Monday, 2 March 2020

Ibnu Bajjah (Cendikiawan Andalusia)



Keberhasilan Thariq bi Ziyad Bersama  pasukannya menaklukkan Andalusia(Sekarang Spanyol) pada bulan Mei tahun 771 M/92 H, merupakan cikal bakal bagi umat Islam untuk menyebarkan  dan mengembangkan kebudayaan Islam serta mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di sana.

Dalam masa lebih kurang delapan masa lamanya, kaum muslimin sanggup menguasai beberapa kota penting di Andalusia seperti, Toledo, Saragossa, Cordoba, Valencia, Malaga, Sevilla, Granada dan beberapa kota penting lainnya. Mereka membawa panji-panji ke Islaman, baik dari segi ilmu agama, pengetahuan, budaya maupun arsitek bangunan.

Ternyata kemajuan dalam aspek-aspek ke-Islaman ini begitu pesat, maka tak heran jikalau pada dikala itu Andalusia menjadi sentra kebudayaan Islam dan ilmu pengetahuan yang sangat hebat sesudah Konstantinopel dan Baghdad, hingga banyak bangsa-bangsa Eropa lainnya yang mulai berdatangan kesana untuk mempelajari aneka macam ilmu pengetahuan.

Di negeri inilah yang kemudian lahir para cendekiawan-cendekiawan muslim ternama, di mana karya-karya monumentalnya mencakup aneka macam bidang keilmuan, ibarat ilmu Matematika, Metafisika, Kedokteran, Sain, Filsafat, Sastra, Astronomi, Politik dan sebagainya.

Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya al-Saigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah merupakan salah satu di antara para para brilyan tersebut. Ia dilahirkan di Saragossa tepatnya pada tahun 1089 M. Ibnu Bajjah ialah seorang sastrawan dan mahir bahasa yang unggul, karenanya ia pernah menjadi penyair bagi golongan al-Murabbithin yang dipimpin oleh Abu Bakar Ibrahim Ibn Tafalwit. Selain itu, ia juga piawai dalam bermain music gambus. Ia juga penghafal Al-Qur’an.

Keahliannya tidak hanya terlihat dalam bidang sastra, namun juga di bidang perobatan hingga ia menjadi seorang dokter yang populer di Andalusia. Di samping itu juga, Ibnu Bajjah merupakan pakar politik dan menjadi mentri pada masa pemerintahan Abu Bakr Ibrahim di Saragossa. Keunggulannya juga terlihat dari penguasaannya terhadap ilmu Matematika, Fisika, Ilmu Falak dan juga Filsafat.

Kemampuannya dalam Filsafat setara denga al Farabi dan Aristoteles. Setengah pandangan Filsafatnya banyak digunakan oleh para ilmuwan sekarang, ibarat ungkapan “Manusia sebagai makhluk social dan juga konsep masyaarakat madani.”

Ibnu Bajjah mengemukakan bahwa insan bisa mendekati Tuhan melalui amalan berfikir dan tidak mesti melalui tasawwuf ibarat yang dikemukakan oleh imam al-Ghazali. Karena dengan ilmu dan amalan berfikir, insan sanggup mengarahkan keutamaan dan perbuatan moral, serta sanggup menguasai jiwanya sendiri. Sehingga sifat hewaniah yang bersarang pada diri insan sanggup ditumpaskan.

Banyak di antara pandangan filsafah Ibn Bajjah yang dipengaruhi oleh pandangan-pandangan al Farabi, dan itu bisa dilihat dalam karyanya “Risalah al-Wida” dan Kitab “Tadbir al-Muttawwadid”. Sekalipun ada sebagian pemikiran yang menyampaikan bahwa kitab itu sama dengan kitab “al Madinah al Fadhilah” yang dikarang oleh al Farabi.

Kesamaan persepsi antara Ibn Bajjah dan al Farabi yang sangat kelihatan ialah keduanya menggunakan ilmu untuk mengatasi segala-galanya, sehingga mereka beropini bahwa logika dan  wahyu ialah suatu hakikat yang padu, dan jikalau dipisahkan akan menjadikan masyarakat dan Negara yang pincang. Ibn Bajjah beropini bahwa logika bisa mengakibatkan insan mengenali apa saja kewujudan benda atau dewa tanpa harus dipengaruhi oleh unsur-unsur kerohanian melalui amalan tasawwuf.

Sekalipun ia menguasai aneka macam keahlian, namun perhatiannya sangat tertumpu pada perkara yang berkaitan denga ke-Tuhan-an dan Metafisika dan ia memahami metafisika ini dengan perantaraa ilmu lain. Misalnya ilmu sains dan fisika yang ia gunakan untuk menguraikan dilema benda dan rupa. Menurutnya, benda tidak akan terwujud tanpa rupa, tapi rupa bisa terwujud tanpa benda. Karenanya kita bisa saja menggambarkan sesuatu dalam bentuk dan rupa berbeda-beda.

Karangannya yang populer ialah “an Nafs (jiwa)”, di dalamnya dikupas perihal permasalahan yang berkaitan dengan keadaan jiwa dan pembahasannya banyak tergoda oleh gagasan pemikiran filsafat Yunani, ibarat Aristoteles, Galenos, al Farabi dan Al Razi.

Pada dasarnya, masih banyak lagi pandangan filsafat Ibn Bajjah dan juga karya tulisnya. Namun alasannya ialah sebagian besarnya telah dimusnahkan, jadi yang hingga kepada kita kini ini hanya sebagian kecil dari karangannya yang masih tersisa dan tersimpan di beberapa perpustakaan di Eropa. Sekalipun banyak hasil karyanya dimusnahkan , namun fatwa dan pemikirannya banyak mempengaruhi para ilmuwan berikutnya di tanah Andalusia.

Ibn Bajjah merupakan seorang cendikiawan muslim yang tersohor. Dengan ketinggian ilmunya ia telah meletakkan dasar yang kokoh bagi perkembangan ilmu dan fisafat di bumi Andalusia, namun ternyata kehebatannya telah mengundang kecemburuan dan kedengkian beberapa pihak, hingga hasilnya ia diracuni dan meninggal dunia pada tahun 1138 M dalam usia 56 tahun. Semoga semua jerih payahnya dan sumbangsih karya-karyanya untuk Islam menjadi amal jariyah dan mendapat jawaban yang setimpal dari Allah Swt. Di simpulan kelak. Amin.

Penulis
Zaitun Muzana A.R
Tulisan ini telah terbit di bulletin el Asyir edisi 82


Saturday, 29 February 2020

Cinta Kasih Ibu

Oleh: Thibyan*

Indahnya ketika kita memberi tanpa menuntut balas, give and forget. Menerima mungkin, tapi tanpa mengharapnya kembali. Karena semua ia lakukan hanya untuk menerima keridhaan sang Khalid. Sesekali butiran bening itu meratapi semua tingkahnya selama puluhan  tahun yang silam. Bahkan  ia berani  Pergi meninggalkan keluarga tanpa kabar walaupun hanya sepucuk surat. Dengan berargumen bahwa  ibunya telah membuatnya malu, membuatnya hina dengan apa yang ia punya.  Tapi Kini, sempurna di final penyesalan itu tiba. Mengeluh dan menangis murung akan kepergiannya. Mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi, Seperti dahulu lagi.

*****
Ayahnya telah meninggal pada tsunami, kini ia hanya tinggal dengan ibu. Yach, seorang ibu yang ia kenal sebagai tunanetra sedari insiden itu. Tak jarang terdengar  hinaan dan caci maki  dari sebagian belum dewasa sekolah AL-TAFIA ketika bu Faridah menjajakan lontong . tapi, semua itu ia lalui kolam angin  tak bertiup.

Seperti biasanya, bu faridah mengayuh sepeda bututnya sembari menjajakan lontong.
Tepat di pekarangan sekolah.
“ eh, sibuta tiba “ kata Retno, anak kelas 111A.
“ iya, yuk kita kerjain “ tambah Doni.
“ yuk “ sahut Dedi yang nggak kalah jailnya ngerjain orang tua.
“ hahahaha,,, si buta datang, si buta tiba “ mereka sahut menyahut mengatai bu faridah.

Mereka pun tidak hanya  menghina, tapi mereka juga melukainya. Ditahanlah jalan laju sepeda miliknya dengan rantai, sempurna ditengah-tengah jalan. Sehingga ia terjatuh ditanah. Betapa malang nasib si ibu.

Dari jauh sana, Faiz melihat ibunya yang diperlakukan menyerupai itu. Mata hatinya melihat sedih, tapi ia mengabaikannya. Mengabaikan ibunda  alasannya aib kepada kawannya.  berat hati ia meninggalkannya sendiri. Tapi, itulah realita .Tak usang sesudah itu bu  faridah mencoba bangun, dan melanjutkan kembali langkahnya menuju kantin sekolah. 

******

“  Assalamualaikum pak “ salam faiz kepada wali kelas, pak Azman.
“ waalaikum salam , masuk faiz “  sahut pak Azman.
“ pak, saya minta surat pernyataan wali murid ihwal hal beasiswa yang bapak bicarakan final pekan kemudian ”
“ surat itu harus diambil oleh orang bau tanah kau “ jawab pak Azman memberi pengertian
“  pak, tapi… “  seketika suaranya  terhenti.  
“  iya, bapak mengerti Faiz. Tapi,  kamu masih punya orang bau tanah . Lain halnya bila kau hanya tinggal sendiri.  ( dia menghela napas panjang ) Saya izinkan kau untuk terakhir ini saja “ kata pak Azman dan mengambil surat yang dimaksudkkan Faiz.
“ iya pak, terima kasih “ sahut Faiz sembari menjabat tangan wali  kelas.

Sepulang sekolah, Faiz membuka lembaran yang berisikan kesediaan  wali murid. Dalam membisu ia menandatangani semua persetujuan  mengenainya .
“ anak ibu sudah makan “ tanya bu faridah dari ruang tengah.
“ iya bu, saya sudah kenyang “ sahutnya mengharap ibu  tidak membawakan makanan pada  ketika itu.
“ eum, ya sudah. Nanti kalau kepingin makan ada  mie goreng  kesukaan kamu  lho,  dimakan ya ! “ godanya.   
“ iya bu, sebentar lagi faiz makan “ jawabnya seraya fokus kembali kepada surat itu.

Keesokan harinya  Faiz mengembalikan surat itu kepada pak Azman
“ pak , ini suratnya “ kata faiz.
“ iya “ jawabnya serta  mengambil surat dari tangan Faiz.
“ Faiz “ panggil pak Azman.
“ iya pak “ sahut Faiz sambil menoleh kearahnya.
“  Faiz, Tolong  perhatikan ibumu, Jaga dia baik-baik. Jangan biarkan ia terluka . alasannya ridhanya Allah ada pada keridhaan orang tua. Dan kebencian Allah ada pada kebencian mereka ”  begitulah notice pak Azman seakan tahu apa yang dia perbuat selama ini.
“ baik pak “ jawab faiz . kemudian ia kembali beranjak menuju kelasnya.

*********
  
Tepat di sepertiga malam perempuan bau tanah itu berdiri dari tidurnya, memohon kehadirat sang ilahi rabbi. Mengeluh dan mengadu semua keluh dan kesah yang ia alami. Serta mencurahkan semua  syukur atas dirinya dan Faiz.

“ ya Allah puji dan syukurku kepadamu, shalawat dan salamku untuk panglima padang pasir, tak kenal lelah dan ancaman dalam memberikan risalahMu. Tuhan yang maha esa, ampunilah dosa-dosa yang pernah saya lakukan dan ampuni juga dosa-dosa yang dilakukan anakku (Faiz)  baik yang kami sengaja maupun yang tidak. Sesungguhnya engkau maha luas ampunannya. Ya  Allah, syukurku atas nikmat sehat, islam, dan keyakinan yang engkau berikan.  Ya Rabbi, engkau yang mengetahui  semua isi hati kami. Jadikanlah faiz anak yang mempunyai kegunaan bagi nusa dan bangsa. Lindungi langkahnya , bahagiakanlah ia didunia dan diakhirat “ amin ya rabbal alamin.
Wanita bau tanah itu mengalihkan pandangannya kepada Faiz yang sedang tertidur pulas di kamar sebelah. Hatinya senang, senang memikilinya. Walaupun ketika ia menjajakan makanan disekolah ia tidak sering bersua apalagi duduk makan bersama. Sungguh nrimo perempuan ini, mengais rezeki  demi anaknya. Terkadang rindu membuncah, ingin melihat wajah dan keaktifan Faiz di sekolah.  Seketika itu pula Ia tersenyum  sambil membayangkan tingkah anak tunggalnya.

Dikecupnya kening Faiz . “semoga Allah memberkahi dan melindungi tindak dan langkahmu wahai anakku “ batin bu Faridah. Itulah cinta, terkadang ada benarnya ketika orang menyampaikan “ cinta itu buta “ kenapa ? karena  bila cinta itu telah tersemai dalam lubuk hati seseorang. Pada ketika itulah yang dicintai akan dirawat, dijaga, hingga final hayatnya.

*******

lima  tahun usai kepergian Faiz. Tanpa kabar dan surat kepada bu Fariqah. Terkadang ia berpikir bahwa anaknya sangat sibuk, ia tidak sempat pulang ke kampung pada hari-hari kerja. Iapun mengharapkan supaya sanggup berkumpul dengannya di momen lebaran, alasannya waktu itu tanggal merah, kebanyakan perantau pulang ke kampung halamannya masing-masing. Tapi penantian itu sia-sia .

ketika Taufik tiba mengunjunginya di Maheng ( nama kawasan terpencil, Aceh ) ia senantiasa menayakan keadaan dan keberadaan Faiz.

“  bagaimana kabar Faiz , nak ?” tanya bu Faridah ingin tahu.
“ tidak ada kabar buk “ jawab Taufik dengan bunyi lemah.
“  nanti kalau ada kabar ihwal nak Faiz, tolong beritahu ibu ya “ pintanya kepada Taufik.
“ iya buk, insyaAllah “ sahutnya.
“ bagaimana dia pergi tidak beritahu kabar untukmu, Dah “ tanya Khadijah, ibu Taufik
“ dia sibuk Jah, lebaran tahun ini ia akan pulang, saya yakin “ balas bu Faridah.
“ nanti kita tunggu, dia pulang nggak “   sahut bu Khadijah kesal dengan tindakan Faiz.

Pagi menjelang siang , bu faridah singgah  ke warung akrab rumahnya.  Seperti hari-hari awal bulannya ia membeli keperluan sehari-hari mulai dari sabun , beras, dan lainnya yang menjadi kebutuhan. Tiba-tiba matanya tak sengaja tertuju kepada majalah yang tergantung di depan sana, sempurna di sudut kanan. “ khairul Faiz “ batinnya. Dilihatnya lagi gambar sampul majalah itu. “ ini putraku” batinnya.

Bu faridah mempercepat langkah kakinya menemui  Taufik di kebun. Merekapun  bercakap ihwal keberadaan Faiz.

“ kini Faiz jadi orang sukses mak “ kata Taufik sambil melihat profilnya.
Bu faridah menggangguk paham. Air matanya berderai berai, terharu melihat anaknya yang berhasil meraih cita. Kembali ia bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah, sang raja dunia.

*******

Untuk kesekian kali hati ini merindu akan kehadirannya, air bening mulai menguak disudut mata.  “ akankah dia rindu menyerupai diriku merindunya “ batin bu Faridah. Akhirnya ia berjalan mencari jejak Faiz, sang buah hati. Ditengah pencariannya ia berdoa supaya dipertemukan dengan anaknya.

Ia berhenti di depan sebuah gerbang. Tampaklah rumah ini sangat besar. Ditambah dengan aksesoris taman yang memukau. Di sampingnya ada kolam renang yang mungil kecil, tempat bermain anak-anak. Persis menyerupai yang digambarkan dalam majalah yang pernah dibacanya ihwal profil Faiz .  

“ han, hantu. Hantu “ tangis Riva  ketika melihat mata  bu Faridah.
“ bukan, ini nenek “ balasnya.
“ hantuuuuuuuuu “ teriak anak kecil itu sambil menangis nyaring.
Rani segera berlari ke arah depan pekarangan rumah, tempat anaknya bermain.
“ bukan, itu bukan hantu nak “ kata Rani seraya menenangkan anaknya.
“ ada apa Ran “ tanya  Faiz dari pintu sambil melanjutkan langkah.
“ ini, Riva takut lihat dia “ kata Rani seraya menoleh ke arah bu Faridah.
Seketika mata Faiz dan bu Faridah saling bertemu, “ Ibu” batin Faiz. “ Faiz “ anakku
“ kau mengenali ibu itu ? “ tanya Rani seolah ia sanggup membaca pikiran suaminya.
“ tidak, yuk kita masuk kedalam “ sahutnya menepis kebenaran yang ada.
Merekapun memasuki rumah megah itu. Dengan kesedihan yang melanda ia pulang. “ternyata Faiz tidak mengenaliku lagi “ batin seorang ibu.

******

Dua bulan berikutnya, ada insiden asing yang dialami Faiz. Hatinya tidak tenang. Kehidupannya  tidak secerah dahulu. Perusahaannya bangkrut, tenaga kerja berkurang, ditambah mertua yang acapkali marah-marah kepadanya. Apa bahu-membahu yang terjadi?
Pikiran Faiz menerawang membayangi bu Faridah, perempuan buta yang dihina dan dicaci kawan-kawannya dulu, perempuan yang selalu tersenyum di kala yang lain cemberut, perempuan yang sangat tengar menghadapi masalah. “ ibu”  parau suara  Faiz menyebut namanya.

Sejam mendatang, tiba Faiz di rumah ibunya.
“ ibu. Ibu  “ panggil Faiz. Panggilan itu tidak menerima sahutan. Kembali ia menutup pintu serta menuruni anak tangga rumah.
“  Faiz “ panggilan itu membuatnya menoleh ke arah kanan.
“ taufik “ balasnya. Tersenyum Taufik melihat sahabatnya yang sukses itu.
“ kenapa kini  kamu pulang Iz “ tanya Taufik.
“ apa alasannya kau sudah bangkrut, atau kau minta didoakan ibu, kini sudah terlambat Iz. kau sukses dan kaya , itu berkat doanya. Sekarang.. “ seketika Taufik menahan pedih di hati.
“ Sekarang kau tidak ada yang doain lagi “ tambahnya.   
“  sudahlah Faiz, ini ada titipan untukmu dari ibu” kata Taufik sambil mengambil selembar kertas kusam dari sakunya.
“ dahulu, ketika kau tidak pulang. Ibumu selalu menayakan kabar. Dia juga banyak bercerita tentangmu. Kamu menjamunya  dua bulan yang lalu. Istri dan mertuamu juga sangat ramah kepadanya, begitu katanya “  Taufik mengulang kembali dongeng bu Faridah.
“ saya pamit dulu “ kata Taufik sambil beranjak pergi.

 Assalamualaikum Faiz, anak ibu
Bagaimana kabarmu nak ? semoga dirimu selalu dalam lindungan Allah. Disini ibu selalu mendoakanmu semoga rahmat dan hidayahNya selalu tercurahkan untukmu. Mungkin Faiz aib mengakui ibu sebagai ibunya Faiz. Maafkan ibu ya nak ? ini bukan kehendak ibu tapi, inilah ibu, insan biasa yang penuh keterbatasan.

Tepat tanggal 26 desember 2004, tsunami melanda Aceh.kita sekeluarga dibawa arus. Hanya saja kita masih diberi napas untuk hidup. Berbeda dengan ayah yang  telah pergi bersama ombak topan tsunami. Pada ketika itu matamu dioperasi alasannya terkena racun. Semenjak itu ibu relakan sebelah dari mata ibu untuk Faiz. Inilah yang ingin ibu sampaikan kepada Faiz suatu hari nanti, kini sempurna sudah waktunya.
Wassalamualaikum anakku

Begitulah dongeng Faiz.  Penyesalan ruh pada  hari-hari kelam. Menangis pilu mengharap ia akan kembali. Semoga dengan dongeng singkat ini kita sanggup mengambil Ibrah . bagaimanapun, apapun mereka yakni orang bau tanah kita. So, jagalah perasaannya. Jangan  buat mereka menagis murung dengan tingkah laris kita. Bahagikan orang bau tanah dengan cinta dan kasih.


*Penulis yakni kru el-Asyi

Friday, 28 February 2020

Di Pangkuan Bidadari (Bagian 1)

Oleh; Tarian Langit
[buletin el-Asyi Edisi 112]



"Razzak,  kuburlah jasadku bersama panglima Allah di negeri ini. Aku mohon kepadamu sampaikan surat ini kepada calon istriku Aya Khumaisa. Nikahilah dia, alasannya engkaulah yang pantas menjadi pendamping  hidupnya. Aku akan menanti kalian berbahagia di dunia ini, dan biarkan Aku senang bersama para mujahid Allah di alam sana".

***
Pagi itu Aku sangat bahagia, rasa syukur atas nikmat Allah terus ku ucapkan dalam benak hatiku, alasannya Aku merasa Allah begitu sayang kepadaku.  Bagaimana tidak, Aku termasuk seorang dari beberapa calon mahasiswa yang akan mendapat beasiswa kuliah di negeri jiran Malaysia.

Seperti cita-citaku semenjak kecil, Aku akan mantapkan niat untuk berguru di Universitas Malaysia, jurusan kedokteran.
Jika Aku sanggup memutar  kembali skenario Allah ke belakang, maka ayahku niscaya sangat besar hati dengan prestasi yang telah Aku dapatkan kini ini.
''Ah...mengapa harus berandai-andai, bukankan berandai-andai itu perkataan setan.'' Aku jadi teringat betapa besarnya tugas seorang ayah dalam kesuksesanku ketika ini.

Ketika Aku masih duduk di dingklik SD, Aku sangat sering mendengar ayah memperlihatkan nasehat dan semangat untukku. Ayah sering bertanya kepadaku.
"Asyraf jikalau besar nanti mau jadi apa?". Tanya ayah.
"Asyraf mau jadi dokter yah". Jawabku polos.
''Kalau mau jadi dokter, Asyraf dilarang bermalas-malasan, alasannya seorang dokter itu hanya untuk mereka yang berguru dengan ulet bukan dengan malas-malasan". Ucapan manja seorang ayah kepada anaknya.
"Ia yah, Asyraf akan berguru dengan rajin biar Asyraf sanggup jadi dokter, dan sanggup obati ibu dan ayah Asyraf". Jawabanku ketika itu.

Tapi sayangnya, hanya tiga tahun ayah sanggup membangun motivasi dan semangat belajarku. Ketika saya berumur sembilan tahun dia meninggal. Masyarakat sangat terpukul dengan meninggalnya ayahku, mengingat dia satu-satunya teungku di pemukiman kami, dia juga sangat besar lengan berkuasa dalam masyarakat.

"Ya Allah ampunilah dosa hamba dan dosa kedua orang renta hamba, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku semenjak kecil hingga berakal balig cukup akal ". Doaku dalam kalbu.

"Woooi... kok bengong,  orang-orang pada senang tu. Ente malah melamun di sini, mikirin apa sih?'' Razzak membuyarkan semua kenangan-kenangan indahku bersama sang ayah. Aku hanya membalas dengan sebuah senyuman.

"Jadi ente serius mau ambil jurusan kedokteran?", tanya Razzak dengan nada lebih serius.
"Ya dong." Balasku simpel.

"Jawabnya kasih alasan dulu kek, biar yang nanya puas." Timbalnya lagi kesal.

"Yaaaah ente..alasannya masih sama kayak dulu di SMA, mau jadi penolong insan dengan mengobati siapa saja tanpa kupungut biaya, terutama orang fakir dan miskin." Balasku.

"Ente yakin?" Tanyanya lagi.

"Ya donk.. Ane yakin. Ane akan berguru untuk menolong ummat."
Seperti firman Allah dalam surat Yasin.

“Wah.. Syukurlah.. Makasi atas ilmu Ust. Asyraf hari ini." Lengkurnya.
"Kita sama-sama berguru Sob." Balasku.

***
 Selesai shalat subuh Aku eksklusif siap-siap untuk berangkat ke Malaysia. Semua proses pemberangkatan ditanggung oleh Badan Beasiswa bagi siswa berprestasi dari negeri jiran.

Kulirik jam tanganku 06:20 wib. Dua koper baju dan barang keperluan yang lain sudah ibuku siapkan semenjak semalam, kini tinggal berpamitan dengan sanak saudara.

Pagi itu rumahku dipenuhi seluruh keluarga besar, sesudah semuanya lengkap Aku menyalami dan meminta kepada mereka untuk mendoakanku.
Semua senyuman yang menghampiriku bangaikan suntikan semangat yang menggebu-gebu. Senyuman itu penuh dengan harapan sebuah kesuksesan untukku.

Target jam Sembilan harus hingga ke bandara, jadi kami berangkat dari rumah sekitar jam tujuh pagi. Dikarenakan letak rumah yang begitu jauh dari bandara Sultan Iskandar Muda (SIM).

"Yuukk...brangkat! Gak ada barang yang tertinggal kan ..?" Tanya pak sopir labi-labi.

"Yuk, udah siap semua barangnya pak, semua udah masuk ke mobil."  Jawabku.

Mobil mulai berjalan. Kulirik ke belakang, atap rumahku tak terlihat lagi. Jangankan atap rumah, kampung halamanku saja sudah semakin nampak mengecil.

Aku tidak pernah ke daerah  Blang Bintang,  jadi Aku memang sama sekali belum tau di mana letak bandara Sultan Iskandar Muda, namun Aku tau posisi kendaraan beroda empat kini sempurna di pasar Lambaro.

"Ah...mudah-mudahan cepat hingga ke bandara." Ucapku dalam hati.

Rasa ingin tau akan bandara sirna seketika. Ketika saya melihat ada sebuah pintu gerbang besar yang berdiri kokoh bertuliskan "SELAMAT DATANG DI BANDARA SULTAN ISKANDAR MUDA".

"Alhamdulillah alhasil hingga juga di tempat tujuan."
Ternyata hingga di sana teman-teman lain sudah usang menunggu kedatanganku.

"Emm sudah usang nunggu ya?'' Tanyaku memulai pembicaraan.
''Ya ni, hampir berakar nungguin ente," Jawab Zul sambil bercanda.

"Oohh...ya sudah. Ane minta maaf kalo sudah buat kalian usang menunggu. Kalian tau sendiri kan, kampungku jauh banget dengan bandara." Balasku sedikit tersenyum.

"Takkan kami maafkan." Jawab Zul lagi sambil cengengesan ala Kuda Niel.

"Mana ada lama,  Zul aja gres nyampe tu." Timpal Muna yang juga mau berangkat ke Malaysia.

"Tukan ketauan bohong si Zul." Balasku lagi sambil meyenggol bahunya dengan bahuku.

“Teman-teman kita chek-in yuk, katanya jam 11.00 kita akan take-off jadi mulai kini sudah bisa chek-in." Kata Razzak yang merubah suasana menjadi sedikit serius.

Bersambung...


Thursday, 27 February 2020

Di Pangkuan Bidadari (Bagian 2)

Oleh; Tarian Langit
[buletin el-Asyi Edisi 112]
baca dongeng sebelumnya; klik di sini



Benar-benar tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Tanggal satu bulan depan yaitu hari wisuda S2 ku.

Ternyata saya hampir tujuh tahun tinggal di negeri menara kembar. Jika dulu Aku tidak lulus sarjana dengan predikat istimewa, mungkin skenario hidupku tidak akan ibarat ini. Aku tak mungkin sanggup kuliah S2 di Universitas Malaysia dan tak akan selama ini Aku di negeri orang.

Malam itu begitu kelam, di luar apartemen terdengar bunyi Guntur terus mengganggu makhluk di bumi, angin bertiup tidak karuan, suasana begitu mencekam. Rintik-rintk hujan mulai membasahi bumi, sesekali kulirik keluar apartemen untuk memecahkan rasa gundah di hati ini.

Hatiku begitu risau. Aku teringat tanah air, juga calon istriku di Aceh sana. Hari ijab kabul kami semakin dekat. Namun, rasa-rasanya ingin saya menundanya. Karena jadwal ijab kabul kami begitu bersahabat dengan jadwal sidang masterku.

"Ya Allah tenangkanlah hati hambamu." Ucapku.

Tiba-tiba saja Aku ingin menelpon calon istriku di tanah air. Tanpa pikir panjang Aku eksklusif menelpon Aya.

"Halo… salamu'alaimum"

"Walaikumsalam...kok tumben telpon malam-malam begini bang?" Tanya Aya.

"Adek sehat? tak tau ini dek kakak risau kali malam ini.”

"Alhamdulillah adek sehat bang, kakak shalat sunnah gi semoga ilang rasa risaunya, kakak fukus wisuda saja dulu jangan risaukan kami yang di Aceh ya, kami baik-baik saja di sini". Jawabnya.

"Ya sudah jika begitu, adek jaga ibu ya. Insya Allah pertengahan bulan depan kakak pulang ke Aceh".

"Ya bang, ya sudah kakak jaga kesehatan ya. Salamu'alaikum..."

"Walaikumsalam..." Jawabku.

Selesai Aku berbicara dengan Aya, hand phone ku berbunyi lagi. Kulihat layar hp-ku, ternyata dokter senior di rumah sakit Aku bertugas menelpon.

"Salamu'alaikum... apa hal pak, tak biase malam-malam?"

"Walaikumsalam...macam ni dokte Asyraf, esok pagi I am waiting Asyraf di daerah biasa. Kawan Asyraf, Razzak sudah bapak call juga, pasal ape esok kita bicarakan okay."

"Ya pak, Saya tiba esok Insya Allah."

"Sampai jumpa esok hari. Assalamu'alaikum..."

"Walaikumsalam..."

Keesokan harinya, Aku sengaja berangkat ke rumah sakit lebih awal dari pada hari-hari biasanya, ada kiprah yang harus Aku kerjakan sebelum bertemu dengan bapak Direktur rumah sakit di Café KL.

***

Ditemani alunan musik jaz ditambah dengan secangkir kopi hangat. Aku, Razak dan Pak Ismail mulai larut dalam suasana café di  daerah Aku dan Razak menghilangkan penat selepas kerja.

"Macam ni nak Asyraf dan Razak," Pak Ismail memulai pembicaraan.

"Mengingat biadapnya perlakuan israel kepada rakyat Palestina, jadi rumah sakit kita menerima surat dari Lembaga Kemanusiaan Negeri Malaysia untuk mengirimkan relawan dokte bedah sebanyak 8 orang. Tapi Saya hanya ingin mengutuskan lima saje dari dokte kita untuk berangkat ke Palestina, termasuk Asyraf dan Razak." Jelas Pak Ismail.

"Macam mana  Razak dan  Asyraf, awak bedua boleh ikot sekali?" Tanya Pak Ismail lagi.

"Bagi kami waktu pak, esok hari kami buat keputusan, Sebab kite orang tak nak gegabah dalam tetapkan pekare yang pelek ini seorang-seorang", balas Razak.

"Baik-baik, saya faham. Saya tunggu tanggapan awak bedua. Tapi jujur saya katakan, saya sangat berharap kalian bersedia mendapatkan panggilan umat Islam yang tersiksa di Palestina", tutup Pak Ismail.

***

Palestina, 20 September 2010.

Sore ini tak ibarat hari-hari sebelumnya. Setelah sepuluh hari kelam ditemani alunan peluru, rudal dan bom. Tangis, jerit, darah, dan kehilangan orang yang dicinta, sekarang seolah menjadi hal yang biasa.

Teringat ketika pertama kali Aku injakkan kaki di tanah al- Quds ini, suasana aneh sangat mewarnai perasaanku. Semua terlihat gersang dan terasa sulit digambarkan.

Hari-hari Aku lalui dengan banyak sekali tantangan. Setiap harinya Aku harus menangani sepuluh hingga lima belas pasien korban kekejaman zionis. Tak kenal usia, bahkan kebanyakan korban dari kalangan anak-anak.

Pernah suatu malam ketika tubuhku terasa ibarat hilang rasa. Aku sangat ingin memejamkan mata sejenak untuk memulihkan stamina sesudah seharian penuh mengobati para korban.

Tapi, ketika Aku hampir terlelap, "Asyraf, Asyraf…", bunyi Razak membangunkanku.
Dia memintaku untuk membantunya membedah seorang pasien terkena ledakan bom di serpihan kaki kirinya. Sungguh nyawa tak berharga di sini.

Terkadang, ingin rasanya berdiri di depan sana, mengakhiri perang tak berprimanusiaan ini. Lelah rasanya Aku harus melihat mereka yang seharusnya bermain ceria dan berlari untuk menggapai impian tapi harus mencicipi pahitnya kehilangan. Setiap ketika dalam genangan air mata bercampur darah.

Sepertinya Aku, Razak juga dokter-dokter lain dari seluruh dunia sangat diperlukan di sini. Meskipun begitu, Aku berharap semoga semua yang kulakukan ini menjadi jihadku di jalan Allah. Seandainya simpulan hidup menjemputku, semoga matiku dalam keadaan syahid di jalan-Nya.
''Allahumma amin'' doaku dalam hati.

Tiba-tiba sekelebat banyangan dari atas lewat dan jatuh tak jauh dari tempatku berdiri.
"Dhuuuuummmm…", bunyi ledakan membuyarkan lamunanku.

Samar-samar terlihat bayangan ibuku dan Aya tersenyum lebar kepadaku. Senyuman kali ini beda sekali. Kemudian semuanya menjadi putih.

***
''Razzak…'' lirihku.
Samar-samar terlihat seorang ibu duduk di sampingku, ia membaca Al-Quran. Kalau tak salah ibu dari anak yang kami operasi dengan Razzak. Di samping kiri berjejer kantong infus. Seperti mati rasa, Seluruh badanku terbalut perban dan tak sanggup digerakkan.

''Razzak…'' panggilku lagi.
Ibu itu menunjuk ke luar jendela. Sepertinya Razzak sedang sibuk mengobati pasien lain. Pandanganku semakin kabur. Perasaanku pun terasa aneh sekali.
''Qalam…'' kataku.
Ibu itu memandangku tak berkedip. Diambilnya secarik kertas dan pulpen. Dengan sekuat tenaga, kucoret kertas yang diberikan ibu itu.
''Razzak…'' kataku padanya.
Diambilnya kertas pemberianku. Mataku kembali berkunang-kunang, kepala berat, pulpen di tangan terjatuh.

Terlihat beberapa orang masuk ke kamar, mereka kukenal.  Ada ibu, ayah, adikku Leha yang sudah meninggal, nenek dan yang terakhir Aya, Calon bidadariku. Mereka memegang tangan, dan menarikku berdiri membawa pulang kembali ke Aceh.


---Tamat---