Saturday, 4 January 2020

Tadabbur Alquran, Cara Dahsyat Meningkatkan Akidah (1)

 tidakkah kita ingin menguatkannya kembali  Tadabbur Alquran, Cara Dahsyat Meningkatkan Iman (1)
Sudah sejauh apa kita dengan Alquran? dikala kepercayaan di hati ini sudah diombang-ambingkan oleh hiruk pikuknya dunia, tidakkah kita ingin menguatkannya kembali? kepercayaan yang bisa menundukkan kesombongan, kepercayaan yang bisa menguatkan hati, dan kepercayaan yang bisa menciptakan air mata kembali mengalir di tiap istighfar. Bukalah Alquran, tadabburilah mutiara pelembut hati disana.

Penjelasan Tentang Iman


Membaca Al-Qur`an dan Mentadaburinya[1] ialah Cara Dahsyat untuk Meningkatkan Keimanan

Sobat, Anda Tahu kan bahwa Iman Itu Bisa Bertambah dan Berkurang?

Banyak terdapat keterangan dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang menjelaskan pasang surutnya keimanan. Di samping itu, Al-Qur’an dan As-Sunnah juga menjelaskan pemilik kepercayaan yang bertingkat-tingkat martabatnya, sebagian mempunyai kepercayaan yang lebih tinggi daripada yang lain. Ada di antara mereka yang disebut assaabiq bil khairaat (terdepan dalam kebaikan), al-muqtashid (pertengahan) dan zhalim linafsihi (menzalimi diri sendiri). Ada juga al-muhsin, al-mukmin, dan al-muslim. Semua itu menunjukkan bahwa mereka tidak berada dalam satu martabat. Ini menunjukan bahwa kepercayaan itu bisa bertambah dan berkurang.[2] Oleh lantaran itu, ketika Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah menjelaskan wacana keyakinan ahlus sunnah wal jama’ah wacana iman, ia mengatakan,

وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ, وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ وَعَقْدٌ بِالْجَنَانِ, يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ, وَيَنْقُصُ بِالْعِصْيَانِ

“Iman ialah ucapan dengan lisan, amal dengan anggota badan, keyakinan (dan amal) hati. Ia sanggup bertambah dengan alasannya ialah ketaatan, dan berkurang dengan alasannya ialah kemaksiatan.”[3]
Siapa yang Gak Pengen Bertambah Imannya?

Sobat, perlu difahami bahwa menyukai perkara baik, menyayangi ketaatan, pengen kepercayaan bertambah itu ialah dambaan setiap orang yang benar keimanannya. Di samping itu, menyukai keimanan merupakan anugerah dari Allah Ta’ala untuk hamba yang disayangi-Nya.

Oleh lantaran itu, perbanyaklah  memohon kepada Allah Ta’ala supaya Dia menghiasi keimanan dalam hati Anda, simaklah firman Allah Ta’ala berikut ini,

 وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Tetapi Allah menimbulkan kalian cinta kepada keimanan dan menimbulkan keimanan itu indah di dalam hati kalian serta menimbulkan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (QS. Al-Hujurat: 7).

Suka Iman Bertambah Saja? Tidaklah Cukup!


Sobat, cukupkah Anda suka masakan saja, tapi setiap hari tidak mau makan? Apakah cukup Anda suka uang saja, tapi tidak mau bekerja? Anda ingin sembuh, tapi gak mau berobat? Tentu tidak bukan? Dalam agama kita, orang  yang ingin berjumpa dengan Allah dan melihat wajah-Nya diperintahkan untuk bederma saleh.

Coba deh, simak Kalam Ilahi berikut ini,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya” (Q.S Al-Kahfi: 110).

Dengan demikian, tidak cukup seseorang hanya suka imannya bertambah, namun tidak mau berusaha menambah keimanannya?

Kalo mau bertakwa, ya laksanakan perintah Allah. Mau kepercayaan naik? Ya lakukan ketaatan kepada Rabb Anda!
Cara Dahsyat Meningkatkan Keimanan!

Syaikh Prof. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah di dalam kitabnya Asbab Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi menyebutkan tiga cara dahsyat dalam meningkatkan keimanan, yaitu:
  1. Mempelajari ilmu yang bermanfaat, di antaranya ialah membaca Al-Qur`an dan mentadaburinya, mempelajari nama dan sifat Allah Ta’ala, memperhatikan keindahan agama Islam, membaca sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan membaca dongeng Salafush Shaleh.
  2. Memperhatikan ayat-ayat Allah yang kauniyyah.
  3. Bersungguh-sungguh dalam bederma saleh, baik dengan hati, lisan, maupun anggota tubuh lahiriyah, termasuk berdakwah di jalan Allah Ta’ala dan menjauhi sebab-sebab yang mengurangi keimanan.
[Bersambung]Anda sedang membaca: “Cara Dahsyat Meningkatkan Keimanan”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini:

   Cara Dahsyat Meningkatkan Keimanan (1)
   Cara Dahsyat Meningkatkan Keimanan (2)

***

Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah
Artikel: Muslim.or.id



[1]. Tadabbur ialah memperhatikan (memikirkan) lafazh supaya bisa memahami maknanya. [Ushulun fit Tafsir, Syaikh Al-Utsaimin, hal. 23]

[2]. Sumber: https://muslim.or.id/1993-iman-bisa-bertambah-dan-berkurang.html

[3]. Lum’ah Al-I’tiqad Al-Hadi ila Sabil Ar-Rasyad.

* Dipublikasi ulang dari Muslim.or.id"


Bertaubat, Alasannya Dikabulkan Doa (1)

Termasuk budbahasa yang agung dalam berdoa dan salah satu alasannya ialah dikabulkannya doa ialah seorang hamba mendahulukan taubat dari seluruh dosa-dosanya sebelum memberikan permohonan lainnya dalam doa kepada Allah Ta’ala, ia mengakui dosa-dosanya dan keteledorannya, serta meratapi dosa dan kesalahannya, lantaran bertumpuknya dosa, serta banyaknya kemaksiatannya merupakan alasannya ialah tidak dikabulkannya doa.

Dinukil dari Siyar A’lamin Nubala`: 13/15[1] bahwa Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata:

“Janganlah engkau menganggap terlambat pengkabulan doa, padahal engkau telah menutup jalannya dengan dosa-dosa (mu)!”

Sebuah Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

ثم ذكر الرجل يطيل السفر ، أشعث أغبر ، يمدّ يديه إلى السماء : يا رب يا رب ، ومطعمه حرام ، ومشربه حرام ، وملبسه حرام ، وغُذّي بالحرام ، فأنّى يُستجاب له ؟

“Kemudian ia (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) menyebutkan seseorang yang usang berpergian jauh, berserakan rambutnya dan berdebu. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas: ‘Ya Rabbi…Ya Rabbi…’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, badannya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya dapat terkabulkan?”. (HR. Muslim).

Imam Nawawi rahimahullah berkata :

“(Bahwa orang ini) usang bepergian dalam rangka beribadah kepada Allah, menyerupai haji, ziarah, bersilaturrahmi dan yang lainnya.”[2]

Baca juga:



Kalau seseorang safar yang usang dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala saja, kemudian ia berdoa, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menilai orang itu jauh dari terkabulkan doanya, bagaimana lagi dengan doa orang yang safar untuk tujuan bermaksiat?!

Oleh lantaran itu, maka barangsiapa yang ingin supaya Allah mengabulkan doa dan merealisasikan harapannya, hendaklah ia bertaubat dengan taubat nasuha dari segala dosa-dosanya.

Allah Jalla wa ‘Ala tidak keberatan sama sekali mengampuni dosa-dosa orang yang dikehendaki-Nya dan tidak keberatan memberi kebutuhan orang yang memohon kepada-Nya bagi orang yang Allah kehendaki.

Dahulu para nabi dan rasul (utusan) Allah Ta’ala mendorong dan menyemangati umat mereka untuk bertaubat dan istigfar, serta menjelaskan kepada umat mereka bahwa hal itu termasuk alasannya ialah dikabulkannya doa, turunnya hujan, banyaknya kebaikan, tersebarnya keberkahan pada harta dan anak.

Allah Ta’ala berfirman wacana Nabi Nuh ‘alaihis salam bahwa ia berkata kepada kaumnya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارً

“(10) Maka saya katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, -sesungguhnya Dia ialah Maha Pengampun-,”

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

“(11) Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat.”

Allah Ta’ala berfirman:

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“(12) dan membanyakkan harta dan bawah umur kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untuk kalian sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).

[Bersambung]

Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah
Artikel: Muslim.or.id

Catatan Kaki


Friday, 3 January 2020

Modal Dasar Berdoa Pada Allah (3)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (2)

Agar Doa Dikabulkan

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan syarat dan watak yang penting dalam berdoa pada Allah.

Beberapa watak yang penting dalam berdoa dapat dirangkum sebagai berikut:


  1.     Kehadiran dan kosentrasi hati secara totalitas terhadap kasus yang diperlukan dalam doa.
  2.     Mencari waktu dikabulkannya doa.
  3.     Berdoa dengan hati yang khusyu’, merasa tak berdaya di hadapan Allah, merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya, serta lembut (dalam berdoa).
  4.     Menghadapnya hamba yang berdoa ke arah kiblat.
  5.     Dalam keadaan suci.
  6.     Mengangkat kedua tangan (memohon) kepada Allah.
  7.     Memulai (doanya) dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya.
  8.     Bershalawat untuk hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  9.     Memulai dengan bertaubat dan beristigfar (kepada Allah) sebelum menyebutkan keperluan (lainnya).
  10.     Menghadap kepada Allah, memelas dalam berdoa, dan merendahkan diri kepada-Nya
  11.     Menggabungkan harap dan cemas dalam berdoa kepada-Nya.
  12.     Bertawassul dengan nama dan sifat-Nya dengan mentauhidkan-Nya.
  13.     Mendahului doa dengan bersedekah.
  14.     Memilih lafal doa yang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beritakan bahwa lafal tersebut berpotensi untuk dikabulkan atau mengandung nama-Nya yang agung.


Maka doa yang ibarat ini tidak akan tertolak, hanya saja ada suatu kasus yang diwanti-wanti oleh para ulama, ialah seseorang yang sedang berdoa, di samping memenuhi watak dan syarat biar doa dikabulkan, juga perlu memenuhi konsekuensi dan penyempurna doa berupa berusaha dengan sungguh-sungguh mengambil lantaran untuk meraih kasus yang diminta dalam doanya.

Disebutkan dalam Majmu’ul Fawa’id waqtinashil Awabid, karya Ibnu Sa’di rahimahullah, “Permohonan hidayah kepada Allah itu menuntut (seseorang yang berdoa) melaksanakan seluruh lantaran yang dengannya diperoleh hidayah, baik berupa lantaran (mencari) ilmu maupun lantaran (mengamalkan) amal (shalih).

Permohonan rahmah dan ampunan kepada Allah, menuntut (seseorang yang berdoa) melaksanakan (seluruh) lantaran yang memungkinkan dengannya diperoleh rahmah dan ampunan, dan sebab-sebab tersebut telah diketahui dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.  Apabila seseorang yang berdoa mengucapkan

اللهم أصلح لي ديني الذي هــــو عصمة أمري ، وأصلح لي دنياي التي فيهـا معاشي … » (1) إلى آخره

“Ya Allah perbaikilah agamaku untukku yang dia merupakan benteng pelindung bagi urusanku dan perbaikilah duniaku untukku yang dia menjadi kawasan hidupku…(sampai selesai doa ini).”

(Maka) doa dan permohonan dukungan kepada Allah ini menuntut seorang hamba berusaha memperbaiki agamanya dengan mengenal kebenaran dan mengikutinya, serta mengenal kebatilan dan menjauhinya, serta menolak fitnah syubhat dan syahwat.

Doa inipun menuntut (seorang hamba) untuk berusaha dan mengambil lantaran yang dengannya menjadi baik urusan dunianya, dan sebab-sebab tersebut beraneka ragam sesuai dengan keadaan makhluk.

Kiat Istiqamah (7)

Kiat Keempat

“Istiqomah yang tertuntut yakni beribadah kepada Allah sesuai dengan sunah, apabila tidak bisa maka mendekatinya”

Agar seseorang bisa istiqomah, maka perlu memperhatikan dua perkara:

Pertama: Beribadah dan taat kepada Allah Ta’ala, serta berinfak shaleh sesuai dengan sunah (syariat Islam).

Kedua: Apabila tidak mampu, maka mendekati sunah (syariat Islam).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا

“Sesungguhnya agama (Islam) ini mudah, dan tidaklah seseorang memperberat diri dalam beragama Islam kecuali ia akan terkalahkan (sendiri), maka bersikaplah kalian sesuai dengan (sunah) dan mendekatilah, serta bergembiralah!” (HR. Al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan makna
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ

“Sesungguhnya agama ini mudah” dengan mengatakan:

ميسر مسهل في عقائده وأخلاقه وأعماله ، وفي أفعاله وتُروكه

“(Agama Islam) ini mudah, lagi gampang, baik dalam akidah, akhlak, amal, dalam melaksanakan (perintah) maupun dalam perilaku meninggalkan (larangan)”.

Adapun Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari, dia menyatakan:

والمعنى لا يتعمق أحد في الأعمال الدينية ويترك الرفق إلا عجز وانقطع فيغلب

“Maksudnya yakni tidaklah seseorang berlebihan dalam mengamalkan agama (Islam) dan meninggalkan perilaku pertengahan kecuali ia akan tak bisa dan terputus (amalannya), kemudian kalah!”

Sedangkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
فَسَدِّدُوا

“Maka bersikaplah kalian sesuai dengan (sunah)”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan:

أي : الزموا السداد وهو الصواب من غير إفراط ولا تفريط ، قال أهل اللغة : السداد التوسط في العمل

“Maksudnya: tetaplah lurus (As-Sadad), yaitu benar tanpa melampui batasan (syariat) dan tanpa menguranginya. Ahli bahasa Arab berkata: As-Sadad yakni tengah-tengah dalam beramal”.

Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullah menjelaskan makna  As-Sadad dengan mengatakan:

والسَّدادُ : أن تصيبَ السُّنَّة

“As-Sadad yakni anda (beramal) sesuai dengan sunah (syariat Islam).”

Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitabnya Jami’ul Ulum wal Hikam juga menjelaskan makna  As-Sadad:

فالسَّداد هو حقيقةُ الاستقامةِ ، وهو الإصابةُ في جميعِ الأقوالِ والأعمالِ والمقاصدِ كالَّذي يَرمي إلى غرضٍ فيصيبُه

“As-Sadad yakni hakekat dari istiqomah, yaitu: benar dalam seluruh ucapan, perbuatan dan niat. Ibarat orang yang membidik suatu sasaran kemudian tepat (bidikannya) mengenai sasaran tersebut”.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَقَارِبُوا

“Dan mendekatilah”

dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah:

أي : إن لم تستطيعوا الأخذ بالأكمل فاعملوا بما يقرب منه

“Maksudnya: apabila kalian tidak bisa melaksanakan amalan yang paling sempurna, maka lakukan amalan yang mendekatinya”.

Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitabnya Jami’ul Ulum wal Hikam menjelaskan makna “mendekati  (muqarabah)”:

والمقارَبة أن يُصيب ما يقرُب منَ الغَرض إنْ لم يُصِب الغَرَض نفسَه

“Mendekati yakni anda melaksanakan (amalan) mendekati tujuan (sunah), meski tidak tepat sesuai dengan tujuannya (sunah)”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah juga menjelaskan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَأَبْشِرُوا

“Serta bergembiralah!”,

أي : بالثواب على العمل الدائم وإن قل ، والمراد تبشير من عجز عن العمل بالأكمل بأن العجز إذا لم يكن من صنيعه لا يستلزم نقص أجره

“Maksudnya: bergembiralah dengan pahala atas amalan yang senantiasa terjaga meskipun amalan tersebut sedikit. Maksud perintah bergembira di sini yakni bergembira dikala tidak bisa melaksanakan amalan yang paling sempurna, bahwa ketidakmampuan itu kalau bukan sebab kesengajaan untuk meninggalkan (amalan paling sempurna), maka tidak berkonsekuensi berkurangnya pahalanya.”
[bersambung]
Daftar link artikel ini:

Saturday, 21 December 2019

Sikap Hamba Allah Seusai Ramadhan (1)

Sikap Hamba Allah Seusai Ramadhan (1)
Alamin telah menganugerahkan kepada kita kenikmatan berupa perjumpaan dengan bulan Ramadha Sikap Hamba Allah Seusai Ramadhan (1)


Bismillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, Sobat! Rabbuna, Rabbul `Alamin telah menganugerahkan kepada kita kenikmatan berupa perjumpaan dengan bulan Ramadhan yang penuh barakah dan kebaikan, maka:
  1. Barangsiapa yang banyak menelantarkan bulan Ramadhan dan banyak melaksanakan kesalahan di dalamnya, bertaubatlah dan sibukkan diri dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada Rabb-nya, sebagai ganti keburukan yang terlanjur dia lakukan, mulailah lembaran hidup baru. Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallamtelah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani:
    وأتبع السيئةَ الحسنةَ تمحها
    “Iringilah keburukan dengan kebaikan, pasti kebaikan tersebut akan menghapuskannya.”
  2. Adapun barangsiapa yang telah Allah mudahkan bederma salih di ketika bulan Ramadhan, maka pujilah Allah dan mohonlah kepada-Nya biar amal shalih Anda diterima oleh-Nya, serta mohonlah kelanggengan dalam amal salih sehingga sanggup terus melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada-Nya dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala:
    وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
    “Dan sembahlah Tuhanmu hingga tiba kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99).
Itulah tips secara umum bagi seorang hamba dalam meninggalkan bulan Ramadhan dan memasuki bulan Syawal. Adapun lebih lanjut, berikut ini beberapa tips yang perlu kita lakukan biar setiap kita menjadi hamba Allah yang semakin bertakwa, semakin dicintai oleh-Nya usai Ramadhan, semoga bermanfaat!

1. Bersyukur

Seorang hamba Allah yang baik, tentulah berusaha senantiasa mengingat nikmat-nikmat-Nya biar ia senantiasa bersyukur kepada-Nya sehingga meningkatlah kecintaan kita kepada-Nya. Saudaraku yang seiman! Kita tertuntut untuk bersyukur akan limpahan nikmat Allah sanggup berjumpa dengan bulan Ramadhan. Bukankah banyak dari saudara-saudara kita tidak sanggup lagi mendapat nikmat ini?
Kita tertuntut untuk bersyukur akan limpahan nikmat taufik dari Allah sehingga kita sanggup melaksanakan banyak sekali macam keta’atan kepada-Nya di bulan Ramadhan yang telah berlalu.
Bahkan saudaraku, kita wajib bersyukur -sebelum itu semua- bahwa kita dianugerahi kenikmatan sanggup berjumpa dengan bulan Ramadhan dan keluar darinya dalam keadaan beriman.
Saudaraku seiman! Kita semua butuh untuk memperbanyak hamdalah (pujian) kepada Allah yang telah memberi taufik-Nya kepada kita, sehingga kita sanggup menuntaskan banyak sekali macam ibadah pada bulan Ramadhan yang gres saja kita tinggalkan. Hati seorang hamba yang muwaffaq (yang mendapat taufik) benar-benar menghayati bahwa karunia fasilitas bederma shalih selama Ramadhan itu berasal dari Allah, maka layaklah kita berucap sebagaimana ucapan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam,
قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
“Iapun (Nabi Sulaiman) berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah saya bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka bergotong-royong dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka bergotong-royong Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (An-Naml:40).
Bukankah prinsip hidup kita yaitu لا حول ولا قوة إلا بالله , “Tidak ada daya dan upaya (makhluk) kecuali dengan tunjangan Allah?” La haula wala quwwata illa billah adalah sebuah kalimat yang menggambarkan ketundukan dan kepasrahan kepada Allah Ta’ala dan mengandung pengukuhan bahwa tidak ada satupun pencipta dan pengatur alam semesta ini kecuali Allah, tidak ada satupun yang sanggup menghalangi kehendak Allah jikalau Dia menghendaki sesuatu terjadi dan bahwa mustahil seorang hamba menghendaki sesuatu kecuali hal itu dibawah kehendak Allah.
Maka nampaklah dalam kalimat yang agung ini, ketidakberdayaan makhluk di hadapan Rabbnya, bahwa keburukan apapun tidak akan mungkin dihindari melainkan jikalau Allah menjauhkannya darinya. Demikian pula, tidaklah mungkin seorang hamba sanggup mendapat atau melaksanakan sebuah kebaikan, menyerupai keimanan, shalat, puasa, mencari rezeki yang halal dan yang lainnya kecuali dengan tunjangan Allah ‘Azza wa Jalla.
Di sinilah nampak dengan terang letak kewajiban bersyukur kepada Allah dalam setiap kebaikan yang didapatkan oleh seorang hamba dan dalam setiap amal salih yang berhasil dilakukan oleh seorang hamba. Amalan salih sebesar apapun akan menjadi kecil di sisi kebesaran dan keagungan Allah ‘Azza wa Jalla dan kekuatan hamba sebesar apapun akan menjadi lemah di sisi kekuatan Rabbus samawati wal ardh, Tuhan semesta alam.

2. Istighfar

Tips yang perlu kita lakukan biar setiap kita menjadi hamba Allah yang semakin bertakwa dan semakin dicintai oleh-Nya usai Ramadhan yaitu beristigfar, memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Seorang hamba butuh memperbanyak istigfar atas kurang sempurnanya ia dalam melaksanakan semua bentuk peribadatan sebab bagaimanapun baiknya peribadatan yang kita lakukan pasti ada kekurangan. Demikianlah selayaknya kondisi seorang hamba setiap selesai melaksanakan ibadah, biar beristigfar kepada Allah atas segala kekurangan yang terjadi.
  • Tidakkah kita ingat bahwa setelah shalat disyari’atkan untuk istighfar 3 kali? Dalam sebuah hadits disebutkan,
    أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا انصرف من صلاته استغفر ثلاثاً
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jikalau telah selesai shalat biasa beristighfar tiga kali” (Shahih Muslim: 591).
  • Tidakkah kita tahu bahwa setelah ibadah wuquf di Arafah dalam ibadah haji Allah pun memerintahkan hamba-Nya untuk Istighfar? Allah Ta’ala berfirman:
    ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
    “Kemudian bertolaklah kau dari daerah bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah, bergotong-royong Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Baqarah:199).
  • Tahukah Anda nasihat disyari’atkan zakat fithri -di masyarakat kita dikenal dengan zakat fitrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan nasihat zakat fithri, sebagaimana tersebut di dalam hadits
    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ  مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
    “Diriwatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kasus sia-sia dan perkataan keji, dan sebagai masakan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (‘Id), maka itu yaitu zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat (‘Id), maka itu termasuk sedekah” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al Albani).
    Zakat fithri disyari’atkannya pada simpulan Ramadhan setelah sekian banyak ketaatan sudah dilakukan oleh seorang hamba selama dua pertiga bulan Ramadhan. Ini arahan bagi kita biar setelah kita melaksanakan banyak sekali macam ketaatan setelah Ramadhan, tidak tertipu dengan ketaatan yang telah berhasil kita lakukan, bahkan justru mengingat kekurangan-kerungan kita dalam beribadah.
  • Tidakkah kita sadar setelah melaksanakan dua pertiga keta’atan pada bulan Ramadhan berupa shalat wajib,puasa, shalat Tarawih, baca Al-Qur’an dan lainnya, kemudian saatlailatulqadar, apakah yang kita ucapkan?
    اللهم إنك عفوٌّ  تُحبُّ العفوَ فاعفُ عني
    Ya Allah, bergotong-royong Engkau Maha Pemaaf, mengasihi maaf, maka maafkanlah kesalahanku” (HR. At-Tirmidzi dan yang lainnya, lihat: Shahih At-Tirmidzi).
  • Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan memerintahkan Rasul-Nya untuk beristigfar setelah menuntaskan secara umum dikuasai kiprah akbarnya memberikan risalah dakwah,sebagaimana dalam surat An-Nashr! Allah berfirman,
    إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
    (1)Apabila telah tiba tunjangan Allah dan kemenangan,
    وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا
    (2)dan kau lihat insan masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
    فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
    (3)maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia yaitu Maha Penerima taubat.
Ulama menjelaskan bahwa demikianlah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bagaimana selayaknya kondisi seorang hamba tiap selesai melaksanakan ibadah, tidak tertipu dengan ibadah yang dilakukan, bahkan disyari’atkan bagi kita untuk menutup amal salih dengan istighfar.
Setiap hari hendaknya kita beristighfar kepada Allah dari segala dosa yang kita lakukan. Syari’at istighfar ini tidak hanya dilakukan setelah ibadah yang terkait dengan penunaian hak Allah, namun juga termasuk keta’atan lain berupa ihsan kepada sesama insan dan membantu insan dalam kebaikan. Hikmahnya yaitu biar tidak ada perasaan ujub atau merasa berbangga dengan jasa dan prestasi kebaikan, menganggap suci diri, sombong, dan silau dengan amal yang telah dilakukan, baik amal tersebut terkait dengan pemenuhan hak Allah maupun terkait dengan hak manusia.
***
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Wednesday, 18 December 2019

Musibah Ialah Sebab Dosa Kita (1)

Musibah Ialah Sebab Dosa Kita (1)
Berbagai peristiwa alam terjadi di negeri yang kita cintai ini Musibah Adalah Karena Dosa Kita (1)


Berbagai peristiwa alam terjadi di negeri yang kita cintai ini, dari mulai gempa, angin kencang, longsor, banjir, dan banyak sekali macam wabah penyakit serta banyak sekali bentuk krisis, baik krisis ekonomi, keamanan, maupun akhlak. Semua itu, satu persatu, silih berganti tiba menjelang, belum akibat tertangani problem yang satu, muncul problem yang lain.
Ada apa gerangan? Simaklah sebuah kabar yang mustahil salah dan pasti benarnya, yang berasal dari Allah Ta’alaAllah Ta’ala berfirman :
وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ
“Dan segala peristiwa alam yang menimpa kalian yaitu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian. Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)” (QS. Asy-Syuuraa: 30).
Ibnu Katsiir rahimahullah menjelaskan,
وقوله وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم أي مهما أصابكم أيها الناس من المصائب فإنما هو عن سيئات تقدمت لكم ويعفو عن كثير أي من السيئات ، فلا يجازيكم عليها بل يعفو عنها، ولو يؤاخذ الله الناس بما كسبوا ما ترك على ظهرها من دابة
“Dan firman-Nya (yang artinya) dan segala peristiwa alam yang menimpa kalian yaitu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian maksudnya wahai manusia! peristiwa alam apapun yang menimpa kalian, semata-mata lantaran keburukan (dosa) yang kalian lakukan. “Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)” maksudnya yaitu memaafkan dosa-dosa kalian, maka Dia tidak membalasnya dengan siksaan, bahkan memaafkannya. Dan jika sekiranya Allah menyiksa insan disebabkan perbuatannya, pasti Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun (Faathir: 45) (Tafsir Ibnu Katsiir: 4/404).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas,
يخبر تعالى، أنه ما أصاب العباد من مصيبة في أبدانهم وأموالهم وأولادهم وفيما يحبون ويكون عزيزا عليهم، إلا بسبب ما قدمته أيديهم من السيئات، وأن ما يعفو اللّه عنه أكثر، فإن اللّه لا يظلم العباد، ولكن أنفسهم يظلمون وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وليس إهمالا منه تعالى تأخير العقوبات ولا عجزا.
“Allah Ta’ala memberitahukan bahwa tidak ada satupun peristiwa alam yang menimpa hamba-hamba-Nya, baik peristiwa alam yang menimpa tubuh, harta, anak, dan menimpa sesuatu yang mereka cintai serta (musibah tersebut) berat mereka rasakan, kecuali (semua peristiwa alam itu terjadi) lantaran perbuatan dosa yang telah mereka lakukan dan bahwa dosa-dosa (mereka) yang Allah ampuni lebih banyak.
Karena Allah tidak menganiaya hamba-hamba-Nya, namun merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Dan jika sekiranya Allah menyiksa insan disebabkan perbuatannya, pasti Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun, dan menunda siksa itu bukan lantaran Dia teledor dan lemah” (Tafsir As-Sa’di: 899).
Al-Baghawi rahimahullah menukilkan perkataan seorang tabi’in pakar tafsir Ikrimah rahimahullah,
ما من نكبة أصابت عبدا فما فوقها إلا بذنب لم يكن الله ليغفر له إلا بها، أو درجة لم يكن الله ليبلغها إلا بها .
“Tidak ada satupun peristiwa alam yang menimpa seorang hamba, demikian pula peristiwa alam yang lebih besar (dan luas) darinya, kecuali lantaran alasannya yaitu dosa yang Allah mengampuninya hanya dengan (cara menimpakan) peristiwa alam tersebut (kepadanya) atau  Allah hendak mengangkat derajatnya (kepada suatu derajat kemuliaan) hanya dengan (cara menimpakan) peristiwa alam tersebut (kepadanya)” (Tafsir Al-Baghawi: 4/85)
(Bersambung)
***
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Musibah Yaitu Alasannya Yaitu Dosa Kita (2)

Musibah Yaitu Alasannya Yaitu Dosa Kita (2)
 berikut ini perkataan dinukilkan dari kitabnya Musibah Adalah Karena Dosa Kita (2)



Ibnul Qoyyim rahimahullah ta’ala merinci wacana hal itu, berikut ini perkataan dinukilkan dari kitabnya Ad-Daa` wad Dawaa’, hal. 66-67: 
Beliau menjelaskan wacana apakah gerangan lantaran Nabi Adam ‘alahis salam dan Hawa dikeluarkan dari Surga,
فَمَا الَّذِيْ أَخْرَجَ الأَبَوَيْنَ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارُ اللَّذَّةِ وَالنِّعْمَةِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إلَى دَارِ الآلَامِ والْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟
“Apakah yang telah mengakibatkan kedua orangtua kita (Nabi Adam ‘alahis salam dan Hawa) dikeluarkan dari Surga, negeri (yang penuh dengan) kelezatan, kenikmatan, keceriaan dan kesenangan, menuju (dunia) negeri yang terdapat di dalamnya: penderitaan, kesedihan dan musibah?”
Lebih lanjut, ia juga memaparkan aneka macam bentuk siksa Allah dan malapetaka yang menimpa manusia,
وما الّذي أغرق أهل الأرض كلّهم حتّى علا الماء فوق رؤوس الجبال؟ وما الّذي سلّط الرّيح على قوم عاد حتّى ألقتهم موتى على وجه الأرض كأنّهم أعجاز نخل خاوية، ودمّرت ما مرّت عليه من ديارهم وحروثهم وزروعهم ودوابّهم حتّى صاروا عبرة للأمم إلى يوم القيامة؟
“Apakah (penyebab) yang menenggelamkan seluruh penduduk bumi (dari kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam), sampai-sampai air (banjir) meninggi melampaui puncak gunung? Apakah yang telah mengakibatkan angin memporak-porandakan kaum ‘Aad sampai-sampai mayat-mayat mereka mati acak-acakan layaknya batang pohon kurma yang sudah lapuk? Dan menghancurkan segala yang dilaluinya berupa rumah-rumah , sawah ladang dan binatang-binatang mereka, hingga mereka menjadi pelajaran bagi seluruh umat hingga hari kiamat?”
وما الّذي أرسل على قوم ثمود الصّيحة حتّى قطعت قلوبهم في أجوافهم وماتوا عن آخرهم؟
“Dan apakah yang mengakibatkan datangnya pekikan bunyi menggelegar yang tertuju kepada kaum Tsamud, hingga mencopot jantung-jantung mereka dalam rongga badan mereka, kemudian mereka semua mati?”
وما الّذي رفع قرى اللّوطيّة حتّى سمعت الملائكة نبيح كلابهم، ثمّ قلبها عليهم، فجعل عاليها سافلها، فأهلكهم جميعا؟ ثُمَّ أَتْبَعَهُمْ حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَمْطَرَهَا عَلَيْهِمْ
“Dan apakah penyebab yang  telah mengangkat kampung Nabi Luth ‘alaihis salam, sampai-sampai Malaikat mendengar lolongan anjing-anjing mereka, kemudian kampung tersebut dibalik, pecahan atas menjadi bawah, lantas (Allah) membinasakan mereka seluruhnya? Kemudian Allah iringi dengan menurunkan hujan watu dari langit yang menimpa mereka?”
وما الّذي أغرق فرعون وقومه في البحر ثمّ نقلت أرواحهم إلى جهنّم، والأجساد للغرق، والأرواح للحرق؟
“Dan apakah penyebab yang menenggelamkan firaun dan kaumnya kedalam laut, kemudian ruh mereka dipindahkan ke neraka Jahanam. Jasad-jasad mereka ditenggelamkan, sedangkan ruh mereka dibakar?”
و ما خسف الذي بقارون و داره و ماله و أهله؟
“Apakah penyebab yang menenggelamkan qarun, rumahnya, hartanya dan orang yang mempunyai kekerabatan keluarga dengannya (ke dalam bumi)?”
Kemudian Ibnul Qoyyim rahimahullah menyimpulkan:
مما ينبغي أن يعلم أن الذنوب والمعاصي تضر ، ولا بد أن ضررها في القلب كضرر السموم في الأبدان على اختلاف درجاتها في الضرر ، وهل في الدنيا والآخرة شر وداء إلا سببه الذنوب والمعاصي ؟ .
“Merupakan perkara yang selayaknya diketahui bahwa dosa dan maksiat itu berdampak buruk. Pastilah pengaruh buruknya di hati menyerupai bahayanya racun yang menjalar di tubuh, sesuai dengan tingkatan keganasan racun tersebut. Adakah satu keburukan dan adakah satu penyakitpun  yang tidak disebabkan oleh dosa dan kemaksiatan?”
(bersambung)
***
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Musibah Ialah Alasannya Ialah Dosa Kita (3)

Musibah Ialah Alasannya Ialah Dosa Kita (3)
Dari klarifikasi dua artikel sebelumya sanggup disimpulkan beberapa kesimpulan sebagai beriku Musibah Adalah Karena Dosa Kita (3)syirik kepada-Nya dan Dia akan mengampuni dosa lainnya yang berada di bawah tingkatannya bagi siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya” (QS. An -Nisaa`: 116).
4. Beriman dengan bertauhid dan berinfak shaleh serta taat kepada Allah dengan melaksanakan seluruh Syari’at Allah membuahkan kemakmuran, ketentraman, dan kebahagiaan di dunia akhirat.
Allah Ta’ala berfirman,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan mengakibatkan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah mengakibatkan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sehabis mereka berada dalam ketakutan menjadi kondusif sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa tetap kafir sehabis (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (An-Nur: 55).
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Ayat ini termasuk di antara janji-janji Allah yang benar, yang telah disaksikan fakta dan isi beritanya. Allah telah berjanji kepada orang yang beriman dan berinfak shalih dari kalangan umat ini untuk mengakibatkan mereka berkuasa di muka bumi. Mereka akan menjadi para khalifah di muka bumi, yang mengatur urusan mereka dan (Allah) meneguhkan “bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka”, yaitu agama Islam yang telah mengalahkan seluruh agama selainnya, yang Allah ridhai untuk umat ini lantaran keutamaan, kemuliaan dan kenikmatan Allah atasnya. (Bentuk peneguhan agama mereka tersebut adalah) mereka leluasa dalam menegakkannya dan menegakkan syari’at baik lahir maupun batin, pada diri mereka maupun selain mereka. Sebab, orang-orang selain mereka dari kalangan para pemeluk agama selain (Islam) dan seluruh orang-orang kafir telah kalah dan hina. Dan Allah menggantikan keadaan mereka “sesudah mereka berada dalam ketakutan ” yang (sebelumnya) salah seorang dari mereka tidak bisa menampakkan agama (Islam) dan ibadahnya kecuali dengan banyak gangguan dari orang-orang kafir, serta jumlah kaum muslimin yang sangat sedikit bila dibandingkan dengan selain mereka, dan seluruh penduduk bumi menyerang mereka dan berbuat aniaya dengan melaksanakan banyak sekali macam keburukan. Allah menjanjikan hal-hal tersebut untuk mereka pada dikala turunnya ayat ini, namun kekhalifahan di bumi dan kekuasaannya belum sanggup disaksikan dikala itu. Yang dimaksud dengan kekuasaan disini yaitu kekuasaan menegakkan agama Islam dan keamanan yang sempurna, di mana mereka beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dan mereka tidak takut kecuali hanya kepada Allah.
Maka jayalah generasi awal umat ini, dengan iktikad dan amal soleh yang mengakibatkan mereka berada di atas umat lainnya, maka Allah jadikan mereka menguasai banyak sekali negeri dan kaum, serta dibukakan kekuasaan dari timur ke barat sehingga terwujud keamanan dan kekuasaan yang sempurna. Ini termasuk gejala kekuasaan Allah yang menakjubkan dan indah.
Dan hal tersebut akan senantiasa berlangsung sampai (mendekati) hari kiamat, selama mereka menegakkan iktikad dan amal soleh pastilah mereka akan mendapat apa yang telah Allah janjikan untuk mereka. Namun terkadang orang kafir dan munafikin menguasai mereka dan mengalahkan kaum muslimin disebabkan kelalaian kaum muslimin dalam menegakkan iktikad dan amalan yang shalih.” (Taisiril Karimir Rahman, hal. 668).
5. Bukan berarti untuk meraih  kemakmuran dan ketentraman negara serta kesejahteraan rakyat di dunia, dengan meninggalkan sebab-sebab teknis keduniaan yang bermanfaat yang tidak melanggar syari’at dalam banyak sekali bidang (ekonomi, teknologi, dan selainnya)! Tidaklah demikian!
Justru tuntutan keimanan dan amal shalih yaitu mengambil usaha yang bermanfaat, selama itu tidak melanggar syari’at, dengan tetap bertawakal kepada Allah Ta’ala.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah dan jangan engkau lemah! (HR. Muslim).
Namun, alasannya yang terpokok bagi kemakmuran sebuah negara dan masyarakat yaitu melaksanakan perintah Allah yang terbesar, yaitu tauhid serta alasannya yang terpokok kehancuran sebuah negara, yaitu melanggar larangan Allah yang terbesar, yaitu syirik dan kekufuran! Maka haruslah hal ini mendapat perhatian pertama dan paling utama!
Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (kesyirikan), mereka itulah yang akan mendapat rasa kondusif dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-An’aam: 82).
Ayat di atas terang menawarkan bahwa jikalau seseorang bertauhid (beriman) dan tidak menyekutukan Allah (tidak syirik), akan mendapat ganjaran berupa ketentraman dan keamanan serta hidayah di dunia dan akhirat. Semoga Allah Ta’ala menjadikan negeri kita sebagai negeri yang tentram dan kondusif dari banyak sekali macam bahaya krisis, baik krisis ekonomi, krisis keamanan (teror), krisis mental/akhlak dan yang lainnya dengan bertauhid secara sempurna, beriman dan berinfak shaleh, taat kepada Allah dengan melaksanakan seluruh syari’at Allah.
***
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Tuesday, 17 December 2019

Mutiara Pesan Yang Tersirat Dari Bencana Di Mina

Mutiara Pesan Yang Tersirat Dari Bencana Di Mina
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu  Mutiara Hikmah Dari Insiden Di Mina1 dengan beberapa perubahan dan tambahan.

Muqaddimah

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده و رسوله صلى الله وسلم عليه و على آله و أصحابه أجمعين،
Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang husna dan sifat-sifat-Nya yang ulya, semoga mendapatkan ibadah haji dan amal shaleh kita semuanya.
Dan semoga Dia Ta’ala mengembalikan kita ke keluarga kita dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kita, diangkat derajat kita oleh-Nya, lantaran sesungguhnya Allah ‘Azza wa JallaMaha Luas Karunia-Nya.
Dia Tabaraka wa Ta’ala Maha Mendengar do’a hamba-hamba-Nya.
Para pembaca yang budiman, Anda semua telah mengetahui, apa yang terjadi beberapa waktu lalu (saat Idul Adha). Berupa insiden yang besar, petaka yang dahsyat dan bencana yang mengerikan, yang menorehkan kesedihan yang mendalam di jiwa-jiwa kita!
Hingga kebahagiaan kaum muslimin dalam merayakan hari raya Idul Adha pada hari ini diretakkan dengan kejutan bencana yang dahsyat dan luar biasa ini, yang menimpa sebagian kaum muslimin di kota yang diberkahi ini, pada hari yang agung ini, (bahkan) hari yang paling mulia ini.
Banyak ulama menyebutkan hari ini sebagai hari yang paling mulia sepanjang tahun. Berkaitan dengan insiden ini, saya mencoba untuk merenung sejenak, dengan mengambil beberapa pelajaran yang selayaknya kita hadirkan dalam hati kita dalam mensikapi insiden ini.

Beberapa pelajaran berharga yang sanggup dipetik

1. Senantiasa bersiap-siaplah menghadapi kematian, kematian sanggup tiba setiap ketika dan di setiap tempat!
Saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana ini, mereka sedang melaksanakan serangkaian peribadatan yang agung. Mereka mempunyai banyak urusan dan kepentingan dalam menjalani proses ibadah haji tersebut.
Pada hari ini, mereka berencana menyempurnakan lempar jamrah, menyembelih binatang (al-hadyu) hingga menyempurnakan ibadah haji kemudian pulang ke negerinya masing-masing.
Namun, mereka tidak mengetahui bahwa kematian telah menunggu mereka di tengah perjalanan, sebelum mereka menuntaskan ibadah haji mereka.
Subhaanallaah…! Langkah-langkah kaki yang mereka lakukan, tidak ada satupun diantara mereka yang mengetahui bahwa ternyata setelah beberapa langkah lagi, final hidup menjemput mereka! Beberapa ketika setelah langkah-langkah itu, mereka harus meninggalkan kehidupan mereka di dunia ini!
Dari sini lah, kita mengambil pelajaran yang sangat berharga, bahwa seharusnya kita mempersiapkan diri setiap ketika dalam menghadapi kematian, yang datangnya tidak disangka-sangka! Tidak ada satu pun diantara kita yang mengetahui kapan final hidup akan datang.
Wallahi, Anda tidak akan tahu dimanakah Anda akan meninggal dunia dan kapan Anda akan meninggal dunia.
Bisa jadi Anda meninggal dalam perjalanan, yang dalam perjalanan itu, Anda telah merencanakan banyak sekali macam aktivitas, namun ternyata, tidak ada penghalang antara dirimu dan final hidup kecuali beberapa menit saja, setelah Anda memulai perjalanan tersebut!
Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kau mati kecuali dalam keadaan Muslim” (QS Ali ‘Imran : 102).
Maksudnya: jadilah Anda sebagai seorang hamba yang senantiasa ta’at kepada Allah Ta’ala hingga, jangan hingga final hidup menemui Anda, melainkan Anda sedang berada dalam keadaan yang baik dan husnul khatimah.
2. Kesenangan duniawi itu tidak langgeng!
Diantara pelajaran besar yang sanggup kita ambil dari insiden yang memilukan ini yaitu kehidupan dunia ini tidaklah satu warna, ada suka dan ada pula duka.
Perhatikanlah! Kegembiraan kaum muslimin pada hari ini, yaitu pada hari Idul Adha, merupakan kegembiraan yang sangat besar. Namun ditengah-tengah kegembiraan tersebut, mereka dikejutkan dengan insiden dahsyat yang mengejutkan dunia.
Sehingga dalam sekejap saja, kegembiraan yang sangat besar tersebut, bermetamorfosis sedih cita yang memilukan!
Dengan demikian, kehidupan dunia itu tidak berjalan mulus dengan satu warna dan kehidupan dunia itu tidaklah langgeng!
و ما مُلئ بيت فَرحة إلا و مُلئ تَرحة، و ما مُلئ حَبرة إلا و ملئ عَبرة
Tidaklah suatu rumah dipenuhi kegembiraan melainkan (suatu saat) akan dipenuhi dengan kesedihan,
(Demikian pula) tidaklah suatu rumah dipenuhi kegembiraan melainkan (suatu saat) akan dipenuhi mata yang berkaca-kaca (karena sedih).
Maka, janganlah seseorang tertipu dengan kesenangan duniawi dan perhiasannya, lantaran kesenangan duniawi tidak murni dan tercampur!
Satu-satunya kenikmatan dan kegembiraan yang murni dan tidak tercampur dengan kesedihan dan galau gulana sedikitpun yaitu kebahagiaan masuk Surga dan keberuntungan mendapatkan ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Sikap berhati-hati, tidaklah bermanfa’at untuk menolak taqdir!
Hadits hasan yang dikeluarkan oleh Al-Hakim dan selainnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا يُغْني حَذَرٌ مِنْ قَدَر
“Sikap berhati-hati, tidaklah bermanfa’at untuk menghindari (menolak) taqdir”
Jasa KSA sangat besar!
Betapa banyak usaha-usaha besar yang sudah dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi (KSA) dan fasilitas-fasilitas yang sudah disediakan oleh KSA -baik sebelum, di tengah-tengah maupun setelah pelaksanaan ibadah haji- untuk melayani para jama’ah haji dari seluruh dunia dan untuk menjaga keselamatan serta keamanan mereka.
Wallahi, ini yaitu jasa-jasa yang besar KSA dalam penyelenggaraan haji, yang wajib kita syukuri.
Namun, taqdir tetaplah taqdir, tidak sanggup ditolak!
Walaupun usaha-usaha untuk melayani para jama’ah haji dari seluruh dunia dan untuk menjaga keselamatan serta keamanan mereka sudah demikian besarnya, namun sebagaimana sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas,
لا يُغْني حَذَرٌ مِنْ قَدَر
Sikap berhati-hati, tidaklah bermanfa’at untuk menghindari (menolak) taqdir.
Usaha insan apapun tidak akan berpengaruh, jikalau Allah tidak menghendaki perjuangan tersebut berpengaruh. Dan kadangkala Allah tidak menghendaki suatu perjuangan berpengaruh, lantaran adanya pesan yang tersirat Allah yang besar dibalik itu semua.
Sikap yang benar terhadap taqdir dan usaha
Sikap yang benar sebagai hamba Allah yaitu :
  1. Meyakini bahwa taqdir tetaplah taqdir, tidak sanggup ditolak.
  2. Namun, bukan berarti pasrah, tidak melaksanakan perjuangan dan tidak mengambil alasannya sama sekali! Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
    “Bersemangatlah untuk mendapatkan kasus yang bermanfaat bagi Anda. Mohonlah pada Allah, jangan Anda lemah” (HR. Muslim) .
  3. Akan tetapi, jikalau telah terjadi ketetapan Allah (taqdir) yang bertentangan dengan perjuangan manusia, maka tidaklah diingkari perjuangan yang selama ini sudah diambil dengan baik, tidak dilupakan, tidak dicela ataupun tidak diremehkannya.
Karena, tidak ada jaminan semua perjuangan yang dilakukan oleh manusia, niscaya berhasil sesuai dengan keinginannya.
Dan kiprah insan yaitu hanyalah berusaha dan bukan memutuskan hasilnya.
Sekali lagi, terkadang, Allah Ta’ala menghendaki sebagian perjuangan insan gagal kuat sesuai dengan harapan, walaupun perjuangan tersebut sudah demikian baiknya.
Sebagaimana Allah Ta’ala mentaqdirkan petaka besar terjadi dalam bencana di Mina tersebut, padahal usaha-usaha yang sudah dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi (KSA) selama ini demikian bagusnya.
Maka kewajiban kita semua yaitu bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla.
Hendaklah kita tetap mengingat keutamaan dan kebaikan pihak yang telah berjasa besar kepada kita dan menjauhkan diri kita dari melontarkan ucapan dusta, tuduhan yang tidak berdasar, apalagi ditambah melupakan jasa-jasa baik yang sudah diperbuat selama ini.
Dengan prinsip demikian, seseorang gampang bersyukur kepada Allah kemudian menghargai perjuangan pihak yang selama ini telah berjasa dan berterimakasih kepadanya serta tidak gampang melupakan jasa tersebut.
4. Kaum muslimin ibarat satu badan dan ibarat sebuah bangunan.
Dua pelajaran besar ini, selayaknya kita hadirkan dalam hati kita, ketika menghadapi insiden ini.
Berikut ini dua pelajaran tersebut:
Ibarat satu tubuh, seorang muslim ikut senang tatkala saudaranya senang dan ikut sedih tatkala saudaranya sedih.
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Perumpamaan kaum mukminin dalam hal cinta, kasih sayang dan bahu-membahu mereka, mirip satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya merasa sakit, maka seluruh anggota badan yang lainnya ikut mencicipi sakit juga, dengan tidak sanggup tidur dan demam”. (HR Al-Bukhari, Muslim dan Ahmad, lafazh ini yaitu lafazh Muslim).
Kebahagiaan seorang muslim yaitu kebahagiaan bagi kaum muslimin yang lainnya.
Kesedihan mereka yaitu kesedihan bagi kaum muslimin yang lainnya.
Oleh lantaran itu, bencana yang menimpa sebagian jama’ah haji ini, sesungguhnya petaka yang dirasakan pula oleh kaum muslimin secara keseluruhan.
Ibarat sebuah bangunan, seorang muslim saling sesungguhnya dengan saudaranya dalam kebaikan.
Faedah di atas, didapatkan dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ
Orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling mengokohkan.” Kemudian ia menjalin jari-jemarinya (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Terkait dengan insiden ini, mirip apa yang dilakukan oleh beberapa saudara-saudara kita yang berbaik hati dengan mengunjungi beberapa rumah sakit, daerah korban dirawat.
Mereka tidak pergi kesana, melainkan untuk menjenguk para korban, menghibur mereka dan membantu mereka.
Kalau untuk urusan mendo’akan, jangan ditanyakan! Karena setiap muslim yang baik tentunya semangat mendo’akan saudara-saudaranya yang tertimpa petaka besar mirip ini, dalam shalat-shalatnya, mengkhususkan do’a kepada Allah untuk mereka.
Bagi korban yang meninggal dunia, kita do’akan semoga mendapatkan rahmat dan ampunan Allah sehingga terbebas dari api Neraka.
Bagi korban yang sakit, kita do’akan semoga segera sembuh, sehingga sanggup beribadah kepada Allah dan beraktifitas yang bermanfa’at mirip semula.
Hal ini mengatakan bahwa ikatan hati mereka, satu sama lainnya, yaitu ikatan dogma dan tauhid, ikatan Laa ilaaha illallaah! Bukan ikatan fanatis kesukuan, sebangsa dan setanah air!
Allah Ta’ala berfirman,
{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ}
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara”. (QS.Al-Hujuraat: 10).
5. Janganlah jadikan dunia sebagai sebesar-besar tujuan (perhatian) dan puncak ilmu Anda.
Diantara do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا
“Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai sebesar-besar tujuan (perhatian) dan puncak ilmu kami” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).
Dalam do’a di atas terdapat dorongan bagi kita supaya :
  1. Memohon kepada Allah semoga tidak menimbulkan pencarian harta dan kedudukan sebagai sebesar-besar tujuan, perhatian ataupun sebesar-besar kesedihan kita. Akan tetapi, justru kita memohon kepada Allah semoga menimbulkan amal Akherat dan pahalanya sebagai sebesar-besar tujuan yang kita cari dan sebesar-besar perhatian kita, ataupun menjadi sebesar-besar kesedihan kita, jikalau amal tersebut terluput dari dari kita!
  2. Memohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita sebagai orang yang hanya mengetahui dan hanya memikirkan kasus dunia saja.
Akan tetapi, justru kita memohon kepada Allah semoga menimbulkan kita sebagai hamba-Nya yang suka memikirkan perkara-perkara Akherat dan mengetahui ilmu-ilmu perihal Allah, hari Akhir dan ilmu perihal Syari’at-Nya.
Jika prinsip hidup kita mirip itu, maka ketika kita sewaktu-waktu meninggal dunia, di ketika sedang beraktifitas dalam keseharian kita, maka in sya Allah, kita akan mendapatkan husnul khatimah, lantaran kita telah berusaha senantiasa ingat Allah Ta’ala, dengan menimbulkan Dia Ta’ala sebagai sebesar-besar perhatian, tujuan dan ilmu kita!
Perhatikanlah, bagaimana saudara-saudara kita, para jama’ah haji yang menjadi korban bencana ini, mereka mempunyai banyak rencana, aktifitas, pikiran dan perhatian. Namun, belum sempat mereka menuntaskan semua planning dan aktifitas tersebut, tiba-tiba final hidup menjemput mereka. Semoga Allah mendapatkan mereka dan memasukkan mereka kedalam Surga-Nya.
6. Semoga Allah mendapatkan mereka sebagai syuhada`
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘laihi wa sallam bersabda :
الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Orang-orang yang meninggal syahid itu ada lima macam: (1) Orang yang meninggal lantaran sakit tha’un, (2) orang yang meninggal lantaran sakit perut, (3) orang yang meninggal lantaran tenggelam, (4) orang yang meninggal lantaran tertimpa reruntuhan, dan (5) orang yang meninggal ketika berjihad di jalan Allah” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah memandang bahwa kematian saudara-saudara kita para jama’ah haji yang meninggal dunia dalam insiden tersebut,termasuk dalam kategori mati syahid dari beberapa sisi kesyahidan, yaitu:
  1. Mereka sedang menunaikan haji. Sedangkan ibadah haji dalam sebuah hadits termasuk kedalam fi sabiilillah. Berarti mereka termasuk kedalam makna sabda Rasulullah shallallahu ‘laihi wa sallam di atas :
    الشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
    Orang yang meninggal ketika berjihad di jalan Allah”.
  2. Mereka termasuk kedalam makna sabda Rasulullah shallallahu ‘laihi wa sallam di atas :
    صَاحِبُ الْهَدْمِ
    Orang yang meninggal lantaran tertimpa reruntuhan” 2
  3. Mereka termasuk kedalam makna sabda Rasulullah shallallahu ‘laihi wa sallam di atas :
    الْمَبْطُونُ
    “Orang yang meninggal lantaran sakit perut” 3

Penutup

Renungan ibrah dan pesan yang tersirat dalam insiden ini, jangan hanya sebatas untuk wawasan saja. Dan janganlah menimbulkan insiden ini sebagai materi dialog semata dan asal shareberita saja! Namun yang diperlukan yaitu kita sanggup mempunyai perilaku batin, verbal dan anggota badan yg benar dan bermanfa’at dalam menghadapi insiden ini.
Penyusun tutup goresan pena ini dengan nasehat yang indah dari Syaikh Ali Hasan hafizhahullah, beliau berucap: 
Upaya besar yang telah dilakukan Kerajaan Saudi Arabia dalam mensukseskan penyelenggaraan haji dan menjaga keselamatan jamaah haji, merupakan upaya positif yang tidak sanggup dipungkiri meskipun oleh orang-orang yang kerjaannya suka mengingkari !
Mega pengaturan jalan-jalan menuju Jamarat yang mengagumkan, baik saluran maupun jalan keluar, merupakan suatu hal yang diakui oleh siapa saja yang adil dalam menilai.
Meskipun demikian, ketetapan dan takdir Allah Ta’ala, tidak sanggup ditolak meskipun oleh pihak yang paling semangat (berupaya) dan pihak yang telah mengerahkan segenap daya upaya!
Dan tidaklah kita berucap kecuali ucapan yang diridhoi oleh Rabb kita. Tragedi Mina -pada hari ini, yang terjadi lantaran berdesakannya jamaah haji dan mengakibatkan korban meninggal serta ratusan yang terluka – tidaklah kita mengucapkan melainkan ucapan: Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah, dan Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi Raaji’uun
***
____
Catatan kaki
  1. Silahkan, versi lenkapnya sanggup di download di http://al-badr.net/detail/zCrc69YNB0gF Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu  Mutiara Hikmah Dari Insiden Di Mina
  2. Barangkali maksud ia yaitu terinjak-injak itu menyerupai tertimpa reruntuhan. Wallahu a’lam Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu  Mutiara Hikmah Dari Insiden Di Mina
  3. Barangkali maksud ia yaitu rasa sakit di pecahan perut ketika terinjak-injak. Wallahu a’lam Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu  Mutiara Hikmah Dari Insiden Di Mina

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id