Tuesday, 25 February 2020

Istri Nabi Nuh Perempuan Yang Durhaka


Istri Nabi Nuh Wanita Yang Durhaka Allah swt mengisyaratkan cerita Nabi Nuh as dalam beberapa surah Al-Quran, diantaranya surah Al-A'raf, Yunus, Hud, Al-Anbiya, Al-Mu'minun, Al-Syu'ara, Al-Ankabut, Al-Shaffat, dan Al-Qamar. Bahkan, secara khusus Allah menamai sebuah surah dalam Al-Quran dengan nama Nuh. Hanya, dari sekian banyak ayat yang mengisahkan perihal istri Nabi Nuh, tidak ada satu pun yang menyebutkan secara pribadi perihal istri Nabi Nuh, kecuali dalam satu ayat yang terdapat dalam Surah Al-Tahrim.

"Allah telah menciptakan istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan hamba yang saleh diantara hamba-hamba Kami. Lalu, kedua istri itu mengkhianati kedua suaminya. Maka, kedua suaminya itu tidak sanggup membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah. Dan, dikatakan kepada (keduanya), "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)!" [QS. Al-Tahrim 66 : 10]


Ketika Allah mengutus Nabi Nuh as tidak banyak orang yang beriman kepadanya. Bahkan, istrinya pun termasuk salah seorang dari yang tidak beriman. Dia ditelan banjir bandang bersama orang-orang yang tidak beriman lainnya. Dia binasa bersama dengan mereka yang binasa.

Istri Nabi Nuh yang tidak beriman tersebut ialah wanita yang melahirkan empat anak Nuh, yaitu Ham, Sam, Yafis, dan Yam. Nama yang terakhir ini lebih dikenal dengan nama Kan'an yang ikut ditelan banjir.

Istri-Nabi-Nuh-Wanita-Yang-Durhaka
Hikmah Kisah
Banyak Pelajaran yang sanggup diambil dari cerita istri nabi Nuh as diatas, diantaranya:
Keimanan tidak ada hubungannya dengan faktor keturunan, baik keturunan nabi maupun rasul.
Allah sanggup saja menunjukkan keturunan yang jahat kepada orang saleh dan keturunan yang saleh kepada orang jahat. Buktinya, istri Nabi Nuh ialah orang kafir. Namun, sebagian besar anaknya ialah orang-orang yang saleh. Sementara itu, ayah Nabi Ibrahim ialah orang kafir. Namun, beliau melahirkan keturunan yang saleh.
Pengkhianatan istri Nabi Nuh yang disebutkan dalam ayat Al-Quran diatas ialah dalam hal kekufuran, bukan perselingkuhan. (Sebagian pendapat menyatakan bahwa istri Nuh berselingkuh dengan pria lain). Ibn 'Abbas berkata, "Tidak ada seorang istri Nabi pun yang menjadi pelacur."

Kisah Istri Dan Putra Nuh Yang Durhaka


Banyak yang mempertanyakan sikap Nuh ketika membangun sebuah perahu besar yang jauh dari bahari dan sungai. Nuh dianggap sebagai orang asing oleh kaumnya. Keraguan yang disematkan kepada Nuh bahu-membahu merupakan bab dari ketidakimanan mereka terhadap risalah yang telah dibawa oleh Nuh.

Saat Bahtera Nuh telah usai, Nuh diperintahkan untuk memasukkan semua kaumnya yang beriman beserta hewan-hewan secara berpasang-pasangan.

Mendung mulai menyelimuti tanah Nuh. Tidak ada celah cahaya sama sekali. Siang ketika itu bagaikan malam alasannya yaitu tertutup mendung tebal. Hujan dan banjir bisa kapan saja melanda, tinggal menunggu perintah dari Yang Maha Kuasa, Allah Swt.

Saat hujan mulai turun, Nuh memastikan semua rombongannya benar-benar masuk ke Bahtera, termasuk seluruh keluarganya. Karena bagaimanapun juga, keluarga yaitu bab dari kehidupan setiap orang. Keluarga yaitu suatu hal yang harus diutamakan.

Begitu juga dengan Nabi Nuh. Risalah yang dibawanya mengajak semua kaumnya untuk beriman kepadanya dan masuk ke dalam Bahtera yang telah dibangunnya seorang diri, tak terkecuali keluarganya.

Sementara dalam barisan kaumnya yang mulai masuk ke dalam Bahtera, Nuh masih belum melihat gejala keikutsertaan istri dan anak-anaknya.

Nuh mulai mencari bagian-bagian keluarganya yang tertinggal. Saat ia bertemu istrinya, sang Istri malah menolak mentah-mentah ajakannya. Sang Istri malah mewaspadai keabsahan risalah yang dibawanya. Ia lebih mempercayai para pembesar kaumnya yang dari awal menolak dakwah suaminya, Nuh.

Nuh sangat sedih, alasannya yaitu ia tidak bisa mengajak istri yang ia cintai beriman kepada Allah dan risalah yang ia bawa. Ia tertunduk lesu. Ia masih berharap semoga sang istri berubah fikiran dan mau mendapatkan ajakannya.

Sayangnya, itu yaitu impian kosong bagi Nuh. Istrinya tetap durhaka. Sambil berlalu, ia sama sekali tak mau menengok kebelakang. Pilihannya sudah bulat. Mengikuti para pembesar kaumnya yang sangat ia hormati melebihi hormatnya terhadap sang suami dan risalah yang dibawa suaminya.

Nuh mencoba mengikhlaskan Istrinya. Setelah gagal mengajak sang Istri, Nuh mencoba mencari keberadaan sang putra. Putranya yang berjulukan Kan’an juga masih belum terlihat di antara kerumunan kaumnya.

Sementara hujan sudah mulai turun. Mendung-mendung gelap yang menyelimuti kaum Nuh sudah mulai bermetamorfosis hujan yang siap membinasakan kaumnya.

Nuh melihat anaknya di kejauhan. Kan’an sedang mengayuh tali menaiki gunung. Ia percaya bahwa azab yang dijanjikan itu tak akan pernah bisa menjangkau dirinya bila ia lari ke gunung.

Air semakin tinggi, mengejar seorang Kan’an yang dengan pongahnya menolak undangan sang ayah dan lebih menentukan jalannya sendiri, menaiki gunung yang tinggi. Sementara banjir semakin tinggi. Banjir itu mulai menenggelamkan semua hal yang ditemuinya. Bahkan gunung yang dinaiki Kan’an pun mulai tenggelam.

Nuh yang iba dengan putranya mulai mengarahkan bahteranya ke gunung kawasan sang putra berpijak.

“Wahai anakku, raihlah tanganku, naiklah ke perahu bersama kaummu yang selamat!”

“Tinggalkanlah aku, saya akan mencari derma ke gunung yang sanggup menyelamatkanku dari air bah!”

“Wahai anakku, hari ini tidak ada yang sanggup memperlihatkan keselamatan kecuali keselamatan dari Allah Swt.”

Ajakan seorang ayah itu serta merta ditolak oleh sang anak. Ia sama sekali tidak memerdulikan keselamatannya. Ia telah menjadi bab dari kaum Nuh yang kafir.

Nuh melihat anaknya karam dan binasa di depan matanya. Ia begitu murung melihat keluarganya binasa alasannya yaitu kekafirannya.

Seketika Allah memperlihatkan balasan atas kegelisahannya.

“Wahai Nuh, mereka sejatinya bukanlah keluargamu. Keluargamu yang sejati yaitu yang memercayai risalah dan beriman kepadamu. Sebaliknya, orang yang mengingkarimu dan mendustakan kalimat Tuhanmu, mereka telah keluar dari ikatan keluargamu.”


Saturday, 22 February 2020

Kisah Nabi Muhammad Saw


Pada waktu umat insan dalam kegelapan dan suasana jahiliyyah, lahirlah seorang bayi pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah di Makkah. Bayi yang dilahirkan bakal membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban manusia. Bapa bayi tersebut berjulukan Abdullah bin Abdul Mutallib yang telah wafat sebelum baginda dilahirkan iaitu sewaktu baginda 7 bulan dalam kandungan ibu. Ibunya berjulukan Aminah binti Wahab. Kehadiran bayi itu disambut dengan penuh kasih sayang dan dibawa ke ka'abah, kemudian diberikan nama Muhammad, nama yang belum pernah wujud sebelumnya.

Selepas itu Muhammad disusukan selama beberapa hari oleh Thuwaiba, budak suruhan Abu Lahab sementara menunggu kedatangan perempuan dari Banu Sa'ad. Adat menyusukan bayi sudah menjadi kebiasaan bagi bangsawan-bangsawan Arab di Makkah. Akhir tiba juga perempuan dari Banu Sa'ad yang berjulukan Halimah bin Abi-Dhuaib yang pada mulanya tidak mahu mendapatkan baginda kerana Muhammad seorang anak yatim. Namun begitu, Halimah membawa pulang juga Muhammad ke pedalaman dengan impian Tuhan akan memberkati keluarganya. Sejak diambilnya Muhammad sebagai anak susuan, kambing ternakan dan susu kambing-kambing tersebut semakin bertambah. Baginda telah tinggal selama 2 tahun di Sahara dan setelah itu Halimah membawa baginda kembali kepada Aminah dan membawa pulang semula ke pedalaman.

Kisah Dua Malaikat dan Pembedahan Dada Muhammad

Pada usia dua tahun, baginda didatangi oleh dua orang malaikat yang muncul sebagai lelaki yang berpakaian putih. Mereka bertanggungjawab untuk membedah Muhammad. Pada ketika itu, Halimah dan suaminya tidak menyedari akan insiden tersebut. Hanya anak mereka yang sebaya menyaksikan kedatangan kedua malaikat tersebut kemudian mengkhabarkan kepada Halimah. Halimah lantas mengusut keadaan Muhammad, namun tiada kesan yang abnormal ditemui.

Muhammad tinggal di pedalaman bersama keluarga Halimah selama lima tahun. Selama itu baginda menerima kasih sayang, kebebasan jiwa dan penjagaan yang baik daripada Halimah dan keluarganya. Selepas itu baginda dibawa pulang kepada datuknya Abdul Mutallib di Makkah.

Datuk baginda, Abdul Mutallib amat mengasihi baginda. Ketika Aminah membawa anaknya itu ke Madinah untuk bertemu dengan saudara-maranya, mereka ditemani oleh Umm Aiman, budak suruhan perempuan yang ditinggalkan oleh bapa baginda. Baginda ditunjukkan tempat wafatnya Abdullah serta tempat beliau dikuburkan.

Sesudah sebulan mereka berada di Madinah, Aminah pun bersiap sedia untuk pulang semula ke Makkah. Dia dan rombongannya kembali ke Makkah menaiki dua ekor unta yang memang dibawa dari Makkah semasa mereka tiba dahulu. Namun begitu, ketika mereka hingga di Abwa, ibunya pula jatuh sakit dan balasannya meninggal dunia kemudian dikuburkan di situ juga.
Muhammad dibawa pulang ke Makkah oleh Umm Aiman dengan perasaan yang sangat sedih. Maka jadilah Muhammad sebagai seorang anak yatim piatu. Tinggallah baginda dengan datuk yang dicintainya dan bapa-bapa saudaranya.

"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, kemudian Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang resah kemudian Dia menunjukkan petunjuk" (Surah Ad-Dhuha, 93: 6-7)

Abdul Mutallib Wafat

Kegembiraannya bersama datuk baginda tidak bertahan lama. Ketika baginda berusia lapan tahun, datuk baginda pula meninggal dunia. Kematian Abdul Mutallib menjadi satu kehilangan besar buat Bani Hashim. Dia memiliki keteguhan hati, berwibawa, pandangan yang bernas, terhormat dan besar lengan berkuasa dikalangan orang Arab. Dia selalu menyediakan masakan dan minuman kepada para tetamu yang berziarah dan membantu penduduk Makkah yang dalam kesusahan.

Muhammad diasuh oleh Abu Talib

Selepas kewafatan datuk baginda, Abu Talib mengambil alih kiprah bapanya untuk menjaga anak saudaranya Muhammad. Walaupun Abu Talib kurang bisa berbanding saudaranya yang lain, namun beliau memiliki perasaan yang paling halus dan terhormat di kalangan orang-orang Quraisy.Abu Talib mengasihi Muhammad menyerupai beliau mengasihi anak-anaknya sendiri. Dia juga tertarik dengan budi pekerti Muhammad yang mulia.

Pada suatu hari, ketika mereka berkunjung ke Syam untuk berdagang sewaktu Muhammad berusia 12 tahun, mereka bertemu dengan seorang rahib Kristian yang telah sanggup melihat gejala kenabian pada baginda. Lalu rahib tersebut menasihati Abu Talib supaya tidak pergi jauh ke kawasan Syam kerana dikhuatiri orang-orang Yahudi akan menyakiti baginda sekiranya diketahui gejala tersebut. Abu Talib mengikut nasihat rahib tersebut dan beliau tidaak banyak membawa harta dari perjalanan tersebut. Dia pulang segera ke Makkah dan mengasuh anak-anaknya yang ramai. Muhammad juga telah menjadi sebahagian dari keluarganya. Baginda mengikut mereka ke pekan-pekan yang berdekatan dan mendengar sajak-sajak oleh penyair-penyair populer dan pidato-pidato oleh penduduk Yahudi yang anti Arab.

Baginda juga diberi kiprah sebagai pengembala kambing. Baginda mengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Baginda selalu berfikir dan merenung wacana insiden alam semasa menjalankan tugasnya. Oleh lantaran itu baginda jauh dari segala pemikiran insan nafsu insan duniawi. Baginda terhindar daripada perbuatan yang sia-sia, sesuai dengan gelaran yang diberikan iaitu "Al-Amin".

Selepas baginda mula meningkat dewasa, baginda disuruh oleh bapa saudaranya untuk membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwailid, seorang peniaga yang kaya dan dihormati. Baginda melakukan tugasnya dengan penuh tulus dan jujur. Khadijah amat tertarik dengan perwatakan mulia baginda dan keupayaan baginda sebagai seorang pedagang. Lalu beliau meluahkan rasa hatinya untuk berkahwin dengan Muhammad yang berusia 25 tahun ketika itu. Wanita darah biru yang berusia 40 tahun itu sangat bangga apabila Muhammad mendapatkan lamarannya kemudian berlangsunglah perkahwinan mereka berdua. Bermulalah lembaran gres dalam hidup Muhammad dan Khadijah sebagai suami isteri.

Turunnya Wahyu Pertama

Pada usia 40 tahun, Muhammad telah mendapatkan wahyu yang pertama dan diangkat sebagai nabi sekelian alam. Ketika itu, baginda berada di Gua Hira' dan sentiasa merenung dalam kesunyian, memikirkan nasib umat insan pada zaman itu. Maka datanglah Malaikat Jibril menyapa dan menyuruhnya membaca ayat quran yang pertama diturunkan kepada Muhammad.

"Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan" (Al-'Alaq, 96: 1)

Rasulullah pulang dengan penuh rasa gementar kemudian diselimuti oleh Khadijah yang cuba menenangkan baginda. Apabila semangat baginda mulai pulih, diceritakan kepada Khadijah wacana insiden yang telah berlaku.

Kemudian baginda mula berdakwah secara sembunyi-sembunyi bermula dengan kaum kerabatnya untuk mengelakkan kecaman yang mahir daripada penduduk Makkah yang menyembah berhala. Khadijah isterinya ialah perempuan pertama yang mempercayai kenabian baginda. Manakala Ali bin Abi Talib ialah lelaki pertama yang beriman dengan pedoman baginda.Dakwah yang sedemikian berlangsung selama tiga tahun di kalangan keluarganya sahaja.

Dakwah Secara Terang-terangan

Setelah turunnya wahyu memerintahkan baginda untuk berdakwah secara terang-terangan, maka Rasulullah pun mula mengembangkan pedoman Islam secara lebih meluas.

"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." (Al-Hijr, 15:94)

Namun begitu, penduduk Quraisy menentang keras pedoman yang dibawa oleh baginda. Mereka memusuhi baginda dan para pengikut baginda termasuk Abu Lahab, bapa saudara baginda sendiri. Tidak pula bagi Abu Talib, beliau selalu melindungi anak saudaranya itu namun beliau sangat risau akan keselamatan Rasulullah memandangkan saingan yang mahir dari kaum Quraisy itu. Lalu beliau bertanya wacana rancangan Rasulullah seterusnya. Lantas jawab Rasulullah yang bermaksud:

"Wahai bapa saudaraku, andai matahari diletakkan diletakkan di tangan kiriku dan bulan di tangan kananku, semoga saya menghentikan permintaan ini, saya tidak akan menghentikannya sehingga agama Allah ini meluas ke segala penjuru atau saya binasa kerananya"

Baginda menghadapi pelbagai tekanan, dugaan, penderitaan, cemuhan dan olok-olokan daripada penduduk-penduduk Makkah yang jahil dan keras hati untuk beriman dengan Allah. Bukan Rasulullah sahaja yang mendapatkan saingan yang sedemikian, malah para sahabatnya juga turut merasai penderitaan tersebut menyerupai Amar dan Bilal bin Rabah yang mendapatkan siksaan yang berat.

Wafatnya Khadijah dan Abu Talib

Rasulullah amat duka melihat tingkahlaku insan ketika itu terutama kaum Quraisy kerana baginda tahu akan akhir yang akan diterima oleh mereka nanti. Kesedihan itu makin bertambah apabila isteri kesayangannya wafat pada tahun sepuluh kenabiaannya. Isteri bagindalah yang tidak pernah jemu membantu mengembangkan Islam dan mengorbankan jiwa serta hartanya untuk Islam. Dia juga tidak jemu menghiburkan Rasulullah di ketika baginda dirundung kesedihan.

Pada tahun itu juga bapa saudara baginda Abu Talib yang mengasuhnya semenjak kecil juga meninggal dunia. Maka bertambahlah kesedihan yang dirasai oleh Rasulullah kerana kehilangan orang-orang yang amat disayangi oleh baginda.

Hijrah Ke Madinah

Tekanan orang-orang kafir terhadap usaha Rasulullah semakin mahir selepas kepergian isteri dan bapa saudara baginda. Maka Rasulullah mengambil keputusan untuk berhijrah ke Madinah berikutan bahaya daripada kafir Quraisy untuk membunuh baginda.

Rasulullah disambut dengan meriahnya oleh para penduduk Madinah. Mereka digelar kaum Muhajirin manakala penduduk-penduduk Madinah dipanggil golongan Ansar. Seruan baginda diterima baik oleh kebanyakan para penduduk Madinah dan sebuah negara Islam didirikan di bawah pimpinan Rasulullas s.a.w sendiri.

Negara Islam Madinah

Negara Islam yang gres dibina di Madinah menerima saingan daripada kaum Quraisy di Makkah dan gangguan dari penduduk Yahudi serta kaum bukan Islam yang lain. Namun begitu, Nabi Muhammad s.a.w berjaya juga menubuhkan sebuah negara Islam yang mengamalkan sepenuhnya pentadbiran dan perundangan yang berlandaskan syariat Islam. Baginda dilantik sebagai ketua agama, tentera dan negara. Semua rakyat menerima hak yang saksama. Piagam Madinah yang merupakan sebuah kanun atau perjanjian bertulis telah dibentuk. Piagam ini mengandungi beberapa fasal yang melibatkan relasi antara semua rakyat termasuk kaum bukan Islam dan merangkumi aspek politik, sosial, agama, ekonomi dan ketenteraan. Kandungan piagam ialah menurut wahyu dan dijadikan dasar undang-undang Madinah.

Islam ialah agama yang mementingkan kedamaian. Namun begitu, aspek pertahanan amat penting bagi melindungi agama, masyarakat dan negara. Rasulullah telah menyertai 27 kali ekspedisi tentera untuk mempertahan dan menegakkan keadilan Islam. Peperangan yang ditempuhi baginda ialah Perang Badar (623 M/2 H), Perang Uhud (624 M/3 H), Perang Khandak (626 M/5 H) dan Perang Tabuk (630 M/9 H). Namun tidak semua peperangan diakhiri dengan kemenangan.

Pada tahun 625 M/ 4 Hijrah, Perjanjian Hudaibiyah telah dimeterai antara penduduk Islam Madinah dan kaum Musyrikin Makkah. Maka dengan itu, negara Islam Madinah telah diiktiraf. Nabi Muhammad s.a.w. juga telah berjaya membuka semula kota Makkah pada 630 M/9 H bersama dengan 10 000 orang para pengikutnya.

Perang terakhir yang disertai oleh Rasulullah ialah Perang Tabuk dan baginda dan pengikutnya berjaya menerima kemenangan. Pada tahun berikutnya, baginda telah menunaikan haji tolong-menolong dengan 100 000 orang pengikutnya. Baginda juga telah memberikan amanat baginda yang terakhir pada tahun itu juga. Sabda baginda yang bermaksud:

"Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahawa Tuhan kau Maha Esa dan kau semua ialah daripada satu keturunan iaitu keturunan Nabi Adam a.s. Semulia-mulia insan di antara kau di sisi Allah s.w.t. ialah orang yang paling bertakwa. Aku telah tinggalkan kepada kau dua masalah dan kau tidak akan sesat selama-lamanya selagi kau berpegang teguh dengan dua masalah itu, iaitu kitab al-Quran dan Sunnah Rasulullah."

Wafatnya Nabi Muhammad s.a.w

Baginda telah wafat pada bulan Jun tahun 632 M/12 Rabiul Awal tahun 11 Hijrah. Baginda wafat setelah selesai melakukan tugasnya sebagai rasul dan pemimpin negara. Baginda berjaya membawa insan ke jalan yang benar dan menjadi seorang pemimpin yang bertanggungjawab, arif dan berkebolehan. Rasulullah ialah pola terbaik bagi semua insan sepanjang zaman.



Wednesday, 19 February 2020

Solusi Dalam Keadaan Terjepit




🌹 بسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

🌹 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tatkala Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam telah terpojok di dalam gua Tsaur, dan sahabat Abu Bakar radhiallahu 'anhu mulai galau, merasa sesaat lagi akan tertangkap.
.
Pada dikala kritis semacam ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menawarkan keteladanan perilaku yang benar dengan bersabda:
.
يَا أَبَا بَكْرٍ مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا
.
Wahai Abu Bakar, apa pradugamu dengan dua orang yang selalu didampingi oleh Allah dengan pertolongan-Nya ? (Mutafaqun 'alaih)
.
Keteladanan di atas benar-benar telah dijiwai oleh para sahabat, sehingga pada dikala peperangan seusai perang Uhud, sebagian insan media utusan Quraisy berusaha meruntuhkan mentalitas ummat Islam. Media Quraisy tersebut berkata: "Sesungguhnya seluruh insan telah bersatu padu memerangi kalian".
.
Namun di luar dugaan, dengan tetap tenang, tanpa ada rasa takut sedikitpun, para sahabat menjawab insan media utusan Quraisy tersebut dengan berkata:
.
حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
.
"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah yaitu sebaik-baik Pelindung."
.
Dan ternyata kesannya luar biasa; pemberian Allah benar benar menyertai mereka:
.
فَانقَلَبُواْ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُواْ رِضْوَانَ اللّهِ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ
.
Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak menerima tragedi apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah memiliki karunia yang besar. (Ali Imran 173-174)
.
Sobat! Mari kita selesaikan aneka macam problematika dan tantangan hidup ini dengan kembali kepada Allah Ta'ala. Letakkan segala daya dan upaya yang anda miliki, dan segera sandarkan diri anda kepada daya dan pemberian Allah Ta'ala, percayakan segala urusan anda kepada-Nya, pasti anda bahagia. (fb)

Sunday, 16 February 2020

Asal Mula Janggut Nabi Harun Berwarna Dua


Nabi Musa a.s. telah diperintahkan oleh Allah s.w.t. semoga pergi ke bukit Sina untuk mendapatkan wahyu. Semasa pemergian Nabi Musa, segala urusan telah diserahkan kepada saudaranya Nabi Harun a.s. Pemergian Nabi Musa mengambil masa selama 40 hari dan 40 malam.

Ketiadaan Nabi Musa a.s telah mengembirakan seorang musuh dalam selimut berjulukan Samiri. Dia telah memunafaat masa ini untuk menyesatkan kaum Nabi Musa yang selama ini telah bersusah payah membentuk dan memberi keimanan kepada mereka. Sewaktu Nabi Musa menyeberangi Laut Merah sesudah pulang dari Mesir, kaki kuda yang ditunggangi oleh Nabi Musa telah karam dalam pasir di tengah lautan yang kering itu. Dengan segala perjuangan yang dilakukan oleh Nabi Musa, kuda yang ditungganginya tetap tidak mahu meneruskan perjalanan untuk menyeberangi Laut Merah.

Kerana itu Allah telah mengutuskan malaikat Jibrail dengan menunggang kuda betina. Melihat lawan sejenisnya kuda yang ditunngangi oleh Nabi Musa telah mengejar kuda yang ditunggangi oleh Malaikat Jibrail. Samiri yang ikut serta dalam rombongan tersebut telah mengambil segenggam pasir bekas tapak kaki kuda yang ditunggangi oleh Jibrail dan disimpannya untuk dijadikan azimat.

Apabila tiba masa yang sesuai iaitu semasa Nabi Musa bersunyi di Bukit Sina, Samiri menciptakan patung seekor lembu daripada emas murni. Setelah siap, patung itu diisinya dengan pasir yang di ambil dari bekas tapak kaki kuda Jibrail. Dalam waktu yang singkat sahaja patung lembu tersebut sanggup mengeluarkan suara. Melihat keadaan tersebut, umat Nabi Musa tiba berduyun-duyun kepada Samiri. Samiri memimpin mereka menyembah patung lembu yang menakjubkan itu.

Nabi Harun sangat murka sesudah melihat umatnya menyembah berhala, kemudian berusaha mencegah umatnya daripada terus syirik kepada Allah bahkan umatnya mengancam Nabi Harun untuk membunuhnya jikalau Nabi Harun terus melarang mereka meyembah patung lembu tersebut. Nabi Harun tidak sanggup berbuat apa-apa untuk melarang mereka daripada terus menyembah patung tersebut. Setelah kembali daripada Bukit Sina, Nabi Musa sangat murka kerana melihat umatnya telah murtad.

Nabi Harun telah di persalahkan dalam hal ini. Dalam keadaan murka yang tidak sanggup dikawal Nabi Musa telah menarik janggut Nabi Harun mengakibatkan janggut yang dipegang oleh Nabi Musa telah bertukar menjadi putih manakala janggut yang tidak terkena tangan Nabi Musa baka berwarna hitam. Sejak itu janggut Nabi Harun memiliki dua warna iaitu putih dan hitam.

Saturday, 15 February 2020

Kisah Abu Asing Nabi Muhammad Saw (Selesai)



Malaikat-malaikat itu terlihat oleh orang kafir dan orang mukmin. Banyak kesaksian, pasukan-pasukan kafir Quraisy dihabisi secara tragis oleh para malaikat.

Ada yang tiba-tiba mati, padahal tidak sedang berhadapan dengan orang-orang beriman.



Setelah melemparkan segenggam bubuk tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta kepada para sahabatnya supaya berlaku jujur. Yakni jujur dalam niat, jihad untuk Allah Ta’ala dan Nabi-Nya, juga berlaku jujur dikala berhadapan dengan musuh.

Salah satu episode jihad Badar ini juga menjadi penyemangat kaum Muslimin selesai zaman. Bahwa kemenangan merupakan hadiah dari Allah Ta’ala. Orang beriman hanya wajib berupaya dan melaksanakan sebaik-baik usaha.

Selebihnya, Allah Ta’ala punya kuasa. Sehingga dalam ayat ini disebutkan dengan sangat jelas, “Maka bukan kau yang membunuh mereka, melainkan Allah-lah yang membunuh mereka. Dan bukan kau yang melempar (debu) dikala kau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” (Qs. Al-Anfal [8]: 17). [Kisahikmah/Mbah Pirman]