Friday, 14 February 2020

Diaspora Aceh Di Mesir


KALAULAH makna ‘diaspora Indonesia’ menyerupai dikatakan Dino Pati Djalal semasa menjabat Dubes RI untuk Amerika Serikat, yaitu semua orang berdarah dan berbudaya Indonesia yang tinggal di luar wilayah Indonesia, maka tentulah semua orang berdarah Aceh di Mesir yang mayoritasnya mahasiswa, bisa dikatakan diaspora Aceh di Mesir. Setelah tentunya termasuk dalam diaspora Indonesia.

Adapun awal mula kedatangan orang Aceh ke Negeri Piramid ini yang tercatat sejarah, dimulai oleh Syekh Ismail bin Abdul Muthallib al-Asyi. Beliau ketua perhimpunan mahasiswa Melayu pertama di Mesir. Syekh Ismail ialah murid Syekh Ahmad Al-Fathani, perintis orang Melayu pertama berguru di Masjid Al-Azhar (1292-1299 H).
Ketika kembali ke Mekkah dia mendorong murid-muridnya untuk berguru di Mesir. Salah satu muridnya yang berangkat ke Mesir ialah Syekh Ismail bin Abdul Muthallib al-Asyi tersebut. Di antara sumbangsih dia ialah mentashih kitab-kitab ulama Aceh menyerupai Tajul Muluk dan Jam’u Jawami’il Mushannafat atau yang dikenal dengan Kitab Lapan.
Setelah itu, tak diketahui niscaya berapa jumlah orang Aceh yang tiba menuntut ilmu di “Negeri Para Anbiya” ini. Hingga pada tahun 1974 tercatat ada sepuluh orang mahasiswa Aceh di Mesir. Mereka pun berinisiatif mendirikan paguyuban Aceh berjulukan Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir.
Pemilihan kata keluarga menyiratkan bahwa perkumpulan ini lebih dari sekadar organisasi, tapi juga sebagai keluarga yang saling mengayomi dan menyayangi. Ketua pertamanya ialah Tgk Ilyas Daud, menjabat dari tahun 1974 sampai 1984. Kemudian KMA dipimpin Tgk Azman Ismail (sekarang Imam Besar Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh). Beliau memimpin KMA sampai tahun 1992.
Dengan berjalannya waktu, serta pesona Mesir dengan segala kelebihan dan kekurangannya, jumlah orang Aceh di sini pun terus bertambah. Ketika satu generasi selesai, tiba pula generasi baru. Hingga kini umur KMA Mesir telah masuk tahun ke-40 dan jumlah mahasiswa Aceh di Mesir ketika ini mencapai 226 orang.
Di KMA ini pula lahir media cetak pelajar absurd tertua di Mesir, berjulukan Buletin El-Asyi. Merasa perlu wadah kreasi dan komunikasi antaranggota KMA ketika itu, maka Tgk Fakhrul Ghazi (cucu Tgk Daud Beureueh) dan kawan-kawan menerbitkan edisi pertama buletin ini pada 1 Januari 1991. Pimpinan redaksinya dia sendiri. Seiring waktu, pimpinannya terus berganti setiap periode tertentu. Dengan semangat dan kerja keras kru di setiap generasinya, alhamdulillah buletin ini bisa bertahan sampai kini dan akan menuju edisi ke-119.
Masyarakat Aceh di Mesir meski menerima pendidikan dari orang Arab, tapi tidak serta merta lupa pada budaya aslinya. Rapa-i geleng dan saman terus dilestarikan. Bahkan sanggar seni Aneuk Nanggroe KMA sering diminta mewakili Indonesia dalam even internasional di Mesir.
Apabila masuk bulan maulid Nabi Muhammad saw, mahasiswa Aceh di Mesir juga mengadakan kenduri molod. Tidak kalah dengan yang di Aceh, masyarakat di sini juga mendaulat penceramah serta menampilkan grup selawat dan dikee (zikir) memuji baginda Nabi saw.
Tak hanya itu, solidaritas masyarakat Aceh di sini pun sangat kuat. Jika ada keluarga anggota KMA yang meninggal di Tanah Air, akan diadakan shalat mistik bersama dan tidak lupa dilaksanakan tahlilan (samadiah) dan bacaan Yasin sebagaimana di Aceh.
Pembinaan terhadap anggota gres juga selalu dilakukan. Ketika calon mahasiswa gres tiba di Mesir, mereka pribadi dibimbing memahami diktat kuliah tahun pertama. Kemudian diadakan try out ujian menyerupai di kampus, guna menghadapi ujian yang sesungguhnya nanti.
Hidup berdampingan dengan orang Mesir, memberi warna tersendiri bagi diaspora Aceh di negeri ini. Kedermawanan masyarakat pribumi, keikhlasan guru-guru, ketawadukan para masyayikh dan banyak sekali kebaikan yang telah diberikan kepada para penuntut ilmu, menjadi pola yang layak untuk dibawa pulang ke Tanah Air.
Namun, setiap daerah tentu mempunyai kekurangan, tak terkecuali Mesir. Terkadang terdapat perbenturan budaya yang kurang nyaman. Meski begitu, negeri Nabi Musa As ini tak pernah kehabisan pesona untuk menarik pendatang. Apalagi cagar budayanya luar biasa unik dan tua. Al-Azhar dengan manhaj wasathiah-nya pun tak henti-henti mengundang para pelajar Islam untuk menginjakkan kaki di negeri ini.
Tahun ini, misalnya, 13 mahasiswa gres asal Aceh tiba di Mesir untuk kuliah. Mereka ini menambah lagi kuantitas diaspora Aceh di Mesir.
Al-Azhar telah memuaskan dahaga penuntut ilmu agama selama ratusan tahun. Ia anugerah Allah bagi Mesir dan umat Islam. Insya Allah tradisi keilmuannya akan terus berlanjut. Semoga diaspora Aceh yang lahir dan berkembang dari rahim Azhar sanggup mengokohkan dan mewarnai sendi keislaman di Tanah Air ketika mereka kembali kelak.
*MUHAMMAD FAKHRUL ARRAZI, mahasiswa Fakultas Syariah Islamiah Universitas Al-Azhar, Pimred Buletin El-Asyi KMA Mesir, melaporkan dari Kairo
Tulisan ini telah dimuat pada website :




Thursday, 13 February 2020

Efek Invasi Budaya Korea



Oleh:Husna Hayati

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), invasi berarti penyerbuan ke dalam wilayah negara lain. Ketika salah seorang kru el-Asyi meminta menulis ihwal invasi film Korea, menuju arah pulang ke Mukattam, melewati bangunan pemakaman berwarna merah.Terbayang seolah zaman kembali ke masa lalu, ibarat mesin pemutar film zaman layar tancap memancarkan gambar tentara Tartar bergerak tegap siap menyerang.
Nah, lho…Tapi ternyata tentara yang mau melakukan  invasi dalam tema kita kali ini tidaklah setegap tentara-tentara Tartar, malah  cenderung gemulai.
Menulis sesuatu tentu saja harus mengetahui apa yang akan dituliskan. Maka mulailah saya bergerilya di youtube mencari lagu-lagu dengan kata kunci Boyband dan K-pop. Kenapa dua kata kunci itu? Hasil googling menawarkan kata-kata tersebut.

Mencoba menikmati musiknya, mengamati geraknya dan menganalisa apa yang dirasakan jiwa serta untuk menyelami apa kira-kira yang dirasakan ramaja- sampaumur hingga histeris ketika melihat idolanya tersebut manggung.
Hmm…Musik yang ceria, semangat, dengan video klip yang sangat menarik untuk dunia sampaumur menjadi latar belakangnya.

Benarkah refleksi budaya?

Secara umum, memang  jiwa insan punya kecenderungan dengan musik semangat, terlebih lagi bagi jiwa muda remaja. Awalnya terasa bising, tapi sedikit demi sedikit, mulai terasa ada gelombang yang sama untuk menerima. Semakin usang semakin bersahabat, terlebih ketika melihat gerakan- gerakan yang mengalahkan semangat gerakan senam.

Iseng- iseng saya juga searching dengan kata kunci “Mengapa suka film dan lagu  Korea?”

Wah, begitu banyak ternyata alasannya, tapi yang paling penting adalah, “Pelakunya yummy dipandang , suaranya empuk di telinga, mantap gerakan dance-nya, dan romantis gak ketulungan. Benar-benar membuai jiwa.

Rasa suka akan menciptakan seseorang itu mengikuti dan menjiplak hal yang disukainya. Dan insan dibangkitkan bersama yang dicintainya.

Begitu banyaknya film- film dan lagu- lagu  yang ditelurkan dari negeri ginseng tersebut, tentu saja butuh dana yang tidak sedikit. Sekedar untuk kewaspadaan, jikalau kita mengusut secara mendalam, sponsor- sponsor aliran dana yang tidak sedikit itu, mustahil mareka hanya sekedar main-main tanpa misi.

Selain laba bisnis, dunia musik dan perfilman yaitu dua hal yang ketika ini sulit sekali ditolak remaja, bahkan jikalau berniat menolak sekalipun. Karena tebaran pesonanya dan tarikan dari bulat lingkungan yang terus menerus menarik hati sekaligus memaksa, menciptakan  para sampaumur menerimanya sadar ataupun tidak.

Maka bagi pihak yang menginginkan perjaka muslim terjerembap dalam dunia awam, dunia mimpi yang jauh dari aturan yang Allah gariskan untuk keselamatan hidupnya, ini yaitu prospek yang sangat menjanjikan untuk menghancurkan kepribadian muslim, dengan efek laten yang dahsyat. Maka tentu saja mareka akan mengambil kesempatan ini untuk menyusupkan pemikiran yang mereka inginkan. Perlahan dan terus menerus.

Mind propaganda

Ivan Pavlov, ilmuwan asal Rusia dan peraih hadiah Nobel 1904 untuk psikologi dan ilmu medis, melalui teorinya tentang conditioned reflex atau involuntary reflex action, ia menyatakan, "Perilaku insan sanggup diatur atau dikondisikan sesuai proses pembelajaran yang diperolehnya."

Dalam sejarah modern, yaitu Adolf Hitler (1889-1945) orang pertama kali yang menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata. Ibarat komputer, mind atau formasi pikiran insan sanggup dimanipulasi, sanggup di-hack, bahkan sanggup disusupi virus untuk merusak seluruh jaringannya. Dalam autobiografinya (Mein Kampf), Hitler menulis, "Teknik propaganda secanggih apa pun tak akan berhasil bila terdapat hal yang terpenting tidak diperhatikan, yaitu membatasi kata-kata dan memperbanyak pengulangan."

Adegan- adegan dan pernyataan yang sering diulang- ulang dalam siaran televisi, membuat penonton menjadi sangat biasa dengan adegan tersebut. Meskipun ada adegan yang bernilai positif, akan tetapi tidak menutup kemungkinan ihwal adanya masalah negatif yang tidak layak diterima oleh seorang sampaumur muslim.

Di antara hasil dari efek pengulangan- pengulangan adegan dalam film dan lagu-lagu Korea adalah, minimal mereka akan terbiasa melihat aurat, musik laghwu menjadi kebutuhan jiwa dan pacaran dengan gaya abi umipun dirasa amat sangat wajar. Itu belum termasuk bergadang untuk menghabiskan 30 juz lebih disk- disk film yang mungkin menciptakan shalat subuh melayang lam pucok u.

Takdir hidup setiap insan berbeda. Jika ada sampaumur yang sedang mengalami duduk masalah dalam keluarga, dengan landasan keislaman yang belum  kokoh, sanggup jadi akan  menjadikan frustasi alasannya yaitu membandingkan tokoh di film dengan dirinya. Atau mungkin ia akan  menjadikan film dan lagu-lagu tersebut sebagai pelarian dari masalah.

Jadi, menuntaskan masalahnya bukan lagi dengan zikrullah atau shalat dan tilawah, tapi dengan melarikan diri dari masalah, dengan cara menenggelamkan diri dalam hiruk pikuk dunia lain, dunia film dan lagu yang liriknya lebih sering tidak diketahui artinya “Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya (Q.S. As Syams: 8).

Dalam jiwa manusia, Allah mengatakan dua potensi. Potensi kebaikan yang mengarahkan jiwa untuk mendekati Allah, dan potensi keburukan yang akan menarik insan untuk mendekati   hal yang disukai musuh Allah (syaitan). Sebagaimana kebutuhan raga akan makanan, begitu juga jiwa. Maka perlu kiranya diperhatikan masakan apa yang kita berikan ke jiwa, apakah masakan yang menguatkan potensi kebaikan dan melemahkan keburukan, ataupun sebaliknya.

Sederhananya, misalkan kita ingin menjadi seorang penghafal Al- Quran, maka jangan biarkan jiwa memakan masakan dari lagu-lagu dan film-film. Karena jiwa akan lapar lagi dan meminta untuk disuapi masakan ibarat yang diperkenalkan awalnya. Itulah salah satu alasan mengapa banyak sampaumur sulit melepaskan diri dari lagu-lagu yang terlanjur disukai.

Inilah hasil invasi yang sanggup eksklusif disaksikan kini disekitar kita. Bahkan mungkin orang-orang yang paling dekat dengan kita. Atau jangan-jangan kita sendiri. Na'uzubillah min zalik.

Teringat ketika pulang ke Aceh, murid saya bilang begini lebih kurang, “Bukan Cuma pegang tangan, tapi begini, begini….(ini adegan kasatmata atau adegan di film?)

Ini yaitu invasi. lebih mahir dari invasi Tartar yang menjadikan Baghdad berwarna merah dalam genangan darah dan hitam dalam asap ribuan buku yang terbakar. Invasi ini, yaitu invasi yang tidak butuh pasukan berkuda atau kereta baja. Ini invasi dengan alunan nada, ragam kisah, yang akan diterima dengan mulus, tanpa perlawanan. Mendikte otak secara terus menerus, dari awalnya menolak, menjadi membenarkan, hingga kesudahannya menerima, lalu  menjadi habit yang membentuk sebuah pribadi yang jauh dari tuntunan dinul-Islam.

Berhati- hatilah!

Invasi ini berjulukan ghazw al fikri (perang pemikiran). Dia merasuk lembut dalam sanubari, membelit urat-urat  saraf, kemudian menyatu dalam degup jantung, menjadi candu yang dirindui. Lalu kita akan menjadi makhluk terjajah yang merasa mardeka. Jika sudah begitu, jangan tanyakan lagi di mana aturan Allah. Kepada Allah kita mohonkan penjagaan.

*Penulis gres saja menuntaskan pendidikan S2 di Institut Liga Arab, Mesir

Tulisan ini sudah dimuat pada buletin el_Asyi edisi 119