Sunday, 8 March 2020

Hukum Perempuan Shalat Berjamaah Dimasjid

Perempuan ke Masjid


Fatwa Syekh DR. Yusuf al-Qaradhawi.

Sebagian kaum muslimah rajin melaksanakan shalat Tarawih di masjid, bahkan ada yang pergi ke masjid tanpa izin suami, ada juga yang bunyi mereka terdengar bercerita di dalam masjid. Apakah aturan shalat mereka? Apakah mereka wajib ke masjid?

Shalat Tarawih tidak wajib, baik bagi pria maupun bagi perempuan. Hukumnya sunnat, kedudukannya tinggi dan pahalanya besar di sisi Allah Swt. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, “Rasulullah Saw memerintahkan mereka dengan tekad yang kuat, kemudian Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang melaksanakan Qiyamullail di bulan Ramadhan lantaran keimanan dan hanya mengharapkan jawaban dari Allah Swt, maka diampuni dosanya yang telah lalu”.

Siapa yang melaksanakan shalat Tarawih dengan khusyu’ dan tenang, penuh keimanan dan hanya mengharapkan jawaban dari Allah Swt, melaksanakan shalat Shubuh pada waktunya, maka sungguh ia telah melaksanakan Qiyamullail di bulan Ramadhan dan ia layak mendapat jawaban pahala orang-orang yang menghidupkan malam-malam Ramadhan.

Ini meliputi pria dan perempuan. Hanya saja shalat perempuan lebih afdhal di rumah daripada di masjid, selama kepergiannya ke masjid itu tidak ada manfaat lain selain shalat saja, jikalau ada manfaat lain menyerupai mendengarkan kajian agama, atau pelajaran ilmu, atau mendengarkan bacaan al-Qur’an dari qari’ yang khusyu’ dan baik, maka kepergiannya ke masjid dengan tujuan-tujuan ini lebih baik dan afdhal. Terlebih lagi kebanyakan suami di zaman ini tidak mengajarkan pendalaman pedoman Islam kepada istri mereka, andai mereka mempunyai kemauan, mereka tidak mempunyai kemampuan di bidang pengetahuan agama Islam. Maka hanya masjidlah sumber utama untuk itu, oleh lantaran itu perempuan mesti diberi kesempatan, tidak boleh dihalangi antara perempuan dan rumah Allah Swt. Apalagi banyak perempuan jikalau dibiarkan menetap di rumah, mereka tidak ada kemauan untuk melaksanakan shalat Tarawih sendirian di rumah, berbeda jikalau berada di masjid dan dilaksanakan secara berjamaah.

Keluarnya perempuan dari rumah –meskipun ke masjid- mesti ada izin dari suami, lantaran suami yaitu kepala rumah tangga, penanggung jawab keluarga. Wajib patuh kepada suami, selama tidak memerintahkan meninggalkan kewajiban atau melaksanakan perbuatan maksiat, jikalau demikian maka tidak wajib mendengarkan perintahnya dan tidak wajib mematuhinya.

Laki-laki tidak berhak melarang istrinya pergi ke masjid jikalau istrinya ingin pergi ke masjid, tidak ada larangan perihal itu. Imam Muslim meriwayatkan:
لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ

Janganlah kau larang perempuan-perempuan hamba-hamba Allah Swt (ke) masjid-masjid rumah-rumah Allah Swt”.

Yang mencegah berdasarkan syariat Islam, contohnya suami dalam keadaan sakit, sangat membutuhkan biar istri tetap berada di rumahnya melayani dan melaksanakan semua kebutuhan suami. Atau ada belum dewasa kecil yang mendatangkan mudharat jikalau ditinggalkan di rumah selama shalat dan tidak ada yang menjaga mereka, dan uzur-uzur lainnya yang masuk akal.

Jika belum dewasa menimbulkan keributan di masjid, mengganggu orang-orang yang shalat lantaran menangis dan berteriak-teriak, maka selayaknya belum dewasa tidak dibawa dikala shalat. Karena hal itu, meskipun dibolehkan pada shalat lima waktu lantaran waktunya singkat, tidak layak dilakukan pada shalat Tarawih lantaran waktunya panjang dan belum dewasa tidak sabar terhadap ibu mereka pada waktu yang usang tersebut.

Adapun perempuan bercerita di dalam masjid, sama menyerupai laki-laki, tidak boleh mengeraskan bunyi kecuali jikalau diharapkan untuk itu. Terlebih lagi cerita-cerita urusan dunia. Masjid didirikan bukan untuk itu, akan tetapi untuk ibadah dan ilmu.

Wanita yang mempunyai semangat untuk menjalankan agama biar menjaga lidahnya di rumah Allah Swt biar tidak mengganggu orang yang melaksanakan shalat atau majlis ilmu. Jika perlu untuk bicara, maka hendaklah dengan bunyi yang pelan dan sesuai kebutuhan. Tidak keluar dari perilaku menjaga harga diri dalam hal bicara, pakaian dan cara berjalan.

Disini saya ingin memberikan kalimat yang santun bahwa sebagian suami terlalu cemburu kepada istri sehingga menekan, tidak mendukung perilaku perempuan pergi ke masjid, meskipun ada dinding yang tinggi yang memisahkan antara pria dan perempuan, yang tidak pernah ada di zaman Rasulullah Saw dan para shahabatnya, dinding yang sanggup menghalangi perempuan mengetahui gerakan imam melainkan dengan bunyi dan pendengaran. Ada sebagian pria yang tidak mau bercerita di masjid, mereka tidak mengizinkan orang lain membisikkan satu kata ke indera pendengaran istrinya, meskipun itu dalam urusan agama. Ini yaitu perilaku yang kurang santun, cemburu yang dicela sebabagaimana yang dinyatakan dalam hadits:
إِنَّ مِنَ الْغَيْرَةِ مَا يُحِبُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْهَا مَا يُبْغِضُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Sesungguhnya sebagian dari cemburu itu ada yang disukai Allah Swt dan ada pula yang dimurkai Allah Swt”, yaitu cemburu yang bukan pada sesuatu yang meragukan.

Kehidupan moderen telah membuka banyak pintu bagi perempuan. Perempuan bisa keluar rumah ke sekolah, kampus, pasar dan lainnya. Akan tetapi tetap tidak boleh untuk pergi ke kawasan yang paling baik dan paling utama yaitu masjid. Saya menyerukan tanpa rasa sungkan, “Berikanlah kesempatan kepada perempuan di rumah Allah Swt, biar mereka sanggup menyaksikan kebaikan, mendengarkan pesan yang tersirat dan mendalami agama Islam. Boleh menunjukkan kesempatan bagi mereka selama tidak dalam perbuatan maksiat dan sesuatu yang meragukan. Selama kaum perempuan keluar rumah dalam keadaan menjaga kehormatan dirinya dan jauh dari fenomena Tabarruj (bersolek ala Jahiliah) yang dimurkai Allah Swt”.

Walhamdu lillah Rabbil’alamin.

Saturday, 7 March 2020

Apakah Hukumnya Bersalam Salaman Simpulan Shalat

Salaman Selesai Shalat


Fatwa Syekh DR. Ali Jum’ah.

Apa aturan bersalaman final shalat?

Bersalaman itu dianjurkan pada aturan asalnya. Imam an-Nawawi berkata, “Ketahuilah bahwa beralaman itu sunnah, disepakati hukumnya, bersalaman saat bertemu”. (Fath al-Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar, juz. XI, hal. 55, menukil pendapat Imam an-Nawawi). Ibnu Baththal berkata, “Asal bersalaman itu baik, demikian berdasarkan secara umum dikuasai ulama”. (Fath al-Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar, juz. XI, hal. 55, menukil pendapat Imam an-Nawawi; Tuhfat al-Ahwadzi, juz. VII, hal. 426).

Banyak jago Fiqh dari aneka macam mazhab menyebutkan bahwa bersalaman diantara pria itu dianjurkan. Mereka berdalil dengan hadits-hadits shahih dan hasan. Diantaranya yakni hadits yang diriwayatkan Ka’ab bin Malik, ia berkata:
دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ ، فَإِذَا بِرَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَامَ إِلَىَّ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ يُهَرْوِلُ ، حَتَّى صَافَحَنِى وَهَنَّأَنِى

“Saya masuk ke dalam masjid. Rasulullah Saw duduk, di sekelilingnya banyak orang. Thalhah bin ‘Ubaidillah bangun tiba kepada saya berlari-lari kecil sampai ia menyalami saya dan mengucapkan tahni’ah kepada saya”. (HR. Ahmad, al-Bukhari dan Muslim). Dari Qatadah, ia berkata, “Saya berkata kepada Anas, “Apakah para shahabat nabi itu bersalaman?”. Ia menjawab, “Ya”. (HR. al-Bukhari dan Ibnu Hibban). Diriwayatkan dari ‘Atha’ bin Abi Muslim Abdullah al-Khurasani, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda:
تَصَافَحُوا يَذْهَبِ الْغِلُّ وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا وَتَذْهَبِ الشَّحْنَاءُ

Bersalamanlah kamu, ia menghilangkan dengki. Saling member hadiahlah kamu, maka kau akan berkasih sayang dan menghilangkan permusuhan”. (HR. ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus).

Adapun bersalaman sehabis final shalat, tidak seorang pun ulama mengharamkannya, bahkan mereka menganjurkannya. Bersalaman final shalat itu bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) atau bid’ah mubahah (bid’ah yang dibolehkan). Imam an-Nawawi membahas duduk kasus ini secara terperinci, dia berkata, “Jika orang yang bersalaman itu belum menyalami saudaranya sebelum shalat, maka salaman-nya itu sunnah hasanah. Jika ia telah menyalami saudaranya sebelum shalat, maka salaman-nya itu mubah (boleh)”. (al-Majmu’, an-Nawawi, juz. III, hal. 469 – 470).

Imam al-Hashkafi berkata, “Apa yang dikatakan pengarang -at-Tamrutasyi- mengikuti apa yang telah disebutkan dalam ad-Durar, al-Kanz, al-Wiqayah, an-Niqayah, al-Majma’, al-Multaqa dan kitab-kitab lainnya. Mengandung makna boleh bersalaman secara mutlak, meskipun sehabis shalat ‘Ashar. Pendapat mereka yang mengatakan bid’ah, artinya bid’ah mubahah hasanah (bid’ah yang dibolehkan dan baik), sebagaimana yang dinyatakan Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar karyanya”. (ad-Durr al-Mukhtar, al-Hashkafi, juz. VI, hal. 380).

Imam Ibnu ‘Abidin memperlihatkan komentar sehabis menyebutkan pendapat ulama yang menyatakan boleh secara mutlak dari kalangan ulama Mazhab Hanafi, “Ini yang sesuai dengan apa yang dikatakan pen-syarah dari teks matn yang bersifat umum. Ia berdalil dengan pendapat ini berdasarkan nash-nash yang bersifat umum wacana bersalaman berdasarkan syariat Islam”. (Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar dikenal dengan nama Hasyiyah Ibn ‘Abidin, juz. VI, hal. 381).

Mereka beropini bahwa bersalaman sehabis shalat itu dibolehkan secara mutlak. Ath-Thabari berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al-Bukhari dari Abu Juhaifah, ia berkata:
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ -r- بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ ، وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ ، وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ . {قَالَ شُعْبَةُ} وَزَادَ فِيهِ عَوْنٌ عَنْ أَبِيهِ أَبِى جُحَيْفَةَ قَالَ كَانَ يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا الْمَرْأَةُ ، وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ ، فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ ، قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ ، فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِى ، فَإِذَا هِىَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ ، وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنَ الْمِسْكِ

“Rasulullah Saw pergi dari al-Hajirah ke al-Bath-ha’, dia berwudhu’, lalu melakukan shalat Zhuhur dua rakaat dan ‘Ashar dua rakaat. Di depannya ada tongkat. Perempuan lewat di belakangnya. Orang banyak berdiri, mereka menarik tangan Rasulullah Saw dan mengusapkannya ke wajah mereka. Aku menarik tangan Rasulullah Saw dan meletakkannya ke wajahku, tangan itu lebih sejuk daripada es dan lebih harum daripada kasturi”. (HR. al-Bukhari).

Al-Muhib ath-Thabari berkata, “Riwayat ini sanggup dijadikan dalil alasannya yakni sesuai dengan apa yang dilakukan kaum muslimin yaitu bersalaman sehabis shalat dalam berjamaah, terlebih lagi pada shalat ‘Ashar dan Maghrib, kalau bersalaman itu berkaitan dengan menyalami orang shaleh untuk mengambil berkah atau berkasih sayang dan lainnya”.

Adapun Imam al-‘Izz bin ‘Abdissalam, sehabis membagi bid’ah menjadi lima bagian: bid’ah wajib, bid’ah haram, bid’ah makruh, bid’ah mustahab dan bid’ahmubah. Beliau berkata, “Bid’ah mubahah itu mempunyai beberapa contoh, diantaranya yakni bersalaman sehabis shalat Shubuh dan shalat ‘Ashar”. (Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, ‘Izz bin Abdissalam, juz. II, hal. 205).

Imam an-Nawawi berkata, “Adapun bersalaman yang biasa dilakukan sehabis shalat Shubuh dan ‘Ashar. Syekh Imam Abu Muhammad bin Abdissalam menyebutkan bahwa itu bid’ah mubahah, tidak disebut makruh atau mustahab. Yang ia katakan ini baik. Menurut pendapat pilihan dikatakan bahwa, kalau seseorang menyalami  orang lain yang telah ada bersamanya sebelum shalat, maka boleh, ibarat yang telah kami sebutkan. Jika ia menyalami orang yang sebelumnya tidak ada bersamanya sebelum shalat, maka salaman itu dianjurkan. Karena bersalaman saat bertemu itu sunnat berdasarkan Ijma’ berdasarkan hadits-hadits shahih”. (al-Majmu’, an-Nawawi, juz. III, hal. 469 – 470).

Dengan demikian sanggup diketahui bahwa orang yang mengingkari bersalaman sehabis shalat itu ada dua kemungkinan; mungkin tidak mengetahui dalil-dalil yang telah kami sebutkan atau tidak berjalan diatas manhaj ilmu yang menjadi dasar.

Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

Mengapa Tangan Diangkat Saat Berdoa

Angkat Tangan Saat Berdoa


Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar.

Mengapa tangan diangkat keatas dikala berdoa?

Allah Swt berfirman:

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kau menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 115).

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah Saw melakukan shalat, dia dari Mekah menuju Madinah, dia berada diatas binatang tunggangannya sesuai arahnya. Lalu turun ayat:

Maka kemanapun kau menghadap di situlah wajah Allah”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 115). Ini berlaku pada shalat Sunnat. Maknanya bahwa semua arah milik Allah Swt, siapa yang mengarah kemana saja dalam ibadahnya, maka Allah Swt memperhatikan dan mengetahuinya. Yang dimaksud dengan wajah Allah Swt yaitu Dzat Allah Swt, lantaran wajah mengungkapkan perihal Dzat, lantaran wajah yaitu anggota badan yang paling mulia (pada makhluk), sama menyerupai firman Allah Swt:

Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan wajah Allah”. (Qs. Al-Insan [67]: 9).

Maksudnya, kami bersedekah hanya mengharapkan Allah Swt semata, bukan kepada yang lain diantara makhluk-Nya. Artinya, kami mengesakan-Nya, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Kami bersedekah ikhlas, tidak riya’ dalam amal kami.

Diantara ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt yaitu doa. Ketika seorang insan menghadap kepada Tuhannya kearah mana pun, maka sesungguhnya Allah Swt ada, tidak pernah sirna. Allah Swt Maha Mengetahui, tidak pernah lalai. Allah Swt Maha Dekat, tidak pernah jauh. Artinya, meskipun kedudukan Allah Swt Maha Tinggi, akan tetapi Allah Swt Maha Dekat dengan insan dengan pengetahuan-Nya:

Tidakkah kau perhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? tiada pembicaraan belakang layar antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari tamat zaman apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (Qs. Al-Mujadilah [58]: 7).

Oleh alasannya yaitu itu Allah Swt berfirman:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu perihal Aku, maka (jawablah), bergotong-royong Aku yaitu dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 186). Karena dekat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, maka tidak perlu berteriak dikala berdoa kepada-Nya, lantaran sesungguhnya Ia mengetahui belakang layar dan yang tersembunyi.

Apakah Ada Dua Witir Dalam Satu Malam

Dua Kali Witir


Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar.

Apakah benar bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada dua Witir dalam satu malam”? apakah shalat Witir sanggup di-qadha’ jika tertinggal?

Ya, Abu Daud, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi meriwayatkan, ia nyatakan sebagai hadits hasan, sebetulnya Ali ra berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda:

لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ

“Tidak ada dua Witir dalam satu malam”.

Imam Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Ummu Salamah, “Sesungguhnya Rasulullah Saw melakukan shalat dua rakaat sehabis shalat Witir, ia laksanakan dalam keadaan duduk”.

Para ulama berpendapat: siapa yang melakukan shalat Witir sehabis shalat Isya’, lalu ia ingin melaksanakan Qiyamullail, maka ia boleh melakukan shalat malam sebanyak mungkin, akan tetapi ia dilarang lagi melakukan shalat Witir, sebab ia telah melakukan shalat Witir sebelumnya. Sebagaimana diketahui bahwa shalat Witir sanggup dilaksanakan kapan saja pada waktu malam, sehabis shalat Isya’ sampai terbit fajar (shalat Shubuh). Jika seseorang khawatir tertinggal melakukan shalat Witir, maka dianjurkan semoga ia melaksanakannya di awal malam. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah:

مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

Siapa yang khawatir tidak terbangun di simpulan malam, maka hendaklah ia melakukan shalat Witir di awal malam. Siapa yang sangat ingin bangkit tengah malam, maka hendaklah ia melakukan shalat Witir di simpulan malam, sebab shalat di simpulan malam itu disaksikan (para malaikat) dan itu lebih utama”. Makna Masyhudah adalah disaksikan para malaikat.

                Ketika Rasulullah Saw bertanya kepada Abu Bakar ra, “Kapankah engkau melakukan shalat Witir?”. Beliau menjawab, “Di awal malam, sehabis shalat Isya’.” Ketika Rasulullah Saw bertanya kepada Umar ra, ia menjawab, “Di simpulan malam”. Rasulullah Saw berkata, “Adapun engkau wahai Abu Bakar, engkau bersikap hati-hati. Sedangkan engkau wahai Umar, engkau bersikap kuat”. Maknanya tekad yang berpengaruh untuk bangkit melaksanakan Qiyamullail. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim, berdasarkan syarat Muslim.

                Demikianlah, jikalau shalat Witir tertinggal, maka sanggup di-qadha’, demikian berdasarkan jumhur ulama, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, dinyatakan shahih oleh al-Hakim, berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim:

إذا اصبح احدكم ولم يوتر فليوتر

Apabila salah seorang kau bangkit pada waktu shubuh, ia belum melakukan Witir, maka hendaklah ia melakukan shalat Witir”. Abu Daud meriwayatkan:

مَنْ نَامَ عَنْ وِتْرِهِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّهِ إِذَا ذَكَرَهُ

Siapa yang tertidur (hingga tidak melaksanakan) shalat Witir, atau terlupa. Maka hendaklah ia melaksanakannya saat ia mengingatnya”. Sanadnya shahih, demikian dinyatakan oleh al-‘Iraqi.

                Waktu meng-qadha’ shalat Witir terbuka, malam atau pun siang, demikian berdasarkan Imam Syafi’i. Imam Abu Hanifah melarang pelaksanaannya pada waktu-waktu terlarang untuk melakukan shalat. Imam Malik dan Ahmad berkata, “Di-qadha’ setelah fajar, selama belum melakukan shalat Shubuh”.

Adakah Pilihan Ayat Tertentu Dalam Shalat Lima Waktu

Bacaan Ayat Dalam Shalat


Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar.

Apakah Rasulullah Saw menentukan surat atau ayat tertentu pada shalat lima waktu atau shalat sunnat?

Dalam kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi disebutkan bahwa sunnat dibaca –setelah al-Fatihah- pada shalat Shubuh dan Zhuhur adalah Thiwal al-Mufashshalartinya surat-surat terakhir dalam mush-haf. Diawali dari surat Qaf atau al-Hujurat, berdasarkan khilaf yang ada, mencapai dua belas pendapat perihal penetapan surat-surat al-Mufashshal. Surat-surat al-Mufashshal ini terdiri dari beberapa bagian, ada yang panjang sampai surat ‘Amma (an-Naba’), ada yang pertengahan sampai surat adh-Dhuha dan ada pula yang pendek sampai surat an-Nas.

Pada shalat ‘Ashar dan ‘Isya’ dibaca Ausath al-Mufashshal (bagian pertengahan). Pada shalat Maghrib dibaca Qishar al-Mufashshal (bagian pendek).

Sunnah dibaca pada shalat Shubuh rakaat pertama pada hari Jum’ar surat Alif Lam Mim as-Sajadah, pada rakaat kedua surat al-Insan. Pada rakaat pertama shalat Jum’at sunnah dibaca surat al-Jumu’ah dan rakaat kedua surat al-Munafiqun. Atau pada rakaat pertama surat al-A’la dan rakaat kedua surat al-Ghasyiyah.

Sunnah dibaca pada shalat Shubuh rakaat pertama surat al-Baqarah ayat 136 dan rakaat kedua surat Al ‘Imran ayat 64. Ada pada rakaat pertama surat al-Kafirun dan rakaat kedua surat al-Ikhlas, keduanya shahih. Dalam Shahih Muslimdisebutkan bahwa Rasulullah Saw melaksanakan itu.

Dalam shalat sunnat Maghrib, dua rakaat sehabis Thawaf dan shalat Istikharah Rasulullah Saw membaca surat al-Kafirun pada rakaat pertama dan al-Ikhlas pada rakaat kedua.

Pada shalat Witir, Rasulullah Saw membaca surat al-A’la pada rakaat pertama, surat al-Kafirun pada rakaat kedua, surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas pada rakaat ketiga. Imam Nawawi berkata, “Semua yang kami sebutkan ini berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan selainnya yaitu hadits-hadits masyhur”.

Perlu diketahui bahwa pahala sunnat membaca ayat al-Qur’an diperoleh dengan membaca ayat-ayat yang difahami atau sebagian ayat dari suatu surat, atau membaca satu surat atau membaca sebagian surat. Surat yang pendek lebih afdhal daripada beberapa ayat yang dibaca dari surat yang panjang.

Sunnah membaca surat berdasarkan urutan mush-haf, kalau tidak sesuai berdasarkan urutan mush-haf maka hukumnya boleh, akan tetapi makruh. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Saya tidak menemukan dalil yang menyatakan demikian”.

Hukum Melafadzkan Niat Dalam Shalat

Melafalkan Niyat


Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar.

Sebagian orang menyampaikan bahwa melafalkan niat shalat itu bid’ah, alasannya ialah kawasan niat di dalam hati. Apakah kalau seseorang melafalkan niatnya maka shalatnya batal atau pahalanya sia-sia?

Makna niat ialah sengaja melaksanakan sesuatu. Niat itu tempatnya di hati. Tidak wajib melafalkan niat shalat, demikian juga dengan ibadah lainnya. Diterimanya shalat tidak terikat dengan lafal niat apakah dilafalkan atau pun tidak.

Mazhab Syafi’I berpendapat: boleh melafalkan niat, bahkan dianjurkan, alasannya ialah melafalkan niat itu pengecap membantu hati. Andai tidak dilafalkan, maka shalat tetap sah dan diterima insya Allah kalau memenuhi syarat, diantaranya ialah khusyu’ dan ikhlas.

Dalam Fiqh al-Madzahib al-Arba’ah dinyatakan bahwa Mazhab Maliki berpendapat: melafalkan niat itu bertentangan dengan yang lebih utama, kecuali bagi orang yang ragu-ragu, maka dianjurkan melafalkan niat untuk menolak was-was (keraguan).

Menurut Mazhab Hanafi: melafalkan niat itu bid’ah. Karena tidak ada riwayat dari Rasulullah Saw dan para shahabatnya. Akan tetapi dianggup baik untuk menolak was-was.

Kesimpulannya bahwa kawasan niat itu di hati, tidak disyaratkan mesti dilafalkan, bahkan berdasarkan Mazhab Hanafi: bid’ah. Menurut Mazhab Maliki: bertentangan dengan yang lebih utama. Akan tetapi bagi orang yang ragu-ragu, maka melafalkan niat itu dianjurkan dan dianggap baik. Menurut Mazhab Syafi’i: sunnat.

Ibnu al-Qayyim dalam kitab Zad al-Ma’ad, juz. I, hal. 51 mengecam keras mereka yang membolehkan melafalkan niat, dia meluruskan pendapat Mazhab Syafi’I dalam problem ini. Imam Ibnu al-Qayyim berkata, “Ketika Rasulullah Saw akan melaksanakan shalat, dia mengucapkan: “Allahu Akbar”. Beliau tidak mengucapkan sesuatu sebelumnya. Beliau tidak melafalkan niat sama sekali. Beliau tidak mengucapkan, “Aku melaksanakan shalat anu, menghadap kiblat, empat rakaat, menjadi imam atau makmum”. Beliau juga tidak mengucapkan, “Shalat ada’ atau qadha’, atau shalat fardhu”. Hanya saja sebagian ulama kalangan muta’akhirin terpengaruhi dengan pendapat Imam Syafi’i perihal shalat, bahwa shalat itu tidak sama ibarat puasa, setiap orang masuk ke dalam shalat dengan zikir. Lalu mereka menyangka bahwa zikir yang dimaksud ialah melafalkan niat. Yang dimaksud Imam Syafi’i dengan zikir itu ialah Takbiratul Ihram, bukan yang lain. Bagaimana mungkin Imam Syafi’i menganjurkan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah Saw dalam satu shalat, demikian juga dengan para khalifah setelahnya dan para shahabatnya.

Ini pendapat Ibnu al-Qayyim, dan para imam yang lain mempunyai pendapat masing-masing. Hukum yang menyatakan bahwa melafalkan niat itu adalah bid’ah, pendapat ini tidak sanggup diterima, apalagi hingga mengatakannya sebagai bid’ahdhalalah. Karena para ulama besar membolehkannya, mereka menyebutnya sunnat, atau mustahab dan mandub dalam suatu kondisi tertentu, ibarat dalam keadaan was-was. Sebagaimana diketahui bersama bahwa melafalkan niat itu tidak mendatangkan mudharat, justru terkadang mendatangkan manfaat.

Apakah Boleh Bersedekah Sebelum Waktunya?

Menyegerakan Bayar Zakat


Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar.

Apakah boleh mengeluarkan zakat sebelum waktunya?

Menurut Imam Syafi’i, Abu Hanifah dan Ahmad, boleh mengeluarkan zakat sebelum waktu wajib dikeluarkan, yaitu sebelum Haul pada zakat uang, perdagangan dan hewan. Dalilnya ialah hadits yang diriwayatkan dari Ali ra, bahu-membahu Rasulullah Saw mendahulukan zakat al-‘Abbas sebelum waktunya. Meskipun sanad hadits ini dipermasalahkan. Al-Hasan ditanya wacana seseorang yang membayarkan zakatnya untuk tiga tahun, apakah itu sah? Al-Hasan menjawab, “Sah”. Diriwayatkan dari az-Zuhri bahwa menurutnya seseorang boleh menyegerakan pembayaran zakatnya sebelum Haul. Imam Malik berkata, “Tidak sah dikeluarkan sebelum Haul (berdasarkan hadits-hadits yang mengaitkan wajibnya zakat dengan Haul, ibarat hadits yang diriwayatkan Abu Daud, hadits ini dipermasalahkan ulama). Rabi’ah, Sufyan ats-Tsauri dan Daud beropini ibarat ini.

Ibnu Rusyd berkata, “Sebab khilaf adalah, apakah zakat itu ibadah atau hak orang-orang miskin? Mereka yang menganggap zakat itu ibarat ibadah, mereka menyamakannya dengan shalat, dilarang dibayarkan sebelum waktunya. Mereka yang menyamakannya dengan shalat wajib yang mempunyai waktu tertentu, mereka membolehkannya dilakukan sebelum waktunya dilihat dari sisi sifat sukarela melaksanakannya”.

Zakat pada umumnya, demikian juga dengan zakat Fitrah, berdasarkan jumhur ulama pembayarannya boleh didahulukan satu atau dua hari sebelum hari ‘Idul Fithri, sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Umar. Adapun dibayarkan sebelum itu, maka ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

Menurut Abu Hanifah: boleh dibayarkan sebelum bulan Ramadhan.

Menurut Imam Syafi’i: boleh dibayarkan dari semenjak awal bulan Ramadhan.

Menurut Imam Malik dan Ahmad: dilarang dibayarkan kecuali satu atau dua hari sebelum ‘Idul Fithri.

Friday, 6 March 2020

Apakah Boleh Membayar Fitrah Dalam Bentuk Uang

Bayar Zakat Fitrah Dengan Uang


Fatwa Syekh DR. Ali Jum’ah.

Apakah boleh membayar zakat fitrah dalam bentuk uang?

Boleh membayar zakat fitrah dalam bentuk uang. Ini ialah mazhab sekelompok ulama yang diamalkan, juga mazhab sekelompok Tabi’in, diantara mereka ialah al-Hasan al-Bashri. Diriwayatkan bahwa ia berkata, “Boleh menunjukkan Dirham (uang perak) dalam zakat Fitrah”. (Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, juz. III, hal. 174).

Abu Ishaq as-Sabi’i meriwayatkan dari Zuhair, ia berkata: saya mendengar Abu Ishaq berkata, “Saya bertemu dengan mereka, mereka membayar zakat Fitrah dalam bentuk Dirham senilai harga makanan”.

Umar bin Abdul Aziz, dari Waki’, dari Qurrah, ia berkata, “Surat dari Umar bin Abdul Aziz tiba kepada kami ihwal zakat Fitrah, “Setengah Sha’ untuk setiap orang. Atau nilainya setengah Dirham”.  Demikian juga berdasarkan pendapat ats-Tsauri, Abu Hanifah dan Abu Yusuf.

Membayar zakat dalam bentuk uang ialah mazhab Hanafi, mereka melaksanakannya dalam semua zakat, kafaratnazarkharaj dan lainnya. Juga berdasarkan mazhab Imam an-Nashir dan al-Mu’ayyid Billah dari kalangan imam Ahli Bait golongan az-Zaidiyyah.

Demikian juga berdasarkan Ishaq bin Rahawaih dan Abu Tsaur, hanya saja mereka mengikatnya dengan kondisi darurat, sebagaimana mazhab sebagian lain dari kalangan Ahli Bait. Maksud saya, boleh membayar zakat Fitrah dalam bentuk uang dalam keadaan darurat. Mereka menjadikannya sebagai: imam menuntut pembayaran dalam bentuk uang sebagai ganti nash.

Membayar zakat fitrah dalam bentuk uang ialah pendapat sekelompok ulama dari kalangan Mazhab Maliki ibarat Ibnu Habib, Ashbagh, Ibnu Abi Hazim, Ibnu Dinar dan Ibnu Wahab, diriwayatkan dari mereka ihwal boleh hukumnya membayar zakat dalam bentuk uang, apakah zakat Mal maupun zakat Fitrah. Berbeda dengan yang mereka riwayatkan dari Ibnu al-Qasim dan Asy-hab, mereka berdua membolehkan membayar zakat dengan uang, kecuali pada zakat Fitrah dan kafarat sumpah.

Berdasarkan riwayat diatas kita sanggup mengetahui sejumlah imam dan Tabi’in serta para hebat Fiqh beropini bahwa boleh membayar zakat dalam bentuk uang, ini pada masa mereka di zaman dahulu yang masih memakai system barter, artinya semua benda layak dijadikan sarana tukar-menukar transaksi jual beli, khususnya biji-bijian. Mereka menjual gandum jenis Qamhdengan gandum jenis Sya’ir, jagung dengan gandum dan lainnya. Sedangkan pada zaman kita kini ini sarana transaksi jual beli hanya terbatas pada uang saja. Maka berdasarkan kami pendapat ini lebih sempurna dan lebih kuat. Bahkan kami nyatakan, andai ulama yang tidak sependapat dengan ini pada masa silam hidup di zaman kini ini, pastilah mereka akan beropini ibarat pendapat Imam Abu Hanifah. Terlihat terang bagi kita bagaimana pemahaman dan kekuatan nalar mereka.

Mengeluarkan zakat Fitrah dalam bentuk uang lebih utama untuk menunjukkan akomodasi kepada fakir miskin untuk membeli apa saja yang mereka inginkan pada hari raya, lantaran boleh jadi mereka tidak membutuhkan biji-bijian, akan tetapi membutuhkan pakaian, atau daging, atau selain itu. Memberikan biji-bijian memaksa mereka untuk berkeliling di jalan-jalan semoga ada orang lain yang mau membelinya, terkadang mereka menjualnya dengan harga yang sangat murah, kurang dari semestinya. Semua ini berlaku pada kondisi mudah; ada banyak biji-bijian di pasar. Sedangkan pada kondisi sulit, tidak ada biji-bijian di pasar, maka membayar zakat Fitrah dalam bentuk benda lebih utama daripada dalam bentuk uang, untuk menjaga maslahat fakir miskin.

Hukum asal disyariatkannya zakat Fitrah ialah untuk kepentingan fakir miskin dan mencukupkan kebutuhan mereka pada hari raya, hari kebahagiaan kaum muslimin. Imam al-‘Allamah Ahmad bin ash-Shiddiq al-Ghumari menyusun satu kitab dalam persoalan ini berjudul Tahqiq al-Amal fi Ikhraj Zakat al-Fithr bi al-Mal, dalam kitab ini dia menguatkan pendapat Mazhab Hanafi dengan dalil-dalil dan pendapat yang banyak, mencapai tiga puluh dua pendapat. Oleh lantaran itu pendapat kami men-tarjih-kan pendapat yang menyatakan: mengeluarkan zakat Fitrah dalam bentuk nilai/harga/uang. Ini lebih utama di zaman kini ini. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

Hukum Ziarah Kubur Sehabis Id Pada Hari Raya

Hari Raya dan Ziarah Kubur


Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar.

Banyak kaum muslimin yang antusias melaksanakan ziarah kubur sehabis shalat ‘Ied, sejauh mana kebenaran perbuatan ini berdasarkan syariat Islam?

Ziarah kubur berdasarkan aturan asalnya ialah sunnah alasannya mengingatkan insan kepada akhirat. Disebutkan dalam hadits Rasulullah Saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah Saw ziarah ke makam ibunya, dia menangis, menciptakan orang-orang di sekelilingnya ikut menangis. Rasulullah Saw berkata:
اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Aku memohon izin kepada Tuhanku semoga saya memohonkan ampun untuknya, Ia tidak memperlihatkan izin untukku. Aku memohon izin semoga saya ziarah ke makamnya, Ia memberi izin kepadaku. Maka ziarahlah kau ke kubur, alasannya ziarah kubur itu mengingatkan kepada kematian”. Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad shahih:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِى الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الآخِرَةَ

Dulu saya melarang kau ziarah kubur. Ziarahlah kau ke kubur, alasannya bergotong-royong ziarah kubur itu menciptakan zuhud di dunia dan mengingatkan kepada akhirat”.

Tidak ada waktu tertentu untuk melaksanakan ziarah kubur, meskipun sebagian ulama menyatakan pahalanya lebih besar bila dilakukan pada hari-hari tertentu ibarat hari Kamis dan Jum’at alasannya kuatnya hubungan ruh dengan orang-orang yang meninggal dunia, meskipun dalilnya tidak kuat. Dari ini sanggup kita ketahui bahwa ziarah kubur sehabis shalat ‘Ied, bila tujuannya untuk mengambil pelajaran dan mengenang orang-orang yang telah meninggal dunia, saat masih hidup dulu mereka sama-sama merayakan hari raya, memohonkan rahmat untuk mereka dengan berdoa, maka boleh bagi laki-laki. Adapun bagi perempuan, aturan ziarah kubur bagi wanita dijelaskan dalam fatwa sehabis fatwa ini.

Jika ziarah kubur sehabis shalat ‘Ied tersebut bertujuan untuk memperbaharui kesedihan, untuk takziah ke kubur, atau menciptakan kemah, atau menyiapkan daerah untuk kesedihan, maka hukumnya makruh. Karena takziah sehabis tiga hari jenazah dikebumikan dihentikan secara haram atau makruh. Karena hari raya ialah hari senang dan bahagia, maka tidak selayaknya membangkitkan kesedihan di hari raya.

Apa Hukumnya Ziarah Kubur Bagi Perempuan

Perempuan dan Ziarah Kubur


Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar.

Apa aturan ziarah kubur bagi perempuan kalau tetap menjaga adab-adab ziarah kubur dan bertujuan untuk mengambil pelajaran dan bersikap khusyu’?

Pada awalnya Rasulullah Saw melarang ziarah kubur untuk memutus tradisi jahiliah berbangga-bangga dengan ziarah kubur dengan menyebut-nyebut peninggalan nenek moyang. Itu yang disebutkan Allah Swt dalam firman-Nya:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kau masuk ke dalam kubur”. (Qs. At-Takatsur [102]: 1-2).

Kemudian diberi dispensasi berziarah untuk mengingat mati dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat, sebagaimana yang diingatkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dengan sanad shahih:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِى الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الآخِرَةَ

Dulu saya melarang kau ziarah kubur. Ziarahlah kau ke kubur, alasannya ialah bergotong-royong ziarah kubur itu menciptakan zuhud di dunia dan mengingatkan kepada akhirat”.  Dan hadits-hadits lain ihwal ini yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya.

Kaum muslimin telah Ijma’ ihwal ajuan ziarah kubur, wajib berdasarkan Mazhab Zhahiriah, hanya mereka menyatakan bahwa ziarah itu khusus bagi laki-laki, bukan untuk perempuan. Ketika Rasulullah Saw melihat bahwa perempuan pergi ziarah itu mengandung hal-hal tidak baik, maka Rasulullah Saw melarang mereka ziarah kubur. Izin ziarah kubur bagi pria tetap berlaku. Ulama lain menyatakan bahwa larangan ziarah kubur bagi perempuan ialah pada masa kemudian alasannya ialah larangan yang bersifat umum, yaitu larangan ziarah kubur. Kemudian ada izin bagi laki-kai. Larangan tetap berlanjut bagi perempuan. Bagaimana pun juga, ada beberapa pendapat ihwal ziarah kubur bagi perempuan, diringkas dalam beberapa poin berikut:

Pertama, haram secara mutlak, apakah ketika perempuan melaksanakan ziarah itu ada fitnah dan hal tidak baik atau pun tidak ada. Dalilnya ialah hadits:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -- لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ

Sesungguhnya Rasulullah Saw melaknat perempuan-perempuan yang ziarah kubur”. (HR. at-Tirmidzi). At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih”. Akan tetapi al-Qurthubi berkata, “Ada kemungkinan mengandung makna bahwa haram kalau dilakukan beramai-ramai. Karena memakai kata: زَوَّارَاتِ dalam bentuk Shighat Mubalaghah.

Kedua, haram ketika dikhawatirkan terjadi fitnah atau hal tidak baik. Berdasarkan ini diharamkan bagi pemudi ziarah kubur, demikian juga dengan perempuan remaja kalau berhias berlebihan atau memakai sesuatu yang menarik perhatian. Dibolehkan bagi perempuan bau tanah yang tidak menyebabkan fitnah, tetap haram kalau melaksanakan perbuatan yang diharamkan, menyerupai meratap dan perbuatan lain yang dihentikan Rasulullah Saw:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

Bukan golongan kami orang yang menampar wajah, merobek kantong dan menyerukan seruan-seruan Jahiliah”. (HR. al-Bukhari, Muslim dan lainnya).

Tidak gampang bagi perempuan melepaskan diri dari tradisi-tradisi tidak baik ini. Dalam hadits Ummu ‘Athiyyah disebutkan, “Ketika berbai’at, Rasulullah Saw mengambil kesepakatan dari kami supaya jangan menyesali orang yang meninggal dunia. Tidak ada yang memenuhi kesepakatan itu dari kami selain lima orang perempuan”. (HR. al-Bukhari).

Ketika istri-istri Ja’far bin Abi thalib menangis ketika Ja’far mati syahid, Rasulullah Saw memerintahkan seorang pria supaya melarang mereka menangis, dua kali dihentikan namun mereka tidak patuh. Rasulullah Saw memerintahkan pria itu supaya menyiramkan bubuk ke ekspresi mereka. (HR. al-Bukhari).

Ketiga, makruh. Dalilnya ialah Qiyas. Diqiyaskan kepada mengiringi jenazah. Juga berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyyah, “Rasulullah Saw melarang kami mengiringi jenazah. Akan tetapi Rasulullah Saw tidak bersikap keras terhadap kami”. (HR. al-Bukhari, Muslim dan lainnya).

Keempat, boleh. Dalilnya ialah Rasulullah Saw tidak mengingkari Aisyah ketika ia pergi ke pemakaman al-Baqi’. Rasulullah Saw mengajarkan kepada Aisyah ketika ziarah kubur supaya mengucapkan:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ غَدًا مُؤَجَّلُونَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ

Keselamatan untuk kau wahai negeri kaum mu’min. Telah tiba kepada kau apa yang dijanjikan untuk kau esok hari masanya ditentukan. Sesungguhnya insya Allah kami menyertai kamu”. (HR. Muslim). Juga sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw melewati seorang perempuan yang menangis di sisi kubur. Rasulullah Saw memerintahkannya supaya bertakwa dan bersabar. Rasulullah Saw melarangnya menangis alasannya ialah Rasulullah Saw mendengar sesuatu yang tidak ia sukai; ratapan dan lainnya. Rasulullah Saw tidak melarangnya ziarah kubur.

Kelima, dianjurkan, sama menyerupai ajuan ziarah kubur bagi laki-laki. Dalilnya ialah izin dari Rasulullah Saw yang bersifat umum:
فزوروها

Maka lakukanlah ziarah kubur”.

Tiga pendapat terakhir berlaku ketika kondusif dari fitnah dan hal yang tidak baik. Jika terjadi fitnah dan hal yang tidak baik, maka haram bagi perempuan melaksanakan ziarah kubur. Dengan demikian maka tanggapan telah sanggup difahami. Meskipun saya cenderung kepada pendapat yang menyatakan makruh, kalau tidak ada hal-hal yang diharamkan dan terlarang menyerupai membuka aurat, ratapan, menampar wajah, duduk diatas kubur, menginap di kuburan dan lain sebagainya. Lebih utama bagi perempuan menetap di rumah, tidak pergi meninggalkan rumah kecuali ada keperluan yang mendesak, untuk memelihara perempuan dari hal-hal yang tidak baik.

Tentang Puasa Ayyamul Beidh Dan 6 Hari Syawal

Puasa Ayyam al-Bidh dan 6 Hari Syawwal


Puasa Hari-Hari al-Bidh dan Enam Hari di Bulan Syawwal.

Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar.

Pertanyaan:

Apakah dasar penamaan al-Ayyam al-Bidh? Apakah sebagiannya ialah puasa enam hari di bulan Syawwal sebagaimana yang difahami banyak orang?

Jawaban:

Al-Ayyam al-Bidh ada di setiap bulan Qamariyyah, yaitu dikala bulan ada diawal sampai simpulan malam 13, 14 dan 15. Disebut Bidh karena ia memutihkan malam dengan rembulan dan siang dengan matahari. Ada juga pendapat yang menyampaikan alasannya ialah Allah Swt mendapatkan taubat nabi Adam as pada hari-hari itu dan memutihkan lembaran amalnya. Az-Zarqani ‘ala al-Mawahib, juz. 8, hal. 133.

Dalam al-Hawi li al-Fatawa karya Imam as-Suyuthi disebutkan, “Ada yang menyampaikan bahwa dikala nabi Adam as diturunkan dari surga, kulitnya menghitam. Maka Allah Swt memerintahkan semoga ia melaksanakan puasa al-Ayyam al-Bidh pada bulan Qamariyyah. Ketika ia melaksanakan puasa pada hari pertama, sepertiga kulitnya memutih. Ketika ia berpuasa pada hari kedua, sepertiga kedua kulitnya memutih. Ketika ia berpuasa pada hari ketiga, seluruh kulit tubuhnya memutih. Pendapat ini tidak benar. Disebutkna dalam hadits yang disebutkan al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Amaly dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq dari hadits Ibnu Mas’ud, hadits Marfu’, hadits Mauquf dari jalur riwayat lain, disebutkan Ibnu al-Jauzi dalam al-Maudhu’at dari jalur riwayat Marfu’, ia berkata, “Hadits Maudhu’ (palsu), dalam sanadnya terdapat sekelompok orang yang tidak dikenal”.

Terlepas dari apakah nabi Adam as melaksanakannya atau pun tidak, sebetulnya Islam mensyariatkan puasa ini dalam menjadikannya sebagai amalan anjuran. Dalam az-Arqani ‘ala al-Mawahib dinyatakan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah Saw tidak pernah berbuka (tidak berpuasa) pada hari-hari Bidh (13, 14 dan 15), baik dikala tidak musafir maupun dikala musafir”. Diriwayatkan oleh an-Nasa’i. Dari Hafshah Ummul Mu’minin, “Ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah Saw; puasa ‘Asyura’, sembilan hari di bulan Dzulhijjah, al-Ayyam al-Bidh (13, 14 dan 15) dan dua rakaat Fajar”. (HR. Ahmad). Diriwayatkan dari Mu’adzah al-‘Adawiyyah bahwa ia bertanya kepada Aisyah, “Apakah Rasulullah Saw melaksanakan puasa tiga hari setiap bulan?”. Aisyah menjawab, “Ya”. Saya katakan kepadanya, “Pada hari apa saja?”. Aisyah menjawab, “Beliau tidak memperdulikan hari apa saja setiap bulan ia laksanakan puasa”. (HR. Muslim).

Kemudian az-Zarqani berkata, “Hikmah dalam puasa Bidh, bahwa ia pertengahan bulan, pertengahan sesuatu ialah yang paling seimbang. Dan alasannya ialah biasanya gerhana matahari dan gerhana bulan terjadi pada tanggal-tanggal tersebut. Terdapat perintah semoga meningkatkan ibadah kalau itu terjadi. Jika gerhana matahari terjadi bertepatan dengan hari-hari puasa Bidh, maka seseorang dalam keadaan siap untuk menggabungkan beberapa jenis ibadah ibarat puasa, shalat dan sedekah. Berbeda dengan orang yang tidak terbiasa melakukannya, ia tidak siap untuk melaksanakan puasa pada hari itu. Ini berkaitan dengan puasa pada hari-hari Bidh setiap bulan.

Adapun wacana puasa enam hari di bulan Syawal, penyebutannya sebagai Bidh adalah tidak benar. Terlepas dari penamaannya, puasa enam hari di bulan Syawal itu dianjurkan, tidak wajib. Terdapat hadits wacana itu:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan, kemudian ia iringi dengan enam hari di bulan Syawal, maka ibarat puasa sepanjang tahun”. (HR. Muslim). Keutamaannya disebutkan dalam hadits riwayat ath-Thabrani:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dan ia mengiringinya dengan enam hari di bulan Syawwal, ia keluar dari dosanya ibarat hari ia dilahirkan ibunya”.

Makna puasa ad-Dahr adalah puasa sepanjang tahun. Penjelasan ini disebutkan dalam hadits dalam beberapa riwayat Ibnu Majah, an-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya. Maknanya bahwa satu kebaikan itu dibalas sepuluh kebaikan yang sama dengannya. Satu bulan Ramadhan dibalas dengan sepuluh bulan. Enam hari di bulan Syawwal dibalas dengan enam puluh hari, artinya dua bulan. Dengan demikian lengkaplah 12 bulan. Keutamaan ini bagi mereka yang melaksanakannya di bulan Syawwal, apakah dilaksanakan pada awal, pertengahan atau pun di simpulan bulan Syawwal. Apakah dilaksanakan berturut-turut atau pun terpisah-pisah. Meskipun afdhal dilaksanakan di awal bulan dan dilaksanakan berturut-turut. Keutamaan ini hilang bersama berakhirnya bulan Syawwal.

Banyak kaum muslimah ingin melaksanakannya, apakah mereka yang mempunyai kewajiban qadha’ ramadhan atau pun tidak. Puasa Syawwal ini dianjurkan, sebagaimana yang ditetapkan para ulama. Kami berharap semoga para muslimah tidak meyakini bahwa puasa Syawwal ini wajib. Puasa Syawwal ini sunnat, tidak ada eksekusi kalau ditinggalkan. Demikianlah, bagi mereka yang wajib meng-qadha’ puasa Ramadhan sanggup melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawwal ini dengan niat puasa Qadha’. Cukup dengan puasa Qadha’, maka ia mendapatkan pahala puasa enam hari di bulan Syawal, kalau ia meniatkannya, amal itu dinilai dari niatnya. Jika puasa Qadha’ dilaksanakan tersendiri dan puasa enam hari di bulan Syawwal dilaksanakan tersendiri, maka itu afdhal. Akan tetapi para ulama Mazhab Syafi’i berpendapat, “Balasan pahala puasa enam hari di bulan Syawwal sanggup diperoleh dengan melaksanakan puasa Qadha’, meskipun tidak diniatkan, hanya saja pahalanya lebih sedikit dibandingkan dengan niat. Disebutkan dalam Hasyiyah asy-Syarqawi ‘ala at-Tahrir karya Syekh Zakariya al-Anshari, juz. I, hal. 427, teksnya: “Jika seseorang melaksanakan puasa Qadha’ di bulan Syawwal, apakah Qadha’ puasa Ramadhan, atau meng-qadha’ puasa lain, atau nazar, atau puasa sunnat lainnya. Ia mendapatkan pahala puasa enam hari di bulan Syawwal. Karena pada dasarnya ialah adanya puasa enam hari di bulan Syawwal, meskipun ia tidak memberitahukannya, atau melaksanakannya untuk orang lain dari yang telah berlalu -artinya puasa nazar atau puasa sunnat lain- akan tetapi ia tidak mendapatkan pahala yang tepat ibarat yang diinginkan melainkan dengan niat puasa khusus enam hari di bulan Syawwal. Sama halnya dengan seseorang yang tidak melaksanakan puasa Ramadhan, atau ia laksanakan di bulan Syawwal, alasannya ialah tidak sanggup dikatakan bahwa ia telah melaksanakan puasa Ramadhan dan mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal. Ini sama ibarat pendapat wacana shalat Tahyat al-Masjid, yaitu shalat dua rakaat bagi orang yang masuk masjid. Para ulama berpendapat, pahala shalat Tahyat al-Masjid diperoleh dengan shalat fardhu atau shalat sunnat, meskipun tidak diniatkan. Karena tujuannya ialah adanya shalat sebelum duduk. Shalat sebelum duduk tersebut telah terwujud, maka tuntutan melaksanakan shalat Tahyat al-Masjid telah gugur, pahalanya diperoleh meskipun tidak diniatkan, demikian berdasarkan pendapat yang dijadikan aliran sebagaimana yang dinyatakan pengarang al-Bahjah. Pahalanya tetap diperoleh apakah dengan fardhu atau pun dengan sunnat, yang penting tidak menafikan niatnya, tujuannya tercapai apakah diniatkan atau pun tidak diniatkan.

Berdasarkan pendapat diatas, bagi seseorang yang merasa berat untuk melaksanakan puasa qadha’ Ramadhan dan sangat ingin melaksanakan puasa qadha’ tersebut pada bulan Syawwal, ia juga ingin mendapatkan pahala puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia berniat melaksanakan puasa qadha’ dan puasa enam hari di bulan Syawwal, atau berniat puasa qadha’ saja tanpa niat puasa enam hari di bulan Syawwal, maka puasa sunnat sudah termasuk ke dalam puasa wajib. Ini fasilitas dan keringanan, dihentikan terikat dengan mazhab tertentu, juga dihentikan menyatakan mazhab lain batil.

Hikmah berpuasa enam hari di bulan Syawal sesudah puasa yang usang di bulan Ramadhan -wallahu a’lam- ialah semoga orang yang berpuasa tidak berpindah secara mendadak dari perilaku menahan diri dari segala sesuatu yang bersifat fisik dan non-fisik kepada kebebasan tanpa ikatan, kemudian memakan semua yang enak dan baik kapan saja ia mau, alasannya ialah peralihan secara mendadak mengakibatkan pengaruh negatif bagi fisik dan psikis, itu sudah menjadi suatu ketetapan dalam kehidupan.

Penjelasan Wacana Aqiqah

Definisi Aqiqah.

Aqiqah berdasarkan bahasa adalah: rambut yang dibawa janin ketika lahir. Saat rambut tersebut akan dicukur, maka disembelihkan kambing, maka kambing yang disembelih dikala mencukur rambut tersebut disebut dengan Aqiqah.

Aqiqah berdasarkan istilah adalah:

الذبيحة التي تذبح عن المولود.

 Sembelihan yang disembelih untuk anak yang dilahirkan. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/326).

Dasar Aqiqah.

Aqiqah berdasarkan hadits Rasulullah Saw:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى ».

Dari Samurah bin Jundub, bahu-membahu Rasulullah Saw bersabda: “Setiap anak tergadai dengan Aqiqahnya, maka disembelihkan untuknya pada hari ke-tujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama”. (HR. Abu Daud).

Hukum Aqiqah.

والعقيقة سنة مؤكدة ولو كان الاب معسرا، فعلها الرسول، صلى الله عليه وسلم، وفعلها أصحابه، روى أصحاب السنن أن النبي، صلى الله عليه وسلم، عق عن الحسن والحسين كبشا كبشا، ويرى وجوبها الليث وداود الظاهري.

Hukum Aqiqah itu Sunnat Mu’akkadah, meskipun seorang ayah dalam kesulitan (ekonomi).

Aqiqah dilaksanakan Rasulullah Saw dan para shahabat. Diriwayatkan oleh para penyusun kitab as-Sunan bahwa Rasulullah Saw meng-aqiqah-kan Hasan dan Husein masing-masing satu ekor kambing. Menurut Imam al-Laits dan Imam Daud azh-Zhahiri aturan Aqiqah itu wajib. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/326).

Hikmah Aqiqah.

Dalam kitab al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/285 disebutkan wacana pesan yang tersirat Aqiqah adalah:

شكر نعمة الله تعالى برزق الولد، وتنمية فضيلة الجود والسخاء وتطييب قلوب الأهل والأقارب والأصدقاء بجمعهم على الطعام، فتشيع المحبة والمودة والألفة.

Ungkapan syukur kepada Allah Swt atas diberi rezeki seorang anak. Menumbuhkan keutamaan membuatkan dan sifat kedermawanan. Melembutkan hati keluarga, kerabat dan para sobat dengan mengumpulkan mereka dengan makan bersama. Menebarkan kasih sayang, cinta kasih dan kebersamaan.

Jumlah Kambing Yang Disembelih.

Mazhab Maliki:

Satu ekor kambing untuk anak pria dan satu ekor kambing untuk anak perempuan, berdasarkan hadits riwayat Ibnu Abbas:

عق عن الحسن شاة، وعن الحسين شاة

Rasulullah Saw meng-aqiqah-kan Hasan satu ekor kambing dan Husein satu ekor kambing.

Mazhab Syafi’i dan Hanbali:

Dua ekor kambing untuk anak pria dan satu ekor kambing untuk anak perempuan, berdasarkan hadits riwayat Aisyah:

عن الغلام شاتان مكافئتان، وعن الجارية شاة

“Untuk anak pria dua ekor kambing yang sama dan untuk satu orang anak wanita satu ekor kambing”. (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).

                Berdasarkan dua hadits diatas, bila disembelihkan satu ekor kambing untuk anak laki-laki, maka hukumnya sah. Jika disembelihkan dua ekor untuk anak laki-laki, maka afdhal. Karena hadits riwayat Ibnu Abbas mengandung makna boleh.

Hewan Selain Kambing.

Adapun menyembelih binatang selain kambing, maka pendapat ulama Fiqh:

فلو ذبح بدنة أو بقرة عن سبعة أولاد، جاز.

Jika disembelihkan satu ekor unta atau satu ekor lembu untuk tujuh orang anak, maka hukumnya boleh. (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/286).

Waktu Penyembelihan.

Apakah hari ketujuh menjadi batasan, sehingga kurang atau lebih dari itu Aqiqah menjadi tidak sah? Ulama Fiqh menjelaskan:

والذبح يكون يوم السابع بعد الولادة إن تيسر، وإلا ففي اليوم الرابع عشر وإلا ففي اليوم الواحد والعشرين من يوم ولادته، فإن لم يتيسر ففي أي يوم من الايام.

ففي حديث البيهقي: تذبح لسبع، ولاربع عشر، ولاحدي وعشرين.

Penyembelihan Aqiqah itu pada hari ke-tujuh sesudah kelahirkan, bila memungkinkan. Jika tidak, maka pada hari ke-14. Jika tidak memungkinkan, maka pada hari ke-21 semenjak kelahirannya. Jika tidak memungkinkan, maka kapan saja pada hari-hari berikutnya. Dalam hadits riwayat al-Baihaqi disebutkan: “Disembelihkan pada hari ke-7, ke-14 dan ke-21”. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/328).

وصرح الشافعية والحنابلة: أنه لو ذبح قبل السابع أو بعده، أجزأه.

Mazhab Syafi’i dan Hanbali menyatakan: bila disembelihkan Aqiqah sebelum hari ketujuh atau sesudah hari ketujuh, maka tetap sah.  (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/286).

Aqiqah, Tanggung Jawab Siapa Terhadap Siapa?

Apakah Aqiqah itu tanggung jawab seorang Ayah terhadap anaknya saja? Atau seseorang sanggup meng-aqiqah-kan dirinya sendiri sesudah ia dewasa?

وأضاف الحنابلة والمالكية: لا يعق غير الأب، ولا يعق المولود عن نفسه إذا كبر، لأنها مشروعة في حق الأب، فلا يفعلها غيره. واختار جماعة من الحنابلة: أن للشخص أن يعق عن نفسه استحباباً. ولا تختص العقيقة بالصغر، فيعق الأب عن المولود، ولو بعد بلوغه؛ لأنه لا آخر لوقتها.

Menurut Mazhab Hanbali dan Maliki: yang meng-aqiqah-kan hanya ayah saja (terhadap anaknya). Seorang anak tidak meng-aqiqah-kan dirinya sendiri sesudah ia dewasa. Karena pensyariatan aqiqah itu terhadap ayah, tidak sanggup dilaksanakan orang lain.

Sekelompok ulama Mazhab  Hanbali berpendapat: seseorang boleh meng-aqiqah-kan dirinya sendiri, bila ia ingin melakukannya.

Aqiqah tidak hanya dilakukan dikala masih kecil. Seorang ayah sanggup meng-aqiqah-kan anaknya sesudah aqil baligh, lantaran tidak ada batasan selesai waktu untuk aqiqah. (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/286).

Ucapan Saat Menyembelih Aqiqah.

اَللَّهُمَّ مِنْكَ وَإِلَيْكَ عَقِيْقَة فُلاَن

“Ya Allah, dari-Mu dan kepada-Mu Aqiqah si fulan”.

Berdasarkan riwayat al-Baihaqi dengan Sanad yang Hasan.

أن النبي صلّى الله عليه وسلم عق عن الحسن والحسين،

وقال: «قولوا: بسم الله ، اللهم لك وإليك عقيقة فلان» .

Diriwayatkan Aisyah bahwa Rasulullah Saw meng-aqiqah-kan Hasan dan Husein dan berkata: “Ucapkanlah: dengan nama Allah, ya Allah, untuk-Mu dan kepada-Mu Aqiqah si fulan”.

Hukum Daging dan Kulit Aqiqah.

حكم اللحم كالضحايا، يؤكل من لحمها، ويتصدق منه، ولا يباع شيء منها. ويسن طبخها، ويأكل منها أهل البيت وغيرهم في بيوتهم

Hukum daging Aqiqah sama menyerupai daging kurban. Dagingnya dimakan, disedekahkan, dihentikan dijual meskipun sedikit. Disunnatkan semoga dimasak, dimakan bersama keluarga dan orang lain di rumah.

وأجاز الإمام أحمد في رواية عنه بيع الجلد والرأس والتصدق به.

Imam Ahmad bin Hanbal -dalam satu riwayat- memperbolehkan menjual kulit dan kepala Aqiqah lalu mensedekahkan hasil penjualannya. (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 4/287).

Memberi Nama dan Mencukur Rambut.

ومن السنة أن يختار للمولود اسم حسن ويحلق شعره ويتصدق بوزنه فضة إن تيسر ذلك، لما رواه أحمد والترمذي عن ابن عباس، أن النبي، صلى الله عليه وسلم، عق عن الحسن بشاة، وقال: يا فاطمة، احلقي رأسه وتصدقي بوزنه فضة على المساكين، فوزناه فكان وزنه درهما أو بعض درهم.

Termasuk amalan Sunnah memilihkan nama yang baik untuk anak, mencukur rambutnya dan berzakat seberat perak dari berat rambut tersebut, bila memungkinkan. Berdasarkan riwayat Imam Ahmad dan at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, bahu-membahu Rasulullah Saw meng-aqiqah-kan Hasan satu ekor kambing, dia berkata: “Wahai Fathimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah seberat perak dari rambut itu, sedekahkan kepada orang-orang miskin”. Maka kami pun menimbang rambutnya, beratnya satu Dirham (uang perak), atau sebagian Dirham. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/328).

Aqiqah dan Kurban.

Tidak ada kaitan antara Aqiqah dan Kurban. Oleh lantaran itu orang yang belum Aqiqah tetap boleh berkurban.

Akan tetapi bila bertepatan antara hari Aqiqah dan Kurban, maka berdasarkan Mazhab Hanbali:

قالت الحنابلة: وإذا اجتمع يوم النحر مع يوم العقيقة فإنه يمكن الاكتفاء بذبيحة واحدة عنهما، كما إذا اجتمع يوم عيد ويوم جمعة واغتسل لاحدهما.

Mazhab Hanbali berpendapat: bila bertepatan antara hari Kurban dengan Aqiqah, maka cukup menyembelih satu ekor sembelihan saja. Sama menyerupai bertepatan antara hari raya dengan hari Jum’at, maka cukup satu mandi saja. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 3/328).

Thursday, 5 March 2020

Pendapat Mazhab Wacana Posisi Duduk Tasyahud Akhir

Bagaimana Posisi Duduk Tasyahhud Akhir?




Ulama Berbeda pendapat dalam dilema ini:

Menurut Mazhab Hanafi:

Tasyahhud Awal dan Tasyahhud Akhir sama-sama duduk Iftirasy.

Menurut Mazhab Maliki:

Tasyahhud Awal dan Tasyahhud Akhir sama-sama duduk Tawarruk.

Menurut Mazhab Syafi’i:

Tasyahhud Awal duduk Iftirasy dan Tasyahhud Akhir duduk Tawarruk.

Tasyahhud Akhir pada shalat shubuh juga duduk Tawarruk, sebab duduk terakhir.

Mazhab Hanbali:

Tasyahhud Awal duduk Iftirasy dan Tasyahhud Akhir duduk Tawarruk.

Pada shalat hanya dua rakaat, maka Tasyahhud Akhir duduk Iftirasy.

Lengkapnya sanggup dilihat dalam keterangan berikut ini:
صفة الجلوس للتشهد الأخير عند الحنفية، كصفة الجلوس بين السجدتين، يكون مفترشاً كما وصفنا، سواء أكان آخر صلاته أم لم يكن، بدليل حديث أبي حميد الساعدي في صفة صلاة رسول الله صلّى الله عليه وسلم «أن النبي صلّى الله عليه وسلم جلس ـ يعني للتشهد ـ فافترش رجله اليسرى، وأقبل بصدر اليمنى على قبلته» (رواه البخاري، وهو حديث صحيح حسن (نيل الأوطار: 2/275) وقال وائل بن حجر: «قدمت المدينة، لأنظرن إلى صلاة رسول ا لله صلّى الله عليه وسلم ، فلما جلس ـ يعني للتشهد ـ افترش رجله اليسرى، ووضع يده اليسرى على فخذه اليسرى، ونصب رجله اليمنى» (أخرجه الترمذي، وقال: حديث حسن صحيح (نصب الراية: 1/419، نيل الأوطار: 2/273)

وقال المالكية: يجلس متوركاً في التشهد الأول والأخير (الشرح الصغير: 1/329 ومابعدها) ، لما روى ابن مسعود «أن النبي صلّى الله عليه وسلم كان يجلس في وسط الصلاة وآخرها متوركاً» (المغني: 1/533) .

وقال الحنابلة والشافعية: يسن التورك في التشهد الأخير، وهو كالافتراش، ولكن يخرج يسراه من جهة يمينه ويلصق وركه بالأرض، بدليل ما جاء في حديث أبي حميد الساعدي: «حتى إذا كانت الركعة التي تنقضي فيها صلاته، أخرَّ رجله اليسرى، وقعد على شقه متوركاً، ثم سلَّم» (رواه الخمسة إلا النسائي، وصححه الترمذي، ورواه البخاري مختصراً (نيل الأوطار: 2/184) والتورك في الصلاة: القعود على الورك اليسرى، والوركان: فوق الفخذين كالكعبين فوق العضدين. لكن قال الحنابلة: لا يتورك في تشهد الصبح؛ لأنه ليس بتشهدٍ ثانٍ، والذي تورك فيه النبي بحديث أبي حميد هو التشهد الثاني للفرق بين التشهدين، وما ليس فيه إلا تشهد واحد لا اشتباه فيه، فلاحاجة إلى الفرق.

والخلاصة: إن التورك في التشهد الثاني سنة عند الجمهور، وليس بسنة عند الحنفية.

Mazhab Hanafi:

Bentuk duduk Tasyahhud Akhir berdasarkan Mazhab Hanafi menyerupai bentuk duduk antara dua sujud, duduk Iftirasy (duduk di atas telapak kaki kiri), apakah pada Tasyahhud Awal atau pun pada Tasyahhud Akhir. Berdasarkan dalil hadits Abu Humaid as-Sa’idi dalam sifat Shalat Rasulullah Saw: “Sesungguhnya Rasulullah Saw duduk –maksudnya duduk Tasyahhud-, Rasulullah Saw duduk di atas telapak kaki kiri, ujung kaki kanan ke arah kiblat”. (Hadits riwayat Imam al-Bukhari, hadits shahih hasan (Nail al-Authar: 2/275). Wa’il bin Hujr berkata: “Saya hingga di Madinah untuk melihat Rasulullah Saw, saat dia duduk –maksudnya yaitu duduk Tasyahhud- Rasulullah Saw duduk di atas telapak kaki kiri, Rasulullah Saw meletakkan tangan kirinya di atas paha kiri, Rasulullah Saw menegakkan (telapak) kaki kanan”. (Hadits riwayat at-Tirmidzi, ia berkata: “Hadits hasan shahih”. (Nashb ar-Rayah: 1/419) dan Nail al-Authar: 2/273).

Menurut Mazhab Maliki:

Duduk Tawarruk (pantat melekat ke lantai) pada Tasyahhud Awal dan Akhir.  (Asy-Syarh ash-Shaghir: 1/329 dan setelahnya). Berdasarkan riwayat Ibnu Mas’ud: “Sesungguhnya Rasulullah Saw duduk di tengah shalat dan di tamat shalat dengan duduk Tawarruk (pantat melekat ke lantai). (al-Mughni: 1/533).

Menurut Mazhab Hanbali dan Syafi’i:

Disunnatkan duduk Tawarruk (pantat melekat ke lantai) pada Tasyahhud Akhir, menyerupai Iftirasy (duduk di atas telapak kaki kiri), akan tetapi dengan mengeluarkan kaki kiri ke arah kanan dan pantat melekat ke lantai. Berdasarkan dalil hadits Abu Humaid as-Sa’idi: “Hingga saat pada rakaat ia menuntaskan shalatnya, Rasulullah Saw memundurkan kaki kirinya, Rasulullah Saw duduk di atas sisi kirinya dengan pantat melekat ke lantai, lalu Rasulullah Saw mengucapkan salam”. (diriwayatkan oleh lima Imam kecuali an-Nasa’i. Dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi. Diriwayatkan al-Bukhari secara ringkas. (Nail al-Authar: 2/184). Duduk Tawarruk (menempelkan pantat ke lantai) dalam shalat adalah: duduk dengan sisi pantat kiri melekat ke lantai. Makna al-Warikan adalah: belahan pangkal paha, menyerupai dua mata kaki di atas dua otot.

Pendapat Mazhab Hanbali:

Akan tetapi tidak duduk Tawarruk (pantat melekat ke lantai) pada duduk Tasyahhud pada shalat Shubuh, sebab itu bukan Tasyahhud Kedua. Rasulullah Saw duduk Tawarruk berdasarkan hadits Abu Humaid yaitu pada Tasyahhud Kedua, untuk membedakan antara dua Tasyahhud. Adapun shalat yang hanya mempunyai satu Tasyahhud, maka tidak ada kesamaran di dalamnya, maka tidak perlu perbedaan.

Kesimpulan: duduk Tawarruk (pantat melekat ke lantai) pada Tasyahhud Kedua yaitu Sunnat berdasarkan jumhur ulama, tidak sunnat berdasarkan Mazhab Hanafi.

(Sumber: al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Syekh Wahbah az-Zuhaili: juz.2, hal.44).
فَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى ، وَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ .

Ketika Rasulullah Saw duduk pada rakaat kedua, dia duduk di atas kaki kiri dan menegakkan kaki kanan. Ketika Rasulullah Saw duduk pada rakaat terakhir, dia memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan, dia duduk di atas daerah duduknya.

(Hadits riwayat Imam al-Bukhari).
قَوْلُهُ : ) وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَة الْآخِرَة إِلَخْ )

فِي رِوَايَة عَبْد الْحَمِيد " حَتَّى إِذَا كَانَتْ السَّجْدَة الَّتِي يَكُون فِيهَا التَّسْلِيم "

وَفِي رِوَايَته عِنْد اِبْن حِبَّان " الَّتِي تَكُون خَاتِمَة الصَّلَاة أَخْرَجَ رِجْله الْيُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقّه الْأَيْسَر "

زَادَ اِبْن إِسْحَاق فِي رِوَايَته " ثُمَّ سَلَّمَ "

وَفِي رِوَايَة عِيسَى عِنْد الطَّحَاوِيّ " فَلَمَّا سَلَّمَ سَلَّمَ عَنْ يَمِينه سَلَام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَة اللَّه وَعَنْ شِمَاله كَذَلِكَ "

وَفِي رِوَايَة أَبِي عَاصِم عَنْ عَبْد الْحَمِيد عِنْد أَبِي دَاوُدَ وَغَيْره " قَالُوا - أَيْ الصَّحَابَة الْمَذْكُورُونَ - صَدَقْت ، هَكَذَا كَانَ يُصَلِّي "

 وَفِي هَذَا الْحَدِيث حُجَّة قَوِيَّة لِلشَّافِعِيِّ وَمَنْ قَالَ بِقَوْلِهِ فِي أَنَّ هَيْئَة الْجُلُوس فِي التَّشَهُّد الْأَوَّل مُغَايِرَة لِهَيْئَةِ الْجُلُوس فِي الْأَخِير ،

وَخَالَفَ فِي ذَلِكَ الْمَالِكِيَّة وَالْحَنَفِيَّة فَقَالُوا : يُسَوِّي بَيْنهمَا ،

لَكِنْ قَالَ الْمَالِكِيَّة : يَتَوَرَّك فِيهِمَا كَمَا جَاءَ فِي التَّشَهُّد الْأَخِير ، وَعَكَسَهُ الْآخَرُونَ .

وَقَدْ قِيلَ فِي حِكْمَة الْمُغَايَرَة بَيْنهمَا أَنَّهُ أَقْرَب إِلَى عَدَم اِشْتِبَاه عَدَد الرَّكَعَات ،

 وَلِأَنَّ الْأَوَّل تَعْقُبهُ حَرَكَة بِخِلَافِ الثَّانِي ، وَلِأَنَّ الْمَسْبُوق إِذَا رَآهُ عَلِمَ قَدْر مَا سُبِقَ بِهِ ،

 وَاسْتَدَلَّ بِهِ الشَّافِعِيّ أَيْضًا عَلَى أَنَّ تَشَهُّد الصُّبْح كَالتَّشَهُّدِ الْأَخِير مِنْ غَيْره لِعُمُومِ قَوْلُهُ " فِي الرَّكْعَة الْأَخِيرَة " ،

وَاخْتَلَفَ فِيهِ قَوْل أَحْمَد ، وَالْمَشْهُور عَنْهُ اِخْتِصَاص التَّوَرُّك بِالصَّلَاةِ الَّتِي فِيهَا تَشَهُّدَانِ .

“Ketika Rasulullah Saw duduk pada rakaat terakhir ... dan seterusnya”.

Dalam riwayat ‘Abd al-Hamid: “Hingga saat pada sujud yang padanya ada salam (sujud terakhir)”.

Dalam riwayat Ibn Hibban: “Yang pada epilog shalat, Rasulullah Saw mengeluarkan kaki kirinya, Rasulullah Saw duduk Tawarruk (menempelkan pantat ke lantai) pada sisi kiri”.

Ibnu Ishaq menambahkan pada riwayatnya: “Kemudian Rasulullah Saw mengucapkan salam”.

Dalam riwayat Isa pada ath-Thahawi: “Ketika Rasulullah Saw mengucapkan salam, pada salam ke kanan dia mengucapkan: ‘Assalamu’alaikum wa rahmatullah’. Demikian juga saat salam ke kiri.

Dalam riwayat Abu ‘Ashim dari ‘Abd al-Hamid pada riwayat Abu Daud dan lainnya: “Mereka –para shahabat  yang disebutkan dalam riwayat- berkata: “Engkau benar, demikianlah Rasulullah Saw melakukan shalat”.

Dalam hadits ini terdapat dalil besar lengan berkuasa bagi Imam Syafi’i dan ulama yang sependapat dengannya bahwa bentuk duduk pada Tasyahhud Awal berbeda dengan bentuk duduk Tasyahhud Akhir.

Mazhab Maliki dan Mazhab Hanafi berbeda dengan ini, berdasarkan mereka: Tidak ada perbedaan antara Tasyahhud Awal dan Tasyahhud Akhir.

Akan tetapi Mazhab Maliki berkata: Duduk Tawarruk pada Tasyahhud Awal dan Tasyahhud Akhir,

Mazhab lain berbeda dengan ini.

Ada yang beropini bahwa nasihat adanya perbedaan cara duduk pada Tasyahhud Awal dan Tasyahhud Akhir semoga tidak terjadi kesamaran pada jumlah rakaat.

Juga sebab Tasyahhud Awal diiringi gerakan berikutnya, berbeda dengan Tasyahhud Akhir.

Juga sebab orang yang masbuq apabila ia melihat cara duduk tersebut, ia mengetahui berapa rakaat yang tertinggal.

Mazhab Syafi’i juga berdalil bahwa duduk Tasyahhud pada shalat Shubuh menyerupai duduk Tasyahhud Akhir pada shalat yang lain sebab lafaz yang bersifat umum: [فِي الرَّكْعَة الْأَخِيرَة ] pada rakaat terakhir.

Berbeda dengan pendapat Imam Ahmad, pendapat yang masyhur darinya bahwa duduk Tawarruk hanya khusus pada shalat yang mempunyai dua Tasyahhud (Tasyahhud Awal dan Tasyahhud Akhir).

(Sumber: Fath al-Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani).

Adakah Shalat Qabliyah Maghrib?

Tentang Qabliyah Maghrib.


عَبْدُ اللَّهِ الْمُزَنِىُّ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « صَلُّوا قَبْلَ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ » . - قَالَ فِى الثَّالِثَةِ - لِمَنْ شَاءَ

Dari Abdullah al-Muzani, dari Rasulullah Saw: “Shalatlah kau sebelum Maghrib. Shalatlah kau sebelum Maghrib. Shalatlah kau sebelum Maghrib, bagi siapa yang mau”. (HR. Al-Bukhari).
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ { : كُنَّا نُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرَانَا ، فَلَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا} .

Dari Ibnu Abbas: “Kami melakukan shalat dua rakaat sehabis karam matahari, Rasulullah Saw melihat kami, ia tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami”. (HR. Muslim).
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ الْمُؤَذِّنُ إِذَا أَذَّنَ قَامَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - يَبْتَدِرُونَ السَّوَارِىَ حَتَّى يَخْرُجَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - وَهُمْ كَذَلِكَ يُصَلُّونَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ ، وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ شَىْءٌ

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Ketika mu’adzin telah mengumandangkan azan, para shahabat shalat menghadap tiang hingga Rasulullah Saw keluar (rumah), para shahabat sedang melakukan shalat dua rakaat sebelum Maghrib. Tidak ada apa-apa antara adzan dan iqamah. (HR. Al-Bukhari).
مَرْثَدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْيَزَنِىَّ قَالَ أَتَيْتُ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ الْجُهَنِىَّ فَقُلْتُ أَلاَ أُعْجِبُكَ مِنْ أَبِى تَمِيمٍ يَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ . فَقَالَ عُقْبَةُ إِنَّا كُنَّا نَفْعَلُهُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - . قُلْتُ فَمَا يَمْنَعُكَ الآنَ قَالَ الشُّغْلُ .

Martsad bin Abdullah al-Yazani berkata: “Saya tiba menemui ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhani, saya katakan kepadanya: “Apakah tidak absurd bagaimu melihat Abu Tamim shalat dua rakaat sebelum Maghrib?”. ‘Uqbah menjawab: “Kami melaksanakannya pada kurun Rasulullah”. Saya bertanya: “Apa yang membuatmu tidak melaksanakannya sekarang?”. Ia menjawab: “Kesibukan”. (HR. Al-Bukhari).

Untuk menghindari biar jangan terjadi konflik, mengingat waktu shalat Maghrib yang singkat, jangan hingga alasannya yakni Qabliyah Maghrib waktu Maghrib habis, maka dibatasi, 5 menit sehabis dikumandangkan azan pribadi iqamah, wallahu a'lam.

Tentang Bersalaman Sebelum Dan Setelah Shalat

Hadits Bersalaman Sebelum dan Setelah Shalat




Teks Hadits:
باب الْمُصَافَحَة

 وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ عَلَّمَنِى النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - التَّشَهُّدَ ، وَكَفِّى بَيْنَ كَفَّيْهِ .

وَقَالَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ ، فَإِذَا بِرَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَامَ إِلَىَّ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ يُهَرْوِلُ ، حَتَّى صَافَحَنِى وَهَنَّأَنِى .

Bab: Bersalaman.

Ibnu Mas’ud berkata: “Rasulullah Saw mengajarkan Tasyahhud kepada saya. Telapak tangan saya berada di antara dua telapak tangan Rasulullah Saw (Bersalaman).

Ka’ab bin Malik berkata: “Saya masuk ke masjid,  Rasulullah Saw ada di dalam masjid, Thalhah bin ‘Ubaidillah berlari-lari kecil tiba menyalami saya dan mengucapkan tahni’ah”. (HR. al-Bukhari).
عَنْ قَتَادَةَ قَالَ قُلْتُ لأَنَسٍ أَكَانَتِ الْمُصَافَحَةُ فِى أَصْحَابِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ نَعَمْ .

Dari Qatadah, ia berkata: “Saya katakana kepada Anas: “Apakah bersalaman itu ada pada shahabat Rasulullah Saw?”. Ia menjawab: “Ya”. (HR. al-Bukhari).
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ هِشَامٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ .

Dari Abdullah bin Hisyam, ia berkata: “Kami bersama Rasulullah Saw, dia meraih tangan Umar bin al-Khatthab (bersalaman)”. (HR. al-Bukhari).
باب الأَخْذِ بِالْيَدَيْنِ . وَصَافَحَ حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ ابْنَ الْمُبَارَكِ بِيَدَيْهِ .

Bab: Mengambil dengan kedua tangan (bersalaman).

Imam Hammad bin Zaid bersalaman dengan Imam Abdullah bin al-Mubarak dengan kedua tangannya. (HR. al-Bukhari).

Keutamaan Bersalaman.

1.Mendapatkan Ampunan.
عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا ».

Dari al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Dua orang muslim bertemu, bersalaman, maka Allah mengampuni mereka berdua sebelum keduanya berpisah”. (HR. at-Tirmidzi).

2.Menghilangkan Dengki.

تَصَافَحُوا يَذْهَب الْغِلّ

“Bersalamanlah kamu, sebab bersalaman itu menghilangkan hasad dengki”. (Riwayat Imam Malik, hadits Mursal, dha’if, tetapi layak untuk fadha’il a’mal (keutamaan amal).

3.Menggugurkan Dosa.

وعن حذيفة بن اليمان عن النبى صلى الله عليه وسلم قال "إن المؤمن إذا لقى المؤمن فسلم عليه وأخذ بيده فصافحه تناثرت خطاياهما كما يتناثر ورق الشجر" رواه الطبرانى فى الأوسط . يقول المنذرى فى كتابه الترغيب والترهيب : ورواته لا أعلم فيهم مجروحا

Dari Hudzaifah bin al-Yaman, dari Rasulullah Saw, Beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang mu’min dikala bertemu dengan saudaranya mu’min, ia mengucapkan salam, ia meraih tangannya kemudian bersalaman dengannya, maka berguguran dosa mereka berdua sebagaimana berguguran daun kayu”. (Hadits riwayat Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath.

Imam a-Hafizh al-Mundziri berkata dalam kitab at-Targhib wa at-Tarhib: “Para periwayatnya tidak ada yang majruh (dha’if)”.

Bersalaman Setelah Shalat.

Pendapat Imam Nawawi:

قَالَ النَّوَوِيّ : وَأَصْل الْمُصَافَحَة سُنَّة ، وَكَوْنهمْ حَافَظُوا عَلَيْهَا فِي بَعْض الْأَحْوَال لَا يُخْرِج ذَلِكَ عَنْ أَصْل السُّنَّة

Pendapat Imam Nawawi: Hukum Asal bersalaman ialah Sunnah, bahwa mereka melazimkan bersalaman pada waktu tertentu, hal itu tidak mengeluarkannya dari aturan asal Sunnah.

Pendapat Syekh ‘Athiyyah Shaqar Mufti al-Azhar:

والوجه المختار أنها غير محرمة ، وقد تدخل تحت ندب المصافحة عند اللقاء الذى يكفر الله به السيئات ، وأرجو ألا يحتد النزاع فى مثل هذه الأمور. التى تفيد ولا تضر، وحديث مسلم صريح فى أن من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة

Pendapat pilihan dalam problem ini bahwa bersalaman sesudah shalat itu tidak haram, termasuk dalam kategori ajuan bersalaman dikala bertemu yang sanggup menutupi dosa-dosa, saya berharap masalah-masalah yang tidak mendatangkan manfaat dan mudharat menyerupai ini tidak menyebabkan konflik diantara kau muslimin. Dalam hadits riwayat Muslim terperinci disebutkan bahwa siapa yang melaksanakan tradisi yang baik, maka ia menerima akhir pahalanya dan pahala orang lain yang melakukannya sampai hari kiamat. (Sumber: Fatawa al-Azhar, juz.8, hal.477).

Ulama Mazhab Wacana Berapa Hari Shalat Qashar

Ulama tidak setuju wacana hal ini, ada beberapa pendapat ulama:
Mazhab Hanafi:

فقال الحنفية: يصير المسافر مقيماً ، ويمتنع عليه القصر إذا نوى الإقامة في بلد خمسة عشر يوماً، فصاعداً، فإن نوى تلك المدة، لزمه الإتمام، وإن نوى أقل من ذلك قصر.

Tetap boleh shalat Qashar sampai menjadi mukim, dihentikan qashar shalat jikalau berniat mukim di suatu negeri selama 15 hari lebih. Jika berniat mukim selama itu, maka mesti shalat normal. Jika berniat kurang daripada itu, maka shalat qashar.

Mazhab Malik dan Mazhab Syafi’i:

قال المالكية والشافعية: إذا نوى المسافر إقامة أربعة أيام بموضع، أتم صلاته؛ لأن الله تعالى أباح القصر بشرط الضرب في الأرض، والمقيم والعازم على الإقامة غير ضارب في الأرض،

Jika orang yang musafir itu berniat menetap empat hari, maka ia shalat secara normal, sebab Allah membolehkan shalat Qashar dengan syarat perjalanan. Orang yang mukim dan berniat mukim tidak dianggap melaksanakan perjalanan

وقدر المالكية المدة المذكورة بعشرين صلاة في مدة الإقامة، فإذا نقصت عن ذلك قصر.

ولم يحسب المالكية والشافعية يومي الدخول والخروج على الصحيح عند الشافعية؛ لأن في الأول حط الأمتعة، وفي الثاني الرحيل، وهما من أشغال السفر.

Mazhab Maliki :

Mazhab maliki mengukur kadar mukim tersebut dengan 20 shalat. Jika kurang dari itu, boleh shalat Qashar.

Mazhab Maliki dan Syafi’I tidak menghitung hari masuk dan hari keluar, berdasarkan pendapat shahih dalam Mazhab Syafi’I, sebab yang pertama yaitu hari meletakkan barang-barang dan yang kedua yaitu hari keberangkatan, kedua hari tersebut hari kesibukan dalam perjalanan.

Mazhab Hanbali:

وقال الحنابلة: إذا نوى أكثر من أربعة أيام أو أكثر من عشرين صلاة، أتم،

Jika orang yang musafir itu berniat mukim lebih dari empat hari atau lebih dari 20 shalat, maka ia shalat secara normal.

Berapa jarak boleh meng-qashar shalat?
وتقدر بحوالي (89 كم) وعلى وجه الدقة:88.704 كم ثمان وثمانين كيلو وسبع مئة وأربعة أمتار، ويقصر حتى لو قطع تلك المسافة بساعة واحدة، كالسفر بالطائرة والسيارة ونحوها

Diukur dengan ukuran kini lebih kurang 89km, detailnya: 88.708m. Tetap shalat Qashar meskipun sanggup ditempuh dalam satu jam perjalanan, menyerupai musafir memakai pesawat, kendaraan beroda empat dan sejenisnya.

(Syekh Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu)

Wednesday, 4 March 2020

Menunda Atau Mengakhirkan Shalat Isya

Apakah Boleh Mengakhirkan Shalat Isya'




Hadits Pertama:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُؤَخِّرُوا الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِهِ ».

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Kalaulah bukan alasannya ialah memberatkan bagi ummatku, pastilah saya perintahkan mereka menunda shalat Isya’ sampai sepertiga atau setengah malam”. (HR. at-Tirmidzi).

Pendapat Kedua:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أَعْتَمَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ لَيْلَةٍ حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اللَّيْلِ وَحَتَّى نَامَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى فَقَالَ « إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى ». وَفِى حَدِيثِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ « لَوْلاَ أَنْ يَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى ».

Dari Aisyah, ia berkata: “Pada suatu malam Rasulullah Saw mengakhirkan shalat Isya’ sampai sebagian besar malam telah berlalu dan sampai jamaah telah tertidur, kemudian Rasulullah Saw keluar dan melakukan shalat, dia bersabda: “Sesungguhnya inilah waktunya, kalaulah bukan alasannya ialah memberatkan bagi ummatku”. Dalam hadits riwayat Abdurrazzaq: “Kalaulah bukan alasannya ialah memberatkan bagi ummatku”. (Hadits riwayat Imam Muslim).

Hadits Ketiga:

وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا يُؤَخِّرُهَا وَأَحْيَانًا يُعَجِّلُ

Dan shalat Isya’, terkadang Rasulullah Saw mengakhirkannya dan terkadang menyegerakannya. (Hadits riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah, klarifikasi perihal waktu shalat).

Pendapat Imam at-Tirmidzi:

وَهُوَ الَّذِى اخْتَارَهُ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَالتَّابِعِينَ وَغَيْرِهِمْ رَأَوْا تَأْخِيرَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ الآخِرَةِ وَبِهِ يَقُولُ أَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ.

(Mengakhirkan shalat Isya’), Ini ialah pendapat yang dipilih oleh dominan ulama dari kalangan shahabat nabi, tabi’in dan selain mereka. Menurut mereka pelaksanaan Isya’ diakhirkan, demikian berdasarkan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ishaq. (Sumber: Kitab Sunan at-Tirmidzi).

 Pendapat ulama Arab Saudi Syekh Muhammad Shalih al-Munajjid:

وقد اعتاد الناس في بعض البلاد تأخير صلاة العشاء في رمضان نصف ساعة أو نحواً من هذا عن أول وقتها ، حتى يفطر الناس على مهل ويستعدوا

لصلاة العشاء والتراويح .

وهذا العمل لا بأس به ، بشرط ألا يؤخر الإمام الصلاة إلى حد يشق على المأمومين كما سبق .

والأولى في هذا الرجوع إلى أهل المسجد ، والاتفاق معهم على وقت الصلاة ، فهم أعلم بما يناسبهم .

والله أعلم .

Banyak orang terbiasa mengakhirkan shalat Isya di sebagian negeri pada bulan Ramadhan sampai setengah jam atau sekitar itu dari waktunya, semoga orang banyak sanggup berbuka dengan nyaman dan berkemas-kemas melakukan shalat Isya’ dan Tarawih. Perbuatan menyerupai ini boleh dilakukan dengan syarat imam dihentikan mengakhirkan shalat Isya’ sampai memberatkan ma’mum. Masalah ini kembali kepada jamaah masjid, janji mereka, mereka lebih mengerti waktu yang sesuai bagi mereka, wallahu a’lam. (Sumber: Fatawa al-Islam, juz.1, hal.3882).