Saturday, 30 November 2019

Hadis-Hadis Lemah Dan Palsu Perihal Keutamaan Hari Ke-10 Muharram (1)

Hadis-Hadis Lemah Dan Palsu Perihal Keutamaan Hari Ke-10 Muharram (1)
Hadis Lemah Dan Palsu Tentang Keutamaan Hari ke Hadis-Hadis Lemah Dan Palsu Tentang Keutamaan Hari ke-10 Muharram (1)


Berikut ini terjemahan dari artikel yang berjudul `aḥādīṡ lā taiu fī yaumi ‘āsyūrā` (hadis-hadis lemah wacana keutamaan hari ke-10 Muharram), karya Syaikh DR. Aqil bin Salim Asy-Syamari afiahullāh, biar Allah menimbulkan goresan pena ia ini sebagai alasannya ialah terhindarnya kaum muslimin dari kesalahan akidah wacana keutamaan hari yang disebut dengan hari ‘asyura, yaitu hari ke-10 bulan Muharram.
Syaikh DR. Aqil bin Salim Asy-Syamari afiahullāmenjelaskan bahwa terdapat banyak hadis lemah wacana (keutamaan hari ke-10 bulan Muharram) yang saya kumpulkan dari perkataan ulama -semoga Allah merahmati mereka dengan rahmat yang luas-, di antaranya yaitu:
Pertama:
إن الله خلق السماوات والأرض يوم عاشوراء
Sesungguhnya Allah membuat langit-langit dan bumi pada hari ke-10 bulan Muharram” (Mauḍū‘ [Hadits palsu]).
Kedua:
من اكتحل يوم عاشوراء بالإثمد لم ترمد عينه أبداً
Barangsiapa yang bercelak dengan serbuk celak itsmid pada hari ke-10 bulan Muharram, maka matanya tidak akan terkena penyakit mata selamanya” (HR. Al-Hakim dan ia menjelaskan bahwa hadis ini munkar. Ibnul Jauzi menyebutkannya dalam kitab Al-Mauḍūāt[kumpulan hadits-hadits palsu]).
Ketiga:
من صام يوم عاشوراء كتب الله له عبادة ستين سنة
Barangsiapa yang berpuasa pada hari ke-10 bulan Muharram, pasti Allah akan mencatat baginya (pahala) ibadah 60 tahun” (hadis ini batil, diriwayatkan oleh Habib bin Abi Habib, Al-Haitsami menyatakan bahwa Habib bin Abi Habib ialah seorang yang ditinggalkan periwayatannya [matrūk] dan pendusta [każżāb]).
Keempat:
من وسع على عياله يوم عاشوراء وسع الله عليه في سنته كلها
Barangsiapa yang melapangkan orang yang menjadi tanggungan nafkahnya pada hari ke-10 bulan Muharram, maka Allah pun akan melapangkan (urusan)nya dalam satu tahun penuh” (Al-Haitsami bin Syaddakh menyendiri [dalam meriwayatkannya], sedangkan ia ialah perawi yang a‘īf dengan komitmen para ulama. Imam Ahmad pun menyatakan bahwa hadis ini tidak ada asalnya. Ibnul Rajab mengambarkan bahwa sanandnya lemah dan Ibnul Zauji pun menyebutkannya dalam Al-Mauḍū’).
Kelima:
إن آدم تاب الله عليه يوم عاشوراء ، ونوحاً نجاه الله يوم عاشوراء وإبراهيم نجاه الله من النار يوم عاشوراء ويونس أخرجه الله من بطن الحوت يوم عاشوراء ويعقوب اجتمع بيوسف يوم عاشوراء والتوراة نزلت يوم عاشوراء
“Sesungguhnya Allah mendapatkan taubat Nabi Adam pada hari ke-10 bulan Muharram, Allah menyelamatkan Nabi Nuh pada hari ke-10 bulan Muharram, Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api pada hari ke-10 bulan Muharram, Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan besar pada hari ke-10 bulan Muharram, Nabi Ya’qub berkumpul dengan Nabi Yusuf pada hari ke-10 bulan Muharram, serta At-Taurah diturunkan pada hari ke-10 bulan Muharram.”
Dan beberapa hadis semisalnya, maka seluruhnya dusta, tidak ada asalnya, serta derajatnya lemah kecuali riwayat wacana selamatnya Nabi Musa ‘alaihis salām dan kaumnya dari peristiwa alam tenggelam.
Catatan
Yang dimaksud hadis lemah dalam artikel di atas meliputi seluruh hadis lemah, menyerupai mungkar, palsu, dan hadis lain yang tidak sanggup diterima sebagai dalil
(bersambung)
***
[serialposts]
Penyusun: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Monday, 4 November 2019

Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (5)

Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (5)
  dan ridho Allah dengan menyingkirkan duri dari jalan Menakjubkan! Raup pahala besar dengan amal sederhana (5)

3. Raih surga, ampunan, dan ridho Allah dengan menyingkirkan duri dari jalan!
Hadits riwayat Imam Muslim di kitab Shahihnya, dari Abu Hurairah gotong royong Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

بينما رجل يمشي بطريق وجد غصن شوك على الطريق فأخره فشكر الله له فغفر له

Ketika seorang laki-laki melewati sebuah jalan, (tiba-tiba) dia mendapat sebuah ranting duri di tengah jalan, kemudian iapun menyingkirkannya, maka Allah mensyukurinya dan mengampuni dosanya”.

Maksud “maka Allah mensyukurinya dan mengampuni dosanya” yakni Allah ridho terhadapnya, kemudian Allah ampuni dosanya sehingga Allah masukkannya kedalam surga!

Hadits riwayat Imam Muslim (4873) di kitab Shahihnya, dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ ، فَقَالَ : وَاللَّهِ لَأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ لَا يُؤْذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ

Ada seseorang yang melewati sebuah ranting duri di tengah jalan, kemudian iapun berkata : 'Demi Allah, sungguh aku akan menyingkirkannya dari (jalan) kaum muslimin sehingga tak melukai mereka, maka dia dimasukkan kedalam nirwana (dengan lantaran menyingkirkannya)!”

Hadits riwayat Imam Muslim (4874) di kitab Shahihnya, dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ ، فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ ، كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ

Sungguh aku telah melihat seseorang yang mencicipi kenikmatan di surga, dengan lantaran sebuah dahan pohon yang mengganggu manusia, dipotongnya (untuk disingkirkan) dari tengah jalan.

Penjelasan beberapa hadits di atas
Beberapa hadits di atas menawarkan keutamaan menyingkirkan gangguan dari jalan biar tidak mengganggu manusia.
Sama saja apakah sesuatu yang mengganggu insan itu berupa duri, ranting pohon, batu, kotoran, bangkai, atau selainnya. Baik sesuatu yang mengganggu insan itu membahayakan dari atas, atau dari bawah, samping, depan, ataupun membahayakan dari belakang.
Jika kasus yang membahayakan tersebut dihilangkan dan disingkirkan, maka Allah mensyukurinya, dan meridhoinya, kemudian Allah mengampuni dosanya sehingga Allah masukkannya kedalam surga!
Meskipun jikalau kita perhatikan kasus yang membahayakan tersebut hanyalah membahayakan fisik kaum muslimin, namun tetaplah menghilangkan dan menyingkirkannya mengakibatkan Allah mensyukurinya, dan meridhoinya, kemudian Allah mengampuni dosanya sehingga Allah masukkannya kedalam surga!

Apabila menghilangkan dan menyingkirkan kasus yang membahayakan fisik/badan kaum muslimin saja mendapat ganjaran yang demikian besarnya, apalagi menghilangkan dan menyingkirkan perampok yang mengambil harta kaum muslimin dan membunuh ataupun melukai mereka, tentulah akan mendapat pahala yang lebih besar!

Apabila menghilangkan dan menyingkirkan kasus yang membahayakan fisik kaum muslimin saja mendapat ganjaran yang demikian besarnya, bagaimana lagi dengan orang menghilangkan dan menyingkirkan dari jalan hati kasus maknawi yang membahayakan dan merusak aqidah, opini, akhlak, ibadah, dan agama kaum muslimin?
Tentulah orang yang membantah syubhat yang membahayakan, membersihkan anutan yang merusak, memberangus budpekerti jelek yang mencemari, membantah bid'ah yang membahayakan ibadah kaum muslimin dan menjelaskan serta menolak kebatilan yang membahayakan agama mereka akan mendapat pahala yang jauh lebih besar, lantaran daya rusak yang ditimbulkannya terhadap hati lebih besar daripada jenis gangguan fisik semata!

Kewajiban pemerintah kaum muslimin
Kewajiban pemerintah kaum muslimin yakni menyingkirkan dan menghilangkan segala kasus yang membahayakan fisik/badan maupun hati (aqidah, opini, akhlak, ibadah, dan agama) kaum muslimin yang nampak muncul di tengah-tengah masyarakat, sejak pertama kali muncul, sehingga ancaman tersebut tidak hingga menyebar dan tidak merusak dan menyesatkan kaum muslimin!
Dan bahwa menyingkirkan dan menghilangkan kasus yang membahayakan hati (aqidah, opini, akhlak, ibadah, dan agama) kaum muslimin jauh lebih besar pahalanya daripada menyingkirkan dan menghilangkan segala kasus yang membahayakan fisik/badan mereka. Namun keduanya sama-sama amalan yang mempunyai keutamaan yang mulia lagi besar pahalanya.


(Bersambung, in sya Allah)

Saturday, 2 November 2019

Kiat Istiqomah (16)

Kiat Istiqomah (16)
Banyak dalil yang mengatakan adanya kekuatan hati berupa kekuatan ilmiah dan amaliah Kiat Istiqomah (16)

(Lanjutan kaedah kesembilan)

Dalil wacana kekuatan hati
Banyak dalil yang mengatakan adanya kekuatan hati berupa kekuatan ilmiah dan amaliah, ibarat dalam surat Al-Baqarah ayat ke-1 hingga 5, 186, dan 177, Al-A'raaf: 157, serta surat Al-Ashr1.
Berikut ini klarifikasi Ibnul Qoyyim rahimahullah tentang surat Al-Ashr :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan hanya menyebut setiap nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
وَالْعَصْرِ
(1) Demi masa.
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
(2) Sesungguhnya insan itu benar-benar dalam kerugian,

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
(3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan surat tersebut :

فأقسم سبحانه وتعالى بالدهر الذى هو زمن الأعمال الرابحة والخاسرة، على أن كل واحد فى خسر، إلا من كمل قوته العلمية بالإيمان بالله، وقوته العملية بالعمل بطاعته. ...... فكمل نفسه بالعلم النافع والعمل الصالح، وكمل غيره بتعليمه إياه ذلك، ووصيته له بالصبر عليه 
 
Allah Subhanahu wa Ta'ala (dalam surat ini) bersumpah dengan masa yang merupakan waktu untuk beramal, baik amal yang menguntungkan maupun yang merugikan (pelakunya) bahwa setiap orang berada dalam merugi, kecuali orang yang menyempurnakan kekuatan ilmiah dengan beriman kepada Allah dan menyempurnakan kekuatan amaliah dengan bersedekah taat kepada-Nya.... , maka dia menyempurnakan dirinya dengan ilmu yang bermanfaat dan bersedekah sholeh, serta menyempurnakan orang lain dengan mengajarkan kepadanya hal itu, dan berwasiat kepadanya dengan bersabar atas hal itu 2

Ucapan emas bagi orang yang mencintai hatinya biar sanggup istiqomah!

Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur dalam Ighotsatul Lahfan min Mashaidisy Syaithan, hal. 22:
Hendaknya (seorang hamba) ketahui bahwa kedua kekuatan (hati) ini3, tidak pernah berhenti beraktifitas4, bahkan (kemungkinan yang ada) yaitu :
  1. Jika tidak dia gunakan kekuatan ilmiahnya untuk mengenal kebenaran dan mencarinya, maka dia akan gunakan kekuatan tersebut untuk mengetahui sesuatu yang selaras dan cocok dengan kebatilan.
  2. Begitu pula, kalau tidak dia gunakan kekuatan kehendak amalnya untuk bersedekah shaleh, maka dia akan gunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan amal shaleh.
Jadi, (Kesimpulannya) bahwa insan itu, secara tabiat, disifati dengan “Harits” dan “Hammam”, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ta'ala 'alaihi wa alihi wa sallam,

أَصْدَقُ الأَسْمَاءِ: حَارِثٌ وَهَمَّامٌ
Nama yang paling jujur yaitu Harits dan Hammam”.5

Harits yaitu orang yang (suka) beraktifitas.
Sedangkan Hammam yaitu orang yang banyak berkeinginan/selera (“ham”6).
Karena, bahu-membahu jiwa itu sifatnya dinamis dan gerakan kehendak jiwa itu (hakekatnya) yaitu bab dari konsekwensi dzatnya.7
Sedangkan kehendak itu mengharuskan bahwa sesuatu yang dikehendaki akan tergambar pada jiwanya dan mempunyai keistimewaan tersendiri berdasarkan jiwanya.
Jadi, kalau jiwa (manusia) tidak menggambarkan kebenaran, mencarinya dan menghendakinya,maka akan menggambarkan kebatilan, mencarinya dan menghendakinya. Dan itu pasti!”

Setelah kita mengetahui klarifikasi Ibnul Qoyyim rahimahullah maka sanggup disimpulkan bahwa keistiqomahan seorang hamba dipengaruhi oleh dua kekuatan hati tersebut, alasannya apabila kekuatan hati itu baik, maka baik pula ucapan dan amalan seluruh anggota badan lainnya.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ , وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

Ingatlah seseungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh jasad, dan apabila segumpal daging itu rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Perhatikanlah, bahwa segumpal daging itu yaitu hati![Hadits dalam Shahihain].

Sebaliknya, apabila dua kekuatan hati itu rusak, maka hal itu akan merusak keistiqomahan seorang hamba, dan ketahuilah bahwa syahwat dan syubhat yaitu induk penyakit yang merusak dua kekuatan hati!
(Bersambung, in sya Allah)
Sumber : www.muslim.or.id


1. Ighotsatul Lahfan, hal. 21-22

2. Ighotsatul Lahfan, hal. 22.

3. Kekuatan ilmiah dan kehendak yang membuahkan amal.

4. Sepanjang hidupnya.

5. Shahih, HR. Abu Dawud dan yang lainnya.

6. “Ham” itu permulaan dari sebuah kehendak dan cikal bakalnya.

7. Sehingga ada terus sepanjang hidupnya.

Kiat Istiqomah (17)

Kiat Istiqomah (17)
landscape photography of sea and rock formations Kiat Istiqomah (17)

(Lanjutan kaedah kesembilan)

Mengikuti syahwat dan syubhat yaitu induk penyakit yang merusak kekuatan hati!

Adapun induk penyakit yang merusak keimanan seorang hamba yaitu mengikuti syahwat dan syubhat.

Allah Ta'ala mensucikan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam dari dua induk penyakit ini, Allah Ta'ala berfirman :

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ
(1) Demi bintang saat terbenam.
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ

(2) kawanmu (Nabi Muhammad) tidak sesat dan tidak pula menyimpang. [Q.S. An-Najm: 1-2].
Dua penyakit yang ditiadakan dari diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam ayat yang mulia tersebut yaitu penyakit sesat (dholal) atau mengikuti syahwat dan menyimpang (ghoy) atau mengikuti syubhat.
Allah Ta'ala berfirman wacana adanya penyakit syubhat:

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

(10) Dalam hati mereka ada penyakit, kemudian ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. [Q.S. Al-Baqarah: 10].
Pakar Tafsir dikalangan tabi'in : Mujahid dan Qotadah rahimahumallah menafsirkan “penyakit dalam hati” dalam ayat yang mulia tersebut, yaitu : keraguan, dan ini termasuk penyakit syubhat.
Dan Allah Ta'ala pun berfirman wacana adanya penyakit mengikuti syahwat :

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

(32) Hai isteri-isteri Nabi, kau sekalian tidaklah menyerupai perempuan yang lain, kalau kau bertakwa. Maka janganlah kau tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. [Q.S. Al-Ahzaab: 32].
Ikrimah rahimahullah menafsirkan “penyakit dalam hati” dalam ayat yang mulia tersebut yaitu : syahwat zina. Hal ini mengatakan adanya penyakit syahwat yang merusak hati.1

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ighotsatul Lahfan min Mashaidisy Syaithan kembali menjelaskan :

جماع أمراض القلب هي: أمراض الشبهات وأمراض الشهوات، والقرآن شفاء للنوعين

Induk penyakit hati yaitu penyakit mengikuti syahwat dan penyakit mengikuti syubhat, sedangkan dalam Al-Qur`an terdapat obat bagi dua macam induk penyakit tersebut!”2

Beliau juga menandakan :

والفتن التي تعرض على القلوب هي أسباب مرضها، وهي فتن الشهوات و فتن الشبهات، فتن الغي و الضلال، فتن المعاصي و البدع، فتن الظلم و الجهل. فالأولى توجب فساد القصد و الإرادة، و الثانية توجب فساد العلم و الاعتقاد

Fitnah yang terpampang kepada hati itulah yang merupakan alasannya yaitu hati berpenyakit, yaitu : fitnah syahwat, dan fitnah syubhat, (yaitu) fitnah menyimpang3 (syubhat) dan sesat4 (syahwat), fitnah maksiat (syahwat) dan bid'ah (syubhat), fitnah kezholiman (syahwat) dan kebodohan (syubhat).
Fitnah pertama (fitnah syahwat) menjerumuskan kepada kerusakan tujuan dan kehendak, adapun fitnah yang kedua (fitnah syubhat) menjerumuskan kepada kerusakan ilmu dan keyakinan”5

Penyakit mengikuti syahwat itu akan menjerumuskan seseorang kedalam kerusakan amal, sedangkan syubhat itu mengelincirkan seseorang dari jalan yang lurus dengan kerusakan ilmu yang ada dalam dirinya.

(Bersambung, in sya Allah)
Sumber : www.muslim.or.id

1. Lihat pembahasan ini dalam Ighotsatul Lahfan, hal. 15

2. Ighotsatul Lahfan, hal.41.

3. Penyakit “menyimpang (ghoy) atau maksiat atau kezholiman atau mengikuti syahwat ” yaitu tidak mengamalkan ilmu yang haq.

4. Penyakit “sesat (dholal) atau terbelakang (jahl) atau bid'ah atau syubhat” yaitu tidak mempunyai ilmu yang haq.


5. Ighotsatul Lahfan, hal. 11

Friday, 1 November 2019

Kiat Istiqomah (18)

Kiat Istiqomah (18)
 namun semuanya kembali kepada dua fitnah  Kiat Istiqomah (18)

(Lanjutan kaedah kesembilan)

Kebenaran hanya satu, sedangkan kebatilan itu banyak, namun semuanya kembali kepada dua fitnah : mengikuti syahwat dan syubhat!

Allah Ta'ala berfirman :
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

(153) dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) yakni jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), alasannya yakni jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah semoga kalian bertakwa.

Ayat di atas dijelaskan maksudnya oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits shahih dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu dalam Musnad Imam Ahmad berkata :
خَطَّ لَنَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم خَطًّا ثُمَّ قَالَ : هَذَا سَبِيلُ الله، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ، ثُمَّ قَرَأَ:
﴿وَإِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ ، فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ﴾
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menggaris sebuah garis untuk kami, kemudian dia bersabda : 'Ini yakni jalan Allah', kemudian dia menggaris garis-garis di kanannya dan di kirinya, kemudian dia bersabda: 'Ini yakni jalan-jalan (lain), pada setiap jalan dari jalan-jalan tersebut ada setan yang mengajak (manusia) kepadanya', kemudian belaiu membaca (ayat yang artinya) :
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) yakni jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), alasannya yakni jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. ”.
Setan yang disebutkan dalam hadits di atas mengajak kepada kesesatan (jalan setan), maka ketahuilah permintaan setan itu ada dua macam, dan kedua macam permintaan setan itu diibaratkan dua kelompok jalan di kedua sisi jalan yang lurus dalam hadits di atas.

Adapun kedua permintaan atau godaan setan itu yakni permintaan kepada mengikuti syahwat, dan mengajak kepada mengikuti syubhat. Setan tidak peduli dengan permintaan yang mana ia berhasil menyesatkan manusia. Apabila setan melihat tipe orang yang suka teledor dan malas, maka ia goda orang itu dengan jebakan mengikuti syahwat.
Namun apabila setan melihat tipe orang yang semangat beribadah dan suka menjaga diri dari maksiat, maka ia goda orang itu dengan jebakan syubhat.
Sebagaimana ucapan sebagian Salafush Sholeh :

ما أمر الله سبحانه بأمر إلا وللشيطان فيه نزغتان: إما إلى تفريط وتقصير، وإما إلى مجاوزة وغلوّ. ولا يبالى بأيهما ظفر

Allah Subhanahu tidaklah memerintahkan dengan suatu perintah kecuali setan mempunyai dua model tipu daya: (Pertama) jebakan menelantarkan dan teledor (terhadap perintah-Nya), atau jebakan melampaui batas dan berlebihan. Sedangkan setan tak peduli dengan model muslihat mana ia sanggup berhasil (menggoda manusia)”.

Ibnul Qoyyim rahimahullah menyampaikan :
وقَد نصَبَ الله سبحانه الجسرَ الَّذي يمُرُّ النَّاس منْ فوقِه إلى الجنَّة، ونصبَ بجانِبَيه كلاليبَ تَخطف النَّاسَ بأعمالهم ، فهكَذا كَلاليبُ الباطل مِن تَشْبيهات الضَّلال وشَهوات الغَيِّ تمنَع صاحبَها من الاستقامة على طريق الحقِّ وسلوكِه ، والمعصومُ من عصَمَه الله

Allah Subhanahu telah memasang jembatan (Ash-Shiroth) yang insan melalui diatasnya untuk hingga ke surga, dan Allah-pun memasang di kedua sisi jembatan tersebut besi-besi penyambar yang menyambar insan sesuai dengan perbuatan mereka (sewaktu di dunia), maka demikian pula 'penyambar-penyambar yang batil', baik berupa fitnah syubhat yang menyesatkan dan fitnah syahwat yang menyimpangkan (dari kebenaran), keduanya menghalangi dari istiqomah di jalan yang haq dan menghalngi (seseorang) saat menitinya. Sedangkan orang yang terjaga (dari penyambar-penyambar) tersebut yakni orang yang dijaga oleh Allah”

Al-Qur`an Al-Karim obat penyakit hati
Dan obat dari dua induk penyakit hati tersebut yakni Al-Qur`an Al-Karim, Allah Ta'ala berfirman dalam surat Yunus ayat ke-57:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

(57) Hai manusia, bersama-sama telah tiba kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan obat bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Dan Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa makna ayat ini yakni didalam Al-Qur`an Al-Karim terdapat obat untuk mengobati banyak sekali penyakit dalam hati yang mencakup penyakit kebodohan, dan obatnya yakni akil dan mendapat petunjuk, serta mencakup pula penyakit penyimpangan, dan obatnya yakni mengamalkan ilmu dan petunjuk (rusyd). Dan kedua obat itu ada dalam Al-Qur`an Al-Karim.1

(Bersambung, in sya Allah)
Sumber: www.muslim.or.id


1. Ighotsatul Lahfan, hal. 13