Monday, 3 February 2020

Dia Bukan Jodohku (Bag. 1)

By : Raystaycool

Angin pagi ekspresi dominan dingin menyapa seorang cowok yang sedang menghafal Al-Quran dalam perjalanan. Pagi-pagi sekali sesudah shalat subuh, ia sudah keluar dari flatnya di Matariah menuju Hussein. Kegiatannya dimulai dengan menyetor hafalan Al-Quran, menghadiri talaqqi di Masjid al-Azhar dan muhadharah kuliah.

Selesai kuliah ia sambung lagi dengan talaqqi hingga waktu isya, kemudian berlabuh ke flat sempurna pukul 12 malam. Pergi pagi pulang malam menjadi makanannya sehari-hari, kecuali hari Jum'at dan Sabtu.

Malam Jum'at ialah waktu penilaian mingguan, tahajud dan muhasabah bagi Viki. Memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah ia lakukan. Sesekali ia meratapi kelalaiannya dari tingkat satu hingga tiga, yang menurutnya tak ada kemajuan.

Tak terbendung, air mata pun menetes lembut di atas hamparan sajadahnya. Penyesalan inilah yang memperabukan semangatnya menjalani sisa-sisa waktu di Kairo. Sedangkan Sabtu, hari refreshing-nya.

Sabtu ini, Viki menentukan silaturrahmi ke flat kakak kelasnya di Sabi'. Di sana mereka berbincang-bincang hangat, layaknya kakak beradik dalam satu keluarga. Seketika, ia teringat kakak kandungnya yang begitu cuek padanya, jarang menyapanya, apalagi cerita.

Kedua orangtuanya pun sudah usang meninggal sehingga membuatnya kurang mencicipi kehangatan keluarga. Apalagi dalam keadaannya yang jauh menyerupai ini, chatting saja tak pernah.

"Ah, biarlah! ia tak mungkin berubah" teriaknya dalam hati.

Setelah usang berbincang seputar kegiatan harian, layaknya seorang laki-laki yang berstatus kepala dua, perbincangan mulai ngawur.

"Jadi sesudah Lc ini, planningnya dengan siapa?" tanya Dani, kakak kelasnya.
"Maksudnya?" Viki penasaran.
"Ah, itu saja perlu penjelasan, planning nikah, Vik!" kata Dani.
"Hmm, umurku gres dua puluh tiga tahun ketika lulus, ngapain buru-buru coba? Abang yang udah dua lima, duluan dong" Viki menyindir.
"Kalo saya sih sudah terlanjur ambil S2 di al-Azhar, jadi harus fokus thesis dulu dua tahun lagi. Kalau kau kan belum terikat dengan apa pun, kesempatan!" ia menggoda.
"Kalau saja selesai itu dua tahun, kalau tidak bagaimana? mau lima tahun lagi?" Viki menahan tawa.
"Parah, bukannya doain yang bagus!"
"Laaah, itu sudah yang paling cantik lho, supaya kau cepat-cepat nikah!" ia diam, kemudian melanjutkan, "Tapi menurutku, mau kasih makan apa coba istri nanti kalau nikah ketika kita belum ada pekerjaan" suaranya merendah.
"Ini ni, kau keliru, Vik. Allah telah mengatur rezeki masing-masing hamba, jadi jangan takut!" bantah Dani.

Diskusi terus berlangsung seru, banyak nasihat mengelilingi dialog mereka. Tak terasa waktu sudah mengatakan pukul sepuluh malam. Viki pun pamit.

***
Perbincangan mereka tadi masih membekas diingatan Viki dalam perjalanan pulang.
Memorinya memutar-mutar kembali kisah Sekolah Menengan Atas dulu. Saat Viki sedang bercengkrama dengan sang kekasih hati, Maya, yang ditemani mitra sekelasnya, Novi.

"Viki ambil kuliah apa nanti?" tanya Novi.
"Mungkin antara Teknik Elektro dan Informatika. Novi apa?"
"Novi sih belum jelas, bimbang antara jalur IPA atau IPS. Kalau Maya?"
"Novi harus cepat-cepat mikir tu. Kalau Maya ambil Psikologi, kuliah empat tahun, kerja satu tahun, terus nikah" Maya menjawab dengan yakin."Berarti Maya sasaran nikah umur dua puluh tiga gitu?" tanya Novi.
"Iya! Soalnya umur di atas dua puluh tiga udah dibilang perawan renta dalam keluarga Maya, sebab kakak semua nikahnya sebelum umur dua puluh tiga. Oya, ingat tu Viki, Umur dua tiga!" ucapnya sambil tersenyum.

Suasana hening sejenak. Dalam pikirannya, Viki terus mencerna apa yang gres saja dikatakan Maya.

Umur dua puluh tiga? Sulit bagiku untuk menikah

"Hmm, umur dua puluh tiga Viki belum jadi apa-apa lagi, gimana mau nikah" ucap Viki mengerutkan dahi.Tiba-tiba bel tanda masuk pelajaran berbunyi sekaligus mengakhiri dialog mereka.

Setelah bencana itu, perilaku Viki ke Maya berubah, ia mulai menjaga jarak, tak yakin kekerabatan itu akan berhasil. Maya ialah cinta pertamanya, cinta yang tiba dari pandangan pertama. Walaupun Maya yang mengungkapkan cinta terlebih dulu padanya.

Viki bukanlah tipe lelaki yang mempermainkan wanita, kalau sekali ia melangkah, ia harus komitmen. Komitmen dalam hubungan, itu yang selalu dibutuhkan Viki. 

Tapi semenjak ketika itu komitmennya rapuh, ia sudah pada kesimpulan "Maya terlalu egois, ia hanya memikirkan keadaannya, tanpa mau memahami Aku"

Maya juga mencicipi perubahan Viki. Ia meratapi ucapannya yang tak semestinya ia ucapkan, rasa bersalahnya terus berkepanjangan, hingga risikonya Maya mengirim sms kepada Viki.

"Viki, Maya minta maaf ya, Maya enggak semestinya begitu, Maya tau itu terlalu egois"

Lama Maya menunggu jawaban dari Viki namun hpnya itu tak juga berdering. Di sekolah pun Maya dan Viki tidak saling bertemu menyerupai biasa.

Kesedihan Maya semakin bertambah setiap harinya, hatinya sakit. Di kelas, Maya tampak lesu, tak setegar dulu.

"Kenapa kau dengan Viki? ada masalah? dongeng dong sama Dara, jangan didiamin" sahabat sebangkunya mencoba menghibur.
"Enggak kenapa-napa, Dar" jawab Maya datar.
"Maya enggak dapat bohong sama Dara, Dara tau kok kenapa" Dara menarik nafas panjang,"Hmm, kan dari awal Dara sudah bilang, jangan lafazkan cinta itu sebelum waktunya datang, tapi titipkan ia pada Sang Pemilik Cinta"
"Jadi kini bagaimana Dar? Jangan pojokin Maya lagi dong!" tanya Maya duka dan kesal.
"Sekarang coba Maya muhasabah diri. Yakinlah bahwa itu taufiq dan hidayah dari Allah, supaya kita sadar dan tidak melanjutkan kekerabatan itu" nasihat Dara lembut.
"Iya, Dar, Maya coba ikuti saran Dara. Maya juga minta maaf dari awal enggak mau dengarin nasihat Dara" Maya pilu.

Sedikit demi sedikit Maya sadar maksud perkataan Dara, bahwa aplikasi cinta yang dijalaninya ini tersesat. Maya merenung cukup lama, membandingkan keadaannya ketika 'sendiri' dengan sekarang. Ia sadari ia khilaf.

Walau terlambat, dengan tekad yang kuat, ia titipkan cintanya ini kepada Allah bagaimana semestinya, dan sesudah hatinya damai Maya meng-sms Viki lagi,

"Viki, Maya minta maaf, Maya salah. Sekarang terserah Viki, Viki benci Maya, Viki anggap Maya egois. Mulai hari ini kita jalani aja kehidupan masing-masing. Sekali lagi Maya minta maaf ya."

*bersambung Bagian Dua Click Here


Sunday, 2 February 2020

Dia Bukan Jodohku (Tamat)

Google Image
By : Raystaycool
Kerja di kantor PU menciptakan hari-hari Aris berjalan ringan. Siang ini, ketika break kantor, ia mengotak-atik laptopnya, searching dan chatting. Ketika sedang asyik, ia melihat akun dengan nama Viki Hakem sedang online. Viki adiknya, sudah dua tahun mereka tidak saling berkomunikasi, semenjak adiknya sekolah di Kairo. Niat awalnya Aris ingin menyapa, namun tiba-tiba ia dikejutkan oleh rekan kerjanya.


"Aris! chatting mulu. Makan siang yuk. Semalam kau bilang ada yang mau dibicarakan, sekalian sambil makan. Waktu break hampir habis" tegur Andi.
"Siiip" ia hampir lupa janjinya, Aris eksklusif mematikan laptop dan bergegas ke kantin.

Lalu memesan sajian makan siang.
Siang itu, Aris ingin memberikan sesuatu yang sangat penting. Yang tak mungkin lagi ia sembunyikan terlalu lama. Ini yang menciptakan sebagian harinya tak tenang. Setelah yakin ia pun memulai.

"Andi, sory nih. Aku mau bicara sesuatu, penting! Tapi saya bukanlah orang puitis yang bisa merangkai kata-kata indah jadi tolong maklumlah."

Ia membisu sesaat dan melanjutkan, "dua tahun kita sudah berteman, selama itu saya sering ke rumah kamu, dengan cepat kita begitu akrab. Yang mau saya sampaikan, waktu saya ke rumah kamu, saya sering lihat satu gadis di rumahmu, namanya Maya kalau saya tidak salah dengar" ucap Aris blak-blakan.

"iya, Itu adik sepupu, Ris. Tumben kau ngebahas persoalan beginian!"
"Begini sobat, tanpa sengaja sebab sering melihatnya, akhir-akhir ini timbul rasa suka dalam diriku padanya."

"Aris, apa kau serius?!""Pertama, ini mungkin sebab umurku memang sudah layak untuk..." ia tak menuntaskan kalimatnya. Keduanya diam, masing-masing ada yang mengganjal dalam pikiran.

"Jangan terlalu formal gitu juga ah. Oke, begini, tiba saja ke rumahku tapi waktu saya tidak ada di rumah, bicara dengan bokapku dulu, sebab Maya sudah usang tinggal di rumahku, sehabis itu gres ke bokapnya.

Masalah ini Aku enggak mau bicara, lagian kau pun orangnya baik. Kalau ia bilang oke, saya ikut aja. Aku hanya sedikit heran, kenapa cinta bisa tiba tiba-tiba ibarat ini" ucapnya panjang.

Aris hanya tersenyum "Thank bro, yuk makan dulu" ajaknya.



***
Ketika waktunya tepat, Aris melangkah ke rumah Andi, ingin memberikan maksud hati yang telah usang terpendam. Ayah Andi pun menunjukkan alamat rumahnya supaya Aris berbicara eksklusif dengan Ayah Maya, pak Anto.

Selang beberapa hari, ia melangkah ke alamat yang diberikan. Masih dengan tujuan yang sama. Pak Anto menyambutnya hangat. Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud, pak Anto memintanya untuk kembali kamis depan.


Ia merasa satu tabir kehidupan mulai terungkap, hingga datangnya hari yang dimaksud. Ternyata disana sudah ada Maya dan keluarga serta Andi. Setelah Aris memberikan maksud hati. Ayahnya meminta persetujuan Maya. Maya tertunduk, perasaan aib dan bimbang jadi satu dalam dirinya.

"Maya tidak bisa jawab sekarang, Yah. Maya akan jawab sehabis tiga hari"


***

Jam 02:00 dini hari.


Maya bermunajat dalam istikharahnya. Rasa rindu akan cinta yang dulu mengalun merdu. Cinta yang dulu telah ia titipkan pada Sang Pemilik Cinta. Ia yakin, Viki masih menyimpan rasa yang sama, walaupun hingga dikala ini tak menyapanya. Sikap Viki tetapkan komunikasi menurutnya untuk membendung cinta supaya indah pada waktunya.


Namun dengan insiden ini, Maya memberanikan diri mengirim pesan kepada Viki melalui twitter, satu-satu penghubung yang mungkin tersampaikan. Ia meninggalkan segala keraguan dan terus menulis dengan bahasa yang sangat halus. Lalu mengirimnya.



***
Kairo jam 20:30.


Malam Jum'at ini Viki menentukan refreshing di depan layar PC yang sejajar dengan kasurnya sambil online. Ketika ia mengotak atik PC, ia melihat satu pesan di Twitter. Langsung saja ia buka. Pesan itu dari Maya. Ia heran, "sudah usang sekali, apa isinya?" ucapnya, dan mulai membaca.

"Viki, Maya telah dilamar oleh seseorang. Maya menangguhkan jawaban selama tiga hari. Maya bingung, Vik. Ia yaitu sahabat baik kakak sepupuku. Maya tak tau bagaimana dan apa alasan untuk menolak. Tolong bersuaralah demi saya yang diselimuti rasa rindu kepadamu"


Akhirnya hal yang saya bayangkan terjadi. Viki membatin.


Tak usang kemudian, hpnya berdering menandakan pesan masuk, dari Aris, abangnya.

"Viki, saya telah melamar seorang wanita, satu angkatan denganmu di SMA. Tapi belum ada jawaban darinya. Ia menangguhkan selama tiga hari. Mohon doanya supaya diterima."


"Orangnya yang lebih spesifik dong, Bang" Tanya Viki was-was. Firasatnya mulai tak enak.
"Maya Lestari" pesan dari seberang.
"Apa?!!" Viki terkejut. Seluruh dunia berhenti. Jantung Viki berdegup kencang. Sedikit sulit mencerna isi pesan itu. Apakah informasi ini benar? atau hanya mimpi? "Tidak, ini nyata!" hatinya kacau kala itu. Matanya berkaca-kaca membendung air mata kesedihan. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, larut dalam kesedihan.


Hidup ini kejam, sebegitu sempitkah dunia ini! Sampai orang-orang didalamnya harus berputar dalam satu bundar yang sama!


Ia berusaha damai dan bersikap lebih dewasa. Ini hanya soal cinta. Menurutnya, Percuma saja ia berguru agama kalau dengan cinta saja ia rapuh. Cintaku telah kutitipkan. Maya bukan siapa-siapaku.

Ia tak mungkin menyampaikan yang bersama-sama kepada Aris, itu akan memperkeruh suasana. Juga tak perlu mengatakannya pada Maya, biarlah waktu yang mengabarkan. Aku dihentikan egois, sedang saya sendiri belum siap.

Setelah dirinya damai ia balas sms abangnya,"Viki doakan semoga diterima, Bang".
Lalu ia duduk kembali di depan  PC nya. Menatap keyboard tajam, dan mulai mengetik,



Aku tak menyadari dikala cinta datang
Tapi saya pemain drama aktif dikala cinta itu pergi
Aku menjauh karna jalan cinta yang kita tempuh terlarang
Masih murni dihatiku rasa cinta itu


Masih terang dimataku dikala kau tersenyum
Juga masih terdengar di telingaku dikala kau berjanji
Namun untuk memenuhi keinginanmu saya tak mampu
Untuk menikahimu diumur dua puluh tiga

Aku tak siap
Kini saya kan berusaha melupakan semuanya
Melupakan kenangan pahit dan bagus dikala bersama
Cintaku telah ku titipkan
Hiduplah dalam mahligai kebahagiaan dengan cintamu



***

Setelah membaca tanggapan dari Viki, Maya menangis, "Viki, maafkan aku, saya hanya insan lemah yang tak bisa menguasai dunia, tapi dunia yang menguasaiku. Aku bukan tak mau menunggumu, tapi kau ibarat telah menutup keinginan itu dengan pergi begitu saja dari hidupku" kata Maya dalam hati. Ia menangis hingga tertidur di atas sajadah.


Dua insan yang tak saling mengenal akan menuju ke satu perahu keluarga. Kini Viki sepakat pendapat Stephen R. covey 'Cinta yaitu kata kerja, dan rasa cinta itu yaitu buah dari pekerjaan Cinta'.

Seiring berjalannya waktu, Maya pun tau bahwa Aris yaitu abangnya Viki. Awalnya ia sedih. Tapi Maya tak berdaya. Yang harus Ia lakukan kini yaitu melupakan masa lalunya.

Setelah menikah, sifat Aris yang dingin pada adiknya pun berubah. Abangnya kini sering menanyakan kabarnya lewat sms dan telepon. Satu sisi Viki merasa senang atas perubahan perilaku abangnya. Namun benaknya masih membeku menjadi perasaan saling bertentangan yang terpolarisasi dalam hitam dan putih, tak pernah terbayang abangnya sendiri yang membuatnya kehilangan cinta.

"Cinta yang saya perjuangkan dalam diam, telah pergi. Karena dunia lebih tahu 'Dia Bukan Jodohku"


*Penulis yaitu Anggota Buletin el Asyi.

Bagian Pertama Click Here



Monday, 27 January 2020

Cinta Kasih Ibu (1)


Oleh; Nani Hidayati

Indahnya ketika kita bisa memberi tanpa menuntut balas, give and forget. Menerima mungkin, tapi tidak mengharapnya kembali. Karena semua Ia lakukan hanya untuk menerima keridhaan Sang Khalik. Sesekali butiran bening itu meratapi semua tingkahnya selama puluhan tahun silam. Ketika Ia berani  pergi meninggalkan keluarga tanpa kabar, walau hanya dengan sepucuk surat. 

Alasannya sederhana, namun sangat menyesakkannya ketika itu, ibunya telah membuatnya malu, membuatnya hina dengan apa yang Ia punya. Tapi Kini, sempurna di final penyesalan itu tiba. Mengeluh dan menangis murung akan kepergian ibunya. Mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi, ibarat dahulu lagi.

*****
Ayahnya telah meninggal tujuh tahun kemudian ketika tsunami meluluhlantakkan Aceh. Sekarang Ia hanya tinggal dengan ibu. Yach, seorang ibu yang punya keterbatasan, alasannya ialah matanya tidak bisa melihat sebelah semenjak insiden itu. Tak jarang terdengar hinaan dan caci-maki dari sebagian bawah umur sekolah AL-TAFIA ketika bu Faridah menjajakan lontong. Tapi, semua itu Ia lalui kolam angin bertiup.

Seperti biasanya, bu Faridah mengayuh sepeda bututnya sembari menjajakan lontong.
Tepat di pekarangan sekolah.
“Eh, si buta datang“ kata Retno, anak kelas 3 A.
“Iya,yuk kita kerjain“ tambah Doni.
“Yuk“ sahut Dedi yang nggak kalah jailnya ngerjain orang tua.
“Hahahaha…si buta datang, si buta datang“ mereka sahut menyahut mengatai bu Faridah.

Mereka tidak hanya menghina, tapi mereka juga melukainya. Ditahanlah jalan laju sepeda miliknya dengan rantai, sempurna di tengah jalan. Ia jatuh tersungkur ke tanah, betapa malang nasib si ibu.

Dari kejauhan, Faiz melihat ibunya yang diperlakukan tidak hormat. Mata batinnya terluka, tapi ia mengabaikannya. Membiarkan ibu yang telah melahirkannya menjadi bualan teman-teman sekolah yang iseng itu. Berat Faiz meninggalkan ibunya dalam keadaan terluka, namun ia terlanjur aib untuk mengakui perempuan cedera itu ialah ibunya.

******
“Assalamualaikum pak“ Faiz mengucapkan salam pada wali kelas, pak Azman.
“Waalaikumsalam, masuk Faiz “ pinta pak Azman.
“Pak, Saya minta surat pernyataan wali murid perihal peluang beasiswa yang bapak bicarakan final pekan lalu.”
“Surat itu harus diambil oleh orang bau tanah Kamu“ lanjut pak Azman memberi pengertian.
“Pak, tapi…“suaranya terhenti.
“Iya, bapak mengerti Faiz. Tapi kau masih punya orang tua. Lain ceritanya kalau Kamu hanya tinggal sendiri”. Beliau menghela napas panjang.
“Okay, Saya izinkan Kamu untuk kali ini saja“, kata pak Azman sambil mencari surat yang dimaksudkan untuk Faiz.
“Iya pak,terima kasih“ sahut Faiz sembari menjabat tangan wali kelasnya.

Sepulang sekolah, Faiz membuka lembaran yang berisi kesediaan wali murid, kemudian menandatangani semua persetujuan itu.
“Anak ibu sudah makan?“ tanya bu Faridah dari ruang tengah.
“Iya bu, Saya sudah kenyang“ sahutnya mengharap ibu tidak membawakan masakan untuknya ketika itu.
“Eum, ya sudah. Nanti kalau mau makan ada mie goreng kesukaan Kamu  lho,dimakan ya“ goda ibu. 
“Iya bu, sebentar lagi Faiz makan “ia menjawab sekenanya, kemudian kembali fokus pada lembar beasiswa itu.

Keesokan harinya Faiz mengembalikan surat itu kepada pak Azman
“Pak,ini suratnya“ kata Faiz.
“Iya“, sambil mendapatkan surat dari tangan Faiz.
“Faiz“, panggil pak Azman.
“Iya pak“ sahut Faiz dan menoleh kearahnya.
“Faiz, tolong  perhatikan ibumu, jaga Dia baik-baik. Jangan biarkan Ia terluka, alasannya ialah ridha Allah ada pada keridhaan orang tua,dan kebencian Allah ada pada kebencian mereka”  begitulah notice pak Azman seakan tahu apa yang Ia perbuat selama ini.
“Baik pak “ jawab Faiz kemudian berpamitan.

*********

Tepat di sepertiga malam perempuan bau tanah itu bangkit dari tidurnya, memohon kehadirat Sang ilahi rabbi. Mengeluh dan mengadu semua keluh dan kesah yang Ia alami. Serta mencurahkan semua syukur atas dirinya dan Faiz.

“Ya Allah puji dan syukurku kepada-Mu, selawat dan salamku untuk Rasulullah yang tak pernah lelah dalam memberikan risalah-Mu. Tuhan Yang Maha Esa, ampunilah dosa-dosa yang pernah Aku lakukan dan yang dilakukan anakku, baik yang kami sengaja maupun tidak. Sesungguhnya ampunan-Mu sangat luas.

Ya Allah, syukurku atas nikmat sehat, Islam dan kepercayaan yang Engkau berikan. Ya Rabbi, Engkau yang mengetahui semua isi hati kami. Jadikanlah Faiz anak yang mempunyai kegunaan bagi nusa dan bangsa. Lindungi langkahnya, bahagiakanlah Ia didunia dan diakhirat, amin ya rabbal alamin…”

Setelah tahajud perempuan bau tanah itu menuju kamar Faiz, usang Ia mematung mengamati wajah buah hatinya yang sedang pulas. Hatinya amat senang mempunyai Faiz. Walaupun ketika ia menjajakan masakan di sekolah, Faiz tidak pernah muncul, apalagi makan bersama. Sungguh tulus perempuan ini mengais rezeki demi anaknya. Terkadang rindu membuncah, ingin melihat wajah dan polah aktif Faiz di sekolah.

Dikecupnya kening Faiz, “semoga Allah memberkahi dan melindungi langkahmu wahai anakku “ doa bu Faridah.

Itulah cinta tulus dan suci dari seorang ibu untuk anaknya. Cinta yang tidak pernah mengharap balas kebijaksanaan baiknya. Cinta yang menciptakan sang ibu merawatnya, mendoakannya sampai final hayat.

Bagian Kedua Click Here


Saturday, 25 January 2020

Cinta Kasih Ibu (Tamat)


Oleh; Nani Hidayati

Lima tahun sesudah Faiz pergi,tidak ada kabar gosip tentangnya. Sang ibu selalu mencoba berprasangka baik, mungkin anaknya terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga belum sempat kembali menjenguk ibunya. Iapun mengharapkan biar bisa berkumpul dengan Faiz tiap kali lebaran tiba. Karena waktu itu tanggal merah, kebanyakan perantau pulang ke kampung halamannya masing-masing. Tapi penantian itu selalu berakhir sia-sia.

Ketika Taufik tiba mengunjunginya di Maheng (nama kawasan terpencil di Aceh) Ia senantiasa menayakan keadaan dan keberadaan Faiz.
“Bagaimana kabar Faiz, nak?” tanya bu Faridah ingin tahu.
“Tidak ada kabar buk“ jawab Taufik dengan bunyi lemah.
“Nanti jikalau ada kabar ihwal Faiz, tolong beritahu ibu ya“ pintanya pada Taufik.
“Iya bu, insyaAllah“ sahutnya.
“Bagaimana Dia pergi tanpa memberitahu kabar padamu Dah“ tanya Khadijah, ibu Taufik.
“Dia sibuk Jah, lebaran tahun ini Ia akan pulang, saya yakin“ balas bu Faridah.
“Ya, Saya akan tunggu kepulangannya“ sahut bu Khadijah kesal alasannya ialah tindakan Faiz.
Menjelang siang, bu Faridah singgah ke warung bersahabat rumahnya. Seperti biasa, di awal bulan Ia membeli banyak sekali keperluan sehari-hari menyerupai sabun, beras, minyak dll. Tiba-tiba matanya tak sengaja melihat majalah yang tergantung di rak majalah dan koran harian. Tepat di sudut kanan “Khairul Faiz “ batinnya. Didekatinya lagi cover majalah terkenal itu, “ ini putraku”, batinnya.

Bu Faridah mempercepat langkah kakinya menemui Taufik di kebun,Ia bercerita ihwal keberadaan Faiz.

“Sekarang Faiz jadi orang sukses mak “ kata Taufik sambil melihat profilnya.

Bu faridah menggangguk paham. Air matanya berderai-berai, terharu melihat anaknya yang berhasil meraih cita. Kembali Ia bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.

*******
Untuk kesekian kali hati ini merindu akan kehadirannya, air bening mulai menguak di sudut mata.“ Akankah Dia rindu menyerupai diriku merindukannya“ bu Faridah membatin.

Akhirnya Ia pergi mencari jejak Faiz, sang buah hati. Di tengah pencariannya Ia berdoa biar dipertemukan dengan anaknya.

Ia berhenti di depan gerbang bangunan indah. Sebuah rumah bergaya modern yang dipagari beton setinggi empat meter. Dari luar tampak beberapa pohon palm menghiasi rumah ini. Di sudut kiri ada ayunan besi berwarna kuning, kemudian sempurna di depan garasi besar ada taman yang ditumbuhi banyak sekali macam jenis bunga. 

Di sampingnya ada kolam renang yang kecil,tempat bermain anak-anak. Persis menyerupai yang digambarkan dalam majalah yang pernah dibacanya di profil Faiz.

“Han…han…hantu “ tangis Riva ketika melihat mata bu Faridah.
“Bukan, ini nenek “ balasnya.
“Hantuuuuuuuuu “ teriak anak kecil itu sambil menangis nyaring.
Rani segera berlari ke arah depan pekarangan rumah, tempat anaknya bermain.

“Bukan,itu bukan hantu nak “ kata Rani seraya menenangkan anaknya.
“Ada apa Ran “ tanya Faiz yang sudah berdiri di depan pintu utama sambil melanjutkan langkah.

“Riva takut lihat ibu ini “ kata Rani seraya menoleh ke arah bu Faridah.
Seketika mata Faiz dan bu Faridah saling bertemu, “ Ibu” batin Faiz.
“Kamu mengenali ibu ini?“ tanya Rani seolah Ia sanggup membaca pikiran suaminya.

“Gak, yuk masuk ke dalam “ sahutnya menepis kebenaran yang ada.
Merekapun masuk ke rumah megah itu, namun menyisakan kesedihan yang sangat dalam pada hati perempuan renta itu, pelan-pelan bu Faridah melangkah kaki, kembali ke rumahnya, “ ternyata Faiz tidak mengenaliku lagi.”

******

Dua bulan berikutnya, ada insiden asing yang dialami Faiz. Hatinya tidak tenang. Kehidupannya tidak secerah dahulu. Perusahaannya bangkrut, tenaga kerja berkurang, ditambah mertua yang acapkali marah-marah kepadanya. Apa bahu-membahu yang terjadi?

Pikiran Faiz menerawang membayangi bu Faridah, perempuan buta yang dihina dan dicaci kawan-kawannya dulu, perempuan yang selalu tersenyum dikala yang lain cemberut, perempuan yang sangat tegar menghadapi masalah. “Ibu”,  parau suara  Faiz menyebut namanya.

Lalu Faiz tetapkan untuk kembali ke rumah ibunya.

“Ibu…ibu…“ panggil Faiz. Panggilan itu tidak menerima sahutan. Kembali Ia menutup pintu serta menuruni anak tangga rumah.

“Faiz“ panggilan itu membuatnya menoleh ke arah kanan.
“Taufik“, tersenyum Taufik melihat sahabatnya yang sukses itu.
“Kenapa gres kini Kamu pulang Iz“ tanya Taufik.

“Apa alasannya ialah Kamu sudah bangkrut, sehingga Kamu minta didoakan ibu, kini sudah terlambat Iz. Kamu sukses dan kaya, itu berkat doa ibumu. Sekarang…“ Taufik menahan pedih di hatinya.

“Sekarang tidak ada lagi yang mendoakanmu” tambahnya.
“Sudahlah Faiz, ini ada titipan untukmu dari ibu” sambil menyerahkan selembar kertas kusam dari sakunya.

“Dulu, ketika kau tidak pulang ibumu selalu menayakan kabar. Dia juga banyak bercerita tentangmu. Kamu menjamunya dua bulan yang lalu. Istri dan mertuamu juga sangat ramah, begitu katanya“ Taufik mengulang kembali dongeng bu Faridah.

“ Okay jikalau begitu, Saya pamit dulu “ kata Taufik sambil beranjak pergi.

Assalamualaikum Faiz, anak ibu.
Bagaimana kabarmu nak ? semoga dirimu selalu dalam lindungan Allah. Di sini ibu selalu mendoakanmu semoga rahmat dan hidayah-Nya selalu tercurahkan untukmu. Mungkin Faiz aib mengakui ibu sebagai ibu Faiz. Maafkan ibu ya nak , ini bukan kehendak ibu. Tapi inilah ibu, insan biasa yang penuh keterbatasan.
Tepat tanggal 26 Desember 2004, tsunami melanda Aceh. Kita sekeluarga dibawa arus. Hanya saja Kita masih diberi napas untuk hidup. Berbeda dengan ayah yang telah pergi bersama ombak angin ribut tsunami. Pada ketika itu matamu dioperasi alasannya ialah terkena racun. Semenjak itu ibu relakan sebelah dari mata ibu untuk Faiz. Inilah yang ingin ibu sampaikan kepadamu. Tapi ternyata ibu tidak punya kesempatan bertatap eksklusif denganmu. Semoga Kamu selalu dalam lindungan-Nya.
Wassalamualaikum..

Faiz tidak bisa mengucap sepatah katapun, hatinya pilu mengenang masa kemudian yang menciptakan sang ibu sakit hati. Penyesalan demi penyesalan muncul berkelibat di pikirannya, menangis pilu mengharap ibunya kembali.
Kini, tidak ada lagi doa di tiap sepertiga malam untuknya. 

Doa yang mengiringinya pada kejayaan, kesuksesan dan fasilitas dunia. Karena si pemilik doa itu telah kembali ke hadirat Allah, membawa asa yang tidak tercapai hingga Ia menutup mata.

Bagian Pertama Click Here