Tuesday, 25 February 2020

Usamah Bin Zaid Ra Panglima Kecintaan Rasulullah


Usamah bin Zaid yaitu putra dari sobat kesayangan Rasulullah SAW, Zaid bin Haritsah, yang ia pernah menjadikannya sebagai anak angkat, dari status sebelumnya sebagai budak dan pelayan beliau. Ibunya-pun yaitu orang yang bersahabat dan disayang Rasulullah SAW, Ummu Aiman, bekas sahaya beliau. Keduanya merupakan orang-orang yang mula-mula memeluk Islam, sehingga tak heran Usamah-pun menjadi kesayangan ia menyerupai juga ayahnya.

Usamah lahir pada tahun ketiga atau keempat dari kenabian, sehingga mudah ia ia tidak pernah mengalami masa jahiliah. Didikan masa kecil dan remajanya yaitu budpekerti kenabian, baik dari kedua orang tuanya yang yaitu didikan Nabi SAW, atau bahkan terkadang ia turun pribadi dalam membentuk budpekerti Usamah. Kondisi menyerupai inilah yang menambah rasa sayang ia kepadanya.

Beberapa sahabat-pun sangat sayang pada cukup umur ini melebihi anaknya sendiri, menyerupai yang terjadi pada Umar bin Khaththab. Saat menjadi khalifah, Umar pernah membagi-bagikan uang pada masyarakat, dan jumlahnya berbeda-beda berdasarkan kedudukan dan jasa mereka kepada Islam, dan juga evaluasi Nabi SAW atas mereka. Ketika tiba giliran anaknya, Abdullah bin Umar, ia memperlihatkan satu bagian. Giliran Usamah bin Zaid, Umar memberikannya dua belahan dari belahan anaknya.

Abdullah bin Umar jadi bertanya-tanya, bukan problem jumlahnya alasannya yaitu intinya ia juga didikan Nabi SAW yang mengutamakan kehidupan zuhud dan sederhana menyerupai juga Umar, ayahnya. Hanya saja ia takut ada yang kurang dalam amal ketaatan dan kesalehannya, alasannya yaitu itu ia bertanya, "Wahai ayah, mengapa engkau mengutamakan Usamah dibanding anakmu sendiri? Bukankah saya mengikuti pertempuran yang tidak atau belum diikutinya bersama Rasulullah??"

Tetapi jawaban Umar tegas dan tidak sanggup dibantah lagi, ia berkata, "Usamah lebih dicintai Rasulullah daripada dirimu, menyerupai juga ayahnya lebih disayang Rasulullah daripada ayahmu….!!"

Dalam usianya yang masih sangat muda, ia telah ikut menerjuni beberapa pertempuran bersama Nabi SAW. Dalam Fathul Makkah, ketika Nabi SAW akan memasuki Ka'bah, ia membawa Bilal di sisi kanan dan Usamah bin Zaid di sisi kiri beliau. Sungguh kehormatan besar yang diberikan Nabi SAW kepada keduanya, bukan Abu Bakar atau Umar, atau delapan sobat lainnya yang telah ia jamin masuk surga. Dua orang itu yaitu bekas budak yang secara umum, mungkin kedudukannya tampak rendah di masyarakat.

Nabi SAW pernah mengirimkan suatu pasukan di bawah kepemimpinan Usamah bin Zaid, pengalaman pertamanya memimpin suatu pasukan sehabis sebelumnya hanya sebagai prajurit biasa. Pasukannya ini memperoleh kemenangan gemilang, dan sebagai orang yang disayang, Nabi SAW pribadi menyambutnya dan memintanya menceritakan pengalamannya. Mulailah Usamah menceritakan jalannya pertempuran. Tampak wajah Nabi SAW berseri alasannya yaitu senangnya dengan apa yang dijalani "Kesayangan Rasulullah SAW, putra dari kesayangan Rasulullah SAW", begitu kebanyakan sobat menyebut Usamah bin Zaid ini.

Ketika Usamah menceritakan, bahwa seorang pemanggul panji musyrik yang perkasabanyak membunuh dan melukai tentara muslim sehingga pedangnya berlepotan darah dan daging para syahid masih menempel. Usamahpun mengejar dan memerangi pribadi orang tersebut. Ia berhasil melumpuhkannya, tetapi ketika ia akan melaksanakan pukulan terakhir dengan tombaknya, orang tersebut mengucap "La ilaaha illallah". Usamah sempat bimbang, tetapi dipikirnya, itu hanya siasat untuk menyelamatkan diri saja, alasannya yaitu itu ia terus menombaknya hingga tewas.

Tiba-tiba saja wajah Nabi SAW berubah merah padam tanda ia marah, ia berkata, "Celaka engkau wahai Usamah, begitukah tindakanmu terhadap orang yang mengucap 'La ilaaha illallah'??"

"Wahai Rasulullah," Kata Usamah mencoba menjelaskan dan membela diri, walau dengan ketakutan, "Dia menyampaikan kalimat itu hanya untuk menyelamatkan diri saja….!!"

"Begitu!!" Kata Nabi SAW, masih dengan nada tinggi, menandakan ia masih marah, "Mengapa tidak engkau belah dadanya dan engkau lihat apakah ia mengatakannya itu nrimo dari hatinya atau alasannya yaitu akal-akalan semata??"

Memang, bukanlah hak dan kewajiban kita menilai apa yang ada di dalam hati seseorang, apa yang tampil dan terlihat itu saja yang menjadi ukuran kita dalam mengambil sikap. Itulah pelajaran berharga yang ingin disampaikan Nabi SAW pada cowok kesayangan ia tersebut, sekaligus kepada kita semua.

Atas insiden tersebut, Nabi SAW menyatakan Usamah telah bersalah, tetapi tidak ditetapkan qishas (hukum bunuh, dipancung) atas dirinya, alasannya yaitu "pembunuhan" yang dilakukannya tidak sengaja, hanya suatu kesalahan. Nabi SAW mengumpulkan harta benda untuk membayar diyat (seratus ekor unta) kepada keluarga pemanggul panji musyrik yang mengucap "La ilaaha illallaah" tersebut.

Usamah sendiri tak henti-hentinya bertobat dan meratapi "kelancangannya" tersebut, sehingga menimbulkan Nabi SAW begitu murka kepadanya, walaupun kemudian ia mendoakan untuk menerima rahmat dan maghfirah Allah baginya. Tetapi setiap kali mengingat insiden tersebut, selalu saja ia menangis dan menyesal sambil berkata, "Amboi, andai saja ibuku tidak pernah melahirkan diriku…..!!"

Beberapa hari sebelum wafat, Nabi SAW menghimpun pasukan besar yang akan dikirim ke Syam, tepatnya di wilayah Palestina, pada kawasan berjulukan Abna. Latar belakang pengiriman pasukan ini yaitu terbunuhnya Farwah bin Amr al Judzami, bekas komandan pasukan Arab yang berpihak Romawi, yang juga gubernur Ma'an alasannya yaitu keputusannya memeluk Islam. Ia disalib dan dipenggal kepalanya oleh penguasa Romawi di Palestina.

Pasukan besar tersebut terdiri dari pejuang-pejuang senior dari kaum Muhajirin dan Anshar ini, termasuk Umar bin Khaththab dan para Ahlul Badr lainnya. Nabi SAW memutuskan pimpinan pasukan diserahkan kepada Usamah bin Zaid. Keputusan ia ini ternyata menimbulkan perbincangan dan kritikan dari beberapa orang sahabat. Yang paling keras komentarnya yaitu Ayyasy bin Abi Rabiah, ia berkata, "Anak kecil itu menjadi komandan dan amir dari kaum muhajirin awal??"

Saat itu Nabi SAW telah sakit cukup parah dan ia tidak mengetahui secara pribadi perbincangan pro-kontra yang terjadi dan berkembang di masyarakat Madinah. Ketika Umar mengabarkan hal tersebut, ia berdiri dan mengikat kepala ia dengan sorban untuk mengurangi rasa sakit. Sambil menggunakan selimut, ia naik ke atas mimbar di mana orang-orang sedang berkumpul. Setelah memuji Allah, ia bersabda, "Telah kudengar sebagian dari kalian mengecam kepemimpinan Usamah. Demi Allah, jikalau kalian mengecamdirinya, berarti kalian mengecam bapaknya. Demi Allah, sungguh ia (Zaid bin Haritsah) layak sebagai pemimpin, dan sepeninggal bapaknya, putranya sangat layak sebagai pemimpin. Dan sungguh, Zaid yaitu orang yang sangat saya kasihi, demikian juga Usamah. Keduanya layak untuk menerima semua kebajikan, alasannya yaitu itu, berwasiatlah kalian dalam kebajikankarena ia yaitu sebaik-baiknya orang di tengah kalian…!!"

Peristiwa tersebut terjadi pada hari sabtu tanggal 10 Rabi'ul Awal. Setelah khutbah ia itu, para sahabatyang ikut dalam pasukan tersebut berpamitan kepada Nabi SAW, termasuk Umar bin Khaththab. Hari Ahadnya, Usamah menemui Nabi SAW, keadaan sakit ia makin parah dan sempat pingsan. Setelah siuman, Usamah membungkuk dan mencium ia sambil matanya berkaca-kaca. Tetapi Nabi SAW hanya mengangkat tangannya, seperti berdoa, kemudian ia mengusapkannya ke wajah Usamah. Usamah menangkap instruksi tersebut sebagai doa restu untuk keberangkatannya, ia pun berangkat menuju kawasan pasukan berkumpul di Jurf, sebuah kawasan tidak jauh di luar Madinah, sekitar tiga mil.

Senin pagi tanggal 12 Rabi'ul Awwal tahun 11 hijriah, seharusnya ia memberangkatkan pasukannya ke Palestina, tetapi Usamah merasa tidak hening dengan kondisi Nabi SAW yang ditinggalkannya kemarin. Karena itu ia kembali ke rumah Nabi SAW, dan setibanya disana, ia tampak sehat, Usamah-pun gembira. Beliau sekali lagi mendoakan Usamah, kemudian bersabda, "Berangkatlah engkau dengan berkat dari Allah…!!"

Usamah kembali ke pasukannya di Jurf, ia segera mempersiapkan diri untuk segera berangkat. Tetapi belum sempat bergerak, tiba utusan dari ibunya, Ummu Aiman, yang memberi kabar bahwa Nabi SAW telah wafat. Usamah memerintahkan pasukan untuk kembali ke Madinah. Buraidah bin Hushaib, sobat yang diperintahkan Nabi SAW membawa dan menyerahkan panji ke rumah Usamah, membawanya kembali dan menancapkannya di sebelah rumah beliau.

Setelah wafatnya Nabi SAW dan Abu Bakar terpilih jadi khalifah, wacana pasukan yang dipimpin Usamah kembali mengemuka. Sebagian sobat yang dipimpin Umar bin Khaththab beropini bahwa pengiriman pasukan tersebut harus dibatalkan, alasannya yaitu aneka macam kabilah yang murtad dan bersiap menyusun kekuatan kembali untuk lepas dari pemerintahan Islam di Madinah. Mereka ini khawatir jikalau kabilah-kabilah tersebut menyerang Madinah. Usamah sendiri berada dalam kelompok ini, alasannya yaitu pendapat tersebut yang paling masuk akal. Tetapi bukan Ash-Shiddiq namanya kalau Abu Bakar hanya menuruti pendapat yang hanya berdasar budi semata, alasannya yaitu itu ia berkeras mengirim pasukan tersebut sesuai perintah Nabi SAW.

Setelah gagal menghipnotis Khalifah gres untuk membatalkan keberangkatan pasukan ke Palestina, muncullah wacana kedua, yakni penggantian pimpinan pasukan alasannya yaitu Usamah hanya seorang cowok 20 tahunan. Di antara personal pasukan tersebut terdapat sahabat-sahabat utama yang ikut terjun dalam pertempuran bersama Nabi SAW di dalam perang Badar, Uhud dan peperangan lainnya yang cukup populer kepahlawanannya, contohnya saja Sa'd bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin Jarrah, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, dan lain-lainnya termasuk Umar sendiri, mereka itu yang lebih pantas menjadi komandan. Sekali lagi, tokoh pengusul ini yaitu Umar bin Khaththab, dan kali ini reaksi Abu Bakar cukup keras, "Celaka engkau wahai Ibnu Khaththab!! Pantaskah saya memecat seseorang sebagai komandan pasukan (yakni Usamah bin Zaid), padahal Rasulullah SAW sendiri yang telah mengangkatnya??"

Dengan reaksi yang begitu keras dan tegas ini, para sobat tidak ada lagi yang berani mengemukakan pendapat. Abu Bakar yang biasanya mereka kenal lemah lembut dan mudah menangis, tiba-tiba menjadi begitu keras dan tegas. Tetapi perilaku menyerupai itulah yang memang diharapkan di ketika kondisi kaum muslimin sedang labil alasannya yaitu wafatnya Rasulullah SAW.

Abu Bakar berkata, "Berangkatkanlah pasukan Usamah, sebetulnya saya tidak perduli jikalau binatang-binanang buas akan menerkam dan mencabik-cabikku di Madinah alasannya yaitu berangkatnya pasukan tersebut. Sesungguhnya telah turun wahyu kepada Nabi SAW, 'Berangkatkan pasukan Usamah!!', dan saya tidak akan mengubah keputusan beliau. Hanya sajaaku meminta kepada Usamah semoga mengijinkan Umar tinggal di Madinah alasannya yaitu saya memerlukan buah pikirannya untuk membantuku di sini. Tetapi jikalau Usamah tidak mengijinkan saya tidak akan memaksanya lagi…..!!"

Tentu saja dengan bahagia hati Usamah ‘mengijinkan’, atau lebih tepatnya memenuhi usul Abu Bakar tersebut semoga Umar tetap tinggal di Madinah.

Pasukan Usamah kembali bergerak ke arah Jurf, kawasan dimana Nabi SAW telah memutuskan untuk berkumpul. Abu Bakar mengiring keberangkatan pasukan dengan berjalan kaki dan menuntun tunggangan Usamah, sedang tunggangan Abu Bakar dituntun oleh Abdurrahman bin Auf. Abu Bakar juga sempat berkata, "Siapapun mereka yang pernah ditunjuk Rasulullah untuk berangkat bersama Usamah, janganlah hingga tertinggal. Demi Allah, tidaklah didatangkan kepadaku orang yang tertinggal tersebut, kecuali saya akan memerintahkan dirinya menyusul Usamah dengan berjalan kaki…..!!!!"

Usamah merasa tidak yummy dengan Abu Bakar yang berjalan kaki, apalagi menuntun tunggangannya layaknya seorang budak atau penunjuk jalan saja. Ia berkata, "Wahai khalifah Rasulullah, naikilah tungganganmu, atau saya akan turun saja berjalan kaki bersamamu…!!"

"Jangan…!!" Kata Abu Bakar, "Tetaplah engkau di tungganganmu, saya ingin kakiku berdebu di jalan Allah, alasannya yaitu berdasarkan Nabi SAW, untuk setiap langkah di jalan Allah itu akan dituliskan tujuhratus kebaikan, dinaikkan tujuhratus derajad, dan akan dihapuskan tujuhratus kesalahan…"

Usamah membawa pasukannya menyusuri kabilah demi kabilah, baik yang tetap memeluk Islam, atau yang ragu-ragu dan berkemas-kemas untuk murtad. Rombongan besar pasukan Usamah ini ternyata memunculkan budi tersendiri pada mereka sehingga mereka berteguh memeluk Islam. Sebelumnya mereka mengira dengan wafatnya Nabi SAW, Madinah akan menjadi lemah dan tak bisa lagi memerangi musuh-musuhnya. Tetapi melihat besarnya pasukan yang dikirim ke perbatasan Romawi di Abna, Palestina ini, mereka berfikir, pasukan yang mempertahankan Madinah tentunya akan lebih besar lagi. Apalagi, ternyata Abu Bakar juga mengirim beberapa pasukan dari personal yang tertinggal di Madinah untuk memerangi kabilah-kabilah yang murtad dan yang menolak membayar zakat.

Kedatangan pasukan Usamah ternyata mengejutkan pasukan Romawi di Palestina yang telah mengeksekusi Farwah bin Amr al Judzami. Mereka sama sekali tidak menyangka kedatangan pasukan sebesar itu sehabis wafatnya Nabi SAW. Mereka telah begitu mengenal bagaimana perilaku heroik dan semangat tempur pasukan muslim dan tidak mau beresiko menghadapi pasukan muslim pimpinan Usamah. Karena itu mereka menentukan melarikan diri dan meninggalkan barang ghanimah yang banyak bagi pasukan Usamah.

Kemenangan pasukan Usamah memperlihatkan tunjangan psikologis yang positif terhadap kelangsungan Islam ketika Nabi SAW wafat. Mungkin ia telah mendapatkan instruksi bagaimana suasana masyarakat Islam ketika ia wafat, dan kekacauan yang akan terjadi. Karena itu, tampak sekali ia "memaksakan" untuk membentuk dan mengirim pasukan Usamah, walau ketika itu keadaan ia sakit parah. Dan terbukti kemudian nubuwah ini, bahwa perintah ia memperlihatkan manfaat besar bagi umat Islam di masa kritis pergantian pimpinan pemerintahan Islam ke khalifah Abu Bakar.

Karena pengalamannya menerima celaan Rasulullah SAW, Usamah jadi sangat berhati-hati dalam urusan jiwa manusia. Ketika terjadi pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, ia mengurung diri di rumahnya. Sebenarnya ia mengetahui kalau Ali dalam jalan kebenaran, tetapi ia menentukan untuk tidak berpihak kepada keduanya. Ia mengirim surat kepada Ali, yang ia ikut memba'iatnya sebagai khalifah, sebagai berikut, "Demi Allah wahai Amirul Mukminin, seandainya anda meminta saya untuk menemani anda memasuki sangkar harimau, saya niscaya akan melakukannya. Tetapi sekali-kali saya tidak akan menyentuh kulit seorang muslimdengan ujung pedang saya…."

Ketika beberapa sobat yang memihak Ali juga berusaha untuk mengubah pendiriannya, Usamah berkata tegas, "Saya tidak akan pernah memerangi orang-orang yang mengucapkan La ilaaha illallaah selama-lamanya…!!"

Salah satu dari mereka sempat mendebatnya, "Bukankah Allah telah berfirman : Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah, dan agama seluruhnya yaitu milik Allah…!!"

Usamah-pun menjawab, "Ayat itu ditujukan untuk memerangi orang-orang musyrik, dan kita telah memerangi mereka hingga fitnah telah lenyap dan agama seluruhnya menjadi milik Allah…!!"

Bagaimana tidak, dalam suatu pertempuran melawan kaum musyrik, dimana berlaku aturan "membunuh atau dibunuh (kill or to be kill)", ia telah dicela dengan keras oleh Rasulullah SAW alasannya yaitu membunuh seorang kafir yang membaca "La ilaaha illallaah", yang berdasarkan pemahaman (ijtihad)-nya hanyalah untuk menyelamatkan diri saja. Sangat mungkin terjadi si kafir itu akan balik membunuhnya jikalau ia melepaskannya ketika itu, apalagi pedangnya-pun masih terhunus. Tetapi itupun bukan alasan yang bisa diterima Rasullullah SAW. Bagaimana lagi ia akan mempertanggung-jawabkan kepada Nabi SAW jikalau ia membunuh seseorang yang jelas-jelas beriman kepada Allah dan Rasul-Nya? Jelas-jelas orang yang beragama Islam dan menjalankan shalat menyerupai dirinya dan kaum muslimin lainnya?

Seorang sobat lainnya memang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, atas suatu insiden dalam pertempuran, yang lebih kurang sama dengan insiden Usamah tersebut. Nabi SAW bersabda, "Kalau itu terjadi, si kafir akan akan memperoleh jawaban menyerupai keadaan engkau sebelum membunuhnya,dan engkau akan memperoleh jawaban menyerupai keadaan si kafir sebelum ia terbunuh…..!!"

Maksudnya, orang kafir tersebut, yang membaca ‘Laa ilaaha illallaah’ ketika akan terbunuh akan memperoleh pahala syahid, sedang sang sobat yang membunuh bisa jatuh dalam kemusyrikan dan kekafiran, kalau ia tidak bertaubat.

Usamah terus menyendiri di tengah pergolakan kaum muslimin, dan ia tidak mau terlibat dengan kontradiksi mereka. Saat itu terdapat dua kutub kekuatan Islam, Muawiyah yang menjabat sebagai khalifah berkedudukan di Syam, sedang kelompok oposisi, yang merasa keturunan Ali bin Abi Thalib lebih berhak atas jabatan khalifah bermarkas di Kufah, Irak, tetapi tanpa pimpinan (atau khalifah) yang jelas. Di ketika itulah, di Tahun 54 hijriah Usamah bin Zaid meninggal dunia.

Sunday, 23 February 2020

Kisah Abdullah Bin Amr Bin Ash Ra



Abdullah bin Amr bin Ash RA yakni putra dari spesialis strategy perang dan negarawan ulung, Amr bin Ash,tetapi ia lebih dahulu memeluk Islam daripada bapaknya itu. Ia seorang yang saleh, banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah, kecuali jikalau sedang berjihad di jalan Allah. Ketika menyandang senjata untuk mempertahankan dan meninggikan kalimat-kalimat Allah,ia akan berada di barisan terdepan alasannya yakni sangat merindukan memperoleh ‘rezeqi’ kesyahidan.

Dalam usianya yang masih muda, acara ibadahnya begitu tinggi, siang berpuasa, malam dihabiskan dengan tahajud dan membaca Al Qur'an sehingga ia bisa mengkhatamkannya dalam sehari. Ia begitu zuhud, bahkan tidak pernah ia membicarakan duduk kasus duniawiah semenjak ia berba'iat kepada Nabi SAW, padahal lingkungan keluarga termasuk kalangan darah biru dan kaya-raya. Ketika ia dinikahkan, beberapa hari kemudian ayahnya tiba mengunjungi dan bertemu istrinya. Amr bin Ash berkata, “Bagaimana keadaan kalian?”

Istrinya berkata, “Sungguh saya tidak mencela adat dan kesalehannya, tetapi tampaknya ia tidak membutuhkan seorang perempuan di sisinya!!”

Amr bin Ash menatap tidak mengerti, tetapi kemudian ia menerima penjelasan, kalau Abdullah bin Amr sama sekali belum menyentuhnya dalam beberapa hari sehabis menikah itu. Ia begitu intens beribadah menyerupai biasanya, sehingga tidak ada sedikitpun waktu untuk istrinya. Hal itu memaksa Amr bin Ash melaporkannya kepada Rasululah SAW, sehinggabeliau campur tangan untuk ‘mengerem’ semangat ibadahnya. Tetapi di hadapan Rasulullah SAW, Abdullah bin Amr justru berkata, "Ya Rasulullah, ijinkanlah saya memakai sepenuh tenaga saya untuk beribadah kepada Allah?"

Nabi SAW bersabda, "Jika engkau melaksanakan semua itu, badanmu akan lemah, matamu akan sakit alasannya yakni tidak tidur semalaman. Sesungguhnya badanmu punya hak, keluargamu juga punya hak, dan para tamupun punya hak atas dirimu…!"

Maka terjadilah "tawar-menawar" antara Abdullah dan Rasulullah SAW dalam soal ibadahnya. Kalau umumnya insan akan meminta ijin beribadah seringan dan sesedikit mungkin, maka Abdullah meminta ijin untuk beribadah sebanyak dan seberat mungkin. Dalam soal puasa misalnya, Nabi SAW menyarankannya biar berpuasa tiga hari dalam sebulan, tetapi Abdullah minta tambahan, diberi dua hari dalam seminggu, masih minta aksesori lagi, balasannya ditetapkan Nabi SAW sehari berpuasa sehari berbuka, yakni puasanya Nabi Dawud AS.

Begitu juga dalam soal mengkhatamkan Al Qur'an, pertama Nabi SAW menyarankannya untuk khatam sebulan sekali saja. Abdullah melaksanakan penawaran, sehingga Nabi SAW memutuskan 20 hari sekali, kemudian 10 hari sekali, dan seminggu sekali. Tetapi Ibnu Amr bin Ash masih meminta lebih lagi, balasannya Nabi SAW menetapkannya untuk khatam Al Qur’an setiap tiga hari sekali (dalam riwayat lain, lima hari sekali). Begitu juga soal shalat malam, ia melarang Abdullah menghabiskan waktu malam untuk shalat sunnah terus-menerus, harus ada waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur, dan mempergauli istrinya.

Walau telah dinasehati pribadi oleh Nabi SAW, semangatnya untuk beribadah tidak segera mengendor begitu saja, tetapi ia tidak melalaikan kewajiban dan hak-hak keluarga, badan, tamu dan lain-lainnya. Ibadahnya dengan intensitas tinggi masih saja berlangsung tanpa bisa dihalangi lagi. Melihat keadaannya itu, Nabi SAW balasannya bersabda, "Sesungguhnya engkau tidak tahu, bisa jadi Allah akan memanjangkan umurmu...!!"

Benarlah apa yang disabdakan Nabi SAW, ia mencapai usia tua, tubuhnya mulai lemah dan tulangnya seakan tak bisa menyangga tubuhnya dalam waktu lama. Ia susah payah menetapi amal istiqomah yang telah "dijanjikannya" kepada Nabi SAW di masa mudanya. Ia jadi menyesal mengapa tidak mendapatkan nasehat ia ketika mudanya itu. Ia seringkali berkata, "Aduhai malangnya nasibku, mengapa tidak saya ikuti dispensasi yang diberikan Rasulullah SAW…!!"

Abdullah bin Amr memiliki kebiasaan mencatat apapun yang disabdakan Nabi SAW, dalam sebuah catatan yang disebut Shadiqah, hal ini dimaksudkan biar ia gampang menghafalkannya. Rasulullah SAW memang pernah melarang para sobat untuk mencatat sabda-sabda ia alasannya yakni dikhawatirkan akan tumpang tindih dengan ayat-ayat Al Qur'an. Tetapi kemudian Nabi SAW secara khusus menugaskan beberapa orang sobat untuk mencatat firman-firman Allah tersebut, dan Ibnu Amr bin Ash tidak termasuk di dalamnya sehingga ia membiarkannya.

Beberapa sobat juga berkata, "Rasulullah SAW juga insan biasa, terkadang ia marah, dan dalam marahnya ini ia menyampaikan sesuatu. Begitu juga terkadang ia hanya bercanda dalam ucapannya itu. Karena itu jangan engkau mencatat apapun yang ia sabdakan!!"

Karena nasehat mereka ini, Abdullah bin Amr sempat menghentikan kebiasaannya tersebut. Tetapi tampaknya ia merasa ‘gatal’ jikalau sesaat saja tidak ‘merekam’ apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Karena itu ia bertanya kepada Nabi SAW wacana apa yang dilakukannya, termasuk nasehat beberapa orang sahabat, maka ia bersabda, "Teruskanlah menulis, demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, setiap perkataanku yakni kebenaran, walaupun saya dalam keadaan marah, ataupun senang."

Abu Hurairah juga pernah berkomentar atas kebiasaan Abdullah bin Amr ini, "Di antara para sahabat, tidak ada yang menyamai saya dalam hal hafalan hadits-hadits Nabi SAW, kecuali Ibnu Amr bin Ash, alasannya yakni dia selalu mencatat segala apa yang disabdakan Nabi SAW, sedangkan saya hanya mengandalkan ingatan saja."

Ketika terjadi pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, bahwasanya ia tidak ingin berpihak kepada kedua kelompok sebagaimana dianut beberapa sobat menyerupai Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, dan beberapa sobat lainnya. Tetapi menjelang terjadinya perang Shiffin, ayahnya, Amr bin Ash yang berpihak kepada Muawiyah mendatanginya dan mengajaknya berperang di pihaknya. Abdullah bin Amrberkata, "Bagaimana mungkin? Rasulullah SAW telah berwasiat kepadaku untuk tidak menaruh pedangku di leher seorang muslim untuk selama-lamanya…..!!"

Bukan Amr bin Ash namanya kalau tidak bisa bersiasat, ia mengemukakan banyak sekali alasan, terutama menyangkut "menuntut bela atas pembunuhan Utsman bin Affan". Setelah beberapa argumen ayahnya bisa dipatahkannya, balasannya Amr bin Ash berkata, "Ingatkah engkau wahai Abdullah wasiat terakhir Nabi SAW, ia mengambil tanganmu dan meletakkan di atas tanganku, dan memerintahkan engkau untuk taat kepada ayahmu ini? Dan kini saya menghendaki engkau turut bersama kami, berperang bersama kami….!!"

Mendengar argumen ini, Abdullah bin Amr dilanda kebimbangan yang amat sangat. Jauh di dalam hatinya, kebenaran yang sangat diyakininya, ia tidak ingin terlibat dalam pertikaian itu. Tetapi ia seakan tidak punya kekuatan menolak ketika diingatkan akan pesan Nabi SAW dan janjinya untuk melaksanakannya. Akhirnya ia mengikuti pertempuran tersebut dengan setengah hati dan berada di pihak Muawiyah. Ia mengetahui bahwa Ammar bin Yasir berperang di pihak Ali, dan masih terang terngiang nubuwat Nabi SAW wacana janjkematian Ammar bin Yasir di tangan para pendurhaka. Ia hadir juga dalam penggalian parit khandaq ketika Nabi SAW menyabdakan hal itu.

Sebagian riwayat menyebutkan, ia tidak pernah mengangkat senjatanya walau ia berada di antara personal pasukan Muawiyah. Tetapi begitu ia mendengar kabar bahwa Ammar bin Yasir telah terbunuh, ia pribadi berteriak keras, "Apa? Ammar telah terbunuh, dan kalian pembunuhnya? Kalau demikian kalianlah kaum pendurhaka itu, kalian berperang di jalan yang salah…..!!"

Abdullah bin Amr berjalan berkeliling sambil meneriakkan kata-kata tersebut sehingga melemahkan semangat pasukan Muawiyah. Ketika hal itu dilaporkan kepada Muawiyah, ia memanggil Amr bin Ash dan anaknya tersebut, dan berkatakepada Amr bin Ash, "Kenapa tidak engkau bungkam anakmu yang absurd ini..!!"

Amr bin Ash hanya diam, tetapi justru Abdullah berkata dengan tegas tanpa ketakutan sedikitpun, "Aku tidak gila, tetapi saya telah mendengar Nabi SAW bersabda kepada Ammar, bahwa ia akan dibunuh oleh kaum yang durhaka atau aniaya…!!"

"Kalau begitu, kenapa engkau ikut bersama kami??" Tanya Muawiyah.

"Tidak, " Kata Abdullah bin Amr, "Aku hanya mengikuti wasiat Nabi SAW untuk taat kepada ayahku, dan akutelah menaatinya dengan pergi kesini, tetapi saya tidak pernah ikut berperang bersamamu…!!"

Di tengah pembicaraan tersebut, pengawal Muawiyah mengabarkan kalau pembunuh Ammar ingin menghadap masuk. Abdullah bin Amr pribadi berkata, "Suruhlah dia masuk, dan sampaikan kabar bangga kepadanya, dia akan menjadi umpan api neraka…!!"

Muawiyah menjadi murka mendengar perkataannya tersebut, tetapi Abdullah bin Amr tetap bertahan dengan perkataannya tersebut, bahwa pembunuh Ammar bin Yasir yakni kaum yang durhaka dan berperang di jalan yang salah, begitu Nabi SAW mengabarkan bertahun-tahun sebelumnya, dan ia meyakini akan kebenarannya. Ia berpaling kepada ayahnya dan berkata, "Kalau tidaklah Rasulullah menyuruh saya menaati ayah, saya tidak akan pernah menyertai perjalanan ayah ke sini, dan kini saya telah memenuhi wasiat beliau…"

Setelah itu Abdullah bin Amr kembali ke Madinah dan mengurung diri di mushalla rumahnya. Ia tidak habis-habisnya meratapi keterlibatannya di perang Shiffin dan berada di pihak Muawiyah. Ia selalu menangis dan mengeluh, "Wahai, apa perlunya saya ke Shiffin…apa perlunya saya memerangi kaum muslimin…!!!"

Suatu hari ia duduk di masjid bersama beberapa orang sahabat, lewatlah Husein bin Ali. Setelah memberikan salam, ia berlalu masuk ke masjid tanpa memperdulikan kumpulan sahabat. Abdullah bin Amr berkata, "Tahukah kalian penduduk bumi yang paling dicintai penduduk langit? Dialah Husein bin Ali yang gres saja berlalu di hadapan kita. Sejak perang Shiffin, ia tidak mau berbicara denganku…Sungguh, ridhanya kepadaku lebih saya sukai daripada barang berharga apapun juga…!!"

Ia meminta tolong kepada sobat Abu Sa'id al Khudri untuk bisa bertemu dengan Husein, dan mereka diijinkan untuk berkunjung ke rumah cucu kesayangan Rasulullah SAW itu. Terjadilah banyak sekali macam pembicaraan, hingga balasannya Husein bertanya, "Apa yang membawamu ikut berperang di pihak Muawiyah?"

Abdullah bin Amr berkata, "Ayahku pernah mengadukan saya kepada Rasulullah alasannya yakni berpuasa setiap hari, shalat malam sepanjang malam dan mengkhatamkan al Qur'an setiap hari, maka Nabi SAW berwasiat kepadaku, 'Hai Abdullah puasalah dan berbuka, shalatlah malam dan tidurlah, bacalah Qur'an dan berhentilah, dan taatilah ayahmu…' Saat perang Shiffin terjadi, ayahku mendatangiku dan memaksaku mengikutinya dengan membawa wasiat Nabi SAW tersebut…tetapi demi Allah, saya tidak pernah menghunus pedang, melemparkan tombak atau melepaskan anak panah pada perang tersebut…."

Abdullah bin Amr juga menjelaskan apa yang dilakukannya terhadap Muawiyah sehabis terbunuhnya Ammar bin Yasir, dan sikapnya meninggalkan pertempuran tersebut. Husein balasannya ridha kepadanya sehabis semua penjelasannya tersebut. Abdullah bin Amr menangis penuh haru.

Pada masa pemerintahan Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amr meninggal pada usia 72 tahun di mushalla rumahnya, ketika itu ia gres selesai menjalankan shalat dan sedang bermunajat kepada Allah. Sungguh ketika selesai yang amat indah (khusnul khotimah) yang amat dirindukan oleh semua kaum muslimin.


Sunday, 16 February 2020

Bilal Yang Berpegang Teguh Kepada Keimanan


Saiyidina Bilal (berkulit hitam) yakni di antara 7 orang yang pertama menzahirkan keIslaman secara terangan meskipun diancam oleh kafir musyrik. Apabila mengetahui hambanya, Bilal telah memeluk Islam, tuannya telah menyeksa Bilal dengan memakaikan baju besi dan lalu dijemur di padang pasir yang sangat panas. Ketika ditanya ihwal pegangan agamanya, Bilal tetap menyampaikan 'Ahad! Ahad!' (Allah Yang Esa, Yang Esa).

Bilal lalu diseret sampai ke lereng-lereng gunung tetapi Bilal tetap memperkatakan 'Ahad! Ahad!'. Imannya tidak bergoncang sedikitpun. Melihatkan tidak apa perubahan berlaku dalam diri Bilal, mereka lalu mempertingkatkan seksaan dengan meletakkan watu besar di atas badannya yang terjemur di tengah kepanasan matahari. Namun tiada ucapan lain yang keluar dari verbal Bilal kecuali 'Ahad! Ahad!' Bilal rela mati daripada menukar pegangan agamanya yang haq kepada yang bathil.

Apabila Saiyidina Abu Bakar diberitahu ihwal seksa yang dialami oleh Bilal, Abu Bakar terus berjumpa Umaiyah yang sedang menyeksa Bilal dan lalu meminta Bilal dibebaskan. Sebagai ganti Abu Bakar menyerahkan seorang hamba hitam yang lebih berpengaruh sebagai tebusan. Sebaik saja ditebus, Saiyidina Abu Bakar pun membebaskan Bilal dari perhambaan.


Moral & Iktibar

Iman yang kental dan pegangan aqidah yang kukuh tidak sanggup digugat sekalipun diseksa dengan pelbagai seksaan.
Kemanisan doktrin tidak ada tolong banding di dunia dan akhirat.
Allah tidak melihat kecantikan fizikal seseorang tetapi yang paling utama ialah kecantikan hati.
Allah mempertingkatkan tahap atau darjah keimanan seseorang, dengan mengenakan ujian dan cubaan.
Selagi tidak diuji dengan kesusahan, tahap keimanan belum sanggup dipastikan kebenarannya.
Bertambah berpengaruh doktrin seseorang, bertambah andal ujian yang Allah kenakan ke atasnya.
Ujian dan bala yang dikenakan ke atas seseorang bukan bererti Allah membencinya, sebaliknya ia yakni satu rahmat untuk meninggikan darjatnya di sisi Allah.
Bala bahu-membahu bukan 'bala' tetapi yakni satu nikmat yang patut disyukuri.
Kekayaan dan kesenangan hidup belum tentu menjadi satu nikmat, bahkan ia satu cubaan/bala untuk menguji sama ada kita mensyukuri Allah atau sebaliknya.

Saturday, 15 February 2020

Kisah Shohabiyah Pemakan Hati Singa Allah




Sahabat mungkin kita pernah mendengar kisah hati mentah dimakan manusia?, ya ialah Hindun istri pembesar Quraisy Abu Sufyan yang memakan hati Hamzah paman rasulullah, yang dijuluki Singa Allah.

Karena dendam dalam hatinya, semua keluarga Abu jahl, Abu Lahab, saudara-saudaranya meninggal pada masa perang Badar, dan mereka jatuh di tangan Hamzah, hal inilah yang menciptakan Hindun begitu marah pada Hmazah, sampai balasannya ketika perang Uhud, Ia menyiapkan seorang budak pemanah, khusus untuk membunuh Hamzah, budak itu berjulukan Wasyi.

Sahabat, tentu ketika itu Istri pembesar Makkah ialah sebuah kedudukan yang mulia. Terlebih jika membuka hati untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Islam akan menghapus segala kesalahan yang pernah dibuatnya.

Hindun bintu ‘Utbah bin Rabi’ah bin ‘Abdisy Syams bin ‘Abdi Manaf Ummu Mu’awiyah istri Abu Sufyan bin Harb ibu sobat yang mulia Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Ibunya berjulukan Shafiyyah bintu Umayyah bin Haritsah bin Al-Auqash bin Murrah bin Hilal bin Falij bin Dzakwan bin Tsa’labah bin Bahtah bin Salim.

Sebelum kehadiran Abu Sufyan dalam kehidupan Hindun pernah menikah dengan Hafsh bin Al-Mughirah bin Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum. Dari ijab kabul itu lahir seorang anak laki2 berjulukan Aban.

Ketika Hindun menjanda dia meminta kepada ayah ‘Utbah bin Rabi’ah “Aku seorang perempuan yang sanggup menentukan urusanku maka jangan nikahkan saya sebelum engkau beritahukan padaku.” Sang ayah menyetujui permintaannya.

Hingga suatu ketika ‘Utbah menyampaikan pilihan kepada Hindun “Ada dua orang laki-laki yang meminangmu dan saya tidak akan menyebutkan nama padamu sebelum kugambarkan padamu terlebih dulu sifat mereka.”

‘Utbah menceritakan laki-laki yang pertama ialah orang yang mulia, gampang diatur istri alasannya ialah dia orang yang tidak begitu peduli, halus akal pekerti, dia akan mengikuti si istri jika si istri mengikuti, istri pun sanggup menguasai hartanya. Sementara yang lain seorang yg sangat mulia, pandangan tajam, keturunan mulia, dia sanggup mengatur keluarga sementara mereka tidak sanggup mengatur, jika keluarga mematuhi dia akan memudahkan urusan mereka, namun jika keluarga menjauhi, dia akan merasa cemburu. Dia orang yg emosional dan sangat menjaga kehormatan keluarganya.

Dan balasannya Hindun menentukan orang yang kedua. Dia terkesan dengan watak laki-laki itu. “Dia Abu Sufyan bin Harb” kata ‘Utbah.

Dan balasannya Hindun bintu ‘Utbah dan Abu Sufyan bersatu dalam rumah tangga mereka yang masih di atas agama nenek moyang mereka. Bahkan mereka turut membela agama itu tatkala perang Badar meletus. Begitu pula ketika perang Uhud. Hindun bersama wanita-wanita musyrikah Makkah turut menghasung dan menyemangati pasukan musyrikin. Ketika perang telah berhenti Hindun dan wanita-wanita yg lain tiba mencincang jasad kaum muslimin. Hidung dan indera pendengaran mereka dipotong perut mereka dirobek. Hindun sendiri merobek perut Hamzah bin ‘Abdil Muththalib radhiyallahu ‘anhu. Dipotong hati Hamzah dimasukkan ke verbal dan dikunyah-kunyah kemudian dia muntahkan kembali.

Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak menyampaikan simpulan kehidupan yang baik bagi mereka berdua. Bulan Ramadhan tahun 8 Hijriyah ialah tahun kemenangan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin memasuki kota Makkah dalam keadaan aman. Keadaan telah berubah. Kaum muslimin yang dulu terusir dari Makkah -tanah air mereka- dlm keadaan tertindas dan terhina sekarang menjadi pasukan yg begitu menakjubkan dan disegani oleh kaum musyrikin Makkah. Tidak ada pilihan lain kecuali mereka masuk Islam.

Demikian pula keadaan Hindun dan Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Mereka pun simpulan menyongsong kebaikan yg Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan lewat Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hindun bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha bersama para perempuan lain yang masuk Islam mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia berada di Al-Abthah untuk berbaiat di hadapan ia Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Wahai Rasulullah” kata Hindun “Segala kebanggaan hanyalah milik Allah yang telah memenangkan agama yang telah dipilih-Nya utk diri-Nya ini. Sungguh kekerabatanmu akan bermanfaat bagiku wahai Muhammad. Aku ialah seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya. Aku Hindun bintu ‘Utbah.”

“Selamat tiba wahai Hindun” sahut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Demi Allah dulu tidak ada seorang pun di bumi ini yang paling kuinginkan kehinaan selain engkau. Namun sekarang tidak ada seorang pun di bumi ini yang paling kuinginkan kemuliaan selain engkau” ujar Hindun. “Bahkan lebih dari itu” kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ia Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat-ayat Al Qur`an kepada mereka dan mereka pun berbai’at kepada beliau.
Ketika itu Hindun berkata “Kami mau berjabat tangan denganmu wahai Rasulullah!”
“Aku tidak berjabat tangan dgn wanita. Ucapanku pada seratus orang perempuan sama dengan ucapanku terhadap seorang wanita” jawab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara isi bai’at itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta mereka untuk tidak berzina dan tdk mencuri. “Apakah ada perempuan merdeka yang berzina dan mencuri wahai Rasulullah?” sahut Hindun.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan lagi “Dan tidak membunuh bawah umur kalian.”
“Kami telah mengasuh mereka semenjak kecil tapi ketika besar engkau yang membunuh mereka di Badr” kata Hindun.
Sepulang dari hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Hindun segera menghancurkan berhala di rumah dengan kapak sampai berkeping-keping sambil berujar
“Dulu kami tertipu denganmu!”

Hindun bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengadukan kekikiran suami “Wahai Rasulullah Abu Sufyan itu seorang yang bakhil. Dia tdk menyampaikan kecukupan padaku dan anakku kecuali apa yang kuambil dari harta dengan diam-diam.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menasihatkan pada “Ambillah apa yang sanggup mencukupimu dan anakmu dengan cara yang baik.”

Hindun bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha sekarang menjadi seorang shahabiyah yang mulia. Dia meninggal pada masa khilafah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Hindun bintu ‘Utbah agar Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya.
Wallahu ta’ala a’lamu bish shawab.

Sumber Kisah: Bina Insani

Friday, 14 February 2020

Kisah Debu Jandal Bin Suhail Ra



Ketika Abu Jandal bin Suhail bin Amr memeluk Islam, kaum keluarganya membelenggu dan menyiksanya sehingga ia tidak dapat menyusul Nabi SAW ke Madinah sebagaimana orang Islam lainnya. Suatu ketika ia berhasil meloloskan diri melalui bab bawah kota Makkah, dan menemui orang-orang Islam yang ketika itu sedang berada di Hudaibiyah, kedua tangannya dalam keadaan terbelenggu.
Saat itu utusan kaum Quraisy, Suhail bin Amr, yang tidak lain ialah ayah Abu Jandal sendiri, sedang mengadakan pembicaraan dengan Nabi SAW perihal butir-butir Perjanjian Hudaibiyah. Salah satu butir tersebut ialah : Jika seorang lelaki dari Makkah tiba kepadamu (Nabi SAW), walaupun ia telah memeluk Islam, maka engkau harus mengembalikannya kepada kami (Kaum Quraisy).
Ketika Suhail melihat kehadiran Abu Jandal, Suhail berkata kepada Nabi SAW, "Hai Muhammad, dia ini ialah orang pertama yang harus engkau kembalikan kepada kami."
Nabi SAW sebetulnya berusaha mempertahankan Abu Jandal dengan dalih perjanjian tersebut belum hingga tahap disepakati, tetapi masih dalam perundingan. Tetapi Suhail tetap berkeras, sehingga jadinya Nabi SAW merelakan Abu Jandal dibawa kembali ke Makkah. Abu Jandal sempat berkata, "Hai orang-orang Islam, apakah saya akan dikembalikan kepada kaum musyrik, sedangkan saya telah tiba kepada kalian sebagai muslim? Apakah kalian tidak melihat apa yang kuderita?"
Tentu saja kaum muslimin sangat tersentuh dengan keadaan tsb. tetapi apa yang telah diputuskan oleh Nabi SAW, itulah aturan yang harus ditaati. Hanya Umar bin Khaththab yang sempat mempertanyakan kepada Nabi SAW, tetapi ia pun jadinya dapat menerimanya sesudah dijelaskan Abu Bakar RA. Nabi SAW hanya dapat menasehati Abu Jandal untuk bersabar.
Berlalulah waktu, seorang muslim lagi, yakni Abu Bashir, lepas dari kungkungan dan siksaan kau Quraisy dan berlari ke Madinah. Kaum Quraisy mengirim dua utusan ke Madinah untuk menjemput Abu Bashir, dan tidak dapat tidak, alasannya ialah masih terikat Perjanjian Hudaibiyah, Nabi SAW SAW harus merelakan Abu Bashir dibawa kembali ke Makkah.
Dalam perjalanan tersebut, dengan suatu budi bulus Abu Bashir berhasil membunuh salah satu utusan, dan utusan lainnya berhasil lari ke Madinah meminta sumbangan Nabi SAW. Ketika Abu Bashir menghadap Nabi SAW di Madinah, dia menjelaskan perihal Perjanjian Hudaibiyah dan dia mustahil mempertahankannya di Madinah. Abu Bashir dapat memahami kesulitan yang dihadapi Nabi SAW, alasannya ialah itu ia lari ke pesisir menyembunyikan diri.
Beberapa waktu kemudian Abu Jandal juga berhasil lolos dari kaum Quraisy, dan ia mengikuti jejak Abu Bashir menyembunyikan diri di pesisir. Begitulah, setiap ada orang muslim yang lolos dari kaum Quraisy, mereka bergabung dengan Abu Bashir dan Abu Jandal hingga mencapai jumlah satu isbahah (10 - 40 orang). Kelompok yang dipimpin oleh Abu Bashir dan Abu Jandal ini selalu menghadang dan membunuh kafilah dagang Quraiys yang menuju Syam, dan merampas hartanya.
Keadaan itu ternyata menjadi “bumerang” bagi kaum Quraisy, yang jadinya memaksa orang-orang Quraisy menemui Nabi SAW semoga kelompok Abu Bashir dan Abu Jandal ditarik ke Madinah dan tidak mengganggu kafilah-kafilah dagang orang Quraisy ke Syam. Itu artinya mereka sendiri yang berinisiatif membatalkan Perjanjian Hudaibiyah. Dan kelompok Abu Bashir dan Abu Jandal ini jadinya bergabung dengan Nabi SAW di Madinah.

Wednesday, 12 February 2020

Kisah Peringatan Rasulullah Saw Kepada Umar Ra



Suatu ketika Nabi saw. telah bersumpah akan berpisah dengan istri-istrinya selama satu bulan sebagai peringatan bagi mereka. Selama sebulan dia tinggal seoang diri dalam sebuah kamar yang sederhana yang letaknya agak tinggi. Terdengar kabar dikalangan para sobat bahwa Nabi saw. telah meneceraikan semua istrinya. Ketika Umar bin Khaththab r.a. mendengar kabar ini, ia segera berlari ke mesjid. Setibanya disana, dia melihat para sobat sedang duduk termenung, mereka bersedih dan menangis. Juga kaum perempuan menangis di rumah-rumah mereka. Kemudian Umar r.a. pergi menemui putrinya, Hafshah r.a. yang telah dinikahi oleh Nabi saw.

Umar r.a. mendapati Hafshah r.a. sedang menangis dalam kamarnya. Umar r.a. bertanya, ”Mengapa engkau menangis? Bukankah selama ini aku telah melarangmu melaksanakan sesuatu yang sanggup menyinggung perasaan Nabi?”

Kemudian dia kembali ke mesjid, terlihat olehnya beberapa orang sobat sedang menangis di bersahabat mimbar. Kemudian ia duduk bersama para sobat beberapa saat, kemudian berjalan kearah kamar Nabi saw. yang terletak ditingkat atas mesjid. Dia mendapati Rabah r.a. seorang hamba sahaya sedang duduk di tangga kamar itu. Melalui Rabah r.a. dia minta ijin untuk menemui Nabi saw. Rabah r.a. pergi menjmpai Nabi saw. kemudian kembali dan memberitahukan bahwa dia telah memberikan keinginannya, namun Rasulullah saw. hanya membisu tanpa menjawab pertanyaannya. Permntaannya untuk menjumpai Nabi saw. diulang beberapa kali, sampai yang ketiga kalinya barulah Nabi saw. mengizinkan naik. Ketika Umar r.a. masuk, dia menjumpai Nabi saw. sedang berbaring diatas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma, sehingga di tubuh Nabi saw. yang putih higienis dan indah itu terlihat bekas-bekas daun kurma. Di daerah kepala dia ada sebuah bantal yang dibentuk dari kulit hewan yang dipenuhi oleh daun dan kulit pohon kurma.
Umar r.a. bercerita, “Saya mengucapkan salam kepada dia kemudian bertanya, “Apakah engkau telah menceraikan istri-istri engkau?”. Nabi saw. menjawab, “Tidak.”

Saya merasa sedikit lega. Sambil bercanda aku mengatakan,”Ya Rasulullah, kita ialah kaum Quraisy yang selamanya telah menguasai wanita-wanita kita. Tetapi sesudah kita hijrah ke Madinah, keadaan sungguh berbeda dengan orang-orang Anshar, mereka dikuasai oleh wanita-wanita mereka sehingga wanita-wanita kita terpengaruh oleh kebiasaan mereka.”

Nabi saw. tersenyum mendengar perkataan saya. Saya memperhatikan keadaan kemar Nabi saw., terllihat tiga lembar kulit hewan yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar itu, selain itu tidak terdapat apapun, aku menangis melihat keadaan itu.

Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?’

Saya menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, ya Rasulullah. Saya duka melihat tanda tikar yang engkau tiduri di tubuh engkau yang mulia dan aku prihatin melihat keadaan kamar ini. Semoga Allah mengaruniakan kepada tuan bekal yang lebih banyak. Orang-orang Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah, tetapi raja mereka hidup mewah. Mereka hidup dikelilingi taman yang ditengahnya mengalir sungai, sedangkan engkau ialah pesuruh Allah, tetapi engkau hidup dalam keadaan miskin.”

Ketka aku berkata demikian, Rasulullah sedang bersandar di bantalnya, dia bangkit kemudian berkata,”Wahai Umar, tampaknya engkau masih ragu mengenai hal ini. Dengarlah, kehidupan di alam akhirat, tentu akan lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia ini. Jika orang-orang kafir itu sanggup hidup glamor di dunia ini, kitapun akan memperoleh segala kenikmatan itu di darul abadi nanti. Di sana kita akan mendapat segala-galanya.”

Mendengar sabda Nabi saw. itu aku menyesal, kemudian berkata,”Ya Rasulullah, memohon ampunlah kepada Allah untuk saya. Saya telah bersalah dalam hal ini.”
Pelajaran dari kisah diatas
Rasulullah saw. ialah pemimpin agama dan dunia, sekaligus kekasih Allah Swt., namun dia tidur di atas sehelai tikar yang tidak dilapisi apapun, sehingga menjadikan gesekan bekas tikar itu di tubuh dia yang putih. Kita sanggup mengetahui bagaimana keadaan ekonomi Rasulullah saw. ketika Umar r.a. mengajurkan dia biar berdoa kepada Allah supaya diberi harta, dia malah memperingatkannya.
Seseorang bertanya kepada Aisyah r.a. mengenai daerah tidur Rasulullah saw. Aisyah r.a. menjawab, “Bantalnya itu tebuat dari kulit hewan yang diisi dengan kulit pohon kurma.”

Pertanyaan yang sama dikemukakan kepada Hafshah r.a. Dia menjawab, “ Tikarnya terbuat dari sehelai kain yang dilipat dua. Pada suatu hari untuk memberi kenyamanan kepada Nabi saw., aku telah menghamparkan kain itu berlipat empat. Keesokan harinya Nabi saw. bertanya, “Apakah yang telah engkau hamparkan tadi malam sehingga terasa lebih empuk?” Saya menjawab,” Kain yang sama, tetapi aku melipatnya empat lipatan.” Beliau saw. bersabda,”Lipatlah menyerupai semula, kenyamanan menyerupai tadi malam akan menghalangi shalat tahajjudku.”(Syamail Tirmidzi)
Keadaan kita ketika ini selalu ingin tidur nyaman diatas kasur yang empuk. Lihatlah Rasulullah saw. padahal Allah Swt. pernah memperlihatkan harta kekayaan yang banyak kepada beliau, namun dia menolaknya. Beliau tidak mengeluh sedikitpun.


Sawad Bin Ghaziyyah Ra &Sahabat Nabi Yang Tersenyum Saat Maut Menjemput



Sawad bin Ghaziyyah RA yaitu salah seorang Ahlul Badar, dan termasuk dari sedikit sahabat yang menemui syahidnya di medan Perang Badar itu. Pada hari berlangsungnya pertempuran ketika sedang persiapan pasukan, Nabi SAW mengatur barisan dan meluruskannya, menyerupai ketika meluruskan shaf-shaf shalat. Saat datang di daerah Sawad, dia melihat jikalau posisinya semoga bergeser, tidak lurus dengan anggota pasukan lainnya. Beliau memukul perut Sawad dengan anak panah sambil bersabda, "Luruskan barisanmu, wahai Sawad…!!"

Tetapi tanpa diduga oleh siapapun, tiba-tiba Sawad berkata, "Wahai Rasulullah, engkau telah menyakitiku, maka berilah kesempatan kepadaku untuk membalasmu (meng-qishash-mu)..!!"

Para sahabat terkejut, dan sebagian besar murka dengan ucapan Sawad ini, apalagi Umar bin Khaththab. Nabi SAW sendiri bekerjsama terkejut dengan sikapnya itu, tetapi dia menenangkan mereka. Sambil menyerahkan anak panah yang digunakan memukul, dia bersabda, "Kalau begitu, balaslah wahai Sawad…!!"

Sambil mendapatkan anak panah dari tangan Nabi SAW, Sawad berkata, "Wahai Rasulullah, engkau memukulku di perut yang tidak tertutup kain, alasannya yaitu itu hendaklah engkau singkapkan baju engkau..!!"

Para sahabat makin murka dengan perilaku dan kemauan Sawad yang tidak sepatutnya ini. Tetapi Nabi SAW tetap menenangkan mereka dan memenuhi undangan Sawad. Setelah dia menyingkapkan baju beliau, Sawad segera melemparkan anak panah tersebut dan memeluk perut Nabi SAW dengan dekat sambil menangis bahagia,sekaligus meminta maaf kepada beliau. Sekali lagi Nabi SAW dibentuk terkejut dengan tindakan Sawad yang tidak tersangka-sangka ini. Beliau berkata, "Apa-apaan engkau ini, Sawad….??"

Sawad berkata, "Inilah yang saya inginkan, ya Rasulullah, telah usang saya berharap kulitku yang hina ini bisa bersentuhan dengan kulit engkau yang mulia, dan saya bersyukur bisa melakukannya, semoga ini menjadi saat-saat terakhir dalam hidupku bersama engkau….!!"

Nabi SAW tersenyum mendengar tanggapan Sawad ini, alasannya yaitu apa yang dilakukannya yaitu ekspresi kecintaannya kepada Nabi SAW. Segera saja dia mendoakan kebaikan dan ampunan bagi Sawad.

Ketika pertempuran mulai berkobar, Sawad segera menghambur ke barisan kaum musyrikin yang jumlahnya jauh lebih besar, yakni lebih dari tiga kali lipat banyaknya. Dengan semangat jihad yang begitu menggelora dan harapan untuk mencapai syahid di jalan Allah, ia menyerang musuh tanpa sedikitpun rasa takut.

Luka tikaman dan sayatan senjata tidak pribadi menghentikan langkahnya untuk menghadang serangan kaum musyrikin. Sawad gres berhenti berjuang ketika kakinya tidak lagi bisa menyangga tubuhnya, tangannya tak lagi bisa menggerakkan pedang akhir terlalu banyaknya luka-luka dan darah yang mengucur dari tubuhnya.

Namun demikian mulutnya tampak tersenyum ketika tubuhnya roboh ke tanah, alasannya yaitu ruhnya pribadi disambut para malaikat yang pribadi mengantarnya ke hadirat Allah.

Sunday, 9 February 2020

Merekalah Orang-Orang Yang Menyayangi Nabi


Cinta Nabi. Kalimat sederhana yang begitu dalam maknanya. Dua kata yang bisa menciptakan orang menebusnya dengan dunia dan seisinya. Karena memang demikianlah hakikinya. Nabi Muhammad ﷺ wajib lebih dicintai dari orang tua, istri, anak, dan siapapun juga.

Flashdisk Yufid.TV
Namun, kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ bukanlah sesuatu yang bebas ekspresi. Tetap ada hukum yang indah dan elegan. Tidak boleh berlebihan dan juga menyepelekan. Tidak boleh mengada-ada. Karena dia begitu mulia untuk dipuja dengan sesuatu yang bukan dari ajarannya.

Allah ﷻ berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bahu-membahu dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sobat yang sebaik-baiknya.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 69).

Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini turun terkait dengan cerita Tsauban bin Bujdad radhiallahu ‘anhu bekas budak Rasulullah ﷺ. Ia sangat mengasihi Nabi ﷺ. Suatu hari ia menemui Nabi ﷺ, rona wajahnya berbeda. Menyiratkan kekhawatiran dan rasa sedih yang bergemuruh.

Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Apa yang menciptakan raut wajahmu berbeda (dari biasa)’?

‘Aku tidak sedang sakit atau kurang yummy badan. Aku hanya berpikir, bila tak melihatmu, saya sangat takut berpisah denganmu. Perasaan itu tetap ada, hingga saya melihatmu. Kemudian saya teringat akhirat. Aku takut kalau saya tak berjumpa denganmu. Karena engkau di kedudukan tinggi bersama para nabi. Dan aku, seandainya masuk surga, saya berada di tingkatan yang lebih rendah darimu. Seandainya saya tidak masuk surga, maka saya takkan melihatmu selamanya’, kata Tsauban radhiallahu ‘anhu.

Kemudian Allah ﷻ menurunkan ayat ini.

Mereka Yang Mencintai Nabi

Suatu hari, Abdullah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, sedang berkebun di perkebunannya. Kemudian anaknya datang, mengabarkan kalau Nabi ﷺ telah wafat. Ia berucap,

اللهم أذهب بصري تى لا أرى بعد حبيبي محمدًا أحدًا

“Ya Allah, hilangkanlah penglihatanku. Sehingga saya tidak melihat seorang pun sesudah kekasihku, Muhammad.” Ia katupkan dua tapak tangannya ke wajah. Dan Allah ﷻ mengabulkan doanya (Syarah az-Zarqani ‘ala al-Mawahib ad-Diniyah bi al-Manhi al-Muhammadiyah, Juz: 8 Hal: 84).

Tak ada pemandangan yang lebih indah bagi para teman melebihi memandang wajah Rasulullah ﷺ. Abdullah bin Zaid ingin, pandangan terakhirnya ialah wajah Nabi. Saat memejamkan mata, ia tak ingin ada bayangan lain di benaknya. Ia hanya ingin muncul wajah yang mulia itu.

Bilal radhillahu ‘anhu, seorang teman dari Habasyah. Muadzin Rasulullah ﷺ. Cintanya pada sang Nabi terus bertumbuh hingga maut tiba padanya. Sadar akan kehilangan Bilal, keluarganya bersedih dan mengatakan, “Betapa besar musibah”!

Bilal menanggapi, “Betapa bahagia! Esok saya berjumpa dengan kekasih; Muhammad dan sahabat-sahabatnya.” (Rajulun Yatazawwaju al-Mar-ata walahu Ghairuha, No: 285)

Cinta teman Nabi telah menciptakan kita malu. Cinta mereka begitu tulus. Tak jarang cinta kita hanya mengaku-ngaku.

Al-Hawari, Abdullah bin Zubair. Apabila ada yang menyebut Nabi ﷺ di sisi Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhu, ia menangis tersedu, hingga matanya tak bisa lagi meneteskan rindu dan kesedihan (asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Hal: 402).

Demikian juga dengan sahabiyat (sahabat wanita). Cinta mereka kepada Rasululllah ﷺ tak kalah hebatnya dari teman laki-laki. Ada seorang perempuan Anshar; ayah, suami, saudara laki-lakinya gugur di medan Perang Uhud. Bayangkan! Bagaimana perasaan seorang perempuan kehilangan ayah, daerah ia mengadu. Kehilangan suami, tulang punggung keluarga dan daerah berbagi. Dan saudara pria yang melindungi. Ditambah, ketiganya pergi secara bersamaan. Alangkah sedih keadaannya.

Mendengar tiga orang kerabatnya gugur, sahabiyah ini bertanya, “Apa yang terjadi dengan Rasulullah ﷺ”?

Orang-orang menjawab, “Beliau dalam keadaan baik.”

Wanita Anshar itu memuji Allah dan mengatakan, “Izinkan saya melihat beliau.” Saat melihatnya ia berucap,

كل مصيبة بعدك جلل يا رسول الله

“Semua petaka (selain yang menimpamu) ialah ringan, wahai Rasullah.” (Sirah Ibnu Hisyam, Juz: 3 Hal: 43).

Maksudnya apabila petaka itu menimpamu; janjkematian dll. Itulah petaka yang berat.

Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Taka da seorang pun yang lebih saya cintai melebih Rasulullah. Dan tak ada seorang pun yang lebih mulia bagiku selain dirinya. Aku tidak pernah menyorotkan penuh pandanganku padanya, lantaran begitu menghormatinya. Sampai-sampai bila saya ditanya, wacana perawakannya, saya tak bisa menggambarkannya. Karena mataku tak pernah memandangnya dengan pandangan utuh.” (Riwayat Muslim dalam Kitab al-Iman No: 121).

Sebagaimana kita saksikan, seorang pengawal kerajaan menundukkan wajahnya saat berbicara dengan sang raja. Karena menghormati dan memuliakan rajanya. Amr bin al-Ash lebih-lebih lagi dalam memuliakan dan mengagungkan Nabi ﷺ.

Adakah pengagungan yang lebih jago dan lebih luar biasa. Selain pengagungan para teman Nabi Muhammad ﷺ terhadap beliau?

Cinta Nabi Harus Mencintai Sahabatnya

Mencintai Nabi ﷺ berkonsekuensi mengasihi sahabatnya. Abdullah bin al-Mubarak mengatakan, “Ada dua jalan, siapa yang berada di atasnya, ia selamat. Ash-shidqu (jujur) dan mengasihi teman Muhammad ﷺ.” (asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Hal: 413).

Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah (tokoh tabi’in) mengatakan, “Siapa yang mengasihi Abu Bakar, ia telah menegakkan agama. Siapa yang mengasihi Umar, ia telah memperjelas tujuan. Siapa yang mengasihi Utsman, ia telah meminta penerangan dengan cahaya Allah. Dan siapa yang mengasihi Ali, ia telah mengambil tali yang kokoh. Siapa manis sikapnya terhadap teman Muhammad ﷺ, ia telah berlepas diri dari kemunafikan. Siapa yang merendahkan salah seorang dari mereka, ia ialah spesialis bid’ah yang menyelisihi Sunnah dan salaf ash-shaleh. Aku khawatir amalnya tidak naik ke langit (tidak diterima), hingga ia mengasihi semua sahabat. Dan hatinya higienis terhadap mereka.” (ats-Tiqat oleh Ibnu Hibban No:680).

Mencintai Rasulullah ﷺ ialah kedudukan mulia. Umat Islam berlomba-lomba mengasihi beliau. Kecintaan kepada dia menguatkan hati. Gizi bagi ruh. Dan penyejuk jiwa. Mencintai dia ialah cahaya. Tak ada kehidupan bagi hati kecuali dengan mengasihi Allah dan Rasul-Nya.

Kita melihat orang-orang yang cinta nabi, mata mereka berbinar bahagia. Jiwa mereka syahdu. Hati mereka tenang. Mereka menikmati rasa cinta itu. mereka menjadi mulia di dunia dan berbahagia di akhirat. Mereka tahu bagaimana rasa yang namanya senang itu. Keadaan sebaliknya bagi mereka yang tidak mengasihi Nabi. Mereka mencicipi kegundahan. Jiwa yang hampa. Perasaan yang sakit. Dan rugi.

Dalam Zadul Ma’ad, Ibnul Qayyim rahimahullah, mengatakan, “Maksudnya ialah sekadar mana seseorang mengikuti Rasul. Setingkat itu pula kadar kemuliaan dan pertolongan. Sebatas itu pula kualitas hidayah, kemenangan, dan kesuksesan. Allah ﷻ memberi hubungan sebab-akibat, kebahagiaan di dunia dan darul abadi ialah dengan mengikuti Nabi. Dia mengakibatkan kesengsaraan di dunia dan darul abadi bagi yang menyelisihi sang Nabi. Mengikutinya ialah petunjuk, keamanan, kemenangan, kemuliaan, kecukupan, kenikmatan. Mengikutinya ialah kekuasaan, teguh di atasnya, kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Menyelisihinya ialah kehinaan, ketakutan, kesesatan, kesengsaraan di dunia dan akhirat.”

Renungan

Setelah mengetahui bagaimana hebatnya cinta dan pengagungan para teman terhadap Rasulullah ﷺ, tentunya kita semakin bersemangat untuk meneladani cara mereka mengasihi Nabi. Cara yang tidak berlebihan dan tidak menyepelekan. Cara mereka mengasihi diridhai oleh Nabi.

Mereka menangis, tidak berani menyorotkan pandangan, senang dengan keselamatan beliau, dll. tapi mereka tak pernah melaksanakan perayaan maulid Nabi yang dianggap bukti cinta padanya. Mereka tak pernah merayakan suatu ‘amalan’ di hari kelahiran sang tauladan yang katanya ialah pengagungan.

Apakah kita yang berguru dari mereka cara mengasihi Nabi ataukah sebaliknya?

Demikianlah kita bawah umur selesai zaman. Sering menyebut cinta, tapi kita tak tahu apa artinya mencintai. Akhirnya, semakin marak perayaan, umat tak kunjung juga mengkaji hadits-hadits Nabi. Lihatlah sekitar kita sebagai renungan dan bukti.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com


Wednesday, 5 February 2020

Kisah Amir Bin Amr Bin Al-Akwa

Amir bin Amr bin al Akwa, yakni saudara dari Salamah bin Akwa, seorang cukup umur yang Rasulullah SAW menggelarinya sebagai Pasukan Pejalan Kaki Terbaik. Karena itu Amir pun lebih dikenali dengan nama Amir bin Akwa. Ketika terjun dalam perang Khaibar, dua bersaudara al Akwa dari bani Aslam ini pundak membahu memerangi kaum Yahudi. Amir bin Akwa menyenandungkan suatu syair untuk membangkitkan semangat, "Kalau tidak alasannya yakni engkau(wahai Muhammad), tidaklah kami menerima hidayah, tidak shalat dan berzakat, Kami dicukupkan dengan kelebihan engkau, maka turunkanlah atas kami ketenangan, Dan teguhkanlah kaki-kaki kami menghadapi musuh dalam peperangan ini…!!"
Nabi SAW diberitahu para sahabat wacana syair yang disenandungkan tersebut. Beliau menanyakan siapa penyenandungnya.
"Amir bin Akwa…!!" Kata para sahabat.
"Semoga Allah akan mengampuni Amir!!" Kata Rasulullah SAW, suatu membuktikan ia bahagia dengan apa yang dilakukannya.
Tetapi para sahabat-pun menangkap membuktikan pula. Jika ia mengkhususkan doa pada seseorang dalam suatu pertempuran, pastilah ia akan menemui syahid. Amir memahami pula hal ini, dan ia menjadi sangat bangga dan bersemangat menggempur musuh.
Ketika pertempuran berkecamuk dengan sengitnya, muncullah Marhab, seorang pendekar Yahudi yang sudah sangat dikenal di tempat Khaibar dan sekitarnya akan keberanian dan kepiawaiannya dalam berkelahi senjata. Ia menantang duel sambil menyombongkan nama besarnya.Tanpa banyak pertimbangan, Amir meloncat ke hadapan Marhab sambil mengucapkan perkataan untuk mengimbangi kesombongan Marhab, "Penduduk Khaibar tahu, akulah Amir, pendekar perang yang perkasa, menyerbu musuh seorang diri tanpa takut apa-apa…!!"
Dua orang yang inipun bertempur dengan serunya, sepertinya kekuatan mereka berimbang. Pada suatu kesempatan, posisi Amir di atas angin dan sangat menguntungkan, ia siap memperlihatkan pukulan terakhir dengan pedangnya untuk menghabisi perlawanan musuhnya. Tetapi tanpa disadarinya,hulu pedangnya melentur dan ujung pedangnya berbalik mengenai ubun-ubun kepalanya sendiri sampai ia tewas seketika. Pasukan muslim yang melihat insiden tersebut impulsif berkata, "Kasihan Amir, ia terhalang memperoleh mati syahid…!!"
Salamah bin Akwa yang berada tak jauh dari tempat saudaranya itupun merasa kecewa dan menyesal atas insiden yang menimpa Amir. Ia beranggapan ibarat kebanyakan sahabat lainnya, bahwa Amir mati alasannya yakni bunuh diri, walau itu dilakukan tanpa sengaja. Tentulah ia kehilangan pahala berjihad dan maut sebagai syahid.
Ketika perang pada hari itu usai, Salamah menceritakan insiden yang menimpa Amir kepada Nabi SAW sambil menangis, dan ia bertanya, "Wahai Rasulullah, benarkah pahala Amir gugur alasannya yakni kematiannya tersebut?"
Rasulullah SAW dengan berilmu memperlihatkan balasan yang menentramkan, "Ia gugur sebagai pejuang (yakni mati syahid), bahkan ia memperolah dua macam pahala. Dan kini ini ia sedang berenang di sungai-sungai surga…!!!"
Hati Salamah menjadi bahagia dengan klarifikasi Nabi SAW, bahkan ‘pandangan tembus’ ia atas saudaranya yang telah syahid tersebut meningkatkan semangatnya untuk terus berjuang membela panji-panji agama Allah.

Tuesday, 4 February 2020

Itban Bin Malik Sang Imam Masjid

Itban bin Malik RA ialah salah seorang sahabat Ahlul Badar, dan ia ditugaskan Nabi SAW untuk menjadi imam dalam shalat jamaah di masjid kaumnya, Bani Salim. Untuk hingga ke masjid/mushalla kaumnya itu, Itban harus melaluisuatu lembah. Jika turun hujan, ia mengalami kesulitan untuk melewati lembah tersebut, tetapi tetap saja ia melakukannya untuk hingga ke masjid dan melaksanakan kiprah yang diberikan Rasulullah SAW kepadanya.
Ketika usianya makin renta dan penglihatannya mulai berkurang, ia benar-benar merasa kesulitan untuk mendatangi masjid Bani Salim, terutama bila sedang hujan, alasannya biasanya terjadi banjir atau banyaknya genangan air pada lembah yang harus dilaluinya. Karena itu ia bermaksud meminta dispensasi kepada Nabi SAW atas kiprah yang dia berikan kepadanya. Apalagi di masjid Bani Salim tersebut telah ada beberapa orang lainnya yang dapat menggantikan tugasnya mengimami shalat jamaah.
Itban bin Malik tiba ke Madinah untuk menemui Rasulullah SAW, dan memberikan maksudnya tersebut. Rasulullah SAW memahami kesulitan Itban dan memenuhi permintaannya. Kemudian Itban berkata lagi, "Wahai Rasulullah, saya mohon tuan tiba ke rumah saya, saya ingin mengakibatkan sebagian rumah saya untuk mushalla…"
Sekali lagi Nabi SAW memenuhi ajakan Itban, dan berjanji untuk mendatangi rumahnya esok harinya. Keesokan harinya, dikala hari tidak begitu panas lagi, Nabi SAW bersama Abu Bakar tiba ke rumah Itban. Setelah dipersilahkan masuk, dia tidak pribadi duduk tetapi justru bersabda, "Dimana daerah yang engkau harapkan saya akan shalat?"
Itban mengantar Nabi SAW pada daerah disiapkan untuk mushalla, dia bangun dan bertakbir, ia dan Abu Bakar bangun di belakang dia ikut shalat juga. Beliau shalat sunnah dua rakaat, usai shalat, Itban mempersilahkan dua tamunya yang mulia ini makan bubur gandum yang telah disiapkannya.
Penduduk kampung Itban yang mendengar kabar kehadiran Nabi SAW dan Abu Bakar, berbondong-bondong tiba ke rumah Itban menemui beliau. Tetapi ada salah seorang warga yang berkata, "Apa gerangan yang sedang dilakukan Ibnu Malik..??"
Seorang warga lainnya menyahuti, "Dia sih orang munafik, yang tidak cinta kepada Allah dan RasulNya…!!"
Rasulullah SAW yang mendengar pembicaraan tersebut bersabda, "Janganlah kalian berkata menyerupai itu, apakah kalian tahu, dia (Itban) mengucapkan Laa ilaaha illallaah itu dengan tujuan mengharapkan keridhaan Allah?"
"Allah dan RasulNya lebih mengetahui…" Kata salah seorang dari mereka, tetapi kemudian ia berkata lagi, "Adapun kami, demi Allah, tidaklah kami mengetahui pembicaraan dan kecintaannya melainkan condong kepada orang-orang munafik..!!"
Melihat prasangka-prasangka yang berkembang menyerupai itu, dia bersabda menegaskan, "Sesungguhnya Allah mengharamkan api neraka kepada orang-orang yang menyampaikan : Laa ilaaha illallaah Muhammadur rasulullah, dengan tujuan untuk memperoleh keridhaan Allah…!!"

Monday, 3 February 2020

Sunday, 2 February 2020

Sedekahnya Para Sahabat Nabi Muhammad Saw

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu orang-orang yang mulia yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya. Mereka yaitu orang-orang yang menggabungkan ilmu dan amal dalam kehidupannya, mereka mengorbankan harta dan jiwa untuk Islam dan kaum muslimin. Oleh sebab itu, merekalah tauladan kita sehabis para Nabi dan Rasul.
Di antara contoh yang mereka berikan kepada kita yaitu keteladanan dalam bersedekah. Demi Islam dan kaum muslimin, harta yang mereka yang mereka miliki seakan-akan tak berarti. Sebanyak apapun yang diharapkan untuk Islam dan kaum muslimin akan mereka berikan sesuai dengan apa yang mereka miliki. Bersamaan dengan itu, sedekah tersebut mempunyai kualitas keikhlasan yang tak tertandingi. Semoga Allah meridhai mereka.
Berikut ini di antara sedikit dari amalan sahabat Nabi dengan keadaan zaman mereka yang sulit dan kemampuan finansial mereka yang masih terbatas.
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu
Ketika Abu Bakar radhiallah ‘anhu berkeinginan membebaskan Bilal radhiallah ‘anhu dari perbudakan, Umaiyah bin Khalaf mematok harga 9 uqiyah emas. Dan dengan segera Abu Bakar radhiallah ‘anhu pribadi menebusnya.
1 uqiyah emas = 31,7475 gr emas
285,73 gr x Rp 400.000,00 = Rp 114.291.000,00
Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu
Di dalam Kitab Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih, karangan Ibnu Abdil Barr, membuktikan bahwa Umar radhiallah ‘anhu telah mewasiatkan 1/3 hartanya (untuk kepentingan Islam) yang nilainya melebihi nilai 40.000 (dinar atau dirham), atau totalnya melebihi nilai 120.000 (dinar atau dirham). Jika dengan nilai sekarang, setara dengan) 510.000 gr emas = Rp 204.000.000.000,00
Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu
Saat Perang Tabuk, dia menyumbang 300 ekor unta,
300 ekor unta x Rp 12.000.000,00 = Rp 3.600.000.000,00
serta dana sebesar 1.000 Dinar Emas
1000 dinar x 4,25 gr = 4250 gr x Rp 400.000,00 = Rp 1.700.000.000,00
Ubaidullah bin Utbah memberitakan, saat terbunuh, Utsman radhiallah ‘anhu masih mempunyai harta yang disimpan penjaga gudangnya, yaitu: 30.500.000 dirham dan 100.000 dinar
Di zaman Rasul perak mempunyai kekuatan beli yang sangat tinggi
595 gram perak = 85 gram emas
100.000 dinar x 4,25 gr = 425.000 gr emas x Rp 400.000,00 = Rp 170.000.000.000,00
30.500.000 dirham x 85/595 = 4.357.143 dinar x 4,25 gr = Rp 18.517.857,8 x Rp 400.000,00
Rp 18.000.000 x Rp 400.000 = Rp 7.200.000.000.000,00 (Rp 7,2 Triliun)
Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu
Ketika menjelang Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf mempelopori dengan menyumbang dana sebesar 200 Uqiyah Emas.
1 uqiyah emas = 31,7475 gr emas
200 uqiyah x 31,7475 gr emas = 6.349,5 gr x Rp 400.000,00 = Rp 2.539.800.000,00
Menjelang wafatnya, dia mewasiatkan 50.000 dinar untuk infaq fi Sabilillah
100.000 dinar x 4,25 gr = 425.000 gr emas x Rp 400.000,00 = Rp 170.000.000.000,00
50.000 dinar = 85.000.000.000,00
Ini gres satu amalan dari sekian banyak sedekah lainnya yang mereka lakukan, belum lagi amalan selain sedekah. Inilah upaya mereka berniaga dengan Allah Ta’ala, membeli surga-Nya yang mahal harganya.
BAGAIMANA DENGAN SAYA, DAN ANDA…….?
Ditulis oleh Ustadz Said Yai Ardiansyah dengan embel-embel dari tim KisahMuslim.com
Artikel www.KisahMuslim.com