Tuesday, 10 March 2020

Tgk. Dawod Go Internasional


Ditengah hiruk pikuk yang melanda Mesir, ternyata tidak menghalangi seorang mahasiswa Al Azhar asal Aceh untuk terus berkarya. Dengan kecintaannya kepada Al Qur’an ternyata telah mengantarkan Muhammad Darwin Lukman atau yang dekat disapa kawan-kawan mahasiswa Aceh di Mesir dengan panggilan Tgk. Dawod menembus konflik mesir menuju Turki.

Semua ini berawal dari silaturrahmi guru-guru besar di Semerkand TV, ketika mereka mengunjungi mesir tamat bulan januari 2013 kemudian dalam rangka melihat suasana ekspo kitab internasional. Para pembesar Semerkand TV ini ternyata mempunyai kekerabatan yang dekat dengan Syeikh Abdullah Ismail Daghistan yang tidak lain yaitu guru Tgk. Dawod ketika masih menuntut ilmu di Dayah Darul Ihsan. Melalui rekomendasi Syeikh Abdullah Ismail Daghistan inilah terjalin silaturahmi antara pembesar Semerkand TV dan Tgk. Dawod.

http://www.youtube.com/watch?v=xXioqBA38f0
Singkat cerita, selama para pembesar Semerkand TV tersebut berada di mesir mereka mengetahui kebolehan Tgk. Dawod dalam mengaji. Tidak hanya mengaji, seorang public figure KMA ini juga memeliki beberapa bakat lainnya. Dengan alunan bunyi merdunya Tgk. Dawod juga bisa membawakan qasidah Arab dengan sangat baik. Akhirnya, mereka tertarik mengundang Darwin untuk mengisi program safari ramadhan di Turki dan tampil di Semerkand TV, Turki.

Menurut ratifikasi orang-orang Turki, Semerkand TV merupakan salah satu stasiun TV Turki bergengsi di Turki. Setiap harinya Tgk. Dawod tampil menyapa pemirsa Turki menjelang berbuka dan ketika sahur. Tak hanya mengaji dan melantunkan qasidah, Semerkand TV juga merekam Azan yang dikumandangkan oleh Tgk. Dawod untuk kemudian diputar disetiap waktu shalat. Masyarakat Turki sendiri sangat antusias dengan Artis KMA ini.
[youtube id="e_KIR_2DHo4" width="600" height="350"]

Termotivasi Muammar ZA

Selain orang bau tanah dan guru, ternyata Muhammad Darwin juga termotivasi dari qari internasional asal Indonesia, Ust. H. Muammar ZA. Di masa kecilnya, ternyata Tgk. Dawod sering mendengarkan kaset-kaset pengajian Ust. Muammar ZA dan pengajian-pengajian lainnya di radio yang sering disiarkan ketika menjelang waktu shalat tiba.

“Jujur qari pertama yang menciptakan aku kagum dengan keindahan seni baca Al Qur’an yaitu Ust. Muammar ZA. Makara jangan heran jikalau dalam bacaan sedikit aku masukkan variasi ia sebagai rasa terima kasih aku kepada beliau, “ ungkap Tgk. Dawod.

Selama berada di mesir, Tgk. Dawod juga mendalami gaya variasi para pakar qiraat Mesir, walaupun berdasarkan ratifikasi ia belum terlalu sempurna. Beliau juga berharap kedepan sanggup menguasai qiraat dengan lebih baik.

Mengakhiri cerita, Tgk. Dawod berharap kepada masyarakat Aceh khususnya biar sanggup meneladani budaya-budaya leluhur kita terdahulu, di mana setiap kampung kita jumpai bunyi orang mengaji dan berguru kitab. Tidak ibarat ketika ini, di mana-mana kita jumpai orang bermain game, bahkan bukan hanya yang muda, yang bau tanah juga ikut-ikutan bermain. ( FR)

[youtube id="1D0UcO61KDg" width="600" height="350"]


*untuk beberapa video YouTube lainnya anda bisa memakai keword : Muhammed Davud Lokman

Saturday, 7 March 2020

In Memoriam: Penuh Senyum Dan Pencinta Syahid (2)








*Tawfeek Yoesda El-Hakeem ( Mahasiswa asal Aceh pada Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir):

Pertemuan pertamaku dgn Beliau, sebelummya hanya sebatas mendengar, peran dan kepiawaiannya bertafsir,..

runut dan sangat detail, dikemas dalam bahasa yang sangat santun, seketika hatiku tersentuh, ta'jub, masuk kedalam klarifikasi Beliau,..

sampai saya lupa, bahwa tujuanku ke Elmarg, untuk wada'an dengan abang kelas.

kisah perihal perjalanan Sayyidna Musa As, bersama seorg cowok shalih, serasa hidup, bergitu Abstrak...

Sharpennya maksimal, tak ada yg pudar...

Puas, mendengarkan Kisah dan butir Hikmah, Aku mencoba merampung sebuah pertanyaan,..

Ya Maulana, siapa kah cowok Shalih itu? beredar kisah, dia yaitu nabi Khaidir,..

dan apa kah ia Nabi khaidir itu masih hidup? dan tidak mempunyai tulang di jari ibu kanannya?

Beliau, tersenyum,.. dan dengan hening menjawab,...

sungguh, bnyak mufassirin telah mentafsirkan perihal cowok shalih itu,

Namun bagiku, mengetahui pesan tersirat dibalik kisah ini saja sudah lebih dari cukup,

tidak perlu terlalu mempertanyakan yg tidak kita diperincikan dalam Alquran, karna hanya akan menyulitkanmu,

tinggalkan lah hal2 yg terlalu melebih2kan, laksanakan saja hal yg terang disyiarkan.

Aku membatin, MasyaAllah, bukankah ia seorg andal tafsir, tp, ia sangat berhati2 menyimpulkan apa yg Allah tidak lafadzkan.

beliau menentukan diam, dan meninggalkan apa yang masih samar_samar.

Pertemuan dikuliah, saya hanya berani mengucapkan salam, dan meraih tangannya, ia bergitu santun, teduh, Larut dalam istighfar.

Duktur Abdurrahman 'Ueis dalam memori, smoga Allah menempatkannya bersama para Anbiyaa,shuhadaa, was shalihin.


****

Zulfi Akmal, MA (Magister jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu Al Qur'an di Fak. Ushuluddin, Universitas Al Azhar):

Di samping murung mendalam melihat kejadian hari ini ada bacokan istimewa bagi saya pribadi. Guru kami tercinta Prof. DR. Abdurrahman 'Uwais yang telah membimbing saya sejak awal kedatangan di Mesir hingga jadi pembimbing tesis S 2 di jurusan Tafsir al Azhar, hari ini menjadi salah seorang syuhada' yang tewas di Maidan Rab'ah al 'Adawiyah. Beliau yaitu salah seorang guru yang paling istimewa dalam hidup saya.

Ada segudang kenangan saya bersama beliau, yang insyaallah pada lain kesempatan akan saya ceritakan sebagiannya.

Beliau pencinta syahid dan selalu berdo'a supaya meninggal dalam keadaan syahid. Hari ini Allah betul-betul memperlihatkan apa yang menjadi harapan beliau.

Baru saja saya menghubungi keluarga ia di tempat Al Marj Jadidah, bertepatan dengan tiba mayat beliau. Sayang situasi tidak memungkinkan untuk tiba ke sana malam ini.

Do'a dari teman semua, supaya Allah mengampuni dan merahmati ia serta ditempatkan bersama para syuhada'.









Friday, 1 November 2019

Filosofi Sepak Bola (Menjelang Sumatera Cup) Bab 1



Oleh: Muhammad Mutawalli T. 

Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga terpopuler di dunia hingga kurun ke-21 ini, bahkan diprediksi akan terus terkenal selama kondisi sebagian besar dunia tetap stabil.

Olahraga beregu atau yang lebih terkenal dengan istilah “kesebelasan” ini sangat menjunjung tinggi kesatuan visi dan misi, sportivitas, dan strategi. Apabila salah satu dari beberapa aspek tersebut tidak dipenuhi, maka suatu tim sepak bola tak akan mencapai tujuannya yaitu kemenangan dan kesuksesan.

“Sepak bola yakni sebuh model masyarakat individualistis. Ia menuntut inisiatif, kompetisi dan konflik. Tapi ia diatur dalam hukum tak tertulis berjulukan fair play.”

-Antonio Gramsci, Teoritis, Aktivis Politik Italy, (1924-1981)-

“Sepak bola yakni bab dari diriku dikala saya membangunkan dunia di sekelilingku.”

-Bob Marley, Musisi, (1945 - 1981)-

“Aku jatuh cinta pada sepak bola menyerupai saya jatuh cinta pada perempuan: begitu tiba-tiba dan tak terjelaskan.”

-Nick Hornby, Penulis (1957)-

Pentingnya memaknai filosofi sepak bola yang baik-baik dan tidak bertentangan dalam agama Islam merupakan satu bentuk praktek mencari kebaikan dan pesan yang tersirat yang amat dianjurkan dalam agama Islam. Contohnya menyerupai kesatuan dalam suatu klub, saling kerjasama, sportivitas, Juga mempererat silaturrahmi. 

Islam sangat memprioritaskan penganutnya untuk senantsiasa mempunyai filosofi dan tujuan baik dalam hidupnya pribadi maupun untuk orang lain. Seseorang muslim tidak berislam dengan baik sebelum ia menjadi orang yang baik bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Dari Anas ra. bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Tidak beriman seseorang dari kalian hingga ia mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam sepak bola, ada beberapa konsep Islam yang tanpa disadari terwujudkan di dalamnya, antara lain:

1. Tidak boleh berpecah-belah dalam suatu kesatuan klub.

ولا تفرقوا 

“Dan janganlah kalian bercerai-berai (berpecah belah)...” (Ali Imran: 102)

2. Melalui pertandingan sepak bola, maka akan terwujud lingkungan saling mengenal, silaturrahmi, dan sportivitas.

يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكروأنثى وجعلناكم شعوبا وقباءل لتعارفوا 

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah membuat kau dari seorang pria dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku semoga kau (semua) saling mengenal ... ” (Qs. Al-Hujurat :13).



Berkaitan dengan filosofi, filosofi tak terlepas dari yang namanya kehidupan. Tentu hidup ini pula tak terlepas dari filosofinya. Banyak sekali filosofi hidup berdasarkan banyak pendapat orang-orang. Tak aneh perkataan semisal; hidup itu sekedar singgah minum; hidup itu bagai roda; hidup itu yakni perjuangan; hidup yakni perbuatan, dan masih banyak macam ragam pendapat-pendapat yang lain. 

Tentu semuanya benar, tapi ada satu tanggapan yang terdengar sedikit unik, yaitu: “Hidup bagai bermain bola.” Pendapat ini digagaskan oleh seorang penulis berjulukan Gheeto T. Wicaksono.

Sepak bola yakni perihal hidup kita. Sepak bola bukan sekedar “sepak” (kata kerja) atau “bola” (kata benda), melainkan perihal siapa yang menyepak bola, ke mana arahnya, bagaimana filosofinya, dan dampaknya bagi peradaban manusia. 

Bahkan lebih dari itu, melalui sepak bola kita sanggup melihat yang meta (tak terlihat) oleh ribuan penonton di stadion maupun jutaan pasang mata di televisi. 90 menit berlangsungnya permainan sepak bola bagaikan berada dalam kelas ataupun ruang kerja. Jangan hingga durasi 90 menit tersebut atau bahkan lebih banyak terbuang sia-sia dalam irasionalitas fanatisme buta tak terarah, tanpa pernah mencar ilmu apapun dari pertandingan sepak bola.

Setidaknya ada 22 pemain, masing-masing dari kedua tim mempunyai 11 pemain yang bertarung di lapangan hanya dengan memperebutkan satu bola hingga rela terluka-luka, cedera fisik, bahkan hingga berdarah-darah. 

Tak masuk logika bukan? Apa hebatnya sebuah bola itu hingga ia begitu diperebutkan? Kalau mereka bertarung memperebutkan harta, tahta, perempuan mungkin masih sanggup dikatakan masuk akal dalam konteks fitrah manusia. 

Ya, itulah sepak bola terlepas dari apakah itu masuk logika ataupun tidak. Akan tetapi dibalik itu semua bantu-membantu sepak bola itu tak lepas dari filosofi hidup. Bahkan para filosuf-filosuf dunia berkomentar perihal sepak bola, salah satunya Che Guevara yang juga sebagai tokoh Revolusi Kuba.

Ia berkata bahwa “Sepak bola bukan sekedar permainan sederhana. Sepak bola yakni senjata revolusi.”

Monday, 28 October 2019

Berakhir Imbang, Minang Saiyo Fc Vs Sriwijaya Fc Berlangsung Seru


Sriwijaya FC vs Minang Saiyo FC

Kmamesir.org. 03/03/2018. Ikut memeriahkan grand opening Sumatera Cup, pertandingan Minang Saiyo FC vs Sriwijaya FC berakhir dengan skor imbang 1:1. Pertandingan kedua yang mempertemukan putra-putra Padang dan Palembang ini berlangsung seru. 

Sejak peluit kick off berbunyi kekuatan kedua pihak memang tampak imbang. Menit ke dua puluh kesebelasan Minang Saiyo berhasil mengobrak-abrik pertahanan lawan, namun penyelesaian yang kurang baik menggagalkan bola bersarang di jala. 

Memanfatkan counter attack beberapa menit setelahnya Laskar Wong Kito ikut menggempur pertahanan Minang saiyo, namun lagi-lagi belum membuahkan gol.

Sampai turun minum belum ada gol yang terciptakan. 

Memasuki babak kedua permainan semakin memanas, menit-menit awal babak kedua Laskar Wong Kito tak henti-hentinya menggempur lini belakang lawan, namun masih saja Siswoyo cs belum membuahkan gol. 

Gol balasannya berhasil terciptakan di menit ke-74. Kurniadi Ronaldo berhasil menjalakan si kulit bulat ke gawang Gany, Sriwijaya FC memimpin. 


Mencoba mengejar ketinggalan, belum dewasa Minang Saiyo melancarkan serangan-serangan ke lini belakang lawan, namun gagal lagi dan lagi. Injury time membayangi dan skor masih satu kosong. 

Dua menit waktu tambahan, permainan masih memanas. Akhirnya, pemain bernomor punggung 19, Ridho Pasia, berhasil menyamakan kedudukan untuk Minang Saiyo FC di menit tambahan. Skor bertahan hingga peluit tanda pertandingan usai dibunyikan.

Kurniadi pemain bernomor punggung 7 keluar sebagai man of the match.


Ridho Nafitrah

Thursday, 3 October 2019

Golput Dalam Pandangan Islam

Oleh: Ali Akbar Alfata*

(Image: pixabay app)


Tanggal 17 April 2019 nanti merupakan hari bersejarah bagi rakyat Indonesia, pada hari itu kita akan melakukan suatu pesta demokrasi yaitu pemilu. Pemilu sendiri akan dilaksanakan di banyak sekali TPS yang tersebar di masing-masing daerah. Tentu saja, euforia pemilu tidak hanya dirasakan oleh paslon atau timses saja, namun pemilu yakni milik seluruh rakyat Indonesia dimanapun mereka berada, dan pastinya setiap orang sudah memeiliki pilihan, baik itu pilihan di wakil rakyat ataupun pilihan presiden Republik Indonesia. 

Dalam setiap perjalanan pemilu, dari dulu, selalu ada saja ada tindakan yang dilakukan yang menyalahi undang-undang negara Republik Indonesia. Seperti “serangan fajar”, money politic atau muncul orang-orang yang disebut golput (red; golongan putih). Mereka dapat disebut sebagai rakyat Indonesia yang sah dan mempunyai hak bunyi pada pemilu, tapi menentukan untuk tidak memakai hak suaranya pada pesta demokrasi tersebut dengan banyak sekali alasan. Ini merupakan tindakan yang sangat bermasalah lantaran merusak tatanan sistem yang telah dikelola oleh penyelenggara pemilu, dan harus ditemukan solusi untuk meminimalisir golput. 

Kalau kita menelisik lebih jauh, data golput pada pemilu 2014 lalu, partisipasi rakyat pada pemilihan presiden hanya mencapai 69,58 persen, sementara pada pemilu legislatif berkisar pada 75,11 persen. Walaupun bukan angka yang buruk, namun sebenarnya mengalami penurunan yang cukup besar dibandingkan pemilu-pemilu yang lalu. 

Jika kita ingin menelusuri lebih dalam lagi, golput sendiri memilki banyak sekali kondisi. Secara pembagian bergairah dimensi ini mungkin berberntuk sebagai berikut.

Pertama, adakalanya seorang pemilih yang sudah terdaftar di DPT (daftar pemilih tetap) tiba ke TPS, tapi tidak menentukan pilihannya. Ini yakni tindakan yang sia-sia dan sangat merugikan. Pemilih  tiba ke TPS hanya sebagai formalitas biar tidak dianggap golput saja. Hal ini mengimgatkan kita pada insiden tahkim dimana muncul satu fatwa yang tidak membela Ali bin Abi Thalib ataupun Muawiyah, mereka lebih menentukan keluar. 

Kedua, ada juga pemilih yang dapat dibilang merasa ragu buat memilih, sehingga yang mereka lakukan yakni menentukan lebih dari satu pilihan. Tentu saja lagi-lagi ini yakni hal yang sangat mengganggu alasannya yakni sudah merusak aturan yang telah ditetapkan. Padahal, Rasulullah saw pernah bersabda : 

دع ما يريبك الى ما لا يريبك 

“tinggalkanlah sesuatu yang membuatmu ragu dengan yang tidak membuatmu ragu” 

Islam mengajarkan untuk meyakini hal yang kita inginkan. Kita diajarkan untuk meninggalkan rasa ragu, tentu saja hal ini bermakna lebih luas lagi baik itu meninggalkan keraguan dalam ibadah, atau dalam bermuamalah, dan lain-lain. 

Ketiga, mereka yakni pemilih yang terdaftar tapi tidak tiba ke TPS untuk menentukan dan memakai hak suaranya. Alasannya beragam, baik itu malas, dan lain-lain. Padahal satu suaranya pada kontes demokrasi tersebut sangat krusial. 

Bersandar pada hal-hal yang sudah dijelaskan tadi, maka kita dapat memahami bekerjsama golput itu merupakan tindakan tidak terpuji, lantaran merusak tatanan peraturan yang telah disusun oleh penyelenggara pemilu, tindakan menyerupai ini sangat tidak dibenarkan. Dalam pandangan islam sendiri, golput merupakan bab dari pelanggaran. Karena mereka yang golput telah melawan perintah Allah dalam surat An-Nisa ayat 59. 

أطيعوا الله و أطيعوا الرسول و أولي الأمر منكم 

“taatilah Allah dan Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kalian” 

Mayoritas ulama menafsirkan kata ulil amri sebagai pemimpin atau pemerintah. Negara kita Indonesia telah menentukan demokrasi sebagai tatanan negara, hal ini memang telah menjadi konsensus pemerintah Indonesia. Mematuhi aturan yang telah ditetapkan yakni hal yang harus dilakukan oleh setiap rakyatnya, dan ini juga yakni perintah agama. 

Ayat ini menjelaskan ihwal wajibnya bagi setiap rakyat untuk mematuhi ulil amri atau kepada yang diberi mandat untuk memerintah. Menaati kepala negara yakni wajib hukumnya, sehingga menentukan pemimpin pun dapat menjadi wajib hukumnya lantaran jikalau tidak menentukan pemimpin, kita tidak dapat menaati pemimpin lantaran pemimpinnya tidak ada. Dengan demikian, aturan mengangkat seorang pemimpin wajib juga hukumnya. 

Bahkan, pada tahun 2000, majelis fatwa mesir atau Dar Ifta’ Mishriyyah mengeluarkan fatwanya ihwal golput. Majelis fatwa tersebut mengeluarkan fatwa haram golput. Karena, pada setiap kesempatan, islam selalu mengajarkan umatnya untuk berlaku jujur dan amanah dan untuk menjauhi perbuatan dusta dan khianat. Islam juga mengajarkan kita untuk selalu melakukan amanah yang telah diberikan kepada kita apapun bentuk amanah yang diberikan. Dalam surat An-Nisa ayat 58 Allah berfirman 

إن الله يأمركم أن تؤدّوا الأمانات الى أهلها 

“ sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanah kepada Ahlinya” 

Maka, mereka yang tidak menggunakaan hak suaranya secara syara’ dinggap berdosa. 

Oleh alasannya yakni itu, kita sebagai orang mukmin serta muslim tidak akan bangkit pada barisan golput, kita akan memakai hak bunyi kita dengan baik. Memilih pemimpin juga bukan sekedar hak yang diberikan pada kita, satu sisi yakni kewajiban bagi kita. Tentu saja, kita akan menentukan pada pemilu yang tinggal menghitung hari dengan jujur dan adil. 

*Penulis yakni Mahasiswa tingkat I, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir

Al-Quran Dan Pesona Sebait Rasa Cinta.


Oleh: Zaky Mubarrak, Lc*
Suasana Markaz Tahfizh Al-Quran dengan Syeikh Abdul Qadir al-Djiboti. (Foto: Dok. KMA Mesir)


Siapa sih yang tidak ingin menjadi hafiz Al-Quran di usia muda. Saya, anda dan kita semua mempunyai impian yang sama. Toh, ini keinginan dan posisi yang sangat mulia. Ditambah semangat api bagi kita semua di usia yang masih seumur jagung ini. 

Namun terkadang, itu semua terhenti dan tak bisa tercapai hanya sebab faktor-faktor kecil yang sebetulnya bisa dilewati dengan mudah. Contoh rasa cepat bosan misalnya, tak sabaran, atau juga tersendat sebab dihijab oleh aktivitas yang tidak penting. 

So, kenapa hal-hal yang demikian itu bisa terjadi? 

Yang harus kita ketahui, penyebab fundamental bagi seorang penghafal Al-Quran ialah terburu-buru ingin menuntaskan hafalannya dengan perjuangan yang tak seirama. Seperti pepatah Aceh; “U Bek beukah, kuah beu leumak” (Ingin kuahnya lezat, namun santan tak punya). Mungkin itu kalimat yang sempurna untuk menggambarkan hasrat bagi penghafal Al-Quran dengan minim usaha. 

Makanya di zaman kini banyak dari kita sibuk mencari metode cepat menghafal Al-Quran. Yang hasilnya ia hanya menghafal metode saja, namun tidak dengan hafalan Al-Qurannya. Padahal kunci utama untuk bisa menjadi seorang penghafal Al-Quran ialah cinta pada Al-quran itu sendiri. Masak iya, cinta tapi durasinya dipercepat tak karuan. 

Kita dan Al-Quran itu mirip sepasang kekasih. Saling memahami dan memberi rasa. Dia tahu kita dan kitapun tahu akan dirinya. Dan jadinya muncullah cinta yang berkembang menjadi menjadi sebait rasa hingga memberi asa pada satu sama lain. 

Dalam merasa, cinta merupakan modal utama dalam menjalin hubungan, namun itu saja sebetulnya tak cukup. Perlu adanya semangat yang terarah dan waktu yang teratur. Umpamanya sebuah kompor, yang sebesar apapun api kalau kualinya tak diletakkan di atasnya maka gulai tak akan matang juga. 

Juga perlu disadari bahwa menghafal Al-Quran dan melancarkan hafalannya sebetulnya bukanlah tujuan dari seorang hafiz Al-quran itu sendiri. Tapi itu semua ialah wasilah semoga kita bisa hidup dan bernafas dengan Al-Quran. 

Tapi, jangan diambil pusing dikala hafalan tak lancar. Terus ulang dan buat agenda rutin, biasakan diri dengan agenda di bawah bimbingan seorang mursyid dan guru. Insya Allah istiqmah itu akan tiba dengan sendirinya. sebab istiqamah ialah pecahan lain dari kebiasaan. 

Jika ditilik lebih dekat, menghafal Al-Quran sebetulnya pecahan dari proses berkembangnya insan dari dari lahir, terus merangkak, berjalan, gres kemudian ia bisa berlari. Maka nikmatilah proses sebuah proses PDKT dengan Al-Quran. 

Secara umum ada tiga fase dalam mempelajari Al-Quran: 
1. Qiraah 
2. Tartil 
3. Tilawah. 

Jenjang Qiraah ialah jenjang awal di mana sang hafiz mengumpulkan karakter demi karakter untuk dingat. Dan ini sesuai dengan makna dasar qiraah itu sendiri yaitu jam'a atau mengumpulkan. Masa inilah kita perlu belajar dan penuh kesabaran. 

Di jenjang selanjutnya ada tartil, di mana seorang hafiz mulai mencoba dengan menghaluskan hafalannya baik dan benar sesuai kaedah tajwid. Dan sayangnya di masa ini bnyak yang merasa sudah cukup dan berhenti terlalu dini. 

Sedang di pecahan final ada yang namanya tilawah. Di jenjang ini sang hafiz mulai mencapai maqam atau posisi tadabbur dalam membaca Al-Quran, mengkaji makna dan menghayatinya. 

Jadi, siapapun yang sabar melewati tahapan ini semua insya Allah sampailah ia pada maqam sang Hamil Al-Quran sejati. Yang perkataanya ialah Al-Quran, langkahnya Al-Furqan, dan hidupya bagaikan Al-Zikr. 

*Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Tafsir, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Tuesday, 1 October 2019

Tips Umrah Backpaker Ala Traveller Hijrah

**Wawancara Azriandri
(Image : Google)


Ini kali keberapa Broe Azri Umrah?



Baru kali pertama. Sebelumnya masih berencana saja dan mengumpulkan informasi.



Perasaananya bagaimana ketika umrah ala Backpaker?



Seru, asik, sangat menyenangkan, dan menjadi tantangan tersendiri bagi kita sebagai mahasiswa. Karena umrah backpaker ini pihak travel hanya menyediakan tiket pesawat dan visa saja. Selebihnya ibarat hotel, guide dan makan harus kita cari sendiri sesampai di Tanah Suci.


Seru banget kayaknya ya? Menurut Broe Azri yang perlu dipersiapkan bagi yang nantinya ingin Umrah Backpaker?



Seru banget. Ya kalau mau lebih kondusif boleh bawa rice coocker, pemanas air, beras dan sedikit materi dapur jikalau punya skil memasak. Karena kita tidak tinggal dihotel, namun tinggal di Dar (rumah kos) dengan patungan 50 riyal yang tidak menyediakan makanan, yang ada hanya dapur dan kompor. Tapi kalau tidak mau ribet dengan semua itu, kita dapat cari mitra yang bawa jamaah (guide), baik dari Mesir ataupun dari indonesia. Tujuannya ialah semoga dapat numpang makan di hotel, semakin banyak mitra semakin banyak juga tempat kita makan gratis dengan sajian yang luar biasa tanpa perlu buang waktu untuk memasak, ibarat yang kami lakukan setiap harinya.


Kendala yang Broe rasakan ketika Umrah Backpaker apa?



Kendalanya ya alasannya gres pengalaman pertama, kami tidak membawa persiapan apa-apa. "Allah mengundang kami ke Rumah-Nya maka Allah lah yang akan memberi kami makanan, tempat tinggal dan rezeki selama disini" . Itulah keyakinan kami selama disini. Tapi yang paling penting dibawa itu hati yang higienis dan niat yang lurus. Kaprikornus ya kalau dilihat sih tidak ada kendala, kerumah Allah kok takut kendala.


Azriandri sang Traveller Hijrah


Oh ya Broe. Di sana nanti dapat tidak ibadah sambil kerja? Bagi tipsnya donk!



Kalau mau bekerja bisa, ada banyak pekerjaan yang dapat kita lakukan disini. Apalagi kita sebagai mahasiswa yang punya keahlian dalam bahasa Arab memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang-orang Arab. Tapi hal yang paling penting juga ialah kita punya kenalan dengan orang-orang travel, atau yang sudah biasa jadi guide. Efeknya ialah jikalau tidak punya kenalan sama sekali, pekerjaan yang bersama-sama banyak dapat kita lakukan itu nggak akan pernah hingga ke kita. 


Trus pekerjaan apa lagi yang dapat dilakukan?

Ya di sana banyak yang membutuhkan pendorong untuk mendorong jamaah dengan dingklik roda melakukan rukun-rukun umrah, trus ada yang butuh pembimbing jamaah (guide), dan banyak deh pokoknya, seperti; antar jemput jamaah ke bandara, pemandu ziarah mekkah, pemandu ziarah madinah, ceck in hotel, handling, dan sebagainyalah. Pokoknya banyak. Tapi perlu diingat, semua itu selain kita mesti punya kawan/link, kita juga mesti d bekali pengalaman. Pihak travel nggak sembarang menawarkan jamaahnya ke kita tanpa pengalaman. Biasanya kalau masih pertama itu kira cuman dapat bantu mendorong jamaah dengan dingklik roda, kalau mau jadi guide atau yang lain, kita mesti berguru dulu paling tidak kita pernah ikut bareng jamaah ketika ziarah ke tempat-tempat bersejarah.

Oh i see Broe. Saran tempat ziarah bagi yang sudah selesai melalukan rukun umrah.

Setelah kita selesaikan semua rukun-rukun umrah, yang pertama kita cari ialah tempat penginapan (kosan), untuk beristirahat dan menyimpan barang-barang kita, biasanya kalau di Mekkah ada di kawasan Misfalah yang harganya tidak mengecewakan akrab dengan kantong mahasiswa, kalau di madinah biasanya di kawasan Suq Banggali. Setelah beristirahat membereskan semuanya, lagi-lagi mencari mitra yang jadi guide, selain dapat ziarah gratis kita jga dapat berguru bagaimana menjadi pemandu jamaah ketika ziarah, tempat-tempat yang kunjungi di mekkah biasanya hudaibiyah, musium, Haramain, musium arab kuno, musium kiswah, thaif, jabal nur, jabal tsur, jabal rahmah, peternakan unta, mina, ma'la, maulid rasul, ziarah arab pedalaman. Setelah ziarah mekkah sekitar 3 atau 4 hari biasanya kita kalau ikut jamaah itu, jamaah akan ke madinah, dalam perjalanan ke madinah singgah di Jeddah ziarah ke masjid qishah, kornesy, bakso mang oedin, sesampai dimadinah kita ziarah ke masjid nabawi, raudhah, makam rasulullah,pemakaman baqi', jabal uhud, masjid bilal, masjid quba, masjid qiblatain, kebun kurma, masjid sab'ah, masjid jum'ah, musium Al-Quran, dan tempat-tempat ziarah lainnya, sesudah jamaah bertolak ke indonesia kita boleh kembali ke mekkah boleh menetap di madinah, dan jikalau ada yang membutuhkan guide kita juga udah siap.

Pengalaman terakhir donk Broe Azri.

Pengalaman saya ya, sesudah menuntaskan umrah, membadalkan umrah untuk keluarga yang sudah tiada, saya menentukan pribadi ke Madinah sebelum ziarah kota Mekkah, alasannya malu rasanya sudah hingga ke negeri Rasulullah saw tapi tidak bersegera untuk menziarahi baginda rasul saw. Kemudian mulai cari jamaah ziarah ke tempat-tempat bersejarah di madinah sesudah beberapa hari ziarah ke rasulullah saw juga Raudhahnya. Kemudian ziarah Mekkahnya ketika kembali dari Madinah.

*
Mahasiswa tingkat I Dirasat al-Islamiyyah, Universitas Al-Azhar.

Monday, 30 September 2019

Alumni Sdn 01 Cikeren

Oleh : Setia Farah Dhiba* 
(Image ; Google)


Kegaduhan murid-murid yang bermain sambil mengisi perut mulai terdengar dikala istirahat tiba. Nada-nada sobekan dari bungkusan roti, membuka botol minuman, juga bunyi mengunyah kuliner nan lahap terdengar dari ekspresi Rani yang duduk bersebelahan dengan meja Rara. Tampak dari raut wajah Rani bahwa pelajaran matematika dengan bahan persamaan garis lurus tadi cukup menguras energi sarapannya, seakan harus diisi kembali di waktu istirahat. Riuh canda tawa murid hari ini layaknya hari sekolah biasa, baik di SDN 01 maupun di sekolah dasar lainnya, mungkin ini sebagai bentuk simpulan dari masak kanak-kanak mereka sebelum masuk ke sekolah menengah pertama. 

Waktu istirahat belum selesai, sisa 10 menit terakhir, namun ada keributan di sudut kelas yang menarik perhatian Rara. Dodit, seorang siswa kelas 6  SDN 01 Cikeren yang menerima juara umum di setiap simpulan semester. Ia memang populer sangat rajin, pintar, baik hati, dan super kalem, saking kalemnya di menit-menit terakhir waktu istirahat ia malah gaduh. Pelakunya yaitu Zizo, sudah jelas, dari meja depan Rara melihat pribadi agresi Zizo dikala membully Dodit di sudut belakang kelas. Ia memaksa Dodit untuk memperlihatkan jajanannya, terlihat Dodit hanya memegang erat bungkusan rotinya yang ditarik oleh Zizo sambil gemetaran tanpa keluar satu bunyi pun. Miris. 

Ini merupakan tahun kedua Rara sanggup satu kelas bersama Zizo, siswa sok punya kekuasaan seantero kelas ini memang suka cari ribut, padahal cekingnya sama saja dengan Dodit, namun bunyi cemprengnya bisa mengalihkan perhatian murid lain dari kuliner mereka kepadanya. 

“Lepasin gak tanganmu! Aku sudah nunggu dari tadi tapi kau gak tiba ke belakang kelas, cepat culun! 'Sungguh garang perlakuannya' “yahhh dia nangis, makanya cepat berikan rotimu!” Paksa Zizo pada Dodit. 

Rara menutup kotak bekalnya dengan kesal, ia bangun dari kursi, menuju sudut kelas. 

“Mau kemana kau Ra? Jangan Ra!” Rani semakin takut alasannya yaitu sahabat perempuannya yang sungguh berani kini berjalan menuju arah Dodit dan Zizo. 

Semua murid menatap langkah Rara yang berani, sementara Zizo masih menarik roti Dodit tanpa menyadari kehadiran rara. 

“Eh, dasar ceking, beraninya maksa, kenapa gak minta bagi baik-baik sih?” Teriak Rara di belakang Zizo yang otomatis menciptakan Zizo berbalik badan. 

“Cie... cie... ada yang belain nih," ejek Zizo. "Ini tu udah jatahnya Zizo untuk bagi jajanannya, salah dia dari tadi gak tiba ke belakang sekolah.” Balas Zizo dengan ekspresi sombong. 

“Gak bisa gitu dong, enak aja main ambil seenak hati, kalo mau ya beli sendiri makanya.” 

“Makanya apa Rara?” Tegur bu Ratna dari depan pintu sontak mengejutkan seisi kelas, mereka lupa menyisakan orang untuk memantau pintu saking sengitnya perdebatan. 

“Makanya saling membuatkan itu baik, si Zizo mau membagi rotinya untuk Dodit bu, katanya gak berani alasannya yaitu Dodit lagi serius baca buku,” sambil tersenyum paksa pada Zizo. “Ini Dodit, diterima ya roti dari Zizo, semangat berguru ya!” Jawab rara di depan mereka dengan tangan keduanya yang masih sama-sama memegang roti. 

Zizo pun melepaskan roti itu dengan senyum kesal atas Dodit. Dalam hati rara merasa lega alasannya yaitu Zizo tidak jadi merebut paksa roti itu, semua murid pun kembali menduduki dingklik dan bersiap untuk pelajaran selanjutnya. 

“Kalau saya jadi dodit, sudah habis tadi si ceking, huh...!” Gumam Rara. 

Selepas kelas usai, semua murid bubar, terlihat Zizo meninggalkan kelas begitu saja tanpa memperdulikan Dodit maupun Rara, ia berlalu saja sehabis menyalami dan mencium tangan bu Ratna; guru pelajaran ilmu pengetahuan alam ini banyak disenangi siswa siswi SDN 01 Cikeren. Beliau juga aktif membimbing murid mengikuti dan mendalami acara ekstrakulikuler di sekolah sepekan tiga kali; ada sanggar tari, musikalisasi puisi, dan piano. Sosok guru yang ramah juga sangat perhatian pada muridnya, bukan sekedar bahan sekolah yang disampaikan, pesan-pesan kehidupan tak luput ia ajarkan pada murid-murid kesayangannya, alasannya yaitu sejatinya arti Guru itu berasal dari Bahasa Jawa, yakni digugu daan ditiru. 

Di parkiran sekolah Rara mengambil sepedanya untuk pulang, rumahnya yang berjarak 10 menit dari sekolah dirasa melelahkan kalau berjalan kaki di bawah terik matahari setiap hari, maka dari itu ia meminta dibelikan sepeda, bukan hanya untuk sekedar bermain-main. Kemudian ia melihat Dodit berjalan ke arah gerbang untuk menunggu, biasanya ia dijemput dengan kendaraan beroda empat mewah. Lalu Rara mencoba menegurnya yang masih diam, raut wajahnya masih terlihat takut, ntah apa yang ia fikirkan. 

“Dit, nunggu jemputan ya? emangnya rumah kau jauh dari sekolah? Kenapa gak bawa sepeda aja, bisa santai gowes-gowes, trus kalo ada orang gila, tinggal balap yang kencang. Hahahaha.” Tegur Rara berusaha untuk tidak membahas kejadian di kelas tadi. 

“Aku... aku... saya ndak bisa gowes sepeda Ra,” balas Dodit dengan nada pelan yang mungkin tak bisa Rara tiru. “Maafkan saya ya ra, terimakasih sudah mengembalikan rotiku yang mau diambil Zizo.” Sambil tertunduk jadinya Dodit kembali membahas kasus tadi. 

“hufftt... Santai-santai, lah kau sih, masa anak ceking sombong itu aja gak berani dilawan, kejahatan itu harus diberantas dan diungkap dit, bukan hanya membisu dan dibiarkan begitu saja, pokok nya kau besok-besok itu harus keluarin suara, jangan nangis, gimana sih, anak pemuda kok takut.” Balas Rara layaknya seorang abang yang menasihati adik kecilnya. 

“Ashiap ra, nanti saya bakal coba berani sama Zizo, kalau dia minta lagi kueku, akan saya bagi setengah aja.” Jawab Dodit polos. 

“Ashiap, ashiap, kebanyakan nonton youtube Andra Gemetaran sih, eh, tampaknya itu ayahmu sudah datang, itu mobilnya di seberang jalan.” Jemarinya menunjuk ke sebuah kendaraan beroda empat Kijang Innova. 

Hari yang panjang disekolah jadinya usai, Rara dan Dodit pulang kerumah masing-masing, dengan sepeda, Rara menggowes agak cepat sepeda kesayangannya itu. 10 menit berlalu, Rara pun tiba di rumah, ia pribadi menyalami dan mencium tangan bunda dan bapaknya. 

“Assalamualaikum bunda, eh, ada bapak juga, kirain masih di kantor, kan biasanya jam setengah dua siang gres pulang rumah,” sapa Rara dengan senyum bagus seraya menyalami keduanya, “emmmm busuk sekali ayam balado bunda, mau makan ahh…” aroma enak di bawah tudung kuliner pribadi menyambar hidung dikala Rara dikala ia membukanya. 

“Bersih-bersih dulu, shalat dzuhur, gres makan ya Ra.” jawab bapak sambil duduk di kursi dengan segelas kopi di tangan. 

Rara memberi jempol aba-aba mengiyakan kemudian masuk ke kamar. Beberapa dikala kemudian ia kembali ke meja makan, duduk bersama bapak dan bunda untuk menyantap makan siang bersama. 

“Bunda, gimana sih caranya melawan kejahatan? Apa harus dilawan atau dijauhi?” Fikiran ku masih terngiang kejadian di sekolah meski perut sudah demo ingin makan. 

“Tidak semua hal harus dengan kekerasan, juga tidak hanya didiamkan,” bapak menjawab dahulu sebelum bunda, “keburukan bila dibalas keburukan hanya menghasilkan keburukan itu sendiri, mungkin dengan satu kebaikan kecil akan mengurangi satu keburukan pula, bahkan bisa lebih, kalau kejahatan kita balas dengan hal yang sama lantas apa bedanya kita dengan mereka Ra? Ngerti ya? Memang ada yang jahatin kau di sekolah ya, kok nanya gitu?.” Jawab bapak menyerupai tau kejadian yang saya alami tadi. 

“Iya ra, jangan membisu aja kalau ada yang ganggu kau ya, psikis seseorang bisa terganggu alasannya yaitu selalu mendam duduk kasus sendiri, apalagi anak-anak, ada yang sampe harus ke psikolog, eh rupanya dia stress akhir bully sobat sekolah loh pak, dengar kan ra.” Bunda menambah klarifikasi sambil menambah sayur hijau mengerikan di piring ku, jleb. 

“Iya bun, Rara bisa stress kalau sayurnya ditambah terus.” Tergurnya cekikikan.

*** 

Hari gres tiba lagi, Rara si pemberani telah siap dengan sepedanya menuju sekolah. Pukul tujuh pagi ia telah siap untuk menggowes sambil olahraga, ia meminta bunda untuk menyiapkan 2 kotak bekal roti yang sudah dimasukkan dalam tas sebelum berangkat. Rara berangkat sehabis pamitan, menyerupai pagi biasanya, ada cahaya matahari, angin sepoi yang menciptakan jelbab putihnya melambai-lambai kecil, dan beberapa polisi tidur di jalanan. Harapan biar kelas hari ini kondusif hening terpancar dari wajah rara, sedamai perjalannya menuju sekolah. 


Nyatanya tidak, sekitar 20 meter sebelum menemui gerbang sekolah ia sudah melihat pemandangan yang tidak menyenangkan, Rara berhenti sejenak, tampak Zizo yang berdiri di samping sepeda renta ayahnya sedang menangis, dari gerak-geriknya ia kesal pada ayahnya, ntah apa isi pembicaraan mereka, ayahnya hanya memegang kepala Zizo sambil mengelus rambutnya. Tapi Zizo malah pergi begitu saja tanpa menyalami apalagi mencium tangan ayahnya. Miris, untuk kedua kalinya. 

Pelajaran pertama hari ini yaitu matematika, ada kiprah kemarin yang harus dikumpulkan hari ini. Rara memasuki kelas dengan normal, berpura-pura menyerupai tidak tau Zizo yang tadinya menangis. Sebentar lagi bu Zahra akan datang, dia populer agak kejam memang bagi sebagian anak, sangat ramah bila kita bisa mengerjakan tugas, bila tidak, maka sebentar lagi kalian akan tahu apa yang terjadi. Baiklah, dan detik-detik menegangkan itu tiba, Bu Zahra tiba di kelas. Semua murid berdiri untuk bersiap, memberi salam, dilanjut dengan doa pagi bersama sebelum belajar. 

“Selamat pagi semuanya, ibu harap kalian semua sudah mengerjakan kiprah untuk bahan persamaan garis lurus yang kemarin, bagaimana? Ada yang tidak bisa menjawab?” pertanyaan satu ini otomatis menggugupkan jantung sesiapa yang tidak bisa menjawab soal, terlebih yang belum mengerjakan tugas. Jleb. 

“Dodit, sudah selesaikan kiprah kamu?” 

“Sudah bu.” 

“Kamu yang disudut, paling belakang, Zozi, sudah?” Seraya menunjuk ke belakang. 

“Nama saya Zizo bu, bukan Zozi, belum sempat buat bu, susah sekali soalnya.” Jawab Zizo santai 

“Oh, jadi begitu cara jawabnya, santai, nyantai, sibuk apa kamu, kok yang lain buat kau tidak, sini maju kedepan, mana catatan kau wacana bahan kemarin, cepat, sini!.” Persidangan dimulai. 

Sementara Zizo maju kedepan menghadap bu Zahra, murid lainnya mengumpulkan kiprah tersebut. Antara duka dan heran, Rara hanya sanggup memperhatikan Zizo yang diceramahi bu Zahra dan berfikir sendiri tanpa menceritakan pada rani perihal yang dilihatnya tadi pagi, alasannya yaitu ia pun tak tau duduk kasus sebetulnya mengapa Zizo menangis, jadi ia tak mau menerka-nerka ceritanya sendiri. 

“Nah ini buktinya loh, catatan nya saja tidak punya, bagaimana mau buat kiprah ya kan, perhatikan tidak sih kau dikala ibu menjelaskan panjang lebar kemarin?, tidur? Atau main S.O.S dibelakang?, kok diam, jawab dong!, gimana ibu mau ngasih nilai kalau begini perilaku kamu.” Bu Zahra mulai kesal pada Zizo . 

“Nanti saya catat bu.” Jawab Zizo singkat. 

Belum habis hingga situ saja, dari dua jam pelajaran matematika, satu jam dihabiskan bu Zahra hanya dengan Zizo. Hening cipta terlama. Sisa satu jam kemudian bu Zahra gres menjelaskan bahan selanjutnya, mata Zizo tampak berkaca-kaca, meski tak hingga jatuh airmata, tapi Rara tau bahwa Zizo hampir menangis bukan alasannya yaitu bu Zahra melainkan mengingat ayahnya, mungkin saja, ntahlah. 

4 jam pelajaran dengan 2 mata pelajaran selesai mereka ikuti, kini waktu istirahat. Rani mengajak Rara untuk menemaninya membeli air mineral ke kantin, ia pun mengiyakan. 

“Rani, saya mau satu ya.” 

“Tumben beli air, biasanya kan bawa.” 

“Aku haus kali ini.” Rara beralasan, hari ini ia berniat memperlihatkan satu bekal makanannya untuk Zizo, khawatir dia akan mengganggu Dodit lagi, alasannya yaitu tidak membawa dua botol air, makanya ia membeli lagi. 

Keluar dari kantin, Rara sudah membawa semenjak dari keluar kelas bekal untuk Zizo dan satu botol air mineral. 

“Rani, kini kau yang temanin saya ya.” 

“Kemana Ra?” Tanya Rani penasaran. 

“Tolong saya ya, saya hanya punya satu.” 

“Satu?” Rani makin bingung. 

Dengan keberaniannya Rara mencari Zizo. Ia tau Zizo tidak di dalam kelas, tapi di belakang sekolah. 

Di luar dugaan, hari ini bukan hanya Zizo yang mengganggu Dodit, ada tiga anak laki lainnya disitu, mereka memukuli Dodit. Rani pucat gemetaran. Sementara Rara sudah panas. 

“Rani, tolong pegang kotak dan botol ini, kau jangan mendekat kesana ya!” Tanpa takut Rara maju. 

“Ra jangan!” Matanya berlinang. 

Sama menyerupai di kelas kemarin, mereka tak menyadari lagi kedatangan Rara, dasar Zizo. Rara mendorong Zizo dari belakang ke samping, ia pribadi terjatuh ke tanah. Beruntungnya, Rara tak menentukan ekstrakulikuler sanggar tari, musikalisasai puisi, apalagi piano, tapi ia menentukan taekwondo yang pribadi diajarkan oleh bu Zahra, dengan jurus-jurus yang diajarkan dengan sigap Rara melawan dua orang lagi, hingga mereka juga jatuh ke tanah. Dodit gemetaran, ia menangis. Sama hal nya menyerupai rani di ujung sana, dia juga sudah menangis, entah kerena pertarungan Rara yang keren atau apa. 

“Hei kalian berdua, kalian anak kelas 6C kan, buat apa ikut-ikut Zizo untuk membully Dodit hah?!, kalian mau merebut kuliner Dodit?, sini lawan aku!, bangun!” hardik Rara sambil terengah-engah. 

Karena fokus dengan dua sobat Zizo itu, Rara tak melihat Zizo di belakangannya yang bangun dengan satu buah pulpen yang tak tertutup. 

“Aaarrgh.” Teriak Rara. 

“Rara!" Rani dan Dodit histeris bersama melihat Rara. 

Zizo yang sejatinya sobat sekelasnya sendiri tega menghujamkan ujung pulpen ke wajah Rara. Untungnya tidak mengenai mata, di pelipis. Sedikit berdarah, disini Rara menitikkan airmata alasannya yaitu kesakitan, jelbab putih pecahan kanannya sedikit merah terkena darah yang keluar, tusukannya agak sedikit terbuka tapi tak dalam. Miris, ketiga kalinya. 

“Astaghfirullah, laa haula wa laa quwwata illa billah, Zizo!” Tiba-tiba tiba bu ratna dan bu Zahra. Mereka tak menyangka kelakuan anak SD bisa menyerupai ini, dan Zizo masih berdiri memegang pulpen, semuanya jelas. Dasar Zizo. 

“Rara, yang mana yang sakit nak?” bu Zahra pribadi menyelidiki luka Rara. 

“Ra, maafin aku, saya gak sengaja.” Zizo meminta maaf seakan gres sadarkan diri. 

“Kamu mengganggu Dodit lagi Zizo? Kamu minta-minta lagi jajanannya? Kan ibu sudah bilang, kau kisah sama ibu kalau ada masalah. Kenapa melampiaskan pada orang lain?” kata bu ratna sambil mengelus kepala Zizo dengan rasa duka dan kecewa. 

“Ini ada bekal dan air untuk kau Zizo, ambil!, Rara sengaja membawa ini biar kau tidak mengulang perbuatan kemarin.” Dengan murka Rani memperlihatkan itu pada Zizo untuk melanjutkan niat baik Rara tadi. 

Perkara mereka terang belum usai di situ saja. Zizo dan Dodit dipanggil ke ruang kepala sekolah, menceritakan semua duduk kasus mereka. Zizo, ia hanya seorang anak pekerja serabutan, honor ayahnya tak cukup untuk memberinya jajan disekolah, makanya ia sering memalak anak lainnnya kemudian meminta uang mereka atau makanannya. Ia amat sangat iri dengan Dodit yang merupakan anak orang kaya yang juga sangat pintar, namun sayangnya saking kaya orang tuanya tak ada waktu untuk Dodit. Ia duka alasannya yaitu tak pernah ada waktu bermain bersamanya, sehabis diantar atau dijemput, maka ayah dan ibu Dodit pribadi kembali ke kantor. 

Menurut kejujuran Zizo, bukan hanya sekali dua kali ia pernah meminta uang atau kuliner pada Dodit, dan tak ingat lagi pun kapan pertama kali. Bukan hanya Dodit saja, bawah umur lain pun mengaku pernah dipalak Zizo. Sebenarnya pinjaman atau dana sosial juga pernah diberikan untuk Zizo, namun kabarnya itu semua habis untuk perawatan rumah sakit ibu Zizo. Sementara itu Rara dibawa ke UKS untuk diobati. 

Satu kebaikan dari Rara si pemberani telah membawa banyak kebaikan untuk SDN 01 Cikeren. Mulai dikala itu, agresi pembully ditindak tegas oleh pihak sekolah, bukan hanya itu pihak sekolah juga mengadakan acara peduli anak sebulan sekali untuk melaksanakan dialog empat mata denga orang renta dari bawah umur yang sekiranya dianggap bermasalah untuk menemukan solusi terbaik. 

“Dari kasus ini terang sudah solusinya apa, perhatian orang renta dan guru untuk menjaga lingkungan semenjak dini sangatlah menjadi kiprah utama dalam membentuk generasi bangsa kedepan yang berkarakter peduli bukan pembully.” Tutur Zizo Muhammadsyah selaku Ketua Komisi Perlindungan Anak dalam penutupan pidatonya di depan ratusan wali murid dan orang renta SDN 01 Cikeren, 25 tahun sehabis menjadi alumi SDN tersebut.[]


*Penulis yaitu mahasiswi jurusan Syariah Islamiyah, Universitas Al-Azhar.