Thursday, 2 January 2020

Keutamaan Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’An (1)

Keutamaan Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’An (1)
 alasannya ia mengetahui demikian banyak keutamaan dan keistimewaan yang Allah anugerahkan ke Keutamaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’an (1)


Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, Mengetahui keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong seseorang untuk mencintainya, mengikutinya dan ta’at kepadanya, alasannya ia mengetahui demikian banyak keutamaan dan keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, berupa keindahan sifatnya, akhlaknya, kebaikannya atas umat ini serta seluruh keutamaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah yang paling mulia di sisi Allah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki keutamaan yang sangat tinggi, yang tidak sanggup dicapai seorangpun dari seluruh makhluk yang lain di alam semesta ini. Di antara keutamaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan di dalam Al-Qur’an dan ada pula yang disebutkan di dalam hadits. Beberapa keutamaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur`an adalah:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sayang dan mengasihi umatnya

Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh telah tiba kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (kebaikan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah:128)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
وقوله : {عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ} أي : يعز عليه الشيء الذي يعنت أمته ويشق عليها  …وفي الصحيح :”إن هذا الدين يسر”  وشريعته كلها سهلة سمحة كاملة ، يسيرة على من يسرها الله تعالى عليه .
“Dan firman-Nya {عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ}, maksudnya sangat berat bagi dia sesuatu yang memberatkan umatnya dan menyulitkannya dan dalam Hadits shahih, ‘Sesungguhnya agama ini mudah’, dan syari’at-Nya semuanya simpel mudah lagi sempurna, simpel bagi orang yang Allah Ta’ala mudahkan.”
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,
{‏حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ‏}‏ فيحب لكم الخير، ويسعى جهده في إيصاله إليكم، ويحرص على هدايتكم إلى الإيمان، ويكره لكم الشر، ويسعى جهده في تنفيركم عنه‏.‏ ‏{‏بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ‏}‏ أي‏:‏ شديد الرأفة والرحمة بهم، أرحم بهم من والديهم‏.‏
ولهذا كان حقه مقدمًا على سائر حقوق الخلق، وواجب على الأمة الإيمان به، وتعظيمه، وتعزيره، وتوقيره
“{‏حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ‏}, maka dia mengasihi kebaikan untuk kalian dan berusaha dengan keras memberikan kebaikan kepada kalian, dan bersemangat memberi petunjuk kalian kepada keimanan dan membenci keburukan menimpa kalian, berusaha dengan keras semoga kalian jauh darinya. ‏{‏بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ‏}‏, maksudnya sangat belas kasihan lagi penyayang kepada mereka, melebihi kasih sayang orangtua mereka sendiri kepada diri mereka. Oleh alasannya inilah hak dia didahulukan atas hak-hak seluruh makhluk, dan wajib umat ini beriman kepada beliau, mengagungkannya, menghormatinya dan memuliakannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat semangat berdakwah dan mendidik umatnya.

Allah Ta’ala berfirman
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman saat Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan As-Sunnah. Dan sebenarnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka yaitu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imraan:164).
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
وقوله : { لقد من الله على المؤمنين إذ بعث فيهم رسولا من أنفسهم } أي : من جنسهم ليتمكنوا من مخاطبته وسؤاله ومجالسته والانتفاع به
“Dan firman Allah  {لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ} maksudnya (Allah mengutus seorang Rasul) dari jenis mereka (manusia), semoga mereka sanggup berkomunikasi dengannya, bertanya kepadanya, duduk menemaninya dan mengambil manfaat darinya.”
Beliau juga berkata:
فهذا أبلغ في الامتنان أن يكون الرسل إليهم منهم ، بحيث يمكنهم مخاطبته ومراجعته في فهم الكلام عنه ، ولهذا قال : { يتلو عليهم آياته } يعني : القرآن  {ويزكيهم } أي : يأمرهم بالمعروف وينهاهم عن المنكر لتزكو نفوسهم وتطهر من الدنس والخبث الذي كانوا متلبسين به في حال شركهم وجاهليتهم { ويعلمهم الكتاب والحكمة } يعني : القرآن والسنة { وإن كانوا من قبل } أي : من قبل هذا الرسول { لفي ضلال مبين } أي : لفي غي وجهل ظاهر جلي بين لكل أحد
“Hal ini merupakan bentuk mengingatkan atas nikmat yang paling mengena, yaitu (Allah jadikan) para Rasul-Nya yang diutus kepada mereka dari jenis mereka sendiri (manusia), sehingga memungkinkan mereka berkomunikasi dan menemuinya untuk bertanya perihal maksud ucapannya. Oleh alasannya itulah Allah berfirman: {يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ} maksudnya (membacakan) Al-Qur`an, {وَيُزَكِّيهِمْ} (membersihkan jiwa mereka) maksudnya memerintahkan mereka untuk melaksanakan masalah yang ma`ruf dan melarang mereka dari berbuat kemungkaran, semoga suci jiwa-jiwa mereka dan higienis dari kotoran serta keburukan yang dulu mereka lakukan saat masih karam dalam kesyirikan dan jahiliyyah.  {وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ} maksudnya (Mengajarkan) Al-Qur`an dan As-Sunnah, {وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ} maksudnya sebelum (pengutusan ) Rasulullah ini, لَفِي} ضَلَالٍ مُبِينٍ} maksudnya (mereka) benar-benar dalam penyimpangan dan kebodohan yang nampak terang dan kasatmata  bagi setiap orang.
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
{ ويزكيهم } من الشرك، والمعاصي، والرذائل، وسائر مساوئ الأخلاق
“{وَيُزَكِّيهِمْ} (membersihkan ) dari kesyirikan, kemaksiatan dan perkara-perkara yang hina dan akhlak-akhlak yang buruk.”
Beliau juga berkata:
{ وإن كانوا من قبل } بعثة هذا الرسول { لفي ضلال مبين } لا يعرفون الطريق الموصل إلى ربهم، ولا ما يزكي النفوس ويطهرها، بل ما زين لهم جهلهم فعلوه، ولو ناقض ذلك عقول العالمين
“{وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ} (sebelum) pengutusan Rasulullah ini, {لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ} tidak mengetahui jalan yang menghantarkan kepada Rabb mereka, tidak pula menghantarkan kepada sesuatu yang sanggup mensucikan jiwa dan membersihkannya, bahkan sesuatu yang dihiasi oleh kebodohan merekapun, mereka lakukan walaupun bertentangan dengan logika  sehat seluruh makhluk yang lainnya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah saksida’i ilallah pembawa kabar bangga dan pemberi peringatan serta cahaya yang menerangi.

Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
(45) Hai Nabi, sebenarnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan,
وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
(46) dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (A-Ahzaab: 45-46).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sifat-sifat (dalam Ayat) ini, yang Allah sifati dengannya Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, inilah tujuan, inti dan masalah yang pokok dari diutusnya dia (menjadi seorang Rasul), yang menjadi ciri khas beliau. Dan masalah tersebut yaitu lima sifat.”
Pertama
Beliau sebagai {شَاهِدًا }, maksudnya dia menjadi saksi atas umatnya berkenaan dengan perbuatan yang mereka lakukan, baik itu perbuatan kebaikan maupun keburukan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
{لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا}
Agar kalian (umat Islam) menjadi saksi atas (perbuatan) insan dan semoga Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (Al-Baqarah:143)
{ فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا }
Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila     Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu).” (An-Nisa`:41).  Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang saksi yang adil dan diterima persaksiannya.
Kedua dan ketiga
Beliau sebagai (pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan) {مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا}  dan ini mengharuskan untuk disebutkan siapakah orang yang diberi kabar bangga dan peringatan, serta apakah isi kabar bangga dan peringatannya tersebut beserta amal yang menyebabkannya. Adapun orang yang diberi kabar gembira adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa yang menggabungkan antara iman, amal shalih dan meninggalkan kemaksiatan, maka mereka berhak mendapat kabar bangga di kehidupan dunia, berupa semua akhir yang baik, baik akhir duniawi maupun agama, sebagai buah cantik dari keimanan dan ketakwaan. Sedangkan di akherat berupa kenikmatan yang kekal.
Semua hal ini mengharuskan disebutkannya perincian perihal masalah tersebut (isi kabar gembira), berupa perincian amal shalih, bentuk-bentuk ketakwaan, dan banyak sekali macam pahala (balasan yang baik). Adapun orang diberi peringatan, mereka yaitu orang-orang yang berbuat dosa lagi zhalim, maka mereka pantas mendapat peringatan di dunia berupa eksekusi duniawi dan agama, sebagai imbas jelek kejahilan dan kezhalimannya. Di Akhirat, pantas mendapat siksa pedih dan adzab yang lama. Perincian hal ini ada dalam fatwa yang dia shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa, baik dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah yang meliputi hal tersebut.
Keempat
{دَاعِيًا إِلَى اللَّهِ } Maksudnya ( dia sebagai da’i yang) Allah utus mengajak makhluk menuju kepada Rabb mereka, membawa mereka untuk dimuliakan oleh-Nya dan memerintahkan mereka untuk beribadah kepada-Nya yang mereka memang diciptakan untuk itu (beribadah kepada-Nya), hal ini memperlihatkan konsekuensi keistiqamahan dia di atas fatwa yang dia serukan, dan memperlihatkan keharusan penyebutan perincian isi dakwah dia berupa mengenalkan kepada mereka perihal sifat-sifat Rabb mereka yang suci, mensucikan-Nya dari sesuatu yang tidak layak dengan keagungan-Nya, menyebutkan banyak sekali macam ibadah dan cara berdakwah yang paling simpel mengantarkan kepada Allah, memperlihatkan haknya masing-masing kepada setiap yang berhak, memurnikan dakwah dengan tulus alasannya Allah, bukan mengajak kepada dirinya dan bukan untuk memuliakan dirinya, sebagaimana hal ini terjadi pada banyak orang dalam persoalan ini. Semua itu terjadi dengan izin, perintah, kehendak dan taqdir  Allah Ta’ala atas diri dia dalam berdakwah.
Kelima
Beliau sebagai (cahaya yang menerangi) {سِرَاجًا مُنِيرًا }, ini berarti bahwa (sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) makhluk berada dalam kegelapan yang besar, tidak ada cahaya yang dengannya mereka mendapat petunjuk dan tidak ada pula ilmu yang dengannya mereka  mendapatkan petunjuk dalam kebodohan mereka sampai Allah pun utus Nabi yang mulia ini, maka Allah sinari kegelapan-kegelapan itu dengan kehadiran beliau, Dia mengajarkan ilmu (agar mereka keluar) dari kebodohan-kebodohan dengan kehadiran beliau, dan dengan kehadiran dia pula, Allah memberi petunjuk orang-orang yang sesat kepada jalan-Nya yang lurus. Maka jadilah dia sosok (da’i) yang lurus, dia telah menjelaskan jalan yang lurus kepada mereka, merekapun berjalan mengikuti sang imam ini, dan mereka mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, serta (bisa membedakan) orang yang berbahagia dengan orang yang celaka, melalui beliau.
Mereka mengambil cahaya dengan diutusnya dia sebagai Rasul untuk mengetahui sesembahan mereka yang hak, dan mengenal-Nya melalui sifat-sifat-Nya yang terpuji, perbuatan-perbuatan-Nya yang benar dan hukum-hukum-Nya yang lurus.
***
Insyaallah akan berlanjut kepada Keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Al-Qur`an (2).

Diolah dari transkip ceramah Syaikh Rabi’ Al-Madkholi hafizhahullah di http://www.sahab.net/forums/?showtopic=132217 , dengan pelengkap tafsir diambilkan dari : http://quran.ksu.edu.sa/.

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id

Keutamaan Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’An (2)

Keutamaan Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’An (2)
Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu  Keutamaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’an (2)bagian yang pertama sudah disebutkan tiga keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam Al-Qur`an Al-Karim, adapun selanjutnya, berikut ini disebutkan lima keutamaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agar bisa semakin menguatkan kecintaan kita terhadap beliau, lebih-lebih lagi kecintaan kita kepada Sang Pengutusnya, Allah Ta’ala.

Allah meninggikan penyebutan nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak satupun makhluk yang bisa menyamainya

Allah Ta’ala berfirman,
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
(1)”Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ
(2) dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu,
الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ
(3) yang memberatkan punggungmu?
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
(4) Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu” (Al-Insyiraah: 1-4).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Firman Allah Ta’ala -dalam rangka mengingatkan nikmat-Nya yang dianugerahkan kepada Rasul-Nya { أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ }maksudnya, Kami lapangkan dadanya untuk mendapatkan syari’at Islam dan untuk berdakwah (mengajak manusia) kepada Allah, untuk bersifat dengan budpekerti yang baik, semangat menyambut akhirat, dan memudahkan kebaikan-kebaikan hingga tidak sempit dadanya. Setiap kali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan kebaikan.
Tentang Ayat yang selanjutnya dia menafsirkan,
{وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ }, maksudnya  dan Kami telah menghilangkan darimu dosamu.
{الَّذِي أَنْقَضَ} maksudnya yang memberatkan
{ظَهْرَكَ} punggungmu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ
“Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah kemudian dan yang akan datang.”
{وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ} maksudnya Kami tinggikan derajatmu dan Kami jadikan kebanggaan untukmu kebanggaan yang indah lagi tinggi yang tidak pernah satupun dari makhluk yang bisa mencapainya, maka tidaklah disebutkan (nama) Allah kecuali disebutkan nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama nama-Nya. Sebagaimana dikala (seseorang) masuk Islam, adzan, iqamah, khutbah, dan selainnya dari perkara-perkara yang Allah tinggikan dengannya penyebutan nama Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau di hati umatnya, sangat dicintai, dimuliakan, dan diagungkan, dengan bentuk (kecintaan, pemuliaan, dan pengagungan) yang tidak ada tandingannya setelah Allah Ta’ala.

Tidaklah Allah bersumpah dengan kehidupan seorangpun kecuali dengan kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman,
لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ
“Demi kehidupanmu (Muhammad), bergotong-royong mereka terombang-ambing di dalam kesesatan” (Al-Hijr: 72).
Al-Baghawi rahimahullah mengatakan,
قال الله تعالى: {لعمرك} يا محمد أي وحيات {إنهم لفي سكرتهم} حيرتهم وضلالتهم {يعمهون } يترددون
Allah Ta’ala berfirman : {لَعَمْرُكَ} wahai Muhammad, (maksud sumpah disini) yaitu “Demi kehidupanmu”, {إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ} (sesungguhnya mereka benar-benar berada di dalamkebingungan dan kesesatan mereka, {يَعْمَهُونَ} mereka terombang-ambing.
Beliau juga berkata,
روي عن أبي الجوزاء عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : ما خلق الله نفسا أكرم عليه من محمد صلى الله عليه وسلم، وما أقسم الله تعالى بحياة أحد إلا بحياته .
Diriwayatkan dari Abul Jauza` dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Allah tidaklah membuat jiwa yang lebih mulia dari jiwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidaklah Allah Ta’ala bersumpah dengan kehidupan seorang pun kecuali dengan kehidupan dia ”.

Allah menjaga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari segala keburukan

Allah Ta’ala berfirman,
وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ
“Allah memelihara kau dari (gangguan) manusia” (Al-Maaidah: 67).
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
وقوله :{ والله يعصمك من الناس} أي : بلغ أنت رسالتي ، وأنا حافظك وناصرك ومؤيدك على أعدائك ومظفرك بهم ، فلا تخف ولا تحزن ، فلن يصل أحد منهم إليك بسوء يؤذيك .
“Firman Allah {وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ } maksudnya sampaikanlah syari’at-Ku, pasti Aku akan
menjaga, menolong dan menguatkanmu menghadapi musuh-musuhmu, serta memenangkanmu mengalahkan mereka, maka janganlah engkau takut dan janganlah bersedih, tidak akan ada satupun dari mereka yang bisa menyakitimu dengan keburukan apapun yang ditujukan kepadamu.”

Ajaran yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa, berasal dari Allah Ta’ala, bukanlah hasil karangan beliau

Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ
(3) “dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) berdasarkan kemauan hawa nafsunya.
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
(4) Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (An-Najm: 3-4).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,
{ وما ينطق عن الهوى } أي : ما يقول قولا عن هوى وغرض {إن هو إلا وحي يوحى} أي : إنما يقول ما أمر به ، يبلغه إلى الناس كاملا موفرا من غير زيادة ولا نقصان
{وما ينطق عن الهوى } maksudnya dia tidaklah mengucapkan ucapan (dalam urusan agama) yang bersumber dari hawa nafsu dan interes pribadi, {إن هو إلا وحي يوحى} maksudnya semata-mata dia hanya menyampaikan apa yang diperintahkan kepada beliau, dia pun menyampaikannya kepada insan dengan sempurna, lengkap, tanpa penambahan dan pengurangan (sedikitpun).
Al-Baghawi rahimahullah mengatakan,
{إن هو} ما نطقه في الدين ، وقيل : القرآن { إلا وحي يوحى } أي : وحي من الله يوحى إليه .
“{إن هو}, tidaklah dia mengucapkan ucapan (tentang agama) ada pula yang beropini wacana Al-Qur`an {إلا وحي يوحى } maksudnya (ucapannya itu tiada lain hanyalah) wahyu dari Allah yang diwahyukan kepadanya.”

Seluruh budpekerti yang ada dalam Al-Qur`an beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan semuanya

Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan bergotong-royong engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al-Qolam: 4).
Al-Baghawi rahimahullah berkata,
{وإنك لعلى خلق عظيم }قال ابن عباس ومجاهد : دين عظيم لا دين أحب إلي ولا أرضى عندي منه ، وهو دين الإسلام وقال الحسن : هو آداب القرآن . سئلت عائشة رضي الله عنها عن خلق رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقالت : كان خلقه القرآن وقال قتادة : هو ما كان يأتمر به من أمر الله وينتهي عنه من نهي الله ، والمعنى إنك على الخلق الذي أمرك الله به في القرآن .
{وإنك لعلى خلق عظيم } Ibnu ‘Abbas dan Mujahid mengatakan, “(Beliau beragama) dengan agama yang agung, (yang) di sisi-Ku, tidak ada agama yang lebih Aku cintai dan ridhai daripadanya, dan agama tersebut yaitu agama Islam”.
Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ia ( “khuluq” dalam Ayat ini) yaitu adab-adab Al-Qur`an”.
‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah ditanya wacana budpekerti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia pun menjawab, “Akhlak dia yaitu (melaksanakan seluruh yang ada dalam) Al-Qur`an”. Qatadah mengatakan, Ia (“Khuluq” dalam Ayat ini) yaitu sesuatu yang dia laksanakan dari perintah Allah dan sesuatu yang dia jauhi dari larangan Allah, dan makna Ayat di atas: Sesungguhnya engkau benar-benar berakhlak  dengan budpekerti yang diperintahkan Allah dalam Al-Qur`an. Wallahu a’lam.
Insyaallah akan berlanjut kepada Keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Al-Qur`an Al-Karim (3).
***
Diolah dari transkip ceramah Syaikh Rabi’ Al-Madkholi hafizhahullah di: http://www.sahab.net/forums/?showtopic=132217 ,  dan  transkip khuthbah Abdul Hamiid, di http://www.alminbar.net/alkhutab/khutbaa.asp?mediaURL=1039, dengan komplemen tafsir diambilkan dari : http://quran.ksu.edu.sa/.

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id

Keutamaan Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’An (3)

Keutamaan Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’An (3)
Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu  Keutamaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Dalam Al-Qur’an (3)


Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:
Jika kita ingin menyayangi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cinta yang benar maka kita dituntut untuk berusaha mengenal keutamaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang tercantum dalam Al-Qur`an maupun Al-Hadits. Pada belahan yang pertama dan kedua, sudah disebutkan delapan keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Al-Qur`an Al-Karim, adapun selanjutnya, berikut ini lima keutamaan ia  shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya.

9. Allah Ta’ala mentarbiyyah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebaik-baik tarbiyyah (pendidikan dan pemeliharaan)

Allah Ta’ala berfirman,
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
“Dan bekerjsama hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sebelumnya (permulaan)”
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
“Dan kelak Tuhanmu niscaya menunjukkan karunia-Nya kepadamu , kemudian (hati) kau menjadi puas” (Adh-Dhuha: 4-5).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
وأما حاله المستقبلة، فقال: { وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى } أي: كل حالة متأخرة من أحوالك، فإن لها الفضل على الحالة السابقة. فلم يزل صلى الله عليه وسلم يصعد في درج المعالي ويمكن له الله دينه، وينصره على أعدائه، ويسدد له أحواله، حتى مات، وقد وصل إلى حال لا يصل إليها الأولون والآخرون، من الفضائل والنعم، وقرة العين، وسرور القلب. ثم بعد ذلك، لا تسأل عن حاله في الآخرة، من تفاصيل الإكرام، وأنواع الإنعام، ولهذا قال: { وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى } وهذا أمر لا يمكن التعبير عنه بغير هذه العبارة الجامعة الشاملة.
Adapun keadaan yang akan datang, maka Allah berfirman,
“{وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى} (Dan bekerjsama hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sebelumnya (permulaan), maksudnya setiap keadaanmu yang terbaru, maka pastilah lebih baik dari keadaanmu di masa sebelumnya. Maka senantiasa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus meningkat ke derajat kesempurnaan yang lebih tinggi dan Allah mengakibatkan kejayaan agama-Nya untuknya. Dia menolongnya menghadapi musuh-musuhnya dan meluruskan keadaannya hingga (ketika) ia wafat, ia berhasil menggapai derajat keadaan yang tidak pernah dicapai oleh seluruh makhluk lainnya -dari makhluk pertama hingga yang terakhir-,(derajat keadaaan tersebut) berupa keutamaan, nikmat, penyejuk pandangan, dan kegembiraan hati beliau. Kemudian setelah itu, janganlah engkau menanyakan perihal keadaan ia di alam abadi berupa perincian kemuliaan dan banyak sekali macam kenikmatan (untuk beliau), oleh sebab itu Allah berfirman: {وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى}( Dan kelak Tuhanmu niscaya menunjukkan karunia-Nya kepadamu, kemudian (hati) kau menjadi puas), kenikmatan yang luas bagi ia tersebut, mustahil diungkapkan, kecuali dengan ungkapan (kepuasan)  yang umum dan menyeluruh ini.”

10. Allah Ta’ala memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan diturunkannya Al-Qur`anul Karim

Allah Ta’ala berfirman,
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا
“Dan demikianlah, Kami wahyukan (pula) kepadamu ruh (Al-Qur`an) dengan perintah Kami” (Asy-Syuuraa: 52).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah,
{ وَكَذَلِكَ } حين أوحينا إلى الرسل قبلك { أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا } وهو هذا القرآن الكريم، سماه روحا، لأن الروح يحيا به الجسد، والقرآن تحيا به القلوب والأرواح، وتحيا به مصالح الدنيا والدين، لما فيه من الخير الكثير والعلم الغزير.
“{وَكَذَلِكَ}(Dan demikianlah) ketika Kami wahyukan kepada para Rasul sebelummu, {أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا} (Kami wahyukan (pula) kepadamu ruh (Al-Qur`an) dengan perintah Kami) “Ruh” di sini ialah Al-Qur`anul Karim, Allah memberi nama Al-Qur`an dengan nama “Ruh”, sebab dengan ruh , jasad menjadi hidup. Adapun Al-Qur`an, dengannyalah hati dan ruh insan menjadi hidup, demikian pula kemaslahatan dunia dan agama menjadi hidup makmur dengannya, sebab di dalam Al-Qur`an terdapat kebaikan dan ilmu yang banyak.”

11. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah epilog para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam

Allah Ta’ala berfirman,
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ  الله وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ الله بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia ialah Rasulullah dan epilog nabi-nabi. Dan ialah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Ahzaab: 40).
Al-Baghawi rahimahullah berkata,
{ ولكن رسول الله وخاتم النبيين} ختم الله به النبوة ، وقرأ عاصم : ” خاتم ” بفتح التاء على الاسم ، أي : آخرهم ، وقرأ الآخرون بكسر التاء على الفاعل ، لأنه ختم به النبيين فهو خاتمهم . قال ابن عباس : يريد لو لم أختم به النبيين لجعلت له ابنا يكون بعده نبيا وروي عن عطاء عن ابن عباس : أن الله تعالى لما حكم أن لا نبي بعده لم يعطه ولدا ذكرا يصير رجلا {وكان الله بكل شيء عليما}.
{ولكن رسول الله وخاتم النبيين} (tetapi dia ialah Rasulullah dan epilog nabi-nabi) Allah menutup kenabian dengan beliau. Imam ‘Ashim membaca(nya): خَاتَمَ , yaitu dengan fathah aksara ت sebagai isim, maksudnya : Nabi terakhir. Adapun Imam-imam yang lain membaca(nya) dengan kasroh aksara  ت sebagai fa’il, karena dengan beliaulah ditutup para Nabi, maka ia ialah epilog mereka. Ibnu Abbas menyampaikan bahwa maksud Allah ialah seandainya tidak Aku tutup para Nabi dengannya, tentulah Aku menjadikannya mempunyai putra. yang nantinya akan menjadi Nabi sehabis beliau. Diriwayatkan dari ‘Atha` dari Ibnu ‘Abbas bahwa Allah Ta’ala tatkala menetapkan tidak adanya Nabi sehabis beliau, maka Dia tidaklah menganugerahkan anak laki-laki yang kelak menjadi seorang laki-laki dewasa, dan ialah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

12. Allah Ta’ala memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memanggil beliau

Yaitu dengan panggilan yang paling dicintai oleh ia atau dengan sifat ia yang paling mulia. Hal ini sebagaimana dalam dua firman Allah Ta’ala berikut ini:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, belum dewasa perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh badan mereka”. (Al-Ahzaab: 59).
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ
“Hai Rasul, janganlah hendaknya kau disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya” (Al-Maaidah : 41).
Sedangkan Allah memanggil para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam yang lainnya, eksklusif dengan nama-nama mereka
Hal ini sebagaimana terdapat di dalam beberapa firman Allah berikut ini:
وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kau dan isterimu di Surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kau sukai, dan janganlah kau berdua mendekati pohon ini, kemudian menjadilah kau berdua termasuk orang-orang yang zalim” (Al-A’raaf: 19).
قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ ۚ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami” (Huud: 48).
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ
“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim” (Ash-Shaaffaat: 104).
يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ
“Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya nasihat selagi ia masih kanak-kanak” (Maryam: 12).

13. Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memuliakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga melarang umat ia dari memanggilnya eksklusif dengan namanya dan melarang mereka mengeraskan bunyi mereka di atas bunyi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman,
لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا
“Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul diantara kalian ibarat panggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain)” (An-Nuur: 63).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
لا تجعلوا دعاء الرسول إياكم ودعائكم للرسول كدعاء بعضكم بعضا، فإذا دعاكم فأجيبوه وجوبا
“Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul diantara kalian ibarat panggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain), (maksudnya adalah) jikalau ia memanggil kalian, wajib kalian memenuhi panggilan beliau”.
Beliau juga menjelaskan:
وكذلك لا تجعلوا دعاءكم للرسول كدعاء بعضكم بعضا، فلا تقولوا: ” يا محمد ” عند ندائكم، أو ” يا محمد بن عبد الله ” كما يقول ذلك بعضكم لبعض، بل من شرفه وفضله وتميزه صلى الله عليه وسلم عن غيره، أن يقال: يا رسول الله، يا نبي الله.
“Dan demikian pula Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul diantara kalian ibarat panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain, maka janganlah kalian berkata “Ya Muhammad “, saat kalian memanggilnya. Atau (jangan pula dengan panggilan)“Ya Muhammad bin Abdullah“, sebagaimana sebagian kalian memanggil sebagian yang lain ibarat itu. Akan tetapi, sebab kemuliaan, keutamaan dan perbedaan ia dengan yang lain, maka selayaknyalah dipanggil dengan panggilan: Ya Rasulullah , ya Nabiyyullah”.
Adapun umat-umat terdahulu memanggil para Rasul  ‘alaihimush shalatu was salam langsung dengan nama-nama mereka
Hal ini sebagaimana terdapat di dalam beberapa firman Allah berikut ini :
قَالُوا يَا مُوسَى
“Bani lsrail berkata: “Hai Musa”. (Al-A’raaf: 138).
قَالُوا يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ
“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kau tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami sebab perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu” (Huud : 53).
وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
“Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kau ancamkan itu kepada kami, jikalau (betul) kau termasuk orang-orang yang diutus (Allah)” (Al-A’raaf: 77).
Allah pun melarang mereka mengeraskan bunyi mereka di atas bunyi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan bunyi kalian melebihi bunyi Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan bunyi yang keras, sebagaimana kerasnya bunyi sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, biar tidak hapus (pahala) amalan kalian, sedangkan kalian tidak menyadari” (Al-Hujuraat: 2).
In sya Allah akan berlanjut kepada keutamaan “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Al-Hadits Asy-Syarif (4)“.
***
Diolah dari transkip ceramah Syaikh Rabi’ Al-Madkholi hafizhahullah di: http://www.sahab.net/forums/?showtopic=132217 dan transkip khuthbah Abdul Hamiid, di http://www.alminbar.net/alkhutab/khutbaa.asp?mediaURL=1039

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id

Wednesday, 25 December 2019

Lebih Utama Menghafal Al-Qur’An Atau Membacanya Saat Ramadhan?

Lebih Utama Menghafal Al-Qur’An Atau Membacanya Saat Ramadhan?
an dalam bulan Ramadhan termasuk salah satu amal yang paling mulia dan paling utama  Lebih Utama Menghafal Al-Qur’an Atau Membacanya Ketika Ramadhan?


Fatwa Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid hafizhahullah

Fatwa nomor 66063
Soal:
Apakah menghafal Al-Qur’an lebih utama daripada (sekedar) membacanya pada bulan Ramadhan?
Jawab:
Segala puji bagi Allah, membaca Al-Qur’an dalam bulan Ramadhan termasuk salah satu amal yang paling mulia dan paling utama, dan Ramadhan ialah bulan Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Quran sebagai petunjuk bagi insan dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (Al-Baqarah: 185).
وكان جبريل يأتي النبي صلى الله عليه وسلم كل ليلة في رمضان فيدارسه القرآن. رواه البخاري (5) ومسلم (4268).
“Jibril menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap malam pada bulan Ramadhan, kemudian malaikat Jibril saling menyetorkan bacaan Al-Qur’an bersama dengan beliau” (HR. Al-Bukhari (5) dan Muslim (4268)).
“Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (4614), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa malaikat Jibril
كان يعْرضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعرضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ
“Dahulu menyetorkan bacaan Quran kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali, kemudian  pada tahun wafatnya beliau, malaikat Jibril menyetorkan bacaannya dua kali.
Maka diambil kesimpulan dari Hadits ini yaitu disunnahkannya membaca Alquranul Karim dan saling setor bacaannya di bulan Ramadhan, lihat pertanyaan no: 50781.
Disimpulkan pula darinya (bahwa) disunnahkan mengkhatamkan Al-Qur’an sebab malaikat Jibril ‘alaihis salam dahulu menyetorkan bacaan Al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lengkap (Lihat Fatwa Syaikh Bin Baz (11/331)).
Setiap aktifitas menghafal dan mengulang hafalan tentulah lebih dari sekedar membaca, sebab tidaklah seseorang menghafal atau mengulang hafalan melainkan sesudah mengulang bacaan Ayat beberapa kali. Dan ia mendapat sepuluh kebaikan pada setiap hurufnya.” Atas dasar inilah perhatian seseorang kepada menghafal dan mengulang hafalannya itu lebih utama.

Jika demikian, As-Sunnah telah mengatakan kepada:
  1. Mengulangi hafalan.
  2. Saling setor (bacaan).
  3. Membaca, dan aktifitas membaca ini niscaya ada (dalam menghafal dan saling setor), sebagaimana klarifikasi di atas.
Selayaknyalah dalam keadaan yang ibarat ini seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an, walaupun sekali dalam sebulan, kemudian melaksanakan sesuatu yang paling sesuai dengan keadaannya sesudah itu, (yaitu):
Ia dapat memperbanyak membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an atau perhatian pada mengulang hafalan atau menambah hafalan yang baru.
Dia (tertuntut) menentukan aktifitas yang paling bermanfaat bagi hatinya, dapat jadi yang paling bermanfaat ialah menghafal atau membaca ataupun mengulang hafalan, sebab gotong royong maksud dari (diturunkannya) Quran ialah untuk dibaca, dihayati,agar terpengaruh dengannya dan diamalkan kandungannya. Maka hendaknya setiap orang yang beriman mengikat hatinya, dan melihat aktifitas apa yang paling bermanfaat, kemudian melakukannya.” Wallahu a’lam. (Islamqa.info/ar/66063).
***
Penyusun: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Thursday, 5 December 2019

Metode Al-Qur’An Dalam Memerintah Dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (1)

Metode Al-Qur’An Dalam Memerintah Dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman
(1)
an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman  Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (1)


Alhamdulillah wah sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah di dalam kitabnya, Al-Qowa’idul Hisan Al-Muta’alliqoh bi Tafsiril Quran menyebutkan salah satu kaedah di dalam Al-Qur’an Al-Karim, yaitu:
في طريقة القرآن في أمر المؤمنين وخطابهم بالأحكام الشرعية
Metode Al-Qur`an dalam memerintah kaum mukminin dan menyeru mereka untuk melakukan aturan Syar’i

Penjelasan Kaedah

Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mengajak insan ke jalan-Nya dengan cara yang terbaik, Allah Ta’ala berfirman di dalam surat An-Nahl:125,
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan nasihat dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui ihwal siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang menerima petunjuk”.
Ayat ini terkait dengan dilema dakwah, yaitu membantah kebatilan dengan cara yang terbaik. Allah Ta’ala juga berfirman,
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang terbaik’” (QS. Al-Israa`: 53).
Dalam ayat yang agung ini, Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyampaikan perkatan yang baik, dalam berdakwah maupun dalam kondisi lainnya. Tidak diragukan lagi bahwa ucapan dalam Ad-Da’wah ilallah adalah ucapan yang terbaik, Allah Ta’ala berfirman di dalam surat Fushsilat: 33,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ    
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang mengalah diri?'”.
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ihwal maksud mengajak ke jalan Allah dengan cara yang terbaik, yaitu: Dengan cara terdekat yang sanggup menghantarkan kepada tujuan dan meraih apa yang diharapkan. Tidak ada keraguan bahwa cara yang Allah pilih dalam menyeru hamba-hamba-Nya yang beriman (agar mereka melaksanakan) aturan Syar’i yakni cara yang terbaik dan terdekat (menyampaikan kepada tujuan)”.

Cara yang Paling Banyak Allah Pilih

Selanjutnya, beliau rahimahullah juga menegaskan bahwa cara yang paling banyak Allah pilih untuk menyeru hamba-hamba-Nya yang beriman biar mereka berbuat kebaikan dan melarang mereka dari berbuat keburukan yakni dengan menyebutkan sifat yang terdapat pada diri mereka, yaitu keimanan. Sebagai teladan yakni Allah Ta’ala berfirman kepada hamba-hamba-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا
Wahai orang-orang yang beriman” kemudian Allah Ta’ala  menyebutkan perintah atau larangan-Nya.
[bersambung]
***
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber  : Muslim.or.id