Sunday, 15 December 2019

Hukum Membaca Situs Edukasi Seks

Hukum Membaca Situs Edukasi Seks
Apakah aturan bagi seorang cowok yang berumur  Hukum Membaca Situs Edukasi Seks1
***
Fatwa Islamweb.net di atas selaras dengan anutan An-Nawawi rahimahullah berikut ini:
Adapun sekedar menyebutkan kasus korelasi intim, jikalau tidak ada faedahnya dan tidak ada kebutuhannya, maka hukumnya makruh, alasannya yakni hal itu menyelisihi kehormatan, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرًا أو ليصمت
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam!”2  (Syarh Shahih Muslim, An-Nawawi).
Demikianlah prinsip hidup seorang yang di hatinya terdapat keimanan kepada Allah dan hari Akhir, maka ia sadar bahwa ia tidaklah diciptakan untuk berpuas-puas dengan aktifitas korelasi intim! Pria tidaklah diciptakan untuk menyembah perempuan dan demikian pula sebaliknya.
Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa ia diciptakan dan hidup untuk mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya saja, Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan insan kecuali untuk beribadah kepada-Ku saja” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).
Lain halnya dengan orang-orang kafir yang tidak paham untuk apa mereka hidup. Hidupnya dihabiskan untuk bersenang-senang menuruti hawa nafsu. Oleh alasannya yakni itu, didapatkan di antara mereka jikalau menyukai hobi olahraga tertentu, maka seakan-akan beliau diciptakan untuk berolahraga. Jika di antara mereka punya hobi sepeda motor gede, mayoritas waktunya untuk mencari, merawat dan mengendarainya, seakan-akan beliau diciptakan untuk mengendarai motor gedenya selamanya. Demikian pula problem korelasi intim, sungguh sangat jauh berbeda pandangan seorang yang beriman kepada Allah dengan orang yang kufur terhadap-Nya.
Bagi seorang mukmin, ia memandang bahwa korelasi intim itu haruslah dengan nikah yang sah, dilakukan dalam konteks ibadah, secukupnya dan tidak mau berlebihan dalam problem tersebut, alasannya yakni berlebihan di dalamnya tidaklah bernilai ibadah, bahkan justru membahayakan perjalanan ibadahnya kepada Allah Ta’ala dan menjauhkan dirinya dari-Nya.
Adapun orang kafir, sangat pantas kekafiran membawanya kepada berlebih-lebihan dalam urusan korelasi intim, seakan-akan tidak ada problem yang lebih perlu diperhatikan daripada korelasi intim! Dalam problem ini, banyak di antara mereka yang tak kenal waktu, tak kenal daerah dan tak kenal siapa pasangannya yang sah! Wallahu a’lam.
***
  1. Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=44216 Apakah aturan bagi seorang cowok yang berumur  Hukum Membaca Situs Edukasi Seks
  2. HR. Al-Bukhari dan Muslim Apakah aturan bagi seorang cowok yang berumur  Hukum Membaca Situs Edukasi Seks
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber  : Muslim.or.id

Bolehkah Melihat Gambar Porno Demi Kepuasan Hubungan Suami Istri?

Bolehkah Melihat Gambar Porno Demi Kepuasan Hubungan Suami Istri?

 atau melihat gambar porno sebelum melaksanakan kekerabatan intim suami istri Bolehkah Melihat Gambar Porno Demi Kepuasan Hubungan Suami Istri?


Soal:
Apakah saya boleh membaca (cerita seks) atau melihat gambar porno sebelum melaksanakan kekerabatan intim suami istri, dengan tujuan untuk membangkitkan syahwat, sebab saya tidak mendapat kelezatan dalam kekerabatan intim suami istri kecuali dengan cara itu.
Jawab:
Tidak boleh melihat gambar porno dan aktifitas seks tersebut, (meskipun) dengan alasan supaya sanggup merangsang dan  membangkitkan syahwat untuk melaksanakan kekerabatan intim (suami istri). Dalam perbuatan tersebut terdapat perbuatan menyaksikan dosa (tanpa mengingkarinya, pent.), melihat aurat orang lain, serta melihat zina yang Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (sangat) benci.
Jadi (dalam masalah di atas), melihat adegan-adegan seks tersebut dihentikan sama sekali. Adapun persoalan membaca dongeng seks, maka ini (adalah suatu keburukan juga, namun) lebih ringan keburukannya dibandingkan dengan melihat foto porno tersebut.
Akan tetapi meskipun demikian, membaca dongeng seks merupakan kepingan dari langkah-langkah setan.
Dan cerita-cerita seks itu tidaklah kosong dari (dua kemungkinan),
  1. Bisa jadi menceritakan perihal (seks) para pezina pria ataupun perempuan, dan ini yaitu kasus yang diharamkan.
  2. Bisa jadi pula, menceritakan perihal pasangan suami istri (pasutri) tertentu yang mengabarkan perihal aktifitas seks mereka, maka inipun termasuk dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    إن من أشر الناس عند الله منزلة يوم القيامة، الرجل يفضي إلى امرأته وتفضي إليه، ثم ينشر سرها” (رواه مسلم (1437) عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه).
    Sesungguhnya insan yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat yaitu orang lelaki yang bekerjasama dengan istrinya (jima` dan muqodimahnya) dan istrinyapun bekerjasama dengannya, lalu pria tersebut mengembangkan diam-diam (hubungan dengan) istrinya tersebut” (HR. Muslim (1437), dari Abi Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu).
Demikian pula, dalam seluruh cara-cara yang kotor tersebut, terdapat kasus yang menodai rasa malu, menipu daya dan berdampak buruk, sehingga hasilnyapun menjadi kebalikan dari apa yang diharapkan, (yaitu) seorang istri menjadi tidak selera dengan suaminya, demikian pula suaminya menjadi tidak selera dengan istrinya.
Tanggal Fatwa: 29-12-1430 H
(Selesai terjemah aliran Syaikh Khalid Al Mushlih yang diambil dari: ar.Islamway.net/fatwa/41033/حكم-قراءة-مواضيع-جنسي)

Demikianlah wahai para pembaca, terkadang setan menipu insan dengan cara membawakan alasan pembenaran perbuatan dosa, hingga insan memandang dan meyakini bahwa dosa yang dilakukannya itu benar, ketahuilah, inilah yang dinamakan dengan syubhat (kerancuan pikiran/keyakinan).
Dan obat hal itu yaitu sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan (ulama) jikalau kau tidak mengetahu (QS. An-Nahl:43). Wallahu a’lam.
***
Penyusun: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Wednesday, 27 November 2019

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (1)

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (1)
Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak  Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (1)


Jadilah Orang Tua Betulan, Bukan Kebetulan Kaprikornus Orang Tua

Setiap orang yang berpikir sehat tentunya setuju bahwa mendidik anak itu perlu ilmu. Jangankan mendidik anak, hanya sekedar masak nasi pun butuh ilmu kan?
Apalagi mendidik anak yang diposisikan dalam jalur ibadah ini dan dibutuhkan menghasilkan amal-amal jariyah. Benarlah kata Imam Al-Bukhari rahimahullah, al-’ilmu qoblal qaul wal ‘amal.
Apabila kita telah sama-sama tahu bahwa mendidik anak itu sangat butuh ilmu, marilah kita bandingkan antara dua aktifitas keseharian kita, yaitu mendidik anak dan bekerja.
Banyak orang yang sangat antusias mempersiapkan diri untuk menjadi pegawai atau profesi tertentu yang menjadi cita-citanya sejak duduk di SD. Tidak hanya sekedar acara utama KBM di kelas, namun juga belajar khusus dan kursus pun dijalani untuk sebuah persiapan itu, bahkan hingga kuliah gelar S3 bukan?
Hal itu berarti untuk urusan pekerjaan bagi banyak orang harus benar-benar menjadi ‘profesionalis betulan’ dan bukan ‘kebetulan profesional’ kan?
Namun…
Untuk urusan menjadi orang tua, sang pendidik anak, apakah banyak orang mempersiapkan diri menyerupai persiapan mereka untuk menjadi profesionalis? Bukankah urusan pekerjaan itu pada umumnya ada jam kerja yang terbatas beberapa jam saja? Adapun kiprah menjadi orang renta dan mendidik anak tak terbatasi dengan ‘jam kerja’ bukan?
Tapi…
Lihatlah kenyataannya antara dua urusan tersebut, sungguh jauh berbeda. Banyak lho, lelaki yang menyandang gelar ‘bapak’, hanya sebab istrinya melahirkan anak. Dan gak kalah banyaknya, perempuan yang dijuluki ibu, hanya sebab gres saja melahirkan sang jabang bayi.
Yang pria yaitu bapak ‘kebetulan’ , nah yang perempuan yaitu ibu ‘tak diprogram’. Kalau urusan pekerjaan, hingga harus melaksanakan standarisasi dan sertifikasi, namun bila urusan menjadi orang renta sang pendidik anak, cukuplah belajar sambil eksklusif magang ataulearning by doing.
Ini menyerupai dengan prinsip muda foya-foya, renta kaya raya, dan mati masuk surga! Urusan mendidik anak, bukan asal punya uang sehingga dapat memasukkan sang anak ke sekolah unggulan. Boleh jadi, sekolahnya yang unggulan, namun lulusannya dapat saja bukan insan unggulan. Terlalu banyak perkara yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Ustadzuna Abdullah Zaen, MA hafizhahullah mengatakan, “Uang memang dapat membeli kawasan tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap. Uang dapat membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Uang juga dapat membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi pemberian ketika mereka terempas. Betapa banyak belum dewasa yang ringkih jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapat apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang” (Dinukil dan diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak/).
[Bersambung]
***
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (2)

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (2)
Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak  Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (2)


Tujuan Pendidikan Anak (Tarbiyyatul Aulad)

Ketika dua sejoli memadu kasih dengan ikatan nikah yang diungkapkan dalam Quran sebagai mitsaaqan gholiizhan, maka terbayanglah harapan yang mulia menanti untuk diraih. Cita-cita yang tinggi dari janji nikah yang suci tentunya tidaklah sebatas untuk menyalurkan kebutuhan biologis sepasang anak insan dengan cara yang halal. Namun di sana terdapat tujuan-tujuan besar lainnya, menyerupai menjaga kehormatan, memperbanyak jumlah orang-orang yang menyembah Allah semata, menjaga keberlangsungan keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam, dan selainnya.
Nah, salah satu tujuan mulia tersebut yang tentunya sangat diidam-idamkan kita bersama sebagai orang bau tanah ialah terlahir dari rahim ibu-ibu muslimah generasi yang saleh dan salehah lagi bisa menjadi penyejuk pandangan kedua orang tuanya, bermanfaat bagi keduanya di dunia terlebih lagi di akhirat.
Berpikirlah sejenak, dan renungkanlah dengan hati yang bening tanggapan pertanyaan berikut, “Bukankah anak saleh dan salehah ialah sosok anak yang memahami untuk apa mereka diciptakan di muka bumi ini?” Ya, anak saleh berarti anak yang berhasil meraih tujuan hidupnya. Kesanalah bermuara seluruh tujuan-tujuan pernikahan, kembali kepada tujuan hidup kita sebagai hamba Allah.
Oleh sebab itu, kalau ada yang bertanya apakah tujuan pendidikan anak dalam Islam? maka sebut saja sebuah tanggapan sederhana namun universal cakupannya,
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan tidaklah Aku membuat jin dan insan melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).
Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia membuat jin dan insan dengan tujuan supaya mereka beribadah kepada-Nya saja, dan tidak menyekutukan-Nya.Tahukah anda,wahai orang tua, apakah ibadah itu?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah (hal. 4) sebagai berikut.
الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ
“Ibadah ialah suatu kata yang meliputi setiap perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang lahir (anggota badan yang nampak)”.
Jadi, tatkala seseorang berusaha dan berjuang keras supaya setiap kata dan perbuatannya yang lahir maupun batin dicintai oleh Rabbnya, maka itulah profil seorang hamba yang sadar akan tujuan hidupnya, apapun kedudukan dan strata sosialnya. Dengan demikian, kalau kita kembalikan kepada pertanyaan untuk apa kita mendidik anak.
Jawablah, “Agar mereka menjadi generasi penyembah Allah semata, generasi muwahhidiin muwahhidah yang seluruh ucapan dan perbuatan mereka dibingkai dan didasari dengan niat yang lapang dada untuk beribadah kepada Rabbul ‘Aalamiin. Agar setiap ucapan anakku dan setiap perbuatannya diridhai oleh-Nya. Agar batin dan lahir buah hatiku sesuai dengan keridhaan-Nya.”
[bersambung]
***
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Tuesday, 26 November 2019

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (3)

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (3)
Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak  Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (3) 1. Mari, semangat mendidik anak dalam bingkai ibadatullah yang terkandung dalam QS. Adz-Dzaariyaat: 56 menjadi harapan kita bersama. Sehingga terlahir sosok bawah umur yang berhasil dicintai dan diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala dan selamat dari api neraka. Inilah kesuksesan yang hakiki berumah tangga dan keberhasilan dalam mendidik anak, tatkala semua anggota keluarga selamat dari api neraka dan masuk kedalam surga. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang materi bakarnya ialah insan dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS.At-Tahriim: 6).

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan mencicipi mati. Dan bahwasanya pada hari simpulan zaman sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imraan:185).

Saya katakan, “Tinggal satu permasalahannya, yaitu akankah seorang anak dapat beribadah kepada Allah Ta’ala dan dapat menjadi sosok anak yang ucapan dan perbuatannya dicintai oleh-Nya tanpa mengetahui syari’at-Nya? Bukankah syari’at-Nya berisikan segala hal yang dicintai-Nya?”

Sayapun bertanya kepada anda, wahai ayah dan ibu. “Apakah Anda dapat beribadah kepada Allah Ta’ala dengan menjadi orang bau tanah yang sukses tanpa tahu Syari’at-Nya?”
Ya, benar. Tak akan dapat orang bau tanah menjadi sukses mendidik anak dan tidaklah dapat sang anak menjadi sholeh atau sholehah hingga mengetahui syari’at-Nya.

[bersambung]

***

[serialposts]

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Sumber : Muslim.or.id

_____

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (4)

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (4)
Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak  Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (4)


Urgensi Mendidik Anak dengan Cinta dan Kasih Sayang

Tatkala Anda tahu bahwa kecintaan Allah ialah tujuan mendidik anakmaka ketahuilah bahwa mendidik anak dengan cinta karena-Nya ialah kasus yang dicintai-Nya. Allah Ta’ala amatlah mengasihi hamba-hamba-Nya yang didalam hatinya terdapat kasih sayang dan cinta kepada sesamanya. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
“Orang-orang yang penyayang pasti akan disayangi pula oleh Ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi pasti Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian” (HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).
Renungkanlah, tidakkah kita mau menjadi orang yang disayangi-Nya dan dicintai-Nya melalui cara mendidik belum dewasa dengan kasih sayang dan cinta alasannya ialah Allah?
Perhatikanlah hadis berikut ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengasuh dua anak kecil, Usamah bin Zaid dan  Al-Hasan bin Ali dengan asuhan cinta. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia memeluk dirinya dan Al-Hasan kemudian bersabda,
اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا أَوْ كَمَا قَال
“Ya Allah, sungguh saya mengasihi keduanya maka itu cintailah keduanya”, atau sebagaimana dia sabdakan” (HR. Al-Bukhari).
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallampernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha dia yang lainnya, kemudian dia mendekap keduanya dan berdo’a,
اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا
Ya Allah kasihilah keduanya alasannya ialah saya mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).
Pelajaran
  1. Di dalam hadis yang agung di atas terdapat instruksi bahwa kecintaan dan kasih sayang dia kepada dua anak kecil tersebut ialah cinta dan kasih sayang yang nrimo alasannya ialah Allah dan demi mengharap keridhaan-Nya, alasannya ialah mengiringi kecintaan dan kasih sayangnya dengan kecintaan dan kasih sayang Allah sebagai dasarnya sekaligus buahnya.
  2. Mengasuh anak dengan cinta dan kasih sayang yang nrimo ialah kasus yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Maka barangsiapa mempraktekkannya berarti ia mengikuti suri teladan terbaik, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangsiapa yang mengikuti beliau, maka tanda bahwa ia mengasihi Allah dan dicintai oleh-Nya, alasannya ialah Allah berfirman,
    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
    “Katakanlah, “Jika kau (benar-benar) mengasihi Allah, ikutilah aku, pasti Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imraan: 31).Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:
    هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله ، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر ، حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأحواله
    “Ayat yang mulia ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengklaim bahwa dirinya mengasihi Allah, jikalau ia tidaklah berada di atas Sunnah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bahwasanya ia berdusta dalam persoalan tersebut sampai mengikuti Syari’at dan agama (yang dibawa) Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh ucapan maupun perbuatannya”.
[Bersambung]
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (5)

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (5)
Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak  Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (5)


Definisi Kasih Sayang (rahmah)

Dalam kitab Mufrodaatul Quraan yang ditulis oleh Ar-Ragib Al-Ashfahani rahimahullahdikisahkan sebagai berikut.
الرَّحْمَة رقَّة تقتضي الإحسان إلى الْمَرْحُومِ، وقد تستعمل تارةً في الرِّقَّة المجرَّدة، وتارة في الإحسان المجرَّد عن الرِّقَّة
“Rahmah ialah rasa belas kasih (didalam hati) yang mengharuskan (seseorang) berbuat baik kepada makhluk yang disayangi, terkadang kata ‘rahmah’ digunakan untuk rasa belas kasih (didalam hati) saja, namun terkadang kata ‘rahmah’ digunakan untuk mengungkapkan perbuatan baik saja tanpa rasa belas kasih (di dalam hati).”
Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan kata ‘rahmah’ dalam Ighaatsatul Lahfan,
فالرحمة صفة تقتضي إيصال المنافع والمصالح إلى العبد ، وإن كرهتها نفسه ، وشقت عليها ، فهذه هي الرحمة الحقيقية
“Rahmah ialah suatu sifat yang mengharuskan adanya penyampaian manfaat dan maslahat kepada seorang hamba meskipun hal itu dibenci dan dirasakan berat olehnya, inilah rahmah yang sebenarnya”.
Ibnul Qoyyim pun melanjutkan penjelasannya bahwa orang yang paling sayang kepada Anda ialah orang yang paling bermanfaat dan bermaslahat bagi Anda dan paling menjaga anda dari segala hal yang membahayakan Anda, walaupun perilaku itu berat Anda rasakan.
Misalnya, seorang ayah yang sayang kepada anaknya, maka ia akan ‘memaksakan’ atau mengarahkan untuk mau berguru budbahasa Islami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan sang ayah pun akan menghalang-halangi anaknya menuruti hawa nafsunya yang membahayakannya.
Dan apabila sang ayah mendapat dirinya teledor dalam hal itu, maka itu disebabkan sedikitnya rasa kasih sayangnya kepada sang anak, meskipun ia berdalih bahwa dirinya amat mengasihi putranya dan ingin menyenangkannya, lantaran ini berarti kasih sayang yang diiringi ketidaktahuan akan hakikat kasih sayang yang sebenarnya, sebagaimana perilaku ini terjadi pada sebagian ibu-ibu. Oleh lantaran itu, termasuk kesempurnaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ialah Dia menimpakan aneka macam macam tragedi alam kepada seorang hamba, mengujinya dengan aneka macam macam ujian, dan mencegahnya mendapat banyak hal yang disukai oleh hawa nafsunya, lantaran Dia menyayanginya.
Namun, lantaran kebodohan seorang hamba dan kezalimannya, ia menyangka yang tidak-tidak terhadap Rabbnya hingga iapun tidak memahami bahwa hal itu ialah bentuk ihsan Allah kepada dirinya dengan mengujinya dan menimpakan tragedi alam kepadanya. Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang paling bermanfaat bagi diri seorang hamba (Diringkas dari Ighaatsatul Lahfan, hal. 491).
Definisi Cinta
Ar-Rogib Al-Ashfahani rahimahullah mengatakan:
المحبَّة: ميل النفس إلى ما تراه وتظنه خيرًا
“Cinta ialah condongnya jiwa kepada sesuatu yang dipandangnya dan disangkanya sebagai sebuah kebaikan”.
Adapun Ibnul Qoyyim rahimahullah memiliki pandangan lain dalam mendefinisikan cinta,beliau menjelaskan bahwa tidaklah ada suatu ungkapan yang lebih terperinci dalam membatasi makna cinta daripada kata ‘cinta’ itu sendiri. Justru dengan membatasi makna cinta dalam sebuah definisi akan menambah tidak jelasnya makna cinta.
Adapun apa yang banyak dikatakan oleh insan wacana cinta, hanyalah sebatas klarifikasi wacana sebab-sebab cinta, perkara-perkara yang mengharuskannya, tanda-tandanya, dan bukti-bukti cinta (Diringkas dari Madarijus Salikin : 3/11). Jadi, cinta berdasarkan Ibnul Qoyyim adalah cinta itu ya cinta, suatu hal yang sulit kalau harus menjelaskan masalah yang sudah terperinci dirasakan dalam hati manusia.
[Bersambung]
***
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (6)

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (6)
Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak  Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (6)


Cinta yang murni itu mempunyai tanda-tanda. Kasih sayang yang tuluspun menuntut adanya pernyataan dan perilaku sebagai bukti-buktinya. Tanda-tanda cinta dan bukti-bukti kasih sayang itu yaitu sebuah bahasa insan ketika mengungkapkan perasaan yang terpendam dalam hatinya. Nah, apa saja gejala dan bukti-bukti cinta dan kasih sayang yang lapang dada dari seorang ayah dan ibu kepada putra-putrinya? Berikut ini jawabannya.
  1. Cinta Allah Ta’ala
  2. Panggilan Cinta
  3. Sambutan Cinta
  4. Kata Cinta
  5. Sentuhan Cinta
  6. Dekapan Cinta
  7. Ciuman Cinta
  8. Candaan Cinta
  9. Penghargaan Cinta
  10. Pemberian Cinta
Perlu dipahami bahwa jumlah sepuluh disini bukanlah maksudnya sebagai pembatasan, namun hal ini sekedar untuk memberi teladan bentuk-bentuk cinta dan kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak. Selanjutnya dibutuhkan para pembaca terpacu untuk mencari contoh-contoh lain dari suri teladan terbaik di dunia ini.

1. Cinta Allah Ta’ala Adalah Asal dari Seluruh Cinta yang Terpuji

Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan,

فأصل المحبة المحمودة التي أمر الله تعالى بها، وخلق خلقه لأجلها: هي محبته وحده لا شريك له المتضمنة لعبادته دون عبادة ما سواه، فإن العبادة تتضمن غاية الحب بغاية الذل، ولا يصلح ذلك إلا لله عز وجل وحده

“Dasar cinta terpuji yang Allah Ta’ala perintahkannya dan Allah ciptakan makhluk akhirnya yaitu menyayangi Allah semata, tiada sekutu baginya. Cinta Allah mengandung peribadahan kepada-Nya semata dan tidak menyembah selain-Nya, alasannya yaitu sebetulnya ibadah mengandung puncak cinta diiringi dengan puncak perendahan diri. Sikap ini dilarang dipersembahkan kecuali kepada Allah Azza wa Jalla semata” (Ighaatsatul Lahfan, hal. 457-458).

Kecintaan seseorang kepada Allah wajib ada di atas segala bentuk kecintaannya kepada selain-Nya, alasannya yaitu cinta Allah yaitu dasar dari agama Islam ini, dengan sempurnanya cinta ini pada hati seseorang, menjadi tepat pula keimanannya, dan sebaliknya, dengan berkurangnya kadar kecintaan seseorang kepada Allah, akan berkurang pula 
keimanannya.

Allah berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman lebih menyayangi kepada Allah” (QS. Al-Baqarah: 165).

Ibnul Qoyyim pun juga menjelaskan bahwa cintalah yang menggerakkan orang yang menyayangi sesuatu mencari sesuatu tersebut. Maka orang yang menyayangi Allah dengan benar dan baik, akan tergerak untuk mencari perkara yang dicintai oleh Allah pada setiap ucapan maupun perbuatannya. Lahirnya maupun batinnya akan beliau pantau terus supaya sesuai dengan kecintaan dan keridhaan Rabbnya. Inilah yang kita kenal pada klarifikasi sebelum ini dengan definisi ibadah.

Ayah dan Ibu, ajarkanlah kepada ananda cinta kepada Sang Penciptanya. Tanamkan kepada diri putra-putri Anda bagaimana menyayangi Allah dengan baik dan benar. Pahamkan mereka dengan penuh kasih sayang, bahwa menyayangi Allah itu harus dibuktikan dengan mencari segala sesuatu yang dicintai-Nya. Perkara yang dicintai oleh Allah terdapat dalam syari’at-Nya yang dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai Allah yang benar yaitu dengan mengikuti Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, ‘Jika kau (benar-benar) menyayangi Allah, ikutilah aku, pasti Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’” (QS. Ali Imraan: 31).

Semoga dengan demikian putra-putri kita menjadi sadar bahwa tujuan hidup mereka yaitu menjadi bawah umur yang dicintai oleh Allah. Inilah letak kebahagiaan yang hakiki bagi kita sebagai orang renta ketika melihat putra-putri kita dicintai dan diridhai oleh Allah. Bagaimana kita tidak bahagia, tidak sejuk pandangan mata kita, dan tidak ridha hati kita sebagai orang tua? Bukankah apabila Allah ridha kepada seorang anak, maka tentulah setiap orang renta yang lurus fithrahnya akan ridha terhadapnya.

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (7)

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (7)
Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak  Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (7)


2. Panggilan Cinta

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ia berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menjenguk kami. Ketika itu saya mempunyai adik pria yang masih kecil, dijuluki Abu Umair. Ia mempunyai burung kecil yang ia suka bermain dengannya. Lalu matilah burung itu. Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya, kemudian dia melihatnya sedang bersedih, kemudian dia bertanya,

مَا شَأْنُهُ

“Ada apa dengannya?”

Orang-orang menjawab “Telah mati burung kecil itu!”, maka beliaupun bertanya,

يَا‏ ‏أَبَا عُمَيْرٍ‏ مَا فَعَلَ ‏ ‏النُّغَيْرُ

“Wahai Abu Umair! Apakah gerangan yang dilakukan oleh burung kecil itu?” (HR. Abu Dawud, shahih).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja memanggilnya dengan panggilan khas (tashghiir) dalam rangka untuk membuatnya bahagia dan merasa diperlakukan dengan perilaku yang memang diharapkannya, yaitu memberi perhatian yang lebih disaat dirinya sedang bersedih. Cobalah ayah dan ibu perhatikan dongeng di atas, bukankah bersama-sama dia sudah diberitahu bahwa Abu Umair duka alasannya yaitu burung kecilnya mati?

Namun mengapa dia tetap saja bertanya? Hikmah yang besar tentunya di balik perilaku dia tersebut.

Secara psikologis, belum dewasa yang mengalami kesedihan butuh daerah untuk curhat, mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatinya. Dan semakin orang itu mempunyai keutamaan yang tinggi ditambah dengan sifatnya yang gampang dekat dengan anak-anak, hal ini akan mendorong belum dewasa semakin terbuka untuk curhat kepadanya.

Oleh alasannya yaitu itu, sengaja dia bertanya memakai kalimat yang memancing tercurahkannya isi hati sang anak kepadanya. Di samping itu, seorang anak kecil ketika mendapat perhatian dari orang yang terhormat, apalagi dari sosok Utusan Allah yang termulia, akan sangat merasa dihargai, sehingga giliran selanjutnya diperlukan terbentuk kepribadian yang mempunyai kepercayaan diri yang bagus.

3. Sambutan Cinta

Dari Abdullah bin Ja’far berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِصِبْيَانِ أَهْلِ بَيْتِهِ

Dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika tiba dari safar, diarahkanlah belum dewasa dari Ahli Bait dia (untuk menyambut beliau)”.

Abdullah bin Ja’far berkata,

وَإِنَّهُ قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَسُبِقَ بِي إِلَيْهِ فَحَمَلَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ ثُمَّ جِيءَ بِأَحَدِ ابْنَيْ فَاطِمَةَ فَأَرْدَفَهُ خَلْفَهُ قَالَ فَأُدْخِلْنَا الْمَدِينَةَ ثَلَاثَةً عَلَى دَابَّةٍ

Suatu ketika dia tiba dari safar, kemudian akupun didahulukan untuk menyambut beliau, kemudian beliaupun mengangkatku (untuk didudukkan di atas tunggangan beliau) di depan beliau, kemudian didatangkanlah salah satu dari dua putra Fathimah (Hasan atau Husain, pent.), beliaupun memboncengnya di belakangnya, kemudian kamipun bertiga menaiki hewan tunggangan masuk Madinah” (HR. Muslim).

Lihatlah bagaimana sambutan hangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat memungkinkan dia ketika itu masih dalam keadaan capai alasannya yaitu beratnya safar zaman dahulu, namun tetap bertawadhu’ dan menyempatkan diri untuk menyambut kedua anak tersebut dengan penuh kedekatan, sehingga mereka berduapun merasa tersanjung dan merasa dekat dengan insan yang paling mulia di muka bumi. Kenangan menyerupai inilah yang masih diingat oleh bocah sang pelaku sejarah ketika itu, Abdullah bin Ja’far radhiallahu ‘anhu. Hal ini menanamkan pelajaran-pelajaran abjad yang mulia, menyerupai rendah hati, kemampuan membangun komunikasi dengan baik, dan tenggang rasa yang anggun kepada orang lain.

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]