Sunday, 15 March 2020

Peran Perempuan Aceh Melawan Kolonialisme Dan Imperialisme



"Udep saree matee syahid" itulah slogan yang pernah hidup dan terus terpatri dalam sanu bari rakyat Aceh. Aceh satu-satunya daerah yang menerima julukan 'Serambi Mekkah' dalam sejarah perlawanan terhadap aneka macam bentuk penjajahan.

Islam yang menggelora di dada rakyat Aceh tercermin dari perilaku patriotik yang mereka tampilkan. Perlawanan demi perlawanan dalam mengusir penjajah selalu mereka tampilkan guna mengusung sebuah misi suci yaitu "hudep mulia matee syahid." Sehingga dalam sejarah perjalanan mengusir penjajah, Aceh menjadi daerah dalam lingkugan besar Nusantara yang bisa memelihara identitasnya.

Di samping itu Aceh juga mempunyai sejarah kepribadian kolektifnya yang relatif jauh lebih tinggi, lebih kuat, serta paling sedikit ter-Belanda-kan di bandingkan daerah lain di Indonesia. dan itu lah sebabnya mengapa tokoh jagoan Belanda sekaliber Van Der Vier menyampaikan bahwa, "orang Aceh sanggup dibunuh, tapi tak sanggup ditaklukkan.

Sejarah besarnya pengabdian rakyat Aceh dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia dan membumi hanguskan penjajah bisa kita telusuri dalam buku-buku sejarah, baik yang ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Belanda, maupun bahasa Perancis. Sejarah mencatat peperangan melawan kolonialisme dan imperialisme (1873-1942) telah memaksa orang Aceh untuk melaksanakan perlawanan sengit. Bahkan mendobrak semangat kaum perempuan Aceh untuk tampil ke garda terdepan dalam saf perang.

Semangat juang tersebut lahir dari sebuah iktikad bahwa semua itu perang fisabilillah. Berperang demi menjaga kehormatan bangsa dan agama serta menampik setiap anjuran kompromi dan hanya mengenal pilihan membunuh atau dibunuh ketika berhadapan dengan musuh. Inilah secarcik darah panglima perang sekaliber Khalid Bin Walid yang masih tersimpan dalam jiwa orang Aceh yang tiba ke medan jihad hanya untuk mencari mati.

Kerajaan Aceh

Sejarah kerajaan Aceh di mulai semenjak Islam menginjak kakinya di ujung barat Sumatera. Saat itu hanya dikenal dengan kerajaan-kerajaan Islam, menyerupai kerajaan Islam Peureulak (840 M/225H), kerajaan Islam Samudera Pasai (560 H/1166M), kerajaan Tamiang, kerajaan Pedir, dan kerajaan Meureuhoem Daya. Kemudian Sultan Alauddin Johansyah yang berdaulat pada tahun 601 H/ 1205 M berinisiatif untuk menyatukan kerajaan Aceh tersebut. Yang sehabis itu menjadi kerajaan Aceh Darussalam dengan ibu kota Kuta Radja atau Banda Aceh hari ini.

Pada ketika ini lah Sultan Alauddin al-Kahhar mulai mempeluas wilayah kekuasaannya hingga ke negeri-negeri Melayu dan semenanjung Malaka. Sejarah menyebutkan pada masa ke-5 M kerajaan Aceh menjadi kerajaan Islam terbesar di Nusantara dan kerajaan Islam ke-5 terbesar di dunia. Kemudian proses peluasan wilayah ini dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam.

Perlu dicatat penaklukan yang dilakukan raja Aceh ketika itu bukan untuk menjajah suku bangsa lain, tapi untuk melindungi mereka dari penjajahan Portugis (A Hasjmy: 1997). Pada ketika itu kerajaan Aceh sudah menjalin dagang dan diplomatik dengan negara-negara tetangga, Timur Tengah, dan Eropa. Antara lain denga kerajaan Denmark, kerajaan Pattani, kerajaan Brunei Darussalam, kerajaan Turki Ustmani, Inggris, Belanda, dan Amerika.

Kerajaan Aceh Darussalam ketika itu juga telah mempunyai aturan tersendiri yang disebut dengan " Kanun Meukuta Alam" yang berlandaskan syariat Islam. Dalam kanun tersebut setiaa rakyat yang bernaung di bawah kerajaan Darussalam menerima keadilan hukum. Inilah sebabnya kerajaan Aceh semakin hari semakin luas wilayah kekuasaannya. Dan wilayah-wilayah yang ditakluk kerajaan Aceh merasa bahagia untuk bergabung dengan Aceh. Proses penaklukan menyerupai ini terus saja berkelanjutan hingga sebelum pihak kolonial menabur aneka macam fitnah terhadap kerajaan Aceh.

Ketika kerajaan-kerajaan Islam Nusantara telah ditaklukkan kolonial barat, kerajaan Aceh masih tetap berdaulat hingga masa ke-18 M. Pihak kolinialis baik yang tiba dari Portugis, Belanda, maupun Inggris bukan tidak berambisi untuk menaklukkan Aceh, tetapi mereka merasa gentar terhadap keunggulan AU (angkatan laut) Aceh yang ketika itu menguasai perairan selat Malaka dan lautan Hindia. Pada ketika itu AU Aceh mempunyai armada yang tangguh berkat pertolongan senjata dan kapal perang dari kejaan Turki Ustmani. Salah satu AU yang sangat populer yaitu Laksamana Malahayati.

Selain itu, dilihat dari barisan perang kerajaan Aceh di dominasi oleh prajurit-prajurit yang berani mati dan mempunyai semangat juang yang bergelora. Di antaranya yaitu Teungku Umar, Teungku Syiek di Tiro dari kalangan laki-laki, dan Tjuk Nyak Dhien, Malahayati, Tjut Meutia, dan Pocut Merah Intan yang merupakan formasi nama yang menjadi simbol usaha kaum perempuan di Aceh. Kaum perempuan yang mengikuti peperangan tersebut terdiri dari kaum muda, janda, bahkan orang renta pun terlibat dalam kancah peperangan.
Sebagai perempuan yang mangandung dan melahirkan tidak menjadi alasan bagi mereka untuk mangkir dalam medan perang. Terkadang mereka mengikuti peperangan gotong royong dengan suami mereka. Dengan tangan yang kecil mungil mereka lincah memainkan kelewang dan rencong yang sudah menciptakan lawan begitu takut. Bahkan ada dari perempuan Aceh yang mengendong anaknya sambil berperang. Semangat mereka terus saja terkobarkan dengan hikayat-hikayat jihat. Di antara bait-bait hikayat yang menjadi pembangkit semangat jihat mereka ketika itu antar lain:

"Allah haido kudaidang
Seulayang blang ka putoeh taloe
Beurayeuk sinyak rijang-rijang
Jak meuprang bela naggroe"

Maka tak heran bila kita pernah membaca karyanya H.C Zentgraaff (seorang penulis sejarah Aceh dan wartawan Belanda) menyampaikan bahwa para wanitalah yang merupakan "de leidster van het verzet" (pemimpin perlawanan). Bahkan dalam sejarah Aceh populer dengan istilah "Grandes Dames" (wanita-wanita agung) yang memegang peranan penting baik dalam politik maupun peperangan, baik dalam posisinya sebagai Sultaniah maupun sebagai istri-istri orang terkemuka.

Oleh lantaran itu tugas perempuan Aceh dalam melawan penjajah sangat lah besar. Setelah melahirkan pejuang mereka juga rela terjun ke medan juang. Maka alangkah disayangkan andaikata kepiawan sosok Tjuk Nyak Dhien dan Tjut Meutia tidak membekas pada diri wanita-wanita Aceh hari ini. Setidaknya bisa menjadi pelahir pejuang jika pun tak mau berjuang. Kalau tidak punya talenta dan semangat mengarui medan perang, maka berjuang lah lewat tulisan. Karena media merupakan ladang juang yang paling memilih menang dan kalahnya sebuah golongan hari ini. Semoga!

Oleh: Abdul Hamid M Djamil*
*staf redaksi web kmamesir.org

Saturday, 14 March 2020

Generasi Minus Moral


Agama Islam sangat menjunjung tinggi adat bagi umatnya, baik itu adat sesama insan maupun adat insan dengan makhluk hidup lainnya. Rasulullah Saw. Adalah sosok tepat dalam membimbing adat umat Islam, segala aspek kehidupan yang Rasulullah Saw. Jalankan yaitu pelajaran yang istimewa untuk mengokohkan tiang dasar untuk moral generasi Islam.

Rasullah Saw. Dikenal dengan sosok yang begitu fenomenal dan istimewa, bahkan keistimewaan dia diakui oleh mitra dan lawan. Tutur  bahasa yang fasih dan di megerti oleh setiap kabilah-kabilah arab menciptakan dia sangat gampang berintraksi dalam masyarakat untuk memberikan risalah kebenaran, dia juga seorang negosiator ulung dan professional.

Selain menjadi seorang pembawa risalah, Rasulullah Saw. juga berprofesi sebagai pedangang,yang sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran. bahkan dikala dia bercanda dia tidak pernah berkata dusta, buah dari kejujuran Rasulullah saw. Sehingga menerima gelar Al Amin (yang terpercaya). Dalam surah Al qalam Allah Swt. Berfirman "wainnaka laa ala khuluqin a'dhim", ayat ini secara sareh Allah Swt. Katakan bagaimana fenomenalnya adat Rasulullah Saw. Tiada satu manusiapun bisa berperilaku menyerupai beliau.

Dalam hadist shahih dijelaskan bahwa Allah swt. mengutuskan Rasulullah Saw. Ke permukaan bumi ini untuk menyempurnakan adat manusia. "innama bu'itstu li utammima makarimal akhlak", bangsa arab yang di kenal bagitu garang selalu menciptakan kerusakan dimana-mana, membunuh anak perempuan, menyakiti istri, perjudian dan mabuk-mabukan menjadi tradisi yang mereka pertahankan, begitulah skema kehidupan jahiliyah. Sehingga Allah swt. Mengutuskan seorang da'i pembawa cahaya kebenaran di tengah-tengah mereka.

Jahiliyah abad modern

Akhir-akhir ini kita di kejutkan oleh berita-berita tergredasinya moral kaum muda negeri ini, website-website gosip online selalu menghadirkan gosip hangat seputar kaum muda, bisnis penjualan wanita, narkoba, tauran, pemerkosaan, bebesnya pergaulan muda-mudi, tenpat-tempat wisata di Aceh di penuhi kaum remaja berpacaran mencar ilmu adegan dewasa.

Kemudian maraknya goyang harlem shake bagi bawah umur remaja mulai merajalela di negeri ini. baru-baru ini menyebar sebuah video pendek di youtube siswa-siswi SMU di Banda Aceh melaksanakan agresi herlem shake, dengan seketika timbul komentar-komentar negative atas agresi mereka, bahkan tidak sedikit yang menunjukkan komentar kutuk atas video tersebut, ini sangat memalukan.

Bukti kasatmata tergredasinya moral remaja yaitu menyebarnya virus free sex ke negeri seuramoe meukah. Menyebarnya virus eropa (red. Free sex)  ke Aceh  menjadi pukulan telak bagi mereka yang masih peduli terhadap kaum muda, hina, keji dan memalukan, dimanakah posisi kita sebagai saudara mereka, dimanakah tanggung jawab kita selaku tetangga mereka, apa yang telah kita lakukan untuk meraka?

Tidak bisa dipungkiri ini yaitu tanggung jawab bersama, setiap individu tidak bisa berdiam diri tanpa mencengah hal-hal menyerupai ini pada kaum muda, mereka yaitu prospek masa depan. Pendidikan mereka perlu diperhatikan, bila tidak, maka lihatlah kembalinya abad jahiliyah kepada generasi muda. Na'udzubillahi min dzalik.

Jika di tahun 2013 moral generasi muda sudah sedemikian minus, bayangkan di tahun 2020, bayangkan apa yang akan terjadi di negeri ini di tahun 2030? Saya yakin dunia akan kembali ke masa sebelum Allah mengutuskan Rasul Saw. Ya kita akan kembali hidup di zaman jahiliah abad modern, hidup bagaikan hewan ternak bahkan lebih sesat dari itu.

Aceh yang dulu dikenal dengan negeri syari'at Islam yang sangat kental dengan nilai-nilai agama yang Rasulullah Saw. Bawakan, sekarang menjadi negeri kerdil yang hidup di samudera maksiatan.

Berbagai faktor yang sekarang menciptakan generasi muda terlarut dalam kesesatan moral. kurangnya perhatian orang renta kepada anak mereka, para guru di sekolah-sekolah kurang kontrol dan terlalu membebaskan pergaulan antara siswa-siswinya, imbas luar melalui media cetak dan internet menciptakan generasi kita gampang memalsukan aspek kehidupan non muslim.

Kaum muda prospek menjanjikan

Pepatah arab berkata "Syababul yaumi u'mara'il ghad" yang berarti cowok hari ini yaitu pemimpin masa depan. Tidak ada kalangan yang menafikan bila nasib sebuah Negeri ada pada kaum muda, bila kaum muda baik maka akan oke negeri tersebut dan sebaliknya.

Disini dituntut untuk bergotong-royong memperbaiki kemungkaran yang ada di negeri ini, setiap kepala mempunyai tanggung jawab. Tidak ada yang membedakan antara pemimpin dengan rakyat biasa dalam hal ini, semua punya hak untuk memperbaiki.

Ke khawatiran ini akan segera terhapuskan bila setiap individu mempunyai rasa prihatin terhadap masa depan umat. Kita mulai dengan saling menasehati kepada kebaikan, alasannya hanya ini yang kita punya. Kita tidak mempunyai kekuasaan yang lebih untuk melalukan sesuatu yang besar untuk negeri ini, lakukan hal kecil dengan nilai besar jauh lebih berarti daripada mempunyai kekuasaan besar tetapi tidak bisa berbuat.

Guru-guru, figur masyarakat, dan orang renta harus mempunyai perhatian khusus dalam mengembalikan kaedah dasar dalam diri manusia, yaitu fitrah terhadap kebaikan. Jika mereka mempunyai seribu alasan untuk menolak bebaikan, mengapa kita berhenti? Bukankah kita juga mempunyai sejuta alasan untuk terus menjaga existensi dakwah demi bangsa dan agama?

Allah berfirman dam surat al-ashr: "demi masa (1). sesungguhnya insan dalam kerugian (2). melaikan orang-orang yang beriman, dan yang menjalankan amal sholeh serta saling menesahati untuk kebaikan dan saling menasehati untuk sesabaran (3).

Semoga kita senantiasa menjadi manusia-manusia yang selalu mendengarkan hal yang baik dan saling mengingatkan kepada kebaikan, amin.


Oleh: Muazzinul Akbar
Penulis Mahasiswa al Azhar Fakultas Ushuluddin Tahun II.

Friday, 13 March 2020

Aceh Modal Perempuan Indonesia


Aceh daerah modal. Benarkah itu? tentu saja sangat benar. Sejak dari awal munculnya negara Indonesia. Aceh sudah merupakan modal bagi terwujudnya negara terbesar di Asia Tenggara ini. Dari derma dua pesawat, untuk keperluan perundingan luar negeri Presiden Soekarno, hingga penegasan adanya negara Indonesia dari Radio Rimba Raya di Aceh, bahwa masih ada daerah Indonesia yang belum terkalahkan oleh Belanda yaitu Aceh. Tanpa Aceh, Internasional kala itu di Denhag tidak mengakui adanya Indonesia.

Baru-baru ini, lahir UU yang mengatur Otonomi Daerah, kapan UU itu mulai dipikirkan oleh pemerintah? Setelah Aceh bergejolak protes atas kezaliman Orde Lama, dan Orde Baru yang adikara terhadap daerah, kususnya Aceh yang ditipu dengan hanya sebutan gelar "istimewa" tapi tidak satu pun perlakuan untuk Aceh yang mencerminkan daerah "istimewa", malah yang terjadi, pencurian hasil bumi Aceh dan pembunuhan jati diri dan abjad masyarakat Aceh, berupa penindasan terhadap masyarakat hingga diakhiri dengan peristiwa DOM.

Akan tetapi, walau rakyat Aceh harus menanggung penderitaan jawaban keberaniannya menentang kezaliman pemerintah yang tidak adil kala itu, hal tersebut tidak menjadi masalah, alasannya yaitu penderitaan Aceh itulah yang lalu menjadi modal lahirnya UU Otonomi Daerah untuk seluruh Indonesia.

Dalam kancah perpolitikan, Aceh pula yang pertama sekali melaksankan Pemilihan Kepala Daerah Langsung (PILKADASUNG), yang lalu menjadi modal untuk pengadaan PILKADASUNG di seluruh Indonesia. Dalam hal ini, Aceh layak dijuluki dengan sebutan "Modal Demokrasi Mutlak" bagi daerah-daerah di seluruh Indonesia.

UU Pornografi, walau penah diperselisihkan oleh elit-elit politik di pusat, jakarta. Akan tetapi, Aceh sudah lebih duluan melangkah memberlakukan syariat Islam di Aceh, yang tidak hanya melarang agresi pornografi saja, tapi juga mencegah segala agresi lainnya, yang sanggup merusak mental anak, membunuh abjad remaja, dan menciptakan kehancuran dalam keluarga.

Kita harap, Indonesia paling tidak kedepan sanggup memikirkan untuk meningkatkan penjagaan susila masyarakat, dengan cara mengadopsi qanun-qanun Aceh, yang kiranya sanggup mendukung rencana pemerintah, dalam rangka mencegah agresi pornografi.

Dan sekarang, UU Jilbab Polwan, sedang hangat diperdebatkan, kabarnya, nama Aceh disebut-sebut dalam perdebatan itu. Akankah Aceh menjadi modal berikutnya bagi pembelaan hak asasi perempuan Indonesia, untuk menerima hak-hak mereka secara utuh, di antaranya kebebasan menutup aurat?

Kita optimis, jawabannya Insya Allah "ya", kalaupun tidak sekarang, masa yang akan datang. Dan sebagai catatan sejarah, angkatan perang perempuan Aceh, yang dikomandoi oleh Cut Malahayati, dengan busana dan aurat yang terjaga, jauh sudah menjadi modal untuk kepahlawanan perempuan Indonesia.

Oleh : Edi Saputra MA.
*Penulis yaitu pemerhati politik Aceh. Sedang menuntaskan aktivitas doktoral di Universitas Al-Azhar.

Wednesday, 19 February 2020

Beri Dan Ambillah


Oleh; Mukhlis Ilyas, Lc.
 
Alkisah ada seorang kakek bau tanah yang berumur 70 tahun menanam sebuah pohon, kemudian datanglah seorang cowok menegur kakek tersebut, wahai orang tua! untuk apa engkau menanam pohon itu padahal engkau sendiri mustahil bisa melihat ia akan tumbuh dan menikmati buah dari pohon tersebut. Kakek itu menjawab singkat: Saya menanam pohon ini bukan untuk diri saya, tetapi untuk anak dan cucu-cucu saya.

Mari kita menoleh kebelakang, merenungi usaha para pendahulu kita. Sungguh nikmat yang terbesar yang diberikan Allah SWT kepada kita yaitu nikmat keyakinan dan Islam, seandainya Rasullullah Saw dan para sahabat-Nya serta pewaris para anbiya tidak berjuang menegakkan kalimat Allah SWT, maka kedua nikmat terbesar itu tidak sanggup kita rasakan pada hari ini.

Dari cerita singkat diatas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa apa yang kita rasakan, gunakan dan manfaatkan selama ini dalam hidup kita manyoritasnya yaitu perjuangan, hasil karya, dan buatan orang lain. Pertanyaannya sekarang, apa yang sanggup kita berikan untuk orang lain?, padahal kita diciptakan oleh Allah SWT dengan sempurna, lebih tepat daripada makhluk-makhluk yang ada di bumi. Kita diberikan logika untuk berpikir yang tidak diberikan kepada makhluk-makhluk lain.

Ayam bisa memproduksi telur yang bisa kita konsumsi untuk masakan kita sehari-hari. Sapi menghasilkan susu yang bisa kita minum dan membantu mencerdaskan pikiran manusia. Lebah bisa kita manfaatkan madunya yang sangat berkhasiat untuk kesehatan.

Tak sanggup disangkal lagi bahwa duduk masalah beri memberi yaitu permasalahan yang penting sekali untuk kita bicarakan, Anda mungkin bertanya pada diri Anda sendiri, “Mengapa aku harus menghabiskan waktu, pikiran, tenaga, bahkan nyawa untuk aku berikan kepada orang lain”?, padahal aku kini sedang berada dalam kondisi yang sulit, terjepit, seakan ingin berteriak, lepas dari permasalahan yang dihadapi. Bukankah dengan memberi itu akan menambah permasalahan dan beban pikiran saya?.

Jawabannya; “tidak”, justru dengan memberi disaat Anda sedang berada dalam keadaan genting akan meringankan beban dan pikiran Anda. Disaat ibarat itu Anda masih mempunyai sisi potensi untuk memberi, ia sangat berkhasiat bagi Anda, alasannya yaitu Anda merasa lebih bermakna, berharga dan senang disaat orang lain menilai Anda gagal, terpuruk dan tak berdaya. Disaat ibarat itu mungkin Anda mencicipi hanya satu orang di dunia ini, tidak ada yang membantu dan mengulurkan tangan, tetapi disaat Anda memberi, Anda menjadi dunia bagi orang lain.

Berilah dengan lapang dada tanpa mengharapkan imbalan, memberi dengan mengharapkan imbalan tidak memperoleh apapun, pahala Anda habis dimakan oleh rasa riya dalam hati. Bila memberi dengan ikhlas, bangga dan penuh dengan rasa cinta, akan mendapat manfaat yang sangat besar dari insan dan Khaliq Yang Maha mengetahui. Rasulullah Saw bersabda:

وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ.

Artinya:

          “Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya”.

Saya pernah membaca sebuah status teman yang mengisahkan; seorang pemulung yang menunjukkan sedekah kepada seorang pengemis, pemulung itu sangat senang dengan potensi pada dirinya untuk memberi dan menolong orang lain, biarpun keadaannya terjepit ia masih bisa memberi dan membuat orang lain tersenyum. Dia senang bisa memberi dengan hasil kerja kerasnya, bukan ibarat seorang pengemis yang duduk meminta-minta.

Kebanyakan orang hanya memakai sedikit dari potensi mereka, dan bahkan banyak dari mereka yang tidak menemukan talenta sejati atau panggilan hidup. Mereka tidak pernah menemukan suatu tujuan yang benar-benar berarti bagi mereka yang bisa membuat perbedaan dalam hidup.

Tetapi disaat seseorang memberi kepada orang lain dan mengabdikan dirinya untuk tujuan yang bermakna, segalanya akan berubah. Dia menemukan perasaan gres bahwa dirinya berharga. Dan jikalau itu beliau terapkan dalam hidup, maka beliau sanggup mencapai puncak potensinya sambil menolong orang lain dan diri sendiri. Hal ini juga sudah pernah diajarkan Rasulullah Saw kepada para sahabat-Nya, dan seluruh umat manusia, Beliau bersabda:

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ - رضي الله عنه - عَنِ النَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم – قَالَ: الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ.

Artinya:


          Dari Hakim bin Hizam ra. Dari Nabi Saw, Beliau bersabda: "Tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang di bawah, maka mulailah untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu dan shadaqah yang paling baik yaitu dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya). Maka barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya, Allah akan memeliharanya dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya maka Allah akan mencukupkannya".

“Give, give, and give you will take” ungkapan yang masih tersimpan rapi dalam folder otak saya, ketika bapak pimpinan menunjukkan tausiyah di balai pertemuan 8 tahun yang lalu. Beliau selalu mengingatkan para santrinya bahwa ketika mengabdi kepada pondok janganlah mengharapkan imbalan, keluarkan kemampuan puncakmu yang ada, buktikan bahwa di dalam dirimu tersimpan sebuah potensi yang prima. Insya Allah kau akan memperoleh alhasil sepuluh atau dua puluh tahun kedepan.

Jadi, berikanlah waktu Anda, ilmu Anda, kearifan Anda, harta Anda dan cinta Anda-dan rasakan kekuatan dan keindahan dari memberi itu.

*Ketua KMA Mesir periode XL masa bakti 2013-2014

Sunday, 13 October 2019

Satu Hari Satu Malam Bersama Rasulullah Saw.

Oleh: Muhammad Mutawalli Taqiyuddin*

Masjid Nabawi (Foto: Ahmad Mortaja Photography/flickr.com)
Kini, setiap orang lazim memiliki idola, apakah itu dari kalangan agamais (ulama, dai, ustadz), kalangan atlet (pemain sepakbola, badminton), kalangan pemimpin atau orang-orang yang berpengaruh, kalangan pemain film atau artis dan kalangan-kalangan hebat lainnya. Dari setiap individu masyarakat juga tidak sedikit yang ingin bahkan hingga bercita-cita untuk bertemu dengan idolanya walaupun hanya sebatas lima menit, dua menit, bahkan hanya melihat sebentar saja. Bukankah ada sebagian orang-orang yang menyerupai itu? Tentu ada, bahkan banyak pastinya. 

Untuk bertemu para idola itu sendiri tentunya bukanlah hal yang instan. Tidak sedikit orang yang mengorbankan nyawa dan hartanya hanya alasannya ingin bertemu atau sekedar melihat idolanya secara langsung. 

Akan tetapi ada satu orang, dia ialah insan pilihan dan makhluk terbaik sepanjang masa. Pengaruhnya terhadap perubahan dunia diakui oleh para filsuf, orientalis, bahkan dari kalangan yang tidak mengikutinya sekalipun. 

Namanya merupakan nama yang paling banyak ditulis oleh pena-pena di dunia ini, baik dalam Bahasa Arab, Indonesia, Perancis, Inggris dan bahasa-bahasa lainnya. Walaupun dia dari kawasan dan masa tertentu, akan tetapi ketika ini pengaruhnya, bahkan pengikutnya berada di seluruh penjuru dunia, dari Timur hingga Barat. Dari yang pedalaman hingga di kota-kota. Sampai kini belum ada insan yang kuat menyerupai itu. 

Beliau ialah bapak anti perbudakan, bapak anti rasisme, bapak pemberdayaan hak-hak wanita. Beliau ialah Habibullah, Habib Al-Mujtaba, tak lain dan tak bukan ialah Rasulullah Nabi Muhammad Saw. Al-‘Arabi Al-Hasyimiy. 


Apakah ada insan lain yang derajatnya lebih tinggi darinya? Adakah tokoh-tokoh lain yang lebih layak diidolakan selain Nabi Muhammad Saw.? 

Jika tadi soal mengorbankan harta dan nyawa hanya alasannya ingin melihat eksklusif idola ketika ini, maka Rasulullah Saw. lebih layak untuk kita idolakan. Tak perlu mengorbankan nyawa dan harta untuk bersama dengan beliau. Bahkan kita bisa bersama dia selama satu hari satu malam bahkan setiap hari dalam hidup kalau kita mau. Mengapa menyerupai itu? Karena Rasulullah Saw. sendiri yang ingin selalu bersama umatnya, dia sangat-sangat rindu dengan umatnya bahkan dia menyebut umat-umatnya sebagai saudara. Beliau selalu membanggakan umatnya. 

Sekarang yang menjadi pertanyaan kita bersama, apakah kita selaku umatnya tidak ada rasa rindu yang dalam kepada nabi kita? Apakah kita tidak besar hati dengan nabi kita sendiri sebagaimana dia rindu dan besar hati dengan umatnya? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. 

Selalu bersama Rasulullah Saw. 

12 Rabiulawal, merupakan hari kelahiran insan yang mulia ini. Alam semesta gembira akan kehadirannya. Pada ketika itu api-api yang disembah oleh kaum Majusi padam seketika. Seluruh orang dari kalangan keluarga dan kerabat-kerabat Bani Hasyim gembira alasannya kelahiran salah seorang yang mereka tunggu-tunggu. 

Abu Lahab sendiri yang mendustakan dan menghina Nabi Muhammad Saw. ketika diangkat menjadi rasul sempat gembira atas kelahiran Muhammad Saw. Pada ketika itu juga Abu Lahab membebaskan budaknya yaitu Tsuwaibah saking gembiranya. Maka ada satu riwayat dari para jago sirah Nabi Muhammad Saw. menyampaikan bahwa:

“Dari Abbas bin Abdul Muththalib bermimpi bekerjsama Abu Lahab berkata dirinya diringankan siksaan pada hari senin, yaitu hari kelahiran Rasulullah Saw. alasannya waktu itu Abu Lahab amat gembira ketika kelahirannya. 

12 Rabiulawal, merupakan momen yang sempurna untuk memperbarui rasa cinta dan rindu kepada junjungan alam ini. Jika kita ingin bersama Rasulullah Saw. pada momen baik tersebut, maka bergembiralah dan bacalah selawat untuk beliau. 

Secara garis besar, bentuk pengagungan hari kelahiran Rasulullah Saw. ada tiga macam, antara lain: ‘amaliyyan (praktek), farhan (kegembiraan), dan 'amaliyyan wa farhan (praktek dan kegembiraan). 

Pengagungan hari kelahiran Rasulullah Saw. yang berbentuk ‘amaliyyan adalah dengan mengerjakan sunah Rasulullah Saw. dari pagi, petang hingga malam. Mulai dari berdiri tengah malam untuk shalat Tahajud hingga salat Witir di malam hari sesudah salat Isya. 

Rasulullah Saw. ialah seorang dokter. Terbukti dari sunahnya yang lebih dikenal dengan Thibbun Nabawi. Di antaranya menyerupai anjuran bersiwak setiap sebelum shalat lima waktu biar gigi selalu sehat dan nafas tidak bau. Di antarnya ada juga sunah untuk berbekam, berolahraga dan lain sebagainya. Bahkan seorang dokter Muslim yang juga mantan pilot asal Amerika Serikat, Jerry D. Gray menulis satu buku yang berjudul “Rasulullah Saw. is My Doctor”. 

Rasulullah Saw. ialah seorang yang sosial. Lihatlah bagaimana relasi baiknya dengan para sahabat, orang tua, anak-anak, fakir miskin, dan lain sebagainya. Beliau selalu menolong orang-orang yang sedang kesusahan. Beliau ialah pembebas sistem perbudakan. Beliau juga anti rasisme, terbukti dengan bagaimana bersahabat dan sayangnya dia kepada sobat Bilal bin Rabah. Rasulullah Saw. juga senantiasa melindungi hak-hak perempuan dari kezaliman-kezaliman yang dilakukan oleh kaum Jahiliyah. 

Rasulullah Saw. ialah seorang yang hobi berolahraga. Terbukti dari sunahnya yang menganjurkan biar kita semua berolahraga biar fisik selalu bugar. Beberapa olahraga yang dianjurkan oleh dia menyerupai berkuda, memanah, dan berenang. 

Rasulullah Saw. ialah seorang pemimpin teladan yang sangat menjunjung tinggi keadilan. Beliau tidak pernah marah. Selama Islam dia pimpin selama 23 tahun, tidak ada skandal-skandal internal yang terjadi. Malah yang ingin setia dengan Rasulullah Saw. makin bertambah alasannya akhlaknya yang mulia. 

Rasulullah Saw. ialah seorang utusan Allah Swt. Beliau membawa risalah dewa ke muka bumi. dia tiba ke dunia ini sebagai rahmatan lil ‘alamin. Beliau memberikan apa-apa saja yang Allah Swt perintahkan dan yang dilarang. Semua hukum-Nya layak dan masuk akal. Beliau mencontohkan bagaimana caranya beribadah dan bagaimana hingga kepada Allah Swt. Selain amalan wajib, banyak amal-amal sunnah yang dia anjurkan guna menambah amal baik kita. 

Hingga di maut dia hanya menyebut “Ummati, ummati...” 

Merupakan salah satu rujukan bagaimana pedulinya dia terhadap umat Islam bahkan umat insan sesudah dia wafat. Tidak ada satu insan pun yang patut jadi suri tauladan utama selain Nabi Muhammad Saw. Maka dari itu, seharusnya sebagai umat Rasulullah Saw. selalu melakukan semua yang Rasulullah Saw. anjurkan, menyerupai menjaga kebersihan, bersiwak, olahraga, makan makanan yang sehat serta minum minuman yang sehat. Semua itu ialah beberapa amalan harian Rasulullah Saw. 

Praktek sunah Rasulullah Saw. sangat manjur kalau dimulai bertepatan pada tanggal kelahiran beliau. Seakan-akan kita sedang bersama Rasulullah Saw. dan sebaiknya amalan-amalan sunah tersebut tetap dikerjakan di hari-hari lain hingga kita bisa melaksanakannya setiap hari. 

Ada juga pengagungan yang berbentuk farhan, yaitu perasaan senang alasannya datangnya hari kelahiran Rasulullah Saw. Dengan perasaan senang tersebut sebaiknya diisi dengan majelis-majelis selawat. Bagi yang gembira dengan hari kelahiran Rasulullah Saw. maka hadirilah majelis-majelis selawat ataupun hadir pada perayaan-perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. yang diisi dengan zikir, selawat bersama, tausiah islami, membuatkan dengan para anak yatim dan fakir miskin, serta amal-amal bermanfaat lainnya. Semua bentuk farhan tersebut sangat dianjurkan demi menumbuhkan benih-benih cinta kepada Rasulullah Saw. sehingga kita seolah-olah selalu dengan idola kita. 

Dari bentuk farhan juga, kita sanggup menghadirkan Rasulullah Saw. dalam rumah. Sama sekali bukan hal yang sulit. Caranya dengan selalu bersalawat dan membahas keutamaan-keutamaan Rasulullah Saw. lewat sejarah hidupnya dalam Sirah Nabawiyah. Apapun pembicaraan dalam rumah, kaitkan pembicaraan tersebut dengan Rasulullah Saw. dan para sahabat-sahabatnya. 

Ditambah dengan satu bentuk lagi yaitu ‘amaliyan wa farhan, yaitu dengan kita melakukan dua bentuk tersebut. Konsisten melakukan sunah Rasulullah Saw, akan tetapi di samping itu juga merasa rindu dan cinta terhadap dia dengan selalu bersalawat kepada beliau. Bahkan tak hanya pada ketika maulid saja, akan tetapi bisa setiap hari baik dalamrumah maupun di luar rumah. Di rumah kita menghadirkan Rasulullah Saw dan di luar rumah pun kita selalu bersama Rasulullah Saw. Maka dari itu sangat baik kalau kita bisa melakukan ‘amaliyan wa farhan sebagai wujud kasatmata cinta kita kepada Rasulullah Saw. 

Pada tanggal 12 Rabiulawal 1440 H dini hari. Bertepatan di Masjid Sayyidina Hussein, Cairo, Mesir. Peringatan Maulid Rasulullah Saw. dihadiri oleh seseorang dari kalangan sufi sekaligus ahlul bait, dia ialah Habib Ali Al-Jifri Hafizhahullah. Dalam majelis tersebut dia menunjukkan dua pesan penting, yang pertama dia menghimbau kepada kita umat Muhammad Saw. biar mulai malam ini, besok dan seterusnya untuk tidak pernah meninggalkan salat sunah Witir sebagaimana amalan tersebut merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan oleh nabi kita. Dan yang kedua dia berpesan biar kita selalu bersalawat kepada Rasullah Saw. sebagaimana malam ini. Berselawatlah seolah-olah Rasulullah Saw. di samping kita, dia selalu ada dalam hidup kita hingga simpulan hayat. 

Pesan yang pertama ialah cinta kepada Rasulullah Saw. dalam bentuk ‘amaliyyan, dan pesan kedua berbentuk farhan. Maka dari itu, sangat dianjurkan kecintaan kita kepada Rasulullah Saw. dibuktikan dengan dua bentuk secara bersamaan, yaitu dengan mengamalkan sunah Rasulullah Saw. dan senantiasa selalu berselawat dengan rasa penuh cinta dan rindu kepadanya. Dengan melakukan itu semua berarti kita sudah melakukan perintah Allah Swt. yaitu mengasihi dan setia mengikuti utusan-Nya Nabi Muhammad Saw. 

Oleh alasannya itu di kala modern ini, teknologi dan kemajuan peradaban sama sekali bukan alasan untuk tidak ingat kepada Rasulullah Saw. Jika bukan alasannya perjuangan beliau, umat islam bahkan dunia tidak akan hingga menyerupai ini. Dunia akan tetap gelap suram dengan aneka macam kebiasaan dan norma biadabnya. Sebagaiamana Rasulullah Saw. membawa alam ini dari kegelapan menuju alam yang terang-berderang, dari yang buta ilmu pengetahuan menjadi zaman yang pintar pengetahuan. Semua itu sama sekali tak terlepas dari tugas Rasulullah Saw. dan para sahabat-sahabatnya. 


Sekarang ini bukanlah zaman yang mengharuskan kita berdebat apakah maulid itu boleh atau tidak. Para ulama mutaqaddimin dan muta’akhkhirin sudah usang membahas itu semua. Bagi yang tidak oke diadakannya perayaan maulid maka tidak perlu rayakan. Bagi yang oke diadakan perayaan maulid maka laksanakan. Intinya ialah bagaiamana kita sebagai seorang umat senantiasa menghadirkan Rasulullah Saw. dalam hidup kita. Rasulullah Saw. tentunya memilki harapan biar umatnya yaitu umat muslim jangan hingga terpecah belah. Maka dari itu marilah kita selalu bersatu pada tali Allah Swt. biar kita senang dunia dan akhirat. 

*Mahasiswa tingkat satu Jurusan Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo.

Thursday, 10 October 2019

Nikah Muda, Masalah Gres Mahasiswa Milenial

Oleh: Farhan Jihadi* 
(Imange: theweddingscoop.com)
Saya duduk bersandar di dinding, terkadang tertawa bersama seratusan anak muda yang duduk menyimak dongeng hidup dan bahan yang disampaikan. Dalam cuaca dingin, dari sebuah ruangan yang menampung sekitar dua ratusan orang, tiga mahasiswa sedang membuatkan dongeng inspiratif dalam talk show bertema "Jomblo yang Inspiratif dan Produktif". Ruangan lantai satu di gedung jalan Ibrahim Naji, Madinat Nasr, malam itu sesak.

Saya bergabung bersama mahasiswa yang ingin melawan janji nikah sebagai sebuah solusi faktual atas setiap problematika anak muda. Namun, apakah program “Jomblo yang Inspiratif dan Produktif” kemudian melarang anak muda untuk menikah di usia muda? Tidak. Acara ini digagas sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam , untuk membuka wawasan dan merubah teladan pikir mahasiswa bahwa kiprah utama mereka dikala ini bukanlah menikah tapi belajar, dan bukannya menginspirasi orang lain untuk menikah di usia muda.

Baca juga: Talk Show Anak Muda Meriahkan Rangkaian HUT KMA ke-45

Masa mahasiswa yaitu masa produktif. Dalam usia ini kita dituntut untuk menjadi pribadi lebih baik, aktif, kreatif, bertanggung jawab, berilmu mengelola emosi dan mulai berpikir cerdas menata masa depan. Masa mahasiswa bukan masa silang sengkarut, yang hanya diliputi rasa galau, memikirkan pangeran atau bidadari masa depan. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, apalagi niat awal mereka menuntut ilmu, bukannya menikah. 

Hal sebaliknya terjadi dalam bulat kehidupan mahasiswa zaman now yang seharusnya fokus dalam dunia pendidikan. Mahasiswa kini malah sibuk menggalau manja dengan status di media umum seputar penghulu, pelaminan dan pertanyaan “kapan nikah?”. Seakan-seakan pertanyaan seputar nikah menjadi momok menakutkan, dianggap musuh bersama bagi seorang musafir ilmu. 

Dalam bus yang bergerak ke program talk show bertema jomlo ini, saya menyempatkan diri mengunggah sebuah status gurauan di Whatshap. 

"Sebelum datang di talk show jomblo inspiratif, saya sarankan untuk beristighfar 99 kali, bershalawat 99 kali, kemudian berdoalah 100 kali dengan menyebut nama orang kau cintai. Lakukan dengan khusyuk dan niat yang ikhlas. Setelah melaksanakan amalan ini dan pulang dari talk show itu, tapi Kamu masih jomlo, maka Kamu memang belum beruntung. Kamu memang ditakdirkan menjadi jomlo. Selamat menyambung hidup dalam kesepian," kataku dalam status. 

Dalam sekian menit, seseorang membalas status tersebut. "Istighfar, bershalawat, dan berdoalah supaya semakin tabah ketika di-bully," yang lain berkomentar "Menikah terus, tunggu apalagi" dengan menambahkan emoji tawa air mata. 

Kerap kali musuh kejam mahasiswa dan orang-orang yang tengah berkonsentrasi di pendidikan yaitu godaan berumah tangga yang dihembuskan oleh orang tak bertanggung jawab dengan bertanya "kok masih jomlo? kapan menikah? orang lain pada menikah tuh?" dan pertanyaan jahiliah lainnya. 

Orang-orang mempersepsikan bahwa menentukan menjadi jomlo dikala kuliah yaitu sebuah aib, sehingga boleh dihina dan direndahkan. Bagi mahasiswa absurd, definisi jomlo kemudian menjelma suatu penyakit yang harus dijauhi dan dibinasakan. Devinisi ini kemudian tersebar bagai penyakit menular, menyerupai kampanye yang menistakan jomlo yang rutin dilakukan kelompok Indonesia Tanpa Pacaran. Bagi akun ini, kesuksesan anak muda berbanding lurus dengan cepatnya ia menikah. Mahasiswa zaman kini seolah-olah dituntut perkara lain selain menuntaskan pendidikan dengan baik dan lancar, yaitu menikah.

Hal berbeda terjadi pada Maudy Ayunda. Ia mengunggah sebuah dilema indah. Aktris dan penyanyi ini sukses membikin publik Indonesia guncang dengan bisa menembus dua universitas terkemuka dunia sekaligus: Harvard dan Stanford University. 

Berbeda dengan Maudy, yang harus kebingungan menentukan kampus mana yang akan dipilih untuk melanjutkan studi S-2, kita malah gelisah memikirkan tanggapan atas pertanyaan "Kapan nikah?" Sungguh sebuah dilema yang sangat pahit. 

Dengan memposting hal itu di Instagram @maudyayunda, wanita yang juga menjadi pencetus pendidikan ini seakan sedang menertawai kegalauan tak penting wacana janji nikah di dunia maya. Bagi mahasiswa menyerupai Maudy, menuntaskan kuliah jauh lebih penting daripada menangis di media umum dengan status-status galau minta jodoh atau mengunggah foto-foto alay dengan wajah dimonyong-monyongin enggak jelas. 

Kita harus berterima kasih kepada Maudy, ia sudah berjuang menginspirasi anak muda, terutama perempuan, dengan menaikkan standar kesuksesan dalam masa pendidikan. Ia bisa membawa dirinya berbahagia dan membahagiakan negara. Maudy Ayunda berhasil menampar pipi Indonesia Tanpa Pacaran, akun kelompok penista jomlo. Di dikala akun ini beranggapan seolah-olah satu-satunya jalan menghindari zina di kalangan anak muda yaitu dengan nikah muda, Maudy malah mengejek mereka dengan cara berguru dan berprestasi. 

Bagi beberapa manusia, Maudy Ayunda bukanlah anak muda berprestasi, sebab tubuhnya tidak berhijab dan jauh dari nilai-nilai islami. Kata mereka, Maudy hanya sukses di dunia, di darul abadi ia belum tentu sesukses itu. Bisa jadi malah Maudy nanti dilemparkan ke neraka terkutuk. Mereka menyarankan Maudy mendaftar di pesantren, bukannya kampus menyerupai Harvard atau Stanford.

Untuk itu, kita pinggirkan dulu ikhtilaf pendapat wacana Maudy ini. Mari sejenak abaikan wanita manis yang tidak menutup aurat dan jauh dari hal-hal islami ini. Bagi muslim garis putih abu-abu menyerupai saya, Maudy tidak bisa menjadi role model anak muda muslim inspiratif. 

Dalam talk show "Jomblo yang Inspiratif dan Produktif" yang kuikuti malam itu, seorang pemateri sempat menyinggung kitab fenomenal, “Al-‘Ulama Al-‘Uzzab Allaziina Atsarul ‘Ilma ‘Ala Zawaj”. Penulis kitab ini mengupas biografi dan kisah-kisah inspiratif para ulama dan cendikiawan muslim yang tidak menikah hingga simpulan hayat. Mereka mengarungi khazanah keislaman, hingga mendahulukan ilmu daripada pernikahan. Ulama-ulama yang menentukan menikahi ilmu, hingga lupa mempersunting seorang wanita shalehah. 

Para ulama yang disinggung dalam kitab ini dengan kecintaan yang luar biasa kepada ilmu pengetahuan, telah rela meninggalkan salah satu fitrah insan dan sunah Rasulullah Saw. kemudian menentukan wafat dengan tetap setia berkhitmat kepada umat dengan mengasihi ilmu hingga ajal menjemput. 

Sebagai mahasiswa yang tengah sibuk belajar, kita tidak perlu galau dan khawatir dengan pertanyaan “Kapan nikah?”. Jika para ulama terdahulu, menyerupai Imam Nawawi misalnya, hanya sibuk memikirkan omongan tetangga bandel dengan pertanyaan itu, kita tidak pernah mengenal Imam Nawawi yang kita kenal kini sebagai salah satu ulama tersohor dalam mazhab Imam Syafii. 

Kita tentu bukan menyerupai ulama-ulama besar dalam kitab itu yang berkhidmat kepada umat hingga lebih mementingkan darul abadi daripada dunia mereka sendiri. Namun, setidaknya kita bisa berkaca pada dongeng mereka yang menimbulkan masa muda sebagai masa penuh inspiratif, dan bahwa nikah bukan satu-satunya jalan kesuksesan, apalagi dikala status kita masih sebagai mahasiswa. 

Saya sangat oke kepada pemateri yang menyebutkan bahwa janji nikah bukanlah ajang perlombaan sehingga harus dilakukan dengan buru-buru. Kita semua punya fase dan pertimbangan sendiri dalam menilai hidup. Jangan hingga sebab godaan berumah tangga yang dihembuskan dengan liar, kita melupakan tujuan penting sebagai mahasiswa yaitu berguru sebaik mungkin. 

Selagi masih muda, terlalu banyak hal positif yang bisa lakukan sebagai mahasiswa, hingga karenanya kita bisa menjawab pertanyaan “kapan nikah?” dengan baik. Untuk sementara kita bisa menjawab dengan berguru dengan tekun atau dengan karya-karya inspiratif menyerupai para ulama dalam kitab “Al-‘Ulama Al-‘Uzzab Allaziina Atsarul ‘Ilma ‘Ala Zawaj” atau mungkin juga menyerupai Maudy Ayunda, itu pun jikalau kita menganggapnya pantas menjadi inspirator. 

Malam itu, 4 Mei 2019, saya mengamati ruangan KMA Mesir dipenuhi seratusan anak muda yang begitu bersemangat mengikuti talk show bertema jomlo inspiratif. Seperti saya, mereka menyimak baik-baik bahan yang disampaikan dengan penuh antusias, kemudian mengajukan pertanyaan menarik dan serius, walau sebagian terlihat malu-malu bertanya. 

Acara ini cukup bermanfaat bagi mahasiswa yang tengah fokus belajar, supaya mereka sanggup memaksimalkan potensi diri dan tidak larut dalam rayuan apa pun yang bisa merusak konsentrasi belajar. Siapa yang akan tahu, mereka yang hadir malam itu akan menjadi anak muda inspiratif yang kemudian dongeng hidup mereka dicatat dalam buku fenomenal, menyerupai kitab “Al-‘Ulama Al-‘Uzzab Allaziina Atsarul ‘Ilma ‘Ala Zawaj”. Siapa tahu kan? 

Mahasiswa zaman dulu, berperang melawan penjajahan menggunakan bambu runcing, sebagian lagi melawan propaganda kolonialis dengan goresan pena dan pemikiran. Di usia muda, mereka mempunyai ghirah dan semangat tinggi untuk berjuang demi agama dan bangsa. Kita ini, jangankan berperang pakai bambu runcing, melihat ajakan nikah mitra satu angkatan saja, sudah cukup bikin galau dan berurai air mata. Sayangnya, terkadang kita tak pernah menangisi nilai ujian yang buruk. Betapa mirisnya kehidupan mahasiswa kita.

Nah, tanpa mengesampingkan kawan-kawan yang sudah menikah, tapi tetap bisa menuntaskan kuliah dengan baik, saya ingin memberikan bahwa ukuran sukses seorang mahasiswa yaitu dikala ia berhasil mengkhatamkan studinya dengan baik dan lancar, bukan pernikahan. 


Walaupun begitu dan cukup jarang terjadi, jikalau siapa pun memang bisa menuntaskan kuliah sempurna waktu plus menikah, itu pun juga sebuah prestasi luar biasa. Namun, dengan aneka macam kondisi dan alasan, selalu saja ada orang-orang kurang beruntung. Kuliah tidak selesai, tidak berprestasi, dan sialnya nikah pun tidak. Sayang sekali. Saya pun takut. Semoga saya dan kita semua, tidak termasuk dalam katagori terakhir ini.[] 

*Mahasiswa Universitas Duwal ‘Arabiyah

Wednesday, 9 October 2019

Organisasi Masisir, Penting Enggak Sih?

Oleh: Rahmiatul ‘Aini* 
(Image: enrichco.com)
“Munah, Kamu udah tau belom isu perihal salah satu mahasiswa ushuluddin yang terancam drop out karna sudah dua kali rasib? Kak Abdullah itu loh yang sering banget jadi ketua panitia di banyak sekali even.” 

“Oh, ya? Padahal ia keren banget, sering jadi pembicara di acara-acara juga, plus tampangnya yang ibarat oppa-oppa korea gitu, ih jadi sedih, mungkin karna kakaknya terlalu sibuk kali ya?” 

Berbicara perihal Masisir: kependekan untuk mahasiswa indonesia yang mencar ilmu di Mesir, tidak ada habisnya. Selalu saja ada hal menarik untuk diperbincangkan, salah satunya perihal aktifnya kegiatan organisasi di kalangan Masisir, sebenarnya apa sih kiprah organisasi Masisir? Penting enggak berorganisasi? Bukankah kita ke sini untuk kuliah, lantas kenapa malah disibukkan dengan kegiatan organisasi?


Beranjak dari dunia Sekolah Menengan Atas dan segudang cerita cinta menye-menyenya, kini kita dihadapkan pada sebuah dunia yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Iya, dunia perkuliahan. Menjadi seorang mahasiswa tidaklah sama ibarat berangkat pagi ke sekolah, duduk mendengarkan guru menjelaskan, pulang dan kemudian mengerjakan PR, begitu lagi terulang setiap harinya, akan tetapi seorang mahasiswa mempunyai tantangan yang lebih besar, banyak sekali pilihan, tawaran, serta kesempatan yang jikalau kita tidak arif memilah-milih dengan benar maka akan berakibat fatal bagi masa depan kita. 

Menjadi mahasiswa yaitu tahap di mana kita dilatih baik dari segi akademik, intelektual, dan emosional untuk sanggup terjun di masyarakat nantinya, banyak hal yang harus dipersiapkan, bukan cuma ilmu tapi juga pengalaman, cara berinteraksi dengan masyarakat, administrasi waktu, memahami skala prioritas dan sebagainya. Di samping, itu ada orangtua yang telah mengeluarkan banyak sekali biaya untuk perkuliahan kita dan mengharapkan kita lulus dengan IPK tinggi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. 

Begitu besar impian yang dibebankan kepada mahasiswa, apalagi mahasiswa yang berkuliah di Mesir, bukan hanya impian orang tua, tapi lebih dari itu kita yaitu orang-orang pilihan yang telah dipercayakan negara untuk menimba ilmu di Negeri Kinanah ini, begitu besar tantangan zaman yang akan kita hadapi, seyogyanya waktu yang singkat ini dipergunakan semaksimal mungkin untuk mengumpulkan bekal yang akan dibutuhkan di masa mendatang. 

Akan tetapi apakah semuanya berjalan ibarat yang diharapkan? Tidak, banyak kita temukan mahasiswa yang nilainya anjlok, kuliahnya tidak kunjung selesai, talaqqi tidak pernah, hafalan Al-Quran terbengkalai, orang renta di kampung mencari nafkah dengan susah payah, membayangkan anaknya di sini mengkaji ilmu-ilmu agama, ternyata yang terjadi malah sebaliknya, jam terbangnya begitu padat, berpindah dari satu kepanitiaan ke kepanitiaan lainnya, setiap harinya yang dipikirkan yaitu aktivitas kerja, rapat sana sini, sibuk sekali bagaikan seorang presiden, di final dikala keluar natijah barulah meneteskan air mata. Tak guna, Bung! 

Organisasi di kalangan Masisir sangat beragam, dari organisasi induk mahasiswa yang dalam hal ini yaitu PPMI dan Wihdah, kekeluargaan, senat mahasiswa, afiliatif, Ormas dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan pun sangat padat, tak jarang para mahasiswa yang bergelut di organisasi, kewajibannya terbengkalai. 

Tak sanggup dipungkiri organisasi-organisasi tersebut di atas mempunyai kiprah yang sangat besar bagi Masisir, PPMI misalnya, laiknya sebuah komunitas, tentulah membutuhkan pemimpin dan aktivis semoga segala sesuatunya berjalan lancar. PPMI mengurus segala hal yang berkaitan dengan Masisir, ia bergerak layaknya sebuah pemerintahan, dinahkodai oleh seorang presiden yang mempunyai visi misi untuk memakmurkan dan memajukan Masisir baik dalam bidang akademik, sosial dan sebagainya. 

Nah, dengan kiprahnya yang begitu besar, sahkah jikalau kita ingin organisasi ibarat PPMI ditiadakan? Apakah kita sama sekali tidak membutuhkan organisasi? Jika kita meniadakan seluruh kegiatan organisasi Masisir apakah akan membuat generasi Masisir yang lebih gemilang? 

Di samping efek negatifnya bagi fokus mahasiswa dalam belajar, organisasi menyodorkan banyak hal bagi mahasiswa, organisasi merupakan suatu wadah kawasan berkumpulnya orang untuk berkerja sama, bertukar pendapat demi mencapai tujuan tertentu. Di sini kita mencar ilmu bagaimana cara mengeluarkan ide, menampung banyak pendapat, berinteraksi dengan orang banyak, memanajemen sebuah acara, tentu saja ini pembelajaran yang sangat berharga, di samping itu juga kita jadi mempunyai banyak kenalan dan wawasan, kenalan dan pergaulan yang luas akan sangat berperan nantinya, banyak korelasi akan menyebabkan kita gampang untuk menerima solusi atas permasalahan yang kita hadapi dimasa mendatang, wawasan juga tidak kalah penting, sebab dunia ini luas, jangan biarkan pikiran yang sempit memenjarakan kita. 

Kehidupan pascakuliah nanti akan lebih menantang, akan lebih banyak lagi dilema yang akan menghampiri kita, apalagi jikalau sudah berkeluarga nantinya, pikiran bercabang, tidur pun tak tenang, mulai dari pekerjaan kantor yang menumpuk, di tambah lagi istri dan anak di rumah. Belum lagi orang renta dan sanak saudara di kampung yang dihentikan luput dari daftar prioritas kita, ini masih secara garis besar, rumit sekali kehidupan ini, bagaimana cara membagi waktu? Jika kamu tidak arif administrasi waktu, tamatlah hidupmu! 

Seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi mempunyai rentetan jadwal yang sangat sibuk, aktivitas kerja harian, mingguan, bulanan, tahunan, rapat pengurus, belum lagi event-event yang menguras otak, tenaga dan waktu. Di samping itu juga ia mempunyai jadwal kuliah dan tugas-tugas yang tidak ada habisnya, banyaknya kegiatan dan deadline ini menuntut ia semoga cerdas dalam membagi waktu dan memilih skala prioritas. Tak jarang pilihan-pilihan diambil dan mengorbankan beberapa hal lainnya, ia terbiasa mengambil resiko, terjepit diantara pilihan-pilihan yang sulit, ini menjadikannya tumbuh sebagai langsung yang berani melangkah, berani mengambil resiko, dan juga arif dalam administrasi waktu. 

Hal ini tentu sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin di masa depan, dan setiap kita niscaya akan menjadi seorang pemimpin, tidak muluk-muluk menjadi seorang presiden, menjadi kepala dari sebuah keluarga juga disebut pemimpin, tanggung jawab yang diemban juga berat, maka pelajaran yang didapat dari berorganisasi akan sangat diperlukan. 

Nah, dengan ini sanggup disimpulkan sesungguhnya kehidupan kita sebagai mahasiswa tidak sanggup terlepas dari organisasi, kita tidak sanggup meniadakan seluruh kegiatan organisasi Masisir. Namun, kita sanggup meminimalisir kegiatan-kegiatan, kini ini organisasi di kalangan Masisir sudah sangat menjamur. Kita harus memilah-milih kegiatan yang benar-benar mempunyai kiprah dalam mewujudkan idealisme kita sebagai pelajar. 

Organisasi-organisasi Masisir harusnya mendukung prioritas kita, yaitu kuliah, menuntut ilmu, bukan malah mengorbankan prioritas kita demi organisasi, jikalau hanya untuk mencar ilmu berorganisasi, tidak perlu jauh-jauh ke Mesir, di indonesia juga bisa. 


Kita sebagai mahasiswa seharusnya sudah arif dalam memilih prioritas, pandang jauh ke depan, mau menjadi orang yang ibarat apa kita nantinya? Organisasi tidak salah, yang salah yaitu kita, sudahkah kita mengenali prioritas kita? 

Pandai-pandailah menghadapi dilema dunia ini, tentukan pilihan dengan cerdas, kita ke sini untuk menimba ilmu. Akankah kita kembali pulang ke tanah air dengan tangan kosong?[]

*Penulis yaitu mahasiswi tingkat 1, Jurusan Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo.

Tuesday, 8 October 2019

Revitalisasi Budaya Literasi Di Indonesia

Oleh: Muhammad Mutawalli Taqiyuddin* 
(Image: fluentu.com)

Dilansir Tirto.id (2017) bahwa minat baca masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Dari 61 negara, Indonesia menempati urutan ke-60 terkait dengan minat baca, demikian berdasarkan Duta Baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 


Berdasarkan hasil survei, dinyatakan bahwa ketika ini minat baca masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Disebabkan minat baca Indonesia sekarang menduduki peringkat 60 dari 61 negara,” kata presenter Mata Najwa itu di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) Jumat (11/8/2017) malam, dikutip dari Antara. Najwa melanjutkan, hasil survei tersebut dari studi “Most Littered Nation In the World 2016”. 

Kedatangan Najwa Shihab ke Kupang dalam rangka menggelar “Temu Literasi” yang digagas oleh Lembaga Garda Lamaholot bekerja sama dengan Direktorat Kesenian Kementerian Pendidikan. 

Kalau dilihat angka-angka dan data lain sering kali memang fakta angka di atas kertas kemampuan membaca bawah umur Indonesia bahkan dibandingkan dengan negara lain menyerupai ASEAN pun masih sangat jauh,” tutur Najwa. 

Najwa lantas membandingkan masyarakat Eropa atau Amerika khususnya bawah umur yang dalam setahun bisa membaca hingga 25-27 persen buku. Selain itu juga ada Negara Jepang yang minat bacanya bisa mencapai 15-18 persen buku per-tahun. 

“Sementara di Indonesia jumlahnya hanya mencapai 0,01 persen per tahun,” ujar Najwa. 

Tentunya dari data-data tersebut, literasi atau budaya baca-tulis di Indonesia masih menjadi perhatian kita bersama. Setelah dilihat dari data-data diatas, sudah terang bahwa dari data-data tersebut memperlihatkan literasi atau budaya baca-tulis di Indonesia masih menjadi keprihatinan kita bersama. Mengapa kondisi tersebut menimpa masyarakat Indonesia? 

Usaha Menghidupkan Kembali Budaya Literasi 

Literasi merupakan hal pokok dalam hidup kemanusiaan. Sebagai makhluk Istimewa yang dikaruniai akal, sudah sepantasnya kita sebagai insan mensyukuri nikmat tersebut. Salah satu cara yang terbaik untuk mensyukuri nikmat nalar ialah mengaktifkan diri untuk gemar membaca dan menulis. 

Negara ini tidak hanya dipertahankan dan diperjuangkan dengan kekuatan semata. Budaya literasi juga menjadi satu alasan bahwa negara ini masih tegak berdiri serta bertahan hingga ketika ini. 

Perlu sama-sama kita sadari bahwa masyarakat ketika ini diserang dengan satu prinsip yaitu “suka instan”. Kaprikornus mereka merasa cukup hanya dengan menonton dan mendengar, tanpa membaca apalagi menulis. 

Terlebih lagi ketika ini merupakan kurun globalisasi yang menantang masyarakat untuk mengadaptasi diri. Jika terlena dengan prinsip suka instan, berarti ia kalah dalam tantangan globalisasi. Maka dari itu dengan menghilangkan prinsip suka instan, budaya literasi bisa dikatakan akan meningkat. 

Sebagai wujud adaptasi, meredam pengaruh-pengaruh budaya global ialah hal yang sempurna dilakukan. Diperlukan literasi serta kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan budaya lokal. 

Budaya literasi mempunyai dampak yang sangat baik bagi setiap generasi menyerupai meningkatnya kebiasaan berpikir yang jernih diiringi dengan proses membaca dan menulis. Jika masyarakat merasa cukup dengan menonton dan mendengar, maka daya berpikirnya tidak akan kuat. Proses berpikir yang diiringi dengan baca-tulis juga akan menghasilkan karya yang sanggup mempunyai kegunaan bagi orang lain. 

Usaha untuk menghidupkan budaya literasi yang paling simple akan tetapi susah untuk dimulai ialah dengan meninggalkan hal –hal tidak penting dari televisi dan smartphone sedikit demi sedikit serta perbanyak waktu dengan buku. 

Jika anda mempunyai dua orang anak, satu tinggal dan berguru di asrama yang tidak ada televisi dan ada larangan memakai handphone. Satu anak lagi dibiarkan tinggal dan berguru di rumah bebas menonton televisi dan memakai handphone, niscaya yang tampak paling fokus dalam menuntut ilmu ialah yang tinggal di asrama disebabkan lantaran dijauhkan dari hal-hal yang melalaikan dan terlena dengan globalisasi. 

Maka seorang yang fokus dalam menuntut ilmu serta dijauhkan dari media globalisasi yang melalaikan jawaban baiknya ialah tumbuhnya semangat literasi yang sangat besar lengan berkuasa dalam dirinya. Biasanya orang yang sudah banyak membaca, cakrawalanya terbuka sehingga ia akan tidak sabar untuk menuangkan segala inspirasi pokok dan wawasannya dalam sebuah tulisan. Dari hal tersebut menunjukan bahwa darah literasi sudah mengalir di seluruh tubuhnya. 

Memulai Revitalisasi dari Sekolah-sekolah 

Dalam rangka menghidupkan kembali budaya literasi atau baca tulis, guru di sekolah serta orang bau tanah di rumah mempunyai tugas yang sangat penting. Karena budaya baca tulis paling baik dimulai di ketika seorang anak masih menginjak usia sekolahan (SD-SMA atau sekolah sederajat). 

Jika orang bau tanah ingin prestasi akademik anak manis dan memuaskan, maka orang bau tanah harus cermat dalam mengawasi anaknya. Jangan biarkan seorang anak dalam hari-harinya banyak lalai dengan media global dibandingkan waktunya dengan buku. Seorang anak yang terbiasa membaca buku maka ia akan gampang mengakibatkan membaca itu hobi bahkan kebutuhan primer. Begitu juga sebaliknya, kalau seorang anak sudah keenakan dengan hiburan dan media massa, maka membaca buku sama sekali bukan hal yang penting baginya. 

Di sekolah, seorang guru jangan hanya memperlihatkan bahan sampai-sampai tidak memberi waktu kepada muridnya untuk membaca buku pelajaran. Minimal seorang guru memperlihatkan waktu untuk para murid membaca dengan bunyi sedang serta didengarkan oleh teman-temannya yang lain. Setelah itu seorang guru bisa bertanya kepada murid-muridnya apa yang dipahami oleh para murid. Cara menyerupai itu banyak dipraktikkan oleh para guru ketika ini lantaran sanggup menumbuhkan potensi berpikir dan berargumentasi siswa. 

Orang bau tanah jangan takut uangnya sia-sia hanya lantaran membeli buku untuk anaknya. Justru orang bau tanah khawatirlah di ketika membeli smartphone untuk anaknya yang masih menginjak usia sekolahan, bawah umur ketika ini banyak memakai alasan ketika dibelikan smartphone, maka smartphone tersebut akan dipakai untuk belajar. Untuk usia yang masih labil, alasan tersebut sangat jarang ditepati. Faktanya media menyerupai smartphone lebih mayoritas dipakai untuk hiburan. Maka lebih baik orang bau tanah membelikan buku untuk anak ketimbang membeli barang-barang yang sanggup menciptakan anak terlena menyerupai smartphone tadi. 

Dulu ketika masih usia sekolah dasar, saya merupakan orang yang sama sekali tidak berwawasan, daya berpikir lambat dan tidak ada sisi yang sanggup diandalkan. Prestasi akademik di bawah rata-rata dan sama sekali tidak mempunyai prestasi ekstrakurikuler. Itu semua disebabkan lantaran kemalasan dan kelalaian pribadi. Sejak saya merasa menderita dengan semua itu, saya memulai dengan sering-sering membaca Al-Quran serta menghafalkannya bertahap pada siang hari, membaca buku-buku yang dibelikan ayah saya pada malam harinya.

Dalam hal membaca buku, memang untuk pertama kalinya banyak kosakata dan pemaparan yang sama sekali tidak dipahami, akan tetapi lama-kelamaan sambil terus bertanya kepada orang tua, karenanya menjadi paham dan semakin banyak kosakata yang didapatkan. Satu tahun kemudian, tiba-tiba secara tak terlalu disengaja, saya yang awalnya tidak berwawasan, daya berpikir lambat, semua hal-hal menyerupai itu tergantikan dengan wawasan yang luas dan daya berpikir yang lebih cepat dari sebelumnya. Prestasi akademik naik serta menerima prestasi-prestasi ekstra lainnya. Itu semua tidak akan diraih kalau masih ada sifat malas dan lalai dengan dunia. Semua akan terasa indah kalau dimulai dengan membaca, menulis, dan menuntut ilmu. 

Budaya Baca-Tulis, Untuk Masa Depan Bangsa yang Lebih Cerah 

Saat ini di Indonesia sendiri ada satu gerakan yang berjulukan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang diprakarsai oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 

Sejak tahun 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebagai potongan dari implementasi dari peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 wacana Penumbuhan Budi Pekerti. 

Sebagai upaya revitalisasi budaya literasi, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah menyebarkan Gerakan Literasi Sekolah untuk meningkatkan daya baca siswa dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menggerakkan literasi bangsa dengan menerbitkan buku pendukung bagi siswa yang berbasis pada kearifan lokal. 

Selain itu pada tahun 2017, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan menggagas Gerakan “Satu Guru Satu Buku” untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja guru dalam pembelajaran baca-tulis. 

Semua perjuangan yang dilakukan oleh pemerintah ini tak lain hanya demi bangkitnya budaya literasi di Indonesia. Dengan bangkitnya literasi di tanah air, masa depan bangsa yang cerah hanya tinggal menunggu waktu saja. 

Baca juga: Mahasiswa Kutu Buku

Percayalah bahwa dengan kuatnya budaya literasi di negeri ini, kemajuan bangsa kita juga akan ikut meningkat serta persentase kebahagiaan rakyat akan naik seiring angka literasi terus meningkat. 

Bangsa yang maju ialah bangsa yang berilmu pengetahuan. Bangsa yang sebatas bermimpi untuk maju ialah bangsa yang hanya mementingkan harta dan ketenaran.[]

*Penulis ialah mahasiswa tingkat satu Jurusan Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo.