Saturday, 14 March 2020

Dzalimkah Al-Azhar?


Redaksi
Wake up bro ! benteng Azhar kembali meninggi, saban hari terus meninggi. Nah, taukah kita, ujian untuk kenaikan tingkat sudah dekat. Nah, sudah saatnya bagi kita yang masih berselimut tebal untuk bangun, membasuh muka. Kemudian membuka lembara-lembaran mukarar (diktat).

Info yang beredar, ujian akan dilaksanakan sekitar pertengahan bulan Mei, walaupun sebagian yang lain menyampaikan besar kemungkinan selesai bulan lima. Dan sebagian yang lain beropini awal bulan Juni. Namun yang harus kita sadari adalah, ujian di depan mata.

Bagi mbak-mbak, cutda-cutda KMA, jangan melamun lagi. Walaupun dimata kalian dunia sedang berputar lambat (slow motion) tapi tidak demikian dengan dunia nyata. Apa lagi musin ujian, waktu terasa mulai mengejar dengan pisau dapur di tangan, jadi berhati-hatilah. Jangan hingga tertusuk pisau dapur ini, sakitnya melebihi putus cinta (joke).

Organisator, olahragawan, pegiat kajian dan rihlah. Alangkah baiknya, berhenti sejenak untuk memuluskan harapan luhur yang diniatkan dari kampung nan jauh dimata. Walaupun waktu tak terasa usang bagi kita, tapi yakinlah, akan sangat usang bagi orang renta yang menanti.

Bangun dari sekarang, jangan hingga nanti kita berteriak Azhar dhalim, gak ada toleransi dan terlalu memilah milih!

Al- Azhar tidak zalim

Jika kita tersadar dari sekarang, yakinlah Azhar terlalu tasamuh (memberi aneka macam kemudahan) bagi mahasiswa ajnabi (non-Mesir). Bukankah duktur memberi tahdidan sebelum ujian, bukankan Al-Quran tidak diujiankan 30 Juz. Dengan kemudahan-kemudahan tersebut Azhar berharap kita tidak tertekan dan bisa melewati ujian tersebut, namun sebaliknya kita belum tersentuh untuk memegang diktat dan terus berleha-leha.

Azhar zalim berkumandang keras, seakan azhar betul-betul berbuat ibarat itu. Padahal jikalau azhar menerapkan sistem yang sama untuk semua mahasiswa. Akan sedikit sekali mahasiswa luar  yang bisa lulus naik tingkat.

Sebaiknya kesadaran akan hal-hal ibarat ini kita pelihara dari sekarang, semoga diakhir Agustus-September bunyi “Azhar itu dzalim” tidak keluar asal-asalan dari verbal kita. Jika yang menyampaikan ibarat itu bukan mahasiswa Azhar, mungkin sanggup dimengerti. Karena dia tidak pernah mencicipi hangatnya kursi kuliyah kita.

Tapi jikalau mahasiswa azhar sendiri yang mengeluarkan pernyataan ibarat itu, maka perlu dipertanyakan kembali dengan barometer apa dia mengeluarkan statement. Sekali lagi, kursi kuliyah masih hangat dan luang untuk kita tempati. Keep spirit, Jak kuliyah, jak belajar!
Rabbuna yunajjahna! Amin

Friday, 13 March 2020

25 Mei 2013 : Ujian Azhar Dimulai


Kairo, 7/6/2013. Al-Azhar dengan resmi mengumumkan tanggal dimulainya ujian umum term II. Untuk ujian tulis akan dimulai dari tanggal 25 Mei 2013 sampai simpulan bulan Juni. Sementara Syafawi mulai dari 18-23 Mei, untuk setiap mahasiswa sesuai dengan tingkatan masing-masing.

Menurut salah seorang sumber yang berdomisili didekat kampus Darrasah ”Sebagian besar ujian syafawi (lisan.red) dimulai sebelum ujian tahriri (tulisan), namun tingkat simpulan dan beberapa tingkat empat dilaksanakan setelahnya”.

Ujian takhaluf syafawi dari tanggal 7-9 Mei, sedangkan ujian tulisnya 16-22 Mei. Waktu pelaksanaan ujian bervariasi, jikalau pagi pukul 09.00-12.00 dan siang 13.00-16.00 Clt.

Dari pantauan redaksi, ruang kuliah mulai tertutup rapat, hanya yang sangat berkepentingan saja boleh masuk, ibarat menuntaskan manajemen kuliyah, melihat jadwal.

Banat sudah mulai

Kuliyah banat (girl) memulai ujian term II lebih cepat dari kuliyah banin. “kami ujian syafawi orisinil tanggal 4 Mei 2013. Akan tetapi ujian tahriri tetap dari tanggal 25 Mei juga” kata Tgk. Devi Intan ketua keputrian KMA Mesir.

“Kegiatan di Meuligoe KMA sudah tutup semenjak beberapa ahad yang lalu, hal ini menyangkut persiapan ujian untuk warga, supaya dapat fokus lebih awal dan najah dengan nilai lebih baik” berdasarkan keterangan Ketua KMA Tgk. Muammar.(GP)

Al-Azhar; Pencetak Generasi Mandiri



Selaku mahasiswa Al Azhar, tentunya kita sudah mencicipi bagaimana proses berguru mengajar di kampus ini. Akan tetapi, bisa mengundang tanda tanya besar bagi mereka yang gres mendengar sistem perkuliahan mirip ini.

Sebagai mana yang kita ketahui, sesungguhnya sistem perkuliahan disini memakai sistem ceramah, dosen menunjukkan bahan kuliah hingga batas selesai jam mata kuliah tersebut, tanpa ketidakhadiran kehadiran mahasiswa. Dosen menunjukkan kiprah makalah tanpa meminta untuk dipresentasikan diruang kuliah.

Sekilas kita lihat ini terkesan gampang dan sederhana. Akan tetapi jangan kita anggap sepele dan kita biarkan berlalu begitu saja, lantaran pada hakikatnya ini butuh usaha yang berpengaruh dan serius jikalau kita ingin berhasil. Supaya tercapai maksud dan tujuan Al Azhar dalam mendidik mahasiswanya.

Inilah Al Azhar, punya ciri khas tersendiri dalam mendidik mahasiswa untuk menyebarkan agama dan peradaban Islam. Bukan berarti dengan menganut sistem ini, Al Azhar mengabaikan kurikulum yang dianggap membangun potensi mahasiswa mirip menulis dan diskusi. Akan tetapi, Al Azhar mengajarkan mahasiswa supaya mandiri.

Dari sanalah Al Azhar membangkitkan potensi mahasiswanya, untuk menjadi generasi ulama sanggup berdiri diatas kaki sendiri di masa depan. Bagaimana ketekunan mahasiswanya berjuang mencari ilmu. Mencari acuan yang benar, dilatih untuk bertanya pada dosen atau kepada para masyaikh walaupun diluar ruang kuliah. Karena ilmu tidak tiba dengan sendirinya, akan tetapi kita harus mendatanginya.

Materi di dingklik kuliah yaitu pintu pembuka bagi kita selaku mahasiswa untuk mengetahui ruang lingkup apa saja yang akan kita pelajari. Sedangkan pendalamannya bisa kita lanjutkan di tempat-tempat pengajian yang sudah disediakan.

Al Azhar mengajarkan kepada mahasiswanya ilmu alat, yang paling utama diantaranya yaitu ilmu bahasa Arab yang mencakup Nahwu dan Sharaf. Selanjutnya ilmu-ilmu alat yang lain, yang berupa kaedah-kaedah pada setiap cabang ilmu pengetahuan. Sehingga mahasiswa bisa mengkaji khazanah ilmu-ilmu agama Islam yang diwarisi oleh para ulama terdahulu. Kemampuan untuk menggali ilmu-ilmu inilah yang diperlukan Al Azhar kepada mahasiswanya, terlebih ketika mereka selesai dan kembali ke tanah air. Karena dengan itu mereka akan bisa menelaah sendiri tanpa harus selalu bertanya setiap saat.

Beruntung jikalau kita masih berada di negeri seribu menara, negeri yang bisa kita usikan berjuta pertanyaan. Akan tetapi jikalau kita telah kembali ke tanah air, ketika daerah bertanya tidak lagi kita temui atau kesempatan untuk bertanya tidak lagi mirip sekarang, maka kita akan kesulitan.

Mutiara-mutiara berharga sangat banyak terdapat dalam kitab-kitab turats warisan ulama Islam. Dengan demikian, siapa saja yang bisa menguasai ilmu alat, beliau akan bisa menggali dan menyajikannya sendiri. Karena situasi dan kondisi menuntut kita untuk selalu siap siaga dalam hal ilmu yang akan kita terapkan dalam kehidupan kita. Terkadang, secara mendadak kita harus bisa menjawab tantangan zaman dalam beling mata Islam. Sehingga kita terjaga dari segala bahaya pemikiran luar yang akan merusak Islam.

Ilmu alat tersebut mirip perisai dan pedang. Jika kita bisa menguasainya, berarti kita sudah memiliki perisai dan pedang yang akan kita gunakan dalam menjalankan misi dakwah islamiyah. Kita akan bisa menahan serangan dari mana saja dengan memakai perisai tersebut demi menjaga pemikiran Islam yang benar. Dan juga bisa menyerang pemikiran menyimpang yang berkembang seiring berkembangnya zaman.
Al Azhar membuka pengajian sebanyak-banyaknya di luar jam kuliah, sehingga para mahasiswa bebas dalam menentukan pengajian mana yang ingin diikuti. Inilah sebabnya Al Azhar memakai sistem mirip ini.

Oleh lantaran itu, bagi kita yang sedang menempuh pendidikan di kampus ini, kita harus berperan aktif dalam hal usaha mendapat ilmu. Inilah yang diperlukan oleh Al Azhar. Keaktifan mahasiswa yang mandiri, tidak bergantung kepada sistem. Bukan berarti Al Azhar menunjukkan kebebasan kepada mahasiswanya untuk mengkaji dan menulis sesuka hatinya, akan tetapi ada aturan-aturan bagi seorang penuntut ilmu agama untuk menempuh jalur yang benar.

Jalur itu berupa pembelajaran dan kajian yang digali pribadi kepada para ulama Mesir, lantaran itulah Al Azhar membuka tempat-tempat talaqqi yang memang sudah menjadi tradisi berguru mengajar yang sudah dilakukan semenjak awal-awal berdirinya Al Azhar. Yang dimulai di pojok-pojok mesjid, kemudian gres dibangun universitas. Inilah metode ataupun solusi supaya keabsahan ilmunya terjaga.

Dengan demikian, lakukanlah hal-hal terbaik, lantaran itu semua akan menjadi sejarah dalam hidup kita. Jika hal-hal ini terlewatkan begitu saja, maka beberapa tahun kedepan akan adanya penyesalan dihati kita. Disaat-saat kita merindukan masa-masa mirip ini, kita tidak akan bisa mengulangnya kembali. Karena yang namanya kesempatan itu tidak tiba kedua kalinya.

Kita mirip seorang prajurit tempur, yang harus siap siaga kapan saja. Karena musuh selalu mengintai kita, jikalau kita lalai maka beliau akan sanggup mengancam jiwa ataupun kelompok kita. Kita harus sanggup berdiri diatas kaki sendiri dan berani, setiap ada persoalan di lapangan harus bisa kita selesaikan secepatnya dengan bijak dan tanpa ada niat untuk menunda-nunda. Karena permainan teka-teki pikiran kita terkadang juga akan menjadi musuh utama yang sewaktu-waktu bisa membunuh peluang dan kesempatan emas yang sifatnya terbatas.

Untuk mencapai sasaran dan cita-cita, kita harus melalui tahapan-tahapan dan waktu. Karena semua itu tidak ada yang instan, semua butuh waktu dan proses. Kita harus bersabar, istimrar dan penuh keyakinan.
Tidak ada prajurit perang yang akan memenangi pertempuran jikalau beliau gres mengasah pedang ketika serangan musuh datang.

Karena itulah, kita harus mengasah pedang dan memperkuat perisai mulai dari kini serta selalu siap siaga. Jika tidak tahu cara mengasah pedang yang benar, tanyakan pada ahlinya. Akan berakibat fatal jikalau kita mengasah kepingan yang salah, maka sewaktu-waktu pedang tersebut akan menebas kita. Demikian juga ilmu, jikalau kita salah dalam menuntut ilmu, atau menuntut ilmu tanpa guru, maka kita akan menelusuri jalan kesesatan dan menyesatkan.

Saya teringat kata-kata Doktor permintaan fiqh tingkat 4 Fakultas Syariah dikala pertemuan terakhir mata kuliah Usul Fiqh: “Harapan saya, biar kalian bisa menjadi duta-duta terbaik Al Azhar di manapun kalian berada, baik itu di Indonesia, Nigeria, maupun di negara-nrgara lain. Dan kalian harus tetap memakai manhaj Azhari”.

Dengan demikian, kita tidak cuma bisa membanggakan sesungguhnya kita yaitu mahasiswa Universitas Islam tertua di dunia, tapi kita harus bisa mengambarkan dan menunjukkan identitas Al Azhar yang memang terbukti mencetak generasi ulama. Sehingga Al Azhar pun gembira punya mahasiswa mirip kita.


Oleh : Muammar Zainun

Mahasiswa tingkat selesai Fak. Syariah wal Qanun, Universitas Al-Azhar ; dikala ini juga menjabat sebagai ketua KMA 2012-2013

Thursday, 12 March 2020

Majma’ Buhuts: Front Ulama Azhar Tidak Ada Lagi


Kairo, 23 Juli 2013. Majma’ Buhuts Islamiyah (Lembaga Pengkajian Islam) Universitas Al-Azhar, Mesir, mengingkari keberadaan  Jubhah Ulama Azhar atau yang lebih dikenal dengan Front Ulama Al Azhar. Pernyataan tersebut disampaikan sekretariat Majma’ Buhuts (22/7) melalui situs resmi Al Azhar.

Nama Front Ulama Al-Azhar yang pascapenurunan Presiden Mursi  kembali mencuat menyebabkan tanda tanya banyak orang ihwal eksistensinya. Menanggapi hal tersebut, Majma’ Buhuts memaparkan sejarah organisasi tersebut yang terbentuk pada tahun 1946 dengan tujuan untuk kebangkitan Islam serta meningkatkan tugas Al-Azhar. Namun dalam perjalannanya, organisasi tersebut melenceng dari tujuan utama pembentukannya. Mereka mulai merusak gambaran Al-Azhar dan "ulamanya" serta banyak sekali pelanggaran lainnya.

Berdasarkan hal tersebut, Gubernur Kairo mengeluarkan keputusan pembubaran dewan pengurus organisasi ini, serta penunjukan dewan pengurus sementara sesuai dengan Keputusan Gubernur Nomor (381) tahun 1998.

Hingga tanggal 8 April 1992, nama “Jubhah Ulama Al Azhar” atau Front Ulama Al Azhar resmi diganti menjadi “Jam’iyyah Khairiyyah Lil ‘Amilin Fii Haiati Al-Azhar”,  atau Lembaga Sosial untuk pegawai Al Azhar.

Majma’ Buhuts Islamiyah menyampaikan bahwa ketika ini tidak ada lagi LSM yang berjulukan Front Ulama Al-Azhar. Adapun orang-orang yang mendeklarasikan LSM tersebut akhir-akhir ini tidak mewakili institusi manapun.

Dalam peryataan tersebut Majma’ Buhuts juga menambahkan bahwa Al-Azhar hanya diwakili oleh Grand Syeikh Al-Azhar beserta badan-badan yang berada di bawahnya, terutama Majelis Ulama Senior  Al Azhar. (FR)



Wednesday, 11 March 2020

Dari Al Azhar Untuk Mesir


Menyikapi gerakan turun ke jalan dari kedua belah pihak; pendukung dan anti Mursi, di Mesir hari ini, Jum'at, 26/7/2013, pihak Al-Azhar mengeluarkan usul yang eksklusif ditandatangi oleh Syaikh Al-Azhar, Ahmad Thayyib, sebagai berikut:

"Al Azhar telah mendengar impian rakyat Mesir untuk mengungkapkan apa yang mereka inginkan pada Jum’at ini. Al Azhar yakin seyakin-yakinnya bahwa rakyat Mesir, terlepas dari apapun orientasi dan afiliasinya, akan mengekspresikan  pandangan mereka dengan cara yang beradab tanpa kekerasan ataupun terjerumus ke dalam kubang kekacauan. Al Azhar juga yakin bahwa rakyat negeri ini tidak akan mengecewakan Mesir sebagai tanah air, Mesir sebagai negara yang beragama dan Mesir sebagai negara yang berperadaban. Mereka akan menawarkan kepada seluruh dunia sebuah pelajaran akan arti tanggung jawab dan cara yang baik dalam memberikan pandangan.

Al Azhar juga percaya apa yang diinginkan oleh usul ini, sebagaimana yang telah disampaikan oleh juru bicara militer, bahwa usul ini ialah untuk persatuan seluruh rakyat Mesir,kebersamaan, menghindari kekerasan dan berkumpul di atas satu hati; untuk menghentikan kekerasan, kebencian dan mendukung Angkatan Bersenjata, Kepolisian serta seluruh forum kenegaraan; supaya sanggup menuntaskan semua permasalahan, kekerasan, terorisme dan ketidakamanan, yang ketika ini sedang melanda negeri ini, permasalahan yang hampir saja menghanguskan seluruh pencapaian yang telah di capai oleh Revolusi Mesir yang senantiasa menarik perhatian dunia dengan perdamaiannya, perkembangan, serta rakyatnya yang istimewa.

Sekali lagi kami sampaikan, Al Azhar memanggil kalian, wahai rakyat Mesir, dengan Hak Allah SWT. dan kesucian agama kalian, supaya berusaha semampu-mampunya memberikan pandangan kalian dengan cara yang tenang dan pantas bagi kalian dan Mesir. Rapatkan barisan, berbuat sepakat dengan sesama, satukan kalimat dan berhati-hatilah terhadap apapun yang memerangi kalian dan tanah air kalian.

Kepada seluruh Rakyat Mesir, bergeraklah untuk menyelamatkan Mesir dari setiap yang ingin menjatuhkannya dan kalian bisa untuk melewati krisis dan cobaan ini. Bertawakkal-lah kepada Allah Ta’ala.

Semoga Allah melindungi Mesir dari setiap keburukan." (FR)

Korban Berjatuhan, Syaikh Al-Azhar Kutuk Pembantaian


Kairo, 27 Juli 2013. Pasca agresi turun ke jalan yang berujung dengan jatuhnya korban (26/7), Grand Syaikh Al-Azhar angkat bicara. Melalui laman situs resmi Al-Azhar, Syaikh Ahmad Thayyib memberikan kepedihannya yang amat mendalam.

“Al-Azhar menuntut pemerintah sementara untuk menilik tuntas segera perkara tersebut dan memperlihatkan eksekusi yang setimpal kepada semua pelaku penyerangan tanpa pandang bulu,” tegas Syaikh Ahmad Thayyib.

Selain itu, Grand Syaikh juga mengajak seluruh tokoh masyarakat dari semua elemen untuk segera mengadakan duduk bersama dalam rangka menuntaskan permasalahan yang sedang menimpa Mesir dikala ini.

Di simpulan pernyataannya, Syaikh Ahmad Thayyib mengingatkan kepada seluruh rakyat Mesir akan Hadits Nabi Muhammad SAW.: “Apabila terjadi pertengkaran dua orang muslim dengan pedang mereka, maka masing-masing, pembunuh dan terbunuh masuk neraka.” (FR)


Tuesday, 10 March 2020

Kementrian Wakaf Mesir Khususkan 3688 Mesjid Untuk I’Tikaf

Kementrian Wakaf mengumumkan pengkhususan 3688 mesjid yang akan dipakai sebagai daerah I’tikaf pada sepuluh simpulan bulan ramadhan. Mesjid-mesjid tersebut tersebar di banyak sekali provinsi. Hal ini dilakukan dalam rangka menghidupkan sunnah I’tikaf yang termasuk dalam ibadah sunnah muaakkadah dalam bulan yang mulia ini.

Mentri Wakaf, DR. Mukhtar Jumuah, pada pernyataannya hari selasa (30/7) menyampaikan bahwa terdapat 208 mesjid di Kairo untuk melaksankan I’tikaf, 230 mesjid di Qalyubiyah, 400 di Manufiah, 403 mesjid di Provinsi Syarqiyah, 214 di Provinsi Gharbiyah, 235 di Bani Suwaif, 70 mesjid di Selatan dan Utara Sinai, 127 di Al-Minia, 322 di Al-Daqahliyah dan 190 mesjid di Al-Jizah. Sedangkan sisanya tersebar di provinsi-provinsi lainnya.

Mentri Wakaf juga menambahkan, terdapat 3427 lapangan yang akan dijadikan daerah untuk melangsungkan shalat idul fitri yang tersebar di seluruh provinsi di Mesir. (FR)


Monday, 9 March 2020

Syeikh Azhar Tolak Seruan Gugurkan Keanggotaan Dr. Qardhawi

Syeikh Ahmad Thayyib
Kairo, 6/8/2013. Grand Syeikh Azhar Syarif Dr. Ahmad Thayyib menolak tegas seruan semoga keanggotaan Fadhilah Syekh Muhammad Yusuf Al-Qardhawi sebagai anggota Haiyyiah Kibarul Ulama Azhar. Namun Grand Syeikh menolak seruan tersebut. Sebelumnya, Dr. Qardawi telah diminta meletakkan jabatannya sebagai salah satu anggota organisasi tersebut.

Permintaan tersebut disampaikan pribadi oleh sebagian besar anggota senior Haiyyiah Kibarul Ulama Azhar, mereka menyerukan semoga diselenggarakannya sidang darurat untuk menuntaskan masalah ini. Mereka juga memberikan keberatan terhadap perilaku Dr. Qardhawi terhadap posisi Syeikh Azhar dan polemik Mesir.

Berita ini juga dipublish Koran Syuruq. Website resmi Azhar Syarif juga memberitakan info ini, namun tidak ada klarifikasi lanjut mengenai penyebab dan siapa saja ulama yang mengajukan permohonan tersebut.
Haiyah Kibarul Ulama Azhar merupakan perhimpunan ulama-ulama Senior Al-Azhar Mesir, organisasi ini merupakan otoritas keagamaan tertinggi milik Al-Azhar, bertugas menyeleksi pencalonan Mufti dan memutuskan hal yang berkaitan dengan keagamaan serta menawarkan pendapat kepada dewan legislatif mengenai aturan aturan Islam. Komisi berjumlah 40 orang yang merupakan ulama Besar Al-Azhar dari empat mazhab fiqih masyhur termasuk didalamnya Dr. Qardhawi. Otoritas ini dipimpin pribadi oleh Syeikh Azhar Dr. Ahmad Thayyib. (Ms)


Madhyafah Khatamkan Kitab Bidayatul Hidayah


Selama bulan suci Ramadhan Madhyafah mengadakan pengajian kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al ghazali. Sebenarnya pengajian tersebut berawal dari usul para Thalib yang menghadiri pengajian Syarah Matan Al zubab li Ibni Ruslan bersama Syeik Sayyid Syaltut biar tidak mentawaqqufkan pengajian selama Ramadhan, lalu syaikpun menentukan kitab Al adab, yang cocok dipelajari selama Ramadhan.

Pengajian tersebut dimulai semenjak puasa ke enam, pengajian ini akan diadakan selama empat kali pertemuan saja selama Ramadhan, namun Syaikh Syaltut yang sudah terbiasa dengan sistem mengajarnya yang daqiq ditambah isi kandungan dari kitab karya imam al ghazali tersebut juga luar biasa, syaik dan pada hadirin juga sangat menikmati syarahannya, sehingga jadwal ditambah hingga tujuh kali pertemuan.

Di setiap pertemuan, pengajian di mulai sesudah shalat Ashar dan berakhir sekitar lima menit menjelang berbuka dikarenakan para Mas'ul Madhiyafah (penanggung jawab) selain mengadakan pengajian, juga menyedikan sajian berbuka bagi hadirin.
Mendapat Ijazah

Akhirnya pengajianpun berakhir dengan program Khataman pada hari selasa yang bertepatan dengan hari 28 Ramadhan, pada Acara khataman turut hadir Syaikh Asyraf Ja'fari beserta seorang Qari dan seorang pembaca seorang ma'adihun.

Setiap penerima pengajian mendapat ijazah atas kehadiran mereka selama pengajian, acarapun berakhir dengan pembacaan mada"ih oleh seorang ma'adihun dari sha'id Mesir. (Mjthd)

Sunday, 8 March 2020

Syaikh Al-Azhar: Obrolan Satu-Satunya Solusi Mesir, Bukan Kekerasan


Dalam mencari jalan keluar bagi kemelut Mesir yang terjadi akhir-akhir ini Al-Azhar As-Syarif berusaha mengajak semua golongan politik untuk duduk di meja dialog. Hal ini untuk menuntaskan konflik yang semakin meluas.

Grand Syaikh Al Azhar, Dr. Ahmad Thayyib, kembali mengingatkan akan kehormatan darah rakyat Mesir, dan sangat menyayangkan pembantaian yang terjadi tadi pagi (14/8/2013). Selanjutnya dia juga mengingatkan semua pihak untuk menjauhi kekerasan dan pertumpahan darah, dengan menukilkan hadis Rasulullah Saw.:
لزوال الدنيا أهون عند الله من دم امرئ مسلم

"Sungguh lenyapnya dunia bagi Allah lebih ringan dari terbunuhnya seorang muslim"

Al-Azhar As-Syarif masih kokoh dalam pendiriannya, bahwa kekerasan tidak sanggup menjadi pengganti untuk solusi politik, akan tetapi jalan tersebut hanya sanggup dicapai dengan cara dialog. Al-Azhar juga mengajak semua pihak untuk menahan diri, mengutamakan budi dan nalar dalam mengambil tindakan, serta mendapatkan upaya nasional untuk obrolan dan rekonsiliasi komprehensif.

Untuk mengklarifikasi fakta sebenarnya, dan tanggung jawab di hadapan Allah Swt. dan negara, Syeikh Ahmad Thayyib mengumumkan bahwasanya  Al- Azhar sama sekali tidak mengetahui perihal rencana pembubaran demonstran, dan gres mengetahuinya  melalui gosip warta pagi tadi. Di samping itu Syaikhul Azhar juga berpesan biar tidak mengait-kaitkan Al- Azhar dengan politk yang sedang berkecamuk ketika ini. (HN)



Friday, 6 March 2020

Al-Azhar Jamin Keselamatan Demonstran


Kairo, 17/8/2013. Grand Syekh Al-Azhar, Dr. Ahmad Thayyib, bersama beberapa ulama Al-Azhar menjamin keselamatan para demonstran yang berlindung semenjak jum’at kemarin (16/8) di Mesjid Al-Fath, Ramses, untuk keluar mesjid dengan selamat. Al-Azhar juga memastikan bahwa mereka sanggup keluar tanpa penangkapan dan sanggup meninggalkan kawasan dengan segera.

Bagian Penerangan Al-Azhar juga menyatakan bahwa Ulama Al-Azhar telah berhasil mengeluarkan para demonstran dengan selamat berkat kerjasama pihak otoritas keamanan dan demonstran serta semua pihak yang terkait. Para demonstran meninggalkan kawasan sesudah melalui pengurusan dengan pihak keamanan dan disaksikan oleh Ulama Al-Azhar. (FR)

Sumber: http://onazhar.com

Wednesday, 4 March 2020

Mufti: Mengganggu Al-Azhar Berarti Bahaya Bagi Keamanan Nasional Mesir


Kairo – Konflik yang terjadi di Mesir semenjak lengsernya mantan presiden, DR. Muhammad Mursi, hingga ketika ini telah menarik perhatian dunia. Tak hanya itu, banyak pihak baik dalam maupun luar negeri turut andil menunjukkan jasa untuk menuntaskan konflik tersebut. Sebagian pihak mencoba masuk terlalu jauh dalam urusan dalam negeri Mesir, bahkan ada yang hingga mencoba masuk ke ranah Al-Azhar beserta lembaga-lembaga yang ada di dalamnya.

Menanggapi hal tersebut, Mufti Mesir, DR. Syauqi Allam, angkat bicara. Melalui situs resmi Dar Al-Ifta, Mufti menegaskan bahwa gangguan terhadap Al-Azhar dan Grand Syaikh Al-Azhar serta lembaga-lembaga yang bernaung di bawahnya merupakan bahaya bagi keamanan Nasional Mesir. Mufti memperingatkan Kementrian Luar Negeri Mesir untuk menindak gangguan tersebut alasannya yakni sanggup mengganggu kestabilan keamanan negara tersebut.

Selain itu Mufti juga menjelaskan bahwa pilihan yang diambil oleh Grand Syaikh Al-Azhar As-Syarif, DR. Ahmad Thayyib, yakni untuk kemaslahatan Mesir beserta rakyatnya yang terdiri dari aneka macam golongan dan afiliasi serta untuk mempertahankan kemaslahatan agama dan negara.

Mufti juga menambahkan dalam pernyataan tersebut bahwa seluruh rakyat Mesir mengakui kiprah Al-Azhar sepanjang sejarah yang merupakan acuan seluruh rakyat Mesir bahkan dunia Islam. Khususnya ketika masa-masa konflik, Al-Azhar bangun sebagai salah satu pihak yang berperan penting dalam menjaga persatuan umat.

Sebagai penutup, Mufti menegaskan bahwa Al-Azhar dan seluruh lembaga-lembaga yang ada di dalamnya senantiasa berusaha untuk kemaslahatan umat. Al-Azhar merupakan kiblat prinsip moderat yang dipegang oleh seluruh rakyat Mesir, adapun gangguan terhadap Al-Azhar dan Grand Syekhnya sama dengan penghinaan terhadap seluruh rakyat Mesir. (FR)

Tuesday, 3 March 2020

Mengenal Madrasah Madhyafah

Madhyafah ini sangat terkenal dikalangan mahasiswa Azhar, terlebih bagi mereka yang haus dengan ilmu agama. Bagi pelajar abnormal yang menuntut ilmu disini (Mesir) khususnya dari Malaysia, Indonesia dan Thailand tentu sangat mengenal huruf madrasah yang satu ini (Mazhyafah).

Madrasah ini mendapatkan murid dengan latar belakang apa saja, tanpa biaya dan syarat tertentu. Tidak mengutip biaya listrik, air atau biaya berguru mengajar. Dulunya hanya mempunyai dua ruangan dengan kapasitas murid seratusan. Dan uniknya disini kita sanggup menentukan sendiri maddah (pelajaran) yang kita minati.

Mazhyafah sendiri menyusun aktivitas pelajaran sesuai kebutuhan dan kesiapan pengajar. Mengingat sebagian besar pengajar madrasah ini notabenenya merupakan ulama besar atau duktur senior pengajar di Universitas Al-Azhar sendiri. Baik ulama pengajar di Mesjid Azhar maupun Duktur senior, kedua-duanya merupakan guru-guru piihan dan andal dibidangnya.

Syeikh Ali Jum'ah (mufti Mesir 2003-2013) sendiri pernah mengajar di madrasah ini, dia mengajar diawal-awal dikala madrasah ini gres didirikan. Ketika itu dia mengajarkan Tafsir Surah An-Nisa. Dan sudah ma'ruf bahwa dia merupakan salah satu Guru Besar Universitas Al-Azhar.

Disamping itu terdapat nama-nama ulama besar lainnya menyerupai Syeikh Thaha Rayyan yang mengajarkan Al-Mutawattha. Syeikh Fathi al-Hijazy dengan maddah Qatr an-Nada (dulu) dan al-Usymuny ‘ala Alfiyah Ibn Malik (sekarang). Syeikh Sayyid Shaltut, yang menamatkan Bidayah al-Hidayah (Ramadhan kemarin).


Profil Madrasah
Nama lengkap madrasah yakni Madhyafah al-Syaikh Ismail Shadiq al-Adawy. Didirikan pada tahun 2000 M/1421 oleh Syaikh Yusri Muhammad Amin Jum’ah, salah satu murid Syaikh Ismail Shadiq al-Adawy. Sampai kini Syaikh Yusri masih menjadi pimpinan yang mengontrol eksklusif forum pendidikan ini.

Madrasah ini memakai sistem berguru eksklusif dengan Guru (syeikh). Memiliki tiga ruangan berguru mengajar. Terletak di wilayah Husein, distrik Darrasah, tepatnya persis di depan kampus al-Azhar.

- Informasi seputar madrasah Madhyafah dan aktivitas pengajiannya sanggup diperoleh di link ini

- Untuk video pengajian pembaca sanggup meng-klik link ini

====

*dari aneka macam sumber.

Sunday, 1 March 2020

Al-Azhar Tunda Tahun Anutan Baru

kmamesir.org - Rabu (18/9) Dewan Al-Azhar yang dipimpin Rektor Universitas Al-Azhar; DR. Usamah Al-Abd., mengeluarkan pernyataan terkait penundaan tahun pedoman baru; yang sebelumnya dijadwalkan akan berlangsung Sabtu 21 September  ditunda sampai 5 Oktober 2013 mendatang.

DR. Usamah menyerupai dilansir islammemo.cc menyampaikan bahwa penundaan ini dilakukan untuk menghindari pembahasan problem politik di ranah kampus ditengah tendensi politik yang belum stabil.

Beliau juga menekankan perlunya melestarikan orisinil kampus sebagai daerah belajar-mengajar dan menimba ilmu. Terlebih lagi Al-Azhar sebagai universitas islam tertua haruslah jauh dari anyir politik dan partai. (RA) 

Sumber : islammemo

Saturday, 29 February 2020

Mazyafah Buka Daurah Ulum As-Syar'iyyah Wal-Arabiah



kmamesir.org - Madhyafah Syeikh Ismail Shadiq al-Adawy membuka pengajian rutin  bagi siapa saja yang ingin mengenal dan mempelajari dasar-dasar ilmu syariah dan lughah arabiah. Daurah tersebut kan diadakan secara terencana hingga hingga kepada sanad sang pengarang aneka macam kitab tersebut.

Menurut  info yang disebarkan melalui Page Resmi Mazdyafah Syeikh Al-Adawy, daurah akan berlangsung selama tiga bulan berturut-turut dan akan diisi oleh ulama besar azhar pemegang sanad resmi.

Beberapa buku yang akan dipelajari diantaranya Matan Jaziriyyah ala' Ilmi Tajwid, Durus fi Ilm' Balaghah, Matan Bina fi Ilm' Sharaf serta beberapa kitab figh, mantiq dan mawarist keseluruhan berjumlah sembilan maddah.

Dari kegiatan yang dirilis, pengajian akan dimulai pada tanggal 28 September 2013, dimulai sabtu sehabis Zuhur dan ba'da Ashar, kemudian Minggu sehabis Zuhur, Senin Zuhur dan Ashar, Selasa libur dan Rabu serta Kamis ba'da Zuhur dan Ashar. Jadwal dapat dilihat eksklusif di Mazyafah Syeikh Adawy bersebelahan dengan Universitas Al-Azhar, Darrasah. (Ms)

Friday, 28 February 2020

Ayo Hadiri Talaqqi Tajwid Bersama Syaikh Ahmad Saad!


kmamesir.org - Sheikh Ahmad Muhammad Saad Ash-Shafi’i Al-Azhari Al-Hasani akan mengawali pembukaan "Daurah Ulum As-Syar'iyyah wal-Arabiah"  yang diadakan oleh Madhyafah Syeikh Ismail al-Adawy. Beliau akan mengajarkan Matan Jazariyyah yang merupakan maddah dasar pada ilmu tajwid.

Syeikh Saad merupakan salah satu pemegang sanad Al-Quran tertinggi di dunia dengan selisih 29 orang sebelum Nabi Muhammad Saw. Menjabat sebagai Imam Mesjid London Utara, disamping sebagai utusan Al-Azhar ke Inggris.

Beliau termasuk diantara keturunan Rasulullah Saw. melalui Saydina Hasan bin Ali bin Abi Thalib.  Ulama Syafi'iyyah, hafiz Al-Qur'an semenjak berumur 10 tahun, mengkhatamkan Alfiyah Ibn Malik usia 13 tahun dan Riyadhusshalihin saat 15 tahun.

Diantara guru dia dalam ilmu qira'at, Syeikh Dr. Ayman Suwaid dari Damaskus, Syeikh Muaz Safwat, Syeikh Ali An-Nahhas, Syeikh Sibl al-Matar, Syeikh Abdul Basit Hasyim dan Syeikh Abdul Fattah Masykur. Disamping itu dia juga alim dalam Fiqh Syafi'i, ilmu Tasawuf, Tafsir dan Sastra. Beliau mencar ilmu kepada Syeikh Ali Jum'ah (Mesir), Habib Ali Jifri (Yaman), Ahmad Ali As-Surti (Hindia), Usamah Sayyid Azhari (Mesir), Muhammad Abdul Ba'its Al Kittani (Mesir) dan banyak lainnya dari banyak sekali negara dan disiplin ilmu.


Insya Allah, pengajian kitab Matan al-Jazariyyah dengan dia akan dimulai hari sabtu ba'da Zuhur jam 14.00 CLT. Semoga berkenan berhadir menjemput keberkahan majlis ilmu. Barakallah. (Ms)

Thursday, 27 February 2020

27 Mahasiswa Al-Azhar Asal Aceh Diwisuda


kmamesir.org - Kairo - Sebanyak 27 mahasiswa/i Universitas Al-Azhar asal Aceh diwisuda Senin kemarin (7/10). Acara tersebut terselenggara atas kerjasama Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir dengan Atase Pendidikan KBRI Kairo dan Ikatan Alumni al-Azhar Internasional. Acara wisuda tahun ini bertempat di Auditorium Andalus; kompleks al-Azhar Conference Center, Nasr City, Kairo.

Hadir dalam program ini Duta Besar RI untuk Mesir Nurfaizi Suwandi, Atase Pendidikan KBRI Kairo Dr. Fahmy Lukman, M.Hum beserta jajarannya, Prof. Dr. Abbas Syuman selaku wakil al-Azhar, Prof. Dr. Ibrahim Hudhud wakil Rektor Universitas al-Azhar, Dr. Ahmad Husni wakil Rektor Universitas al-Azhar, Penasehat Syaikh Azhar urusan luar negeri Abdurrahman Musa, dan segenap dekan fakultas di Universitas al-Azhar.

Selain mahasiswa asal Aceh, terdapat juga ratusan mahasiswa lainnya dari banyak sekali tempat di Indonesia serta mahasiswa-mahasiswa dari negara lainnya menyerupai Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Rusia dan Nigeria dengan jumlah total 353 wisudawan/i.

Dalam sambutannya, Duta Besar RI untuk Mesir, Nurfaizi Suwandi, mengingatkan bahwa sarjana bukanlah final dari perjuangan, akan tetapi awal dari perjalanan. Selain itu Dubes juga memberikan bahwa Indonesia ketika ini sedang dalam proses pengembangan ekonomi, khususnya ekonomi syari’ah yang ketika ini diakui dunia sebagai sistem ekonomi yang bisa bertahan disaat sistem-sistem ekonomi lainnya mengalami krisis. Diharapkan lulusan-lulusan Al-Azhar sanggup mengambil andil dalam pembangunan tersebut dan sanggup mengembangkan aliran islam yang moderat sebagaimana yang diajarkan oleh al-Azhar.


Wakil Grand Syekh Al-Azhar, DR. Abbas Syuman, juga berpesan tiga hal kepada para wisudawan. “Berpegang teguh pada Al-Quran, berpegang teguh pada Sunah Rasulullah, dan sebarkan paham Islam yang moderat dan toleran sebagaimana yang diajarkan oleh al-Azhar,” ujar DR. Abbas Syuman. (FR)

Wednesday, 26 February 2020

Mahasiswa; Segeralah Bergerak!

Oleh; Muhajir Sanusi


Pasca pengkudetaan presiden Mesir terpilih Muhammad Mursi, oleh militer pada rabu, 03 Juli 2013 lalu, proses berguru mengajar di Universitas al-Azhar tahun anutan 2013-2014 agak sedikit terhambat, sebab keadaan negeri tak kunjung membaik. Padahal tahun sebelumnya mahasiswa biasanya sudah kembali aktif mengikuti muhadharah di kuliyah masing-masing dua ahad sesudah lebaran Idul Fitri.

Tetapi sampai hari ini, kuliah belum dimulai, sementara Idul Adha akan segera tiba. Mahasiswa pun semakin rindu comeback to campus untuk bertatap muka dengan duktur, dan juga membeli muqarrar-muqarrar baru.

Para mahasiswa yang jeli melihat kondisi ini. Mereka tidak lantas membuang-buang waktu. Sebagian mahasiswa memanfaatkan jeda waktunya untuk menghadiri talaqqi  keilmuan, kajian-kajian ilmiah ada juga yang mengaktifkan diri di daurah tahfizul quran dan mengasah talenta menulis khat di markaz yang tersedia. Semua ini merupakan sebuah inprovisasi yang pesat, khususnya bagi warga Aceh sendiri yang sudah banyak aktif di tempat-tempat tersebut.

Motivasi sebagian mahasiswa untuk memanfaatkan sisa waktu di Mesir ini dengan sebaik-baiknya, sebab merasa diri masih serba kurang dalam kapasitas ilmu, sehingga hatinya mulai terdorong ikut mencari sumber ilmu diluar kuliah, ada yang termotivasi sesudah mendengar dongeng kawan-kawan yang gres kembali dari rihlah ba’idah (pulang kampung-read), yang mempetakan kondisi keilmuan di Nanggroe, dan tak sedikit dari kita yang mulai rajin dan menikmati khazanah agama diawali hanya dengan niat ikut-ikutan kawan, semuanya ini akan menjadi titik teladan bagi kita untuk kembali sadar akan tujuan utama ke tanah anbiya ini.

Bergerak bersama ulama

Sebuah kesyukuran bagi kita semua, para alim ulama di Mesir ini sangat nrimo membimbing para mahasiswa menapaki jalan-jalan keilmuan. Sekarang kita sama-sama sadar masih ada generasi ulama-ulama yang nrimo memberi tanpa sedikitpun meminta. Mereka yang rela mengorbankan waktu untuk mencetak kader ummat selanjutnya.

Mereka hanya berharap ridha Allah, dan tentunya keinginan mereka kita sanggup melanjutkan warisan yang telah mereka sanggup daripada guru-gurunya dulu. Agar ilmu agama terus hidup di permukaan bumi Allah ini.

Kita semua hendaklah mengingat bahwa dikemudian hari kita akan menjadi calon pengganti para ulama dan guru-guru kita sekarang. Kita harusnya sudah meraba diri apakah siap mendapatkan amanah ini. Guna melestarikan sunnatullah. Karena apabila ulama pewaris ambiya telah tiada dan kita belum sanggup menggantinya, maka siap-siaplah melihat ilmu agama itu tercabut dari dunia ini, dan kesesatan semakin merajalela. Seperti yang Nabi katakan dalam sabdanya.
Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba-hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama. Hingga jikalau sudah tidak tersisa ulama maka insan akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, saat mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan".(HR Bukhari)

Maka marilah kita sama-sama memperbaharui kembali niat, dan selalu mengingat tujuan utama kita di Mesir ini. Semuanya kembali pada diri kita sendiri, sejauh mana kesiapan kita untuk terjun dalam masyarakat. Jangan sia-siakan waktu sebab setiap langkah kita berarti untuk masa depan ummat.

Ppmi Hadiri Pertemuan Dengan Menteri Wakaf Mesir

Presiden PPMI; Amrizal Batubara -ketiga dari kiri- beserta beberapa menteri kabinetnya, berkunjung ke Masyikhah guna menghadiri pertemuan dengan menteri wakaf Mesir. photo doc. PPMI Mesir
Kmamesir.org - Setelah kemarin menghadiri pertemuan dengan petinggi Al-Azhar di masyikhah, hari ini, Kamis (10/10) Presiden PPMI beserta beberapa menterinya mengunjungi gedung Rabithah guna memenuhi usul pertemuan bersama Menteri Wakaf Mesir, Prof. Dr Abdul Fadhil Al-Qusi. Acara ini  juga dihadiri oleh wakil ketua Ikatan Alumni Al-Azhar Asy-Syarif. Rombongan PPMI disambut hangat dan penuh rasa hormat oleh hadirin, "Mahasiswa Indonesia yaitu mahasiswa yang baik,” begitu ungkapan mereka menyerupai dilansir tim redaksi dari status facebook ketua PPMI; Amrizal Batubara.

Berikut Hasil pertemuan yang dihadiri juga oleh Direktur pelajar absurd di Mesir Ustadz Ahmad Dzakaria ini;

  • Akan diadakan seminar ilmiyah bersama para pakar-pakar Azhar sesudah ‘Idul Adha.
  • Akan diadakan ziarah ke tempat-tempat bersejarah.
  • Akan diadakan pertemuan-pertemuan bersama ulama-ulama Azhar.
  • Mengaktifkan tugas Ikatan Alumni al-Azhar di Indonesia.
  • Mempererat kekerabatan sesama alumni al-Azhar di kancah nasional dan internasional.

Berniat selesaikan  problematika akademik masisir; Presiden PPMI berkunjung ke Masyikhah

Menyikapi perihal permasalahan masisir -Mahasiswa Indonesia di Mesir- red. belakangan ini yang berkaitan dengan akademik, Presiden PPMI, Amrizal Batubara, beserta jajarannya menghadiri pertemuan dengan beberapa petinggi Universitas Al-Azhar di Masyikhah pada hari Rabu (9/10). Pertemuan ini pribadi dihadiri oleh penasehat Grand Syaikh Al-Azhar, Prof. Dr. Abdur Rahman Musa, Rektor universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Usamah el-Abd, dan juga wakilnya Prof. Dr. Ibrahim Hud-Hud. Turut hadir juga dalam pertemuan ini dekan-dekan dari setiap fakultas Al-Azhar.

Adapun permasalah yang dibicarakan dalam pertemuan ini, diantaranya yaitu :
  • Membahas wacana murid gres yang dari Indonesia.
  • Membahas wacana beasiswa.
  • Membahas wacana bawah umur ma'had.
  • Membahas wacana manajemen pasca sarjana (S2 dan S3).
  • Membahas wacana kemungkinan diluluskannya mahasiswa yang sudah terlalu usang di Mesir.
  • Membahas wacana sistem perkuliahan yang ada di al-Azhar.
  • Membahas wacana biar diadakan ujian ulang bagi yang belum lulus (ujian perbaikan dari semua tingkat)
Pertemuan ini terbilang tidak terlalu formal, sebab diselingi dengan banyak sekali canda tawa para hadirin. Acara ini berakhir pada pukul 17.30 CLT. Para petinggi Al-Azhar kemudian juga menjelaskan bahwa hasil musyawarah tersebut akan ditindaklanjuti sesudah jeda libur Idul Adha. [TR]