Sunday, 15 March 2020

Merumuskan Abad Depan


doenload Salah satu kalimat yang mesti selalu kita renungi ialah “masa depan”. Masa depan merupakan sebuah masa di mana kita akan hidup di zaman tersebut. Sebuah masa yang kondisi dan situasinya tentu sudah sangat jauh berbeda dengan hari ini. Karena perubahan itu kodrat dalam kehidupan. Setiap yang baharu “hidup” niscaya akan berubah-ubah.

Bertalian dengan sifatnya kehidupan yang demikian. Sejatinya kita mempersiapkan diri dalam segala hal yang kita butuhkan untuk mengarungi hidup di masa dimaksud. Merumuskan tujuan, mengatur sasaran hidup, itu merupakan bahagian dari persiapan yang harus kita desain.

Dalam mengarungi hidup ini kita dianjurkan untuk punya visi dan misi. Kehidupan seseorang yang tidak mempunyai visi dan misi mirip kapas yang ada di dalam satu kamar. Pada dikala angin meniup ke atas maka ia akan mengikuti arah angin ke atas pula. Di sisi lain, kapas tersebut memikirkan bahwa dia akan berada pada tingkat paling tinggi. Namun pada dikala angin meniup ke  arah yang lain kapas tersebut akan mengikuti arah yang lain pula. Tidak mempunyai tujuan.

Bagitulah perumpamaan seseorang yang tidak mempunyai visi dan misi dalam hidup. Sebagai pelajar misalnya, mempunyai visi dan misi ialah hal paling asasi. Apa tujuan dan sasaran yang menjadi prioritas kita di dikala final berguru nanti. Sekurang-kurangnya mempunyai cita-cita. Karena dengan ada impian akan menciptakan berguru lebih terarah.

Dalam menentukan cita-cita, dianjurkan untuk menentukan tingkat yang paling tinggi. Bercita-cita menjadi tokoh agama misalnya, maka dianjurkan untuk bercita-cita jabatan paling tinggi, mirip Mufti dan lain sebagainya. Jangan sekali-kali bercita-cita untuk menjadi tokoh paling rendah, mirip Imum Meunasah.

Bumbu yang harus kita sediakan untuk menjadi imum meunasah tentu lebih murah dibanding jadi mufti. Artinya ilmu dan semangat berguru yang harus kita miliki menjadi imum meunasah tentu lebih lemah ketimbang jadi mufti. Mengapa harus mencita-citakan jadi mufti? Karena di dikala sasaran kita jadi mufti tidak tercapai, jabatan sebagai Imum Meunasah justru sudah dapat kita kuasai dengan semangat berguru jadi mufti tadi.

Namun kadang kala ada hal yang patut disayangkan dan disesalkan tatkala menjumpai seseorang kemudian kita bertanya: "Apa visi dan misi dalam hidup mu? Lalu ia menjawab: "Ngalir aja ikut arus kehidupan." Kata “ngalir aja” itu merupakan salah satu sifat dari kapas tadi yang tidak punya visi dan misi hidup. Sejatinya orang semacam itu akan mengikuti arus hidup, dan arus hidup selalu terombang-ambing, tidak tetap pada satu situasi.

Oleh alasannya ialah itu, mengatur seni administrasi perang sebelum berperang itu lebih penting. Karena taktik peperanganlah yang menciptakan satria jadi menang. Begitu pula mengatur seni administrasi berguru itu lebih penting. Namun, jangan hanya kita asyik mengatur waktu saja tanpa belajar. Hal mirip ini juga tak menuaikan hasilnya. Pastinya, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin maka sungguh dia sudah merugi.

Menjadi orang sukses ialah idola semua insan. Lima kata ini sangat gampang kita ucapkan, tetapi begitu susah untuk dilakukan. Dalam menggapai kesuksesan sudah menjadi kebutuhan primier berada dalam kesusahan, kepahitan dan serba kekurangan. Hal ini senada dengan apa yang sudah didokumnetasi oleh pujangga Islam, "adalah kesuksesan itu setelah lelah berjuang."

Rasulullah SAW sebelum menaklukkan kerjaan Romawi dan Persia yang merupakan dua kerajaan terbesar dikala itu ia sudah merumuskan cita-citanya terlebih dahulu. Meskipun dikala itu jumlah umat Islam sangat sedikit. Beliau sudah menargetkan untuk menaklukkan kaisar Romawi dan Persia. Akhirnya impian ia terwujud. Hal ini juga terindikasi dengan adanya kemauan dan impian yang tinggi.

Menjadi orang sukses itu jangan hanya sukses buat diri sendiri. Tetapi jadilah kesuksesan kita dapat dirasakan oleh orang lain. Jangan sekali-kali memandang makna sukses itu mempunyai rumah mewah, harta berlimpah dan punya istri yang cantik. Karena kesuksesan mirip ini cenderung menciptakan kita rakus dan serakah. Tapi jadilah kesuksesan alasannya ialah Allah SWT. Dalam arti, sukses kita sudah menciptakan orang bau tanah kita gembira alasannya ialah Allah, menciptakan masyarakat terarah dengan ilmu yang kita miliki, dan kita dapat mendidik bawah umur kita nanti menuju jalan yang diridhai Allah. (Hamid)


Peran Perempuan Aceh Melawan Kolonialisme Dan Imperialisme



"Udep saree matee syahid" itulah slogan yang pernah hidup dan terus terpatri dalam sanu bari rakyat Aceh. Aceh satu-satunya daerah yang menerima julukan 'Serambi Mekkah' dalam sejarah perlawanan terhadap aneka macam bentuk penjajahan.

Islam yang menggelora di dada rakyat Aceh tercermin dari perilaku patriotik yang mereka tampilkan. Perlawanan demi perlawanan dalam mengusir penjajah selalu mereka tampilkan guna mengusung sebuah misi suci yaitu "hudep mulia matee syahid." Sehingga dalam sejarah perjalanan mengusir penjajah, Aceh menjadi daerah dalam lingkugan besar Nusantara yang bisa memelihara identitasnya.

Di samping itu Aceh juga mempunyai sejarah kepribadian kolektifnya yang relatif jauh lebih tinggi, lebih kuat, serta paling sedikit ter-Belanda-kan di bandingkan daerah lain di Indonesia. dan itu lah sebabnya mengapa tokoh jagoan Belanda sekaliber Van Der Vier menyampaikan bahwa, "orang Aceh sanggup dibunuh, tapi tak sanggup ditaklukkan.

Sejarah besarnya pengabdian rakyat Aceh dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia dan membumi hanguskan penjajah bisa kita telusuri dalam buku-buku sejarah, baik yang ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Belanda, maupun bahasa Perancis. Sejarah mencatat peperangan melawan kolonialisme dan imperialisme (1873-1942) telah memaksa orang Aceh untuk melaksanakan perlawanan sengit. Bahkan mendobrak semangat kaum perempuan Aceh untuk tampil ke garda terdepan dalam saf perang.

Semangat juang tersebut lahir dari sebuah iktikad bahwa semua itu perang fisabilillah. Berperang demi menjaga kehormatan bangsa dan agama serta menampik setiap anjuran kompromi dan hanya mengenal pilihan membunuh atau dibunuh ketika berhadapan dengan musuh. Inilah secarcik darah panglima perang sekaliber Khalid Bin Walid yang masih tersimpan dalam jiwa orang Aceh yang tiba ke medan jihad hanya untuk mencari mati.

Kerajaan Aceh

Sejarah kerajaan Aceh di mulai semenjak Islam menginjak kakinya di ujung barat Sumatera. Saat itu hanya dikenal dengan kerajaan-kerajaan Islam, menyerupai kerajaan Islam Peureulak (840 M/225H), kerajaan Islam Samudera Pasai (560 H/1166M), kerajaan Tamiang, kerajaan Pedir, dan kerajaan Meureuhoem Daya. Kemudian Sultan Alauddin Johansyah yang berdaulat pada tahun 601 H/ 1205 M berinisiatif untuk menyatukan kerajaan Aceh tersebut. Yang sehabis itu menjadi kerajaan Aceh Darussalam dengan ibu kota Kuta Radja atau Banda Aceh hari ini.

Pada ketika ini lah Sultan Alauddin al-Kahhar mulai mempeluas wilayah kekuasaannya hingga ke negeri-negeri Melayu dan semenanjung Malaka. Sejarah menyebutkan pada masa ke-5 M kerajaan Aceh menjadi kerajaan Islam terbesar di Nusantara dan kerajaan Islam ke-5 terbesar di dunia. Kemudian proses peluasan wilayah ini dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam.

Perlu dicatat penaklukan yang dilakukan raja Aceh ketika itu bukan untuk menjajah suku bangsa lain, tapi untuk melindungi mereka dari penjajahan Portugis (A Hasjmy: 1997). Pada ketika itu kerajaan Aceh sudah menjalin dagang dan diplomatik dengan negara-negara tetangga, Timur Tengah, dan Eropa. Antara lain denga kerajaan Denmark, kerajaan Pattani, kerajaan Brunei Darussalam, kerajaan Turki Ustmani, Inggris, Belanda, dan Amerika.

Kerajaan Aceh Darussalam ketika itu juga telah mempunyai aturan tersendiri yang disebut dengan " Kanun Meukuta Alam" yang berlandaskan syariat Islam. Dalam kanun tersebut setiaa rakyat yang bernaung di bawah kerajaan Darussalam menerima keadilan hukum. Inilah sebabnya kerajaan Aceh semakin hari semakin luas wilayah kekuasaannya. Dan wilayah-wilayah yang ditakluk kerajaan Aceh merasa bahagia untuk bergabung dengan Aceh. Proses penaklukan menyerupai ini terus saja berkelanjutan hingga sebelum pihak kolonial menabur aneka macam fitnah terhadap kerajaan Aceh.

Ketika kerajaan-kerajaan Islam Nusantara telah ditaklukkan kolonial barat, kerajaan Aceh masih tetap berdaulat hingga masa ke-18 M. Pihak kolinialis baik yang tiba dari Portugis, Belanda, maupun Inggris bukan tidak berambisi untuk menaklukkan Aceh, tetapi mereka merasa gentar terhadap keunggulan AU (angkatan laut) Aceh yang ketika itu menguasai perairan selat Malaka dan lautan Hindia. Pada ketika itu AU Aceh mempunyai armada yang tangguh berkat pertolongan senjata dan kapal perang dari kejaan Turki Ustmani. Salah satu AU yang sangat populer yaitu Laksamana Malahayati.

Selain itu, dilihat dari barisan perang kerajaan Aceh di dominasi oleh prajurit-prajurit yang berani mati dan mempunyai semangat juang yang bergelora. Di antaranya yaitu Teungku Umar, Teungku Syiek di Tiro dari kalangan laki-laki, dan Tjuk Nyak Dhien, Malahayati, Tjut Meutia, dan Pocut Merah Intan yang merupakan formasi nama yang menjadi simbol usaha kaum perempuan di Aceh. Kaum perempuan yang mengikuti peperangan tersebut terdiri dari kaum muda, janda, bahkan orang renta pun terlibat dalam kancah peperangan.
Sebagai perempuan yang mangandung dan melahirkan tidak menjadi alasan bagi mereka untuk mangkir dalam medan perang. Terkadang mereka mengikuti peperangan gotong royong dengan suami mereka. Dengan tangan yang kecil mungil mereka lincah memainkan kelewang dan rencong yang sudah menciptakan lawan begitu takut. Bahkan ada dari perempuan Aceh yang mengendong anaknya sambil berperang. Semangat mereka terus saja terkobarkan dengan hikayat-hikayat jihat. Di antara bait-bait hikayat yang menjadi pembangkit semangat jihat mereka ketika itu antar lain:

"Allah haido kudaidang
Seulayang blang ka putoeh taloe
Beurayeuk sinyak rijang-rijang
Jak meuprang bela naggroe"

Maka tak heran bila kita pernah membaca karyanya H.C Zentgraaff (seorang penulis sejarah Aceh dan wartawan Belanda) menyampaikan bahwa para wanitalah yang merupakan "de leidster van het verzet" (pemimpin perlawanan). Bahkan dalam sejarah Aceh populer dengan istilah "Grandes Dames" (wanita-wanita agung) yang memegang peranan penting baik dalam politik maupun peperangan, baik dalam posisinya sebagai Sultaniah maupun sebagai istri-istri orang terkemuka.

Oleh lantaran itu tugas perempuan Aceh dalam melawan penjajah sangat lah besar. Setelah melahirkan pejuang mereka juga rela terjun ke medan juang. Maka alangkah disayangkan andaikata kepiawan sosok Tjuk Nyak Dhien dan Tjut Meutia tidak membekas pada diri wanita-wanita Aceh hari ini. Setidaknya bisa menjadi pelahir pejuang jika pun tak mau berjuang. Kalau tidak punya talenta dan semangat mengarui medan perang, maka berjuang lah lewat tulisan. Karena media merupakan ladang juang yang paling memilih menang dan kalahnya sebuah golongan hari ini. Semoga!

Oleh: Abdul Hamid M Djamil*
*staf redaksi web kmamesir.org

Saturday, 14 March 2020

Studi Perkembangan Hadis Dari Kurun Ke Masa



Hadis Nabi Saw. merupakan landasan aturan kedua bagi agama Islam sesudah Al-Quran al-Karim. Tak heran jikalau para ulama zaman dahulu rela menghabiskan hari-hari mereka demi meneliti, menekuni, dan menghafal hadis-hadis tersebut.

Bahkan, tak jarang dari mereka yang melaksanakan perjalanan jauh bahkan berbulan-bulan lamanya hanya untuk mendapat sebuah hadis. Studi wacana hadis nabi sendiri telah dimulai semenjak masa Rasulullah hingga dalam kitab-kitab para ulama terdahulu.

Penelitian perkembangan studi hadis tak mungkin terlepas dari sejarah perkembangan ilmu itu dari awal munculnya hingga masa sekarang. Para ulama juga telah membagi sejarah perkembangan ilmu ini ke dalam beberapa fase yang terangkum dalam serpihan sejarah kodifikasi sunnah.

1. Masa Rasulullah Saw. Hingga Akhir Abad Pertama Hijriyah

Pada fase ini, hadis Nabi Saw. belum dikumpulkan dalam bentuk buku. Tapi hanya berbentuk lembaran kertas (shahifah) yang berisi bab-bab tertentu yang ditulis secara perorangan oleh para shahabat. Jumlahnya pun sangat sedikit.

Akan tetapi, bukan berarti hadis-hadis yang hingga pada kita kini ini palsu dikarenakan sedikitnya sumber tulisan, tidak. Ini disebabkan faktor kebiasaan masyarakat Arab zaman dahulu yang populer Ummy, mereka lebih mengandalkan hafalan. Salah satu shahifah yang populer pada masa ini ialah shahifah Jabir bin Abdullah yang berisi wacana manasik haji.

2. Pembukuan Sunnah Secara Resmi dan Pengklasifikasiannya (Tadwin wa Tashnif)

Fase ini dimulai pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz hingga masa kini. Adapun orang yang pertama kali membukukannya ialah Muhammad bin Muslim bin Syihab al- Zuhri (124H) atas perintah Umar bin Abdul Aziz yang lalu banyak diikuti oleh para ulama setelahnya.

Kemudian, kurun ketiga hijriyah merupakan masa puncak dalam sejarah perkembangan pembukuan sunnah, para ulama mulai mencari metode gres dalam penulisan sunnah. Diantara mereka ada yang menyusunnya sesuai dengan perawi tertinggi ( musnad), menyerupai musnad Imam Ahmad, ada pula yang menyusunnya sesuai dengan jenis hadis ( sahih,hasan dan maudhu') menyerupai yang disusun oleh Imam Bukhari dalam Sahihnya.

3. Perkembangan Hadis Masa Modern.

Perkembangan hadis pada masa ini tak terlepas dari imbas dua madrasah hadis populer yaitu India dan Mesir yang keduanya merupakan promotor kebangkitan madrasah hadis kurun ke-14 hijriyah.

a. India dan Madrasah Hadis

Sebagian ulama telah mencapai kata setuju bahwa para ulama India mempunyai peranan penting dalam menghidupkan kembali madrasah hadis. Bahkan sebagian ulama besar hadis ketika ini masih saja merujuk kembali karya-karya ulama hadis bumi Hindustan, bahkan tak ada satu perpustakaan pun kecuali di dalamnya terdapat karya dari ulama negeri ini.

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dalam muqaddimahnya pada buku Miftah KunuzAl-Sunnahberkata: " jikalau bukan hasil pengorbanan saudara kita para ulama India terhadap ilmu hadis, maka akan sirnalah ilmu ini di banyak tempat di Timur…." Di antara para ulama India yang populer antara lain: Syaikh Abdurrahman Abu al-Aliy al-Mubarakfury karyanya yang populer yaitu Tuhfatul Ahwudzisyarah Sunan Turmuzi dan Syaikh Muhammad Syamsul Haq bin Amir Ali al-Adhim Abadi yang menulis kitab 'Aunul Ma'bud syarah Sunan Abi Daud.
b. Mesir dan Al-Azhar
Walaupun mesir pada awalnya tak semarak India dalam membangkitkan madrasah hadis, namun Mesir dengan Azharnya ikut juga mengambil Andil dalam pengembangan madrasah hadis zaman kini ini. Ditambah lagi akhir-akhir ini Mesir khususnya al-Azhar mulai menghidupkan kembali sunnah- sunnah mereka terdahulu. Terbukti dengan maraknya kajian hadis yang diadakan di sekitar mesjid legendaris ini, yang diajarkan pribadi oleh para pakar hadis mereka. Bahkan al-Azhar tak segan-segan mendatangkan ulama hadis terkemuka demi mejaga dan membuatkan madrasah hadis di seluruh dunia.
c. Perkembangan Studi Hadis di Indonesia
Sulit kiranya melacak perkembangan hadis di Indonesia dikarenakan sedikitnya tumpuan yang ada. Berbeda dengan cabang ilmu yang lain menyerupai tafsir, fikih, akidah, dan filsafat yang bukunya senantiasa memenuhi perpustakaan-perpustakaan yang ada di Indonesia.
Namun demikian bukan berarti Indonesia tidak mempunyai sejarah wacana ilmu ini. Sejarah perkembangan hadis di Indonesia sendiri sudah dimulai semenjak kurun ke-17masehi yang dipelopori oleh dua orang ulama Aceh populer yaitu Syaikh Nuruddin al-Raniry dengan karyanya Hidayatul Habibfi Targhib wa Tarhib yang menginterprestasikan hadis dengan ayat-ayat Al- Alquran untuk mendukung argumen yang ada dalam kitab tersebut.
Sedangkan yang kedua ialah Syaikh Abdurrauf al-Singkili yang berasal dari Singkil NAD. Adapun dua maha karyanya dalam bidang hadis adalahSyarah lathif 'ala Arba'in Hadisan lil Imam al-Nawawi dan yang kedua ialah Al-Mawa'idz Al-Badi'ah yang berisi kumpulan hadis-hadis qudsi.
Walaupun perkembangan studi hadis di Indonesia sudah dimulai semenjak kurun ketujuhbelas, namun studi ini belum terkenal. Hal ini disebabkan oleh kecerendungan masyarakat pada tasawuf ketika itu.
Studi ilmu hadis gres dikenal pada awal kurun ke-20 yang merupakan pembaharuan terhadap perkembangan studi ilmu ini. Pada masa ini ilmu-ilmu hadis mulai diajarkan di surau-surau, pesantren-pesantren, mesjid, bahkan di sekolah-sekolah. Hingga pada tahun 70-an dibukalahpost graduate di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia yang merupakan cikal bakal perkembangan studi hadis di Indonesia.

Oleh: Khairul Rafiqi
Mahasiswa Tkt. IV, Fak. Ushuluddin, Jur. Hadis, Univ. al-Azhar, Kairo.
Tulisan ini  pernah dipublish pada Buletin Pendidikan KMA, Edisi ke- XXIII, Rabi’ul Akhir 1433H/ Maret 2012.

Generasi Minus Moral


Agama Islam sangat menjunjung tinggi adat bagi umatnya, baik itu adat sesama insan maupun adat insan dengan makhluk hidup lainnya. Rasulullah Saw. Adalah sosok tepat dalam membimbing adat umat Islam, segala aspek kehidupan yang Rasulullah Saw. Jalankan yaitu pelajaran yang istimewa untuk mengokohkan tiang dasar untuk moral generasi Islam.

Rasullah Saw. Dikenal dengan sosok yang begitu fenomenal dan istimewa, bahkan keistimewaan dia diakui oleh mitra dan lawan. Tutur  bahasa yang fasih dan di megerti oleh setiap kabilah-kabilah arab menciptakan dia sangat gampang berintraksi dalam masyarakat untuk memberikan risalah kebenaran, dia juga seorang negosiator ulung dan professional.

Selain menjadi seorang pembawa risalah, Rasulullah Saw. juga berprofesi sebagai pedangang,yang sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran. bahkan dikala dia bercanda dia tidak pernah berkata dusta, buah dari kejujuran Rasulullah saw. Sehingga menerima gelar Al Amin (yang terpercaya). Dalam surah Al qalam Allah Swt. Berfirman "wainnaka laa ala khuluqin a'dhim", ayat ini secara sareh Allah Swt. Katakan bagaimana fenomenalnya adat Rasulullah Saw. Tiada satu manusiapun bisa berperilaku menyerupai beliau.

Dalam hadist shahih dijelaskan bahwa Allah swt. mengutuskan Rasulullah Saw. Ke permukaan bumi ini untuk menyempurnakan adat manusia. "innama bu'itstu li utammima makarimal akhlak", bangsa arab yang di kenal bagitu garang selalu menciptakan kerusakan dimana-mana, membunuh anak perempuan, menyakiti istri, perjudian dan mabuk-mabukan menjadi tradisi yang mereka pertahankan, begitulah skema kehidupan jahiliyah. Sehingga Allah swt. Mengutuskan seorang da'i pembawa cahaya kebenaran di tengah-tengah mereka.

Jahiliyah abad modern

Akhir-akhir ini kita di kejutkan oleh berita-berita tergredasinya moral kaum muda negeri ini, website-website gosip online selalu menghadirkan gosip hangat seputar kaum muda, bisnis penjualan wanita, narkoba, tauran, pemerkosaan, bebesnya pergaulan muda-mudi, tenpat-tempat wisata di Aceh di penuhi kaum remaja berpacaran mencar ilmu adegan dewasa.

Kemudian maraknya goyang harlem shake bagi bawah umur remaja mulai merajalela di negeri ini. baru-baru ini menyebar sebuah video pendek di youtube siswa-siswi SMU di Banda Aceh melaksanakan agresi herlem shake, dengan seketika timbul komentar-komentar negative atas agresi mereka, bahkan tidak sedikit yang menunjukkan komentar kutuk atas video tersebut, ini sangat memalukan.

Bukti kasatmata tergredasinya moral remaja yaitu menyebarnya virus free sex ke negeri seuramoe meukah. Menyebarnya virus eropa (red. Free sex)  ke Aceh  menjadi pukulan telak bagi mereka yang masih peduli terhadap kaum muda, hina, keji dan memalukan, dimanakah posisi kita sebagai saudara mereka, dimanakah tanggung jawab kita selaku tetangga mereka, apa yang telah kita lakukan untuk meraka?

Tidak bisa dipungkiri ini yaitu tanggung jawab bersama, setiap individu tidak bisa berdiam diri tanpa mencengah hal-hal menyerupai ini pada kaum muda, mereka yaitu prospek masa depan. Pendidikan mereka perlu diperhatikan, bila tidak, maka lihatlah kembalinya abad jahiliyah kepada generasi muda. Na'udzubillahi min dzalik.

Jika di tahun 2013 moral generasi muda sudah sedemikian minus, bayangkan di tahun 2020, bayangkan apa yang akan terjadi di negeri ini di tahun 2030? Saya yakin dunia akan kembali ke masa sebelum Allah mengutuskan Rasul Saw. Ya kita akan kembali hidup di zaman jahiliah abad modern, hidup bagaikan hewan ternak bahkan lebih sesat dari itu.

Aceh yang dulu dikenal dengan negeri syari'at Islam yang sangat kental dengan nilai-nilai agama yang Rasulullah Saw. Bawakan, sekarang menjadi negeri kerdil yang hidup di samudera maksiatan.

Berbagai faktor yang sekarang menciptakan generasi muda terlarut dalam kesesatan moral. kurangnya perhatian orang renta kepada anak mereka, para guru di sekolah-sekolah kurang kontrol dan terlalu membebaskan pergaulan antara siswa-siswinya, imbas luar melalui media cetak dan internet menciptakan generasi kita gampang memalsukan aspek kehidupan non muslim.

Kaum muda prospek menjanjikan

Pepatah arab berkata "Syababul yaumi u'mara'il ghad" yang berarti cowok hari ini yaitu pemimpin masa depan. Tidak ada kalangan yang menafikan bila nasib sebuah Negeri ada pada kaum muda, bila kaum muda baik maka akan oke negeri tersebut dan sebaliknya.

Disini dituntut untuk bergotong-royong memperbaiki kemungkaran yang ada di negeri ini, setiap kepala mempunyai tanggung jawab. Tidak ada yang membedakan antara pemimpin dengan rakyat biasa dalam hal ini, semua punya hak untuk memperbaiki.

Ke khawatiran ini akan segera terhapuskan bila setiap individu mempunyai rasa prihatin terhadap masa depan umat. Kita mulai dengan saling menasehati kepada kebaikan, alasannya hanya ini yang kita punya. Kita tidak mempunyai kekuasaan yang lebih untuk melalukan sesuatu yang besar untuk negeri ini, lakukan hal kecil dengan nilai besar jauh lebih berarti daripada mempunyai kekuasaan besar tetapi tidak bisa berbuat.

Guru-guru, figur masyarakat, dan orang renta harus mempunyai perhatian khusus dalam mengembalikan kaedah dasar dalam diri manusia, yaitu fitrah terhadap kebaikan. Jika mereka mempunyai seribu alasan untuk menolak bebaikan, mengapa kita berhenti? Bukankah kita juga mempunyai sejuta alasan untuk terus menjaga existensi dakwah demi bangsa dan agama?

Allah berfirman dam surat al-ashr: "demi masa (1). sesungguhnya insan dalam kerugian (2). melaikan orang-orang yang beriman, dan yang menjalankan amal sholeh serta saling menesahati untuk kebaikan dan saling menasehati untuk sesabaran (3).

Semoga kita senantiasa menjadi manusia-manusia yang selalu mendengarkan hal yang baik dan saling mengingatkan kepada kebaikan, amin.


Oleh: Muazzinul Akbar
Penulis Mahasiswa al Azhar Fakultas Ushuluddin Tahun II.

Friday, 13 March 2020

Talaq 1 Atau Talaq 3


Talaq merupakan permasalahan sensitif dalam kajian fiqih Islam. Poblematika talaq adalah  satu hal yang musti  diketahui syarat dan rukunnya oleh ummat Islam, lebih-lebih bagi mereka yang sudah menikah.

Jika kita membuka fiqih Islam, kedudukan belahan talaq merupakan satu hal yang unik. Dimana para fuqahak dalam karya-karyanya menempatkan belahan talaq selalu setelah belahan nikah. Hal ini menunjukkan talaq tidak akan jatuh sebelum menikah. Filosofinya dari segi kedudukannya saja sudah tergambar hukumnya.

Secara etimologi talaq bermakna, 'melepaskan ikatan.' Apa saja yang kita lepas ikatannya digolongkan talaq dari segi bahasa. Adapun dari segi terminologi talaq bermakna,  'melepaskan ikatan nikah dengan lafaz talaq.' Para fuqahak juga telah mengklasifikasikan talaq ini kedalam dua belahan secara global, yaitu talaq ba in dan talak raj'i.

Talaq ba in yakni talaq yang dijatuhkan suami dengan talaq tiga. Adapun talaq raj'i yang dijatuhkan suami dengan talaq satu atau dua. Atsar yang dikandung talaq ba in yakni tercerainya hubungan nikah secara total. Berbeda dengan talaq raj'i yang tidak tetapkan hubungan nikah secara total, bagi suami masih ada kesempatan untuk mengikat kembali hubungan nikah dengan cara rujuk.
Selanjutnya penulis akan menguraikan makna talaq dari segi bahasa yang bermakna umum.

Melepaskan

Menurut jago bahasa apa saja yang dilepaskan ikatannya dinamakan talaq. Seorang pengembala kambing melepaskan kambingnya dari ikatan berarti dia telah mentalaqkannya. Seorang tuan memerdekakan budaknya berarti dia telah mentalaqkannya.

Begitu juga dengan pelajar yang punya sejuta semangat berguru dan membaca buku ketika ujian tiba, kemudian setelah ujian pergi semangat belajarnya hilang begitu saja. Orang menyerupai ini juga dinamakan talaq berdasarkan jago bahasa. Intinya apapun yang dilepaskan, ditinggalkan, dicuwekin dinamakan talaq.

Melepaskan adakala menjadi hal yang berat bagi seseorang. Seorang cowok yang cintanya kepada seorang perempuan sudah mengakar hingga ke tulang sum-sumnya melepaskan perempuan tersebut yakni satu hal yang sangat berat baginya. Bagi cowok lain adakala melepaskan kekasihnya menjadi hal biasa yang tidak beban sama sekali. Hal ini mungkin alasannya yakni cintanya sudah redup atau lain sebagainya.

Bagi seorang pelajar atau mahasiswa yang rajin membaca buku dan belajar, meninggalkan aktifitas berguru merupakan hal yang berat baginya. Karena membaca dan berguru sudah menjadi habbitnya. Hal yang sering diulang-ulang seseorang tanpa ada unsur paksaan kemungkinan besar sulit dilepaskan.

Namun bagi seorang pelajar yang semangat belajarnya muncul alasannya yakni unsur paksaan melepaskan atau meninggalkan berguru sama sekali tidak beban baginya. Hal ini mungkin alasannya yakni berguru bukan habbitnya.

Pelajar yang belajarnya bukan alasannya yakni paksaan akan selalu memancarkan semangatnya tanpa terindikasi oleh waktu dan keadaan. Baik waktu ujian atau bukan dia akan selalu belajar, alasannya yakni berguru yakni kebiasaannya.

Pelajar yang semangat belajarnya muncul alasannya yakni unsur paksaan ini ada dua golongan. Pertama, jikalau ujian telah final semangat belajarnya akan turun yang namun dia masih berguru meskipun tidak sesering waktu ujian. Ini yang saya namakan dengan talak satu. Dia mentalaqkan berguru dengan talaq raj'i. Artinya dia masih mau rujuk untuk belajar.

Ke dua, jikalau ujian sudah final maka semangat belajarnya akan turun drastis. Pelajar menyerupai ini tidak akan berguru dan mengulang lagi kecuali waktu ujian saja. Ini yang saya namakan dengan talaq tiga. Dia mentalaqkan berguru dengan talaq bain. Artinya dia tidak akan mau berguru dan mengulang lagi.

Semangat berguru tersebut akan hilang yang otomatis butuh pengorbanan yang berpengaruh jikalau dia ingin mendirikannya suatu hari nanti. Ibarat suami yang mentalaqkan istrinya dengan talaq tiga (ba in) dia harus mengorbankan banyak hal jikalau ingin menikah lagi dengan istri tersebut.

Relakah?

Apapun golongannya, bagaimanapun tipenya, yang menjadi pertanyaan bagi kita yakni relakah mentalaqkannya? Relekah melepaskan semangat berguru yang sudah kita berdiri pada ketika ujian tadi? Yang pada ketika membangunnya adakala kita harus mengorbankan untuk tidak tidur malam, tidak makan, maukah mentalaqkannya alasannya yakni ujian telah tiada?

Ini yang harus kita renungi dan pertimbangkan sebelum meninggalkannya. Adalah kebahagiaan dan kenajahan itu tersimpan pada mereka-mereka yang tidak mentalaqkan semangat belajarnya. Kemalangan dan kegagalan tersimpan pada mereka yang melepaskan dan mentalaqkannya. Di sini lah eksistensi kita mau menentukan yang mana.

Imam Nawawi (mujtahid tarjih) yang oleh sejarah mencatat hidupnya hanya 45 tahun tapi dia telah menghasilkan ratusan karya. Yang tidurnya sama sekali tidak menyerupai kita tidur di atas kasur yang empuk. Beliau hanya tidur di atas dingklik jikalau rasa ngantuk tiba pada ketika berguru dan menulis. Imam Jalaluddin AS Sayuti yang dijuluki sebagai mujaddin (pembaharu) era ke-9 ('Aqidah Imam Asy 'Ari hal: 45) dia dapat menghasil bermacam-macam karya dari banyak sekali funun ilmu dengan semangat belajarnya.

Semangat merekalah yang harus menjadi motivasi bagi kita ummat Islam. Artinya kita tidak perlu untuk mengambil motivasi dari orang kafir selama dalam khazanah historis ulama Islam masih banyak motivasi yang belum kita gali. Buku Syehk Abdul Fattah Abu Nguddah ,'Qimatuz Zaman 'Indal Ulama' merupakan satu buku spektakuler yang layak  kita miliki untuk memotivasi diri. Karena dalam buku tersebut dia menulis banyak sekali macam cara para ulama dalam menjaga waktu untuk belajar.

Maukah kita mentalaqkan semangat berguru kita yang sudah kita berdiri dengan begitu kokoh alasannya yakni tidak ada paksaan! Sementara di sana masih banyak orang-orang yang ingin berguru menjadi orang hebat tapi mereka tak punya kekuatan. Semoga kita menjadi pelajar yang selalu menjaga ikatan semangat berguru tanpa mentalaqkanya. Dan nantinya bakal menjadi suami dan istri yang saling menjaga 'ismah nikah. Semoga!

Oleh: Abdul Hamid M Djamil
Penulis: Staf redaksi www.kmamesir.org

Aceh Modal Perempuan Indonesia


Aceh daerah modal. Benarkah itu? tentu saja sangat benar. Sejak dari awal munculnya negara Indonesia. Aceh sudah merupakan modal bagi terwujudnya negara terbesar di Asia Tenggara ini. Dari derma dua pesawat, untuk keperluan perundingan luar negeri Presiden Soekarno, hingga penegasan adanya negara Indonesia dari Radio Rimba Raya di Aceh, bahwa masih ada daerah Indonesia yang belum terkalahkan oleh Belanda yaitu Aceh. Tanpa Aceh, Internasional kala itu di Denhag tidak mengakui adanya Indonesia.

Baru-baru ini, lahir UU yang mengatur Otonomi Daerah, kapan UU itu mulai dipikirkan oleh pemerintah? Setelah Aceh bergejolak protes atas kezaliman Orde Lama, dan Orde Baru yang adikara terhadap daerah, kususnya Aceh yang ditipu dengan hanya sebutan gelar "istimewa" tapi tidak satu pun perlakuan untuk Aceh yang mencerminkan daerah "istimewa", malah yang terjadi, pencurian hasil bumi Aceh dan pembunuhan jati diri dan abjad masyarakat Aceh, berupa penindasan terhadap masyarakat hingga diakhiri dengan peristiwa DOM.

Akan tetapi, walau rakyat Aceh harus menanggung penderitaan jawaban keberaniannya menentang kezaliman pemerintah yang tidak adil kala itu, hal tersebut tidak menjadi masalah, alasannya yaitu penderitaan Aceh itulah yang lalu menjadi modal lahirnya UU Otonomi Daerah untuk seluruh Indonesia.

Dalam kancah perpolitikan, Aceh pula yang pertama sekali melaksankan Pemilihan Kepala Daerah Langsung (PILKADASUNG), yang lalu menjadi modal untuk pengadaan PILKADASUNG di seluruh Indonesia. Dalam hal ini, Aceh layak dijuluki dengan sebutan "Modal Demokrasi Mutlak" bagi daerah-daerah di seluruh Indonesia.

UU Pornografi, walau penah diperselisihkan oleh elit-elit politik di pusat, jakarta. Akan tetapi, Aceh sudah lebih duluan melangkah memberlakukan syariat Islam di Aceh, yang tidak hanya melarang agresi pornografi saja, tapi juga mencegah segala agresi lainnya, yang sanggup merusak mental anak, membunuh abjad remaja, dan menciptakan kehancuran dalam keluarga.

Kita harap, Indonesia paling tidak kedepan sanggup memikirkan untuk meningkatkan penjagaan susila masyarakat, dengan cara mengadopsi qanun-qanun Aceh, yang kiranya sanggup mendukung rencana pemerintah, dalam rangka mencegah agresi pornografi.

Dan sekarang, UU Jilbab Polwan, sedang hangat diperdebatkan, kabarnya, nama Aceh disebut-sebut dalam perdebatan itu. Akankah Aceh menjadi modal berikutnya bagi pembelaan hak asasi perempuan Indonesia, untuk menerima hak-hak mereka secara utuh, di antaranya kebebasan menutup aurat?

Kita optimis, jawabannya Insya Allah "ya", kalaupun tidak sekarang, masa yang akan datang. Dan sebagai catatan sejarah, angkatan perang perempuan Aceh, yang dikomandoi oleh Cut Malahayati, dengan busana dan aurat yang terjaga, jauh sudah menjadi modal untuk kepahlawanan perempuan Indonesia.

Oleh : Edi Saputra MA.
*Penulis yaitu pemerhati politik Aceh. Sedang menuntaskan aktivitas doktoral di Universitas Al-Azhar.