Tuesday, 11 February 2020

Rahasia Iblis Dan Bala Tentaranya Dicegah Naik Ke Langit


Iblis dan Bala Tentaranya Dicegah Naik ke Langit

Dalam Kitab Al-Jami Liakam Al-Qur'an, dijelaskan bahwa ada 2 hal yang sanggup mengakibatkan Iblis memekik dengan kerasnya serta menangis dengan tangisan yang memilukan.



Pertama, ialah ketika diturunkannya Surat Al Fatihah, yang mana surat ini ialah surat yang paling afdhal atau lebih utama di dalam Al Qur'an.



Kedua, Pada ketika Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Beliau ialah makhluk yang paling mulia sejagat raya ini.


Karena berkat bimbingan beliau, orang yang sudah mempunyai atau berbuat dosa setumpuk gunung pun sanggup terhapus hanya dengan mengucapkan syahadat saja.




Dikelilingi Malaikat.


Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabi'ul Awal di Tahun Gajah, rupanya telah menjadi pukulan tersendiri bagi Iblis dan bala tentaranya. Bagaimana tidak, bila sebelumnya jin-jin sanggup leluasa turun naik ke langit dan mencuri percakapan malaikat, maka semenjak Rasulullah SAW lahir, maka mereka tidak sanggup melakukannya kembali.

Ketika Iblis dan bala tentaranya dihentikan naik ke langit, maka mereka berkumpul untuk membahasnya.

Mereka berkata,
"Dahulu kami sanggup naik ke langit, akan tetapi hari ini kami telah dihentikan untuk naik."

Iblis menjawab,
"Menyebarlah kalian semuanya di muka bumi dari barat hingga timur, dan perhatikanlah dengan seksama apa bahwasanya yang telah terjadi."

Setan-setan itu lalu menyebar, dan alhasil sehabis mengelilingi muka bumi dari barat ke timur, sampailah mereka ke kota Makkah. Di sana tampak oleh mereka ada bayi kecil mungil yang dikelilingi oleh ribuan malaikat. Bayi tersebut memancarkan cahaya yang sangat terang hingga mencuat ke ujung langit. Sedangkan para malaikat satu persatu mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Begitu para setan mendekati bayi mungil itu, belum hingga ke tempat, ada malaikat Jibril yang menendangnya hingga terlepar jauh hingga ke Aden.

Iblis Berteriak dengan Sangat Dahsyat.

Setelah melihat insiden itu, setan-setan segera kembali menghadap Iblis dan menceritakan semua apa yang telah mereka saksikan di kota Makkah.

"Sesungguhnya telah lahir seorang bayi yang memancarkan cahaya yang sangat terang, bayi itu dikelilingi ribuan malaikat yang menunjukkan ucapan selamat," ujar salah seorang setan.

Mendengar hal itu, iblis pun berteriak dengan bunyi yang sangat dhsyat,
"Aaaaahhhh......!!! Telah keluar 'Ayatul Alam' dan rahmat bagi bani Adam...!!!"
"Karena itulah kalian semua telah dicegah untuk naik ke langit," kata Iblis sehabis berteriak.

Memang benar, sehabis Rasulullah lahir ke muka bumi, Allah SWT memerintahkan malaikat untuk menutup tujuh pintu langit dan menjaganya dari jin dan iblis. Sehingga mereka tidak sanggup mencuri dengar perbincangan para malaikat dan isu dari langit lagi.

Kenapa Setan Mencuri Dengar Berita dari Langit.
Tak lain ialah untuk menyesatkan manusia, anak turun Nabi Adam as.
Kalau sebelumnya mereka mencuri dengar isu dari langit dan bersekongkol dengan para dukun untuk menyesatkan manusia, ketika itu pula tidak sanggup lagi mencuri dengar.

[Play Store Apps 100 Kisah Islami]

Wednesday, 5 February 2020

Berlomba-Lomba Dalam Kabaikan



Bersegera Kepada Kebaikan Dan Menganjurkan Kepada Orang Yang Menuju Kebaikan Supaya Menghadapinya Dengan Sungguh-sungguh Tanpa Keragu-raguan

Allah Ta'ala berfirman:

"Maka berlumba-lumbalah engkau sekalian untuk mengerjakan aneka macam kebaikan." (al-Baqarah: 148)

Allah Ta'ala berfirman pula:

"Dan bersegeralah engkau sekalian menuju pada pengampunan dari Tuhanmu dan juga memasuki syurga yang luasnya ialah menyerupai langit dan bumi, disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa." (ali-lmran: 133)

Adapun Hadis-hadisnya ialah:

Pertama

Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Bersegeralah engkau sekalian untuk melaksanakan amalan-amalan - yang bagus-bagus - sebelum datangnya bermacam-macam fitnah yang diumpamakan sebagai potongan-potongan dari malam yang gelap gulita." [10]

Berpagi-pagi seseorang itu menjadi orang mu'min dan berpetang-petang menjadi orang kafir, ada lagi yang berpetang-petang masih sebagai seorang mu'min, tetapi berpagi-pagi telah menjadi seorang kafir. Orang itu menjual agamanya dengan harta dari keduniaan." (Riwayat Muslim)

Kedua

Dari Abu Sirwa'ah (dengan kasrahnya sin yang muhmalah dan boleh pula dengan difathahkannya), iaitu 'Uqbah bin al-Harits r.a., katanya: "Saya bersembahyang di belakang Nabi s.a.w. di Madinah yakni shalat 'ashar. Kemudian setelah bersalam kemudian bangun bergegas-gegas, terus melangkahi leher orang-orang banyak untuk menuju ke salah satu bilik isterinya. Orang-orang banyak yang takut kerana melihat bergegas-gegasnya dia itu. Selanjutnya Nabi s.a.w. keluar lagi menemui sahabat-sahabatnya itu kemudian mengetahui bahawa mereka itu benar-benar terhairan-hairan kerana bergegas-gegasnya tadi. Beliau s.a.w. kemudian bersabda:

"Saya ingat pada sepotong emas yang ada di tempatku, maka saya tidak bahagia kalau benda itu mengganggu fikiranku - untuk menghadap Allah Ta'ala. Oleh alasannya ialah itu saya menyuruh supaya benda tadi dibahagi-bahagikan." (Riwayat Bukhari)

Dan disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari yang lain demikian: "Saya meninggalkan di rumah sepotong emas dari hasil sedekah, maka saya tidak bahagia kalau hingga menginapkannya."

At-tibru, ertinya ialah potongan-potongan emas atau perak.

Ketiga








Dari Jabir r.a., katanya: Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi s.a.w. pada hari perang Uhud: "Bagaimanakah pendapat Tuan jikalau saya terbunuh, di manakah tempatku?" Nabi s.a.w. bersabda:

"Dalam syurga."

Orang tersebut kemudian melemparkan beberapa buah kurma yang masih di tangannya kemudian berperang sehingga ia dibunuh - mati syahid." (Muttafaq 'alaih)

Keempat

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Ada seorang lelaki tiba kepada Nabi s.a.w. kemudian berkata: "Ya Rasulullah, sedekah manakah yang teragung pahalanya?" Beliau s.a.w. bersabda:

"Iaitu jikalau engkau bersedekah, sedangkan engkau itu masih sihat dan sebetulnya engkau kikir - merasa sayang mengeluarkan sedekah itu, kerana takut menjadi fakir dan engkau amat mengharap-harapkan untuk menjadi kaya. Tetapi janganlah engkau menunda-nunda sehingga apabila nyawamu telah hingga di kerongkong kemudian berkata: "Untuk si Fulan itu, yang ini dan untuk si Fulan ini, yang itu, sedangkan orang yang engkau maksudkan itu telah mempunyai apa yang hendak kamu berikan." (Muttafaq 'alaih)

Hulqum ialah jalan pernafasan sedang mari' ialah jalan makan dan minuman.

Kelima

Dari Anas r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. mengambil pedangnya pada hari perang Uhud, kemudian bersabda: "Siapakah yang suka mengambil pedang ini daripadaku?" Orang-orang sama mengacungkan tangannya masing-masing, yakni setiap orang dari sahabat-sahabat itu berbuat demikian sambil berkata: "Saya, saya." Beliau berkata lagi: "Siapakah yang sanggup mengambilnya dengan menunaikan haknya?" Orang-orang semuanya berdiam diri. Selanjutnya Abu Dujanah - namanya sendiri Simak bin Kharsah - berkata: "Saya sanggup mengambil pedang itu dengan menunaikan haknya." Pedang itu kemudian dipakai oleh Abu Dujanah untuk memenggal kepala-kepala kaum musyrikin." (Riwayat Muslim)

Keenam

Dari Zubair bin 'adiy, katanya: "Kita semua mendatangi Anas bin Malik r.a., kemudian kita mengadukan padanya perihal apa yang kita temui dari perlakuan Hajjaj - seorang panglima dari dinasti Bani Umayyah dan ia ialah seorang zalim, kemudian Anas berkata: "Bersabarlah engkau sekalian, alasannya ialah sesungguhnya saja tidaklah tiba sesuatu zaman melainkan apa yang sesudahnya itu tentu lebih jelek daripada zaman itu sendiri, demikian itu sehingga engkau sekalian menemui Tuhanmu. Ucapan semacam ini pernah saya dengar dari Nabimu sekalian s.a.w. (Riwayat Bukhari)

Ketujuh

Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Bersegeralah engkau sekalian melaksanakan amalan-amalan -yang baik - sebelum datangnya tujuh macam perkara. Apakah engkau sekalian menantikan - enggan melaksanakan dulu, melainkan setelah tibanya kefakiran yang melalaikan, atau tibanya kekayaan yang menyebabkan kecurangan, atau tibanya kesakitan yang merosakkan, atau tibanya usia renta yang menyebabkan ucapan-ucapan yang tidak keharuan lagi, atau tibanya kematian yang mempercepatkan - lenyapnya segala hal, atau tibanya Dajjal, maka ia ialah seburuk-buruk makhluk ghaib yang ditunggu, atau tibanya hari kiamat, maka hari simpulan zaman itu ialah lebih besar bencananya serta lebih pahit penanggunggannya."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia menyampaikan bahawa ini ialah Hadis hasan.

Kelapan

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda pada hari perang Khaibar:

"Nescayalah bendera ini akan kuberikan kepada seseorang lelaki yang mengasihi Allah dan RasulNya, Allah akan membebaskan - beberapa benteng musuh - atas kedua tangannya."

Umar r.a. berkata: "Saya tidak menginginkan keimarahan -kepemimpinan di medan perang - melainkan pada hari itu belaka kemudian saya bersikap untuk menonjolkan diri pada Nabi s.a.w. dengan impian supaya saya dipanggil untuk memegang bendera itu.

Tiba-tiba Rasulullah s.a.w. memanggil Ali bin Abu Thalib r.a., kemudian memperlihatkan bendera tadi padanya dan dia s.a.w. bersabda:

"Berjalanlah dan jangan menoleh-noleh lagi sehingga Allah akan membebaskan - benteng-benteng musuh - atasmu."

Ali berjalan beberapa langkah kemudian berhenti dan tidak menoleh, kemudian berteriak:

"Ya Rasulullah, atas dasar apakah saya akan memerangi para manusia?" Rasulullah s.a.w. menjawab:

"Perangilah mereka sehingga mereka suka menyaksikan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawasanya Muhammad ialah pesuruh Allah. Apabila orang itu telah berbuat demikian, maka tercegahlah mereka itu daripadamu, baik darah dan harta mereka, melainkan dengan haknya, sedang hisab mereka itu ialah tergantung pada Allah." (Riwayat Muslim)

Fatasaawartu, dengan sin muhmalah (yakni sin tak bertitik dan bukan syin yang bertitik tiga di atas), ertinya: "Saya melompat ke muka untuk menampakkan diri."

Keterangan:

Maksud dari Hadis di atas itu ialah bahawa yang diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. kepada Sayidina Ali r.a. dan seluruh pasukannya ialah memerangi manusia-manusia musyrik yakni yang menyembah selain Allah atau yang tidak mempercayai adanya Allah serta keesaanNya dan tidak pula mempercayai ihwal diutusnya Nabi Muhammad s.a.w. Tetapi apabila mereka suka mengikuti usul agama Islam yang benar, sama sekali dihentikan diganggu, baik keselamatan jiwa atau pun harta mereka.

Namun demikian, manakala hak atau ketentuan agama Islam menghendaki, boleh saja seseorang itu dibunuh, menyerupai orang yang sengaja membunuh orang lain. Kaprikornus sekalipun sudah masuk Islam wajib pula dibunuh sebagai qishash atau jawaban pembunuhannya. Demikian pula menyerupai dipotong tangan kerana mencuri yang sudah mencapai batas untuk bolehnya dipotong atau pun diberi eksekusi pukul (didera) serta direjam, berdasarkan ketentuannya sendiri-sendiri, bila melaksanakan perzinaan dan lain-lain lagi. Inilah yang dimaksudkan dengan sabda Nabi s.a.w.

"Kecuali dengan haknya."

Mengenai hisab atau perhitungan amal perbuatan mereka ialah menjadi urusan Allah Ta'ala sendiri.

Perlu dimaklumi bahawa golongan Ahlulkitab yakni kaum yang beragama Kristen atau Yahudi, dihentikan secara eksklusif diperangi. Mereka diperbolehkan menentukan salah satu di antara dua hal yakni membayar pajak. Ini ialah pilihan yang pertama. Jika mereka suka melaksanakan itu, mereka pun wajib dilindungi keselamatan diri dan hartanya. Tetapi jikalau enggan, maka pilihan kedua boleh dilaksanakan, iaitu boleh diperangi.


Disarikan dari Kitab Riyadhus Shalihin.

Tuesday, 4 February 2020

Keutamaan Shalat Tarawih Dan Rahasianya

Assalamualaikum Warahmatullahhiwabarakatuhu...
Sahabat 1001-kisah Islami... Solat Tarawih ialah solat yang dikerjakan pada malam-malam dalam bulan Ramadhan al-Mubarak dan waktu mengerjakannya ialah selepas solat Isyak dan sebelum solat Witir. Solat Tarawih ialah salah satu daripada ibadah-ibadah dalam bulan Ramadhan yang penuh berkat dan paling besar karenanya dihati kaum Muslimin. Ia juga memiliki darjat dan keutamaan yang dirahsiakan oleh Allah s.w.t.
                        Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Sesiapa beribadat pada malam-malam bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan akan pahala deripada Allah (s.w.t.), nescaya dosa-dosanya yang telah kemudian akan diampuni oleh Allah (s.w.t.)."    (Riwayat al-Bukhari)
1. Barang Siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam pertama (1 Ramadhan), Allah SWT akan mengampuni dosanya menyerupai bayi gres dilahirkan ibunya.
2. Barang siapa yang melakukan sholat Tarawih pada malam ke 2, Allah SWT Akan mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
3. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 3, Malaikat akan memanggil dari bawah Arsy dan Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya terdahulu.
4. Barang siapa yang melakukan sholat Tarawih pada malam ke 4 , maka pahalanya menyerupai pahala orang yang membaca kitab Taurat, kitab Jabur, kitab Injil, dan Kitab suci Alqur'an.
5. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 5, Allah SWT akan menunjukkan pahala menyerupai orang yang sholat di Masjidil Haram dan Masjidil Aqso.
6. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 6 , Allah SWT akan menunjukkan pahala menyerupai orang yang Thowaf di Baitul Ma'murdan.
7. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 7, Allah SWT akan menunjukkan pemberian menyerupai pemberian Allah SWT kepada Nabi Musa AS dari Fir'aun dan Hamman.
8. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 8, Allah SWT akan menunjukkan pahala menyerupai pahala yang telah Allah SWT berikan kepada nabi Ibrahim AS.
9. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 9, Allah SWT akan menunjukkan pahala menyerupai pahala ibadahnya Nabi Muhammad SAW.
10. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 10, Allah SWT akan menunjukkan rizki kebaikan dunia akhirat.
11. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 11, maka saat ia keluar dari dunia menyerupai gres dilahirkan dari perut ibunya.
12. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 12, maka ia tiba pada hari selesai zaman dengan wajahnya menyerupai bulan purnama.
13. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 13, maka ia akan tiba pada hari selesai zaman diselamatkan dari setiap kejelekan.
14. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 14, malaikat akan tiba dan mereka bersaksi bahwa ia shalat Tarawih. Maka Allah SWT tidak akan menghisabnya pada hari kiamat.
15. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 15, malaikat Rahmat, Arsy, dan Kursy akan membaca shalawat kepadanya.
16. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 16, Allah SWT akan menulisnya bebas dari neraka dan masuk ke dalam surga.
17. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 17. Allah SWT akan menunjukkan pahala kepadanya menyerupai pahala para nabi.
18. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 18, Malaikat akan memanggilnya:"Wahai Hamba Allah SWT, bergotong-royong Allah SWT Ridho pada engkau.
19. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 19, Allah SWT akan mengangkat derajatnya dalam nirwana firdaus.
20. Barang siapa yang melakukan shalat tarawih pada malam ke 20, Allah SWT akan menunjukkan pahala kepadanya menyerupai pahala para sahabat.
21. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 21, Allah SWT akan membangun Rumah untuknya disurga yang terbuat dari cahaya.
22. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 22, ia akan tiba pada hari   kiamat dan diselamatkan dari berbagaikesusahan..
23. Barang siapa yang melakukan shalatTarawih pada malam ke 23, Allah SWT akan membangun sebuah kota disurga untuknya.
24. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 24, Allah SWT akan mengabulkan dari 24 Doanya.
25. Barang siapa yang melakukan shalatTarawih pada malam ke 25, Allah SWT akan mengangkat baginya dari siksa kubur.
26. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 26, Allah SWT akan mengangkat pahalanya selama 40 tahun.
27. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 27, ia akan berjalan dijembatan Shirathul Mustaqim bagai kilat yang menyambar.
28. Barang siapa yang melakukan shalat Tarawih pada malam ke 28, Allah SWT akan
mengangkatnya 1000 (Seribu) derajat didalam surga.
29. Barang siapa yang melakukan shalatTarawih pada malam ke 29, Allah SWT akan mengabulkan 1000 (Seribu) Hajatnya.
30. Barang siapa yang melakukan shalat
Tarawih pada malam ke 30, Allah SWT berfirman,"Wahai Hambaku, makanlah dari buah-buahan nirwana dan mandilah di sungai Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar" kemudian Allah SWT berfirman:"Aku tuhanmu dan engkau hamba-Ku.

Semoga bermanfa'at. Aamiin

Amalan Dibulan Ramadhan

Assalamualaikum Warahmatullahhiwabarakatuhu...
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ أمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة: 183)
Di Bulan Ramadhan, selain melaksanakan ibadah yang wajib menyerupai berpuasa dan sholat, ada beberapa amalan ibadah sunat lainnya yang sanggup kita praktekan di keseharian kita. Dengan mendampingkan ibadah wajib dengan ibadah sunnah, pada selesai bulan Ramadhan kita sanggup mencicipi hari kemenangan (Idul Fitri) dengan penuh sukacita. Ingin tahu apa saja amalan ibadah penyempurna Ibadah puasa ini? Mari kita simak bersama.
1. Membaca Al-Qur’an
Seperti yang sudah sering diungkapkan bahwa ibadah pada bulan mulia pahalanya dilipatgandakan, begitu juga dengan membaca Al-Quran. Diriwayatkan, membaca Al-Quran pada bulan Ramadhan mempunyai keutamaan bahwa tiap karakter yang kita baca akan mendapat pahala sebanyak 27 kali. Tidak hanya membaca saja, sekedar mendengar bacaan Al-Qur’an saja bagi umat muslim yaitu pahal, maka perbanyaklah mendekatkan diri pada kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan bacaan Al-Qur’an selama bulan suci Ramadhan.
Bahkan tidak hanya mendengar atau membaca, jikalau kita masih terbata-bata (belum lancar) dalam membaca Al-qur’an pun, kita akan mendapat pahala, diluar maupun didalam bulan Ramadhan.
2. Sedekah
Penyempurna ibadah puasa Ramadhan lainnya ialah bersedekah. Diriwayatkan dalam hadist shahih:
Rasullah ditanya: “sedekah manakah yang paling utama? dia menjawab: Sedekah di Bulan Ramadhan.” (H.R. Turmudzi).
Maka dari itu daripada sering-sering bermegah dengan harta yang kita miliki, lebih baik harta yang kita miliki kita sisihkan sebagian untuk para fakir miskin  yang membutuhkan. Apalagi bulan Ramadhan juga bulan dimana amal baik dilipatgandakan pahalanya disisi Allah SWT.
3. Shalat Tarawih
Amalan ibadah yang satu ini termasuk sunnah muakad artinya tidak wajib, namun sayang sekali pada kesempatan bulan Ramadhan dimana pahala dilipatgandakan ini kita tidak melaksanakan amalan sunnah. Maka daripada sesudah berbuka dan magrib kita hanya sekedar terdiam atau tidur, lebih baik melaksanakan shslat tarawih.
Kita sanggup mengajak keluarga atau bahkan sesekali kawan-kawan untuk shalat tarawih bersama sebagai bentuk silaturahmi yang berpahala juga. Maka belum afdol rasanya jikalau melaksanakan puasa Ramadhan tanpa melaksanakan shalat tarawih.
Shalat tarawih ini juga dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad saw:
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan puasa Ramadhan dan saya telah mensunatkan qiyamnya (shalat di malam harinya). sebab itu, barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dan shalat dimalah harinya sebab keyakinan dan mengharap pahala serta ridha Allah, maka keluarlah dosanya sebagaimana pada hari dia dilahirkan oleh ibunya” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).
4. Shalat Witir
Shalat witir umumnya dilaksanakan sekaligus sesudah tawarih dilakukan. Seperti tarawih, sholat witir juga hukumnya sunnah muakad dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw untuk dilakukan tiap malam.
Ali r.a. berkata, bahwasannya Nabi saw. pernah bersabda: “barang siapa tidak mengerjalan (shalat) witir, maka bukan dari golonganku.” (H.R. Ahmad).
Begitu pentingnya shalat witir ini terungkap menyerupai hadist diatas. Makara jikalau kita melaksanakan shalat tarawih, semoga lebih tepat lagi dirikanlah pula shalat witir setelahnya, Insha Allah ibadah-ibadah ini merupakan jalan menuju kesempurnaan puasa Ramadhan.
5. Itikaf
Ibadah lainnya yaitu yaitu Beritikaf (berdiam sejenak di masjid dengan niat itikaf). ibadah ini disunahkan dilakukan pada setiap waktu, terutama pada sepuluh hari terakhir sebab pada 10 terakhir Ramadhan dan malam-malam ganjil terdapat malam “lailatul Qadr.”

Semoga bermanfa'at.... Aamiin

Monday, 3 February 2020

Teladan Dari Kondisi Negara Islam Dibawah Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw


Oleh : Muhammad Yusron Mufid

“Apakah insan itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sebenarnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sebenarnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sebenarnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Q.S. Al Ankabut : 2-3)

Sebagai muslim, tentu tidak ada yang patut kita teladani selain peri kehidupan nabi Muhammad S.A.W. dalam segala aspek kehidupan. Tidak hanya dalam hal ritual tetapi dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Seorang ilmuwan barat berjulukan Michael Hart menempatkan pribadi nabi Muhammad sebagai orang nomor 1 dari daftar 100 orang paling kuat di dunia menyampaikan salah satu alasannya meskipun umat Islam bukanlah pemeluk agama terbanyak di dunia namun pribadi Muhammad bukan hanya sosok pemimpin spiritual, tetapi yakni seorang pemimpin politik dan seorang Negarawan. Meskipun sosoknya telah tiada, akan ada umat Islam yang meneruskan misi perjuangannya sampai hari tamat zaman tiba.

Menjadikan nabi Muhammad sebagai teladan berarti menyebabkan dia sebagai contoh dalam membangun cara hidup Islam. Jika kita mengamati pelaksanaan Islam dimasa Rasulullah maka kita akan tahu bahwa Islam yang Rasulullah ajarkan bukanlah Islam yang hanya terpusat kepada ibadah ritual saja melainkan yakni sistem aturan efektif yang berlaku di masyarakat. Bangunan Islam awal yang Rasulullah bangkit di Madinah ditegakkan dengan pilar adanya masyarakat Islam yaitu warga Madinah, Pemerintahan yang dipimpin pribadi oleh Rasulullah, dan wilayah kekuasaan meskipun di periode awal dalam lingkup yang kecil yaitu wilayah madinah dan sekitarnya. Dengan demikian, pemberlakuan Islam di masa Rasulullah telah memenuhi unsur berdirinya sebuah Negara dengan adanya rakyat, pemerintahan dan wilayah kekuasaan. Sebuah Negara Islam dibawah kepemimpinan pribadi Rasulullah Muhammad S.A.W.

Membayangkan Negara Islam di masa nabi pada awal berdirinya bukanlah Negara Islam (Kekhilafahan) pada masa Harun Ar Rasyid yang konon kehidupan pada waktu itu makmur dan kekayaan melimpah. Namun ternyata identik dengan usaha dan ketabahan. Ini menjadi pelajaran bagi kita supaya orientasi yang dibangun untuk menegakkan Kekhilafahan Islam bukanlah untuk kemakmuran materi dan kemapanan ekonomi belaka tetapi orientasi utama yakni sebagai sarana untuk melaksanakan tauhid, kewajiban menyembah Allah, merealisasikan hukum-hukum dan syariatNya serta mengemban dakwah Islam seantero muka bumi. Disini saya akan bercerita sedikit bahwa para sahabat rela meninggalkan tanah air dan tumpah darahnya ke negeri yang menyerupai “Neraka” bukan sebab sumber daya alam melimpah di negeri tersebut, motif ekonomi dan perut belaka akan tetapi demi ketulusan kepercayaan mereka, demi pembuktian cinta kepada Allah dan RasulNya. Mari kita simak.

Dari sisi kesehatan, negeri madinah pernah Allah berikan cobaan kepada penduduknya dengan wabah demam. Demam yang amat menyiksa para penduduknya terutama oleh kaum muhajirin yang memang tak terbiasa dengan cuaca di negeri lain. Seperti yang digambarkan oleh sahabat Am’r bin Ash ia berkata, “Ketika tiba di Madinah banyak dari kami yang meninggal dunia sebab demam yang tinggi. Sampai saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar para sahabat sedang shalat sunnah sambil duduk, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat sambil duduk pahalanya separuh shalat sambil berdiri.”

Selain itu, Sahabat yang mulia Bilal pernah mendoakan laknat kepada para pembesar Negeri Mekkah yang telah mengusir mereka ke Negeri yang dilanda wabah penyakit yaitu negeri Madinah. Seperti yang dikisahkan Aisyah dalam Shahih Bukhari “Ya Allah laknatlah Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi‟ah dan Umayyah bin Khalaf sebagaimana mereka mengusir kami dari negeri kami ke negeri yang penuh wabah penyakit.”

Bahkan dari sebuah riwayat dari HR Bukhari disebutkan bahwa ada beberapa orang Islam yang kembali murtad sebab tidak tahan terhadap wabah penyakit yang sedang melanda negeri Islam tersebut. Berkat Kejadian ini, Rasulullah bersabda bahwa hal ini yakni watak negeri Islam madinah yang dengannya akan menjadi proses seleksi siapa hamba-hambaNya yang nrimo menyayangi Allah dan RasulNya.
“Saya diperintahkan hijrah ke sebuah tempat yang mempunyai banyak keutamaan dibanding daerah- tempat yang lain. Orang-orang menamakan tempat itu dengan nama Yatsrib. Itulah yang kini berjulukan Madinah. Ia menyeleksi insan sebagaimana al-kiir menghilangkan penggalan dari besi yang buruk.” (HR Bukhari).

Tak hanya dari sisi kesehatan, pun halnya dari sisi ekonomi. Dalam Shahih Muslim, ada riwayat dari Abu Sa‟id maula Al-Mahri, bahwa ia mendatangi Abu Sa‟id Al-Khudhriy pada malam yang panas. Ia meminta saran kepada Abu Sa‟id Al-Khudhriy akan meninggalkan Madinah dan mengeluhkan harga barang-barang yang mahal, keluarganya yang banyak dan memberi tahunya bahwa ia tidak sabar lagi menanggung kesulitan dan ujian Madinah. Maka Abu Sa‟id Al- Khudhriy menjawab, “Celaka kamu, saya tidak menyuruhmu melakukannya. Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seseorang bersabar menahan rasa lapar di Madinah kemudian meninggal dunia melainkan saya akan menjadi penolong (syafii‟) atau saksi (syahiid) baginya kelak pada hari kiamat, kalau ia seorang muslim.”

Bahkan diriwayatkan Dalam Shahih Bukhari pada suatu saat bahwa para tamu mulia di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana seluruh sahabat melihat mereka jatuh tersungkur sebab sakit saking laparnya, tidak punya apa-apa. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Orang yang paling baik terhadap orang-orang miskin yakni Ja‟far bin Abu Thalib. Ia sering mengunjungi kami dan menawarkan makanan kepada kami apa saja yang ada di dalam rumahnya. Sampai ia pernah menawarkan ukkah (bejana kecil terbuat dari kulit biasanya untuk wadah mentega) yang sudah tidak ada apa- apanya, kemudian kami menyobekinya kemudian kami menjilati apa yang tersisa”

Perlu para pembaca ketahui bahwa Ja’far bin Abi Thalib yang diriwayatkan pada dongeng diatas gres tiba ke Negeri Islam Madinah yakni sehabis penaklukkan benteng Khaibar yaitu 7 tahun sehabis berdirinya negeri Islam Madinah. Artinya dalam waktu 7 tahun kelaparan masih melanda negeri kaum muslimin.

Bahkan pemimpin Negaranya sendiri, insan mulia Rasulullah S.A.W tak luput dari deraan rasa lapar yang luar biasa menyerupai yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim ‘dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Pada sauatu hari saya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya mendapati dia sedang duduk berbincang-bincang dengan para sahabatnya. Dan dia mengikat perutnya dengan sebuah perban. Usamah berkata, “-Saya ragu-ragu- dengan sebuah batu.” Saya bertanya kepada beberapa sahabat, “Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikat perutnya?” Mereka menjawab, “Karena lapar.”

Dari sisi keamanan pun Negara Islam dimasa Rasulullah ada dalam kondisi terhimpit dari segala penjuru oleh kepungan musuh-musuhNya, menyerupai yang diucapkan oleh pemimpin kaum Anshar kepada pengikutnya saat mereka mempertimbangkan akan melindungi Rasulullah bahwa mereka akan menjadi musuh bersama segenap bangsa Arab. Penuh resiko militer dari penyerbuan mereka. Hingga kesudahannya mereka paham dan tetap dengan Ikhlas mebaiat Rasulullah. Pun saat Rasulullah dan para sahabatnya sudah di Madinah tetap dihantui rasa kecemasan terhadap keamanan sampai Rasulullah selalu membawa senjata di pinggangnya dan para sahabat menjaga Rasulullah di waktu malam.

Demikianlah citra singkat Kondisi Daulah Nabawiyah di masa awalnya yang amat memprihatinkan, saya tidak bisa membayangkan akan berapa kali Rakyat Madinah melaksanakan demonstrasi kepada Rasulullah sebab urusan perut dan uang kalau pola pikir mereka menyerupai rakyat sekarang. Ini juga menjadi pelajaran bagi Gerakan Islam yang mempunyai harapan mulia yaitu tegaknya Kekhilafahan Islam bahwa para sahabat bisa begitu sabar dan sabar menghadapi kondisi yang demikian sebab keberhasilan proses penanaman pemahaman (Tarbiyah) dari Rasulullah yang berorientasi kepada tauhid dan kepercayaan Islam. Bukan sebab iming-iming ekonomi, penguasaan SDA, BBM Murah, pendidikan terjangkau, bebas pajak, serta kemakmuran materi lainnya. Melainkan pendidikan yang ditanamkan Rasulullah kepada para sahabat yakni perihal tujuan hidup bahwa mereka diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah saja tanpa menyekutukanNya, tunduk kepada hukum-hukum dan syariatNya, mereka hidup untuk menjalani ujian, akan adanya hidup sehabis mati serta keyakinan terhadap komitmen Allah akan menjayakanNya dimuka bumi kalau bersabar dalam menjalani ujian dan kesulitan. Pemahaman itulah yang menciptakan para sahabat begitu tegar menghadapi segala bentuk petaka dan ujian.

Ini juga sebagai kritik kepada mereka yang menyatakan bahwa negara Islam layak berdiri saat sudah benar-benar bisa melayani kebutuhan masyarakat baik pangan, sandang dan papan. Lalu bagaimana keadaan Negara Islam zaman Rasulullah yg amat memprihatinkan tsb ? Tidak lain bahwa Negara Islam layak berdiri sebab kesadaran dan komitmen umatnya untuk menegakkan aturan Allah, menegakkan tauhid dan mencegah kemungkaran dan sekali lagi bukan sebab motif perut dan uang.

Melihat pengorbanan para Sahabat, kita tentu patut malu sebab banyak mengeluh saat tiba kesulitan dalam ketaatan. Padahal kesulitan yang kita alami belumlah menyerupai Rasulullah dan para sahabat yang mulia. Wallahua’lam

“Apakah kau mengira bahwa kau akan masuk surga, padahal belum konkret bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum konkret orang-orang yang sabar”. (QS. 3:142)



“Apakah kau mengira bahwa kau akan masuk surga, padahal belum tiba kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan majemuk cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya santunan Allah“. Ingatlah, sebenarnya santunan Allah itu amat dekat”. (QS 2:214)

Artikel : eramuslim.com

*Disarikan dari teks materi ceramah Abu Hamzah Al Muhajir dengan judul Daulah Nabawiyah

Dimanakah Ummat Islam?

 Segala kekuatan makar dan unsur jahat di Indonesia, kini secara intensif sedang mengokohkan eksistensinya. Pada 22/4/2016 lalu, kekuatan zionis menggelar perayaan paskah, yaitu perayaan keluarnya bani Israel dari Mesir ketika dikejar Fir’aun, di Hotel PullmanJakarta. Hadir dalam perayaan tersebut wakil Menlu AS Antony Blinken, Ketum Ikatan Muballigh Seluruh Indonesia, Yayan Hendrayana, Zawawi Suat, dan Ketum GPII Karman. Selain zionis, kekuatan makar komunis gencar propagandakan bangkitnya PKI melalui kaos bergambar palu arit dengan slogan, PKI dipalu makin maju, PKI diarit makin bangkit’. Dan yang mengkhawatirkan, kerja sama PDIP dan NU pimpinan Said Aqil Siradj untuk mengganti Pancasila dengan “Kembali ke Pancasila 1 Juni 1945”. Sementara kekuatan jahat Kristen, dengan banyak sekali manuver Ahok dan Hari Tanoe mengelabui umat Islam untuk meraih ambisi kepemimpinan Indonesia. Tokoh ormas Islam yang tertipu, Syafii Maarif dan Said Aqil Siradj mendukung mereka dengan pernyataan kekafiran: “puluhan juta malaikat yang diutus Yesus akan melindungi Ahok,” kata Syafii. Senada dengan itu, Said Aqil bilang, “lebih baik pemimpin kafir yang jujur daripada muslim koruptor.”
Kini bangsa Indonesia sedang mencicipi akhir jelek dari penyimpangan terhadap agama Allah. Berbagai kerusakan menimpa rakyat negeri ini. Kyainya rusak, pejabat negara tidak bermoral, wanita jadi korban zina, cowok dan anak digrogoti narkoba, sedang penguasanya zalim menggadaikan kedaulatan negara pada asing, Komunis China.
Dimanakah umat Islam? Sudah menjadi tabiat semua umat beragama yang menyimpang dari agama Allah, niscaya akan dikalahkan oleh kekuatan jahat. Hari ini umat Islam sedang merana, galau, menderita lahir batin menyaksikan sepak terjang orang-orang kafir. Sebagai kekuatan penjaga agama Allah dan kedaulatan NKRI, umat Islam merasa tidak berdaya, tersingkir dari kekuasaan negara dan dikroyok orang-orang kafir.
Dalam kondisi lemah tak berdaya, bagaimana memenangkan agama Allah berdasarkan sunnatullah, bukan berdasarkan angan-angan dan hawa nafsu kita, dan bukan pula berdasarkan hukum dan UU parpol yang terus menerus mengkhianati aspirasi rakyat? Bagaimana pula melahirkan generasi muda dengan predikat ‘fityatun amanu birabbihim wazidnahum huda (pemuda-pemuda beriman yang diberi petunjuk oleh Allah, surat Alkahfi, 13), yang dapat menginspirasi kekuatan umat Islam untuk bangun menyuarakan kebenaran dan meraih kekuasaan negara sesuai syariat Islam?
Proses kemengan itu tidak mudah. Harus ada figur orang-orang shalih, yang terpuji dan teruji pengalan dan ilmunya, yang siap berkorban memperjuangkan agama Allah.
“Sungguh segala yang ada di muka bumi ini Kami jadikan hiasan bagi bumi. Dengan kesenangan dunia ini Kami menguji manusia, siapa di antara mereka yang paling taat kepada Allah. (QS Al-Kahfi (18) : 7).
Renungkan ayat ini dan perhatikan kondisi negara-negara berbasis lebih banyak didominasi muslim di seluruh dunia. Apakah dengan segala kekayaan dunia yang dianugerahkan Allah, berupa tanah yang luas dan subur makmur, keadaan pemerintahannya lebih baik dari negeri kafir? Ternyata penguasanya bukan mengajak rakyatnya bertakwa pada Allah, malah mengadopsi sistem kuffar, sehingga tidak dapat menjadi rujukan yang baik, maju, sebaliknya menjadi ejekan sebagai negeri terbelakang, intoleran, zalim, tidak aspiratif dllnya. Sementara rakyatnya digiring keprilaku hewan, tidak bermoral, membenci agama, sehingga banyak sekali azab Allah tiba menerpa.
Bukan itu saja, perilaku para penguasa pada rakyat muslim mencontoh kejahatan penguasa kafir. Umat Islam yang berjihad melawan orang kafir malah diposisikan sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Diseru biar menegakkan syariat Islam dituduh radikal. Para ulama, kyai, dan tokoh ormas, ramai-ramai menjadi orang munafik. Di Jawa Timur muncul gerakan anti khilafah, menurunkan spanduk berbendera Lailaha illallah, sementara mereka bungkam menyaksikan kesesatan Syiah dan kejahatan komunis yang kini muncul dengan slogan ‘anak zaman melahirkan zaman baru’ melalui seminar, simposium, pemutaran film PKI dll.
Di Indonesia, penderitaan paling dahsyat yang dirasakan umat Islam sehabis penjajahan kolonial yaitu munculnya orang-orang kafir bermental komunis menjadi gubernur, bupati, walikota, memimpin lebih banyak didominasi umat Islam.
Oleh alasannya yaitu itu, memunculkan model pemimpin yang taat beragama, jujur, punya kapasitas negarawan, pemberani, di tengah-tengah kebobrokan umat Islam dan kecongkakan orang kafir, sangat penting dan prinsipil. Seorang pemimpin dengan huruf “basthatan fil ilmi wal jismi (luas ilmunya, salih, dan berpengaruh mental serta fisiknya)”.
Pemimpin menyerupai dijanjikan: “Tatkala Ibrahim diuji oleh Tuhannya untuk melakukan beberapa perintah, maka ia melakukan semua perintah itu. Allah berfirman: “Wahai Ibrahim, sungguh Aku niscaya mengakibatkan engkau sebagai rasul Allah bagi kaummu.” Ibrahim berkata: “Apakah juga ada di antara keturunanku yang dijadikan rasul Allah?” Allah berfirman: “Wahai Ibrahim, keturunanmu yang berbuat syirik tidak akan memperoleh janji-Ku untuk menjadi rasul-Ku bagi umat manusia.” (QS Al-Baqarah (2) : 124)
Jika pemimpin yang muncul tidak mempunyai ketaatan pada Allah, hingga selesai zaman kita tidak akan ditolong oleh Allah. Apalagi kini muncul tokoh-tokoh munafik yang justru menyodorkan kepemimpinan dipegang orang kafir, Allah bertambah murka. Jika ingin memperbaiki Indonesia dengan meminta tolong pada orang kafir, baik kafir China, Rusia, atau Amerika, maka sama saja dengan mengundang azab dan malapetaka.
Kepemimpinan Islam boleh jadi akan muncul dari sosok ulul albab yang berasal dari pesantren, perguruan tinggi tinggi, atau bahkan cendekiawan lulusan Harvard atau Timur Tengah. Selama mereka berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallalahu alaihi wa sallam. Sebab pangkal kelemahan dan kehancuran umat Islam alasannya yaitu meninggalkan dua warisan ini: Qur’an dan Sunnah. Maka adanya upaya para intelektual muslim untuk bekerja keras melahirkan pemimpin muslim yang berpegang teguh pada adat dan syariat Islam haruslah didukung sepenuhnya oleh umat Islam, bukan dijegal dengan alasan politik atau kepentingan pragmatis oportunistik.
Serial kajian malam Jum’at, 28/4/2016, di Masjid Raya Ar Rasul, Jogjakarta.
Narsum: Amir Majelis Mujahidin Al Ustadz Muhammad Thalib.
Notulen: Irfan S Awwas
(*/arrahmah.com)
Judul mengalami perubahan
Judul Asli : Pemimpin yang terpuji dan teruji