Sunday, 15 March 2020

Merumuskan Abad Depan


doenload Salah satu kalimat yang mesti selalu kita renungi ialah “masa depan”. Masa depan merupakan sebuah masa di mana kita akan hidup di zaman tersebut. Sebuah masa yang kondisi dan situasinya tentu sudah sangat jauh berbeda dengan hari ini. Karena perubahan itu kodrat dalam kehidupan. Setiap yang baharu “hidup” niscaya akan berubah-ubah.

Bertalian dengan sifatnya kehidupan yang demikian. Sejatinya kita mempersiapkan diri dalam segala hal yang kita butuhkan untuk mengarungi hidup di masa dimaksud. Merumuskan tujuan, mengatur sasaran hidup, itu merupakan bahagian dari persiapan yang harus kita desain.

Dalam mengarungi hidup ini kita dianjurkan untuk punya visi dan misi. Kehidupan seseorang yang tidak mempunyai visi dan misi mirip kapas yang ada di dalam satu kamar. Pada dikala angin meniup ke atas maka ia akan mengikuti arah angin ke atas pula. Di sisi lain, kapas tersebut memikirkan bahwa dia akan berada pada tingkat paling tinggi. Namun pada dikala angin meniup ke  arah yang lain kapas tersebut akan mengikuti arah yang lain pula. Tidak mempunyai tujuan.

Bagitulah perumpamaan seseorang yang tidak mempunyai visi dan misi dalam hidup. Sebagai pelajar misalnya, mempunyai visi dan misi ialah hal paling asasi. Apa tujuan dan sasaran yang menjadi prioritas kita di dikala final berguru nanti. Sekurang-kurangnya mempunyai cita-cita. Karena dengan ada impian akan menciptakan berguru lebih terarah.

Dalam menentukan cita-cita, dianjurkan untuk menentukan tingkat yang paling tinggi. Bercita-cita menjadi tokoh agama misalnya, maka dianjurkan untuk bercita-cita jabatan paling tinggi, mirip Mufti dan lain sebagainya. Jangan sekali-kali bercita-cita untuk menjadi tokoh paling rendah, mirip Imum Meunasah.

Bumbu yang harus kita sediakan untuk menjadi imum meunasah tentu lebih murah dibanding jadi mufti. Artinya ilmu dan semangat berguru yang harus kita miliki menjadi imum meunasah tentu lebih lemah ketimbang jadi mufti. Mengapa harus mencita-citakan jadi mufti? Karena di dikala sasaran kita jadi mufti tidak tercapai, jabatan sebagai Imum Meunasah justru sudah dapat kita kuasai dengan semangat berguru jadi mufti tadi.

Namun kadang kala ada hal yang patut disayangkan dan disesalkan tatkala menjumpai seseorang kemudian kita bertanya: "Apa visi dan misi dalam hidup mu? Lalu ia menjawab: "Ngalir aja ikut arus kehidupan." Kata “ngalir aja” itu merupakan salah satu sifat dari kapas tadi yang tidak punya visi dan misi hidup. Sejatinya orang semacam itu akan mengikuti arus hidup, dan arus hidup selalu terombang-ambing, tidak tetap pada satu situasi.

Oleh alasannya ialah itu, mengatur seni administrasi perang sebelum berperang itu lebih penting. Karena taktik peperanganlah yang menciptakan satria jadi menang. Begitu pula mengatur seni administrasi berguru itu lebih penting. Namun, jangan hanya kita asyik mengatur waktu saja tanpa belajar. Hal mirip ini juga tak menuaikan hasilnya. Pastinya, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin maka sungguh dia sudah merugi.

Menjadi orang sukses ialah idola semua insan. Lima kata ini sangat gampang kita ucapkan, tetapi begitu susah untuk dilakukan. Dalam menggapai kesuksesan sudah menjadi kebutuhan primier berada dalam kesusahan, kepahitan dan serba kekurangan. Hal ini senada dengan apa yang sudah didokumnetasi oleh pujangga Islam, "adalah kesuksesan itu setelah lelah berjuang."

Rasulullah SAW sebelum menaklukkan kerjaan Romawi dan Persia yang merupakan dua kerajaan terbesar dikala itu ia sudah merumuskan cita-citanya terlebih dahulu. Meskipun dikala itu jumlah umat Islam sangat sedikit. Beliau sudah menargetkan untuk menaklukkan kaisar Romawi dan Persia. Akhirnya impian ia terwujud. Hal ini juga terindikasi dengan adanya kemauan dan impian yang tinggi.

Menjadi orang sukses itu jangan hanya sukses buat diri sendiri. Tetapi jadilah kesuksesan kita dapat dirasakan oleh orang lain. Jangan sekali-kali memandang makna sukses itu mempunyai rumah mewah, harta berlimpah dan punya istri yang cantik. Karena kesuksesan mirip ini cenderung menciptakan kita rakus dan serakah. Tapi jadilah kesuksesan alasannya ialah Allah SWT. Dalam arti, sukses kita sudah menciptakan orang bau tanah kita gembira alasannya ialah Allah, menciptakan masyarakat terarah dengan ilmu yang kita miliki, dan kita dapat mendidik bawah umur kita nanti menuju jalan yang diridhai Allah. (Hamid)


Peran Perempuan Aceh Melawan Kolonialisme Dan Imperialisme



"Udep saree matee syahid" itulah slogan yang pernah hidup dan terus terpatri dalam sanu bari rakyat Aceh. Aceh satu-satunya daerah yang menerima julukan 'Serambi Mekkah' dalam sejarah perlawanan terhadap aneka macam bentuk penjajahan.

Islam yang menggelora di dada rakyat Aceh tercermin dari perilaku patriotik yang mereka tampilkan. Perlawanan demi perlawanan dalam mengusir penjajah selalu mereka tampilkan guna mengusung sebuah misi suci yaitu "hudep mulia matee syahid." Sehingga dalam sejarah perjalanan mengusir penjajah, Aceh menjadi daerah dalam lingkugan besar Nusantara yang bisa memelihara identitasnya.

Di samping itu Aceh juga mempunyai sejarah kepribadian kolektifnya yang relatif jauh lebih tinggi, lebih kuat, serta paling sedikit ter-Belanda-kan di bandingkan daerah lain di Indonesia. dan itu lah sebabnya mengapa tokoh jagoan Belanda sekaliber Van Der Vier menyampaikan bahwa, "orang Aceh sanggup dibunuh, tapi tak sanggup ditaklukkan.

Sejarah besarnya pengabdian rakyat Aceh dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia dan membumi hanguskan penjajah bisa kita telusuri dalam buku-buku sejarah, baik yang ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Belanda, maupun bahasa Perancis. Sejarah mencatat peperangan melawan kolonialisme dan imperialisme (1873-1942) telah memaksa orang Aceh untuk melaksanakan perlawanan sengit. Bahkan mendobrak semangat kaum perempuan Aceh untuk tampil ke garda terdepan dalam saf perang.

Semangat juang tersebut lahir dari sebuah iktikad bahwa semua itu perang fisabilillah. Berperang demi menjaga kehormatan bangsa dan agama serta menampik setiap anjuran kompromi dan hanya mengenal pilihan membunuh atau dibunuh ketika berhadapan dengan musuh. Inilah secarcik darah panglima perang sekaliber Khalid Bin Walid yang masih tersimpan dalam jiwa orang Aceh yang tiba ke medan jihad hanya untuk mencari mati.

Kerajaan Aceh

Sejarah kerajaan Aceh di mulai semenjak Islam menginjak kakinya di ujung barat Sumatera. Saat itu hanya dikenal dengan kerajaan-kerajaan Islam, menyerupai kerajaan Islam Peureulak (840 M/225H), kerajaan Islam Samudera Pasai (560 H/1166M), kerajaan Tamiang, kerajaan Pedir, dan kerajaan Meureuhoem Daya. Kemudian Sultan Alauddin Johansyah yang berdaulat pada tahun 601 H/ 1205 M berinisiatif untuk menyatukan kerajaan Aceh tersebut. Yang sehabis itu menjadi kerajaan Aceh Darussalam dengan ibu kota Kuta Radja atau Banda Aceh hari ini.

Pada ketika ini lah Sultan Alauddin al-Kahhar mulai mempeluas wilayah kekuasaannya hingga ke negeri-negeri Melayu dan semenanjung Malaka. Sejarah menyebutkan pada masa ke-5 M kerajaan Aceh menjadi kerajaan Islam terbesar di Nusantara dan kerajaan Islam ke-5 terbesar di dunia. Kemudian proses peluasan wilayah ini dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam.

Perlu dicatat penaklukan yang dilakukan raja Aceh ketika itu bukan untuk menjajah suku bangsa lain, tapi untuk melindungi mereka dari penjajahan Portugis (A Hasjmy: 1997). Pada ketika itu kerajaan Aceh sudah menjalin dagang dan diplomatik dengan negara-negara tetangga, Timur Tengah, dan Eropa. Antara lain denga kerajaan Denmark, kerajaan Pattani, kerajaan Brunei Darussalam, kerajaan Turki Ustmani, Inggris, Belanda, dan Amerika.

Kerajaan Aceh Darussalam ketika itu juga telah mempunyai aturan tersendiri yang disebut dengan " Kanun Meukuta Alam" yang berlandaskan syariat Islam. Dalam kanun tersebut setiaa rakyat yang bernaung di bawah kerajaan Darussalam menerima keadilan hukum. Inilah sebabnya kerajaan Aceh semakin hari semakin luas wilayah kekuasaannya. Dan wilayah-wilayah yang ditakluk kerajaan Aceh merasa bahagia untuk bergabung dengan Aceh. Proses penaklukan menyerupai ini terus saja berkelanjutan hingga sebelum pihak kolonial menabur aneka macam fitnah terhadap kerajaan Aceh.

Ketika kerajaan-kerajaan Islam Nusantara telah ditaklukkan kolonial barat, kerajaan Aceh masih tetap berdaulat hingga masa ke-18 M. Pihak kolinialis baik yang tiba dari Portugis, Belanda, maupun Inggris bukan tidak berambisi untuk menaklukkan Aceh, tetapi mereka merasa gentar terhadap keunggulan AU (angkatan laut) Aceh yang ketika itu menguasai perairan selat Malaka dan lautan Hindia. Pada ketika itu AU Aceh mempunyai armada yang tangguh berkat pertolongan senjata dan kapal perang dari kejaan Turki Ustmani. Salah satu AU yang sangat populer yaitu Laksamana Malahayati.

Selain itu, dilihat dari barisan perang kerajaan Aceh di dominasi oleh prajurit-prajurit yang berani mati dan mempunyai semangat juang yang bergelora. Di antaranya yaitu Teungku Umar, Teungku Syiek di Tiro dari kalangan laki-laki, dan Tjuk Nyak Dhien, Malahayati, Tjut Meutia, dan Pocut Merah Intan yang merupakan formasi nama yang menjadi simbol usaha kaum perempuan di Aceh. Kaum perempuan yang mengikuti peperangan tersebut terdiri dari kaum muda, janda, bahkan orang renta pun terlibat dalam kancah peperangan.
Sebagai perempuan yang mangandung dan melahirkan tidak menjadi alasan bagi mereka untuk mangkir dalam medan perang. Terkadang mereka mengikuti peperangan gotong royong dengan suami mereka. Dengan tangan yang kecil mungil mereka lincah memainkan kelewang dan rencong yang sudah menciptakan lawan begitu takut. Bahkan ada dari perempuan Aceh yang mengendong anaknya sambil berperang. Semangat mereka terus saja terkobarkan dengan hikayat-hikayat jihat. Di antara bait-bait hikayat yang menjadi pembangkit semangat jihat mereka ketika itu antar lain:

"Allah haido kudaidang
Seulayang blang ka putoeh taloe
Beurayeuk sinyak rijang-rijang
Jak meuprang bela naggroe"

Maka tak heran bila kita pernah membaca karyanya H.C Zentgraaff (seorang penulis sejarah Aceh dan wartawan Belanda) menyampaikan bahwa para wanitalah yang merupakan "de leidster van het verzet" (pemimpin perlawanan). Bahkan dalam sejarah Aceh populer dengan istilah "Grandes Dames" (wanita-wanita agung) yang memegang peranan penting baik dalam politik maupun peperangan, baik dalam posisinya sebagai Sultaniah maupun sebagai istri-istri orang terkemuka.

Oleh lantaran itu tugas perempuan Aceh dalam melawan penjajah sangat lah besar. Setelah melahirkan pejuang mereka juga rela terjun ke medan juang. Maka alangkah disayangkan andaikata kepiawan sosok Tjuk Nyak Dhien dan Tjut Meutia tidak membekas pada diri wanita-wanita Aceh hari ini. Setidaknya bisa menjadi pelahir pejuang jika pun tak mau berjuang. Kalau tidak punya talenta dan semangat mengarui medan perang, maka berjuang lah lewat tulisan. Karena media merupakan ladang juang yang paling memilih menang dan kalahnya sebuah golongan hari ini. Semoga!

Oleh: Abdul Hamid M Djamil*
*staf redaksi web kmamesir.org

Saturday, 14 March 2020

Studi Perkembangan Hadis Dari Kurun Ke Masa



Hadis Nabi Saw. merupakan landasan aturan kedua bagi agama Islam sesudah Al-Quran al-Karim. Tak heran jikalau para ulama zaman dahulu rela menghabiskan hari-hari mereka demi meneliti, menekuni, dan menghafal hadis-hadis tersebut.

Bahkan, tak jarang dari mereka yang melaksanakan perjalanan jauh bahkan berbulan-bulan lamanya hanya untuk mendapat sebuah hadis. Studi wacana hadis nabi sendiri telah dimulai semenjak masa Rasulullah hingga dalam kitab-kitab para ulama terdahulu.

Penelitian perkembangan studi hadis tak mungkin terlepas dari sejarah perkembangan ilmu itu dari awal munculnya hingga masa sekarang. Para ulama juga telah membagi sejarah perkembangan ilmu ini ke dalam beberapa fase yang terangkum dalam serpihan sejarah kodifikasi sunnah.

1. Masa Rasulullah Saw. Hingga Akhir Abad Pertama Hijriyah

Pada fase ini, hadis Nabi Saw. belum dikumpulkan dalam bentuk buku. Tapi hanya berbentuk lembaran kertas (shahifah) yang berisi bab-bab tertentu yang ditulis secara perorangan oleh para shahabat. Jumlahnya pun sangat sedikit.

Akan tetapi, bukan berarti hadis-hadis yang hingga pada kita kini ini palsu dikarenakan sedikitnya sumber tulisan, tidak. Ini disebabkan faktor kebiasaan masyarakat Arab zaman dahulu yang populer Ummy, mereka lebih mengandalkan hafalan. Salah satu shahifah yang populer pada masa ini ialah shahifah Jabir bin Abdullah yang berisi wacana manasik haji.

2. Pembukuan Sunnah Secara Resmi dan Pengklasifikasiannya (Tadwin wa Tashnif)

Fase ini dimulai pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz hingga masa kini. Adapun orang yang pertama kali membukukannya ialah Muhammad bin Muslim bin Syihab al- Zuhri (124H) atas perintah Umar bin Abdul Aziz yang lalu banyak diikuti oleh para ulama setelahnya.

Kemudian, kurun ketiga hijriyah merupakan masa puncak dalam sejarah perkembangan pembukuan sunnah, para ulama mulai mencari metode gres dalam penulisan sunnah. Diantara mereka ada yang menyusunnya sesuai dengan perawi tertinggi ( musnad), menyerupai musnad Imam Ahmad, ada pula yang menyusunnya sesuai dengan jenis hadis ( sahih,hasan dan maudhu') menyerupai yang disusun oleh Imam Bukhari dalam Sahihnya.

3. Perkembangan Hadis Masa Modern.

Perkembangan hadis pada masa ini tak terlepas dari imbas dua madrasah hadis populer yaitu India dan Mesir yang keduanya merupakan promotor kebangkitan madrasah hadis kurun ke-14 hijriyah.

a. India dan Madrasah Hadis

Sebagian ulama telah mencapai kata setuju bahwa para ulama India mempunyai peranan penting dalam menghidupkan kembali madrasah hadis. Bahkan sebagian ulama besar hadis ketika ini masih saja merujuk kembali karya-karya ulama hadis bumi Hindustan, bahkan tak ada satu perpustakaan pun kecuali di dalamnya terdapat karya dari ulama negeri ini.

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dalam muqaddimahnya pada buku Miftah KunuzAl-Sunnahberkata: " jikalau bukan hasil pengorbanan saudara kita para ulama India terhadap ilmu hadis, maka akan sirnalah ilmu ini di banyak tempat di Timur…." Di antara para ulama India yang populer antara lain: Syaikh Abdurrahman Abu al-Aliy al-Mubarakfury karyanya yang populer yaitu Tuhfatul Ahwudzisyarah Sunan Turmuzi dan Syaikh Muhammad Syamsul Haq bin Amir Ali al-Adhim Abadi yang menulis kitab 'Aunul Ma'bud syarah Sunan Abi Daud.
b. Mesir dan Al-Azhar
Walaupun mesir pada awalnya tak semarak India dalam membangkitkan madrasah hadis, namun Mesir dengan Azharnya ikut juga mengambil Andil dalam pengembangan madrasah hadis zaman kini ini. Ditambah lagi akhir-akhir ini Mesir khususnya al-Azhar mulai menghidupkan kembali sunnah- sunnah mereka terdahulu. Terbukti dengan maraknya kajian hadis yang diadakan di sekitar mesjid legendaris ini, yang diajarkan pribadi oleh para pakar hadis mereka. Bahkan al-Azhar tak segan-segan mendatangkan ulama hadis terkemuka demi mejaga dan membuatkan madrasah hadis di seluruh dunia.
c. Perkembangan Studi Hadis di Indonesia
Sulit kiranya melacak perkembangan hadis di Indonesia dikarenakan sedikitnya tumpuan yang ada. Berbeda dengan cabang ilmu yang lain menyerupai tafsir, fikih, akidah, dan filsafat yang bukunya senantiasa memenuhi perpustakaan-perpustakaan yang ada di Indonesia.
Namun demikian bukan berarti Indonesia tidak mempunyai sejarah wacana ilmu ini. Sejarah perkembangan hadis di Indonesia sendiri sudah dimulai semenjak kurun ke-17masehi yang dipelopori oleh dua orang ulama Aceh populer yaitu Syaikh Nuruddin al-Raniry dengan karyanya Hidayatul Habibfi Targhib wa Tarhib yang menginterprestasikan hadis dengan ayat-ayat Al- Alquran untuk mendukung argumen yang ada dalam kitab tersebut.
Sedangkan yang kedua ialah Syaikh Abdurrauf al-Singkili yang berasal dari Singkil NAD. Adapun dua maha karyanya dalam bidang hadis adalahSyarah lathif 'ala Arba'in Hadisan lil Imam al-Nawawi dan yang kedua ialah Al-Mawa'idz Al-Badi'ah yang berisi kumpulan hadis-hadis qudsi.
Walaupun perkembangan studi hadis di Indonesia sudah dimulai semenjak kurun ketujuhbelas, namun studi ini belum terkenal. Hal ini disebabkan oleh kecerendungan masyarakat pada tasawuf ketika itu.
Studi ilmu hadis gres dikenal pada awal kurun ke-20 yang merupakan pembaharuan terhadap perkembangan studi ilmu ini. Pada masa ini ilmu-ilmu hadis mulai diajarkan di surau-surau, pesantren-pesantren, mesjid, bahkan di sekolah-sekolah. Hingga pada tahun 70-an dibukalahpost graduate di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia yang merupakan cikal bakal perkembangan studi hadis di Indonesia.

Oleh: Khairul Rafiqi
Mahasiswa Tkt. IV, Fak. Ushuluddin, Jur. Hadis, Univ. al-Azhar, Kairo.
Tulisan ini  pernah dipublish pada Buletin Pendidikan KMA, Edisi ke- XXIII, Rabi’ul Akhir 1433H/ Maret 2012.

Generasi Minus Moral


Agama Islam sangat menjunjung tinggi adat bagi umatnya, baik itu adat sesama insan maupun adat insan dengan makhluk hidup lainnya. Rasulullah Saw. Adalah sosok tepat dalam membimbing adat umat Islam, segala aspek kehidupan yang Rasulullah Saw. Jalankan yaitu pelajaran yang istimewa untuk mengokohkan tiang dasar untuk moral generasi Islam.

Rasullah Saw. Dikenal dengan sosok yang begitu fenomenal dan istimewa, bahkan keistimewaan dia diakui oleh mitra dan lawan. Tutur  bahasa yang fasih dan di megerti oleh setiap kabilah-kabilah arab menciptakan dia sangat gampang berintraksi dalam masyarakat untuk memberikan risalah kebenaran, dia juga seorang negosiator ulung dan professional.

Selain menjadi seorang pembawa risalah, Rasulullah Saw. juga berprofesi sebagai pedangang,yang sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran. bahkan dikala dia bercanda dia tidak pernah berkata dusta, buah dari kejujuran Rasulullah saw. Sehingga menerima gelar Al Amin (yang terpercaya). Dalam surah Al qalam Allah Swt. Berfirman "wainnaka laa ala khuluqin a'dhim", ayat ini secara sareh Allah Swt. Katakan bagaimana fenomenalnya adat Rasulullah Saw. Tiada satu manusiapun bisa berperilaku menyerupai beliau.

Dalam hadist shahih dijelaskan bahwa Allah swt. mengutuskan Rasulullah Saw. Ke permukaan bumi ini untuk menyempurnakan adat manusia. "innama bu'itstu li utammima makarimal akhlak", bangsa arab yang di kenal bagitu garang selalu menciptakan kerusakan dimana-mana, membunuh anak perempuan, menyakiti istri, perjudian dan mabuk-mabukan menjadi tradisi yang mereka pertahankan, begitulah skema kehidupan jahiliyah. Sehingga Allah swt. Mengutuskan seorang da'i pembawa cahaya kebenaran di tengah-tengah mereka.

Jahiliyah abad modern

Akhir-akhir ini kita di kejutkan oleh berita-berita tergredasinya moral kaum muda negeri ini, website-website gosip online selalu menghadirkan gosip hangat seputar kaum muda, bisnis penjualan wanita, narkoba, tauran, pemerkosaan, bebesnya pergaulan muda-mudi, tenpat-tempat wisata di Aceh di penuhi kaum remaja berpacaran mencar ilmu adegan dewasa.

Kemudian maraknya goyang harlem shake bagi bawah umur remaja mulai merajalela di negeri ini. baru-baru ini menyebar sebuah video pendek di youtube siswa-siswi SMU di Banda Aceh melaksanakan agresi herlem shake, dengan seketika timbul komentar-komentar negative atas agresi mereka, bahkan tidak sedikit yang menunjukkan komentar kutuk atas video tersebut, ini sangat memalukan.

Bukti kasatmata tergredasinya moral remaja yaitu menyebarnya virus free sex ke negeri seuramoe meukah. Menyebarnya virus eropa (red. Free sex)  ke Aceh  menjadi pukulan telak bagi mereka yang masih peduli terhadap kaum muda, hina, keji dan memalukan, dimanakah posisi kita sebagai saudara mereka, dimanakah tanggung jawab kita selaku tetangga mereka, apa yang telah kita lakukan untuk meraka?

Tidak bisa dipungkiri ini yaitu tanggung jawab bersama, setiap individu tidak bisa berdiam diri tanpa mencengah hal-hal menyerupai ini pada kaum muda, mereka yaitu prospek masa depan. Pendidikan mereka perlu diperhatikan, bila tidak, maka lihatlah kembalinya abad jahiliyah kepada generasi muda. Na'udzubillahi min dzalik.

Jika di tahun 2013 moral generasi muda sudah sedemikian minus, bayangkan di tahun 2020, bayangkan apa yang akan terjadi di negeri ini di tahun 2030? Saya yakin dunia akan kembali ke masa sebelum Allah mengutuskan Rasul Saw. Ya kita akan kembali hidup di zaman jahiliah abad modern, hidup bagaikan hewan ternak bahkan lebih sesat dari itu.

Aceh yang dulu dikenal dengan negeri syari'at Islam yang sangat kental dengan nilai-nilai agama yang Rasulullah Saw. Bawakan, sekarang menjadi negeri kerdil yang hidup di samudera maksiatan.

Berbagai faktor yang sekarang menciptakan generasi muda terlarut dalam kesesatan moral. kurangnya perhatian orang renta kepada anak mereka, para guru di sekolah-sekolah kurang kontrol dan terlalu membebaskan pergaulan antara siswa-siswinya, imbas luar melalui media cetak dan internet menciptakan generasi kita gampang memalsukan aspek kehidupan non muslim.

Kaum muda prospek menjanjikan

Pepatah arab berkata "Syababul yaumi u'mara'il ghad" yang berarti cowok hari ini yaitu pemimpin masa depan. Tidak ada kalangan yang menafikan bila nasib sebuah Negeri ada pada kaum muda, bila kaum muda baik maka akan oke negeri tersebut dan sebaliknya.

Disini dituntut untuk bergotong-royong memperbaiki kemungkaran yang ada di negeri ini, setiap kepala mempunyai tanggung jawab. Tidak ada yang membedakan antara pemimpin dengan rakyat biasa dalam hal ini, semua punya hak untuk memperbaiki.

Ke khawatiran ini akan segera terhapuskan bila setiap individu mempunyai rasa prihatin terhadap masa depan umat. Kita mulai dengan saling menasehati kepada kebaikan, alasannya hanya ini yang kita punya. Kita tidak mempunyai kekuasaan yang lebih untuk melalukan sesuatu yang besar untuk negeri ini, lakukan hal kecil dengan nilai besar jauh lebih berarti daripada mempunyai kekuasaan besar tetapi tidak bisa berbuat.

Guru-guru, figur masyarakat, dan orang renta harus mempunyai perhatian khusus dalam mengembalikan kaedah dasar dalam diri manusia, yaitu fitrah terhadap kebaikan. Jika mereka mempunyai seribu alasan untuk menolak bebaikan, mengapa kita berhenti? Bukankah kita juga mempunyai sejuta alasan untuk terus menjaga existensi dakwah demi bangsa dan agama?

Allah berfirman dam surat al-ashr: "demi masa (1). sesungguhnya insan dalam kerugian (2). melaikan orang-orang yang beriman, dan yang menjalankan amal sholeh serta saling menesahati untuk kebaikan dan saling menasehati untuk sesabaran (3).

Semoga kita senantiasa menjadi manusia-manusia yang selalu mendengarkan hal yang baik dan saling mengingatkan kepada kebaikan, amin.


Oleh: Muazzinul Akbar
Penulis Mahasiswa al Azhar Fakultas Ushuluddin Tahun II.

Friday, 13 March 2020

Talaq 1 Atau Talaq 3


Talaq merupakan permasalahan sensitif dalam kajian fiqih Islam. Poblematika talaq adalah  satu hal yang musti  diketahui syarat dan rukunnya oleh ummat Islam, lebih-lebih bagi mereka yang sudah menikah.

Jika kita membuka fiqih Islam, kedudukan belahan talaq merupakan satu hal yang unik. Dimana para fuqahak dalam karya-karyanya menempatkan belahan talaq selalu setelah belahan nikah. Hal ini menunjukkan talaq tidak akan jatuh sebelum menikah. Filosofinya dari segi kedudukannya saja sudah tergambar hukumnya.

Secara etimologi talaq bermakna, 'melepaskan ikatan.' Apa saja yang kita lepas ikatannya digolongkan talaq dari segi bahasa. Adapun dari segi terminologi talaq bermakna,  'melepaskan ikatan nikah dengan lafaz talaq.' Para fuqahak juga telah mengklasifikasikan talaq ini kedalam dua belahan secara global, yaitu talaq ba in dan talak raj'i.

Talaq ba in yakni talaq yang dijatuhkan suami dengan talaq tiga. Adapun talaq raj'i yang dijatuhkan suami dengan talaq satu atau dua. Atsar yang dikandung talaq ba in yakni tercerainya hubungan nikah secara total. Berbeda dengan talaq raj'i yang tidak tetapkan hubungan nikah secara total, bagi suami masih ada kesempatan untuk mengikat kembali hubungan nikah dengan cara rujuk.
Selanjutnya penulis akan menguraikan makna talaq dari segi bahasa yang bermakna umum.

Melepaskan

Menurut jago bahasa apa saja yang dilepaskan ikatannya dinamakan talaq. Seorang pengembala kambing melepaskan kambingnya dari ikatan berarti dia telah mentalaqkannya. Seorang tuan memerdekakan budaknya berarti dia telah mentalaqkannya.

Begitu juga dengan pelajar yang punya sejuta semangat berguru dan membaca buku ketika ujian tiba, kemudian setelah ujian pergi semangat belajarnya hilang begitu saja. Orang menyerupai ini juga dinamakan talaq berdasarkan jago bahasa. Intinya apapun yang dilepaskan, ditinggalkan, dicuwekin dinamakan talaq.

Melepaskan adakala menjadi hal yang berat bagi seseorang. Seorang cowok yang cintanya kepada seorang perempuan sudah mengakar hingga ke tulang sum-sumnya melepaskan perempuan tersebut yakni satu hal yang sangat berat baginya. Bagi cowok lain adakala melepaskan kekasihnya menjadi hal biasa yang tidak beban sama sekali. Hal ini mungkin alasannya yakni cintanya sudah redup atau lain sebagainya.

Bagi seorang pelajar atau mahasiswa yang rajin membaca buku dan belajar, meninggalkan aktifitas berguru merupakan hal yang berat baginya. Karena membaca dan berguru sudah menjadi habbitnya. Hal yang sering diulang-ulang seseorang tanpa ada unsur paksaan kemungkinan besar sulit dilepaskan.

Namun bagi seorang pelajar yang semangat belajarnya muncul alasannya yakni unsur paksaan melepaskan atau meninggalkan berguru sama sekali tidak beban baginya. Hal ini mungkin alasannya yakni berguru bukan habbitnya.

Pelajar yang belajarnya bukan alasannya yakni paksaan akan selalu memancarkan semangatnya tanpa terindikasi oleh waktu dan keadaan. Baik waktu ujian atau bukan dia akan selalu belajar, alasannya yakni berguru yakni kebiasaannya.

Pelajar yang semangat belajarnya muncul alasannya yakni unsur paksaan ini ada dua golongan. Pertama, jikalau ujian telah final semangat belajarnya akan turun yang namun dia masih berguru meskipun tidak sesering waktu ujian. Ini yang saya namakan dengan talak satu. Dia mentalaqkan berguru dengan talaq raj'i. Artinya dia masih mau rujuk untuk belajar.

Ke dua, jikalau ujian sudah final maka semangat belajarnya akan turun drastis. Pelajar menyerupai ini tidak akan berguru dan mengulang lagi kecuali waktu ujian saja. Ini yang saya namakan dengan talaq tiga. Dia mentalaqkan berguru dengan talaq bain. Artinya dia tidak akan mau berguru dan mengulang lagi.

Semangat berguru tersebut akan hilang yang otomatis butuh pengorbanan yang berpengaruh jikalau dia ingin mendirikannya suatu hari nanti. Ibarat suami yang mentalaqkan istrinya dengan talaq tiga (ba in) dia harus mengorbankan banyak hal jikalau ingin menikah lagi dengan istri tersebut.

Relakah?

Apapun golongannya, bagaimanapun tipenya, yang menjadi pertanyaan bagi kita yakni relakah mentalaqkannya? Relekah melepaskan semangat berguru yang sudah kita berdiri pada ketika ujian tadi? Yang pada ketika membangunnya adakala kita harus mengorbankan untuk tidak tidur malam, tidak makan, maukah mentalaqkannya alasannya yakni ujian telah tiada?

Ini yang harus kita renungi dan pertimbangkan sebelum meninggalkannya. Adalah kebahagiaan dan kenajahan itu tersimpan pada mereka-mereka yang tidak mentalaqkan semangat belajarnya. Kemalangan dan kegagalan tersimpan pada mereka yang melepaskan dan mentalaqkannya. Di sini lah eksistensi kita mau menentukan yang mana.

Imam Nawawi (mujtahid tarjih) yang oleh sejarah mencatat hidupnya hanya 45 tahun tapi dia telah menghasilkan ratusan karya. Yang tidurnya sama sekali tidak menyerupai kita tidur di atas kasur yang empuk. Beliau hanya tidur di atas dingklik jikalau rasa ngantuk tiba pada ketika berguru dan menulis. Imam Jalaluddin AS Sayuti yang dijuluki sebagai mujaddin (pembaharu) era ke-9 ('Aqidah Imam Asy 'Ari hal: 45) dia dapat menghasil bermacam-macam karya dari banyak sekali funun ilmu dengan semangat belajarnya.

Semangat merekalah yang harus menjadi motivasi bagi kita ummat Islam. Artinya kita tidak perlu untuk mengambil motivasi dari orang kafir selama dalam khazanah historis ulama Islam masih banyak motivasi yang belum kita gali. Buku Syehk Abdul Fattah Abu Nguddah ,'Qimatuz Zaman 'Indal Ulama' merupakan satu buku spektakuler yang layak  kita miliki untuk memotivasi diri. Karena dalam buku tersebut dia menulis banyak sekali macam cara para ulama dalam menjaga waktu untuk belajar.

Maukah kita mentalaqkan semangat berguru kita yang sudah kita berdiri dengan begitu kokoh alasannya yakni tidak ada paksaan! Sementara di sana masih banyak orang-orang yang ingin berguru menjadi orang hebat tapi mereka tak punya kekuatan. Semoga kita menjadi pelajar yang selalu menjaga ikatan semangat berguru tanpa mentalaqkanya. Dan nantinya bakal menjadi suami dan istri yang saling menjaga 'ismah nikah. Semoga!

Oleh: Abdul Hamid M Djamil
Penulis: Staf redaksi www.kmamesir.org

Aceh Modal Perempuan Indonesia


Aceh daerah modal. Benarkah itu? tentu saja sangat benar. Sejak dari awal munculnya negara Indonesia. Aceh sudah merupakan modal bagi terwujudnya negara terbesar di Asia Tenggara ini. Dari derma dua pesawat, untuk keperluan perundingan luar negeri Presiden Soekarno, hingga penegasan adanya negara Indonesia dari Radio Rimba Raya di Aceh, bahwa masih ada daerah Indonesia yang belum terkalahkan oleh Belanda yaitu Aceh. Tanpa Aceh, Internasional kala itu di Denhag tidak mengakui adanya Indonesia.

Baru-baru ini, lahir UU yang mengatur Otonomi Daerah, kapan UU itu mulai dipikirkan oleh pemerintah? Setelah Aceh bergejolak protes atas kezaliman Orde Lama, dan Orde Baru yang adikara terhadap daerah, kususnya Aceh yang ditipu dengan hanya sebutan gelar "istimewa" tapi tidak satu pun perlakuan untuk Aceh yang mencerminkan daerah "istimewa", malah yang terjadi, pencurian hasil bumi Aceh dan pembunuhan jati diri dan abjad masyarakat Aceh, berupa penindasan terhadap masyarakat hingga diakhiri dengan peristiwa DOM.

Akan tetapi, walau rakyat Aceh harus menanggung penderitaan jawaban keberaniannya menentang kezaliman pemerintah yang tidak adil kala itu, hal tersebut tidak menjadi masalah, alasannya yaitu penderitaan Aceh itulah yang lalu menjadi modal lahirnya UU Otonomi Daerah untuk seluruh Indonesia.

Dalam kancah perpolitikan, Aceh pula yang pertama sekali melaksankan Pemilihan Kepala Daerah Langsung (PILKADASUNG), yang lalu menjadi modal untuk pengadaan PILKADASUNG di seluruh Indonesia. Dalam hal ini, Aceh layak dijuluki dengan sebutan "Modal Demokrasi Mutlak" bagi daerah-daerah di seluruh Indonesia.

UU Pornografi, walau penah diperselisihkan oleh elit-elit politik di pusat, jakarta. Akan tetapi, Aceh sudah lebih duluan melangkah memberlakukan syariat Islam di Aceh, yang tidak hanya melarang agresi pornografi saja, tapi juga mencegah segala agresi lainnya, yang sanggup merusak mental anak, membunuh abjad remaja, dan menciptakan kehancuran dalam keluarga.

Kita harap, Indonesia paling tidak kedepan sanggup memikirkan untuk meningkatkan penjagaan susila masyarakat, dengan cara mengadopsi qanun-qanun Aceh, yang kiranya sanggup mendukung rencana pemerintah, dalam rangka mencegah agresi pornografi.

Dan sekarang, UU Jilbab Polwan, sedang hangat diperdebatkan, kabarnya, nama Aceh disebut-sebut dalam perdebatan itu. Akankah Aceh menjadi modal berikutnya bagi pembelaan hak asasi perempuan Indonesia, untuk menerima hak-hak mereka secara utuh, di antaranya kebebasan menutup aurat?

Kita optimis, jawabannya Insya Allah "ya", kalaupun tidak sekarang, masa yang akan datang. Dan sebagai catatan sejarah, angkatan perang perempuan Aceh, yang dikomandoi oleh Cut Malahayati, dengan busana dan aurat yang terjaga, jauh sudah menjadi modal untuk kepahlawanan perempuan Indonesia.

Oleh : Edi Saputra MA.
*Penulis yaitu pemerhati politik Aceh. Sedang menuntaskan aktivitas doktoral di Universitas Al-Azhar.

Thursday, 12 March 2020

Rukyat Hilal Dan Persatuan Umat


Keberagaman umat Islam dalam memulai awal bulan berkat yaitu masalah yang memerlukan pemahaman global. lumrah pada episode- episode sebelumnya,  keberagaman ini menjadi polemik tanpa kita disadari. Kondisi tersebut tidak hanya menuai perdebatan antar individu atau kelompok, tapi lebih dari itu, ia menjadi virus yang memecah belah umat.

Oleh alasannya yaitu itu, sangat perlu kasus ini diangkat menjadi sebuah tentang publik yang dibahas  berasaskan ilmu dan pemahaman yang bersumber dari ulama yang berkompeten di bidangnya. Jika tidak demikian, dikhawatirkan problematik ini akan bermetamorfosis dilema yang berakar rabut.
Metode Penetapan Awal Bulan Ramadan.

Secara umum ada dua metode yang  di gunakan untuk memutuskan awal bulan hijriah terkhusus bulan Ramadan. Yang pertama, dengan rukyat hilal dan kedua hisab falak(Astronomi).

Pertama: Rukyat Hilal.

Rukyat hilal sanggup didefenisikan dengan kegiatan mengamati visibilitas hilal dengan menggunakan  indra penglihatan, yaitu penampakan bulan sabit  pertama kali sehabis terjadinya ijtimak (Konjungsi).

Ulama setuju bahwa metode pertama  diakui  secara syarak dalam penetapan awal bulan Hijriah. Hal ini menurut hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dari Abi Hurairah ra..

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

Artinya: “Berpuasalah alasannya yaitu melihatnya dan berbukalah (berhari rayalah) alasannya yaitu melihatnya, maka kalau terhalang oleh kalian (hilalnya) maka sempurnakanlah jumlah hari Sya’ban menjadi 30 hari”

Saat putaran bulan mengelilingi bumi sempurna, terbentuklah sebuah posisi, yaitu posisi matahari, bulan dan bumi  sama yang membentuk satu garis lurus(konjungsi geosentris). Saat itulah bulan hilang total, sebagai membuktikan sudah genapnya 29 atau 30 hari . Kemudian, ketika bulan bergerak dan berpisah dari posisi tadi, terlihatlah bulan sabit (hilal), sebagai membuktikan masuknya awal bulan gres Hijriah. Beginilah proses terjadinya hilal.

Pada masa Rasulullah Saw. hilal Ramadhan ditetapkan dengan perantaraan kesaksiaan dari para sahabat. Dan secara umum, cara ini pulalah yang digunakan pada era sehabis nubuwwah.

Kedua: Hisab Falak

Hisab falak yaitu proses penentuan awal bulan pada kalender Hijriah dengan perhitungan secara matematis dan astronomis.

Ilmu falak pada kala ke 21, berbeda dengan ilmu nujum yang di kenal bangsa arab tempo dulu. Keakuratannya ketika ini sangat memuaskan, hal ini alasannya yaitu dibantu oleh kecanggihan teknologi.

Namun demikian tidak menyerupai rukyat hilal, Metode hisab falak masih menjadi materi perdebatan diantara para ulama.  Apakah  hisab falak sanggup dijadikan sebagai patokan dalam memilih awal bulan berkat ataupun tidak ?

Jumhur ulama dari mazhab Hanafi dan Syafii( pendapat yang rajih), begitu juga Maliki dan Hambali beropini bahwa hisab falak tidak di akui sebagai dalil awal Ramadan.

Pendapat ini bersandar atas beberapa dalil berikut ini:
1. Hadis Rasulullah saw:

 لا تصوموا حتى تروا الهلال، ولا تفطروا حتى تروه، فإن غمّ عليكم فاقدروا له.

Artinya: “Jangan kalian berpuasa hingga melihat bulan sabit, dan jangan kalian berbuka hingga kalian melihatnya. Dan kalau mendung menghalangi maka kadarkanlah padanya.”
2. Ijmak para sahabat, sebagaimana yang dinukilkan dari Al Qarafi, Ibn ‘Abidin dan Ibn Taimiah.
3. Ilmu falak bersifat dzanniy. Buktinya, andal falak sendiri sering berbeda pendapat dalam memilih hasil pengamatan hilal.

Sekelompok kecil dari para ulama lainnya berpendapat, bolehnya menjadikan hisab falak sebagai patokan awal hilal Ramadan.

Al nadi Al ilmi Al kuwaitiy pernah mengadakan nadwah mengenai permasalahan hilal dan waktu serta keakuratan ilmu falak, tepatnya pada tanggal 21- 23 Rajab 1409 H. yang bertepatan pada tanggal 27 Februari- 1 Maret 1989 M.

Diantara poin yang merupakan tausiyat dari nadwah yang diikuti sejumlah ulama syariat dan para andal ilmu falak dari aneka macam negara-negara Arab tersebut adalah:

1. Apabila telah terlihat  hilal di suatu negeri, wajib bagi semua umat Islam berpegang padanya dan tidak diiktibarkan ikhtilaf mathla’.
2.Hisab falak yang muktamad digunakan pada kondisi al nafy. Hisab falak yang muktamad yaitu hisab yang berasaskan penelitian yang akurat, dan berpondasi pada kaidah- kaidah yang benar yang merupakan ijmak dari seluruh andal ilmu falak.

Motode penetapan hilal di Negara-negara islam
Motode yang digunakan  oleh negara-negara Islam berbeda satu sama lainnya, ada yang memakai rukyat  hilal, hisab falak, Globalisasi rukyat, atau dengan mengikuti negara terdekat.

Perbedaan ini juga terjadi dalam sebuah Negara, Indonesia misalnya. Dinegeri dengan jumlah penduduk Islam tersebar didunia ini, setidaknnya ada empat Kriteria yang digunakan dalam memilih hilal.

1). Rukyat  hilal

Kriteria ini digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU).

2). Wujud al Hilal

Wujud al Hilal yaitu kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriah dengan memakai dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima' qablal ghurub). Dan Bulan terbenam sehabis Matahari terbenam (moonset after sunset). Kriteria ini digunakan oleh Muhammadiyah.

3). Imkan Al Rukyah
Imkan Al Rukyah adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriah yang ditetapkan menurut Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan digunakan secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriah pada Kalender resmi pemerintah, dengan prinsip:

- Awal bulan (kalender) Hijriah terjadi jika: Pada ketika Matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau pada ketika bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung semenjak ijtimak.

4). Rukyat Global
Rukyat Global yaitu kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriah yang menganut prinsip bahwa: Jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa, meski yang lain mungkin belum melihatnya. Prinsip ini antara lain digunakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia.

Persatuan Umat
Kesepakatan semua umat Islam di dunia untuk menjalankan ibadah puasa pada hari yang sama yaitu sesuatu yang amat sulit. Mengingat perbedaan ijtihad para ulama dalam beberapa permasalahan yang menimbulkan perbedaan dalam memulai Ramadan. Kemudian disana juga ada unsur politik yang menambah kerenggangan ini. Kecuali kalau kekhilafahan islam bangun kembali, mungkin persatuan ini lebih gampang direalisasikan.

Sesuatu yang memperihatinkan yaitu kalau perbedaan ini terjadi dalam satu negara atau provinsi bahkan dalam satu perkampungan. Dan inilah yang sedang terjadi khususnya di Indonesia.

Terbukti bulan berkat pada tahun 1432 H., di Indonesia setidaknya terjadi perbedaan penentuan awal Syawal pada tahun tersebut dalam rentang 4 hari. Jamaah Naqsabandiyah Padang merayakan pada 29 Agustus, Muhammadiyah pada 30 Agustus, Pemerintah dan beberapa ormas. menyerupai NU., Persis., PUI. dan Al Irsyad tanggal 31 Agustus dan Jamaah Islam Aboge merayakannya pada 1 September.

Perbedaan ini tidak sanggup ditolerir kalau terjadi dalam sebuah lingkup satu negara. Karena, ini termasuk dalam kategori Al Ikhtilaf Al Mazmum yang diharamkan oleh Islam.

Puasa merupakan salah satu syiar diantara syiar-syiar Islam yang dilarang terjadi khilaf padanya, hal ini alasannya yaitu sanggup menghantam salah satu maqashid al syar’iyah yang paling urgen yaitu persatuan umat serta membuat pepecahan dan pengelompokan dalam badan umat Islam.

Inilah yang paling diwanti-wantikan oleh Al Alquran dan Rasulullah Saw.,

Allah berfirman:

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِين

Artinya: Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kau berselisih, yang mengakibatkan kau menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.(Al-Anfal :46)
Allah juga mencela kaum musyrik dan orang- orang yang melenceng dari pada andal kitab yang memecah belah agama

إن الذين فرقوا دينهم وكانوا شيعا لست منهم في شيء

Artinya: Sesungguhnya orang- orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikitpun bukan tanggungjawabmu (Muhammad) atas mereka.(Al An’am: 159)

Sementara itu, kalau dilihat dari metode hisab falak ataupun rukyat (sebagaimana dibahas di atas) tidak mungkin rasanya akan terjadi perbedaan penanggalan awal puasa atau lebaran yang lebih satu hari, dikarenakan daerah yang berdekatan.

Selebih dari itu, Jika kadi telah memutuskan suatu hukum, tidak ada pilihan untuk mengilah dan mencari jalan lain, alasannya yaitu aturan yang berasal dari kadi memiliki kekuatan ilzam, yang mewajibkan semua mukhatabnya untuk tunduk patuh, secara rela atupun terpaksa.

Jadi, ketika kadi disuatu negara telah menfinalkan suatu hukum, itu menafikan segala perbedaan mazhab, dan ijtihad golongan tertentu.

Bukankan Allah mengatakan

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) diantara kamu.

Dan Akhirnya. Meskipun sulit, namun keinginan untuk bersatu itu tidak akan pernah pudar, dan terus harus kita perjuangkan, sebagaimana agama kita satu maka hilalpun satu.

Semoga Allah menyatukan hati hamba-hambanya, dan menjadikan mereka saling menyayangi karena-Nya

Amin ya Rabbal ‘Alamin. (HN)


*Ringkasan Makalah “RUKYAT HILAL DAN PERSATUAN UMAT” Oleh: Mukhlisin Rabusin, Lc. Dpl. Dipresentasikan pada program ZAWIYAH, tanggal 4 Juli 2013, dimeuligoe KMA Mesir.

Wednesday, 11 March 2020

Meudagang Dan “Meudagang”


Kata “Meudagang” sangat sering terdengar di kalangan masyarakat Aceh tempo dulu. Seorang ayah ketika ditanyai semisal pertanyaan: “Hoe ka si agam droneuh?”. Dengan besar hati sang ayah menjawab: “ka ijak meudagang u Dayah”.

Namun sekarang, meski jarang, kata ini masih juga terdengar. Tidak hanya dalam percakapan sehari- hari, bahkan masih ada penulis yang meminjam kata ini.

Misalnya dalam sebuah goresan pena yang berjudul “Abu Panton dan Resolusi Konflik” yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Hasbi Amiruddin, MA., dia menyebutkan bahwa Abu Panton yaitu “Aneuk Muedagang”.  Juga saya temukan dalam artikel lainnya yang bertajuk “Jak Beut”, sang pemilik goresan pena juga menyebutkan bahwa “Jak beut dalam budaya masyarakat Aceh juga dikenal dengan istilah Jak Meudagang.”

Meskipun tidak faham hakikat kata Meudagang, namun melihat mereka yang gres pulang Meudagang menjadi kolam lentera dan panutan agama dalam masyarakat. Maka bagi penulis pribadi, Meudagang tetap memiliki kesan tersendiri.

Dalam bahasa Arab Meudagang disebut At-Tijarah yang berarti berjual beli. Sedangkan dalam bahasa Aceh diartikan sebagai proses menuntut ilmu ke sebuah pesantren dan menetap di sana dalam kurun waktu yang lama.

Lalu apa korelasi antara menutut ilmu dengan meudagang (jual beli)?

Ketika Syaikh Sayyid Syaltut Al Syafi’i, Syaikh Al-Azhar, yang juga merupakan anggota Majelis Iftak Mesir, dalam sebuah pengajian dikala mensyarah kitab Bidayat Al-Hidayah, mengingatkan saya pada kata meudagang yang hampir empat tahun tidak pernah terdengar.

Dalam muqaddimahnya, pengarang kitab Bidayah Al-Hidayah, Al-Imam Al-Ghazali (wafat 505 H.) mengatakan, bahwa seorang penuntut ilmu apabila tujuan daripada ilmu tersebut untuk berlomba- lomba, berbangga- besar hati atau untuk menjadi paling alim di antara yang lainnya, disebutkan:

فأنت ساع في هدم دينك و إهلاك نفسك و بيع أخرتك بدنياك ؛ فصفقتك خاسرة و تجارتك بائرة

….maka engkau sedang berjalan untuk meruntuhkan agamamu, mencelakakan dirimu, dan engkau telah menjual akhiratmu dengan dunia, maka rugilah pembeliaanmu, dan bangkrutlah barang daganganmu

Dalam kutipan ini, Imam Al-Ghazali men-tasybih-kan menuntut ilmu dengan jual beli, tanpa lupa menyebutkan sifat lazim dari jual beli, yaitu untung dan ruginya.

Selanjutnya Syaikh Syaltut mengatakan, bahwa ada kemungkinan Imam Al-Ghazali terilhami kalam (kalimat) ini dari sepotong ayat dalam Al Quran, yaitu:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ.


Artinya: “Sesungguhnya orang- orang yang selalu membaca kitab Allah (Al Quran) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan belakang layar dan terang- terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.

Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’râwi dalam tafsirnya menjelaskan makna dari تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ, bahwa seseorang yang menginfakkan hartanya dijalan Allah seolah ia sedang berjual beli dengan Allah, perjualan yang tidak ada ruginya.

Seorang hamba yang melaksanakan kebaikan, seolah itu merupakan barang dagangan baginya, kemudian Allah akan membelinya dari mereka, dengan jalan memperlihatkan tanggapan yang agung di sisi-Nya. Di sinilah kita dapat mencicipi keagungan Allah dan kasih sayang-Nya kepada hamba. Bagaimana Allah membeli sesuatu yang sejatinya juga pemilik dan dengan kekuatan serta kehendak dari-Nya.

***
Ada ungkapan mengatakan: “Jika ingin menilai sebuah budaya, maka lihatlah bahasa mereka”. Ungkapan ini ada benarnya, alasannya yaitu bahasa itu sendiri bab dari kebudayaan, maka tinggi dan rendahnya budaya juga ditentukan oleh bahasa.

Dari sini penulis dapat mengambil kesimpulan, bahwa tingginya budaya Aceh pada masa dulu. Buktinya terlihat dari sudut pandang mereka terhadap budaya menuntut ilmu.

Ketik menuntut ilmu diibartakan dengan meudagang, itu berarti bahwa mereka memandang ilmu itu tidak hanya mulia tapi juga penting. Sama pentingnya menyerupai perdagangan yang memilih ekonomi negara, maka menuntut ilmu juga memilih masa depan agama dan umat.

Dari segi lainnya, ini juga menjadi bukti betapa tulusnya ulama Aceh dahulu dalam menuntut ilmu. Mereka tidak hanya menjadiakan menuntut ilmu sebagai sebuah status sosial, tetapi perdagangan dengan Allah SWT. Hanya ridha Allah yang diharapkan. Mereka menjual dunia dengan akhirat, dan dengan besar hati menamakan diri mereka sebagai aneuk meudagang.

Mungkin inilah rahasia kenapa meskipun daerah menuntut ilmu dikala ini bertebaran, jumlah mahasiswa keagamaan juga luar biasa dari segi jumlah, namun tidak ada yang dapat menggantikan atau paling kurang setingkat dengan ulama-ulama Aceh masa dulu.

Hal ini dikarenakan masyarakat kini tidak lagi berparadigma meudagang. Bagi yang menekuni ilmu agama, sebagian ada yang berfikir: “alah dang-dang jeut meukawen”, atau “alah dari pada jeut keupancuri di gampong”.

Kemudian yang menekuni ilmu umumpun, hanya berfikir sebatas untuk mensejahterakan diri sendiri. Tanpa (sekedar) berangan-angan untuk mengangkat taraf kehidupan masyarakat. Akibatnya, lahirlah alumni-alumni monja (barang dagangan yang tidak laris dijual) yang lupa diri.

Berapa banyak oknum tokoh agama yang terlibat dalam kasus memalukan, bahkan penegak syariat sendiri berbalik menjadi peruntuh syariat. Di sisi lain, banyaknya kasus mesum para mahasiswa juga menguatkan kurangnya moral dan jati diri penuntut ilmu.

Oleh alasannya yaitu itu, sudah sepatutnya selaku penuntut ilmu untuk merubah paradigama tersebut. Belajar bukan hanya sekedar meriwayatkan ilmu, tapi juga mengamalkan dan menyebarkannya. Belajar bukan hanya untuk kemashlahatan sendiri tapi juga untuk kepentingan umat.

Akhirnya, penulis ingin mengingatkan kembali akan pentingnya filosafi meudagang tersebut, yang terfokus pada meluruskan niat. Ia merupakan pondasi dari segala perjuangan dan amal. Sangat jauh dari bayangan, bagaimana membangun sebuah bangunan yang besar di atas pondasi yang rapuh. Imam Al-Gahzali mengatakan: “la wushula ila nihayatin illa bakda ihkaami badaatin.


Oleh: Husni Nazir
Penulis: Mahasiswa universitas Al-Azhar Mesir, Staf redaksi web www.kmamesir.org

Monday, 9 March 2020

Sudah Amat Dekat!


Gerak laju perubahan yang mengusung kebebasan tanpa batas sepertinya  berdasarkan segelintir orang merupakan solusi tunggal kesjahteraan dan kemapanan suatu bangsa. Nilai moral yang intinya senantiasa menyemat segala sistem juga telah perlahan dieliminasi banyak pihak dengan dalih pembangunan fisik tidak ada kaitannya dengan training moral. Betapa lucunya paham yang demikian, lantaran semua agama yang ada dipermukaan bumi ini percaya bahwa sistem akan melaju optimal jikalau pembangunan infrastruktur berjalan sejajar dengan pembangunan moral. Krisis moral meruapakan wabah yang amat membahayakan rekontruksi pembaharuan dan regenerasi. Di samping itu, menjamurnya generasi yang tak bisa berevolusi, gampang terprovokasi, menelan asumsi, serta meyakini selentingan miring  sebagai informasi konkrit yang seakan-akan bersifat mutawatir dan hirau akan fakta merupakan watu sandungan terbesar dalam menjalakan roda pemerintahan.

Beranjak dari tajuk ringkas di atas, sistem yang baik yaitu sistem yang mengusung tinggi nilai moral serta jauh dari paham Liberalis. Serta diterapkan oleh individu berelektabilitas, mempunyai etos kerja, cermat dan yang paling penting mempunyai pondasi agama yang kuat. Imam Abu Hamid Muhammad Ghazali menyebutkan bahwa setiap muslim telah dikarunia empat hidayah oleh Sang Pencipta, yaitu: Akal, Naql (Alquran dan Hadits), At-tajarubbah (percobaan atau penemuan), dan yang terakhir Al-wijdan (perasaan). Jika keempat pilar ini dikolaborasikan secara optimal dan diletakkan sesuai posisi dan fungsinya, maka fleksibilitas umat akan semakin terlaksana dan individu akan semakin lentur dalam mengeksplor skill yang sarat akan nilai moral. Berbalik kondisinya, jikalau keempat pundi ini tidak disandingkan atau bahkan diabaikan, maka yang akan terjadi yaitu sebaliknya, perpecahan,  lahirnya komunitas yang saling menyalahkan, selalu ingin mendapat hasil  instan dan jauh akan norma yang berlaku. Singkat dongeng fitnah akan bertebaran, paham yang diciptakan untuk saling menjatuhkan pun membanjir, mengalir di setiap sisi rasa dan hela nafas yang silih berganti.

Kondisi menyerupai ini layaknya tengah menimpa banyak negara Islam. Bisa dikatakan, pada ketika ini masing-masing negara Islam mendirikan aksara kebangsaannya sendiri sendiri seraya meninggalkan dan menanggalkan ikatan iman serta tabiat Islam sebagai identitas utama bangsa. Ditambah lagi dengan krisis regenerasi dan bertaburnya  individu nonakademis yang jauh akan norma dan  etika. Sehingga tidak terelakkan lagi umat Islam yang jumlahnya kurang lebih setengah milyar dan tersebar di aneka macam penjuru jagat raya tersebut semakin kehilangan wibawa. Bahkan dicap sebagai umat yang labil, tidak konsisten serta jauh dari kemajuan dan kemandirian. Rasulullah shallallahu alaihi was sallam sudah mensinyalir bahwa akan muncul babak keempat perjalanan umat Islam, yakni kepemimpinan para Mulkan jibriyyan (raja-raja yang memaksakan kehendak). Inilah babak yang sedang diarungi umat Islam remaja ini.

Sedemikian carut-marutnya kala yang sedang kita alami sekarang, sehingga seorang ulama Pakistan yang sempat tinggal usang di Amerika menyebutnya sebagai A godless civilization (peradaban yang tidak bertuhan). Ahmad Thompson, seorang penulis muslim berkebangsaan Inggris menyebutnya dengan sebutan sistem Dajjal. Ia menyampaikan bahwa semenjak runtuhnya khilafah Islam terakhir, dunia didomonasi oleh pihak kuffar (orang kafir). Perjalanan umat semakin jauh dari nilai-nilai kenabian. Berbagai sisi kehidupan diarahkan oleh nilai-nilai kekufuran. Sehingga kondisi yang menyerupai ini amat aman dan memuluskan datangnya fitnah kiamat yaitu Dajjal.

Jelaslah sudah, bahwa zaman sedang kita arungi yaitu zaman yang sarat akan fitnah. Di mana banyak di antara insan yang jauh lebih menentukan cekokan luar, anekdot parau dan bisikan-bisikan kesesatan yang gencar disunggukan oleh para kuffar. Pada kondisi menyerupai inilah tersingkap perbedaan yang amat real antara mereka yang mempunyai iman kolam watu pualam nan mengkilap dengan mereka yang lebih menentukan untuk menjadi hamba sahaya orientalis dan bernaung rasis di bawah ketiak Komunis.  Allah swt berfirman:

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Jika kau (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sebenarnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) kami pergilirkan di antara insan itu (agar mereka mendapat pelajaran); Dan biar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kau dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang orang yang zalim”.

Didalam ayat ini Allah Swt. menjelaskan bahwa kemenangan dan kekalahan akan berjalan menyerupai roda, silih berganti menyerupai malam dan siang. Ada di mana umat muslim berada di puncak kemenangan dan ada pula di mana umat muslim mencicipi hal sebaliknya. Yang terpenting dari putaran roda ini adalah: Allah ingin melihat keteguhan hati hambanya, sebesar mana wujud cinta sang hamba terhadap tuhannya, sejauh mana kebenaran iman dan deklarasi kepercayaannya, dan sejauh mana ia menyayangi saudaranya.

We are living  in the darkest ages of the Islamic history. Ya, kita memang sedang hidup dalam masa kegelapan. Di mana dunia morat-marit dan sarat fitnah. Dunia dikendalikan dengan nilai-nilai jahiliah modern, didominasi oleh paham Materialisme, Liberalisme dan Sekularisme diberbagai aspek. Baik di bidang perekonomian, sosial, budaya bahkan dalam bidang keagamaan.  Sungguh miris melihat kenyataan, bahwa masa di mana kita bertapak, menjalani sisa kehidupan merupan masa kiamat yang diindikaskan Rasulullah Saw. di dalam sabdanya:

Dari Abu Sa’id al-Khudri  Ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Akan turun kepada umatku di kiamat nanti cobaan yang dahsyat dari pemimpin mereka. Belum pernah terdengar yang lebih dahsyat darinya sehingga bumi yang luas itu terasa sempit bagi mereka lantaran bumi dipenuhi oleh kejahatan dan kezaliman. Seorang mukmin tidak mendapat daerah berpindah dari kezaliman itu…” (HR Hakim)

Menyelami lebih dalam hadits di atas tentunya tergurat terang siluet konflik Mesir yang tak kunjung usai. Bahkan kepak sayapnya semakin melebar dan meninggalkan bercak merah yang tak mungkin hilang. Coba kita amati secara seksama, bagaimana rentetan episode permasalahan tersebut semakin hari semakin saja menuju titik selesai yang mengisyaratkan bahwa konflik yang terjadi merupakan konflik kiamat yang amat diwanti-wanti adanya oleh Rasulullah. Setiap harinya bertabur berita-berita bohong yang amat jauh dari fakta yang sengaja diracik untuk memperseru pergulatan yang terjadi. Konspirasi  bernaung di bawah topeng inspeksi, semua hal dibungkus dengan rapi hingga masyrakat awam tak sanggup membedakan mana yang orisinil dan mana yang imitasi. Darah kaum muslimin dijadikan parsel ambisi segelintir kelompok yang bersembunyi dibalik label legitimasi.

Ingatlah walau kita terpisah oleh demografi dan topografi yang berbeda. Namun syariat dan iman tidak ada yang berbeda, setiap poin yang tertera dalam Quran baik yang tersurat maupun yang tersirat tidak ada yang sanggup membenarkan bencana demi bencana yang terjadi. Islam senatiasa menyingkirkan segala sesuatu yang sanggup memicu perpecahan dan pertikaian, dari hal yang terkecil hingga yang paling besar.

Banyak pandai Arab dan tokoh tokoh besar lengan berkuasa dunia ikut berkomentar akan bencana tersebut. Di antaranya Imam Yusuf al-Qardhawi yang mengritik pembantaian sipil tak berdosa Sabtu, 27 juli 2013. Di antara poin yang diutarakan oleh sang Imam mengenai hal tersebut adalah: Sisi hanya mengaggap puluhan/ratusan ribu demonstran yang berada di Tahrir dan Ittihadiyah dan melupakan puluhan juta demonstran lain di jalan-jalan. Menumpahkan darah Abriya’ (sipil tak berdosa) yaitu kriminal berat dalam agama. Apapun alasannya tidak dibenarkan membunuh orang yang sedang melakukan shalat tarawih dan qiyam. Dan ingatlah, mereka yang turun kejalan bukanlah semata-mata bahagian dari Ikhwan, melainkan banyak pula dari mereka yang bergabung menguatkan barisan hanya untuk mengembalikan kostitusi dan legitimasi.

Konflik Mesir bukan hanya sekedar konflik lokal, melainkan problematika umat Islam sedunia. Sudah layaknya negara-negara Islam lain menunjukkan bukti kepedulian konkrit akan permasalahan ini. Bagi para individu yang mempunyai kecenderungan dalam menganalisa dan berperan aktif di dunia maya akan prihal tersebut,  selayaknya menjadi lentera penerang dan senantiasa menunjukkan kritik positif tanpa harus memperkeruh keadaan. Apalagi hingga mengeluarkan cibiran dan ketus pedas  yang nantinya akan menjulur kepada permasalahan baru.

Dalam kutipan perkataan Imam Ghazali tertera bahwa memahami ilmu pengetahuan layaknya memahami ilmu Matematika. Bilangan, rumus serta proses penjumlahan yang nantinya akan mewujudkan hasil selesai merupakan proses penjelajahan bilangan yang tidak terselip di dalamnya keraguan. Oleh lantaran itu, hati hati dalam berucap! Pahami sesuatu yang anda ingin amati, kemudian perdalam hal tersebut, gres sesudah itu anda sanggup berargumen! itupun jikalau argumen yang anda lontarkan dibalut dengan kode etik yang berlaku. Karena ditakutkan, jikalau hal di atas tidak diindahkan, anda hanya akan menjadi bahar bakar menyulut nyalanya kobar  fitnah selesai zaman. Naudzu billahi min dzalik.

Oleh: Tgk. Alwin Abdillah
Penulis: Mahasiswa Aceh, sedang menuntaskan Program Master (S2) di Sudan