Friday, 28 February 2020

Penganiyayaan Terhadap Kaum Muslimin

Dakwah Nabi - Beragam Penindasan

Kaum Musyrikun menjalankan metode-metode terdahulu sedikit-demi sedikit untuk mengekang perkembangan dakwah Islamiyyah setelah kemunculannya pada permulaan tahun IV kenabian. Mereka gres sebatas melaksanakan metode-metode tersebut selama beberapa ahad dan bulan, tidak bergeser ke metode yang baru. Akan tetapi, manakala mereka melihat bahwa metode-metode tersebut tidak membuahkan hasil sama sekali dalam upaya menggagalkan dakwah Islamiyyah; mereka mengadakan pertemuan sekali lagi untuk memusyawarahkan hal tersebut antar sesama mereka. Akhirnya, mereka memutuskan untuk melaksanakan penyiksaan terhadap kaum Muslimin dan menguji dien mereka. Tindakan yang diambil pertama kali yaitu bergeraknya masing-masing kepala suku untuk menginterogasi siapa saja yang masuk Islam dari kabilah mereka, kemudian ditindaklanjuti oleh bawahan dan kroco-kroco mereka. Maka mulailah mereka mendera kaum Muslimin dengan aneka macam siksaan yang menciptakan bulu kuduk merinding dan hati tersayat-sayat mendengarnya.

Adalah Abu Jahal, bila mendengar seorang pria masuk Islam, berketurunan aristokrat serta mempunyai derma (suaka), maka dia mencaci, menghina serta mengancamnya dengan menyampaikan bahwa dia akan membuatnya mengalami kerugian materil dan psikologis. Sedangkan bila orang tersebut lemah maka dia menggebuk dan menghasutnya.

'Utsman bin 'Affan digulung oleh pamannya ke dalam tikar yang terbuat dari daun-daun kurma, kemudian diasapi dari bawahnya.

Mush'ab bin 'Umair, manakala ibundanya mengetahui keislamannya, membiarkan dirinya kelaparan dan mengusirnya dari rumah padahal sebelumnya dia termasuk orang yang hidup berkecukupan. Lantaran tindakan ibundanya tersebut, kulitnya menjadi bersisik layaknya kulit ular.

Shuhaib bin Sinan ar-Rumy disiksa hingga kehilangan ingatan dan tidak memahami apa yang dibicarakannya sendiri.

Bilal, maula Umayyah bin Khalaf al-Jumahi mengalami perlakuan yang sangat kejam dari majikannya. Pundaknya diikat dengan tali lantas tali tersebut diserahkan kepada bawah umur kecil untuk diseret dan dibawa keliling sepanjang pegunungan Mekkah. Akibatnya, bekas tali tersebut masih nampak di pundaknya. Umayyah, sang majikan selalu mengikatnya kemudian menderanya dengan tongkat. Kadang ia dipaksa duduk di bawah teriknya sengatan matahari. Ia juga pernah dipaksa lapar. Puncak dari itu semua yaitu dikala dia dibawa keluar pada hari yang suhunya sangat panas, kemudian dibuang ke Bathha' (tanah lapang berkerikil) Mekkah. Setelah itu, ia ditindih dengan watu besar dan ditaruh ke atas dadanya. Ketika itu, berkata Umayyah kepadanya:"Tidak, demi Allah! engkau akan tetap mengalami menyerupai ini hingga engkau mati atau engkau kafir terhadap (ajaran) Muhammad dan menyembah al-Laata dan al-'Uzza". Meskipun dalam kondisi demikian, ia tetap berteriak: "Ahad, Ahad". Mereka terus menyiksanya hingga suatu hari Abu Bakar melewatinya, kemudian membelinya dan menukarkannya dengan seorang anak berkulit hitam. Ada riwayat yang mengatakan: dengan tujuh uqiyyah (satu uqiyyah= 12 dirham atau 28 gram-red) atau lima uqiyyah dari perak, kemudian dia memerdekakannya.

'Ammar bin Yasir maula Bani Makhzum sekeluarga radhiallaahu 'anhum ; dia, ayahnya dan ibunya yang masuk Islam tak luput dari penganiayaan. mereka diseret keluar menuju al-Abthah (suatu kawasan di Mekkah) oleh kaum Musyrikin yang dipimpin oleh Abu Jahal. Saat itu suhu udara sangat panas dan menyengat. Maka dalam kondisi menyerupai itulah mereka menyiksa keluarga tersebut. Ketika mereka sedang menjalani siksaan, Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam melintas di hadapan mereka sembari bersabda: "Bersabarlah wahai Ali Yasir (keluarga besar Yasir)! Sesungguhnya kawasan yang dijanjikan untuk kalian yaitu surga". Yasir, ayahnya meninggal dunia dalam siksaan tersebut sedangkan ibunya, Sumayyah ditusuk oleh Abu Jahal dari arah qubulnya dengan tombak dan meninggal dunia seketika. Dialah syahidah (wanita yang mati syahid) pertama dalam Islam. Setelah itu, kaum Musyrikin tersebut meningkatkan frekuensi siksaan mereka terhadap 'Ammar; terkadang dengan menjemurnya saja, terkadang dengan meletakkan watu besar yang memerah (saking panasnya) diatas dadanya dan terkadang dengan menenggelamkannya alias membenamkan mukanya ke dalam air. Kala itu, mereka berkata kepadanya: "kami tidak akan terus menyiksamu hingga engkau mencaci Muhammad atau menyampaikan sesuatu yang baik terhadap al-Laata dan al-'Uzza. Maka, dia pun secara terpaksa menyetujui hal itu. Setelah itu dia mendatangi Nabi sambil menangis dan meminta ma'af atas kejadian tersebut kepada dia Shallallâhu 'alaihi wasallam. Ketika itu, turunlah ayat: "Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia menerima kemurkaan dari Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap hening dalam beriman (dia tidak berdosa)…". (Q.S. 16/an-Nahl: 106).

Abu Fakihah – namanya Aflah – seorang maula Bani 'Abdi ad-Daar mukanya dijerembabkan oleh kaum Musyrikin ke tanah yang melepuh oleh terik matahari, kemudian diletakkan diatas punggungnya sebuah watu besar hingga dia tak sanggup bergerak lagi. Dia dibiarkan dalam keadaan demikian hingga hilang ingatan. Suatu kali, mereka mengikat kakinya dengan tali, kemudian menyeretnya dan melemparkannya ke tanah yang melepuh oleh terik matahari menyerupai yang dilakukan terhadapnya sebelumnya, kemudian mencekiknya hingga mereka menerka dia telah mati. Saat itu, Abu Bakar melewatinya kemudian membeli dan memerdekakannya lantaran Allah Ta'ala.

Khabbab bin al-Aratt, maula Ummi Anmaar binti Siba' al-Khuza'iyyah disiksa oleh kaum Musyrikin dengan aneka siksaan; rambutnya mereka jambak dengan keras sekali, lehernya mereka betot dengan kasar kemudian melemparkannya ke dalam api yang membara kemudian – dalam kondisi demikian- jasadnya mereka tarik sehingga api itu terpadamkan oleh lemak yang meleleh dari punggungnya.

Dari kalangan budak Muslimah, terdapat riwayat
Zunairah, an-Nahdiyyah dan Ummu 'Ubais. Tatkala mereka masuk Islam, kaum Musyrikinpun melaksanakan penyiksaan terhadap mereka sama menyerupai yang telah dilakukan terhadap para shahabat sebelumnya diatas.

Seorang budak perempuan Bani Muammal – mereka yaitu dari suku Bani 'Adiy – dipukul oleh 'Umar bin al-Khaththab, kala ia masih Musyrik, dan manakala merasa jenuh, dia berkata: "sesungguhnya yang membuatku membiarkanmu hanyalah lantaran kejenuhan".

Semua budak-budak perempuan tersebut dibeli oleh Abu Bakar kemudian dimerdekakannya sebagaimana yang telah dilakukannya terhadap Bilal dan 'Amir bin Fuhairah.

Kaum Musyrikin juga pernah membungkus sebagian shahabat dalam buntalan yang terbuat dari kulit onta dan sapi, kemudian dilempar ke bumi yang sudah melepuh oleh terik matahari. Sedangkan sebagian yang lain, pernah mereka kenakan baju besi lantas dilemparkan ke atas watu besar yang memanas.

Deretan para korban yang disiksa lantaran membela dienullah demikian panjang dan amat histeris. Pokoknya, siapa saja yang mereka ketahui telah memeluk Islam maka tak ayal akan dihadang geraknya dan disakiti.

Sikap Kaum Musyrikin terhadap Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam

Adapun Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam (kala itu) tidaklah mengalami siksaan yang sedemikian. Beliau yaitu seorang ksatria, terhormat dan sosok yang langka. Baik mitra maupun lawan sama-sama segan dan mengagungkannya; setiap orang yang berjumpa dengannya, pasti akan menyambutnya dengan rasa hormat dan pengagungan. Tidak seorangpun yang berani melaksanakan perbuatan tak senonoh dan hinadina terhadap dia selain manusia-manusia kerdil dan picik. 

Disamping itu, dia juga mendapatkan derma (suaka) dari pamannya, Abu Thalib yang merupakan tokoh terpandang di Mekkah. Dia memang terpandang nasabnya dan disegani orang. Oleh lantaran itu, amatlah sulit bagi seseorang untuk melecehkan orang yang sudah berada dalam perlindungannya. Kondisi ini tentu amat mencemaskan kaum Quraisy dan menciptakan mereka terjepit sehingga tidak sanggup berbuat banyak. Hal ini, memaksa mereka untuk memikirkan secara jernih jalan keluarnya tanpa harus berurusan dengan wilayah larangan yang bila tersentuh tentu akhirnya tidak diharapkan. Akhirnya, mereka mendapatkan inspirasi penyelesaiannya, yaitu dengan menentukan jalan berunding dengan sang penanggung jawab terbesar; Abu Thalib. Akan tetapi tentunya dengan lebih banyak melaksanakan pendekatan secara hikmah dan ekstra serius, disisipi dengan trik menantang dan ultimatum terselubung hingga dia mau tunduk dan mendengarkan apa yang mereka katakan.

Utusan Quraisy menghadap Abu Thalib

Ibnu Ishaq berkata: "sekelompok tokoh aristokrat kaum Quraisy menghadap Abu Thalib, kemudian berkata kepadanya: 'wahai Abu Thalib! Sesungguhnya keponakanmu telah mencaci tuhan-tuhan kita, mencela agama kita, membuyarkan cita-cita kita dan menganggap sesat nenek-nenek moyang kita. Karenanya, engkau hanya punya dua alternatif: mencegahnya atau membiarkan kami dan dia menuntaskan urusan ini. Sesungguhnya kondisimu yaitu sama menyerupai kami, tidak sependapat dengannya, oleh lantaran itu kami berharap sanggup mengandalkanmu dalam menjinakkannya'. Abu Thalib berkata kepada mereka dengan tutur kata yang lembut dan membalasnya dengan cara yang halus dan baik. Setelah itu mereka pun akhirnya undur diri. Sementara itu, Rasulullah tetap melaksanakan acara menyerupai biasanya; mengkampanyekan dienullah dan mengajak kepadanya". Akan tetapi, orang-orang Quraisy tidak sanggup berlama-lama sabar manakala melihat dia Shallallâhu 'alaihi wasallam terus melaksanakan aktivitasnya tersebut dan berdakwah kepada Allah bahkan hal itu semakin menciptakan mereka mempersoalkannya dan mengumpatinya. Lantaran itu pula, mereka kemudian memutuskan untuk menghadap Abu Thalib sekali lagi namun dengan cara yang lebih kasar dan keras daripada sebelumnya.

Kaum Quraisy mengultimatum Abu Thalib

Para tokoh kaum Quraisy kembali mendatangi Abu Thalib seraya berkata kepadanya: "wahai Abu Thalib! Sesungguhnya kami menghargai usia, kebangsawanan dan kedudukanmu. Dan bekerjsama pula, kami telah memintamu menghentikan gelagat keponakanmu itu, namun engkau tidak melakukannya. Sesungguhnya kami, demi Allah! tidak akan bisa bersabar atas perbuatan mencela nenek moyang kami, membuyarkan cita-cita kami dan mencemooh tuhan-tuhan kami hingga engkau mencegahnya sendiri atau kami yang akan menciptakan perhitungan dengannya dan denganmu sekaligus. Setelah itu, kita lihat siapa diantara dua kelompok ini yang akan binasa".

Ancaman dan ultimatum yang keras tersebut sempat menciptakan nyali Abu Thalib bergetar juga, karenanya dia menyongsong Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam sembari berkata kepadanya: "wahai keponakanku! Sesungguhnya kaummu telah mendatangiku dan menyampaikan begini dan begitu kepadaku. Oleh lantaran itu berdiamlah demi kemaslahatanku dan dirimu sendiri. Janganlah engkau membebaniku dengan sesuatu yang tak bisa saya lakukan!". 

Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam menerka bahwa dengan ini pamannya telah mengucilkannya dan tak bisa lagi melindungi dirinya, maka beliaupun menjawab: "wahai pamanku! Demi Allah! andaikata mereka letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku biar saya meninggalkan agama ini -hingga Allah memenangkannya atau saya binasa karenanya- pasti saya tidak akan meninggalkannya". 

Beliau mengungkapkannya dengan berlinang air mata dan tersedu, kemudian berdiri untuk berpaling namun ketika itu, pamannya memanggilnya dan menghampirinya sembari berkata: "Pergilah wahai keponakanku! Katakanlah apa yang engkau suka, demi Allah! saya tidak akan pernah selamanya menyerahkanmu kepada siapapun!". 

Lalu dia merangkai beberapa untai bait (artinya):

Demi Allah! mereka semua tidak akan sanggup menjamahmu
Hingga saya terkubur berbantalkan tanah
Berterang-teranganlah dengan urusanmu, tiada cela bagimu Bergembira dan bersuka citalah dengan hal itu


Kaum Quraisy kembali menghadap Abu Thalib


Tatkala kaum Quraisy melihat Rasulullah masih terus melaksanakan aktivitasnya, tahulah mereka bahwa Abu Thalib tak berkeinginan untuk mengucilkan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dan telah lingkaran hatinya untuk memisahkan diri dan memusuhi mereka. Maka sebagai upaya membujuk, mereka membawa 'Imarah bin al-Walid bin al-Mughirah ke hadapannya seraya berujar:"wahai Abu Thalib! Sesungguhnya ini ada seorang cowok yang paling rupawan dan tampan di kalangan kaum Quraisy! Ambillah dia, maka dengan begitu, engkau sanggup berbuat sesukamu; mengikatnya atau membebaskannya (membelanya). Jadikanlah dia sebagai anakmu, maka dia jadi milikmu. Lalu serahkan kepada kami keponakanmu yang telah menyelisihi agamamu dan agama nenek-nenek moyangmu itu, menceraiberaikan persatuan kaummu, membuyarkan cita-cita mereka untuk kami bunuh. Ini yaitu tukar barang diantara kita dan menjadi impas; seorang dengan seorang". 

Abu Thalib menjawab: "Demi Allah! sungguh usulan kalian tersebut sesuatu yang murahan! Apakah kalian ingin memperlihatkan kepadaku anak kalian ini biar saya beri makan untuk kepentingan kalian sementara saya memperlihatkan anakku biar kalian bunuh?. Demi Allah! ini tidak akan pernah terjadi!". 

Al-Muth'im bin 'Adiy bin Naufal bin 'Abdu Manaf berkata:"Demi Allah, wahai Abu Thalib! Kaummu telah berbuat adil terhadapmu dan berupaya untuk membebaskanmu dari hal yang tidak engkau sukai. Jadi, apa sebabnya saya lihat engkau tidak mau mendapatkan sesuatupun dari usulan mereka?". 

Dia menjawab: "Demi Allah! kalian bukannya berbuat adil terhadapku, akan tetapi kalian telah bersepakat menghinakanku dan mengkonfrontasikanku dengan kaum Quraisy. Oleh alasannya yaitu itu, lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan!".

Ketika kaum Quraisy gagal dalam negosiasi tersebut dan tidak berhasil membujuk Abu Thalib untuk mencegah Rasululullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dan mengekang laju dakwahnya kepada Allah; maka mereka pun memutuskan untuk menentukan langkah yang sebelumnya telah berupaya mereka hindari dan tidak menyerempetnya lantaran khawatir akan akhir serta implikasinya, yaitu langkah memusuhi pribadi Rasululullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.

Bentuk-Bentuk Pelecehan mereka terhadap Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam

Kaum Quraisy membatalkan perilaku pengagungan dan penghormatan yang dulu pernah mereka tampakkan terhadap Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam semenjak munculnya dakwah Islamiyyah di lapangan. Memang, sungguh sulit merubah perilaku yang terbiasa dengan kebengisan dan kesombongan untuk berlama-lama sabar, maka dari itu, mereka mulai mengulurkan tangan permusuhan terhadap Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Sebagai implementasinya, mereka melaksanakan aneka macam bentuk ejekan, hinaan, pencemaran nama baik, pengaburan, keusilan dan lain sebagainya. Tentunya, sudah lumrah bila yang pertama-tama menjadi ujung tombaknya yaitu Abu Lahab alasannya yaitu dia yaitu seorang kepala suku Bani Hasyim. Dia tidak pernah memikirkan pertimbangan apapun sebagaimana yang selalu dipertimbangkan oleh tokoh-tokoh Quraisy lainnya. Dia yaitu musuh turun-temurun Islam dan para pemeluknya. Sejak pertama, dia sudah menghadang Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam sebelum kaum Quraisy berkeinginan melaksanakan hal itu. Kita telah membahas bagaimana prilaku mereka terhadap Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam di majlis Bani Hasyim dan di bukit Shafa. Sebelum dia Shallallâhu 'alaihi wasallam diutus, Abu Lahab telah mengawinkan kedua anaknya; 'Utbah dan 'Utaibah dengan kedua putri Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam; Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Namun tatkala dia diutus menjadi Rasul, dia memerintahkan kedua anaknya tersebut biar menceraikan kedua putri dia Shallallâhu 'alaihi wasallam dengan cara yang kasar dan keras, hingga akhirnya terjadilah perceraian itu.

Ketika 'Abdullah, putra kedua Rasulullah wafat, Abu Lahab amat gembira dan menyampiri semua kaum Musyrikin untuk memberitakan perihal Muhammad yang sudah menjadi Abtar (orang yang terputus/buntung) *.

*Terhadapnya Allah Ta'ala menurunkan ayat 3, surat al-Kautsar –red.

Sebagaimana dalam bahasan terdahulu, bahwa Abu Lahab selalu menguntit di belakang Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dikala isu terkini haji dan di pasar-pasar sebagai upaya mendustakannya. Dalam hal ini, Thariq bin 'Abdullah al-Muhariby meriwayatkan suatu informasi yang pada dasarnya bahwa yang dilakukannya tidak sekedar mendustakan Rasulullah, akan tetapi lebih dari itu, dia juga memukul dia Shallallâhu 'alaihi wasallam dengan watu hingga kedua tumit dia berdarah.

Isteri Abu Lahab, Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah saudara perempuan Abu Sufyan, tidak kalah frekuensi permusuhannya terhadap Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam dibanding sang suami. Dia pernah membawa dedurian dan menebarkannya di jalan yang dilalui oleh Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bahkan juga, di depan pintu rumah dia pada malam harinya. Dia yaitu sosok perempuan yang judes. Lisannya selalu dijulurkan untuk mencaci beliau, mengarang informasi dusta dan aneka macam isu, menyulutkan api fitnah serta mengobarkan perang membabibuta terhadap Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam. Oleh lantaran itulah, al-Qur'an menyifatinya dengan Hammaalatal Hathab (wanita pembawa kayu bakar).

Ketika dia mendengar ayat al-Qur'an yang turun mengenainya dan suaminya, dia eksklusif mendatangi Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam yang sedang duduk-duduk bersama Abu Bakar ash-Shiddiq. Dia telah membawa segenggam watu ditangannya, namun ketika dia berdiri di hadapan keduanya, Allah membutakan pandangannya dari dia sehingga dia tidak melihat selain Abu Bakar, lantas dia berkata: "wahai Abu Bakar! Mana shahabatmu itu? Aku menerima informasi bahwa dia telah mengejekku. Demi Allah! andai saya menemuinya pasti akan saya tampar mulutnya dengan segenggam watu ini. Demi Allah! Bukankah bekerjsama saya ini seorang Penyair?.
Kemudian dia menguntai bait berikut (artinya):
Si tercela yang kami tentang, Urusannya yang kami tolak, Diamnya yang kami benci

Kemudian dia berlalu. Setelah kepergiannya, Abu Bakar lantas berkata: "wahai Rasulullah! Adakah engkau melihatnya sanggup melihatmu?". Beliau menjawab: "Dia tidak sanggup melihatku. Sungguh! Allah telah membutakan pandangannya dariku".

Abu Bakar al-Bazzar meriwayatkan dongeng diatas. Di dalamnya disebutkan bahwa ketika dia berdiri di hadapan Abu Bakar, dia berkata: "wahai Abu Bakar! Shahabatmu itu telah mengejek kami". Abu Bakar menjawab: "Tidak, demi Rabb bangunan ini (Ka'bah)! Dia tidak pernah berbicara dengan menggunakan sya'ir ataupun melantunkannya". 

Dia menjawab: "Sungguh! apa yang engkau ucapkan memang benar".

Demikianlah yang dilakukan oleh Abu Lahab padahal dia yaitu paman dia Shallallâhu 'alaihi wasallam sekaligus tetangganya, rumahnya melekat dengan rumah beliau. Sama menyerupai tetangga-tetangga dia yang lain yang selalu mengganggu dia padahal dia tengah berada di dalam rumah.

Ibnu Ishaq berkata: "Mereka yang selalu mengganggu Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dikala dia berada di rumah tersebut yaitu Abu Lahab, al-Hakam bin Abi al'Ash bin Umayyah, 'Uqbah bin Abi Mu'ith, 'Adiy bin Hamra' ats-Tsaqafy dan Ibnu alAshda' al-Hazaly. Semuanya yaitu tetangga-tetangga dia namun tak seorangpun diantara mereka yang masuk Islam kecuali al-Hakam bin Abi al-'Ash. Salah seorang diantara mereka ada yang melempari dia dengan rahim kambing dikala dia tengah melaksanakan shalat. Yang lain lagi, bila priuk milik dia -yang terbuat dari batu- tengah dipanaskan, pernah memasukkan bangkai tersebut ke dalamnya. Hal ini, menciptakan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam mamasang tabir biar sanggup terlindungi dari mereka manakala dia tengah melaksanakan shalat. Bila usai mereka melaksanakan hal itu, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam membawanya keluar dan meletakkannya diatas sebatang ranting, kemudian berdiri di depan pintu rumahnya kemudian berseru: "wahai Bani 'Abdi Manaf! Tetangga-tetangga model apa yang begini kelakuannya?". Kemudian barang tersebut dia lempar ke jalan.

'Uqbah bin Abi Mu'ith malah melaksanakan hal yang lebih jelek dan basi dari itu lagi. Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiallaahu 'anhu bahwa pernah suatu hari Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat di sisi Baitullah sedangkan Abu Jahal dan rekan-rekannya tengah duduk-duduk. Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: "Siapa diantara kalian yang akan membawa kotoran onta Bani Fulan kemudian menumpahkannya ke punggung Muhammad dikala dia sedang sujud?". Maka bangkitlah 'Uqbah bin Abi Mu'ith, sosok yang paling sangar diantara mereka, membawa kotoran tersebut sembari memperhatikan gerak-gerik Nabi Muhammad Shallallâhu 'alaihi wasallam. Tatkala dia Shallallâhu 'alaihi wasallam beranjak sujud kepada Allah, dia menumpahkan kotoran tersebut ke arah punggungnya diantara dua bahunya. Aku (Ibnu Mas'ud-red) memandangi hal itu dan ingin sekali melaksanakan sesuatu andai saya mempunyai derma (suaka). Lalu mereka tertawa sambil masing-masing saling mencolek dan memiringkan tubuh satu sama lainnya dengan penuh kesombongan dan keangkuhan sedangkan Rasulullah masih sujud. Beliau tidak sanggup mengangkat kepalanya hingga Fathimah tiba dan membuang kotoran tersebut dari punggung beliau, barulah dia mengangkat kepala, kemudian berdoa: 'Ya Allah! berilah tanggapan (setimpal) kepada kaum Quraisy tersebut'. Beliau mengucapkannya tiga kali. Doa dia ini menyesakkan hati mereka. Dia (Ibnu Mas'ud-red) bertutur lagi: 'mereka menganggap bahwa berdoa di negeri itu (Mekkah) yaitu mustajabah. Kemudian dalam doanya tersebut, dia Shallallâhu 'alaihi wasallam menyebutkan nama mereka satu per-satu: ' Ya Allah! binasakanlah Abu Jahal, 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, al-Walid bin 'Utbah, Umayyah bin Khalaf, 'Uqbah bin Abi Mu'ith – Ibnu Mas'ud menyebutkan yang ke tujuh namun tidak mengingat namanya - . Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya! Sungguh saya telah melihat orang-orang yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam tewas mengenaskan di al-Qalib , yaitu kuburan di Badar, Madinah". Adapun nama orang yang ke tujuh tersebut yaitu 'Imarah bin al-Walid.

Lain lagi yang dilakukan oleh Ummayyah bin Khalaf; bila melihat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam, dia eksklusif mengumpat dan mencelanya. Karenanya, turunlah terhadapnya ayat:"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat (al-Humazah) lagi pencela". (Q.S. 104/al-Humazah: 1). Ibnu Hisyam berkata:"kata al-Humazah maknanya yaitu orang yang mencemooh seseorang secara terang-terangan dan tanpa tedeng aling-aling, memain-mainkan kedua matanya sambil mengerdipkannya, sedangkan kata al-Lumazah maknanya yaitu orang yang mencela insan secara sembunyi dan menyakiti hati mereka".

Sama halnya dengan saudara laki-lakinya, Ubay bin Khalaf; mereka berdua seiring dan sejalan. Suatu ketika, 'Uqbah duduk di majlis Nabi sembari mendengarkan dakwahnya, namun manakala informasi tersebut hingga ke indera pendengaran Ubay; dia eksklusif mencaci dan mencemooh saudaranya tersebut serta memintanya biar meludah ke wajah Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam , maka diapun melakukannya. Sementara Ubay sendiri juga tidak mau kalah, dia menumbuk tulang belulang yang ada hingga remuk redam kemudian meniupkannya ke angin yang berhembus ke arah Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.

Bentuk pelecehan lainnya yaitu apa yang diperbuat oleh al-Akhnas bin Syuraiq atTsaqafy yang selalu mengerjai Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Untuk itu, al-Qur'an menyifatinya dengan sembilan sifat yang menyingkap perangainya, yaitu firman Allah Ta'ala: " Dan janganlah kau ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah . Yang enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa . Yang kaku kasar, selain dari itu, yang populer kejahatannya ". (Q.S. 68/al-Qalam: 10-13).

Demikian pula dengan Abu Jahal, terkadang dia tiba kepada Rasulullah dan mendengarkan al-Qur'an, kemudian berlalu namun hal itu tidak membuatnya beriman, tunduk, sopan apalagi takut. Bahkan dia menyakiti Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dengan perkataannya, menghadang jalan Allah, berlalu lalang dengan besar kepala memproklamirkan apa yang diperbuatnya dan besar hati dengan kejahatan yang dilakukannya tersebut seakan sesuatu yang enteng saja. Terhadapnya turunlah ayat: "Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur'an) dan tidak mau mengerjakan shalat… dst". (QS. 75/al-Qiyaamah: 31- dst). Dia selalu mencegah Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam untuk melaksanakan shalat semenjak pertama kali melihat dia melakukannya di Masjid al-Haram. Suatu kali, dia melewati dia yang sedang melaksanakan shalat di sisi Maqam (nabi Ibrahim 'alaihissalaam-red), kemudian berkata: "wahai Muhammad! Bukankah sudah saya larang engkau melaksanakan ini?". Dia mengancam beliau, mengasari serta membentaknya. Dia berkata kepada beliau:"wahai Muhammad! Dengan apa engkau akan mengancamku?Demi Allah! bukankah bekerjsama saya yaitu orang yang paling banyak memanggil (berdoa) di lembah ini (Mekkah)". Maka turunlah ayat: "Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya). kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah ". (Q.S.96/al-'Alaq: 17-18).

Dalam suatu riwayat dinyatakan bahwa Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam mencengkeram lehernya dan menggoyang-goyangkannya sembari membacakan firman Allah: "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu.[35]". (Q.S. 75/alQiyaamah: 34-35). Lantas musuh Allah itu berkata: "Engkau hendak mengancamku, wahai Muhammad? Demi Allah! engkau dan TuhanMu tidak akan sanggup melaksanakan apapun. Sesungguhnya aku-lah seperkasa orang yang berjalan diantara dua gunung di Mekkah ini!".

Sekalipun sudah membentak-bentak tersebut, Abu Jahal tidak pernah kapok dari kedunguannya bahkan semakin blingsatan saja. Berkaitan dengan ini, Imam Muslim mengeluarkan dari Abu Hurairah, dia berkata: "Abu Jahal berkata:'Apakah Muhammad sujud dan menempelkan jidatnya di tanah (shalat) di depan batang hidung kalian?". Salah seorang menjawab: "ya, benar!". Dia berkata lagi:"demi al-Laata dan al-'Uzza! Sungguh saya akan menginjak-injak lehernya dan membenamkan mukanya ke tanah!". Tak berapa lama, datanglah Rasulullah kemudian melaksanakan shalat. Abu Jahal sebelumnya mendakwa akan menginjak-injak lehernya, namun sebaliknya, yang terjadi sungguh mengagetkan mereka; dia tidak jadi bergerak maju dan malah menutupi kedua tangannya untuk berlindung. Mereka kemudian bertanya: "wahai Abu Jahal! Ada apa gerangan denganmu?". Dia menjawab: "Sesungguhnya ada parit dari api, sesuatu yang angker dan sayap-sayap yang mengantarai saya dan dia". Kemudian Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam berkata: "andai dia sedikit lagi mendekat kepadaku, pasti tubuhnya akan disambar malaikat dan terkoyak satu per-satu".

Demikianlah citra yang amat mini sehubungan dengan bentuk-bentuk pelecehan dan penganiayaan yang dialami oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dan kaum Muslimin dari para Thaghut kaum Musyrikin yang mendakwa bahwa mereka yaitu Ahlullah (Kekasih Allah) dan penduduk tanah haramNya.

Aktivitas di Darul Arqam

Diantara hikmah kenapa Rasulullah dalam menghadapi penindasan-penindasan tersebut, melarang kaum Muslimin memproklamirkan keislaman mereka baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan serta tidak mengizinkan mereka bertemu dengan dia kecuali secara diam-diam yaitu lantaran bila mereka bertemu dengan dia secara terbuka maka tidak diragukan lagi kaum Musyrikin akan membatasi gerak dia sehingga keinginan dia untuk mentazkiyah (menyucikan diri) kaum Muslimin dan mengajarkan mereka al-Kitab dan as-Sunnah akan terhalangi. Dan barangkali, bisa mengakibatkan berbenturnya antara kedua belah pihak bahkan (realitasnya) hal itu benar-benar terjadi pada tahun ke empat dari kenabian, yaitu manakala shahabat-shahabat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam berkumpul di lereng-lereng perbukitan kawasan mereka melaksanakan shalat secara rahasia. Tiba-tiba, hal itu terlihat oleh beberapa orang kafir Quraisy. mereka ini kemudian mencaci maki dan memerangi mereka. Menghadapi hal itu, Sa'ad bin Abi Waqqash yang merupakan salah seorang dari para shahabat tersebut memukul seorang dari kaum Musyrikin tersebut sehingga tertumpahlah darah ketika itu. Inilah, darah pertama yang tertumpah dalam Islam.

Sebagaimana yang sudah diketahui bahwa bila perbenturan ini terus terulang dan berkepanjangan maka tentunya akan berdampak kepada musnah dan binasanya kaum Muslimin. Oleh lantaran itu, yaitu bijak untuk melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Nyatanya, para shahabat secara umum menyembunyikan keislaman, peribadatan, dakwah dan pertemuan mereka. Sedangkan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam melakukannya secara terbuka dalam berdakwah dan beribadah di depan mata kaum Musyrikin. Tidak ada sesuatupun yang sanggup menghalang-halanginya. Namun begitu, dia tetap melaksanakan pertemuan dengan kaum Muslimin secara diam-diam demi kepentingan mereka dan agama Islam. Maka yaitu Daar (kediaman) al-Arqam bin Abi al-Arqam berada diatas bukit shafa dan terpencil sehingga luput dari intaian para Thaghut dan materi percakapan persidangan-persidangan mereka. Tempat itulah yang dijadikan oleh dia Shallallâhu 'alaihi wasallam sebagai sentra dakwah dan berkumpulnya kaum Muslimin. Disana, dia membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menyucikan hati mereka serta mengajarkan mereka al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah).

Nabi Berdakwah Secara Terang-Terangan

BERDAKWAH SECARA TERANG-TERANGAN

Perintah Pertama untuk Dakwah Secara Terang-terangan

Sehubungan dengan hal ini, ayat pertama yang turun ialah firmanNya: "dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat" (Q.S.26/asy-Syu'ara' : 214). Terdapat jalur kisah sebelumnya yang menyinggung kisah Musa 'alaihissalaam dari permulaan kenabiannya hingga hijrahnya bersama Bani Israil, lolosnya mereka dari kejaran Fir'aun dan kaumnya serta tenggelamnya fir'aun bersama kaumnya. Kisah ini mengandung beberapa tahapan yang dilalui oleh Musa 'alaihissalaam dalam dakwahnya terhadap Fir'aun dan kaumnya semoga menyembah Allah.

Seakan-akan rincian ini hanya dipaparkan seiring dengan perintah kepada Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam semoga berdakwah kepada Allah secara terang-terangan sehingga dihadapan dia dan para shahabatnya terdapat contoh dan gambaran yang akan dialami oleh mereka nantinya;yaitu berupa pendustaan dan penindasan manakala mereka melaksanakan dakwah tersebut secara terang-terangan. Demikian pula, semoga mereka mawas diri dalam melaksanakan hal itu dan berdasarkan ilmu sejak awal memulai dakwah mereka tersebut.

Disamping itu, surat tersebut (asy-Syu'ara') juga berbicara mengenai nasib yang akan dialami oleh pendusta-pendusta para Rasul, diantaranya sebagaimana yang dialami oleh kaum nabi Nuh, kaum 'Ad dan Tsamud, kaum Nabi Ibrahim, kaum Nabi Luth serta Ashhabul Aykah (selain yang berkaitan dengan perihal Fir'aun dan kaumnya). Hal itu semua dimaksudkan semoga mereka yang melaksanakan pendustaan mengetahui bahwa mereka akan mengalami nasib yang sama mirip nasib kaum-kaum tersebut dan mendapatkan pembalasan dari Allah bila melaksanakan hal yang sama. Demikian pula, semoga kaum Mukminin tahu bahwa kesudahan yang baik dari itu semua akan berpihak kepada mereka bukan kepada para pendusta tersebut.

Berdakwah di kalangan Kaum Kerabat

Setelah mendapatkan perintah dalam ayat tersebut, Rasululullah Shallallâhu 'alaihi wasallam mengundang keluarga terdekatnya, Bani Hasyim. Mereka tiba memenuhi undangan itu disertai oleh beberapa orang dari Bani al-Muththalib bin 'Abdi Manaf. Mereka semua berjumlah sekitar 45 orang laki-laki. Namun tatkala Rasulullah ingin berbicara, tiba-tiba Abu Lahab memotongnya sembari berkata: "mereka itu (yang hadir) ialah pamanpamanmu, belum dewasa mereka; bicaralah dan tinggalkanlah masa kekanak-kanakan! Ketahuilah! Bahwa kaummu tidak mempunyai cukup kekuatan untuk melawan seluruh bangsa Arab. Akulah orang yang berhak membimbingmu. Cukuplah bagimu suku-suku dari pihak bapakmu. Bagi mereka, jikalau engkau ngotot melaksanakan sebagaimana yang engkau lakukan sekarang, ialah lebih gampang ketimbang bila seluruh suku Quraisy bahu-membahu bangsa Arab bergerak memusuhimu. Aku tidak pernah melihat seseorang yang tiba kepada suku-suku dari pihak bapaknya dengan membawa suatu yang lebih buruk dari apa yang telah engkau bawa ini". Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam hanya membisu dan tidak berbicara pada majlis itu.

Kemudian dia Shallallâhu 'alaihi wasallam mengundang mereka lagi, dan berbicara: "alhamdulillah, saya memujiNya, meminta pertolongan, beriman serta bertawakkal kepadaNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah semata Yang tiada sekutu bagiNya". Selanjutnya dia berkata: "sesungguhnya seorang pemimpin mustahil membohongi keluarganya sendiri. Demi Allah yang tiada Tuhan selainNya! Sesungguhnya saya ialah Rasulullah yang tiba kepada kalian secara khusus, dan kepada insan secara umum. Demi Allah! sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian bangun dari tidur. Sungguh kalian akan dihisab (diminta pertanggungjawabannya) terhadap apa yang kalian lakukan. Sesungguhnya yang ada hanya nirwana yang kekal atau neraka yang abadi". 

Kamudian Abu Thalib berkomentar:
"alangkah senangnya kami membantumu, mendapatkan nasehatmu, dan sangat membenarkan kata-katamu. Mereka, yang merupakan suku-suku dari pihak bapakmu telah berkumpul. Sesungguhnya saya hanyalah salah seorang dari mereka namun saya ialah orang yang paling cepat merespek apa yang engkau inginkan; oleh alasannya ialah itu teruskan apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah! saya masih akan melindungi dan membelamu akan tetapi diriku tidak memperlihatkan cukup keberanian kepadaku untuk berpisah dengan agama Abdul Muththalib ". Ketika itu, berkata Abu Lahab: "demi Allah! ini benar-benar merupakan malu besar. Ayo cegahlah dia sebelum dia berhasil menyeret orang lain selain kalian!. Abu Thalib menjawab: "demi Allah! sungguh selama kami masih hidup, kami akan membelanya".

Dakwah Di atas Bukit Shafa

Setelah yakin tugasnya memberikan wahyu Rabbnya telah mendapatkan kontribusi dari pamannya, Abu Thalib, dia Shallallâhu 'alaihi wasallam suatu hari berdiri tegak diatas bukit Shafa sembari berteriak: " Ya shabaahah! (seruan untuk menarik perhatian orang semoga berkumpul di waktu pagi)". Lalu berkumpullah suku-suku Quraisy. Kemudian dia Shallallâhu 'alaihi wasallam mengajak mereka kepada tauhid, beriman kepada risalah yang dibawanya dan Hari Akhir.

Imam Bukhari telah meriwayatkan satu sisi dari kisah ini, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, dia berkata: "tatkala turun ayat {firmanNya: 'dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat' [Q.S. asy-Syu'ara' : 214] } 

Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam naik ke atas bukit Shafa kemudian memanggil-manggil : 'wahai Bani Fihr! Wahai Bani 'Adiy! Seruan ini diarahkan kepada suku-suku Quraisy. Kemudian tak berapa lama, merekapun berkumpul. Karena maha pentingnya panggilan itu, seseorang yang tidak bisa keluar memenuhinya, mengirimkan utusan untuk melihat apa gerangan yang terjadi?. Maka, tak terkecuali Abu Lahab dan kaum Quraisypun berkumpul juga. Kemudian dia Shallallâhu 'alaihi wasallam berbicara: 'bagaimana berdasarkan pendapat kalian kalau saya beritahukan kepada kalian bahwa ada segerombolan pasukan kuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?. Mereka menjawab: 'ya! Kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran'. 

Beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam berkata: 'Sesungguhnya saya ialah sebagai pemberi peringatan kepada kalian terhadap azab yang amat pedih'. Abu Lahab menanggapi: 'celakalah engkau sepanjang hari ini! Apakah hanya untuk ini engkau kumpulkan kami?. Maka ketika itu turunlah ayat {firmanNya: "binasalah kedua tangan Abu Lahab…"} [Q.S. al-Masad: 1] ".

Sedangkan Imam Muslim meriwayatkan satu sisi yang lain dari kisah tersebut, yaitu riwayat dari Abu Hurairah radhiallaahu 'anhu, dia berkata: "Tatkala ayat ini turun {firmanNya: 'dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat' [Q.S. asy-Syu'ara' : 214] } Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam mendakwahi mereka baik dalam skala umum ataupun khusus. Beliau berkata: 'wahai kaum Quraisy! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Ka'b! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fathimah binti Muhammad! Selamatkanlah dirimu dari api neraka. Demi Allah! sesungguhnya saya tidak mempunyai sesuatupun (untuk menyelamatkan kalian) dari azab Allah selain kalian mempunyai ikatan rahim yang akan saya sambung karenanya".

Teriakan yang keras ini merupakan bentuk dari esensi penyampaian dakwah yang optimal dimana Rasulullah telah menjelaskan kepada orang-orang yang mempunyai kekerabatan terdekat dengannya bahwa membenarkan risalah yang dibawanya tersebut ialah bentuk dari efektifitas kekerabatan antara dirinya dan mereka. Demikian pula, bahwa fanatisme kekerabatan yang dibudayakan oleh orang-orang Arab akan lumer di bawah terik panasnya peringatan yang tiba dari Allah tersebut.

Menyampaikan al-Haq secara terang-terangan dan perilaku kaum Musyrikin terhadapnya

Teriakan lantang yang dipekikkan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam tersebut masih terasa gaungnya di seluruh penjuru Mekkah. Puncaknya ketika turun firmanNya Ta'ala: "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik" (Q.S. al-Hijr: 94). Lalu Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam melaksanakan dakwah kepada Islam secara terangterangan (dakwah jahriyyah) di tempat-tempat berkumpulnya kaum musyrikin dan di club-club mereka. Beliau membacakan Kitabullah kepada mereka dan memberikan permintaan yang selalu disampaikan oleh para Rasul terdahulu kepada kaum mereka: 'wahai kaumku! Sembahlah Allah. kalian tidak mempunyai Tuhan selainNya'. Beliau juga, mulai memamerkan cara beribadahnya kepada Allah di depan mata kepala mereka sendiri; dia melaksanakan shalat di halaman ka'bah pada siang hari secara terang-terangan dan dihadapan khalayak ramai.

Dakwah yang dia lakukan tersebut semakin mendapatkan sambutan sehingga banyak orang yang masuk ke dalam Dienullah satu per-satu. Namun kemudian antara mereka (yang sudah memeluk Islam) dan keluarga mereka yang belum memeluk Islam terjadi gap; saling membenci, menjauhi dan berkeraskepala. Melihat hal ini, kaum Quraisy merasa gerah dan pemandangan semacam ini amat menyakitkan mereka.

Musyawarah untuk menghalangi Jemaah Haji  mendengarkan Dakwah

Sepanjang hari-hari tersebut, ada hal lain yang menciptakan kaum Quraisy galau gulana; yaitu bahwa belum beberapa hari atau bulan saja dakwah jahriyyah tersebut berlangsung hingga (tak terasa) mendekati ekspresi dominan haji. Dalam hal ini, kaum Quraisy mengetahui bahwa delegasi Arab akan tiba ke negeri mereka. Oleh alasannya ialah itu, mereka melihat perlunya merangkai satu pernyataan yang nantinya (secara sepakat) mereka sampaikan kepada delegasi tersebut perihal Muhammad semoga dakwah yang disiarkannya tidak mempunyai efek yang signifikan terhadap jiwa-jiwa mereka (delegasi Arab tersebut). Maka berkumpullah mereka di rumah al-Walid bin al-Mughirah untuk membicarakan satu pernyataan yang sempurna dan disepakati bersama tersebut. Lalu al-Walid berkata:" Bersepakatlah mengenai perihalnya (Muhammad) dalam satu pendapat dan janganlah berselisih sehingga menciptakan sebagian kalian mendustakan pendapat sebagian yang lain dan sebagian lagi menolak pendapat sebagian yang lain".

Mereka berkata kepadanya: "Katakan kepada kami pendapatmu yang akan kami jadikan acuan!".

Lalu dia berkata: "justru kalian yang harus mengemukakan pendapat kalian biar saya dengar dulu".

Mereka berkata: "(kita katakan) dia (Muhammad) ialah seorang dukun".

Dia menjawab: "Tidak! Demi Allah dia bukanlah seorang dukun. Kita telah melihat bagaimana kondisi para dukun sedangkan yang dikatakannya bukan mirip komat-kamit ataupun sajak (mantera-mantera) para dukun".

Mereka berkata lagi: "kita katakan saja; dia seorang yang gila".

Dia menjawab: "Tidak! Demi Allah! dia bukan seorang yang gila. Kita telah mengetahui esensi aneh dan telah mengenalnya sedangkan yang dikatakannya bukan dalam kategori ketercekikan, kerasukan ataupun was-was sebagaimana kondisi kegilaan tersebut".

Mereka berkata lagi: "kalau begitu kita katakan saja; dia ialah seorang Penya'ir' ".

Dia menjawab: "Dia bukan seorang Penya'ir. Kita telah mengenal semua bentuk sya'ir; rajaz, hazaj, qaridh, maqbudh dan mabsuth-nya sedangkan yang dikatakannya bukanlah sya'ir".

Mereka berkata lagi: "Kalau begitu; dia ialah Tukang sihir".

Dia menjawab: "Dia bukanlah seorang Tukang sihir. Kita telah melihat para tukang sihir dan jenis-jenis sihir mereka sedangkan yang dikatakannya bukanlah jenis nafts (hembusan) ataupun 'uqad (buhul-buhul) mereka".

Mereka kemudian berkata: "kalau begitu, apa yang harus kita katakan?".

Dia menjawab: "Demi Allah! sesungguhnya ucapan yang dikatakannya itu amatlah manis dan mengandung sihir (saking indahnya). Akarnya menyerupai tandan anggur dan cabangnya menyerupai pohon yang rindang. Tidaklah kalian merangkai sesuatupun tampaknya melainkan akan diketahui kebathilannya. Sesungguhnya, pendapat yang lebih bersahabat mengenai dirinya ialah dengan menyampaikan bahwa dia seorang Tukang sihir yang mengarang suatu ucapan berupa sihir yang bisa memisahkan antara seseorang dengan bapaknya, saudaranya dan isterinya. Mereka semua menjadi terpisah karena hal itu".

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa tatkala al-Walid menolak semua pendapat yang mereka kemukakan kepadanya; mereka berkata kepadanya: "kemukakan kepada kami pendapatmu yang tidak ada celanya!". Lalu dia berkata kepada mereka: "beri saya kesempatan barang sejenak untuk memikirkan hal itu!". Lantas al-Walid berfikir dan menguras fikirannya hingga dia sanggup memberikan kepada mereka pendapatnya tersebut sebagaimana yang disinggung diatas.

Dan mengenai al-Walid ini, Allah Ta'ala menurunkan enam belas ayat dari surat alMuddatstsir, yaitu dari ayat 11 hingga ayat 26; dipertengahan ayat-ayat tersebut terdapat gambaran bagaimana dia berfikir keras, Dia Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya dia telah memikirkan dan memutuskan (apa yang ditetapkannya) . maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata:"(al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia". 

Setelah majlis menyepakati keputusan tersebut, mereka mulai melaksanakannya; dudukduduk di jalan-jalan yang dilalui orang hingga delegasi Arab tiba pada ekspresi dominan haji. Setiap ada orang yang lewat, mereka peringatkan dan singgung kepadanya perihal Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam .
Sedangkan yang dilakukan oleh Rasululllah Shallallâhu 'alaihi wasallam manakala sudah tiba musimnya ialah mengikuti dan membuntuti orang-orang hingga ke rumahrumah mereka, di pasar 'Ukazh, Majinnah dan Dzul Majaz. Beliau mengajak mereka ke jalan Allah namun Abu Lahab yang selalu membuntuti di belakang dia memotong setiap permintaan dia Shallallâhu 'alaihi wasallam dengan berbalik menyampaikan kepada mereka: "jangan kalian ta'ati dia alasannya ialah sesungguhnya dia ialah seorang Shabi' (orang yang mengikuti syari'at nabi-nabi zaman dahulu atau orang yang menyembah bintang atau menyembah dewa-dewa) lagi Pendusta".

Akhir yang terjadi, justru dari ekspresi dominan itu delegasi Arab banyak mengetahui perihal Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam sehingga namanya menjadi buah bibir orang di seantero negeri Arab.
Metode-Metode yang dipakai dalam menghadapi Dakwah Islamiyyah
Manakala kaum Quraisy menuntaskan rituil haji, mereka segera memikirkan metodemetode yang bakal dipakai dalam menghadapi dakwah Islamiyyah di daerah bertolaknya, kemudian mereka menentukan beberapa metode berikut:

Mengejek, menghina, merendahkan, mendustai dan menertawakan

Target mereka ialah menghinakan kaum Muslimin dan melemahkan semangat juang mereka. Mereka menuduh nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam dengan tuduhan-tuduhan yang kerdil dan celaan-celaan yang nista; menjuluki dia Shallallâhu 'alaihi wasallam sebagai orang aneh ,

dalam firmanNya: "dan mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan kepadanya adz-Dzikr (al-Qur'an), sesungguhnya engkau ialah orang yang benar-benar gila". (Q.S.15/ al-Hijr: 6). 

Mereka juga menuduh dia sebagai tukang sihir dan pendusta, dalam firmanNya: "Dan mereka heran alasannya ialah mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata :"ini ialah spesialis sihir yang banyak berdusta". (Q.S. 38/Shaad: 4). 

Mereka mengunjungi dan menyambut dia dengan penuh rasa dendam dan gemuruh kemarahan, {Allah berfirman} :" Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kau dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur'an dan mereka berkata:"Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila". (QS. 68/al-Qalam:51).

Bila dia Shallallâhu 'alaihi wasallam sedang duduk-duduk dan disekitarnya shabatshahabat dia yang terdiri dari al- Mustadh'afun (kaum-kaum lemah), mereka mengejek sembari berkata: "(semacam) mereka itulah teman-teman duduk (ngobrol) nya, {Allah berfirman}: "orang-orang semacam itukah diantara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?". (Q.S. 6/al-An'am: 53), kemudian Allah membantah ucapan mereka tersebut: "Tidakkah Allah mengetahui wacana orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?". (Q.S.6/al-An'am: 53). 

Kondisi mereka bergotong-royong persis sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah kepada kita, dalam firmanNya: "Sesungguhnya orang-orang yang berdusta, ialah mereka yang dahulunya (di dunia) mentertawakan orang-orang yang beriman . Dan apabila orangp-orang beriman kemudian di hadapan mereka, mereka saling mengedipkan matanya . Dan apabila ornag-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan bangga . Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: 'sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat . Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin". [Q.S. 83/al-Muththaffifiin: 29-33]. 

Memperburuk gambaran ajaran-ajaran yang dibawanya, membuatkan syubhat-syubhat, mempublikasikan dakwaan-dakwaan dusta, menyiarkan statement-statement yang keliru seputar ajaran-ajaran, diri dan pribadi dia serta membesar-besarkan wacana hal itu.

Tindakan tersebut mereka maksudkan untuk tidak memberi kesempatan kepada orangorang awam merenungi dakwahnya: Mereka selalu berkata wacana al-Qur'an: {Allah berfirman}: "dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang" (Q.S.25/al-Furqan: 5). 

{Dan firmanNya}: " al-Qur'an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain…". (Q.S. 25/al-Furqan: 4). 

Mereka sering berkata: {dalam firmanNya}: "sesungguhnya al-Qur'an itu diajarkan oleh seorang insan kepadanya (Muhammad)". (Q.S. 16/an-Nahl: 103). 

Mereka juga sering menyampaikan wacana Rasululullah : {dalam firmanNya}: "mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?". (Q.S.25/al-Furqan: 7). Di dalam al-Qur'an terdapat banyak contoh bantahan terhadap statement-statement mereka setelah menukilnya ataupun tanpa menukilnya.

Menghalangi orang-orang semoga tidak sanggup mendengarkan al-Qur'an dan mengimbanginya dengan dongengan-dongengan orang-orang dahulu serta menciptakan sibuk mereka dengan hal itu:
Mereka menyebutkan bahwa an-Nadhar bin al-Harits pergi ke Hirah. Disana dia mencar ilmu cerita-cerita wacana raja-raja Persia, cerita-cerita wacana Rustum dan Asvandiar. Jika Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam sedang duduk-duduk di suatu majlis dalam rangka berwasiat kepada Allah dan mengingatkan insan akan pembalasan-Nya, maka seusai dia Shallallâhu 'alaihi wasallam melaksanakan hal itu; an-Nadhar berbicara kepada orangorang sembari berkata: "Demi Allah! ucapan Muhammad tersebut tidaklah lebih baik dari ucapanku ini". Kemudian dia mengisahkan kepada mereka wacana kisah raja-raja Persia, Rustum dan Asvandiar. Setelah itu, dia berceloteh: "Kalau begitu, bagaimana bisa ucapan Muhammad lebih anggun dari ucapanku ini?".

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas disebutkan bahwa an-Nadhar membeli seorang budak perempuan. Maka, setiap dia mendengarkan ada seseorang yang tertarik terhadap Islam, dia segera menggandengnya menuju budak perempuannya tersebut, kemudian berkata (kepada budak perempuannya): "beri dia makan, minum dan penuhi kebutuhannya. Ini ialah lebih baik dari apa yang diajak oleh Muhammad kepadamu". Maka turunlah ayat mengenai dirinya, Allah berfirman: "Dan diantara insan (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak mempunyai kegunaan untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah…". (Q.S.31/Luqman: 6).

Tahapan Pertama Dakwah Rasul Dijalan Allah

TAHAPAN BERDAKWAH DIJALAN ALLAH

Tiga Tahun berdakwah secara Sembunyi-sembunyi

 Seperti yang sudah diketahui bahwa kota Mekkah merupakan sentra agama bagi bangsa Arab TAHAPAN PERTAMA DAKWAH RASUL DIJALAN ALLAH
Seperti yang sudah diketahui bahwa kota Mekkah merupakan sentra agama bagi bangsa Arab. Disana terdapat para pengabdi ka'bah dan tiang sandaran bagi berhala dan patungpatung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab. Untuk mencapai target perbaikan yang memadai terhadap kondisi yang ada nampaknya akan bertambah sulit dan keras kalau jauh dari jangkauan kondisionalnya. Karenanya, kondisi tersebut membutuhkan tekad baja yang tak gampang tergoyahkan oleh beruntunnya peristiwa alam dan peristiwa yang menimpa; maka yaitu bijaksana dalam menghadapi hal itu, memulai dakwah secara sirri (sembunyisembunyi) semoga penduduk Mekkah tidak dikagetkan dengan hal yang (bisa saja) memancing emosi mereka.

Kaum Muslimin yang Pertama Kali Masuk Islam

Sudah merupakan sesuatu yang lumrah bila yang pertama-tama dilakukan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam yaitu memberikan Islam kepada orang-orang yang erat hubungannya dengan beliau, keluarga besar serta shahabat-shahabat karib beliau; mereka semua didakwahi oleh dia untuk memeluk Islam. Beliau juga tak lupa mendakwahi orang yang sudah saling mengenal dengan dia dan mempunyai sifat baik dan suka berbuat baik, mereka yang dia kenal sebagai orang-orang yang mengasihi Allah al-Haq dan kebaikan atau mereka yang mengenal dia Shallallâhu 'alaihi wasallam sebagai sosok yang selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran dan keshalihan. Hasilnya, banyak diantara mereka – yang tidak sedikitpun dibayangi oleh keraguan terhadap keagungan, kebesaran jiwa Rasulullah serta kebenaran isu yang dibawanya- merespons dengan baik dakwah beliau. Mereka ini dalam sejarah Islam dikenal sebagai as-Saabiquun al-Awwalluun (orangorang yang paling dahulu dan pertama masuk Islam).
Orang-orang yang pertama kali memeluk islam adalah:
  • Istri Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam, Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid,
  • Maula (budak) beliau, Zaid bin Haritsah bin Syarahil al-Kalbi,
  • Keponakan beliau; 'Ali bin Abi Thalib – yang saat itu masih belum dewasa dan hidup dibawah tanggungan beliau
  • Serta shahabat paling erat beliau, Abu Bakr ash-Shiddiq. Mereka semua memeluk Islam pada permulaan dakwah.
Kemudian, Abu Bakar turun tangan dalam mendakwahi Islam. Dia yaitu sosok pria yang lembut, disenangi, fleksibel dan berbudi baik. Para tokoh kaumnya selalu mengunjunginya dan sudah tidak ajaib dengan kepribadiannya sebab keintelekan, kesuksesan dalam berbisnis dan pergaulannya yang luwes. Dia terus berdakwah kepada orang-orang dari kaumnya yang dia percayai dan selalu berinteraksi dan bermajlis dengannya. Berkat hal itu, maka masuk Islam lah :
  •  'Utsman bin 'Affana al-Umawi,
  • az-Zubair bin al-'Awam alAsadi,
  • 'Abdurrahman bin 'Auf,
  • Sa'd bin Abi Waqqash az-Zuhriyan 
  • Thalhah bin 'Ubaidillah at-Timi.
Mereka inilah orang orang yang menyatakan pertama kali masuk islam, bahkan menjadi perintis pertama dalam penyebaran islam
Diantara orang-orang pertama lainnya yang masuk Islam yaitu Bilal bin Rabah alHabasyi, kemudian diikuti oleh Amin (Kepercayaan) umat ini, Abu 'Ubaidah; 'Amir bin al-Jarrah yang berasal dari suku Bani al-Harits bin Fihr, Abu Salamah bin 'Abdul Asad, alArqam bin Abil Arqam (keduanya berasal dari suku Makhzum), 'Utsman bin Mazh'un dan kedua saudaranya; Qudamah dan 'Abdullah -, 'Ubaidah bin al-Harits bin alMuththalib bin 'Abdu Manaf, Sa'id bin Zaid al-'Adawy dan isterinya; Fathimah binti alKhaththab al-'Adawiyyah - saudara perempuan dari 'Umar bin al-Khaththab -, Khabbab bin al-Arts, 'Abdullah bin Mas'ud al-Hazaly serta banyak lagi selain mereka. Mereka itulah yang dinamakan as-Saabiquunal Awwaluun. Mereka terdiri dari semua suku Quraisy yang ada bahkan Ibnu Hisyam menjumlahkannya lebih dari 40 orang. Namun, dalam penyebutan sebagian dari nama-nama tersebut masih perlu diberikan catatan.

Ibnu Ishaq berkata: "…kemudian banyak orang yang masuk Islam secara berbondongbondong baik pria maupun perempuan hingga kesudahannya tersiarlah gaung "Islam" di seantero Mekkah dan mulai banyak menjadi materi perbincangan orang.

Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Maka cara yang sama pun dilaklukan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dalam pertemuan dia dengan pengarahan agama yang diberikan sebab dakwah saat itu masih bersifat individu dan sembunyi-sembunyi. Wahyu turun secara berkesinambungan dan memuncak sehabis turunnya permulaan surat al-Muddatstsir. Ayat-ayat dan penggalan-penggalan surat yang turun pada masa ini merupakan ayat-ayat pendek; mempunyai pemisah-pemisah yang indah dan valid, senandung yang menyejukkan dan memikat seiring dengan suasana suhu domestik yang begitu lembut dan halus. Ayat-ayat tersebut membicarakan solusi memperbaiki penyucian diri ( tazkiyatun nufuus), mencela pengotorannya dengan gemerlap duniawi dan menyifati nirwana dan neraka yang seolah-olah terlihat oleh mata kepala sendiri. Juga, menggiring kaum Mukminin ke dalam suasana yang lain dari kondisi komunitas sosial kala itu.

Shalat

Termasuk wahyu pertama yang turun yaitu perintah mendirikan shalat. Ibnu Hajar berkata: "sebelum terjadinya Isra', dia Shallallâhu 'alaihi wasallam secara qath'i pernah melaksanakan shalat, demikian pula dengan para shahabat akan tetapi yang diperselisihkan apakah ada shalat lain yang telah diwajibkan sebelum (diwajibkannya) shalat lima waktu ataukah tidak?. Ada pendapat yang menyampaikan bahwa yang telah diwajibkan itu yaitu shalat sebelum terbit dan terbenamnya matahari". Demikian penuturan Ibnu Hajar.

Al-Harits bin Usamah meriwayatkan dari jalur Ibnu Lahi'ah secara maushul ( disambungkan sehabis sanad-sanadnya mu'allaq [terputus di serpihan tertentu]) dari Zaid bin Haritsah bersama-sama pada awal datangnya wahyu, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam didatangi oleh malaikat Jibril; dia mengajarkan dia tata cara berwudhu. Maka tatkala selesai melakukannya, dia mengambil seciduk air lantas memercikkannya ke faraj beliau. Ibnu Majah juga telah meriwayatkan hadits yang semakna dengan itu, demikian pula riwayat semisalnya dari al-Bara' bin 'Azib dan Ibnu 'Abbas serta hadits Ibnu 'Abbas sendiri. Hal tersebut merupakan kewajiban pertama.

Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa bila waktu shalat telah masuk, Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam dan para shahabat pergi ke perbukitan dan menjalankan shalat disana secara sembunyi-sembunyi jauh dari kaum mereka. Abu Thalib pernah sekali waktu melihat Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam dan 'Ali melaksanakan shalat, lantas menegur keduanya namun manakala dia mengetahui bahwa hal tersebut yaitu sesuatu yang serius, dia memerintahkan keduanya untuk berketetapan hati (tsabat).

Kaum Quraisy mendengar tentang dakwah Nabi

Meskipun dakwah pada tahapan ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan bersifat individu, namun tentang beritanya hingga juga ke pendengaran kaum Quraisy. Hanya saja, mereka belum mempermasalahkannya sebab Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam tidak pernah menyinggung agama mereka ataupun tuhan-tuhan mereka.

Tiga tahunpun berlalu sementara dakwah masih berjalan secara sembunyi-sembunyi dan individu; dalam tempo waktu ini terbentuklah suatu jamaah Mukminin yang dibangun atas pondasi ukhuwwah (persaudaraan) dan ta'awun (solidaritas) serta penyampaian risalah dan proses reposisinya. Kemudian turunlah wahyu yang membebankan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam semoga memberikan dakwah kepada kaumnya secara terangterangan; menentang kebatilan mereka serta menyerang berhala-berhala mereka.

Periode Periode Kenabian Rasulullah

MASA KENABIAN DAN DAKWAH

PERIODE MEKKAH

alaihi wasallam sesudah dia dimuliakan oleh Allah dengan nubuwwah dan risalah terbagi m PERIODE MASA KENABIAN RASULULLAH
Kehidupan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sesudah dia dimuliakan oleh Allah dengan nubuwwah dan risalah terbagi menjadi dua periode yang masing-masing mempunyai keistimewaan tersendiri secara total, yaitu:

1. Fase Mekah : berlangsung selama lebih kurang 13 tahun

2. Fase Madinah : berlangsung selama 10 tahun penuh

Dan masing-masing periode mengalami beberapa tahapan sedangkan masing-masing tahapan mempunyai karakteristik tersendiri yang menonjolkannya dari yang lainnya. Hal itu akan tampak terang sesudah kita melaksanakan penelitian secara seksama dan detail terhadap kondisi yang dilalui oleh dakwah dalam kedua periode tersebut.

Periode Mekkah sanggup dibagi menjadi tiga tahapan:

Tahapan Dakwah sirriyyah (sembunyi-sembunyi); berlangsung selama tiga tahun.
Tahapan Dakwah secara terang-terangan kepada penduduk Mekkah; dari permulaan tahun ke-empat kenabian hingga hijrah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ke Madinah.
Tahapan Dakwah di luar Mekkah dan penyebarannya di kalangan penduduknya; dari penghujung tahun ke-sepuluh kenabian-dimana juga meliputi Periode Madinah- dan berlangsung hingga janjkematian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Adapun mengenai tahapan-tahapan Periode Madinah maka rincian pembahasannya akan diketengahkan pada tempatnya nanti.

DIBAWAH NAUNGAN KENABIAN DAN KERASULAN

Di Gua Hira'

Setelah melalui perenungan yang usang dan telah terjadi jurang pemisah antara pemikiran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan kaumnya, dia nampak lebih menggandrungi untuk mengasingkan diri. Hal ini terjadi tatkala dia menginjak usia 40 tahun; dia membawa roti dari gandum dan bekal air ke gua Hira' yang terletak di jabal an-Nur , yaitu sejauh hampir 2 mil dari Mekkah. Gua ini merupakan gua yang indah, panjangnya 4 hasta, lebarnya 1,75 hasta dengan ukuran zira' al-Hadid (hasta ukuran besi). Di dalam gua tersebut, dia berpuasa bulan Ramadhan, memberi makan orang-orang miskin yang mengunjunginya. Beliau menghabiskan waktunya dalam beribadah dan berfikir mengenai keagungan dan kebesaran sang pencipta yang berada di sekitarnya dan adanya kekuasaan dalam membuat dibalik itu. Kaumnya yang masih menganut 'aqidah yang amburadul dan cara pandang yang ringkih membuatnya tidak tenang akan tetapi dia tidak mempunyai jalan yang jelas, manhaj yang terprogram serta cara yang terarah yang membuatnya hening dan oke dengannya.

Pilihan mengasingkan diri ('uzlah) yang diambil oleh dia Shallallahu 'alaihi wasallam ini merupakan pecahan dari tadbir (aturan) Allah terhadapnya. Juga, biar terputusnya hubungannya dengan kesibukan-kesibukan di muka bumi, gemerlap hidup dan nestapa-nestapa kecil yang mengusik kehidupan insan menjadi noktah perubahan dalam mempersiapkan diri menghadapi urusan besar yang sudah menantinya sehingga siap mengemban amanah kubro, merubah wajah bumi dan meluruskan garis sejarah. 'Uzlah yang sudah ditadbir oleh Allah ini terjadi tiga tahun sebelum dia ditaklif dengan risalah. Beliau mengambil jalan 'uzlah ini selama sebulan dengan semangat wujud yang bebas dan mentadabburi kehidupan ghaib yang tersembunyi dibalik wujud tersebut hingga tiba waktunya untuk berinteraksi dengan kehidupan ghaib ini ketika Allah memperkenankannya.

Jibril 'alaihissalam turun membawa wahyu

Tatkala usia dia mencapai genap empat puluh tahun- yaitu usia yang melambangkan kematangan, dan ada riwayat yang menyatakan bahwa diusia inilah para Rasul diutus – gejala nubuwwah (kenabian) sudah tampak dan mengemuka, diantaranya; adanya sebuah kerikil di Mekkah yang mengucapkan salam kepada beliau, terjadinya ar-Ru'ya –ashShadiqah- (mimpi yang benar) yang tiba berupa fajar subuh yang menyingsing. Hal ini berlangsung hingga enam bulan –masa kenabian berlangsung selama dua puluh tiga tahun- dan ar-Ru'ya ash-Shadiqah ini merupakan pecahan dari empat puluh enam tanda kenabian. Ketika memasuki tahun ketiga dari pengasingan dirinya ('uzlah) di gua Hira', tepatnya di bulan Ramadhan, Allah menghendaki rahmatNya dilimpahkan kepada penduduk bumi dengan menawarkan kemuliaan kepada beliau, berupa pengangkatan sebagai Nabi dan menurunkan Jibril kepadanya dengan membawa beberapa ayat alQur'an.

Setelah melalui pengamatan dan perenungan terhadap beberapa bukti-bukti dan tandatanda akurat, kami sanggup memilih persisnya pengangkatan tersebut, yaitu hari Senin, tanggal 21 malam bulan Ramadhan dan bertepatan dengan tanggal 10 Agustus tahun 610 M. Tepatnya usia dia ketika itu empat puluh tahun enam bulan dua belas hari berdasarkan penanggalan qamariyyah (berdasarkan peredaran bulan; hijriyyah) dan sekitar tiga puluh sembilan tahun tiga bulan dua puluh hari; ini berdasarkan penanggalan syamsiyyah (berdasarkan peredaran matahari; masehi).

Mari kita dengar sendiri 'Aisyah ash-Shiddiqah radhiallâhu 'anha menuturkan kisahnya kepada kita mengenai insiden yang merupakan noktah permulaan nubuwwah tersebut dan yang mulai membuka tabir-tabir gelapnya kekufuran dan kesesatan sehingga sanggup mengubah alur kehidupan dan meluruskan garis sejarah; 'Aisyah radhiallâhu 'anha berkata:

"Wahyu yang mula pertama dialami oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ialah berupa ar-Ru'ya ash-Shalihah (mimpi yang benar) dalam tidur dan ar-Ru'ya itu hanya berbentuk fajar shubuh yang menyingsing, kemudian dia lebih menyenangi penyendirian dan melakukannya di gua Hira'; beribadah di dalamnya beberapa malam sebelum dia kembali ke rumah keluarganya. Dalam melaksanakan itu, dia mengambil bekal kemudian kembali ke Khadijah mengambil perbekalan yang sama hingga tiba kebenaran kepadanya; yaitu ketika dia berada di gua Hira' tersebut, seorang malaikat tiba menghampiri sembari berkata:

"Bacalah!", kemudian saya menjawab (ini ialah jawaban Rasulullah sendiri yang tampaknya oleh penulis ini dinukil eksklusif dari naskah orisinil haditsnya-red): "aku tidak bisa membaca!". Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bertutur lagi: "kemudian dia memegang dan merengkuhku hingga saya kehabisan bertenaga, kemudian sesudah itu melepaskanku sembari berkata: "bacalah!". Aku tetap menjawab: "aku tidak bisa membaca!". Lalu dia untuk kedua kalinya, memegang dan merengkuhku hingga saya kehabisan bertenaga kemudian melepaskanku seraya berkata lagi: "bacalah!". Lalu saya tetap menjawab: "aku tidak bisa membaca!". Kemudian dia melaksanakan hal yang sama untuk ketiga kalinya, sembari berkata: "bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang menciptakan. Dia telah membuat insan dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmu lah Yang Paling Pemurah". (Q.S. al-'Alaq: 1-3).

Rasulullah pulang dengan merekam bacaan tersebut dalam kondisi hati yang bergetar, dan menemui Khadijah binti Khuwailid sembari berucap: "selimuti aku! Selimuti aku!". Beliau pun diselimuti hingga rasa ketakutannya hilang. Beliau bertanya kepada Khadijah: "apa yang terjadi terhadapku ini?". Lantas dia menceritakan pengalamannya, dan berkata: "aku amat khawatir terhadap diriku!". Khadijah berkata: "sekali-kali tidak akan! Demi Allah! Dia Ta'ala tidak akan menghinakanmu selamanya! Sungguh engkau ialah penyambung tali rahim, pemikul beban orang lain yang mendapat kesusahan, pemberi orang yang papa, penjamu tamu serta penolong setiap upaya menegakkan kebenaran". Kemudian Khadijah berangkat bersama dia untuk menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin 'Abdul 'Uzza, anak paman Khadijah (sepupunya). Dia (anak pamannya tersebut) ialah seorang yang menganut agama Nashrani pada masa Jahiliyyah, dia bisa menulis dengan goresan pena 'Ibrani dan sempat menulis dari injil beberapa goresan pena yang bisa ia tulis –sebanyak apa yang dikehendaki oleh Allah- dengan goresan pena 'Ibrani. Dia juga, seorang yang sudah renta renta dan buta; ketika itu Khadijah berkata kepadanya: "wahai anak pamanku! Dengarkanlah (cerita) dari anak saudaramu!". Waraqah berkata: "wahai anak pria saudara (laki-laki)ku! Apa yang engkau lihat?". Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membeberkan pengalaman yang sudah dilihatnya. Waraqah berkata kepadanya: "sesungguhnya inilah sebagaimana pemikiran yang diturunkan kepada Nabi Musa! Andai saja saya masih bugar dan muda ketika itu nanti! Andai saja saya masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu!". Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya: "benarkah mereka akan mengusirku?". Dia menjawab: "ya! Tidak seorangpun yang membawa ibarat yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi, dan kalau saya masih hidup pada ketika itu pasti saya akan membantumu dengan sekuat tenaga".

Kemudian tak berapa usang dari itu Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus (mengalami masa stagnan).

Masa Terputusnya Turun Wahyu

Mengenai hal ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad dari Ibnu Abbas yang pada dasarnya menyatakan bahwa masa stagnan itu berlangsung selama beberapa hari ; pendapat inilah yang rajih/kuat bahkan sesudah melalui penelitian dari segala aspeknya secara terfokus harus menjadi acuan. Adapun riwayat yang berkembang bahwa hal itu berlangsung selama tiga tahun atau dua tahun setengah tidaklah shahih sama sekali, namun disini bukan pada tempatnya untuk membantah hal itu secara detail.

Pada masa stagnan tersebut, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dirundung kesedihan yang mendalam yang diselimuti oleh rasa kebingungan dan panik.
Dalam kitab "at-Ta'bir" , Imam Bukhari meriwayatkan naskah sebagai berikut:" berdasarkan informasi yang hingga kepada kami, wahyupun mengalami stagnan hingga membuat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam duka dan berkali-kali berlarian biar dia sanggup terjerembab ke ujung jurang-jurang gunung, namun setiap dia mencapai puncak gunung untuk mencampakkan dirinya, malaikat Jibril menampakkan wujudnya sembari berkata: "wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau sebenar-benar utusan Allah!". Spirit ini sanggup menenangkan dan memantapkan kembali jiwa beliau. Lalu pulanglah dia ke rumah, namun manakala masa stagnan itu masih terus berlanjut beliaupun mengulangi tindakan sebagaimana sebelumnya; dan ketika dia mencapai puncak gunung, malaikat Jibril menampakkan wujudnya dan berkata kepadanya ibarat sebelumnya (memberi spirit kepada beliau-red)".

Jibril 'alaihissalam Turun Kembali Membawa Wahyu

Ibnu Hajar berkata: "Masa stagnan itu sungguh telah menghilangkan ketakutan yang telah dialami oleh dia Shallallahu 'alaihi wasallam dan membuatnya bersemangat untuk kembali mengalaminya. Dan ketika hal ini benar terjadi dan dia mulai menanti-nanti datangnya wahyu, maka datanglah malaikat Jibril 'alaihissalam untuk kedua kalinya. Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin 'Abdullah bekerjsama dia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan perihal masa stagnan itu, dia bercerita: "Ketika saya tengah berjalan-jalan, tiba-tiba saya mendengar bunyi yang berasal dari langit, kemudian saya mendongakkan pandangan ke arah langit, ternyata malaikat yang dulu mendatangiku ketika di gua Hira' duduk diatas dingklik antara langit dan bumi. Melihat hal itu saya terkejut hingga saya tersungkur ke bumi. Kemudian saya mendatangi keluargaku sembari berkata: 'selimutilah aku! Selimutilah aku!'. Lantas mereka menyelimutiku, gres kemudian Allah menurunkah surat al-Muddatstsir;yaitu dari firmanNya; yaa ayyuhal muddatstsir….hingga firmanNya: …fahjur'. (Q.S. al-Muddatstsir: 1-5). Setelah itu wahyu tetap terjaga dan tiba secara teratur". Dalam hadits yang shahih: " Aku tinggal di bersahabat gua Hira' selama sebulan; tatkala saya sudah selesai melaksanakan itu, maka saya turun gunung. Dan ketika saya hingga ke sebuah lembah dan saya dipanggil oleh seseorang…". Kemudian (teks hadits selanjutnya-red) dia Shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan (cerita) sebagaimana yang telah dikemukakan diatas yang intinya; bahwa ayat tersebut turun sesudah sempurnanya dia menyertai bulan Ramadhan dan dengan begitu, artinya masa stagnan antara dua wahyu tersebut berlangsung selama sepuluh hari lantaran dia Shallallahu 'alaihi wasallam tidak sempat lagi menyertai Ramadhan berikutnya sesudah turunnya wahyu pertama.

Ayat-ayat tersebut merupakan permulaan dari masa kerasulan (risalah) dia Shallallahu 'alaihi wasallam alias tiba sesudah masa kenabian (nubuwwah) yang berjarak selama masa stagnan turunnya wahyu.

Ayat-ayat tersebut mengandung dua jenis taklif (pembebanan syara') beserta klarifikasi konsekuensinya.

Jenis pertama ialah mentaklif dia Shallallahu 'alaihi wasallam dengan penyampaian (al-Balagh) dan peringatan ( at- Tahzir) saja. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala: "bangunlah! Lalu berilah peringatan" (Surat al-Muddatstsir:2); makna ayat ini ialah biar dia memperingatkan insan akan azab Allah atas mereka kalau mereka tidak bertaubat dari dosa, kesesatan, beribadah kepada selain Allah Yang Maha Tinggi serta berbuat syirik kepadaNya dalam zat, sifat-sifat, hak-hak dan perbuatan-perbuatan.

Jenis kedua ialah mentaklif dia Shallallahu 'alaihi wasallam dengan penerapan perintah-perintah Allah Ta'ala terhadap zatNya dan akad terhadapnya dalam jiwa dia biar mendapat keridhaan Allah dan menjadi suri teladan yang baik bagi orang yang beriman kepada Allah. Hal ini tercermin pada ayat-ayat berikutnya. Firman Allah Ta'ala: "dan Rabb-mu agungkanlah!"(al-Muddatstsir: 3); maknanya ialah khususkanlah. Dia Ta'ala dengan pengagungan dan janganlah menyekutukanNya dengan seseorangpun. Dan firmanNya: "dan pakaianmu bersihkanlah!" (al-Muddatstsir:4); makna lahiriyahnya ialah menyucikan/membersihkan pakaian dan jasad lantaran tidaklah layak bagi orang yang mengagungkan Allah dan menghadapNya dalam kondisi dilumuri oleh najis dan kotor. Jika saja kesucian/kebersihan ini dituntut untuk dilakukan maka kesucian/kebersihan diri dari virus-virus syirik, pekerjaan dan budpekerti yang hina tentunya lebih utama untuk dituntut. Dan firmanNya: "dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah!" (al-Muddatstsir:5) ; maknanya ialah jauhkanlah dari sebab-sebab turunnya kemurkaan Allah dan azabNya, dan hal ini direalisasikan melalui akad untuk ta'at kepadaNya dan meninggalkan maksiat. Sedangkan firmanNya: "dan janganlah kau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak!" (alMuddatstsir: 6); yakni janganlah kau berbuat baik dengan menginginkan upah dari insan atasnya atau jawaban yang lebih utama di dunia ini.

Adapun makna ayat terakhir (yang diturunkan ketika itu kepada beliau-red); didalamnya terdapat peringatan akan adanya gangguan dari kaumnya ketika dia Shallallahu 'alaihi wasallam berbeda agama dengan mereka, mengajak mereka kepada Allah semata dan memperingatkan mereka akan azab dan siksaanNya; yaitu dalam firmanNya: "dan untuk memenuhi (perintah Rabb-mu) bersabarlah!" (al-Muddatstsir: 7).

Permulaan ayat-ayat tersebut (surat al-Muddatstsir) berbicara perihal panggilan langit nan agung- terekam dalam bunyi Yang Maha Besar dan Maha Tinggi- yang mengajurkan biar Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan urusan yang mulia ini dan memerintahkannya biar mengenyahkan tidur, selimut dan berhangat-hangat guna menyongsong panggilan jihad, berjuang dan menempuh jalan penuh ranjau; ini tergambar dalam firmanNya: "Hai orang yang berselimut! bangunlah! Lalu berilah peringatan" (Surat al-Muddatstsir:2) . Seakan-akan dikatakan (kepada dia Shallallahu 'alaihi wasallam ): sesungguhnya orang yang hanya hidup untuk kepentingan dirinya saja, bisa saja hidup hening dan nyaman sedangkan engkau yang memikul beban yang besar ini; apa gunanya tidur bagimu? Apa gunanya istirahat/refreshing bagimu? Apa gunanya permadani yang hangat bagimu? Apa gunanya hidup yang hening bagimu? Apa gunanya kesenangan yang membuaikan bagimu? Bangunlah untuk melaksanakan urusan maha penting yang menunggumu dan beban berat yang disediakan untukmu! Bangunlah untuk berjuang, bergiat-giat, bekerja keras dan berletih-letih! Bangunlah! Karena waktu tidur dan istirahat sudah berlalu, dan tidak akan kembali lagi semenjak hari ini; yang ada hanyalah mata yang meronda secara kontinyu, jihad yang panjang dan melelahkan. Bangunlah! Persiapkan diri menyambut urusan ini dan bersiagalah!.

Sungguh ini merupakan ucapan agung dan kharismatik yang (seakan) melucuti dia Shallallahu 'alaihi wasallam dari kehangatan permadani di suatu rumah yang nyaman dan pelukan yang suam untuk kemudian melemparkannya keluar menuju samudera luas yang diselimuti oleh deru ombak dan hujan yang mengguyur, (dan samudera) dimana terjadi tarik menarik yang membuat posisinya di hati insan dan realitas hidup sama saja.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam telah berdiri dan tetap berdiri sesudah perintah itu selama lebih dari dua puluh tahun; tidak pernah beristirahat dan tidak pula hanya hidup untuk kepentingan dirinya dan keluarganya. Bangun dan tetap berdiri diatas pondasi dakwah kepada Allah, mengembankan di pundaknya beban yang amat berat namun dia tidak menganggapnya berat; beban amanah kubro di muka bumi ini, beban insan secara keseluruhan, beban 'aqidah secara keseluruhan, beban usaha dan jihad di medan-medan yang berbeda. Beliau hidup menghadapi pertempuran yang kontinyu selama lebih dari dua puluh tahun. Selama batas waktu tenggang ini, tidak satupun hal yang sanggup membuatnya lengah, yaitu semenjak dia mendengar panggilan langit nan agung yang menyerahkan taklif yang begitu dahsyat untuk diembannya… semoga Allah membalas jasa dia terhadap insan secara keseluruhan dengan sebaik-baik imbalan.

Sekilas ulasan perihal urutan kronologi turunnya wahyu

Sebelum beranjak ke klarifikasi detail mengenai kehidupan di bawah naungan risalah dan nubuwwah, kami melihat perlu kita mengetahui urutan kronologi turunnya wahyu yang merupakan sumber risalah dan tinta dakwah. Ibnu al-Qayyim berkata, ketika menyinggung urutan kronologi turunnya wahyu tersebut:

Pertama, berupa ar-Ru'ya ash-Shaadiqah (mimpi yang benar); ini merupakan permulaan turunnya wahyu kepada dia Shallallahu 'alaihi wasallam.

Kedua, berupa sesuatu yang ditimbulkan oleh malaikat terhadap rau' (hati yang ketakutan, akal) dan hatinya tanpa sanggup melihatnya; hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam : "Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril 'alaihissalam) menghembuskan ke dalam hatiku (yang diliputi ketakutan) bekerjsama jiwa tidak akan mati hingga disempurnakan rizki baginya. Oleh lantaran itu, bertakwalah kalian kepada Allah, berindah-indahlah dalam meminta serta janganlah keterlambatan rizki atas kalian mendorong kalian untuk memintanya dengan cara melaksanakan perbuatan maksiat kepadaNya, lantaran sesungguhnya apa yang ada disisi Allah tidak akan didapat kecuali dengan berbuat ta'at kepadaNya".

Ketiga, berupa malaikat yang berwujud seorang laki-laki; lantas dia mengajak dia berbicara hingga mengingat dengan terang apa yang dikatakan kepadanya. Dalam urutan ini, terkadang para shahabat melihat malaikat tersebut.

Keempat, berupa bunyi gemerincing lonceng yang tiba kepada beliau; insiden ini merupakan pengalaman yang paling berat bagi dia dimana malaikat menggunakan cara ini hingga membuat keningnya mengerut bersimbah peluh. Ini terjadi di hari yang amat dingin. Demikian pula, mengakibatkan onta dia duduk bersimpuh ke bumi bila dia menungganginya. Dan pernah juga wahyu tiba ibarat kondisi tersebut dan ketika itu paha dia ditaruh diatas paha Zaid bin Tsabit yang seketika dirasakan olehnya (Zaid) demikian berat sehingga hampir saja remuk.

Kelima, berupa malaikat dalam bentuk aslinya yang dilihat eksklusif oleh beliau, kemudian diwahyukan kepada dia beberapa wahyu yang dikehendaki oleh Allah; insiden ibarat ini dialami oleh dia sebanyak dua kali sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam surat an-Najm.

Keenam, berupa wahyu yang diwahyukan kepada beliau; yaitu ketika dia berada diatas lelangit pada malam mi'raj , diantaranya ketika diwajibkannya shalat dan lainnya.

Ketujuh, berupa Kalamullah kepada dia (dariNya kepadanya) tanpa perantaraan malaikat sebagaimana Allah berbicara kepada Musa bin 'Imran; insiden ibarat ini terjadi dan diabadikan secara qath'i berdasarkan nash al-Qur'an. Sedangkan terhadap Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam terjadi dalam hadits yang berbicara perihal Isra' .

Sebagian para ulama menambah urutannya menjadi delapan, yaitu; Allah berbicara kepada dia Shallallahu 'alaihi wasallam secara eksklusif tanpa hijab; ini merupakan permasalahan yang diperdebatkan oleh ulama Salaf dan Khalaf. Demikian, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu al-Qayyim dengan sedikit diringkas dalam klarifikasi perihal urutan pertama dan kedelapan. Pendapat yang benar, bahwa urutan terakhir ini (kedelapan) tidak tsabit (valid dan dipercaya keabsahan riwayatnya-red).