Tuesday, 25 February 2020

Kisah Pohon Sahabi Sobat Yang Menaungi Nabi Muhammad Saw



Sebuah pohon besar nan rimbun bangkit tegak di tengah hamparan gurun pasir di Yordania. Pohon ini bukanlah pohon biasa. Pohon ini dahulu menjadi saksi dan bukti kenabian Muhammad Saw.

Di bawah pohon inilah dahulu Nabi Muhammad Saw. pernah berteduh dalam perjalanan niaganya ke Syam. Pohon itu dikenal dengan nama Pohon Sahabi.

Pohon ini ditemukan kembali oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad dari Ammen, Yordania. Pangeran asal Yordania ini menemukan kisah mengenai pohon rindang di tengah gurun itu sehabis dirinya mempelajari beberapa catatan dan naskah kuno. Dalam naskah-naskah usang tersebut disebutkan ada sebuah pohon yang terletak di tengah-tengah gurun.

Setelah dilakukan penelusuran, yang juga turut dihadiri oleh mufti agung Suriah berjulukan Syeikh Ahmad Hassoun, dipastikan bahwa pohon yang diceritakan itu tak lain yaitu pohon Sahabi. Pohon ini bangkit kokoh sendirian di tengah padang pasir, dimana bahkan di sekelilingnya tak ditumbuhi rumput sedikit pun juga.

Selain itu, keistimewaan lainnya yaitu usia pohon ini yang telah mencapai ribuan tahun. Raja Abdullah II dari Yordania bahkan menyebut pohon ini “The Blessed Tree“.

Pohon Sahabi yang masih tetap hidup dan tumbuh dengan subur sendirian di bawah terik panas matahari gurun pasir Yordania, sanggup jadi memang ingin ditunjukkan oleh Allah sebagai bukti sekaligus saksi sejarah kenabian Rasulullah Saw.

Bagaimana kisahnya,silakan lanjut membaca.

Diceritakan, ketika Muhammad kecil melaksanakan perjalanan ke Syam untuk mengikuti pamannya berdagang, ada sebuah kejadian unik yang menceritakan bahwa Muhammad kecil yaitu seorang calon nabi terakhir menyerupai ramalan dalam kitab seorang pendeta dari Syam.

Salah seorang pakar tafsir ternama, Muhammad Ibn Jarir At-Tabari menceritakan perihal kisah pendeta Buhaira yang bertemu dengan Muhammad kecil. Saat itu Nabi Muhammad Saw. berusia 9 atau 12 tahun, ia bersama pamannya Abu Thalib dalam perjalanan untuk berdagang ke negara Syam.

Buhaira bertemu dengan kelompok pedagang tersebut dan mengajak mereka untuk beristirahat sejenak. Akan tetapi sebelumnya Buhaira sudah menerima firasat kalau ia akan bertemu dengan sang nabi terakhir.

Semua tamu yang dipersilakan mampir ke rumahnya diamati oleh beliau. Namun tak satupun di antara mereka yang memilki gejala mukjizat menyerupai yang disebutkan di dalam kitabnya.

Namun, sehabis diteliti ternyata masih ada satu anggota yang tidak ikut masuk ke rumah Buhaira. Karena Muhammad kecil disuruh menunggu di bawah pohon untuk menjaga unta-unta mereka.

Dengan mengamati dari kejauhan, Buhaira sangat takjub menyaksikan cabang pohon tersebut saling merunduk untuk melindungi Muhammad kecil. Buhaira balasannya meminta biar Muhammad kecil diajak masuk juga untuk berteduh dan bersantap.

Setelah diteliti dan dibocorkan dengan aneka macam gejala dalam kitabnya, Buhaira tambah yakin kalau Muhammad kecil yaitu calon seorang nabi yang telah diramalkan kemunculannya.

Kemudian Buhaira berpesan kepada Abu Thalib untuk menjaga Muhammad kecil, sebab suatu dikala nanti ia akan membawa keberkahan dan kedamaian bagi seluruh umat manusia.

1.400 tahun telah berlalu, namun pohon yang pernah meneduhkan Muhammad kecil itu hingga dikala ini masih bangkit tegak, dan pohon ini menjadi satu-satunya pohon yang berhasil hidup di tengah gurun yang sangat panas.

Pohon yang menjadi saksi atas kerasulan Muhammad disebut dengan pohon Sahabi. Sekarang pohon ini dilestarikan dan dijaga oleh pemerintah Yordania. Sekelilingnya dilindungi pagar dan keberadaannya dipantau secara rutin. Sekalipun begitu pengunjung tetap sanggup menyentuh dan berlindung di bawahnya.

Monday, 24 February 2020

Kisah Nabi Muhammad Saw Membelah Bulan




Di zaman Jahilliyah hiduplah raja berjulukan Habib bin Malik di Syam, ia penyembah berhala yang fanatik dan menentang serta membenci agama yang didakwahkan Rasulullah Saw.

Suatu hari Abu Jahal menyurati Raja Habib bin Malik perihal Rasulullah Saw.

Surat itu membuatnya ingin tau dan ingin bertemu dengan Rasulullah Saw, dan membalas surat itu Ia akan berkunjung ke Mekah.
Pada hari yang telah ditentukan berangkatlah Ia dengan 10.000 orang ke Mekah.

Sampai di Desa Abtah, bersahabat Mekah, ia mengirim utusan untuk memberitahu Abu Jahal bahwa Dia telah tiba di perbatasan Mekah.
Maka disambutlah Raja Habib oleh Abu Jahal dan pembesar Quraisy.

"Seperti apa sih Muhammad itu......?"
Tanya Raja Habib sehabis bertemu dengan Abu Jahal.

"Sebaiknya Tuan tanyakan kepada Bani Haasyim," jawab Abu Jahal.
Lalu Raja Habib menanyakan kepada Bani Hasyim.

"Di masa kecilnya, Muhammad yaitu anak yang sanggup di percaya, jujur, dan baik budi.
Tapi, semenjak berusia 40 tahun, Ia mulai mengembangkan agama baru, menghina dan menyepelekan tuhan-tuhan kami.

Ia mengembangkan agama yang bertentangan dengan agama warisan nenek moyang kami," jawab salah seorang keluarga Bani Hasyim.

Raja Habib memerintahkan untuk menjemput Rasulullah Saw, dan menyuruh untuk memaksa bila Ia tidak mau datang.

Dengan memakai jubah merah dan sorban hitam, Rasulullah Saw tiba bersama Abu Bakar As Siddiq ra, dan Khadijah ra.
Sepanjang jalan Khadijah Ra, menangis alasannya yaitu khawatir akan keselamatan suaminya, demikian pula Abu Bakar ra.

"Kalian jangan takut, kita serahkan semua urusan kepada Allah ﷻ " Kata Rasulullah Saw.
Sampai di Desa Abthah, Rasulullah Saw di sambut dengan ramah dan dipersilahkan duduk di dingklik yang terbuat dari emas.

Ketika Rasulullah Saw duduk di dingklik tersebut, memancarlah cahaya kemilau dari wajahnya yang berwibawa, sehingga yang menyaksikannya tertegun dan kagum
Maka berkata Raja Habib:

"Wahai Muhammad setiap Nabi mempunyai mukjizat, mukjizat apa yang Engkau miliki.................?"
Dengan hening Rasulullah Saw balik bertanya:
"Mukjizat apa yang Tuan kehendaki................?"

Raja Habib bin Malik Menjawab:
"Aku menghendaki matahari yang tengah bersinar engkau tenggelamkan, kemudian munculkanlah bulan.

Lalu turunkanlah bulan ke tanganmu, belah menjadi dua bagian, dan masukkan masing-masing ke lengan bajumu sebelah kiri dan kanan.

Kemudian keluarkan lagi dan satukan lagi. Lalu suruhlah bulan mengakui engkau yaitu Rasul.

Setelah itu kembalikan bulan itu ke tempatnya semula.

Jika engkau sanggup melakukannya, saya akan beriman kepadamu dan mengakui kenabianmu,"....

Mendengar itu Abu Jahal sangat gembira, niscaya Rasulullah Saw tidak sanggup melakukannya.
Dengan tegas dan yakin Rasulullah Saw menjawab: "Aku penuhi undangan Tuan."
Kemudian Rasulullah Saw berjalan ke arah Gunung Abi Qubaisy dan shalat dua rakaat.
Usai shalat, Beliau Saw berdoa dengan menengadahkan tangan tinggi-tinggi, semoga undangan Raja Habib terpenuhi.

Seketika itu juga tanpa diketahui oleh siapapun juga turunlah 12.000 malaikat.

Maka berkatalah malaikat:
"Wahai Rasulullah, Allah memberikan salam kepadamu.

Allah berfirman: 'Wahai kekasih-Ku, janganlah engkau takut dan ragu. Sesungguhnya Aku senantiasa bersamamu. Aku telah menetapkan keputusan-Ku semenjak Zaman Azali.'

Tentang undangan Habib bin Malik, pergilah engkau kepadanya untuk menunjukan kerasulanmu. Sesungguhnya Allah yang menjalankan matahari dan bulan serta mengganti siang dengan malam.

Habib bin Malik mempunyai seorang putri cacat, tidak punya kaki dan tangan serta buta. Allah ﷻ telah menyembuhkan anak itu, sehingga ia sanggup berjalan, meraba dan melihat."

Lalu bergegaslah Rasulullah Saw turun menjumpai orang kafir, sementara bias cahaya kenabian yang memantul dari wajahnya semakin bersinar.

Waktu itu matahari telah beranjak senja, matahari hampir tenggelam, sehingga suasananya remang-remang
Tak usang kemudian Rasulullah Saw berdoa semoga bulan segera terbit.
Maka terbitlah bulan dengan sinar yang benderang.

ILUSTRASI Terbelahnya Bulan Lalu dengan dua jari Rasulullah Saw mengisyaratkan semoga bulan itu turun ke pada nya
Tiba-tiba suasana jadi amat menegangkan saat terdengar bunyi gemuruh yang dahsyat.
Segumpal awan mengiringi turunnya bulan ke tangan Rasulullah Saw.

Segera sehabis itu Beliau rosulalloh membelahnya menjadi dua bagian, kemudian Beliau masukkan ke lengan baju kanan dan kiri.
Tidak usang kemudian, Beliau rosulalloh mengeluarkan potongan bulan itu dan menyatukannya kembali.

Dengan sangat takjub orang-orang menyaksikan Rasulullah Saw menggengam bulan yang bersinar dengan indah dan cemerlang.

Bersamaan dengan itu bulan mengeluarkan suara:
"Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh."
Menyaksikan keajaiban itu, pikiran dan perasaan semua yang hadir terguncang.
Sungguh, ini bukan mimpi, melainkan sebuah bencana yang nyata............!

Sebuah mukjizat luar biasa ahli yang disaksikan sendiri oleh Raja Habib bin Malik.
Ia menyadari, itu tak mungkin terjadi pada insan biasa, meski ia lihai dalam ilmu sihir sekalipun.....!

Namun, hati Raja Habib masih beku.
Maka ia pun berkata, "Aku masih mempunyai syarat lagi untuk mengujimu."

Belum lagi Raja Habib sempat melanjutkan ucapannya, Rasulullah memotong pembicaraan,
"Engkau mempunyai putri yang cacat, bukan...............?

Sekarang, Allah ﷻ telah menyembuhkannya dan menjadikannya seorang putri yang sempurna."
Raja Habib pun terkejut alasannya yaitu tidak ada siapapun yang tahu penyakit anaknya itu yaitu lumpuh dan matanya buta kecuali orang-orang istana dan mereka yang bersahabat dengannya saja.
Mendengar itu, betapa gembiranya hati Raja Habib.

Spontan ia pun bangun dan berseru,
"Hai penduduk Mekah.........!
Kalian yang telah beriman jangan kembali kafir, alasannya yaitu tidak ada lagi yang perlu diragukan.

Ketahuilah, sebenarnya saya bersaksi: tiada Tuhan selain Allah dan tiada sekutu baginya;
dan saya bersaksi sebenarnya Muhammad yaitu Utusan dan hamba-Nya...!"

Melihat semua itu Abu Jahal jengkel dan marah, dengan emosi berkata kepada Raja Habib:

"Wahai...! Raja Habib engkau beriman kepada tukang sihir ini, hanya alasannya yaitu menyaksikan kehebatan sihirnya...............?"
Namun Raja Habib tidak menghiraukannya dan berkemas untuk pulang.

Sampai di pintu gerbang istana, putrinya yang sudah sempurna, menyambutnya sambil mengucapkan dua kalimat sahadat.
Tentu saja Raja Habib terkejut.

"Wahai putriku, darimana kau mengetahui ucapan itu............
?

Siapa yang mengajarimu.............?"
"Aku bermimpi didatangi seorang lelaki tampan rupawan yang memberi tahu ayah telah memeluk Islam.

Dia juga berkata, kalau saya menjadi muslimah, anggota tubuhku akan lengkap. Tentu saja saya mau, kemudian saya mengucapkan dua kalimat sahadat," jawab sang putri.
Maka seketika itu juga Raja Habib pun bersujudlah sebagai tanda syukur kepada Allah ﷻ
Subhanalloh
INNADINNA INDALLOHIL ISLAM
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ
Dikutip dari Kitab: Durrotun
Nashihin
Bab Mu'jizat Nabi ﷺ

Komunitas Pecinta Waliyullah

Saturday, 22 February 2020

Kisah Nabi Muhammad Saw


Pada waktu umat insan dalam kegelapan dan suasana jahiliyyah, lahirlah seorang bayi pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah di Makkah. Bayi yang dilahirkan bakal membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban manusia. Bapa bayi tersebut berjulukan Abdullah bin Abdul Mutallib yang telah wafat sebelum baginda dilahirkan iaitu sewaktu baginda 7 bulan dalam kandungan ibu. Ibunya berjulukan Aminah binti Wahab. Kehadiran bayi itu disambut dengan penuh kasih sayang dan dibawa ke ka'abah, kemudian diberikan nama Muhammad, nama yang belum pernah wujud sebelumnya.

Selepas itu Muhammad disusukan selama beberapa hari oleh Thuwaiba, budak suruhan Abu Lahab sementara menunggu kedatangan perempuan dari Banu Sa'ad. Adat menyusukan bayi sudah menjadi kebiasaan bagi bangsawan-bangsawan Arab di Makkah. Akhir tiba juga perempuan dari Banu Sa'ad yang berjulukan Halimah bin Abi-Dhuaib yang pada mulanya tidak mahu mendapatkan baginda kerana Muhammad seorang anak yatim. Namun begitu, Halimah membawa pulang juga Muhammad ke pedalaman dengan impian Tuhan akan memberkati keluarganya. Sejak diambilnya Muhammad sebagai anak susuan, kambing ternakan dan susu kambing-kambing tersebut semakin bertambah. Baginda telah tinggal selama 2 tahun di Sahara dan setelah itu Halimah membawa baginda kembali kepada Aminah dan membawa pulang semula ke pedalaman.

Kisah Dua Malaikat dan Pembedahan Dada Muhammad

Pada usia dua tahun, baginda didatangi oleh dua orang malaikat yang muncul sebagai lelaki yang berpakaian putih. Mereka bertanggungjawab untuk membedah Muhammad. Pada ketika itu, Halimah dan suaminya tidak menyedari akan insiden tersebut. Hanya anak mereka yang sebaya menyaksikan kedatangan kedua malaikat tersebut kemudian mengkhabarkan kepada Halimah. Halimah lantas mengusut keadaan Muhammad, namun tiada kesan yang abnormal ditemui.

Muhammad tinggal di pedalaman bersama keluarga Halimah selama lima tahun. Selama itu baginda menerima kasih sayang, kebebasan jiwa dan penjagaan yang baik daripada Halimah dan keluarganya. Selepas itu baginda dibawa pulang kepada datuknya Abdul Mutallib di Makkah.

Datuk baginda, Abdul Mutallib amat mengasihi baginda. Ketika Aminah membawa anaknya itu ke Madinah untuk bertemu dengan saudara-maranya, mereka ditemani oleh Umm Aiman, budak suruhan perempuan yang ditinggalkan oleh bapa baginda. Baginda ditunjukkan tempat wafatnya Abdullah serta tempat beliau dikuburkan.

Sesudah sebulan mereka berada di Madinah, Aminah pun bersiap sedia untuk pulang semula ke Makkah. Dia dan rombongannya kembali ke Makkah menaiki dua ekor unta yang memang dibawa dari Makkah semasa mereka tiba dahulu. Namun begitu, ketika mereka hingga di Abwa, ibunya pula jatuh sakit dan balasannya meninggal dunia kemudian dikuburkan di situ juga.
Muhammad dibawa pulang ke Makkah oleh Umm Aiman dengan perasaan yang sangat sedih. Maka jadilah Muhammad sebagai seorang anak yatim piatu. Tinggallah baginda dengan datuk yang dicintainya dan bapa-bapa saudaranya.

"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, kemudian Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang resah kemudian Dia menunjukkan petunjuk" (Surah Ad-Dhuha, 93: 6-7)

Abdul Mutallib Wafat

Kegembiraannya bersama datuk baginda tidak bertahan lama. Ketika baginda berusia lapan tahun, datuk baginda pula meninggal dunia. Kematian Abdul Mutallib menjadi satu kehilangan besar buat Bani Hashim. Dia memiliki keteguhan hati, berwibawa, pandangan yang bernas, terhormat dan besar lengan berkuasa dikalangan orang Arab. Dia selalu menyediakan masakan dan minuman kepada para tetamu yang berziarah dan membantu penduduk Makkah yang dalam kesusahan.

Muhammad diasuh oleh Abu Talib

Selepas kewafatan datuk baginda, Abu Talib mengambil alih kiprah bapanya untuk menjaga anak saudaranya Muhammad. Walaupun Abu Talib kurang bisa berbanding saudaranya yang lain, namun beliau memiliki perasaan yang paling halus dan terhormat di kalangan orang-orang Quraisy.Abu Talib mengasihi Muhammad menyerupai beliau mengasihi anak-anaknya sendiri. Dia juga tertarik dengan budi pekerti Muhammad yang mulia.

Pada suatu hari, ketika mereka berkunjung ke Syam untuk berdagang sewaktu Muhammad berusia 12 tahun, mereka bertemu dengan seorang rahib Kristian yang telah sanggup melihat gejala kenabian pada baginda. Lalu rahib tersebut menasihati Abu Talib supaya tidak pergi jauh ke kawasan Syam kerana dikhuatiri orang-orang Yahudi akan menyakiti baginda sekiranya diketahui gejala tersebut. Abu Talib mengikut nasihat rahib tersebut dan beliau tidaak banyak membawa harta dari perjalanan tersebut. Dia pulang segera ke Makkah dan mengasuh anak-anaknya yang ramai. Muhammad juga telah menjadi sebahagian dari keluarganya. Baginda mengikut mereka ke pekan-pekan yang berdekatan dan mendengar sajak-sajak oleh penyair-penyair populer dan pidato-pidato oleh penduduk Yahudi yang anti Arab.

Baginda juga diberi kiprah sebagai pengembala kambing. Baginda mengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Baginda selalu berfikir dan merenung wacana insiden alam semasa menjalankan tugasnya. Oleh lantaran itu baginda jauh dari segala pemikiran insan nafsu insan duniawi. Baginda terhindar daripada perbuatan yang sia-sia, sesuai dengan gelaran yang diberikan iaitu "Al-Amin".

Selepas baginda mula meningkat dewasa, baginda disuruh oleh bapa saudaranya untuk membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwailid, seorang peniaga yang kaya dan dihormati. Baginda melakukan tugasnya dengan penuh tulus dan jujur. Khadijah amat tertarik dengan perwatakan mulia baginda dan keupayaan baginda sebagai seorang pedagang. Lalu beliau meluahkan rasa hatinya untuk berkahwin dengan Muhammad yang berusia 25 tahun ketika itu. Wanita darah biru yang berusia 40 tahun itu sangat bangga apabila Muhammad mendapatkan lamarannya kemudian berlangsunglah perkahwinan mereka berdua. Bermulalah lembaran gres dalam hidup Muhammad dan Khadijah sebagai suami isteri.

Turunnya Wahyu Pertama

Pada usia 40 tahun, Muhammad telah mendapatkan wahyu yang pertama dan diangkat sebagai nabi sekelian alam. Ketika itu, baginda berada di Gua Hira' dan sentiasa merenung dalam kesunyian, memikirkan nasib umat insan pada zaman itu. Maka datanglah Malaikat Jibril menyapa dan menyuruhnya membaca ayat quran yang pertama diturunkan kepada Muhammad.

"Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan" (Al-'Alaq, 96: 1)

Rasulullah pulang dengan penuh rasa gementar kemudian diselimuti oleh Khadijah yang cuba menenangkan baginda. Apabila semangat baginda mulai pulih, diceritakan kepada Khadijah wacana insiden yang telah berlaku.

Kemudian baginda mula berdakwah secara sembunyi-sembunyi bermula dengan kaum kerabatnya untuk mengelakkan kecaman yang mahir daripada penduduk Makkah yang menyembah berhala. Khadijah isterinya ialah perempuan pertama yang mempercayai kenabian baginda. Manakala Ali bin Abi Talib ialah lelaki pertama yang beriman dengan pedoman baginda.Dakwah yang sedemikian berlangsung selama tiga tahun di kalangan keluarganya sahaja.

Dakwah Secara Terang-terangan

Setelah turunnya wahyu memerintahkan baginda untuk berdakwah secara terang-terangan, maka Rasulullah pun mula mengembangkan pedoman Islam secara lebih meluas.

"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." (Al-Hijr, 15:94)

Namun begitu, penduduk Quraisy menentang keras pedoman yang dibawa oleh baginda. Mereka memusuhi baginda dan para pengikut baginda termasuk Abu Lahab, bapa saudara baginda sendiri. Tidak pula bagi Abu Talib, beliau selalu melindungi anak saudaranya itu namun beliau sangat risau akan keselamatan Rasulullah memandangkan saingan yang mahir dari kaum Quraisy itu. Lalu beliau bertanya wacana rancangan Rasulullah seterusnya. Lantas jawab Rasulullah yang bermaksud:

"Wahai bapa saudaraku, andai matahari diletakkan diletakkan di tangan kiriku dan bulan di tangan kananku, semoga saya menghentikan permintaan ini, saya tidak akan menghentikannya sehingga agama Allah ini meluas ke segala penjuru atau saya binasa kerananya"

Baginda menghadapi pelbagai tekanan, dugaan, penderitaan, cemuhan dan olok-olokan daripada penduduk-penduduk Makkah yang jahil dan keras hati untuk beriman dengan Allah. Bukan Rasulullah sahaja yang mendapatkan saingan yang sedemikian, malah para sahabatnya juga turut merasai penderitaan tersebut menyerupai Amar dan Bilal bin Rabah yang mendapatkan siksaan yang berat.

Wafatnya Khadijah dan Abu Talib

Rasulullah amat duka melihat tingkahlaku insan ketika itu terutama kaum Quraisy kerana baginda tahu akan akhir yang akan diterima oleh mereka nanti. Kesedihan itu makin bertambah apabila isteri kesayangannya wafat pada tahun sepuluh kenabiaannya. Isteri bagindalah yang tidak pernah jemu membantu mengembangkan Islam dan mengorbankan jiwa serta hartanya untuk Islam. Dia juga tidak jemu menghiburkan Rasulullah di ketika baginda dirundung kesedihan.

Pada tahun itu juga bapa saudara baginda Abu Talib yang mengasuhnya semenjak kecil juga meninggal dunia. Maka bertambahlah kesedihan yang dirasai oleh Rasulullah kerana kehilangan orang-orang yang amat disayangi oleh baginda.

Hijrah Ke Madinah

Tekanan orang-orang kafir terhadap usaha Rasulullah semakin mahir selepas kepergian isteri dan bapa saudara baginda. Maka Rasulullah mengambil keputusan untuk berhijrah ke Madinah berikutan bahaya daripada kafir Quraisy untuk membunuh baginda.

Rasulullah disambut dengan meriahnya oleh para penduduk Madinah. Mereka digelar kaum Muhajirin manakala penduduk-penduduk Madinah dipanggil golongan Ansar. Seruan baginda diterima baik oleh kebanyakan para penduduk Madinah dan sebuah negara Islam didirikan di bawah pimpinan Rasulullas s.a.w sendiri.

Negara Islam Madinah

Negara Islam yang gres dibina di Madinah menerima saingan daripada kaum Quraisy di Makkah dan gangguan dari penduduk Yahudi serta kaum bukan Islam yang lain. Namun begitu, Nabi Muhammad s.a.w berjaya juga menubuhkan sebuah negara Islam yang mengamalkan sepenuhnya pentadbiran dan perundangan yang berlandaskan syariat Islam. Baginda dilantik sebagai ketua agama, tentera dan negara. Semua rakyat menerima hak yang saksama. Piagam Madinah yang merupakan sebuah kanun atau perjanjian bertulis telah dibentuk. Piagam ini mengandungi beberapa fasal yang melibatkan relasi antara semua rakyat termasuk kaum bukan Islam dan merangkumi aspek politik, sosial, agama, ekonomi dan ketenteraan. Kandungan piagam ialah menurut wahyu dan dijadikan dasar undang-undang Madinah.

Islam ialah agama yang mementingkan kedamaian. Namun begitu, aspek pertahanan amat penting bagi melindungi agama, masyarakat dan negara. Rasulullah telah menyertai 27 kali ekspedisi tentera untuk mempertahan dan menegakkan keadilan Islam. Peperangan yang ditempuhi baginda ialah Perang Badar (623 M/2 H), Perang Uhud (624 M/3 H), Perang Khandak (626 M/5 H) dan Perang Tabuk (630 M/9 H). Namun tidak semua peperangan diakhiri dengan kemenangan.

Pada tahun 625 M/ 4 Hijrah, Perjanjian Hudaibiyah telah dimeterai antara penduduk Islam Madinah dan kaum Musyrikin Makkah. Maka dengan itu, negara Islam Madinah telah diiktiraf. Nabi Muhammad s.a.w. juga telah berjaya membuka semula kota Makkah pada 630 M/9 H bersama dengan 10 000 orang para pengikutnya.

Perang terakhir yang disertai oleh Rasulullah ialah Perang Tabuk dan baginda dan pengikutnya berjaya menerima kemenangan. Pada tahun berikutnya, baginda telah menunaikan haji tolong-menolong dengan 100 000 orang pengikutnya. Baginda juga telah memberikan amanat baginda yang terakhir pada tahun itu juga. Sabda baginda yang bermaksud:

"Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahawa Tuhan kau Maha Esa dan kau semua ialah daripada satu keturunan iaitu keturunan Nabi Adam a.s. Semulia-mulia insan di antara kau di sisi Allah s.w.t. ialah orang yang paling bertakwa. Aku telah tinggalkan kepada kau dua masalah dan kau tidak akan sesat selama-lamanya selagi kau berpegang teguh dengan dua masalah itu, iaitu kitab al-Quran dan Sunnah Rasulullah."

Wafatnya Nabi Muhammad s.a.w

Baginda telah wafat pada bulan Jun tahun 632 M/12 Rabiul Awal tahun 11 Hijrah. Baginda wafat setelah selesai melakukan tugasnya sebagai rasul dan pemimpin negara. Baginda berjaya membawa insan ke jalan yang benar dan menjadi seorang pemimpin yang bertanggungjawab, arif dan berkebolehan. Rasulullah ialah pola terbaik bagi semua insan sepanjang zaman.