Friday, 13 December 2019

Penjelasan Kasyfus Syubuhat (2) : Pengenalan Dan Keistimewaan Kitab

Penjelasan Kasyfus Syubuhat (2) : Pengenalan Dan Keistimewaan Kitab

Beliau ialah salah satu Imam dakwah Tauhid Penjelasan Kasyfus Syubuhat (2) : Pengenalan Dan Keistimewaan Kitab1.

2. Karya ilmiah sang penulis

Syaikhul Islam, Muhammad At-Tamimi rahimahullah ini ialah seorang ulama yang luas ilmunya. Beliau bukan hanya menguasai ilmu-ilmu perihal Tauhid, namun ia juga menguasai ilmu Fikih, Tafsir, Siroh dan yang lainnya, sebagaimana layaknya para ulama yang lainnya. Hal itu nampak dari karya tulis ia yang banyak jumlahnya, dalam banyak sekali disiplin ilmu syari’at.
Berikut ini sebagian dari karya tulis beliau:
Kitabut Tauhid (ini ialah salah satu kitab ia yang paling terkenal), Tsalatsatul Ushul, Al-Qowa’idul Arba’, Ushulul Iman, Masail Jahiliyyah, Al-Kabair, Mukhtashor Al-Inshof wasy Syarhul Kabir, Ahadits fil Fitan wal Hawadits, Ahkam Tamannil Maut, Adabul Masyi ilash Shalah, Ath-Thaharoh, Tafsir Ayat minal Qur`an Al-Karim, Syuruthush Sholah wa Arkanuha wa Wajibatuha, Fatawa wa Masail, Mabhatsul Ijtihad wal Khilaf, Fadhoil Al-Qur`an, Mukhtashor Shiroh Ar-Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam, Mukhtashor Zaadil Ma’aad dan masih banyak lagi goresan pena ilmiah ia yang lainnya.
Sekelumit latar belakang penulisan kitab ini
Ringkasnya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy-Syaikh menjelaskan bahwa kitab ini ditulis sebagai balasan bagi syubhat-syubhat yang dilontarkan di zaman beliau. Syubhat-syubhat tersebut disebarkan sehabis sang penulis aktif mendakwahi masyarakat dengan mengenalkan hakikat Tauhid secara terperinci dan memperingatkan bentuk-bentuk kesyirikan dengan terperinci pula. Saat itu mulailah orang-orang yang mengaku-ngaku memahami Tauhid dengan baik mengumpulkan syubhat-syubhat dan menyebarkannya serta menuduh penulis telah mengkafirkan kaum muslimin secara serampangan, padahal faktanya tidaklah demikian. Akhirnya, penulis pun menjawab syubhat dan tuduhan itu dengan  menulis kitab Kasyfusy Syubuhat ini. Di awal kitab, ia jelaskan hakikat agama yang dibawa oleh seluruh para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam dan apa yang didakwahkan oleh mereka. Demikian pula, ia jelaskan hakikat agama kaum musyrikin dan kesyirikan mereka dan ia pun pertanda bahwa kaum musyrikin di zaman ia hakikatnya mengikuti agama kaum musyrikin di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam2.
Karena demikian itu latar belakang penulisannya, maka benarlah apa yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad bahwa hakikatnya kitab ini melengkapi kitab-kitab ia yang lainnya dalam problem aqidah, lantaran ia menuliskan di dalamnya masalah yang wajib diyakini oleh seorang hamba menurut dalil Al-Qur`an dan Al-Hadits yang valid, sesuai dengan pemahaman para pendahulu yang salih dari kaum muslimin3.

3. Keistimewaan kitab ini

Kasyfusy Syubuhat, sebuah kitab yang membahas disiplin ilmu Tauhidul Uluhiyyah ini telah banyak mendapat kebanggaan dari para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, meskipun isinya tidak lebih dari 60 halaman, namun kitab ini benar-benar mengandung keistimewaan yang banyak, sehingga pantaslah sejak meninggalnya ia pada  tahun 1206 H hingga masa kita kini ini (tahun 1437 H), kitab “kecil” ini telah berumur lebih dari 230 tahun, namun masih saja dipelajari oleh kaum muslimin turun temurun dari generasi ke generasi hingga sekarang.
Berikut ini sebagian keistimewaan kitab Kasyfu Syubuhat. Pertama, terdapat klarifikasi banyak sekali macam syubhat pokok dalam problem aqidah yang samar di pandangan banyak manusia.
Tentunya, bukan berarti kitab ini meliputi seluruh syubhat keyakinan yang ada di tengah-tengah manusia, tidak. Karena, karakteristik syubhat itu tidak ada batasan yang bisa diketahui oleh manusia.
Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah :
فإِنَّ الشُّبُهات العَقلِيَّة المُعارِضة لنُصوصِ الأَنبِياء ليسَ لهَا حَدٌّ تقِفُ علَيه
“Syubhat-syubhat nalar yang bertentangan dengan dalil-dalil yang dibawa para Nabi itu, tidaklah ada batasannya yang mampu diketahui (oleh manusia)”4
Oleh lantaran itu, selayaknya bagi setiap da’i yang mendakwahkan Tauhid, ia mengetahui syubhat-syubhat kaumnya, sehabis ia mempelajari Tauhid dengan baik, sehingga bisa menjelaskan kebatilan syubhat-syubhat tersebut kepada umat Islam ini.
Adapun orang yang tidak mapan pemahamannya terhadap Tauhid dan syirik, maka ia tidaklah disarankan mengenal syubhat-syubhat kaumnya.
Kedua, syubhat-syubhat yang disebutkan dalam kitab ini ialah syubhat yang banyak tersebar di masyarakat dari dulu hingga kini dan berasal dari kaum musyrikin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menuturkan
“ثُمَّ عامَّةُ هذِه الشُّبهاتِ – الَّتِي يُسمُّونَها دلائِلَ – إنَّما تقَلَّدُوا أكثَرَها عَن طاغُوتٍ مِن طَواغِيت المُشرِكينَ”
“Kemudian secara umum, syubhat-syubhat ini -yang mereka namai dengan sebutan “dalail”- mayoritasnya, hanyalah mereka warisi (turun temurun) dengan cara mengekor kepada thogut-thogut musyrikin5
Faedah
Ibnul Qoyyim menjelaskan perihal sebab-sebab lahirnya suatu fitnah syubhat:
وهذِه الفِتنَةُ تَنشَأُ تارَةً مِن فَهمٍ فاسِدٍ، وتارَةً مِن نَقلٍ كاذِبٍ، وتارَةً مِن حقٍّ ثابِتٍ خفِيٍّ علَى الرَّجُل فلَم يَظفَر بِه، وتارَةً مِن غرَضٍ فاسِدٍ وهوًى مُتَّبَعٍ، فهِي مِن عمًى فِي البَصِيرة، وفسَادٍ في الإِرادَة
“Fitnah syubhat ini, terkadang tumbuh dari pemahaman yang rusak, penukilan yang dusta, sebuah kesamaran kebenaran yang ada pada diri seseorang, sehingga ia tidak bisa memahaminya dengan baik, (terkadang fitnah itu juga tumbuh dari) tujuan yang buruk, serta hawa nafsu yang diikuti. Kaprikornus karakteristik fitnah syubhat itu membutakan pandangan (hati) dan merusak kehendak (baik)”6.
Ketiga, sang penulis mendapat taufik dari Allah, sehingga bisa membantah setiap syubhat dan mendasari bantahannya dengan dalil-dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang valid dengan pemahaman orang-orang salih yang telah mendahului kita. Upaya ia untuk selalu memberikan permasalahan ilmiah dengan dalil-dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang valid dengan pemahaman orang-orang salih terdahulu ini nampak pula dalam karya-karya tulis ia yang lainnya, menyerupai kitab Tauhid dan Tslatsatul Ushul.  Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad menjelaskan perihal kitab ini bahwa Kitab ia ini merupakan penyempurna kitab-kitab ia yang lainnya dalam problem aqidah, yang ia jelaskan di dalamnya sesuatu yang wajib diyakini, sesuai dengan dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Dengan kitab ini, sebetulnya ia telah menjawab syubhat-syubhat yang mencemari aqidah, menjelaskan kebatilannya, dan menjelaskan penyimpangan syubhat-syubhat tersebut dari kebenaran dan petunjuk yang dipegang besar lengan berkuasa oleh pendahulu umat ini7.
Keempatkitab ini mengandung kaidah-kaidah dasar yang diharapkan seorang Ahli Tauhid dalam menghadapi syubhat-syubhat besar di pandangan kaum musyrikin dan bagaimana cara meluruskan pemahaman mereka dengan baik.
Kelimabahasa sang penulis yang gampang dipahami, padahal isinya ialah permasalahan ilmiah yang tingkat kesulitannya tinggi, namun dengan taufik Allah, melalui pemilihan bahasa yang sederhana, penulis berhasil menjelaskan problem yang rumit menjadi gampang dan gamblang. Bahasa yang gampang ini menjadi ciri khas ia dalam kitab-kitab ia yang lainnya, seperti Tslatsatul Ushul, Ushulus Sittah dan yang lainnya.
Keenampujian dan rekomendasi ilmiah dari para ulama terhadap kitab ini, diantaranya adalah:
Syaikh Sulaiman bin Suhman menjelaskan keutamaan kitab ini. Beliau menerangkan bahwakitab ini ialah kitab yang besar manfaatnya, padahal tipis halamannya, mulia kadarnya, melalui kitab ini, binasa musuh-musuh Allah, sedangkan wali-wali Allah bisa mengambil manfaat darinya. Maka jadilah kitab ini sebagai rambu petunjuk yang diikuti oleh para jago tauhid8.
Syaikh Abdur Razzaq Al-‘Afifi pernah mengutarakan penilaiannya terhadap kitab ini. Beliau menerangkan bahwa kasyfusy Syubuhat ialah sebuah risalah yang tipis, namun termasuk kitab yang paling sulit dari kitab-kitab karya Syaikh Muhammad9.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan bahwa penulis dalam kitab ini menyebutkan sekian belas syubhat jago syirik, kemudian membantahnya dengan balasan yang didukung dalil serta diiringi dengan makna yang gampang dipahami dan ungkapan yang gamblang10.
***
(bersambung)
____
  1. Syarhur Risalah Al-Qowa’id Al-Arba’, Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr, hal.3. Beliau ialah salah satu Imam dakwah Tauhid Penjelasan Kasyfus Syubuhat (2) : Pengenalan Dan Keistimewaan Kitab
  2.  Lihat Syarah Kasyfusy Syubuhat, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy-Syaikh, dinukil dari : http://www.tasfiatarbia.org/vb/showthread.php?t=6447 Beliau ialah salah satu Imam dakwah Tauhid Penjelasan Kasyfus Syubuhat (2) : Pengenalan Dan Keistimewaan Kitab
  3. Manhaj Syaikhul Islam Muhamad bin Abdil Wahhab fit Ta`lif, Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad, dinukil dari : http://www.tasfiatarbia.org/vb/showthread.php?t=6447 Beliau ialah salah satu Imam dakwah Tauhid Penjelasan Kasyfus Syubuhat (2) : Pengenalan Dan Keistimewaan Kitab
  4.  Ash-Shawaiqul Mursalah: 2/422, dinukil dari : http://www.tasfiatarbia.org/vb/showthread.php?t=6447 Beliau ialah salah satu Imam dakwah Tauhid Penjelasan Kasyfus Syubuhat (2) : Pengenalan Dan Keistimewaan Kitab
  5.  Al-Majmu‘: 5/18,  dinukil dari : http://www.tasfiatarbia.org/vb/showthread.php?t=6447 Beliau ialah salah satu Imam dakwah Tauhid Penjelasan Kasyfus Syubuhat (2) : Pengenalan Dan Keistimewaan Kitab
  6. Ighotsatul Lahfan, hal. 2/887-888,  dinukil dari : http://www.tasfiatarbia.org/vb/showthread.php?t=6447 Beliau ialah salah satu Imam dakwah Tauhid Penjelasan Kasyfus Syubuhat (2) : Pengenalan Dan Keistimewaan Kitab
  7. Manhaj Syaikhul Islam Muhamad bin Abdil Wahhab fit Ta`lif, Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad, dinukil dari : http://www.tasfiatarbia.org/vb/showthread.php?t=6447 Beliau ialah salah satu Imam dakwah Tauhid Penjelasan Kasyfus Syubuhat (2) : Pengenalan Dan Keistimewaan Kitab
  8. Adh-Dhiya` Asy-Syariq, hal. 39, dinukil dari : http://www.tasfiatarbia.org/vb/showthread.php?t=6447 Beliau ialah salah satu Imam dakwah Tauhid Penjelasan Kasyfus Syubuhat (2) : Pengenalan Dan Keistimewaan Kitab
  9. Syarhu Kasyfusy Syubuhat, http://www.tasfiatarbia.org/vb/showthread.php?t=6447 Beliau ialah salah satu Imam dakwah Tauhid Penjelasan Kasyfus Syubuhat (2) : Pengenalan Dan Keistimewaan Kitab
  10. Syarhu Kasyfusy Syubuhat, Syaikh Al-‘Utsaimin, hal. 15, http://www.tasfiatarbia.org/vb/showthread.php?t=6447 Beliau ialah salah satu Imam dakwah Tauhid Penjelasan Kasyfus Syubuhat (2) : Pengenalan Dan Keistimewaan Kitab
***
[serialposts]

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Penjelasan Kasyfus Syubuhat (3) : Kandungan Kitab

Penjelasan Kasyfus Syubuhat (3) : Kandungan Kitab
 Tata cara mempelajari disiplin ilmu Tauhid dan kaitannya dengan isi kitab ini Penjelasan Kasyfus Syubuhat (3) : Kandungan Kitab1.

5. Kandungan kitab ini

Berikut ini penyusun akan menuliskan kandungan kitab ini secara keseluruhan dalam bentuk global, dengan maksud mengatakan citra awal perihal apa kandungan kitab yang sangat bermanfaat ini. Sehingga diperlukan nantinya sanggup membantu para pembaca memahami matan dan syarah (penjelasan) kitab ini, khususnya bagi saudara-saudaraku yang mendapatkan kesempatan emas dari Rabb kita Azza wa Jalla untuk mempelajari kitab ini lebih lanjut.
Penjelasan yang penyusun akan paparkan di sini diolah dari beberapa kitab, di antaranya:
  • Kitab At-Taudhihat Al-kasyifat ‘ala Kasyfisy Syubuhat, karya Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Habdan.
  • Kitab Kasyfusy Syubuhat bi thariqah muyassaroh, Ahmad bin Abbas.
  • Syarhu Kasyfisy Syubuhat, karya Syaikh Shaleh Alusy Syaikh.
  • Matan Kasyfusy Syubuhat yang diterbitkan oleh Wizarotusy Syu`un Al-Islamiyyah wal Auqof wad Da’wah wal Irsyad (Kementrian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah dan Bimbingan) KSA.
Tiga pecahan besar
Secara umum, kitab ini terbagi menjadi tiga pecahan besar, yaitu:
  1. At-Tamhid (Pembukaan)
  2. Maudhu’ul kitab (Pembahasan inti kitab ini)
  3. Al-Khatimah (Penutup)
Adapun perincian ketiga pecahan besar kitab ini ialah sebagai berikut,
1. At-Tamhid (Pembukaan)
Bagian pembukaan ini memuat sebanyak empat belas halaman, dimulai dari ucapan penulis rahimahullah dalam matan Kasyfusy Syubuhat, hal. 1 :
بسم الله الرحمن الرحيم
“Dengan menyebut setiap nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”
Sampai ucapan dia pada hal. 14:
قال بعض المفسرين : هذه الآية عامة في كل حجة يأتي بها أهل الباطل إلى يوم القيامة
“Berkata sebagian Ahli Tafsir, “Ayat ini umum meliputi setiap hujah (alasan) yang dibawa oleh hebat batil (musyrikin dan yang semisal mereka, pent.) hingga hari Kiamat.”
Fungsi Pembukaan
Pembukaan di sini kedudukannya sebagai pengantar, persiapan dan dasar untuk hingga kepada pembahasan utama, berupa syubuhat dan bantahannya. Pembukaan ini berisikan dalil-dalil dasar dan kaidah-kaidah asasi untuk membantah orang-orang musyrik. Isi dari pendahuluan di sini terdiri dari dua belas hal yang sangat vital, terdiri dari kaidah, prinsip, ataupun perkara yang mendasar. Hal ini sangatlah bermanfaat sebagai bekal membentengi diri bagi Ahli Tauhid dari syubhat.
Kaidah-kaidah atau perkara dasar yang terdapat di dalam pecahan pembukaan
Berikut ini kaidah-kaidah atau perkara dasar yang sangat penting tersebut.
  1. Definisi Tauhid
  2. Definisi Ibadah
  3. Bersikap melampui batas terhadap orang salih (ghuluw) ialah alasannya ialah kesyirikan, bahkan kesyirikan pertama kali terjadi disebabkan ghuluw ini.
  4. Kaum musyrikin di zaman kita lebih sesat dari musyrikin di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari tinjauan tertentu.
  5. Syirik besar ialah dosa yang tidak diampuni oleh Allah dan membatalkan keislaman seorang hamba. Adapun kaidah atau perkara dasar yang ke-6 s/d 11 memuat ciri khas musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:
  6. Mereka mengimani Tauhidur Rububiyyah, namun hal itu tidaklah memasukkan mereka kedalam agama Islam.
  7. Mereka mengenal Allah ‘Azza wa Jalla dan melaksanakan peribadatan kepada-Nya, namun sayangnya, mereka mencampurinya dengan kesyirikan terhadap Allah.
  8. Mereka mengetahui makna kalimat Tauhid Laa ilaaha illallahu.
  9. Mereka menolak Tauhidul Uluhiyyah dan mengingkari kalimat Tauhid.
  10. Sesembahan mereka beraneka ragam dan bukan hanya patung.
  11. Mereka meyakini bahwa malaikat, nabi dan wali Allah mempunyai kedudukan khusus di sisi Allah, sehingga mereka jadikan mediator antara mereka dengan Allah dalam beribadah dan ini ialah kesyirikan. Mereka tidaklah menyembah malaikat, nabi dan wali Allah kecuali untuk tujuan meminta syafa’at kepada mereka dan mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub) dan ini ialah kesyirikan juga. Bagian pembukaan ini ditutup dengan satu kaidah yang agung, sekaligus sebagai kaidah ke-12, yaitu:
  12. Tidaklah kaum musyrikin membawa hujah dan syubhat yang batil kecuali di dalam Al-Qur`an niscaya ada koreksi dan klarifikasi perihal kesalahan tersebut.
Maksud dan inti dari pecahan pembukaan ini:
Di antara inti dan maksud terbesar dari pecahan pembukaan ini ialah penulis hendak mengantarkan pembaca kepada kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan antara kaum musyrikin di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kaum musyrikin di zaman kita, bahkan dari tinjauan tertentu, kaum musyrikin di zaman kita lebih sesat dari kaum musyrikin di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka dari itu, sehabis mendapatkan klarifikasi yang tertera di pecahan pembukaan ini, kalau kaum musyrikin di zaman kita benar-benar menginginkan kebenaran, mereka akan mendapatkan Islam, agama Tauhid ini. Namun, kalau mereka menolak Tauhid, maka mereka akan berusaha mencari-cari pembenaran kesyirikan mereka dengan mengutarakan alasan dan syubhat guna membedakan antara diri mereka dengan kaum musyrikin di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam rangka menghindar dari tuduhan bahwa diri mereka telah melaksanakan kesyirikan. Oleh lantaran itulah, pecahan selanjutnya ialah pecahan inti kitab ini, yaitu menyebutkan syubhat kaum musyrikin yang tidak terima dan protes ketika diri mereka dikatakan telah melaksanakan kesyirikan, diikuti dengan koreksi.
2. Maudhu’ul kitab (Pembahasan inti kitab ini)
Bagian “Pembahasan inti” kitab ini terdiri dari 39 halaman, dimulai dari ucapan penulis rahimahullah dalam matan Kasyfusy Syubuhat, hal. 15:
و أنا أذكر لك أشياء مما ذكر الله في كتابه جوابا…
“Dan saya akan menyebutkan kepadamu beberapa perkara yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya sebagai jawaban…”
sampai ucapan penulis pada hal. 53:
فأين هذا من استغاثة العبادة و الشرك ولو كانوا يفقهون؟
Betapa jauh perbedaan antara hal ini dengan istighatsah ibadah (yang dipersembahkan kepada selain Allah, pent.) dan kesyirikan, kalau mereka benar-benar orang-orang yang mengerti?
Pembahasan inti kitab ini berisikan “syubhat dan koreksinya”, sedangkan penulis dalam membahasnya menempuh dua metode: 
  1. Koreksi global (Ijmali). Koreksi jenis ini berfungsi sebagai bekal bagi Ahli Tauhid, khususnya Ahli Tauhid yang tidak bisa membantah syubhat dengan mendalam dan detail, dalam upaya membentengi dirinya dari serangan syubhat, dengan berpegang teguh kepada dalil-dalil yang muhkamat (jelas maknanya). Jadi, koreksi global ini fungsinya lebih kepada fungsi pertahanan aqidah.
  2. Koreksi rinci (Tafshili). Koreksi jenis ini berfungsi sebagai koreksi yang menghancurkan dan mengikis syubhat dari akarnya. Oleh lantaran itu, koreksi jenis ini ialah koreksi yang biasanya disampaikan oleh para ulama rahimahumullah.
Perlu diketahui, bahwa di dalam kitab Kasyfusy Syubuhat ini terdapat empat belas koreksi rinci kepada kaum musyrikin yang membuatkan syubhat-syubhat mereka. Di antara keempat belas koreksi rinci tersebut, terdapat tiga syubhat terbesar dibandingkan syubhat-syubhat yang selanjutnya, disertai pula koreksinya. Syubhat-syubhat tersebut ialah alasan yang dianggap paling besar lengan berkuasa oleh kaum musyrikin sebagai legitimasi kesyirikan mereka. Jika seorang Ahli Tauhid telah bisa mengoreksi syubhat terbesar kaum musyrikin tersebut, maka mengoreksi syubhat-syubhat selanjutnya menjadi lebih mudah, biidznillah.
Syubhat paling besar berdasarkan kaum musyrikin dan koreksi rincinya
  1. Pemahaman mereka yang salah perihal meminta syafa’at, sehingga menjadikan mereka terjatuh dalam kesyirikan. Penulis membantahnya dengan satu koreksi. 
  2. Pemahaman mereka yang salah terhadap ayat Al-Qur`an perihal larangan beribadah kepada selain Allah atau ayat perihal sifat kaum musyrikin bahwa mereka beribadah kepada selain Allah. Penulis meluruskannya dengan dua koreksi.
  3. Pemahaman mereka yang salah perihal karakteristik peribadatan yang dilakukan oleh kaum musyrikin di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulis meluruskannya dengan satu koreksi.
Sebelas syubhat selebihnya dan koreksi rincinya
  1. Pemahaman mereka yang salah perihal ibadah, sehingga mereka terjatuh dalam kesyirikan. Penulis membantahnya dengan satu koreksi.
  2. Kerancuan mereka dalam memahami Syafa’at Syar’iyyah dan syafa’at syirik, termasuk kesalahan memahami syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Penulis meluruskannya dengan tiga koreksi.
  3. Pemahaman mereka yang salah perihal do’a, sehingga mereka terjatuh kedalam kesyirikan dengan memohon proteksi kepada orang-orang shalih. Penulis meluruskannya dengan satu koreksi.
  4. Pemahaman mereka yang salah perihal cakupan syirik. Penulis meluruskannya dengan dua koreksi.
  5. Pemahaman mereka yang salah perihal cakupan kekafiran.  Dan penulis membantahnya dengan empat koreksi.
  6. Pemahaman mereka yang salah perihal kedudukan wali di sisi Allah. Penulis membantahnya dengan satu koreksi.
  7. Pemahaman mereka yang salah perihal perkara yang membatalkan keislaman seorang hamba. Penulis membantahnya dengan sembilan koreksi, mengingat demikian bahayanya fitnah syubhat yang satu ini.
  8. Pemahaman mereka yang salah perihal cerita para sobat Nabi Muhammad dan Nabi Musa ‘alaihimash shalatu was salamPenulis membantahnya dengan tiga koreksi.
  9. Pemahaman mereka yang salah perihal definisi orang yang beragama Islam.  Penulis membantahnya dengan dua koreksi.
  10. Pemahaman mereka yang salah perihal istighatsah. Penulis membantahnya dengan dua koreksi.
  11. Pemahaman mereka yang salah perihal cerita malaikat Jibril ‘alaihis salam ketika mengatakan tunjangan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam pada ketika dia menghadapi musibah. Penulis membantahnya dengan satu koreksi.
3. Al-Khatimah (Penutup)
Bagian epilog ini dimuat sebanyak empat halaman, dimulai dari ucapan penulis rahimahullah dalam matan Kasyfusy Syubuhat, hal. 54:
و لنختم الكلام  إن شاء الله تعالى بمسألة عظيمة
“Insyaallah Ta’ala, kami tutup risalah ini dengan suatu persoalan besar.”
Sampai ucapan dia pada hal. 57:
و صلى الله على نبينا محمد و آله وصحبه و سلم
“Semoga kebanggaan Allah di sisi malaikat muqorrabin (sholawat) serta keselamatan tercurahkan bagi Nabi kita Muhammad, pengikut beliau, dan para sobat beliau.”
Kandungan Penutup
Pada pecahan epilog kitab Kasyfusy Syubuhat ini, walaupun sudah diawali dengan kalimat “Insyaallah Ta’ala, kita tutup risalah ini…”, namun kalau kita melihat petikan selanjutnya dari kalimat matan ini, yaitu:
لا خلاف أن التوحيد لابد أن يكون بالقلب و اللسان و العمل
“Tidak ada perselisihan pendapat (diantara ulama, pent.) bahwa Tauhid wajiblah diwujudkan dengan hati, lisan, dan amal”, dan ucapan penulis selanjutnya yang memperlihatkan adanya syubhat yang perlu dibantah,
و نحن نفهم هذا و نشهد أنه الحق ولكنا لا نقدر أن نفعله
“…dan kami memahami hal ini, kami pun juga mempersaksikan bergotong-royong hal ini ialah sebuah kebenaran, namun kami tidak bisa melakukannya…”.
Kalimat-kalimat tersebut ialah sebuah aba-aba dari penulis rahimahullah kepada sebuah kaidah yang berfungsi sebagai koreksi terhadap syubhat besar dalam persoalan ini.
Alasan dikhususkannya pembahasan kaidah dan syubhat tersebut secara tersendiri di pecahan penutup
Jika kita mengamati ucapan penulis rahimahullah di baris-baris awal alinea pertama di pecahan epilog ini, maka kita bisa menyimpulkan bahwa alasan dikhususkannya pembahasan kaidah dan syubhat tersebut secara tersendiri adalah:
  1. Karena besar dan pentingnya kaidah ini. Hal ini nampak dari ucapan penulis rahimahullah:ولكن نفرد لها الكلام لعظم شأنها
    “Namun, kami khususkan persoalan (kaedah) ini menjadi pembahasan tersendiri lantaran besar (penting)nya persoalan ini.”
  2. Karena banyaknya kesalahan yang terjadi dalam persoalan ini, dengan adanya syubhat yang membahayakan aqidah kaum muslimin di zaman penulis rahimahullah. Hal ini nampak dari ucapan penulis rahimahullah : لكثرة الغلط فيها
    “Namun, lantaran banyaknya kesalahan (yang terjadi) dalam persoalan ini.”
Fungsi pecahan Penutup
Dengan klarifikasi di atas, maka kita sanggup simpulkan bahwa fungsi dituliskannya pecahan epilog oleh penulis rahimahullah adalah sebagai peringatan atas pelanggaran terhadap Tauhid yang banyak terjadi dalam persoalan ini, sekaligus seruan untuk bertauhid dengan baik dan benar. Karena di dalam epilog ini, penulis menjelaskan wajibnya mengamalkan Tauhid, baik secara batin dan lahir, sehingga hal ini menjadi koreksi yang terperinci bagi orang yang mengetahui Tauhid namun meninggalkannya dengan alasan-alasan yang mengada-ada. Demikian pula, di pecahan epilog ini terdapat bantahan bagi murji`ah yang menyatkan bahwa kepercayaan hanya terdiri dari keyakinan dan ucapan, tanpa disertai perbuatan.
Perbedaan antara syubhat yang disebutkan pada pecahan epilog ini dengan syubhat-syubhat sebelumnya
Dalam Syarhu Kasyfisy Syubuhat, Syaikh Sholeh Alusy-Syaikh hafizhahullah menjelaskan bahwa perbedaan antara syubhat yang disebutkan pada pecahan epilog ini dengan syubhat-syubhat sebelumnya adalah:
*) Bahwa syubhat-syubhat yang disebutkan sebelum epilog ini, lebih terkait dengan syubhat yang sifatnya meracuni pengetahuan Tauhid seorang hamba. Adapun syubhat yang disebutkan pada bagian penutup ini, lebih terkait dengan syubhat yang meracuni pengamalan Tauhid seorang hamba.
Dengan demikian, seseorang yang mempelajari kitab Kasyfusy Syubuhat ini diperlukan bisa terbentengi aqidahnya dari syubhat yang menyerang ilmu dan amalnya di dalam mentauhidkan Allah Ta’ala.
Bertawakal dan berdo’alah hanya kepada Allah semata!
Sebagai epilog resensi kitab Kasyfusy Syubuhat ini, penyusun hendak mengingatkan, bergotong-royong keselamatan diri kita dalam beragama Islam ialah lantaran Allah berkenan memberi hidayah kepada kita, sehingga kita bisa selamat dari aneka macam macam kegelapan syubhat. Ingatlah pula, bahwa semua kebaikan yang ada pada kita, tentulah terjadinya dengan izin Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ  
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kau mengeluarkan insan dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” ((QS. Ibraahiim: 1).
Oleh lantaran itu, mari kita sandarkan hati kita kepada Allah, bertawakal, dan berdo’a hanya kepada Allah semata, sembari berusaha keras untuk menuntut ilmu Syar’i dan mengamalkannya dengan cara yang telah dicontohkan oleh para pendahulu kita dari kalangan orang-orang salih, yaitu para sobat nabi, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan orang-orang yang menempuh jalan yang sama dengan mereka. Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menguhkan Tauhid di hati kita dan menjaga hati kita dari efek jelek setiap syubhat. Innahu Waliyyu dzalika wal Qoodir ‘alaihi.
***
Diolah dari : http://sh.rewayat2.com/akidae/Web/31971/001.htm dengan beberapa tambahan  Tata cara mempelajari disiplin ilmu Tauhid dan kaitannya dengan isi kitab ini Penjelasan Kasyfus Syubuhat (3) : Kandungan Kitab
____
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

    Thursday, 12 December 2019

    Monday, 4 November 2019

    Penjelasan Kasyfus Syubuhat (11) : Ancaman Kesyirikan

    Penjelasan Kasyfus Syubuhat (11) : Ancaman Kesyirikan
    Point ketiga inilah bekerjsama inti pembahasan bahan pokok yang keempat dalam serpihan pe Penjelasan Kasyfus Syubuhat (11) : Bahaya Kesyirikan


    3. Bahaya kesyirikan

    Point ketiga inilah bekerjsama inti pembahasan bahan pokok yang keempat dalam serpihan pembukaan kitab ini, yaitu syirik besar ialah dosa yang tidak diampuni oleh Allah dan membatalkan keislaman seorang hamba.
    • Perkara fundamental pada kalimat syirik besar ialah dosa yang tidak diampuni oleh Allah ini diambil dari ucapan penulis dalam matan saat memberikan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nisaa`: 48.
    • Sedangkan perkara fundamental pada kalimat dan membatalkan keislaman seorang hamba ditunjukkan oleh ucapan penulis rahimahullah,
    وعرفت أن إقرارهم بتوحبد الربوبية لم يدخلهم في الإسلام و أن قصدهم الملائكة أو الأنبياء أو الأولياء يريدون شفاعتهم، والتقرب إلى الله بذلك هو الذي أحل دماءهم وأموالهم ، عرفت حينئذٍ التوحيد الذي دعت إليه الرسل، وأبى عن الإقرار به المشركون
    “Dan andapun telah mengetahui bahwa akreditasi orang-orang musyrik terhadap Tauhid Rububiyyah, tidaklah memasukkan mereka kedalam Islam dan bahwa ibadah yang mereka tujukan kepada para malaikat, para nabi atau para wali untuk menerima syafa’at serta bertaqarrub ( pendekatan diri ) kepada Allah ialah hal-hal yang mengakibatkan mereka halal darah dan harta mereka (kafir). Dengan demikian, anda mengetahui jenis tauhid yang diseru oleh para rasul, tetapi ditolak oleh orang-orang musyrik.”
    Dampak negatif syirik
    Syirik ialah dosa yang paling besar dan kezhaliman yang paling zhalim, Syaikhul Islam rahimahullah menjelaskan bahwa menyekutukan Allah ialah dosa terbesar yang dengannya seseorang bermaksiat kepada Allah.
    Allah Ta’ala berfirman,
    إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa dibawah (dosa syirik) tersebut, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nisaa`: 48).
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya wacana “Dosa apakah yang paling besar? Beliau menjawab,  
    أن تجعل لله نداً وهو خلقك
    “Anda mengambil sekutu bagi Allah, padahal Dia membuat anda” (Majmu’ Fatawa).
    Tentulah dosa paling besar itu berdampak negatif bagi pelakunya. Berikut ini sebagian pengaruh negatif tersebut:
    1. Pelaku syirik akbar tidak diampuni oleh Allah, kecuali kalau bertaubat.Adapun kalau seseorang berbuat syirik akbar, kemudian bertaubat kepada Allah Ta’ala, maka Allah mengampuninya, menurut ayat berikut ini,
      قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
      Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Adapun syirik kecil, diperselisihkan Ulama kalau pelakunya meninggal dunia dan tidak bertaubat. Mayoritas ulama beropini bahwa pelakunya tergantung kehendak Allah. Sedangkan sebagian Ulama yang lain beropini pelakunya tidak diampuni, maka melewati proses muwazanah (penimbangan amal baik dengan amal buruk) dan kalau harus diadzab, pastilah nasibnya tidak awet di Neraka. Dalilnya ialah QS. An-Nisaa`: 48.
    2. Syirik akbar mengugurkan seluruh amal salih pelakunya, Dalilnya ialah QS. Az-Zumar: 65.
    3. Syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam, dalilnya ialah QS. An-Nisaa`:48 dan Al-Baqarah: 217.
    4. Pelaku syirik akbar kalau mati tidak taubat, awet selamanya di Neraka, dalilnya ialah QS. Al-Bayyinah:6 dan Al-Maaidah:72.
    5. Syirik besar mengakibatkan halalnya darah pelakunya, dalilnya ialah QS. At-Taubah:5 serta mengakibatkan halal harta pelakunya,  dalilnya ialah HR. Al-Bukhari, dari hadits Anas dan selainnya.
    6. Pelaku syirik besar, alasannya ialah keluar dari Islam, maka kalau masih hidup, disikapi dengan dihentikan dimakan sembelihannya, dieksekusi dengan bunuh dan eksekusinya ditangani pemerintah muslim, hanya saja diminta bertaubat terlebih dahulu, kalau bertaubat, diterima taubatnya dan tidak dibunuh, serta disikapi sebagai seorang muslim.
    Namun kalau pelaku syirik besar tersebut mati dan tidak bertaubat, maka tidak disholati, dihentikan dikuburkan di pemakaman kaum muslimin dan hartanya tidak diwariskan, tapi untuk baitul mal (harta negara).
    ***
    [serialposts]
    Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
    Sumber : Muslim.or.id

    Penjelasan Kasyfus Syubuhat (10) : Perbedaan Syirik, Kufur, Dan Nifaq

    Penjelasan Kasyfus Syubuhat (10) : Perbedaan Syirik, Kufur, Dan Nifaq
    ah telah menjelaskan makna dari istilah syirik Penjelasan Kasyfus Syubuhat (10) : Perbedaan Syirik, Kufur, Dan Nifaq


    2. Perbedaan antara syirik, kufur, dan nifaq

    Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah menjelaskan makna dari istilah syirik, kufur (kekafiran) dan nifaq (kemunafikan) serta pelakunya, yaitu musyrik, kafir dan munafik. Masing-masing dari istilah syirik, kufur dan nifaq masih terbagi menjadi dua lagi, yaitu akbar (besar) dan ashghar (kecil).
    Perbedaan akbar dan asghar dari ketiganya
    • Syirik, kufur dan nifaq yang akbar, semuanya mengeluarkan pelakunya dari Islam dan kalau pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat, maka beliau baka selama-lamanya di neraka.
    • Sedangkan syirik, kufur dan nifaq yang ashghar, tidaklah hingga mengeluarkan pelakunya dari Islam dan kalau pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat, maka beliau berada dibawah kehendak Allah, kalau Allah berkehendak untuk mengampuninya, maka Allah pun akan mengampuninya, namun kalau tidak, Allah pun akan menyiksanya.
    Adapun yang dimaksudkan dalam pembahasan ini ialah perbedaan antara syirik akbar, kufur akbar dan nifaq akbar.
    Hubungan antara syirik akbar dan kufur akbar
    Ulama telah menjelaskan bahwa lafadz syirik dan kufur termasuk dalam dua kata yang ciri khasnya adalah
    إذا اجتمعا افترقا وإذا افترقا اجتمعا
    “Jika dua lafadz tersebut disebutkan secara bersamaan, maka masing-masing mempunyai makna tersendiri, sedangkan kalau disebutkan secara terpisah, maka menjadi sama makna keduanya”.
    Keterangan
    • Kalimat“Sedangkan kalau disebutkan secara terpisah, maka menjadi sama makna keduanya”  maksudnya ialah saat disebutkan lafadz syirik sendiri atau kufur sendiri, maka keduanya bermakna tidak adanya iman kepada Allah (kafir). Dalilnya ialah firman Allah Ta’ala  dalam QS. Al-Kahfi: 37 dan 38.
    • Adapun kalimat“Jika dua lafadz tersebut disebutkan secara bersamaan, maka masing-masing mempunyai makna tersendiri” , maksudnya ialah saat disebutkan lafadz syirik dengan kufur secara bersamaan, maka makna syirik berbeda dengan kufur.
    Dalilnya ialah firman Allah Ta’ala :
    لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ
    Orang-orang kafir yakni jago Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum tiba kepada mereka bukti yang nyata. (QS. Al-Bayyinah: 1).
    An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam kitab Syarhu Shahiih Muslim,
    الشرك والكفر قد يطلقان بمعنى واحد وهو الكفر بالله تعالى ، وقد يفرق بينهما فيخص الشرك بعبادة الأوثان وغيرها من المخلوقات مع اعترافهم بالله تعالى ككفار قريش ، فيكون الكفر أعم من الشرك
    “Syirik dan kufur terkadang disebutkan dengan makna sama, yaitu: tidak adanya iman kepada Allah (kafir) , namun terkadang dibedakan antara makna keduanya, sehingga kata syirik itu dikhususkan untuk penyembahan patung dan makhluk lainnya, diiringi dengan ratifikasi mereka terhadap adanya Allah Ta’ala, menyerupai orang-orang kafir suku Quraisy. Jadi, kufur itu (maknanya) lebih umum dari syirik.”
    Perbedaan syirik, kufur, dan nifaq
    Perbedaan ketiganya itu sanggup diketahui dari makna masing-masing pelakunya, yaitu:
    1. Musyrik adalah orang yang memalingkan sesuatu yang menjadi kekhususan Allah (Rububiyyah, Uluhiyyah dan Al-Asma` wash Shifat) kepada selain Allah. Namun, alasannya ialah kebanyakan syirik yang terjadi ialah syirik dalam Uluhiyyah, maka kata musyrik sering dimaksudkan untuk orang yang memalingkan peribadatan kepada selain Allah.
    2. Kafir adalah orang yang terdapat pada dirinya sesuatu yang membatalkan keimanan, baik berupa i’tiqad (keyakinan), ucapan, maupun perbuatan, dengan demikian seseorang sanggup berstatus kafir dengan melaksanakan syirik ataupun tanpa syirik,  seperti mengingkari kewajiban shalat lima waktu, mengingkari keharaman zina, membenci Allah, membenci Al-Qur’an, dan berpaling dari agama Allah dengan tidak mempelajari Islam dan tidak mengamalkannya.Demikian pula, kufur pun meliputi kufur lahiriyah maupun kufur batin. Kufur batin diistilahkan dengan munafik, yaitu orang yang nampak beriman pada sisi lahirnya saja.
    3. Munafik adalah orang yang menampakan keislaman dan menyembunyikan kekafiran.
    Hubungan antara syirik, kufur, dan nifaq
    Dari klarifikasi di atas, sanggup kita simpulkan bahwa:
    1. Makna kufur itu paling luas, alasannya ialah meliputi syirik dan nifaq.
    2. Setiap orang musyrik itu pastilah beliau kafir, namun tidak setiap orang kafir itu musyrik.
    3.  Setiap orang munafik itu pastilah beliau kafir, namun tidak setiap orang kafir itu munafik (menyembunyikan kekafirannya).
    ***
    [serialposts]
    Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
    Sumber : Muslim.or.id
    ____