Wednesday, 19 February 2020

Abu Nawas: Curang Dibalas Curang




Pada suatu sore, saat Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Ada dua orang tamu tiba ke rumahnya. Yang seorang ialah perempuan renta penjual kahwa, sedang satunya lagi ialah seorang cowok berkebangsaan Mesir.

Wanita renta itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si cowok Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka.

“Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian tiba kepadaku pada malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta batu.”

Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada menciptakan kejutan dan berada di pihak yang benar. Pada malam harinya mereka tiba ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.

Berkata Abu Nawas,”Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak Tuan Kadi yang gres jadi.”

“Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?” gumam semua muridnya keheranan.

“Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!”kata Abu Nawas menghapus keraguan murid-muridnya. Barang siapa yang mencegahmu, jangan kamu perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru.

Siapa yang bertanya, katakan saja saya yang menyuruh merusak. Barang siapa yang hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan lemparilah dengan batu.”

Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah Tuan Kadi. Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi.

Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka. Lebih-lebih saat tanpa basa-basi lagi mereka pribadi merusak rumah Tua Kadi.

Orang-orang kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun lantaran jumlah murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani mencegah.

Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan bertanya,”Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?” Murid-murid itu menjawab,”Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami!”

Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi sampai rumah itu roboh dan rata dengan tanah.

Tuan Kadi hanya dapat marah-marah lantaran tidak orang yang berani membelanya,”Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi saya akan melaporkannya kepada Baginda.

” Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap Baginda.
Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya.”

Hai Abu Nawas apa sebabnya kamu merusak rumah Kadi itu.” Abu Nawas menjawab,”Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada suatu malam hamba bermimpi, bahu-membahu Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya.

Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih cantik Iagi.Ya, lantaran mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi.”

Baginda berkata,” Hai Abu Nawas, bolehkah hanya lantaran mimpi sebuah perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kamu pakai itu?”

Dengan hening Abu Nawas menjawab,”Hamba juga menggunakan aturan Tuan Kadi yang gres ini Tuanku.” Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. la melongo seribu bahasa.

“Hai Kadi benarkah kamu memiliki aturan menyerupai itu?” tanya Baginda. Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran lantaran takut.

“Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada insiden menyerupai ini !” perintah Baginda. “Baiklah…….. Abu Nawas tetap tenang.

“Baginda…. beberapa hari yang kemudian ada seorang cowok Mesir tiba ke negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta yang banyak sekali.

Pada suatu malam ia bermimpi kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. ini hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu pribadi mendatangi si cowok Mesir dan meminta mahar anaknya.

Tentu saja cowok Mesir itu tak mau membayar mahar hanya lantaran mimpi. Nah, di sinilah terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik cowok Mesir sehingga cowok itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhimya ditolong oleh perempuan renta penjual kahwa.”

Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas semoga memanggil si cowok Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana, jadi gampang saja bagi Abu Nawas memanggil cowok itu ke hadapan Baginda.

Berkata Baginda Raja,”Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu semenjak engkau tiba ke negeri ini.” Ternyata dongeng cowok Mesir itu sama dengan dongeng Abu Nawas.

Bahkan cowok itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik daerah kost beliau menginap. “Kurang ajar! Ternyata saya telah mengangkat seorang Kadi yang bejad moralnya.”

Baginda sangat murka. Kadi yang gres itu dipecat dan seluruh harta bendanya dirampas dan diberikan kepada si cowok Mesir.

Setelah masalah selesai, kembalilah si cowok Mesir itu dengan Abu Nawas pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.

Berkata Abu Nawas,”Janganlah engkau memberiku barang sesuatupun kepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua.”

Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke negeri Mesir ia menceritakan perihal kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.

Sumber : Abu Nawas Si Pintar yang CERDIK

Wednesday, 12 February 2020

Telur Beranak: Menipu Balik Tuan Tanah



Kita sua kembali dengan kisah-kisah yang lucu ihwal petualangan Abu Nawas yang cerdik. Selalu saja ada cara untuk menghadapi ketegangan antara lawan maupun kawan.

Abu Nawas mempunyai tetangga yang sangat kikir dan serakah, ia pun ingin mengatakan pelajaran biar tetangga yang berprofesi sebagai tuan tanah tersebut bertobat. Bagaimana kisahnya ya,

Kisahnya
Pada suatu sore, Abu Nawas duduk di beranda rumahnya sambil memandang langit. Abu Nawas berpikir bagaimana caranya biar sore itu keluarganya sanggup mampu makan.

Sementara itu, dalam jarak puluhan meter dari rumah Abu Nawas, seorang tuan tanah tinggal. Rumahnya mewah, lengkap dengan gudang masakan dan peternakan serta perkebunan yang luas. Hamppir semua warga di kampung itu, bahkan termasuk Abu Nawas, bekerja kepada tuan tanah tersebut.

Namun, tuan tanah itu mempunyai sifat yang kikir serta tamak.

Telur Bisa Beranak
Tuan tanah itu mendengar informasi bahwa Abu Nawas mempunyai keahlian yang unik.
Apabila meminjam sesuatu akan dikembalikan secara lebih dengan alasan beranak. Seperti meminjam seekor ayam, maka akan dikembalikan dua alasannya ayam itu beranak. Tuan tanah kemudian mencari cara biar Abu Nawas segera meminjam uang darinya.

Kebetulan pada sore itu Abu Nawas ingin meminjam berupa tiga butir telur. Kontan saja tuan tanah bahagia bukan kepalang alasannya pemberian itu akan menjadi banyak nantinya. Bahkan tuan tanah tersebut menunjukkan pinjaman-pinjaman yang lain. Akan tetapi Abu Nawas menolaknya alasannya ia hanya butuh tiga butir telur itu saja.

Saat tuan tanah menanyakan kapan telur itu akan beranak, Abunawas menjawab itu tergantung dengan keadaan.

Lima hari berlalu, Abu Nawas pun mengembalikan telur yang dipinjamnya dengan lima butir telur. Tuan tanah sangat bahagia dan ia menunjukkan pemberian lagi. Abu Nawas pun meminjam piring tembikar sebanyak dua buah dan tuan tanah itu dengan bahagia hati meminjamkannya dengan impian piring tembikarnya beranak kayak telur ayam yang dulu.

Lima hari pun berlalu lagi dan Abu Nawas mengembalikan piring tembikar sebanyak tiga buah. Walaupun tidak sesuai dengan yang diharapkan, tetapi hati si Tuan tanah cukup gembira. Tak apalah piki tuan tanah alasannya sanggup saja orang itu mempunyai anak tunggal bahkan tidak mempunyai anak.

Mati Mendadak
Pada hari selanjutnya, si tuan tanah menunjukkan pemberian uang senilai 1000 dinar. Sebuah jumlah yang cukup besar, bahkan sanggup untuk menggaji seluruh karyawan tuan tanah selama satu bulan. Dia menanti dengan tidak sabar. Hari berganti hari bahkan lima hari terlewati sudah. Tak terasa sudah berjalan satu bulan dan Abu Nawas tak kunjung tiba ke rumahnya.

Karena tidak sabar, si tuan tanah mendatangi Abunawas dengan didampingi pengawalnya. Mulanya si tuan tanah gembira, namun ia murka besar sesudah mendapatkan klarifikasi dari Abu Nawas.
"Sayang sekali Tuan, uang yang aku pinjam, bukannya beranak, malah tiga hari sesudah aku bawa pulang, mati mendadak," ujar Abu Nawas.

Mendengar itu, si tuan tanah menjadi geram.
Pengawalnya hampir saja memukul Abu Nawas, tapi untung saja tidak jadi alasannya ada rombongan pekerja yang gres pulang. Tuan tanah mengadukan Abu Nawas ke pengadilan dan berharap Abunawas digantung atau bahkan dieksekusi rajam.

Di depan hakim, Abu Nawas melaksanakan pembelaan dengan membeberkan semua duduk persoalannya. Demikian juga dengan si tuan tanah. Pengadilan pun memutuskan bahwa Abu Nawas tida bersalah alasannya sangat masuk nalar jikalau sesuatu yang sanggup beranak niscaya sanggup mati. Seketika itu juga tuan tanah yang tamak itu pingsan selama beberapa jaman sulit untuk dibangunkan. Ia telah tertipu alasannya wataknya sendiri yang kikir, tamak dan pelit.

Kisah Debu Nawas: Istana Hancur Oleh Lalat


Abu Nawas sangat sedih melihat rumahnya hancur alasannya yaitu diobrak-abrik prajurit kerajaan. Tapi, dengan nalar liciknya, Abunawas berhasil membalas menghancurkan kerajaan dengan sebuah tongkat yang terbuat dari besi. Dengan berdalih untuk membunuh lalat-lalat yang telah makan nasinya, Abu Nawas memporak-porandakan seluruh isi kerajaan.

Berikut Kisahnya
Pada suatu hari Abu Nawas terlihat murung. Ia hanya tertunduk lesu mendengarkan penuturan istrinya yang menyampaikan jikalau beberapa pekerja kerajaan atas titah Raja Harun membongkar rumahnya. Raja berdalih bahwa itu dilakukan alasannya yaitu bermimpi jikalau di bawah rumahnya terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya.

Namun, sesudah mereka terus menerus menggali, ternyata emas dan permata tidaj jua ditemukan. Parahnya, sang raja juga tidak mau meminta maaf dan mengganti rugi sedikitpun kepada Abu Nawas. Karena itulah Abu Nawas sakit hati dan memendam rasa dendam kepada perusak rumahnya.

Lama Abu Nawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan tipu daya untuk membalas perbuatan baginda. Makanan yang dihidangkan istrinya pun tidak dimakan alasannya yaitu nafsu makannya telah lenyap.

Balasan Abu Nawas
Keesokan harinya Abu Nawas melihat banyak lalat-lalat mulai menyerbu makanannya yang sudah mulai basi. Begitu melihat lalat-lalat itu berterbangan, Abu Nawastiba-tiba saja tertawa riang seolah mendapat ide.

"Tolong ambilkan kain epilog untuk makananku dan sebatang besi," kata Abu Nawas kepada istrinya.

Dengan wajah berseri-seri, Abu Nawas berangkat menuju istana.
Setiba di istana, Abu Nawas membungkuk memberi hormat kepada Raja Harun. Raja Harun terkejut atas kedatangan Abu Nawas.i hadapan para menterinya, Raja Harun mempersilahkan Abu Nawas untuk menghadap.

"Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa izin dan berani memakan masakan hamba," lapor Abu Nawas.
"Siapakah tamu-tamu tidak diundang itu wahai Abu Nawas?" ujar Baginda dengan bijaksana.
"Lalat-lalat ini Tuanku," kata Abu Nawas sambil membuka epilog piringnya.

"Kepada siapa lagi jikalau bukan kepada Paduka junjungan hamba, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil ini," ujar Abu Nawas sekali lagi.
"Lalu, keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?" respon Raja Harun.
Hamba hanya menginginkan izin tertulis dari Baginda sendiri semoga hamba sanggup dengan leluasa menghukum lalat-lalat yang badung itu," kata Abu Nawas memulai muslihatnya.

Kaca Pecah
Akhirnya Raja Harun dengan terpaksa menciptakan surat izin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu dimanapun mereka hinggap. Setelah mendapat izin tertulis itu Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnya sampai mereka terbang dan hinggap di sana sini. Dengan memakai tongkat besi yang dibawa dari rumah, Abu Nawas mengejar dan memukuli lalat-lalat itu.

Ketika hinggap di kaca, Abu Nawas dengan damai dan leluasa memukul beling itu sampai pecah. Kemudian vas bunga nan indah juga ikut terkena pukul dan pecah. Akhirnya hanya dalam beberapa menit saja seluruh perabot istana hancur berkeping-keping. Raja Harun tidak sanggup berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruannya yang telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluarganysa.

Dan sesudah merasa puas, Abu Nawas mohon diri
Barang-barang kesayangan Raja Harun banyak yang hancur. Bukan cuma itu saja, raja juga menanggung rasa malu. Kini ia sadar betapa kelirunya telah berbuat semena-mena kepada Abu Nawas.