertentu, bagi yang meminta dan yang tidak meminta." 

Siapakah sih pengemis itu? Apakah benar bahwa ia sampah masyarakat? Mereka itu memang sering disebutkan begitu oleh kelompok sosial. Hal ini dikarenakan  menjadikan pemandangan yang tak indah dipandang mata.

Indonesia yakni Negara yang kaya, tanah air dan kerikil jadi tanaman. Tentu tidak diragukan lagi negeri yang tanahnya sering disebut-sebut sebagai tanah nirwana yakni negeri yang kaya, pengemis saja bisa beli kendaraan beroda empat Toyota Vios. Apalagi karyawan restoran, barber, tentu BMW lah minimal. Lebih lebih lagi pejabat, lamborgini  pastilah bisa dimiliki. Tapi justru hal ini yang sangat diharap-harapkan tidak berjalan ibarat mestinya. Bahkan hingga kini tidak ada karyawan warung makan ataupun barber shop yang mempunyai mobil, jangankan BMW, avanza saja tidak punya. Begitu pula pejabat jangan kan beli lamborgini, beli Toyota vios aja masih ada yang second bahkan kredit. 

Tidak heran apabila di kota-kota besar ibarat Banda aceh, Jakarta, juga kota lainnya, melarang rakyatnya untuk menyumbang kepada pengemis. Larangan ini tidak bermaksud melarang seorang berinfak baik. Melainkan untuk mengurangi pengemis di kota-kota besar. Sehingga mereka sanggup beralih ke profesi lain. Yang anehnya lagi, ketika ditangkap mereka berjanji tidak mau berhenti mengemis kecuali diberi honor 3.500.000 per-bulanny. Bayangkan, berarti selama ini honor mereka melebihi itu? Makara jangan kaget kalau pengemis semakin hari semakin bertambah. 

“Barang siapa meminta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seakan-akan ia memakan bara api”(HR.Ahmad). Hadis ini tentu sangat menyindir pengemis abad modern ini. Hadis yang seharusnya menjadi pedoman umat muslim kini digunakan diberbagai Negara non-muslim ibarat jepang, finlandia, dan Eropa. Seharusnya sumber aturan sehabis Al-Qur’an ini harus diamalkan sebagaimana mestinya. Selain berdosa hal ini juga menghilangkan gambaran orang miskin lainnya yang benar-benar membutuhkan bantuan. 

Banyak orang tidak bersabar atas kefakirannya. Tak kalah banyak pula orang tidak bersyukur atas kekayaannya, itulah sifat insan “sesengguhnya insan itu yakni ciptaan yang suka mengeluh, apabila ditimpa petaka mereka mengeluh, apabila diberi kebaikkan ia sombong” (Al-maarij: 19-21).

Ayat ini sungguh telah terbukti pada kedua orang fakir di masa Rasulullah, dialah Tsa’labah dan Qarun yang awalnya ta’at. standar kefakirannya adalah, ketika selesai shalat berjama’ah Tsa’labah pribadi segera pulang tanpa berzikir bersama, sebagaimana sahabat lainnya. Bahkan sempat menciptakan nabi penasaran. Setelah ditanyakan, ternyata Tsa’labah hanya mempunyai sehelai sarung yang harus dibagikan bersama sang istri ketika beribadah.

Dengan kondisi tersebut Tsa’labah meminta kepada Rasulullah biar didoakan sehingga dipermudahkan rezeki untuknya. Namun rasulullah menolak permintaannya. Tsa’labah pun terus mendesak keinginannya itu hingga alhasil diiyakan oleh Rasulullah. Namun pada alhasil Tsa'labah ingkar atas janji-janji manisnya itu. Sama ibarat sebagian pemimpin kita sebelum menjabat kesepakatan ini kesepakatan itu ketika sudah terpilih lupa akan kesepakatan janjinya dulu. 

Seorang tsa’labah seharusnya menjadi pelajaran bagi kita selaku umat simpulan zaman. Seorang Tsa’labah yang populer sangat alim saja sanggup termakan dengan kekayaan, apalah kita umat kiamat yang bahkan ketika miskin shalat ditinggalkan, Kebohongan dilakukan dan  berharap ketika kaya sanggup bersyukur? Sekali-kali tidak.

“Celaka engkau Tsa’labah! Sedikit yang engkau syukuri itu lebih baik dari harta banyak yang engkau tidak sanggup mensyukurinya.”(al-Thabrani).

Hadis ini harus kita ingat selama-lamanya, Sudah seharusnya kita harus bersyukur atas apa yang kita miliki. “Lihatlah orang yang mendapat nikmat lebih sedikit dan janganlah memandang orang yang mendapat nikmat dari pada kamu, maka itu lebih baik untuk memudahkan dalam mensyukuri nikmat Allah.”(HR.muslim). 

*Penulis yakni mahasiswa Daurah Muthawasit Tsani, Fakultas Syariah wa Al-Qanun, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.






Tuesday, 1 October 2019

Tips Hafal Al-Quran Ala Cowok Millenials


*Wawancara Zubirani al-Hafizh


Suasana Menghafal Al-Quran Pemuda Millenials (Image: kmamesir.org)

Sejak kapan Akhi mulai menghafal Al-Quran?



Saya mulai menghafal Al-Quran semenjak Madrasah Tsanawiyah, ketika masuk pesantren di Madrasah Ulum Al-Quran (MUQ) Pagar Air di Aceh.



Apa sih motivasi pertamanya untuk hafal Al-Quran?
Tidak punya motivasi khusus sih. Cuma dulu ketika saya sekolah di asrama, ada seorang guru yang sangat dihormati menyampaikan bahwa hari simpulan zaman nanti Al-Quran akan hilang. Jiwa saya ketakukan, makanya saya hafal semoga tidak hilang. Itu sih pikir saya sebagai anak kecil ketika itu.

Masyaallah, luar biasa akhi. Trus Akhi Zubir kan telah mengkhatamkan Al-Quran. Berita yang kami dapatkan akhi menuntaskan hafalan lengkap 30 juz di kelas 3 Tsanawiyah. Mungkin boleh mengembangkan tips bagi yang ingin memulai hafal Al-Quran?

Begini, hal yang paling utama sekali bagi seorang calon hafizh ialah niat yang benar. Bersihkan hati dari segala kemodusan dunia. Jika niat higienis dan ikhlas, semua akan lancar insyallah. Trus Kemudian berguru tajwid dengan guru murabbi. Nah ini kadang dianggap mudah bagi bawah umur muda newbie dalam menghafal. Padahal penting banget lho. Jika tajwidnya salah maka bacaannya salah. Dan jikalau bacaannya tak benar, maka  bacaan  yang acak-acakan tersebut akan lengket pada seorang hafizh seumur hidup. Dan murabbi itu penting banget, kalau tidak ada murabbi Syaitan dan Jin Ifrit lah yang nantinya jadi murabbi. Be care full Broe.


Sang Pemuda Milenial menerima Juara 1 Nasional di Kedutaan Arab Saudi Jakarta


Trus ada lagi mungkin yang ingin dibagi?

Iya, terus kalau sudah mulai menghafal. Usahakan jauhi hubungan dengan lawan jenis. Karena itu bab dari Ghaddul Bashar atau istilah kerennya J3; Jaga hati, jaga mata dan jaga lisan. Apalagi jikalau hingga pacaran, nauzubillah, malu banget. 

Nah, kalau untuk waktu menghafal bagaimana. Adakah waktu khusus?

Iya. Waktu yang paling baik untuk menghafal Al-Quran ialah sebelum masuk waktu subuh. Setelah tahajud eksklusif mulai menghafal. Jiwa dan pikiran masih sangat segar.

Nasehat bagi yang sudah selesai menghafal. 

Keep Istiqamah, istilah kita disiplin. Beri Al-Quran perhatian khusus. Karena bagi saya pribadi, Al-Quran itu menyerupai kekasih. Jika diduakan ia ngambek. Jika ditinggalkan ia tak akan kembali. Trus yang terakhir ini ya. Jangan menghafal hanya untuk ikut MTQ. Hafalnya semoga kau menjadi sang Hamil Al-Quran; yang hidup dan matimu hanya untuk bersenandung kasih dengannya. 

*Mahasiswa tingkat I Dirasat al-Islamiyyah, Universitas Al-Azhar.  


Saturday, 28 September 2019

Sekularisme Dan Pengaruhnya Terhadap Islam

Oleh: Muhammad Farhan*
Image by J.P.Moreland

Islam yaitu agama kasih sayang bagi semesta alam. Dalam islam, seluruh kegiatan insan mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi telah diatur oleh Allah Swt melalui Al-quran dan hadits. Mulai dari sikap dan sikap seorang insan yang baik. Mulai dari ketenangan dhahir dan batin. Bahkan tata cara masuk dan keluar kamar mandi.

Islam, yaitu agama yang tidak mengikuti zaman. sebaliknya zaman yang akan mengikuti dan berkolaborasi dengan islam. Tidak hanya kegiatan dan acara insan sehari-hari, bahkan mulai aspek rumah tangga hingga sebuah Negara telah Allah menetapkan hukum dan norma-norma keadilan.

Namun dalam beberapa dekade ini, muncul sebuah pemikiran dan gagasan dari Eropa yang mencetuskan bahwa sebuah negara harus terlepas dari ikatan keagamaan. Dalam makna lain, agama tidak boleh ikut campur dalam politik kenegaraan. Pemikiran tersebut yaitu sekularisme.

Pengertian Sekularime
Kata sekular atau sekuler diambil dari bahasa latin, yaitu Saeculum yang mempunyai dua segi pemaknaan, waktu dan lokasi. Penjabarannya ialah waktu yang berinisial kini sedangkan lokasi mengarah pada makna dunia. Adapun sekularisasi yaitu sebuah pemikiran untuk meruntuhkan efek gereja dalam campur aduk pemerintahan dan politik Negara. Pula, sekularisme ialah gerakan yang menyeru kepada kehidupan duniawi tanpa urusan suatu agama.

“Sekularisme,” begitu Sayid Qutub menyatakan, “merupakan pembangunan struktur kehidupan tanpa dasar agama. Karena itu, sekularisme bertentangan dengan islam, bahkan merupakan musuh islam paling berbahaya.”

Akan tetapi, berdasarkan Nurcholish Madjid. Sekulerisme bukanlah inspirasi yang menentang dari iktikad islam. Dan juga tidak men-sekulariskan muslim, sebaliknya sekularisasi bersifat untuk menduniawikan hal-hal dunia bagi seorang muslim dan melepaskan kecenderungan untuk meng-ukhrawikan-Nya.

Jadi, sanggup disimpulkan bahwa pengertian sekularisme berbeda-beda dalam pandangan seorang pemikir dan filosof. Ada yang menafsirkan sekularisasi yaitu biang dari kemerosotan kemajuan muslim. Dan adapula yang menafsirkan bahwa sekularisme yaitu sebuah pemikiran yang “membedakan” konsep pemikiran seorang muslim, antara duniawi dan ukhrawi. Bukan untuk “memisahkan”.

Sejarah Sekularisme dan Penyebarannya di Eropa
Jika ditelusuri lebih dalam, asal muasal sekularisme berakar dari bumi kepingan Eropa. Karena kesalahan-kesalahan fatal yang diterapkan oleh gereja. Salah satunya ialah, menjual tiket nirwana bagi pemeluknya dengan harga yang sangat mahal. Anehnya, sehabis tiket tersebut dibeli. Maka ia akan bebas dari perbuatan dosa bahkan bebas untuk melaksanakan hal-hal semena lain yang menjerumuskannya berdosa kembali.

Dan tidak hanya itu, Gereja juga menyalahkan beberapa tokoh inovasi ibarat Copernicus, Gradano, Galileo dll. Karena inovasi mereka yang bertentangan dengan keyakinan ajaran Gereja. Antara fakta dan keyakinan memang selalu terjadi ketidakpahaman. Bahkan hal tersebut semakin memperkuat kebenaran paham sekularisme. Jika dipahami dengan Logika tanpa keyakinan kuat, Fakta akan lebih cenderung dengan kebenaran dengan pembuktian-pembuktiannya. Lain halnya keyakinan ajaran gereja, hanya bagi mereka besar lengan berkuasa keyakinan yang akan tetap bertahan. Apalagi sikap pendeta gereja yang semakin menyimpang. Dengan begitu, ketajaman efek sekularisme semakin runcing dan sangat sesuai diterapkan.

Pada tahun 1789 M, dibawah kepemimpinan Martin Luther. Muncul gerakan menentang pihak agama dan Gereja di Perancis. Kemenangan berpihak atas Martin, maka Perancis menjadi Negara pertama yang memutuskan sistem Negara tanpa Agama. Setelah itu, muncul banyak sekali paham yang serupa sekularisme ibarat darwinisme, Freudisme, Eksistensialisme bahkan Ateisme yang menganggap bahwa Tuhan telah mati. Tidak hanya di Perancis, segala bentuk pemikiran yang ada kala itu, tersebar keseluruh Eropa. Agama dipinggirkan dari segala bentuk kehidupan. Agama hanya menjadi simbol tanpa pengamalan. Sebaliknya, para saintis semakin ulet mempelajari segala konsep-konsep alam dan pemikiran sains modern. 


Baca Juga: Menyoal Perbedaan, Haruskah?

Tersebarnya Sekularisasi Dunia Islam

Sejarah penyebaranya tidak hanya menjangkiti Negara-Negara Eropa, paham ini terus berkembang dan memasuki ranah Islam. Pada kala ke-20. Layaknya benalu, sekularisme mulai menjangkiti dan meliliti pohon besar islam. Akar-akarnya tumbuh runcing tertancap dan merampas Negara Islam. Kebencian Eropa terhadap umat islam sangat saklar dan menguat, lantaran Islam berangsur-angsur memimpin Dunia. Hanya beberapa dekade kekalahan umat islam.Namun, kembali bangun dan berkuasa. Perekonomian Eropa semakin terpuruk ketika gereja mengukuhkan banyak sekali keyakinan-keyakinan yang tak sesuai dan menyudutkan pemeluknya. Masa ini dikenal dengan The Dark Age. Segala aspek kehidupan bernegara berada dibawah efek gereja.

Dengan dasar dendam terhadap umat islam, para pemikir orientalis dari Barat terus membuatkan banyak sekali pemikiran mereka. Bagaimana caranya islam harus terpecah-pecah dalam aspek kehidupan bermasyarkat dan Negara. Dengan banyak sekali kasus umat, Islam akan hancur dengan dengan sendirinya. Dan juga dengan menghilangkan ruh Islam. Islam akan runtuh dan berantakan.

Turki Utsmaniyyah,salah satu kerajaan yang harus lumpuh dan menjadi Republik Turki dibawah kepemimpinan Kemal Attaturk yang berideologi Sekular. Selama kurang lebih 5 kala sepertiga dunia berada dalam genggaman Turki Utsmaniyyah. Namun luluh lantak dalam beberapa tahun saja.

Segala bentuk perjuangan mengahapuskan dasar-dasar islam dan khalifah dilakukan oleh Kemal Attaturk. Ideologi secular menjadikannya semakin membara untuk menghilangkan seluruh nilai dasar keislaman. Bahkan sekolah-sekolah madrasah, Masjid-Masjid ditutup. Azan harus menggunakan Bahasa Turki. Agama islam sangat dipojokkan dan dipinggirkan demi kepentingan Sekularisme. Ironisnya, dasar-dasar Negara Republik Turki diganti dengan asas-asas Italia, German, dll.

Bukan hanya aspek Negara, bahkan huruf arab dihilangkannya. Dan untuk muslimah dihentikan menggunakan jilbab. Sungguh kejam. Hak hak seorang muslim dirampas dan dipaksa dengan kediktatorannya. Bahkan hingga sekarang, efek sekularisme telah menjangkiti banyak sekali Negara muslim lainnya. Algeria, Tunisia dll yang berada dalam jajahan Perancis. Dan juga Indonesia, Malaysia yang berada dalam jajahan Belanda dan Inggris. Hal ini sanggup dipastikan dengan melihat adanya Dualisme dalam tata cara kehidupan bermasyarakat dan Negara. Dimana agama selalu dipisahkan dari halnya sains dan campur aduk dalam politik Negara.

Dengan ini, sanggup ditinjau bahwa ideology Islam tidak akan pernah bersatu dengan Ideology Sekularisme. Islam agama yang tepat dan lengkap. Dari sejak zaman Nubuwwah hingga Zaman kerajaan Islam tak pernah memisahkan hak campur Agama dalam urusan Negara. Islam tak pernah mengikuti zaman. Sebaliknya zaman yang mengikuti Islam. Jika dipaksakan Islam mengikuti zaman, maka sama halnya yang akan terjadi di banyak sekali Negara Muslim dikala ini. Perpecahan dan kemunduran akan selalu berpihak pada hukum tersebut.[]


*Penulis merupakan Mahasiswa Persiapan Bahasa di Daur Al-lughah, Universitas Al-Azhar Mesir.