Friday, 3 January 2020

Benarkah Penggunaan Kalender Masehi Dalam Keadaan Tertentu Dibolehkan?

Benarkah Penggunaan Kalender Masehi Dalam Keadaan Tertentu Dibolehkan?
Benarkah Penggunaan Kalender Masehi Dalam Keadaan Tertentu Dibolehkan Benarkah Penggunaan Kalender Masehi Dalam Keadaan Tertentu Dibolehkan?5 Rahasia dibalik kalender masehi).
Berikut anutan wacana hal ini:
Fatwa Lajnah Da’imah Kerajaan Arab Saudi no. 20722
Pertanyaan: “Apa aturan berinteraksi dengan kalender masehi dengan orang-orang yang tidak mengetahui kalender Hijriyyah, mirip kaum muslimin non Arab atau orang-orang kafir kawan kerja?”
Jawab: Tidak boleh bagi kaum muslimin memakai kalender Masehi lantaran sebetulnya hal tersebut merupakan bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang-orang nashara (nasrani) dan termasuk syi’ar agama mereka. Sebenarnya kaum Muslimin, walhamdulillah, telah mempunyai kalender yang telah mencukupi diri mereka yang mengaitkan mereka dengan Nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekaligus ini merupakan kemuliaan yang besar. Namun apabila ada suatu kebutuhan yang sangat mendesak maka boleh menggabung kedua kalender tersebut. Wabillahit taufiq”.
Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil Buhutsil ‘Ilmiyah Wal Ifta`
Anggota: Bakr Abu Zaid, Shalih Al-Fauzan, ‘Abdullah bin Ghudayyan
Wakil Ketua: ‘Abdul ‘Azîz Alusy Syaikh
Ketua: ‘Abdul Azîz Bin ‘Abdillah bin Baz
Dari klarifikasi di atas sanggup diambil kesimpulan bahwa penetapan kalender masehi sebagai simbol bagi suatu negara dan memakai perhitungan tanggal dengannya dalam banyak sekali hal, baik acara kenegaraan maupun individu (dalam hal surat-menyurat, perdagangan, dan kegiatan yang lainnya) yaitu bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang nasrani, serta ikut menyemarakkan syi’ar agama mereka, padahal nash syariat memperlihatkan haramnya hal tersebut. Inilah aturan asalnya.

Hukum Penggunaan Kalender Masehi Ketika Ada Kebutuhan

Alhamdulillah, dalam Islam, jumlah perkara yang diharamkan jauh lebih sedikit daripada perkara yang dihalalkan, padahal dalam perkara yang diharamkan pun, saat dalam keadaan darurat atau hajat setingkat aturan darurat, maka ada akomodasi dan keringanan, di antara kaidah-kaidah tersebut adalah:
Kaidah darurat
الضرورات تبيح المحضورات
“Keadaan darurat membolehkan larangan (yang haram)”
الحاجة العامة تنزل منزلة الضرورة
“Kebutuhan hajiyyah (sekunder) yang sifatnya umum kedudukannya disamakan mirip kebutuhan darurat”
الضرورات تقدر بقدرها
“(Pemenuhan) kebutuhan darurat diukur sesuai dengan ukurannya (secukupnya)”
ارتكاب أخف الضررين
“Mengambil kemudharatan (bahaya) yang paling ringan di antara dua mudharat (bahaya)”
Berdasarkan kaidah-kaidah di atas, maka bisa disimpulkan sebagai berikut:
Pada asalnya haram memakai kalender masehi dan wajib memakai kalender Hijriyyah. Hukum ini meliputi seluruh idividu dan negeri-negeri Islam. Akan tetapi bila dihadapkan kepada keadaan terpaksa memakai kalender masehi, maka ada rincian hukumnya:
  1. Berkaitan dengan orang yang tinggal di negara dengan kalender masehi, apabila peraturan di sana membolehkan untuk memakai kalender Hijriyah bersamaan dengan kalender masehi, maka wajib bagi setiap individu untuk memakai kalender Hijriyah di surat-menyurat dan kegiatan-kegiatan mereka semampu mereka lantaran hal itu yaitu bentuk pelestarian terhadap kalender Hijriyah sebagai simbol bagi umat Islam, dan meminimalisir mafsadat (kerusakan) yang terjadi yang disebabkan penggunaan kalender masehi. Jadi, tidak mengapa untuk memanfaatkan kalender masehi, akan tetapi hanya sebagai pembantu kalender Hijriyah yang beliau (kalender masehi) disebutkan di belakang kalender masehi saat diperlukan atau saat ada maslahat (kebaikan) yang kuat. Contohnya kita katakan,sekarang tanggal 29 Shafar 1436 H bertepatan dengan 22 Desember 2010“.Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kita katakan bila kita dihadapkan pada petaka yang mirip ini, sehingga kita harus menyebutkan kalender masehi juga, maka hendaknya yang disebutkan terlebih dahulu yaitu kalender Hijriyyah Arab yang Syar’i lalu gres kita katakan bahwa tanggal sekian hijriyyah bertepatan dengan tanggal sekian Masehi” (Liqaul Babil  Maftuhhttp://sh.rewayat2.com/fkh3ame/Web/7687/006.htm).
  2. Jika seseorang tinggal di negara yang peraturannya wajib memakai kalender masehi dan dihentikan memakai kalender Hijriyyah, maka beliau berkewajiban mengingkari semampunya dengan mempertimbangkan maslahat (kebaikan) dan mudharat (bahaya) dengam bimbingan ulama.Fadhilatusy Syaikh Dr. Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin rahimahullah berkata, “Adapun kalau peraturan resmi sebuah negara melarang mengisyaratkan kepada penanggalan Hijriyah selamanya, dan mereka memeranginya, maka wajib bagi setiap individu dalam kondisi mirip ini untuk mengerahkan kemampuannya dalam mengingkari dan memperlihatkan pesan yang tersirat dan juga memperhatikan perkara ini dan mempertimbangkan antara maslahat (kebaikan) dan mafsadat (kerusakan) yang kemungkinan terjadi dan berusaha menghilangkan sebab-sebab mafsadat (kerusakan) yang terjadi dan berusaha meminimalisir pengaruh yang ditimbulkannya, apabila mustahil menghilangkannya. Dan masuk dalam pembahasan ini yaitu berinteraksi dengan negara dan perusahaan dunia yang berpatokan dengan kalender masehi, maka boleh memakai kalender masehi saat ada kebutuhan” (Istikhdamut Tarikhil Miladi, http://www.dorar.net/art/223).
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan menjaga kita dari kehinaan dan menimbulkan kita sebagai umat pemimpin dunia, merasa mulia dengan Islam dan syi’arnya. Amin.
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukkasyah
Sumber : Muslim.Or.Id

Thursday, 2 January 2020

Jasa Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam

Jasa Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam
 Kebutuhan penduduk bumi kepada para Rasul Jasa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam


Kebutuhan penduduk bumi kepada para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam tidaklah sama menyerupai kebutuhan mereka terhadap matahari, bulan, angin, dan hujan. Bahkan tidaklah sanggup disamakan dengan kebutuhan insan terhadap hidupnya, tidak pula sama menyerupai kebutuhan bola mata insan kepada cahaya, dan tidak pula sama  seperti kebutuhan badan kepada makanan dan minuman. Bahkan lebih dari itu semua.
Ketahuilah, semoga Allah merahmati Anda, bahwa kedudukan para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah mediator antara Allah dengan hamba-Nya dalam memberikan perintah dan larangan-Nya. Mereka yaitu utusan Allah kepada makhluk-Nya, mengajak insan melakukan fatwa agama Allah, memberikan risalah Allah dan memberi petunjuk mereka kepada jalan Allah yang lurus.
Melalui siapakah insan mendapat rahmat Allah?
Rasulullah Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan epilog para Nabi dan para Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, pemimpin, paling utama dan  paling mulia diantara mereka disisi Allah Ta’ala, telah Allah Ta’ala utus untuk menjadi rahmat bagi alam semesta,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiyaa`: 107).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,
ثم أثنى على رسوله، الذي جاء بالقرآن فقال: { وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ } فهو رحمته المهداة لعباده، فالمؤمنون به، قبلوا هذه الرحمة، وشكروها، وقاموا بها، وغيرهم كفرها، وبدلوا نعمة الله كفرا، وأبوا رحمة الله ونعمته.
“Kemudian Allah memuji Rasul-Nya yang membawa Wahyu Al-Qur`an, dengan berfirman وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ , maka ia yaitu bentuk kasih sayang-Nya yang dihadiahkan kepada hamba-hamba-Nya” (Tafsir As-Sa’di, hal. 618).
Al-Baghawi rahimahullah mengatakan,
[وقال ابن عباس : هو عام في حق من آمن ومن لم يؤمن فمن آمن فهو رحمة له ] في الدنيا والآخرة ومن لم يؤمن فهو رحمة له في الدنيا بتأخير العذاب عنهم
Ibnu Abbas menjelaskan, ‘Hal ini (tentang keberadaan ia sebagai rahmat) sifatnya umum, baik rahmat untuk orang yang beriman, maupun untuk orang yang tidak beriman. Barangsiapa yang beriman maka ia menjadi rahmat baginya] di dunia dan akhirat. Adapun orang yang tidak beriman, maka ia rahmat baginya di Dunia (saja) dalam bentuk diakhirkan adzab dari orang tersebut’”. (Tafsir Al-Baghawi :196).
Dengan diutusnya  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita, berarti Allah menyayangi kita, dengan menurunkan wahyu yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisikan petunjuk kepada setiap kebaikan dan menjauhkan insan dari setiap keburukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyayangi kita, dengan menjelaskan wahyu tersebut dengan sebaik-baik klarifikasi dan menberi teladan bagaimana mengamalkannya. Beliau sangat sayang kepada umatnya, sehingga tidak ada satupun kebaikan kecuali ia tunjukkan dan tidak ada satupun keburukan kecuali ia peringatkan umat darinya. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rahmatan lil’alamin.
Allah pun mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya untuk ta’at kepada beliau, mencintainya, memuliakannya, dan menunaikan hak-haknya .Beliau juga diutus oleh Allah sebagai hujjah atas seluruh makhluk-Nya.
Siapakah yang mengajarkan petunjuk Allah kepada umat ini sehingga mereka sanggup keluar dari kegelapan menuju cahaya?  
Allah Subhanahu mengutus beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masa kosongnya pengutusan para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, ketika diselewengkannya kitab Allah sebelum Al-Qur`an dan digantinya ajaran-ajaran syari’at sebelum Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ)
“Sesungguhnya Allah melihat penduduk bumi, Dia sangat membenci mereka, baik bangsa Arab maupun non-Arab  kecuali orang-orang dari Ahlul Kitab (yang masih berpegangteguh dengan agama mereka yang murni)” (HR. Imam Muslim : 2865). Demikianlah keadaan masyarakat ketika diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, banyak diantara mereka yang karam ke dalam kesyirikan dan kerusakan.
Kemudian Allah pun memberi hidayah merekamenjelaskan kepada mereka jalan kebenaran, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan cara mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka, Allah berfirman,
…قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا
… Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepada kalian,
رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقًا
(Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Allah yang pertanda (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan berinfak saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh pasti Allah akan memasukkannya ke dalam Surga-Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka baka di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memperlihatkan rezeki yang baik kepadanya. (Ath-Thalaaq: 10-11).
Melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamlah Allah mengakibatkan orang yang buta hatinya menjadi melihat, orang yang menyimpang menjadi lurus. Allah mengakibatkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang menjelaskan perbedaan Surga dan Neraka, perbedaan jalan keduanya dan perbedaan penduduk keduanya. Allah jadikan petunjuk dan keberuntungan ada pada mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kesesatan dan kesengsaraan ada pada mendurhakai dan menyimpang dari petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bagaimanakah insan sanggup selamat dari siksa di alam kubur?
Allah Ta’ala menguji para makhluk di alam kubur dengan diajukan pertanyaan wacana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka.
فعن أنس رضي الله عنه : عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَيَقُولُ : أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ، فَيُقَالُ : انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ . قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا ، وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ ، فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ . ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ))
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba bila diletakkan di dalam kuburnya dan para pengantarnya telah kembali pulang, serta teman-temannyapun telah pergi sampai dia benar-benar mendengarkan ukiran sandal-sandal mereka. Datang kepadanya dua malaikat, maka keduanya mendudukkannya dan bertanya kepadanya, ‘Apa pendapatmu wacana orang ini (yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam)? Adapun seorang yang mukmin akan menjawab, ’Aku bersaksi bekerjsama dia yaitu hamba Allah dan Rasul-Nya’. Maka dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah kepada tempatmu di Neraka, sungguh telah digantikan oleh Allah dengan sebuah daerah di Surga. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kemudian dia melihat kedua daerah tersebutAdapun orang kafir atau munafik, maka dia akan menjawab, “Aku tidak tahu, dulu saya hanya berkata mengikuti apa yang dikatakan kebanyakan orang.” Maka dikatakan kepadanya, “Kamu tidak mengetahuinya dan tidak mengikuti orang yang mengerti”. Kemudian dia dipukul dengan palu godam besar yang terbuat dari besi dengan sekali pukulan di antara kedua telinganya, maka dia berteriak dengan teriakan yang sanggup didengar oleh yang ada di sekitarnya kecuali oleh dua makhluk (jin dan manusia).”  (HR. Al-Bukhari: 1338 dan Muslim: 2870).
Bagaimana seseorang sanggup menjawab pertanyaan di alam kubur, bila tidak mengenal dan menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajarannya, tidak mengikutinya dan tidak taat kepadanya?
Bagaimanakah Anda sanggup tahu tata cara beribadah yang dikehendaki oleh Allah?
Begitu sayangnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita, sehingga mengajarkan kepada kita bahwa tujuan hidup insan yaitu mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya saja. Beliapun tidak membiarkan kita kebingungan mencaritahu tatacara beribadah kepada Allah yang benar, bahkan dengan sabar dan telatennya ia mengajarkan bagaimana tatacara beribadah tersebut kepada kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan sholat, dengan bersabda,
وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya shalat” (HR. Al-Bukhari dan yang lainnya).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan tatacara haji, dengan bersabda,
خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِى لَعَلِّى أَنْ لاَ أَحُجَّ بَعْدَ حَجَّتِى هَذِهِ
“Ambillah dariku manasik-manasik haji kalian, alasannya sesungguhnya saya tidak mengetahui, mungkin saja saya tidak berhaji sehabis hajiku ini” (HR. Muslim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah mengajarkan kepada umatnya,
مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
‘Barangsiapa yang berwudhu menyerupai wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat, tidak berkata-kata di jiwanya (khusyu’) dalam dua roka’at tersebut, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.’” (HR. Bukhari  dan Muslim).
Bagaimanakah Anda sanggup masuk Surga?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya tips supaya mereka masuk Surga,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
Setiap umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.” Mereka bertanya, “Siapa yang enggan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, Barang siapa ta’at kepadaku maka dia pasti masuk Surga dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku maka dialah yang enggan” (HR. al- Bukhari)
Betapa besarnya jasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita, maka pantaslah bila setiap apa yang dilakukan oleh umat Islam, ia mendapat pahala menyerupai pahala perbuatan mereka!
Dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshori Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang memperlihatkan kepada kebaikan, maka dia mendapat pahala sebagaimana pahala pelakunya“.
Oleh alasannya itu Ulama telah menjelaskan bahwa setiap yang dilakukan oleh umat Islam, maka ia mendapat pahala menyerupai pahala perbuatan mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun juga, alasannya beliaulah yang memperlihatkan kepada mereka seluruh amal kebaikan.
***
Diolah dari goresan pena Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah yang berjudul: فضل النبي صلى الله عليه وسلم ووجوب اتباعه
di: http://al-badr.net/muqolat/2545, dengan beberapa tambahan.

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id

Keutamaan Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’An (1)

Keutamaan Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’An (1)
 alasannya ia mengetahui demikian banyak keutamaan dan keistimewaan yang Allah anugerahkan ke Keutamaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’an (1)


Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, Mengetahui keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong seseorang untuk mencintainya, mengikutinya dan ta’at kepadanya, alasannya ia mengetahui demikian banyak keutamaan dan keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, berupa keindahan sifatnya, akhlaknya, kebaikannya atas umat ini serta seluruh keutamaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah yang paling mulia di sisi Allah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki keutamaan yang sangat tinggi, yang tidak sanggup dicapai seorangpun dari seluruh makhluk yang lain di alam semesta ini. Di antara keutamaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan di dalam Al-Qur’an dan ada pula yang disebutkan di dalam hadits. Beberapa keutamaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur`an adalah:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sayang dan mengasihi umatnya

Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh telah tiba kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (kebaikan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah:128)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
وقوله : {عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ} أي : يعز عليه الشيء الذي يعنت أمته ويشق عليها  …وفي الصحيح :”إن هذا الدين يسر”  وشريعته كلها سهلة سمحة كاملة ، يسيرة على من يسرها الله تعالى عليه .
“Dan firman-Nya {عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ}, maksudnya sangat berat bagi dia sesuatu yang memberatkan umatnya dan menyulitkannya dan dalam Hadits shahih, ‘Sesungguhnya agama ini mudah’, dan syari’at-Nya semuanya simpel mudah lagi sempurna, simpel bagi orang yang Allah Ta’ala mudahkan.”
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,
{‏حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ‏}‏ فيحب لكم الخير، ويسعى جهده في إيصاله إليكم، ويحرص على هدايتكم إلى الإيمان، ويكره لكم الشر، ويسعى جهده في تنفيركم عنه‏.‏ ‏{‏بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ‏}‏ أي‏:‏ شديد الرأفة والرحمة بهم، أرحم بهم من والديهم‏.‏
ولهذا كان حقه مقدمًا على سائر حقوق الخلق، وواجب على الأمة الإيمان به، وتعظيمه، وتعزيره، وتوقيره
“{‏حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ‏}, maka dia mengasihi kebaikan untuk kalian dan berusaha dengan keras memberikan kebaikan kepada kalian, dan bersemangat memberi petunjuk kalian kepada keimanan dan membenci keburukan menimpa kalian, berusaha dengan keras semoga kalian jauh darinya. ‏{‏بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ‏}‏, maksudnya sangat belas kasihan lagi penyayang kepada mereka, melebihi kasih sayang orangtua mereka sendiri kepada diri mereka. Oleh alasannya inilah hak dia didahulukan atas hak-hak seluruh makhluk, dan wajib umat ini beriman kepada beliau, mengagungkannya, menghormatinya dan memuliakannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat semangat berdakwah dan mendidik umatnya.

Allah Ta’ala berfirman
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman saat Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan As-Sunnah. Dan sebenarnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka yaitu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imraan:164).
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
وقوله : { لقد من الله على المؤمنين إذ بعث فيهم رسولا من أنفسهم } أي : من جنسهم ليتمكنوا من مخاطبته وسؤاله ومجالسته والانتفاع به
“Dan firman Allah  {لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ} maksudnya (Allah mengutus seorang Rasul) dari jenis mereka (manusia), semoga mereka sanggup berkomunikasi dengannya, bertanya kepadanya, duduk menemaninya dan mengambil manfaat darinya.”
Beliau juga berkata:
فهذا أبلغ في الامتنان أن يكون الرسل إليهم منهم ، بحيث يمكنهم مخاطبته ومراجعته في فهم الكلام عنه ، ولهذا قال : { يتلو عليهم آياته } يعني : القرآن  {ويزكيهم } أي : يأمرهم بالمعروف وينهاهم عن المنكر لتزكو نفوسهم وتطهر من الدنس والخبث الذي كانوا متلبسين به في حال شركهم وجاهليتهم { ويعلمهم الكتاب والحكمة } يعني : القرآن والسنة { وإن كانوا من قبل } أي : من قبل هذا الرسول { لفي ضلال مبين } أي : لفي غي وجهل ظاهر جلي بين لكل أحد
“Hal ini merupakan bentuk mengingatkan atas nikmat yang paling mengena, yaitu (Allah jadikan) para Rasul-Nya yang diutus kepada mereka dari jenis mereka sendiri (manusia), sehingga memungkinkan mereka berkomunikasi dan menemuinya untuk bertanya perihal maksud ucapannya. Oleh alasannya itulah Allah berfirman: {يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ} maksudnya (membacakan) Al-Qur`an, {وَيُزَكِّيهِمْ} (membersihkan jiwa mereka) maksudnya memerintahkan mereka untuk melaksanakan masalah yang ma`ruf dan melarang mereka dari berbuat kemungkaran, semoga suci jiwa-jiwa mereka dan higienis dari kotoran serta keburukan yang dulu mereka lakukan saat masih karam dalam kesyirikan dan jahiliyyah.  {وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ} maksudnya (Mengajarkan) Al-Qur`an dan As-Sunnah, {وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ} maksudnya sebelum (pengutusan ) Rasulullah ini, لَفِي} ضَلَالٍ مُبِينٍ} maksudnya (mereka) benar-benar dalam penyimpangan dan kebodohan yang nampak terang dan kasatmata  bagi setiap orang.
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
{ ويزكيهم } من الشرك، والمعاصي، والرذائل، وسائر مساوئ الأخلاق
“{وَيُزَكِّيهِمْ} (membersihkan ) dari kesyirikan, kemaksiatan dan perkara-perkara yang hina dan akhlak-akhlak yang buruk.”
Beliau juga berkata:
{ وإن كانوا من قبل } بعثة هذا الرسول { لفي ضلال مبين } لا يعرفون الطريق الموصل إلى ربهم، ولا ما يزكي النفوس ويطهرها، بل ما زين لهم جهلهم فعلوه، ولو ناقض ذلك عقول العالمين
“{وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ} (sebelum) pengutusan Rasulullah ini, {لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ} tidak mengetahui jalan yang menghantarkan kepada Rabb mereka, tidak pula menghantarkan kepada sesuatu yang sanggup mensucikan jiwa dan membersihkannya, bahkan sesuatu yang dihiasi oleh kebodohan merekapun, mereka lakukan walaupun bertentangan dengan logika  sehat seluruh makhluk yang lainnya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah saksida’i ilallah pembawa kabar bangga dan pemberi peringatan serta cahaya yang menerangi.

Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
(45) Hai Nabi, sebenarnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan,
وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
(46) dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (A-Ahzaab: 45-46).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sifat-sifat (dalam Ayat) ini, yang Allah sifati dengannya Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, inilah tujuan, inti dan masalah yang pokok dari diutusnya dia (menjadi seorang Rasul), yang menjadi ciri khas beliau. Dan masalah tersebut yaitu lima sifat.”
Pertama
Beliau sebagai {شَاهِدًا }, maksudnya dia menjadi saksi atas umatnya berkenaan dengan perbuatan yang mereka lakukan, baik itu perbuatan kebaikan maupun keburukan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
{لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا}
Agar kalian (umat Islam) menjadi saksi atas (perbuatan) insan dan semoga Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (Al-Baqarah:143)
{ فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا }
Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila     Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu).” (An-Nisa`:41).  Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang saksi yang adil dan diterima persaksiannya.
Kedua dan ketiga
Beliau sebagai (pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan) {مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا}  dan ini mengharuskan untuk disebutkan siapakah orang yang diberi kabar bangga dan peringatan, serta apakah isi kabar bangga dan peringatannya tersebut beserta amal yang menyebabkannya. Adapun orang yang diberi kabar gembira adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa yang menggabungkan antara iman, amal shalih dan meninggalkan kemaksiatan, maka mereka berhak mendapat kabar bangga di kehidupan dunia, berupa semua akhir yang baik, baik akhir duniawi maupun agama, sebagai buah cantik dari keimanan dan ketakwaan. Sedangkan di akherat berupa kenikmatan yang kekal.
Semua hal ini mengharuskan disebutkannya perincian perihal masalah tersebut (isi kabar gembira), berupa perincian amal shalih, bentuk-bentuk ketakwaan, dan banyak sekali macam pahala (balasan yang baik). Adapun orang diberi peringatan, mereka yaitu orang-orang yang berbuat dosa lagi zhalim, maka mereka pantas mendapat peringatan di dunia berupa eksekusi duniawi dan agama, sebagai imbas jelek kejahilan dan kezhalimannya. Di Akhirat, pantas mendapat siksa pedih dan adzab yang lama. Perincian hal ini ada dalam fatwa yang dia shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa, baik dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah yang meliputi hal tersebut.
Keempat
{دَاعِيًا إِلَى اللَّهِ } Maksudnya ( dia sebagai da’i yang) Allah utus mengajak makhluk menuju kepada Rabb mereka, membawa mereka untuk dimuliakan oleh-Nya dan memerintahkan mereka untuk beribadah kepada-Nya yang mereka memang diciptakan untuk itu (beribadah kepada-Nya), hal ini memperlihatkan konsekuensi keistiqamahan dia di atas fatwa yang dia serukan, dan memperlihatkan keharusan penyebutan perincian isi dakwah dia berupa mengenalkan kepada mereka perihal sifat-sifat Rabb mereka yang suci, mensucikan-Nya dari sesuatu yang tidak layak dengan keagungan-Nya, menyebutkan banyak sekali macam ibadah dan cara berdakwah yang paling simpel mengantarkan kepada Allah, memperlihatkan haknya masing-masing kepada setiap yang berhak, memurnikan dakwah dengan tulus alasannya Allah, bukan mengajak kepada dirinya dan bukan untuk memuliakan dirinya, sebagaimana hal ini terjadi pada banyak orang dalam persoalan ini. Semua itu terjadi dengan izin, perintah, kehendak dan taqdir  Allah Ta’ala atas diri dia dalam berdakwah.
Kelima
Beliau sebagai (cahaya yang menerangi) {سِرَاجًا مُنِيرًا }, ini berarti bahwa (sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) makhluk berada dalam kegelapan yang besar, tidak ada cahaya yang dengannya mereka mendapat petunjuk dan tidak ada pula ilmu yang dengannya mereka  mendapatkan petunjuk dalam kebodohan mereka sampai Allah pun utus Nabi yang mulia ini, maka Allah sinari kegelapan-kegelapan itu dengan kehadiran beliau, Dia mengajarkan ilmu (agar mereka keluar) dari kebodohan-kebodohan dengan kehadiran beliau, dan dengan kehadiran dia pula, Allah memberi petunjuk orang-orang yang sesat kepada jalan-Nya yang lurus. Maka jadilah dia sosok (da’i) yang lurus, dia telah menjelaskan jalan yang lurus kepada mereka, merekapun berjalan mengikuti sang imam ini, dan mereka mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, serta (bisa membedakan) orang yang berbahagia dengan orang yang celaka, melalui beliau.
Mereka mengambil cahaya dengan diutusnya dia sebagai Rasul untuk mengetahui sesembahan mereka yang hak, dan mengenal-Nya melalui sifat-sifat-Nya yang terpuji, perbuatan-perbuatan-Nya yang benar dan hukum-hukum-Nya yang lurus.
***
Insyaallah akan berlanjut kepada Keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Al-Qur`an (2).

Diolah dari transkip ceramah Syaikh Rabi’ Al-Madkholi hafizhahullah di http://www.sahab.net/forums/?showtopic=132217 , dengan pelengkap tafsir diambilkan dari : http://quran.ksu.edu.sa/.

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id

Keutamaan Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’An (2)

Keutamaan Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’An (2)
Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu  Keutamaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’an (2)bagian yang pertama sudah disebutkan tiga keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam Al-Qur`an Al-Karim, adapun selanjutnya, berikut ini disebutkan lima keutamaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agar bisa semakin menguatkan kecintaan kita terhadap beliau, lebih-lebih lagi kecintaan kita kepada Sang Pengutusnya, Allah Ta’ala.

Allah meninggikan penyebutan nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak satupun makhluk yang bisa menyamainya

Allah Ta’ala berfirman,
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
(1)”Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ
(2) dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu,
الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ
(3) yang memberatkan punggungmu?
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
(4) Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu” (Al-Insyiraah: 1-4).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Firman Allah Ta’ala -dalam rangka mengingatkan nikmat-Nya yang dianugerahkan kepada Rasul-Nya { أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ }maksudnya, Kami lapangkan dadanya untuk mendapatkan syari’at Islam dan untuk berdakwah (mengajak manusia) kepada Allah, untuk bersifat dengan budpekerti yang baik, semangat menyambut akhirat, dan memudahkan kebaikan-kebaikan hingga tidak sempit dadanya. Setiap kali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan kebaikan.
Tentang Ayat yang selanjutnya dia menafsirkan,
{وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ }, maksudnya  dan Kami telah menghilangkan darimu dosamu.
{الَّذِي أَنْقَضَ} maksudnya yang memberatkan
{ظَهْرَكَ} punggungmu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ
“Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah kemudian dan yang akan datang.”
{وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ} maksudnya Kami tinggikan derajatmu dan Kami jadikan kebanggaan untukmu kebanggaan yang indah lagi tinggi yang tidak pernah satupun dari makhluk yang bisa mencapainya, maka tidaklah disebutkan (nama) Allah kecuali disebutkan nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama nama-Nya. Sebagaimana dikala (seseorang) masuk Islam, adzan, iqamah, khutbah, dan selainnya dari perkara-perkara yang Allah tinggikan dengannya penyebutan nama Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau di hati umatnya, sangat dicintai, dimuliakan, dan diagungkan, dengan bentuk (kecintaan, pemuliaan, dan pengagungan) yang tidak ada tandingannya setelah Allah Ta’ala.

Tidaklah Allah bersumpah dengan kehidupan seorangpun kecuali dengan kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman,
لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ
“Demi kehidupanmu (Muhammad), bergotong-royong mereka terombang-ambing di dalam kesesatan” (Al-Hijr: 72).
Al-Baghawi rahimahullah mengatakan,
قال الله تعالى: {لعمرك} يا محمد أي وحيات {إنهم لفي سكرتهم} حيرتهم وضلالتهم {يعمهون } يترددون
Allah Ta’ala berfirman : {لَعَمْرُكَ} wahai Muhammad, (maksud sumpah disini) yaitu “Demi kehidupanmu”, {إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ} (sesungguhnya mereka benar-benar berada di dalamkebingungan dan kesesatan mereka, {يَعْمَهُونَ} mereka terombang-ambing.
Beliau juga berkata,
روي عن أبي الجوزاء عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : ما خلق الله نفسا أكرم عليه من محمد صلى الله عليه وسلم، وما أقسم الله تعالى بحياة أحد إلا بحياته .
Diriwayatkan dari Abul Jauza` dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Allah tidaklah membuat jiwa yang lebih mulia dari jiwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidaklah Allah Ta’ala bersumpah dengan kehidupan seorang pun kecuali dengan kehidupan dia ”.

Allah menjaga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari segala keburukan

Allah Ta’ala berfirman,
وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ
“Allah memelihara kau dari (gangguan) manusia” (Al-Maaidah: 67).
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
وقوله :{ والله يعصمك من الناس} أي : بلغ أنت رسالتي ، وأنا حافظك وناصرك ومؤيدك على أعدائك ومظفرك بهم ، فلا تخف ولا تحزن ، فلن يصل أحد منهم إليك بسوء يؤذيك .
“Firman Allah {وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ } maksudnya sampaikanlah syari’at-Ku, pasti Aku akan
menjaga, menolong dan menguatkanmu menghadapi musuh-musuhmu, serta memenangkanmu mengalahkan mereka, maka janganlah engkau takut dan janganlah bersedih, tidak akan ada satupun dari mereka yang bisa menyakitimu dengan keburukan apapun yang ditujukan kepadamu.”

Ajaran yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa, berasal dari Allah Ta’ala, bukanlah hasil karangan beliau

Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ
(3) “dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) berdasarkan kemauan hawa nafsunya.
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
(4) Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (An-Najm: 3-4).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,
{ وما ينطق عن الهوى } أي : ما يقول قولا عن هوى وغرض {إن هو إلا وحي يوحى} أي : إنما يقول ما أمر به ، يبلغه إلى الناس كاملا موفرا من غير زيادة ولا نقصان
{وما ينطق عن الهوى } maksudnya dia tidaklah mengucapkan ucapan (dalam urusan agama) yang bersumber dari hawa nafsu dan interes pribadi, {إن هو إلا وحي يوحى} maksudnya semata-mata dia hanya menyampaikan apa yang diperintahkan kepada beliau, dia pun menyampaikannya kepada insan dengan sempurna, lengkap, tanpa penambahan dan pengurangan (sedikitpun).
Al-Baghawi rahimahullah mengatakan,
{إن هو} ما نطقه في الدين ، وقيل : القرآن { إلا وحي يوحى } أي : وحي من الله يوحى إليه .
“{إن هو}, tidaklah dia mengucapkan ucapan (tentang agama) ada pula yang beropini wacana Al-Qur`an {إلا وحي يوحى } maksudnya (ucapannya itu tiada lain hanyalah) wahyu dari Allah yang diwahyukan kepadanya.”

Seluruh budpekerti yang ada dalam Al-Qur`an beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan semuanya

Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan bergotong-royong engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al-Qolam: 4).
Al-Baghawi rahimahullah berkata,
{وإنك لعلى خلق عظيم }قال ابن عباس ومجاهد : دين عظيم لا دين أحب إلي ولا أرضى عندي منه ، وهو دين الإسلام وقال الحسن : هو آداب القرآن . سئلت عائشة رضي الله عنها عن خلق رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقالت : كان خلقه القرآن وقال قتادة : هو ما كان يأتمر به من أمر الله وينتهي عنه من نهي الله ، والمعنى إنك على الخلق الذي أمرك الله به في القرآن .
{وإنك لعلى خلق عظيم } Ibnu ‘Abbas dan Mujahid mengatakan, “(Beliau beragama) dengan agama yang agung, (yang) di sisi-Ku, tidak ada agama yang lebih Aku cintai dan ridhai daripadanya, dan agama tersebut yaitu agama Islam”.
Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ia ( “khuluq” dalam Ayat ini) yaitu adab-adab Al-Qur`an”.
‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah ditanya wacana budpekerti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia pun menjawab, “Akhlak dia yaitu (melaksanakan seluruh yang ada dalam) Al-Qur`an”. Qatadah mengatakan, Ia (“Khuluq” dalam Ayat ini) yaitu sesuatu yang dia laksanakan dari perintah Allah dan sesuatu yang dia jauhi dari larangan Allah, dan makna Ayat di atas: Sesungguhnya engkau benar-benar berakhlak  dengan budpekerti yang diperintahkan Allah dalam Al-Qur`an. Wallahu a’lam.
Insyaallah akan berlanjut kepada Keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Al-Qur`an Al-Karim (3).
***
Diolah dari transkip ceramah Syaikh Rabi’ Al-Madkholi hafizhahullah di: http://www.sahab.net/forums/?showtopic=132217 ,  dan  transkip khuthbah Abdul Hamiid, di http://www.alminbar.net/alkhutab/khutbaa.asp?mediaURL=1039, dengan komplemen tafsir diambilkan dari : http://quran.ksu.edu.sa/.

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id

Keutamaan Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’An (3)

Keutamaan Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’An (3)
Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu  Keutamaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’an (3)


Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:
Jika kita ingin menyayangi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cinta yang benar maka kita dituntut untuk berusaha mengenal keutamaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang tercantum dalam Al-Qur`an maupun Al-Hadits. Pada belahan yang pertama dan kedua, sudah disebutkan delapan keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Al-Qur`an Al-Karim, adapun selanjutnya, berikut ini lima keutamaan ia  shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya.

9. Allah Ta’ala mentarbiyyah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebaik-baik tarbiyyah (pendidikan dan pemeliharaan)

Allah Ta’ala berfirman,
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
“Dan bekerjsama hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sebelumnya (permulaan)”
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
“Dan kelak Tuhanmu niscaya menunjukkan karunia-Nya kepadamu , kemudian (hati) kau menjadi puas” (Adh-Dhuha: 4-5).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
وأما حاله المستقبلة، فقال: { وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى } أي: كل حالة متأخرة من أحوالك، فإن لها الفضل على الحالة السابقة. فلم يزل صلى الله عليه وسلم يصعد في درج المعالي ويمكن له الله دينه، وينصره على أعدائه، ويسدد له أحواله، حتى مات، وقد وصل إلى حال لا يصل إليها الأولون والآخرون، من الفضائل والنعم، وقرة العين، وسرور القلب. ثم بعد ذلك، لا تسأل عن حاله في الآخرة، من تفاصيل الإكرام، وأنواع الإنعام، ولهذا قال: { وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى } وهذا أمر لا يمكن التعبير عنه بغير هذه العبارة الجامعة الشاملة.
Adapun keadaan yang akan datang, maka Allah berfirman,
“{وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى} (Dan bekerjsama hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sebelumnya (permulaan), maksudnya setiap keadaanmu yang terbaru, maka pastilah lebih baik dari keadaanmu di masa sebelumnya. Maka senantiasa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus meningkat ke derajat kesempurnaan yang lebih tinggi dan Allah mengakibatkan kejayaan agama-Nya untuknya. Dia menolongnya menghadapi musuh-musuhnya dan meluruskan keadaannya hingga (ketika) ia wafat, ia berhasil menggapai derajat keadaan yang tidak pernah dicapai oleh seluruh makhluk lainnya -dari makhluk pertama hingga yang terakhir-,(derajat keadaaan tersebut) berupa keutamaan, nikmat, penyejuk pandangan, dan kegembiraan hati beliau. Kemudian setelah itu, janganlah engkau menanyakan perihal keadaan ia di alam abadi berupa perincian kemuliaan dan banyak sekali macam kenikmatan (untuk beliau), oleh sebab itu Allah berfirman: {وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى}( Dan kelak Tuhanmu niscaya menunjukkan karunia-Nya kepadamu, kemudian (hati) kau menjadi puas), kenikmatan yang luas bagi ia tersebut, mustahil diungkapkan, kecuali dengan ungkapan (kepuasan)  yang umum dan menyeluruh ini.”

10. Allah Ta’ala memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan diturunkannya Al-Qur`anul Karim

Allah Ta’ala berfirman,
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا
“Dan demikianlah, Kami wahyukan (pula) kepadamu ruh (Al-Qur`an) dengan perintah Kami” (Asy-Syuuraa: 52).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah,
{ وَكَذَلِكَ } حين أوحينا إلى الرسل قبلك { أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا } وهو هذا القرآن الكريم، سماه روحا، لأن الروح يحيا به الجسد، والقرآن تحيا به القلوب والأرواح، وتحيا به مصالح الدنيا والدين، لما فيه من الخير الكثير والعلم الغزير.
“{وَكَذَلِكَ}(Dan demikianlah) ketika Kami wahyukan kepada para Rasul sebelummu, {أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا} (Kami wahyukan (pula) kepadamu ruh (Al-Qur`an) dengan perintah Kami) “Ruh” di sini ialah Al-Qur`anul Karim, Allah memberi nama Al-Qur`an dengan nama “Ruh”, sebab dengan ruh , jasad menjadi hidup. Adapun Al-Qur`an, dengannyalah hati dan ruh insan menjadi hidup, demikian pula kemaslahatan dunia dan agama menjadi hidup makmur dengannya, sebab di dalam Al-Qur`an terdapat kebaikan dan ilmu yang banyak.”

11. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah epilog para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam

Allah Ta’ala berfirman,
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ  الله وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ الله بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia ialah Rasulullah dan epilog nabi-nabi. Dan ialah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Ahzaab: 40).
Al-Baghawi rahimahullah berkata,
{ ولكن رسول الله وخاتم النبيين} ختم الله به النبوة ، وقرأ عاصم : ” خاتم ” بفتح التاء على الاسم ، أي : آخرهم ، وقرأ الآخرون بكسر التاء على الفاعل ، لأنه ختم به النبيين فهو خاتمهم . قال ابن عباس : يريد لو لم أختم به النبيين لجعلت له ابنا يكون بعده نبيا وروي عن عطاء عن ابن عباس : أن الله تعالى لما حكم أن لا نبي بعده لم يعطه ولدا ذكرا يصير رجلا {وكان الله بكل شيء عليما}.
{ولكن رسول الله وخاتم النبيين} (tetapi dia ialah Rasulullah dan epilog nabi-nabi) Allah menutup kenabian dengan beliau. Imam ‘Ashim membaca(nya): خَاتَمَ , yaitu dengan fathah aksara ت sebagai isim, maksudnya : Nabi terakhir. Adapun Imam-imam yang lain membaca(nya) dengan kasroh aksara  ت sebagai fa’il, karena dengan beliaulah ditutup para Nabi, maka ia ialah epilog mereka. Ibnu Abbas menyampaikan bahwa maksud Allah ialah seandainya tidak Aku tutup para Nabi dengannya, tentulah Aku menjadikannya mempunyai putra. yang nantinya akan menjadi Nabi sehabis beliau. Diriwayatkan dari ‘Atha` dari Ibnu ‘Abbas bahwa Allah Ta’ala tatkala menetapkan tidak adanya Nabi sehabis beliau, maka Dia tidaklah menganugerahkan anak laki-laki yang kelak menjadi seorang laki-laki dewasa, dan ialah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

12. Allah Ta’ala memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memanggil beliau

Yaitu dengan panggilan yang paling dicintai oleh ia atau dengan sifat ia yang paling mulia. Hal ini sebagaimana dalam dua firman Allah Ta’ala berikut ini:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, belum dewasa perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh badan mereka”. (Al-Ahzaab: 59).
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ
“Hai Rasul, janganlah hendaknya kau disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya” (Al-Maaidah : 41).
Sedangkan Allah memanggil para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam yang lainnya, eksklusif dengan nama-nama mereka
Hal ini sebagaimana terdapat di dalam beberapa firman Allah berikut ini:
وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kau dan isterimu di Surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kau sukai, dan janganlah kau berdua mendekati pohon ini, kemudian menjadilah kau berdua termasuk orang-orang yang zalim” (Al-A’raaf: 19).
قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ ۚ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami” (Huud: 48).
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ
“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim” (Ash-Shaaffaat: 104).
يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ
“Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya nasihat selagi ia masih kanak-kanak” (Maryam: 12).

13. Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memuliakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga melarang umat ia dari memanggilnya eksklusif dengan namanya dan melarang mereka mengeraskan bunyi mereka di atas bunyi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman,
لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا
“Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul diantara kalian ibarat panggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain)” (An-Nuur: 63).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
لا تجعلوا دعاء الرسول إياكم ودعائكم للرسول كدعاء بعضكم بعضا، فإذا دعاكم فأجيبوه وجوبا
“Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul diantara kalian ibarat panggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain), (maksudnya adalah) jikalau ia memanggil kalian, wajib kalian memenuhi panggilan beliau”.
Beliau juga menjelaskan:
وكذلك لا تجعلوا دعاءكم للرسول كدعاء بعضكم بعضا، فلا تقولوا: ” يا محمد ” عند ندائكم، أو ” يا محمد بن عبد الله ” كما يقول ذلك بعضكم لبعض، بل من شرفه وفضله وتميزه صلى الله عليه وسلم عن غيره، أن يقال: يا رسول الله، يا نبي الله.
“Dan demikian pula Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul diantara kalian ibarat panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain, maka janganlah kalian berkata “Ya Muhammad “, saat kalian memanggilnya. Atau (jangan pula dengan panggilan)“Ya Muhammad bin Abdullah“, sebagaimana sebagian kalian memanggil sebagian yang lain ibarat itu. Akan tetapi, sebab kemuliaan, keutamaan dan perbedaan ia dengan yang lain, maka selayaknyalah dipanggil dengan panggilan: Ya Rasulullah , ya Nabiyyullah”.
Adapun umat-umat terdahulu memanggil para Rasul  ‘alaihimush shalatu was salam langsung dengan nama-nama mereka
Hal ini sebagaimana terdapat di dalam beberapa firman Allah berikut ini :
قَالُوا يَا مُوسَى
“Bani lsrail berkata: “Hai Musa”. (Al-A’raaf: 138).
قَالُوا يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ
“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kau tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami sebab perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu” (Huud : 53).
وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
“Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kau ancamkan itu kepada kami, jikalau (betul) kau termasuk orang-orang yang diutus (Allah)” (Al-A’raaf: 77).
Allah pun melarang mereka mengeraskan bunyi mereka di atas bunyi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan bunyi kalian melebihi bunyi Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan bunyi yang keras, sebagaimana kerasnya bunyi sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, biar tidak hapus (pahala) amalan kalian, sedangkan kalian tidak menyadari” (Al-Hujuraat: 2).
In sya Allah akan berlanjut kepada keutamaan “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Al-Hadits Asy-Syarif (4)“.
***
Diolah dari transkip ceramah Syaikh Rabi’ Al-Madkholi hafizhahullah di: http://www.sahab.net/forums/?showtopic=132217 dan transkip khuthbah Abdul Hamiid, di http://www.alminbar.net/alkhutab/khutbaa.asp?mediaURL=1039

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id