Wednesday, 11 December 2019

Tsalatsatul Ushul (2) : Bahaya Bagi Orang Yang Mendurhakai Rasulullah

Tsalatsatul Ushul (2) : Bahaya Bagi Orang Yang Mendurhakai Rasulullah
 Ancaman Bagi Orang Yang Mendurhakai Rasulullah Tsalatsatul Ushul (2) : Ancaman Bagi Orang Yang Mendurhakai Rasulullah


Allah-lah yang membuat kita dan memberi rizki kepada kita. Allah tidak membiarkan kita begitu saja dalam kebingungan, tetapi mengutus kepada seorang rasul kepada kita, maka barangsiapa yang mentaati rasul tersebut akan masuk nirwana dan
barangsiapa yang mendurhakainya akan masuk neraka. Dalilnya yaitu firman Allah Ta’ala:
إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا  (15)
فَعَصَىٰ فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا (16)
Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul yang menjadi saksi terhadap kalian, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul kepada fir’aun, maka fir’aun mendurhakai Rasul itu, maka Kami siksa ia dengan siksaan yang berat” (QS. Al-Muzammil: 15-16).

Kesimpulan dalil

  1. Allah mengutus kepada kita seorang Rasul.
  2. Barangsiapa mentaati Rasul tersebut akan masuk surga, dan barangsiapa mendurhakainya akan masuk neraka.

Penjelasan dalil

  1. Untuk kesimpulan pertama, yaitu Allah mengutus kepada kita seorang Rasul. Hal ini sebab Allah Ta’ala menjelaskan dalam ayat ke-15 bahwa Dia mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam) kepada kita.
  2.  Untuk kesimpulan kedua, yaitu barangsiapa yang mentaati rasul tersebut akan masuk nirwana dan barangsiapa yang mendurhakainya akan masuk neraka. Hal ini sebab dalam ayat ke-16 disebutkan bahwa dikala fir’aun mendurhakai Rasulullah Musa ‘alaihis salaam, maka ia disiksa dengan siksaan yang berat, maka dianalogikan dengan orang yang mendurhakai Rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan umat ini.
Analogi tersebut tersebut menurut dua alasan:
  1. Sebab yang sama, yaitu sama-sama durhaka. Kedurhakaan seseorang terhadap rasul yang diutus kepadanya itu mengakibatkan didapatkannya siksaan Allah. Hal ini berlaku pada semua manusia.
  2. Sunnatullah itu tetap dan tidak berubah, bahwa orang yang durhaka kepada rasul, siapapun orangnya, baik dari umat Rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam maupun dari umat Rasulullah Musa ‘alaihis salaam akan mendapat siksa. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam kitab Hushulul Ma`muul bi syarhi Tsalatsatil Ushul bahwa makna ayat di atas yaitu Allah ‘Azza wa Jalla mengutus seorang rasul kepada kalian, sebagaimana telah mengutus kapada fir’aun seorang rasul, kemudian perhatikanlah bagaimana perilaku fir’aun dan kaumnya kepada rasul tersebut (Rasulullah Musa ‘alaihis salaam), sebab Sunnatullah itu sama tidak berubah dan tidak berganti.
***
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Tuesday, 10 December 2019

Tsalatsatul Ushul (4) : Tujuan Diciptakannya Manusia

Tsalatsatul Ushul (4) : Tujuan Diciptakannya Manusia
 biar Allah membimbing anda untuk taat kepada Tsalatsatul Ushul (4) : Tujuan Diciptakannya Manusia1.
***

Perintah Allah yang Paling Agung yaitu Tauhid

Perintah Allah yang paling agung yaitu tauhid, yaitu memurnikan ibadah untuk Allah semata, sedangkan larangan Allah yang paling besar yaitu syirik, yaitu menyembah selain Allah di samping menyembah-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An-Nisa`: 36).

Kesimpulan Dalil

Perintah Allah yang paling agung yaitu tauhid dan larangan Allah yang paling besar yaitu syirik.

Penjelasan Dalil

Secara lengkap, ayat yang telah disebutkan di atas yaitu sebagai berikut.
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
(36) “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat oke kepada dua orangtua, karib-kerabat, belum dewasa yatim, orang-orang miskin, tetangga yang akrab dan tetangga yang jauh, dan teman dalam safar, ibnu sabil dan hamba sahaya kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.
Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menyebutkan perintah untuk menunaikan sepuluh hak, sehingga ayat ini dinamakan “Ayat perihal sepuluh hak,” sedangkan perintah penunaian hak yang pertama kali disebutkan yaitu penunaian hak Allah Ta’ala, yaitu perintah untuk bertauhid dengan menyembah Allah saja dan larangan dari menyekutukan Allah (syirik). Hal ini menawarkan bahwa tauhid yaitu perintah Allah yang paling agung, sedangkan syirik yaitu larangan Allah yang paling besar.
Syaikh Abdur Rahman Al-Qosimi rahimahullaah menjelaskan hal ini di dalam kitabnya Hasyiah Kitabit Tauhid bahwa ayat ini dinamakan ayat perihal sepuluh hak. Demikian itu alasannya yaitu ayat ini mengandung sepuluh hak. Ayat tersebut dimulai dengan perintah untuk bertauhid dan larangan dari menyekutukan Allah (syirik). Hal ini menawarkan bahwa tauhid yaitu kewajiban yang paling wajib dan syirik yaitu keharaman yang paling besar.
[bersambung]
____
  1. Penjelasan kandungan Tauhid Uluhiyyah ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullaah  biar Allah membimbing anda untuk taat kepada Tsalatsatul Ushul (4) : Tujuan Diciptakannya Manusia
***
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Tsalatsatul Ushul (5) : Allah Yaitu Rabb Semesta Alam

Tsalatsatul Ushul (5) : Allah Yaitu Rabb Semesta Alam
Maka katakanlah Rabbku yakni Allah yang telah memelihara diriku dan memelihara semesta al Tsalatsatul Ushul (5) : Allah Adalah Rabb Semesta Alam1? Maka katakanlah Rabbku yakni Allah yang telah memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni’mat-Nya. Dialah sembahanku, tiada bagiku sesembahan yang benar selain Dia.
Allah Ta’ala berfirman,
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala puji hanya milik Allah Pemelihara semesta alam” (QS. Al-Faatihah: 1).
Semua yang ada selain Allah disebut alam (makhluk), dan saya yakni bab dari semesta alam ini.

Kesimpulan Dalil

Allah yakni satu-satunya Rabb alam semesta/makhluk. Hanya Allah lah Sang Pencipta, Sang Pemilik, Sang Pemberi rezeki, dan Sang Pengatur alam semesta/makhluk.

Penjelasan Dalil

Mengapa sanggup disimpulkan bahwa Allah yakni satu-satunya Rabb alam semesta? Hal ini alasannya pada ayat yang agung ini, Allah menyebutkan bahwa diri-Nya adalah Rabbul ‘aalamin.

Cakupan makna Ar-Rabb

Ar-Rabb yakni salah satu dari nama Allah yang mengatakan makna yang luas, tidak hanya mengatakan kepada satu makna saja. Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah dalam kitabnya Fiqhul Asmaa’ Al-Husna menjelaskan bahwa makna Ar-Rab yakni Pemilik Rububiyyah atas seluruh makhluk-Nya, dari sisi penciptaan, kepemilikan, kekuasaan memperlakukan (alam semesta), dan pengaturan. Beliau juga menjelaskan bahwa jika nama Ar-Rab disendirikan penyebutannya, maka meliputi semua nama Allah yang terindah dan sifat-Nya yang paling mulia.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa nama Ar-Rab yakni Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Mencipta, Yang Maha Mengadakan, Yang Maha Membentuk (makhluk), Yang Maha hidup, Yang Maha Berdiri sendiri dan Menegakkan (selain-Nya), Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Melihat, Yang Maha Berbuat kebaikan, Yang Maha Memberi ni’mat, Yang Maha Dermawan, Yang Maha Memberi dan Yang Maha Mencegah, Yang Mendatangkan Kemanfaatan dan Kemudharatan, Yang Maha Mengawalkan dan Mengakhirkan, Yang Menyesatkan siapa yang Dia Kehendaki dan Memberi hidayah kepada siapa yang Dia Kehendaki, Yang Membahagiakan siapa saja yang Dia Kehendaki dan Menyengsarakan siapa saja yang Dia kehendaki, Memuliakan dan Menghinakan siapa yang Dia Kehendaki dan makna Rububiyyah yang lain. Dari makna Rububiyyah tersebut, terdapat nama-nama terindah yang berhak disandang oleh-Nya.
____
  1. Ar-Rabb adalah Sang Pencipta, Sang Pemilik, Sang Pemberi rezeki dan Sang Pengatur alam semesta/makhluk, sebagaimana dalam catatan sesudah ini, in sya Allah Maka katakanlah Rabbku yakni Allah yang telah memelihara diriku dan memelihara semesta al Tsalatsatul Ushul (5) : Allah Adalah Rabb Semesta Alam
***
[bersambung]
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Tsalatsatul Ushul (6) : Tanda Bahwa Allah Ialah Rabb Alam Semesta

Tsalatsatul Ushul (6) : Tanda Bahwa Allah Ialah Rabb Alam Semesta
 Tanda Bahwa Allah Adalah Rabb Alam Semesta Tsalatsatul Ushul (6) : Tanda Bahwa Allah Adalah Rabb Alam Semesta


Selanjutnya, kalau anda ditanya melalui apa Anda mengenal Rabb Anda. Maka hendaklah Anda jawab melalui gejala kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Di antara gejala kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Sedang di antara ciptaan-Nya ialah tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala makhluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya. Dan dalilnya firman Allah Ta’ala :
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Dan di antara gejala kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah (pula kalian bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, kalau kalian benar-benar hanya kepada-Nya lah beribadah” (QS. Fushshilat: 37).
Dan firman-Nya Ta’ala:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Sesungguhnya Tuhan kalian ialah Allah yang telah membuat langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, senantiasa mengikutinya dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta bintang-bintang, (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam” (QS. Al-A’raaf : 54).

Kesimpulan Dalil

Surat Fushshilat: 37 dan QS. Al-A’raaf: 54 menunjukkan keberadaan Allah dan bahwa Allah lah satu-satunya Rabbul ‘alamin, Dia lah Sang Pencipta, Sang Pemilik, dan Sang Pengatur malam, siang, matahari, bulan, bintang, langit dan bumi.
Dengan demikian, mengenal Ar-Rabb (Allah) sanggup melalui gejala kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya.

Penjelasan Dalil

Allah Ta’ala menyebutkan dalam surat Fushshilat: 37 bahwa di antara gejala kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Yang dimaksud gejala kekuasaan-Nya di sini ialah gejala yang menunjukkan keberadaan Allah dan Keesaan-Nya dalam Rububiyyah-Nya dan Uluhiyyah-Nya. Sedangkan dalam surat QS. Al-A’raaf: 54, Allah Ta’ala menyebutkan bahwa hanya Dialah Sang Pencipta langit, bumi, matahari, bulan, bintang dan bahwa hanya Dia-lah Rabbul ‘alamin.
Dengan demikian, benarlah apa yang dijelaskan penulis kitab Tsalatsatul Ushul di atas, saat menyebutkan melalui apa Anda mengenal Rabbmu? Maka hendaklah Anda jawab melalui gejala kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya.
***
[bersambung]
[serialposts]
Penulis: Ust Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Tsalatsatul Ushul (7) : Ar Rabb Ialah Satu-Satunya Sesembahan Yang Berhak Disembah

Tsalatsatul Ushul (7) : Ar Rabb Ialah Satu-Satunya Sesembahan Yang
Berhak Disembah
 Sembahlah Tuhan kalian yang telah membuat kalian dan orang Tsalatsatul Ushul (7) : Ar Rabb Adalah Satu-Satunya Sesembahan Yang Berhak Disembah


Ar-Rabb (Allah) adalah satu-satunya yang berhak untuk disembah. Dalilnya yakni firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21)
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)
(21) Wahai manusia! Sembahlah Tuhan kalian yang telah membuat kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, supaya kalian bertakwa.
(22)(Rabb) yang telah mengakibatkan untuk kalian bumi
ini sebagai hamparan dan langit sebagai atap, serta menurunkan (hujan) dari langit, kemudian dengan air itu Dia mengeluarkan dengannya segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu, janganlah kalian mengambil sekutu-sekutu bagi Allah (dalam peribadatan), padahal kalian mengetahui” (Surat Al-Baqarah: 21-22).
Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala, menjelaskan bahwa hanya Sang Pencipta segala sesuatu yang berhak diibadati.

Kesimpulan Dalil

Ar-Rabb lah satu-satunya yang berhak untuk disembah. Maksudnya, hanya Sang Pencipta, Sang Pemilik, Sang Pengatur, dan Pemelihara alam semesta,  Rabbul ‘alamin lah yang berhak disembah. Adapun selain-Nya tidaklah berhak disembah.

Penjelasan Dalil

Dalam surat Al-Baqarah: 21, Allah Ta’ala mememerintahkan kita untuk menyembah-Nya semata alasannya yakni hanya Dia lah Rabb kita yang telah membuat kita dan orang-orang sebelum kita. Oleh alasannya yakni itu, Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala, menjelaskan bahwa hanya Sang Pencipta segala sesuatu yang berhak diibadati.
Dalam surat Al-Baqarah: 22, Allah Ta’ala menyebutkan bahwa alasannya yakni keberadaan-Nya sebagai Rabbul ‘alamin itulah yang mengakibatkan larangan mengambil sekutu-sekutu bagi-Nya (dalam peribadatan). Dari sini sanggup disimpulkan bahwa mengesakan Allah dalam Rububiyyah-Nya mengharuskan mengesakan-Nya dalam Uluhiyyah-Nya.

Catatan

Ulama rahimahumullaah telah menjelaskan ihwal hubungan antara Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Uluhiyyah, yaitu
توحيدالربوبية مستلزم لتوحيد الألوهية
“Mengesakan Allah dalam Rububiyyah-Nya mengharuskan mengesakan-Nya dalam Uluhiyyah-Nya.”
Kaidah di atas bermakna barangsiapa yang meyakini keesaan Allah dalam Rububiyyah-Nya, yaitu meyakini bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam membuat makhluk, mengatur, memberi rezeki, memberi manfaat, menimpakan musibah/keburukan, menghidupkan, mematikannya serta selainnya dari makna-makna Rububiyyah-Nya, maka dogma tersebut mengharuskannya mengesakan-Nya dalam segala bentuk peribadatan. Hal ini alasannya yakni hanya Dzat yang bisa membuat makhluk, mengaturnya, memberi rezeki kepadanya, dan yang selainnya dari makna-makna Rububiyyah itu sajalah yang pantas dan wajib disembah, sedangkan selain-Nya dihentikan dan tidak pantas disembah.
***
[bersambung]
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Tsalatsatul Ushul (8) : Seluruh Ibadah Yakni Untuk Allah Semata

Tsalatsatul Ushul (8) : Seluruh Ibadah Yakni Untuk Allah Semata
 Seluruh Ibadah Adalah Untuk Allah Semata Tsalatsatul Ushul (8) : Seluruh Ibadah Adalah Untuk Allah Semata1.
Dengan demikian kesimpulannya
  1. Semua macam ibadah harus dipersembahkan untuk Allah Ta’ala saja.
  2. Tidak boleh beribadah kepada selain Allah, siapapun dan apapun selain Allah tersebut!
___
  1. Selengkapnya, silahkan baca klarifikasi wacana duduk kasus sebelumnya tersebut  Seluruh Ibadah Adalah Untuk Allah Semata Tsalatsatul Ushul (8) : Seluruh Ibadah Adalah Untuk Allah Semata
***
[bersambung]
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Tsalatsatul Ushul (9) : Yang Mempersembahkan Ibadah Untuk Selain Allah, Dia Musyrik Dan Kafir

Tsalatsatul Ushul (9) : Yang Mempersembahkan Ibadah Untuk Selain Allah,
Dia Musyrik Dan Kafir
 Yang Mempersembahkan Ibadah Untuk Selain Allah  Tsalatsatul Ushul (9) : Yang Mempersembahkan Ibadah Untuk Selain Allah, Ia Musyrik Dan Kafir


Barangsiapa yang mempersembahkan salah satu saja dari semua macam ibadah untuk selain Allah, maka ia yaitu musyrik dan kafir. Dalilnya yaitu firman Allah Ta’ala berikut ini.
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya perihal itu, maka benar-benar kesannya ada pada Tuhannya. Sungguh tiada beruntung orang-orang kafir itu” (QS. Al-Mu`minun: 117).

Kesimpulan Dalil

Barangsiapa yang mempersembahkan ibadah untuk selain Allah, maka ia yaitu musyrik dan kafir.

Penjelasan Dalil

Di awal ayat tersebut, Allah Ta’ala sebutkan perihal orang-orang yang menyembah sesembahan lain di samping (menyembah) Allah, kemudian di selesai ayat, Allah sebutkan akhir dari perbuatan mereka, yaitu:
  1. Ditiadakan Al-Falah (keberuntungan) secara totalitas, hal itu disimpulkan dari mashdar nakirah dalam konteks abolisi yang terkandung dalam لَا يُفْلِحُ lā yufli‘tiada beruntung’ yang menunjukkan bahwa seluruh keberuntungan ditiadakan akhir dari penyembahan kepada selain Allah. Peniadaan kebruntungan tersebut diperuntukkan bagi orang kafir. Mereka di akhirat, tidak mendapat keberuntungan sama sekali, sehingga masuk kedalam neraka awet selama-lamanya.
  2. Allah menamakan orang-orang yang menyembah sesembahan lain di samping (menyembah) Allah sebagai orang-orang yang kafir (al-kafirin). Ini menunjukkan bahwa perbuatan mereka tersebut yaitu perbuatan kekafiran (kufur akbar) sekaligus merupakan kesyirikan (syirik akbar), dikarenakan telah mempersembahkan ibadah untuk selain Allah disamping untuk Allah. Dengan demikian, benarlah apa yang dikatakan oleh sang penulis kitab Tsalatsatul Ushul ,Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullahu di atas, “Barangsiapa yang mempersembahkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka ia yaitu musyrik dan kafir.”

Faedah Besar

Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ…
“Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya perihal itu…”
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan kekejian syirik dan kejamnya pelaku kesyirikan (musyrikin) dengan menyatakan bahwa kesyirikan, apapun bentuknya, niscaya tidaklah mempunyai pembenaran dan dalil, baik dalil syar’i maupun dalil nalar sehat.
Namun, kenyataannya, masih saja ada orang-orang yang menyekutukan Allah dalam peribadatan. Hal itu dikarenakan mereka mengikuti hawa nafsu atau godaan setan. Padahal seandainya mereka mau memperhatikan dalil-dalil dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah yang shahihah, tanpa perlu mengkaji terlalu dalam, asalkan didasari hati yang bersih, maka akan terperinci bahwa mentauhidkan Allah yaitu wajib dan berbuat syirik yaitu haram.
***
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Monday, 9 December 2019

Tsalatsatul Ushul (10) : Beribadah Kepada Selain Allah Ialah Batil

Tsalatsatul Ushul (10) : Beribadah Kepada Selain Allah Ialah Batil
 Beribadah Kepada Selain Allah Adalah Batil Tsalatsatul Ushul (10) : Beribadah Kepada Selain Allah Adalah Batil


Sesungguhnya di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahihah, terdapat banyak dalil yang menawarkan kewajiban beribadah hanya kepada Allah dan kebatilan beribadah kepada selain Allah. Hal ini menawarkan bahwa dalil-dalil kewajiban bertauhid itu banyak jumlahnya. Demikian pula dalil-dalil ini sangatlah kuat, alasannya disebutkan tidak hanya dalam satu macam dalil saja.
Oleh alasannya itu amatlah kasihan para pelaku kesyirikan. Betapa tidak! Dalil-dalil yang demikian besar lengan berkuasa dan gamblang, tidak bisa mereka pahami atau tidak mau menerimanya, padahal untuk memahaminya, tidak diperlukan kecerdasan yang tinggi dan konsentrasi yang berat. Jika seseorang itu benar-benar berhati higienis dan bersungguh-sungguh mencari kebenaran, maka dengan gampang mereka akan memahami kewajiban bertauhid dari dalil-dalil tersebut, atas izin Allah.
Allah Ta’ala mengingatkan kita,
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
(22) Dan bekerjsama telah Kami mudahkan Al-Qur`an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. Al-Qomar: 22).
Imam Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan ayat tersebut,
ولقد سهلنا القرآن وهوّناه لمن أراد التذكر به والاتعاظ { فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ} يقول: فهل من متعظ ومنـزجر بآياته
“Sungguh Kami telah memudahkan dan tidak menyulitkan (lafadz dan makna) Al-Qur`an bagi orang yang menginginkan peringatan dan pelajaran darinya maka adakah orang yang mengambil pelajaran. Allah mengingatkan bahwa adakah orang yang mengambil pelajaran dan menahan diri (dari melaksanakan larangan)?”

Dua metode pendalilan untuk kewajiban bertauhid

Perlu diketahui bahwa di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahihah terdapat dua metode pendalilan yang menawarkan kewajiban beribadah kepada Allah (Tauhid) dan kebatilan beribadah kepada selain Allah (syirik), yaitu pendalilan dengan dalil-dalil umum dan dengan dalil-dalil khusus.
1. Dalil-dalil Umum
Yaitu dalil-dalil yang menawarkan bahwa ibadah apapun dilarang dipersembahkan kepada selain Allah, namun harus dipersembahkan kepada Allah semata. Barangsiapa yang mempersembahkannya kepada selain Allah, maka beliau musyrik kafir. Misalnya beberapa firman Allah berikut ini,
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
Dan Tuhanmu telah memerintahkan biar kalian jangan menyembah selain Dia (QS. Al-Israa`: 23).
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan tidaklah Aku membuat jin dan insan melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
Dan bekerjsama masjid-masjid itu hanyalah kepunyaan Allah, alasannya itu janganlah kalian menyembah apapun (di dalamnya) di samping (menyembah) Allah” (QS. Al-Jin: 18).
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An-Nisa`: 36).
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya perihal itu, maka benar-benar hasilnya ada pada Tuhannya. Sungguh tiada beruntung orang-orang kafir itu” (QS. Al-Mu`minun: 117).
Ayat-ayat yang menawarkan bahwa satu saja dari peribadatan, apapun bentuknya, kalau dipersembahkan kepada selain Allah, maka itu yakni kesyirikan dan pelakunya disebut musyrik kafir. Dengan demikian, kelompok dalil-dalil umum ini meliputi semua bentuk peribadatan.
[bersambung]
***
[serialposts]
Penulis: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id