Wednesday 11 March 2020

Menunggu Mursi Kembali!


Bila engkau mati
Biarkan deru-deru debu
Menyiumi keningmu nan suci...

Bila engkau lelap dalam cahaya yang tak bisa kami lihat
Gambaran segenap juangmu tak satupun goyah
Oleh hamparan hujan peluru
Yang dipegangi nadi-nadi anak negerimu sendiri!

Oh, Harum Debu kawasan baringmu yang memeluk
Tempat segala keabadian nyala
Juang tanpa pertikaian,
Engkau hanya membisu dalam hening di jalan-jalan
Apipun menghadap juangmu mendinginkan bara
Karna hendak bangga
Dihidupi tekadmu!

Seperti Nil yg disurati sang Khalifah kala itu,
Deras mengaliri tanahmu
Yang sebelumnya bisu menjamu dahaga tanah airmu
Seperti itulah deras jalan-jalan negerimu engkau banjiri
Maka saksikanlah betapa engkau sebetulnya dalam kekuatan yang menyala-nyala
walau tanpa atribut perang apapun!
Engkau menyerupai bayi suci yang lahir dan turun dalam kafan-kafan juang di jalan-jalan

Duhai,
Tidurmu begitu lelap ketika ibadah fajar kamu tinggikan
Senin dini hari ketika itu
Tapi Diatas segala teror engkau tetap kokoh
Dan diujung melodi selesai hayat yang berdesing itu engkau roboh
...
Lalu sepi dan aroma kedamaian menyatu-menyelimuti
Fajar dalam negerimu!

Duhai, tidaklah sejenakpun engkau letih
hingga hari ke 21 ini
Hingga dalam tidur lelapmupun
Sekujur tubuhmu bersuara lantang
“kembalikan presiden negeri kami, presiden untuk negeri kami Islam yang suci! kami tak akan pergi dari shaf jalan-jalan ini hingga seribu nyawapun kami rela, usaha kami tak kan mati hingga dalam selesai hayat kami!"

Raysa, 220713



banner
Previous Post
Next Post