Wednesday, 12 February 2020

Telur Beranak: Menipu Balik Tuan Tanah



Kita sua kembali dengan kisah-kisah yang lucu ihwal petualangan Abu Nawas yang cerdik. Selalu saja ada cara untuk menghadapi ketegangan antara lawan maupun kawan.

Abu Nawas mempunyai tetangga yang sangat kikir dan serakah, ia pun ingin mengatakan pelajaran biar tetangga yang berprofesi sebagai tuan tanah tersebut bertobat. Bagaimana kisahnya ya,

Kisahnya
Pada suatu sore, Abu Nawas duduk di beranda rumahnya sambil memandang langit. Abu Nawas berpikir bagaimana caranya biar sore itu keluarganya sanggup mampu makan.

Sementara itu, dalam jarak puluhan meter dari rumah Abu Nawas, seorang tuan tanah tinggal. Rumahnya mewah, lengkap dengan gudang masakan dan peternakan serta perkebunan yang luas. Hamppir semua warga di kampung itu, bahkan termasuk Abu Nawas, bekerja kepada tuan tanah tersebut.

Namun, tuan tanah itu mempunyai sifat yang kikir serta tamak.

Telur Bisa Beranak
Tuan tanah itu mendengar informasi bahwa Abu Nawas mempunyai keahlian yang unik.
Apabila meminjam sesuatu akan dikembalikan secara lebih dengan alasan beranak. Seperti meminjam seekor ayam, maka akan dikembalikan dua alasannya ayam itu beranak. Tuan tanah kemudian mencari cara biar Abu Nawas segera meminjam uang darinya.

Kebetulan pada sore itu Abu Nawas ingin meminjam berupa tiga butir telur. Kontan saja tuan tanah bahagia bukan kepalang alasannya pemberian itu akan menjadi banyak nantinya. Bahkan tuan tanah tersebut menunjukkan pinjaman-pinjaman yang lain. Akan tetapi Abu Nawas menolaknya alasannya ia hanya butuh tiga butir telur itu saja.

Saat tuan tanah menanyakan kapan telur itu akan beranak, Abunawas menjawab itu tergantung dengan keadaan.

Lima hari berlalu, Abu Nawas pun mengembalikan telur yang dipinjamnya dengan lima butir telur. Tuan tanah sangat bahagia dan ia menunjukkan pemberian lagi. Abu Nawas pun meminjam piring tembikar sebanyak dua buah dan tuan tanah itu dengan bahagia hati meminjamkannya dengan impian piring tembikarnya beranak kayak telur ayam yang dulu.

Lima hari pun berlalu lagi dan Abu Nawas mengembalikan piring tembikar sebanyak tiga buah. Walaupun tidak sesuai dengan yang diharapkan, tetapi hati si Tuan tanah cukup gembira. Tak apalah piki tuan tanah alasannya sanggup saja orang itu mempunyai anak tunggal bahkan tidak mempunyai anak.

Mati Mendadak
Pada hari selanjutnya, si tuan tanah menunjukkan pemberian uang senilai 1000 dinar. Sebuah jumlah yang cukup besar, bahkan sanggup untuk menggaji seluruh karyawan tuan tanah selama satu bulan. Dia menanti dengan tidak sabar. Hari berganti hari bahkan lima hari terlewati sudah. Tak terasa sudah berjalan satu bulan dan Abu Nawas tak kunjung tiba ke rumahnya.

Karena tidak sabar, si tuan tanah mendatangi Abunawas dengan didampingi pengawalnya. Mulanya si tuan tanah gembira, namun ia murka besar sesudah mendapatkan klarifikasi dari Abu Nawas.
"Sayang sekali Tuan, uang yang aku pinjam, bukannya beranak, malah tiga hari sesudah aku bawa pulang, mati mendadak," ujar Abu Nawas.

Mendengar itu, si tuan tanah menjadi geram.
Pengawalnya hampir saja memukul Abu Nawas, tapi untung saja tidak jadi alasannya ada rombongan pekerja yang gres pulang. Tuan tanah mengadukan Abu Nawas ke pengadilan dan berharap Abunawas digantung atau bahkan dieksekusi rajam.

Di depan hakim, Abu Nawas melaksanakan pembelaan dengan membeberkan semua duduk persoalannya. Demikian juga dengan si tuan tanah. Pengadilan pun memutuskan bahwa Abu Nawas tida bersalah alasannya sangat masuk nalar jikalau sesuatu yang sanggup beranak niscaya sanggup mati. Seketika itu juga tuan tanah yang tamak itu pingsan selama beberapa jaman sulit untuk dibangunkan. Ia telah tertipu alasannya wataknya sendiri yang kikir, tamak dan pelit.

Kisah Debu Nawas: Istana Hancur Oleh Lalat


Abu Nawas sangat sedih melihat rumahnya hancur alasannya yaitu diobrak-abrik prajurit kerajaan. Tapi, dengan nalar liciknya, Abunawas berhasil membalas menghancurkan kerajaan dengan sebuah tongkat yang terbuat dari besi. Dengan berdalih untuk membunuh lalat-lalat yang telah makan nasinya, Abu Nawas memporak-porandakan seluruh isi kerajaan.

Berikut Kisahnya
Pada suatu hari Abu Nawas terlihat murung. Ia hanya tertunduk lesu mendengarkan penuturan istrinya yang menyampaikan jikalau beberapa pekerja kerajaan atas titah Raja Harun membongkar rumahnya. Raja berdalih bahwa itu dilakukan alasannya yaitu bermimpi jikalau di bawah rumahnya terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya.

Namun, sesudah mereka terus menerus menggali, ternyata emas dan permata tidaj jua ditemukan. Parahnya, sang raja juga tidak mau meminta maaf dan mengganti rugi sedikitpun kepada Abu Nawas. Karena itulah Abu Nawas sakit hati dan memendam rasa dendam kepada perusak rumahnya.

Lama Abu Nawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan tipu daya untuk membalas perbuatan baginda. Makanan yang dihidangkan istrinya pun tidak dimakan alasannya yaitu nafsu makannya telah lenyap.

Balasan Abu Nawas
Keesokan harinya Abu Nawas melihat banyak lalat-lalat mulai menyerbu makanannya yang sudah mulai basi. Begitu melihat lalat-lalat itu berterbangan, Abu Nawastiba-tiba saja tertawa riang seolah mendapat ide.

"Tolong ambilkan kain epilog untuk makananku dan sebatang besi," kata Abu Nawas kepada istrinya.

Dengan wajah berseri-seri, Abu Nawas berangkat menuju istana.
Setiba di istana, Abu Nawas membungkuk memberi hormat kepada Raja Harun. Raja Harun terkejut atas kedatangan Abu Nawas.i hadapan para menterinya, Raja Harun mempersilahkan Abu Nawas untuk menghadap.

"Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa izin dan berani memakan masakan hamba," lapor Abu Nawas.
"Siapakah tamu-tamu tidak diundang itu wahai Abu Nawas?" ujar Baginda dengan bijaksana.
"Lalat-lalat ini Tuanku," kata Abu Nawas sambil membuka epilog piringnya.

"Kepada siapa lagi jikalau bukan kepada Paduka junjungan hamba, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil ini," ujar Abu Nawas sekali lagi.
"Lalu, keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?" respon Raja Harun.
Hamba hanya menginginkan izin tertulis dari Baginda sendiri semoga hamba sanggup dengan leluasa menghukum lalat-lalat yang badung itu," kata Abu Nawas memulai muslihatnya.

Kaca Pecah
Akhirnya Raja Harun dengan terpaksa menciptakan surat izin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu dimanapun mereka hinggap. Setelah mendapat izin tertulis itu Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnya sampai mereka terbang dan hinggap di sana sini. Dengan memakai tongkat besi yang dibawa dari rumah, Abu Nawas mengejar dan memukuli lalat-lalat itu.

Ketika hinggap di kaca, Abu Nawas dengan damai dan leluasa memukul beling itu sampai pecah. Kemudian vas bunga nan indah juga ikut terkena pukul dan pecah. Akhirnya hanya dalam beberapa menit saja seluruh perabot istana hancur berkeping-keping. Raja Harun tidak sanggup berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruannya yang telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluarganysa.

Dan sesudah merasa puas, Abu Nawas mohon diri
Barang-barang kesayangan Raja Harun banyak yang hancur. Bukan cuma itu saja, raja juga menanggung rasa malu. Kini ia sadar betapa kelirunya telah berbuat semena-mena kepada Abu Nawas.