Sunday, 23 February 2020

Pendeta Katolik, Menemukan Kebenaran Islam Dikala Ramadhan



Pendeta Katolik, Menemukan Kebenaran Islam Saat Ramadhan


Sebelum memeluk agama Islam, ia yaitu seorang pendeta agama Kristen Roma dan menjadi kepala bidan pendidikan agama di sekolah khusus anak pria di selatan London. Bulan bulan pahala menjadi bulan penuh kenangan bagi lelaki yang kemudian memakai nama Idris Tawfiq ini, lantaran pada bulan suci itulah ia menemukan Islam dan memeluk agama Islam hingga sekarang.

Di Inggris, kata Idris, semua siswa mendapatkan pelajaran ihwal enam agama utama yang dianut masyarakat dunia. Sebagai kepala bidang pendidikan agama, Idris yang ketika itu belum masuk Islam bertanggungjawab untuk memperlihatkan mata pelajaran ihwal agama Kristen, Yudaisme, Budha, Islam, Sikh dan Hindu. Ia hanya menjelaskan perbedaan keenam agama tersebut dan tidak mereferensikan siswanya untuk memeluk salah satu dari keenam agama tersebut.

Idris tentu saja harus membaca aneka macam warta ihwal Islam sebelum memperlihatkan pelajaran ihwal agama Islam pada para siswanya. Karena pernah berkunjung ke Mesir dan melihat sendiri bagaimana kehidupan masyarakat Muslim, Idris mengaku respek dengan Muslim yang menurutnya ramah dan lembut. Di sekolahnya sendiri, sebagian siswanya yaitu Muslim dan banyak dari mereka yang berasal dari negara-negara Arab.

Idris ingat, beberapa hari sebelum bulan Ramadhan, beberapa siswanya yang Muslim mendekatinya dan bertanya apakah mereka sanggup memakai kelas Idris untuk keperluan salat, kebetulan kelas daerah Idris mengajar berkarpet dan mempunyai wastafel. Meski peraturan sekolah di Inggris dikala itu tidak memberi ijin siswa untuk melakukan peribadahan di sekolah.

Idris mengijinkan seruan siswanya itu. Tapi kepala sekolah mengharuskan seorang guru hadir untuk mengawasi kelasnya dikala dipakai untuk salat. “Saya belum menjadi seorang muslim ketika itu, tapi Allah bekerja dengan caranya yang sangat istimewa, memperlihatkan contoh-contoh sederhana dalam kehidupan untuk menciptakan keajaiban dalam hidup kita,” tukas Idris.

Maka, selama bulan Ramadhan itu, pada waktu makan siang, Idris duduk di belakang menyaksikan siswanya yang Muslim salat dzuhur, ashar dan salat jumat berjamaah. Apa yang dilihatnya ternyata menjadi pembuka jalan bagi Idris untuk mengenal Islam. Idris jadi tahu bagaimana seorang Muslim shalat dan ia sanggup mengingat beberapa bacaan salat meksi ia tak paham artinya. Oleh lantaran itu, usai Ramadan, Ia tetap membolehkan siswanya yang Muslim untuk salat di dalam kelasnya hingga bulan pahala tahun berikutnya.

Kali ini, Idris yang masih belum masuk Islam, ikut berpuasa sebagai bentuk solidaritas terhadap siswanya yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Ketika itulah keinginannya untuk masuk Islam semakin besar lengan berkuasa dan sehabis bulan Ramadhan itu, Idris memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, menjadi seorang Muslim.

“Alhamdulillah, saya menjadi seorang muslim. Tapi itu dongeng lain. Apa yang dicontohkan para siswa saya yang Muslim telah membawa saya menjadi seorang muslim. Sejak itu, saya ikut shalat berjamaah bersama mereka, sebagai soerang mualaf,” ungkap Idris.

Ramadhan tahun berikutnya yaitu Ramadhan pertama bagi Idris sebagai seorang Muslim. “Ramadhan pertama itu sangat istimewa. Di final bulan Ramadhan, saya bersama para siswa menggelar buka puasa bersama. Untuk meraih malam Lailatul Qadar, saya bersama para siswa itikaf di sekolah,” kenang Idris ihwal Ramadhan pertamanya.

Usai jam sekolah dikala Ramadhan, sambil menunggu waktu berbuka, Idris dan para siswanya yang Muslim menyaksikan film bersama ihwal kehidupan Rasulullah Saw. Usai shalat maghrib berjamaah, mereka membuka bekal makananan dan minuman masing-masing yang dibawa dari rumah dan saling aneka macam dengan yang lainnya.

Saat Idris menjalankan ibadah puasa Ramadhan pertamanya sebagai Muslim, ketika itu masyarakat Inggris sedang dilanda Islamofobia lantaran gres saja terjadi kejadian serangan 11 September 2001 di AS. Banyak warga Inggris yang curiga pada Islam dan Muslim. Tapi alhamdulillah, beberapa guru non-Muslim di sekolahnya tiba dan mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Kepala sekolah bahkan membawakan mereka kurma untuk berbuka, lantaran dari siswanya yang Muslim ia tahu bahwa Rasulullah Muhammad Saw selalu berbuka dengan makan kurma.

Idris mengakui, menjalankan ibadah puasa Ramadhan di negara non-Muslim tidak mudah. “Seringkali kita menjadi satu-satunya orang yang berpuasa. Setelah berbuka, tidak ada acara istimewa apalagi jika letak masjid sangat jauh,” ujar Idris.

“Tapi, malam-malam di Ramadhan pertama saya sebagai muslim yaitu malam yang sangat istimewa yang tidak akan saya lupakan. Saya sanggup memberikan pesan Islam pada semua yang hadir disana bahwa Ramadhan yaitu bulan yang penuh kegembiraan dan penuh persaudaraan yang sangat menyentuh hati kita, Alhamdulillah,” tukas Idris menutup kisah pengalaman Ramadhan pertamanya sebagai seorang yang gres masuk Islam.

Dartje Herlina Susianthy : Mimpi Disuruh Wudhu Dan Shalat




Saya lahir di Jakarta, 17 Juni 1970. Saya dibesarkan di lingkungan penganut Katolik. Sejak kecil, saya diperkenalkan dengan pedoman agama itu. Saya pun sekolah di SD Katolik. Namun, ketika duduk di kursi sekolah lanjut pertama {SMP), saya mulai bergaul dengan teman-teman yang beragama Islam. Mereka sangat baik dan toleran. Sikap mereka ini menciptakan saya erat dengan mereka.

Secara perlahan-perlahan, saya memperhatikan pedoman agama dan tata cara ibadah mereka. Sepertinya ada perasaan yang menarik saya untuk terus mengikuti pedoman agama yang mereka anut. Dengan sengaja saya ikut pelajaran mereka. Teman-teman saya yang beragama Islam tidak keberatan. Bahkan, mereka senang. Lambat laun saya mulai meninggalkan pelajaran agama Kristen yang diberikan setiap hari Jumat. Entah mengapa itu sanggup terjadi. Dan, saya begitu bahagia mengikuti pelajaran agama Islam.

Saya masih mengikuti pelajaran agama Islam hingga saya duduk di kelas dua SMP. Ketika pelajaran itu, saya oleh guru disuruh membaca surah dalam Al-Qur'an. Saya bingung. Saya terdiam. Guru itu terus menyuruh saya membaca ayat suci itu. Sambil terputus-putus alasannya ialah saya diajari oleh sahabat di balik kaca-saya mencoba membaca ayat suci itu.

"Kamu tidak sanggup baca Al-Qur'an, Lina?" tanya guru agama. Saya diam. Akhirnya, guru itu tahu mengapa saya membaca terputus-putus. Guru itu segera menegur sahabat yang mengajari saya. "Kamu ngapain di situ?" tegur pak guru. Teman saya menjawab bahwa beliau sedang membantu saya membaca Al-Qur'an.

"Memangnya Lina tidak mengaji?" tanya pak guru lagi. "Tidak," jawab saya spontan. Kemudian, guru itu pun bertanya apa agama saya yang sebenarnya. Saya menjawab, Katolik. Guru itu heran mengapa saya ikut pelajaran agarna Islam, sedangkan saya bermacam-macam Katolik.

Saya segera menyadari bahwa saya belum Islam. Tapi saya begitu bahagia mengikuti pelajaran itu. Saya mohon supaya saya tetap diizinkan mengikuti pelajaran agama Islam. Lambat laun pengetahuan saya wacana Islam makin dalam. Artinya, saya mulai meninggalkan pedoman agama saya sendiri. Saya malas mengikuti pelajaran agama Kristen setiap hari Jumat.

Untuk sanggup mengikuti pelajaran agama Islam, saya minta kepada sahabat saya untuk membantu mengajarkan saya mengaji Al-Qur'an. Mereka sangat senang. Dengan agak malu, saya mulai mencar ilmu dari dasar atau dari alif-ba-ta. Saya menangis, sudah sebesar ini gres mencar ilmu alif-alifan. Namun, saya sadar bahwa ini ialah permulaan bagi saya untuk menggapai Islam.

Bukan mencar ilmu mengaji saja yang saya lakukan, tetapi saya juga mencar ilmu tata cara ibadah, berwudhu, dan shalat. Teman-teman saya terus mengajari, walaupun saya tidak tahu makna dari ibadah itu. Saya begitu bahagia melakukannya.

Setelah diajari tata cara ibadah itu, saya berpikir bahwa agama Islam itu sangat menekankan kebersihan dan kesucian Bagai mana tidak, sebelum kita melaksanakan shalat atau menghadap Tuhan (Allah), kita diharuskan untuk bersuci, baik dari hadas kecil maupun hadas besar. Sungguh hal yang menakjubkan. Ini tidak ada dalam tata cara ibadah agama saya: Katolik.


Mimpi disuruh Shalat

Suatu malam, saya bermimpi. Dalam mimpi itu, saya dituntun dan disuruh mengambil air wudhu dan shalat oleh seorang bapak dan ibu yang tidak saya kenal. Untuk melaksanakan shalat, saya diberinya mukena. Pada asisten saya diberikan Al-Qur'an serta tasbih yang dikalungi pada tangan itu juga. Jari-jemari tangan saya digenggam erat oleh mereka. Saya bertambah bingung. Saya berpikir ibadah ini sangat berbeda dengan ibadah agama Katolik.

Pagi harinya, saya ceritakan mimpi itu kepada ibu saya. Setelah mendengar kisah itu, ibu bertanya apakah saya ingin masuk Islam? Saya pun mengiyakan. Tekad saya sudah bulat. Akhirnya, ibu menyampaikan supaya saya harus membulatkan tekad untuk pindah keyakinan. Katanya, itu hak saya alasannya ialah saya sudah cukup umur dan bebas memilih pilihan dalam agama.

Niat untuk pindah keyakinan sudah bulat. Keluarga saya tidak menghalangi niat saya. Bahkan, mereka menyuruh saya memanggil guru mengaji ke rumah Saat pengajian dilakukan, mereka ikut mendengarkan. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT, atas taufik dan hidayah-Nya, kami sekeluarga balasannya masuk Islam.

Upacara pengislaman kami sekeluarga berlangsung sempurna dua hari menjelang Ramadhan. Pengislaman diri dan keluarga saya dilakukan di rumah dengan dibimbing oleh seorang ustadz. Saya bersuka cita dan bangga alasannya ialah niat saya sudah terkabul. Dan, bahkan diikuti oleh keluarga saya.

Dengan menjadi seorang muslimah, saya yakin Islam ialah agama yang benar dan baik. Dalam agama Islam saya yakin bahwa apa yang saya minta selalu dikabulkan oleh Allah.

Saya punya kenangan yang menciptakan saya yakin bahwa Allah itu selalu mendengar doa hamba-Nya. Suatu ketika, ketika saya berangkat kuliah, hujan turun deras. Saya nekat akan menerobosnya alasannya ialah ketika itu akan ujian. Saya nekat sambil terus berdoa. Alhamdulillah, doa yang saya baca walaupun hanya bahasa Indonesia, ternyata didengar oleh Allah. Hujan pun seketika eksklusif berhenti.

Setiap menjelang ujian, saya berdoa supaya sanggup nilai baik. Alhamdulillah, doa saya terkabul. Sejak ketika itu, saya yakin bahwa doa kaum muslimin selalu didengar oleh Allah.

Saya begitu bahagia menjalankan semua perintah yang diajarkan oleh agama Islam. Puasa, shalat, baik sunnah maupun wajib--adalah ibadah rutin saya. Puasa di tahun pertama keislaman saya sangat berkesan. Saya begitu menikmati ibadah puasa itu.

Untuk mendalami Islam, saya mengikuti aneka macam pengajian. Khusus hari Minggu pagi, saya pergi mengaji ke Majelis Taklim Ahad pagi di Masjid Al-A'raf T.B. Walisongo. Setiap mendengar ceramah agama, hati saya bagitu tersentuh, tenteram, dan tenang. Siraman rohani itulah yang menjadi makanan jiwa saya.

Setelah menjadi seorang muslimah, terkadang saya suka membandingkan dengan agama saya yang dulu. Jika di Katolik, saya hanya satu kali dalam satu ahad berdoa di gereja. Tapi, dalam Islam saya sanggup lima kali dalam setiap harinya. Dan, itu sanggup dilakukan di mana saja. Sebab, masjid dan mushalla ada di mana-mana. Tidak menyerupai gereja.

Saya bersyukur menjadi seorang muslimah. Selain gampang beribadah, saya juga menerima saudara gres yang seakidah dan seagama. Saya bertekad untuk terus memegang pedoman agama Islam dan mergalankan semua perintah agama. Saya yakin Allah selalu mengabulkan permohonan dan doa hambaNya.

Mimpi yang menyuruh saga berwudhu dan shalat serta ikut pelajaran agama Islam di sekolah merupakan rahmat yang patut saya syukuri. Sebab, keduanya mengantarkan saya kepada agama yang bertauhid; yang mengajarkan kebaikan dan kebenaran.

Sunday, 9 February 2020

Maria Ester Roman: Saya Menemukan Kedamaian Dalam Islam


Apa yang kualami ketika ini berawal ketika saya masih berusia 20 tahun. Saat itu saya masih menyandang status sebagai mahasiswi. Aku mendengar perihal Islam dari beberapa temanku yang muslim.

Saat itulah pertama kali saya tahu, ada agama yang demikian. Karena rasa ingin tau yang ada pada diriku, dan juga dikarenakan saya mulai mempertanyakan kebenaran agamaku, Katolik, saya mulai mempelajari Islam.

Aku mengajukan beberapa pertanyaan kepada temanku itu. Setiap pertanyaanku selalu berhasil mereka jawab. Semakin banyak yang kupelajari dan kuketahui, semakin bertambah pula keyakinanku akan kebenaran agama ini. Keputusan untuk memeluk agama ini pun tiba begitu cepat, hanya dalam empat bulan saja. Namun hal itu tidak mudah.

Tentu tidak gampang mengganti identitas diri yang seumur hidup telah kupegang. Bukan alasannya ialah saya tidak mau, tapi alasannya ialah orang-orang telah mengenalku dengan identitas tersebut. Sulit bagiku untuk meyakinkan mereka bahwa cara pandangku, cara interaksiku (antara pria dan perempuan, dll.), penampilanku, dll. akan berubah secara total.

Aku telah menekuni dunia modeling semenjak masih sangat muda, ketika usiaku 14 tahun. Dan entah bagaimana, saya menyayangi dunia tersebut. Aku suka jadi sentra perhatian, menyukai kompetisi, kegelamoran, dan tata rias. Dengan segala pencapaian dan kesuksesanku di bidang itu, entah mengapa saya merasa ada yang salah. Ada sesuatu yang hilang, tapi saya tidak bisa mengetahui dengan sempurna perasaan itu. Aku tidak mengetahui apa yang membuatku merasa hampa. Namun tidak usang kemudian saya sudah mencicipi ketenangan dan kedamaian dengan kondisiku kini ini sebagai seorang muslimah.

Memeluk Islam

Aku telah mempertimbangkan beberapa opsi untuk diriku. Aku ingat kala itu saya sedang mengenakan toga wisudaku, kemudian saya berkata pada diriku sendiri “Apa yang akan kulakukan sehabis ini?”

Lalu di hari berikutnya, saya mengunjungi temanku dan kucurahkan semua kegelisahanku kepadanya. Saat saya hendak pulang, ia menutup nasihatnya dengan mengatakan, “Jangan khawatir Maria, ingatlah apa yang telah engkau lalui dan kemana engkau akan menuju. Tuhan niscaya akan membimbingmu dengan cahaya hidayah-Nya”.

Saat ia menuntaskan kalimatnya, saya membuka pintu meninggalkan rumahnya. Saat kubuka pintu, sinar matahari yang begitu berpengaruh menerangiku. Aku mengartikan hal itu sebagai tanggapan dari kegelisahanku. Saat itu juga kuputuskan untuk memeluk Islam. Di daerah itu, ketika itu juga.

Reaksi Keluarga dan Teman

Sebagaimana prediksiku, kedua orang tuaku terkejut dengan apa yang telah terjadi padaku. Mereka tidak bisa memahami mengapa saya mengambil keputusan demikian. Namun mereka berusaha menenangkan diri untuk tidak berlebihan menyikapi hal itu.

Setelah beberapa tahun, jadinya orang tuaku mulai memahami dan mendapatkan kenyataan perihal diriku. Ketika mereka memasak daging babi, maka ibuku menyebarkan sajian khusus untukku. Ia juga selalu memberitahuku untuk mengenakan hijab di rumah, apabila ada tamu yang berkunjung.

Selain itu, pedoman Islam juga membuatku semakin patuh kepada kedua orang tuaku. Aku mulai mengerti dan menghargai kerja keras mereka sebagai generasi pertama orang Puerto Rico yang hijrah ke Amerika.

Teman-temanku banyak yang membujukku untuk berubah pendirian dari Islam. Namun saya selalu memohon istiqomah kepada Allah. Dan Allah pun menolongku. Aku tidak menyesal dan –insya Allah- tidak pernah merasa menyesal dengan pilihanku ini.

Aku merasa muak dengan kehidupanku sebelumnya. Dan ketika ini, saya benar-benar telah menemukan kedamaian. Alhamdulillah, saya mempunyai kesempatan dan saya telah menentukan dan memanfaatkan kesempatan tersebut.

Islam membuatku menjadi eksklusif yang rendah hati. Aku merasa lebih sederhan dan kesucianku lebih terjaga.

(fath/kisahmuslim.com/arrahmah.com/1001-Kisah Islami.com)

Saturday, 8 February 2020

Mantan Pembenci Islam Sesudah 3 Tahun Lakukan Pencarian




Tiada yang tahu selesai kehidupan seorang hamba kecuali Allah Ta’ala. Amat gampang bagi-Nya untuk memperlihatkan hidayah kepada siapa yang Dia Kehendaki, dengan atau tanpa perjuangan seorang hamba. Akan tetapi, karena kepastian sunnatullah-Nya yang pasti, hidayah senantiasa mempunyai sebab-sebab yang sejatinya dapat diduplikasi.

Dalam cerita berikut, misalnya, dapat menyimpulkan bahwa perjuangan seorang hamba untuk mendatangi Allah Ta’ala benar-benar dimudahkan. Laki-laki yang sekarang berusia 40 tahun ini benar-benar besar hati dan tenang dalam Islam sesudah melaksanakan pencarian selama tiga tahun.

Nama aslinya Hanny Kristianto. Laki-laki ini merasa kesal dengan firman Allah Ta’ala dalam surat Ali Imran ayat 102, “Jangan mati, kecuali dalam keadaan Muslim.” Baginya kala itu, agama yang paling benar bukanlah Islam, tapi Katolik Kerohanian yang ia ikuti.



Ketertarikannya untuk mencari tahu wacana Islam dimulai dikala ia bekerja di sebuah perusahaan di Kalimantan. Dengan gigih, pria kelahiran Bantul Yogyakarta ini menemukan Islam dengan caranya. Ia mengikuti maunya untuk mengobati keingintahuannya.

Maka pria yang sekarang mencar ilmu ke banyak ustadz ini memulai membaca terjemah al-Qur’an dalam Bahasa Indonesia, dari awal hingga akhir. Dalam proses itu, beliau menemukan fakta mencengangkan bahwa tidak ada satu pun kesalahan di dalam al-Qur’an. Lebih menakjubkan lagi, al-Qur’an menjadi satu-satunya kitab yang dapat dihafal keseluruhannya, tanpa adanya kekeliruan pada para penghafal.

Selain itu, beliau juga rajin melaksanakan diskusi dengan teman dan ustadz-ustadz yang beliau temui. Dari mereka, ia jadinya memahami kesalahannya selama ini terkait perspektif jelek terkait Islam dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Misalnya, wacana Nabi Muhammad dicitrakan doyan kawin dan suka berperang. “Akhirnya,” tutur keturunan Tionghoa ini, “saya menemukan, bahwa aku yang selama ini salah.”

Proses panjang itulah yang jadinya mengantarkan Hanny pada cahaya Islam. Dia mengikrarkan dua kalimat syahadat di Mojokerto pada 28 Februari 2013. Setelah itu, dan jadinya dapat menunaikan ibadah haji di Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah, beliau mencicipi hidup tanpa beban, penuh ketenangan, kebahagiaan hati, jiwa, dan pikiran.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Rujukan: Islam Digest Republika 24 Januari 2016
Sumber Gambar: Republika.co.id

Tuesday, 4 February 2020

William Henry Quilliam Muslim Pertama Ditanah Inggris

William Henry Quilliam sering disebut sebagai muslim pertama di Inggris. Dikenal sebagai pakar hukum, Quilliam mendirikan Institut Muslim Liverpool pada 1889. Hal itu sangat bertentangan dengan masyarakat sekitarnya yang merupakan non-muslim.
Institut tersebut didirikan Quilliam sehabis masuk Islam selama dua tahun atau dengan kata lain Quilliam jadi mualaf pada tahun 1887. Sejak itu ia mengubah namanya menjadi Abdullah. Kemudian Institut Muslim Liverpool itu pun diubahnya menjadi Masjid.
Walau sempat ditutup, namun masjid itu sekarang dibuka kembali sehabis mengalami pemugaran. Kini masjid tersebut menjadi salah satu tujuan wisata Umat Islam dunia.
Kisah Keislaman William Henry Quilliam
Masuk Islamnya Quilliam berawal ketika ia mengunjungi Maroko. Saat berada di negeri itu, ia melihat sekelompok muslim yang gres saja pulang dari menunaikan ibadah haji di Mekkah. Setelah itu, ia pun mulai tertarik berguru mengenai Islam.
“Seorang kolega muslim lalu menunjukan bahwa Islam yaitu kelanjutan agama sebelumnya, Yudaisme, Kristiani. Semua klarifikasi dianggap logis dan ia menjadi seorang muslim ketika itu,” terang Jahangir Mohammed, anggota dari Masyarakat Abdullah Quilliam, lansir BBC.
Sekembalinya ke Inggris, Quilliam pun berupaya berbagi Islam pada masyarakat. Namun upayanya itu tidak mudah, lantaran masyarakat Inggris ketika itu sangat menentang Islam.
Metode dakwah yang dilakukan Quilliam yaitu dengan menciptakan goresan pena dan menerbitkan tulisan-tulisan untuk disebarkan ke masyarakat. Masyarakat Liverpool pun murka besar atas apa yang dilakukan Quilliam. Menghadapi tekanan yang begitu dahsyat itu, Quilliam tidak pernah menyerah. Walhasil, ada beberapa warga Liverpool yang masuk Islam. Setelah cukup banyak orang yang masuk Islam, Quilliam lalu mendirikan masjid.
“Ia berhasil mengajak 200 warga lokal dan 600 orang di seluruh Inggris untuk pindah agama dan ia menghabiskan banyak waktu melaksanakan syiar perihal Islam dan bahwa Islam bukan agama setan,” terang Jahangir Mohammed.
Suksesnya Quilliam mengajak orang masuk menciptakan murka warga Inggris yang non-muslim. Tekanan yang dialami Quilliam pun semakin hebat. Bukan sebatas tekanan psikologis, namun bahaya pun sudah mengarah pada serangan fisik.
“Orang tiba dan menyerangnya. Mereka melempar kepala babi, silet, batu. Sejumlah di antara mereka dipicu oleh para pendeta, dan sebagian lain oleh media, namun ia tetap menghadapinya,” dongeng MUhammed.
Kemudian untuk menghadapi serangan tersebut, Quilliam pun menciptakan media muslim pertama. Dengan karya-karya jurnalistik itulah Quilliam memperlihatkan jawaban terhadap semua serangan itu. “Ia mendorong warga muslim untuk menulis dan angkat bicara. Ia mengajukan petisi ke Ratu Victoria semoga pandangannya didengar.”
Akan tetapi besarnya tekanan menciptakan Quilliam dan muslim Inggris lainnya ke Istanbul pada 1908. Kemudian ia kembali ke Inggris dengan memakai nama Haroun Mustapha Leon dan bertempat tinggal di Woking sampai final hayatnya pada tahun 1932.
Pada tahun 1999, kelompok muslim membentuk Masyarakat Abdullah Quilliam untuk mempertahankan peninggalannya, termasuk masjid yang menjadi saksi sejarah awal perkembangan Islam di Inggris.Tulisan-tulisan dari Quilliam itu sekarang menjadi bacaan penting dalam khazanah Islam di Inggris. Termasuk bukunya yang berjudul “Faith of Islam” dengan tiga edisi yang sudah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa.
Semoga manfa'at... Aamiin