Wednesday, 1 January 2020

Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (1)

Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (1)
Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu  Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (1)



Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:

Empat perilaku insan terhadap rezeki

Manusia di dalam menjalani kehidupannya di dunia, tidak sanggup terlepas dari rezeki, sesuatu yang ia butuhkan untuk keberlangsungan hidupnya di muka bumi ini. Sulit-mudahnya, riang-gembiranya serta susah-payahnya insan dalam mencari rezeki membuat mereka menentukan perilaku yang berbeda-beda dalam mencari dan menikmatinya. Ada orang yang miskin namun bersabar dengan kemiskinannya, ada pula orang yang kaya dan bersyukur dengan kekayaannya, sehingga semakin kaya semakin ta’at kepada Rabb nya. Namun ada pula yang rakus, tamak alias serakah dalam mencari rezeki, sehingga yang haram pun ia terjang, namun ada yang justru sebaliknya, bermalas-malasan bahkan berputus asa.

Tipe-tipe Manusia dalam Menyikapi Rezeki

Putus asa
Jenis orang yang pertama ini ialah jenis orang yang berputus asa dari rezeki Allah, lantaran pengetahuannya ihwal Allah sedikit dan ketipisan imannya ia merasa tidak berpengaruh menghadapi susah-payahnya mencari rezeki, bahkan tidak heran jikalau ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Bermalas-malasan
Tipe ini ialah tipe orang yang cari enaknya sendiri, ia berharap dengan kerja yang semaunya kemudian sanggup mendapatkan rezeki yang sesuai dengan impiannya. Kalau sanggup malah muda foya-foya, renta kaya raya dan mati masuk Surga. Tipe orang menyerupai ini ialah tipe orang yang tertipu dengan iklan-iklan murahan semoga bisa kaya mendadak dengan modal dengkul yang menyesatkan, tanpa meninjau dari sisi Syar’inya.
Rakus atau tidak sabar
Tipe ini ialah sekelompok orang yang berlebihan (rakus) dalam mencari dunia dan ingin mendapatkan rezeki dengan cara yang cepat dan dalam jumlah yang sangat banyak. Ia tidak qona’ah (menerima dan ridho) terhadap pembagian rezeki dari Allah, sehingga terus merasa kurang dan kurang, hingga ia pun berusaha mencarinya dengan cara yang haram walaupun harta yang dimilikinya sudah banyak (kaya), maka korupsi, riba, perjuangan ilegal yang haram tidak jadi problem baginya, asal omsetnya milyaran atau bahkan trilyunan.
Tipe orang ini, sanggup jadi ia miskin, namun menyimpan ketamakan dalam hatinya, ia tidak sanggup bersabar menghadapi kemiskinannya, sehingga aneka macam perbuatan harampun dilakukan, mencuri, menipu, melacur, merampok, dan yang lainnya.
Tengah-tengah
Ini ialah perilaku yang benar terhadap rezeki, yaitu tengah-tengah diantara ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (teledor). Sikap tengah-tengah ini ialah perilaku orang-orang yang bertakwa, yang tahu tujuan diciptakannya di muka bumi ini, ia tidak rakus berlebih-lebihan dalam mencari rezeki, sehingga tidak mau mencarinya dengan jalan yang haram, namun ia tidak pula bermalas-malasan dan teledor dalam mencari rezeki yang halal, apalagi hingga berputus asa. Jika ia kaya maka ia menjadi orang kaya yang bersyukur dan syukur itu baik baginya, semakin kaya maka semakin bertakwa.
Namun jikalau ia miskin, maka ia menjadi orang miskin yang bersabar dan kesabaran itu baik baginya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya ialah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, ia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya” (HR. Muslim).
Tiga kelompok pertama di atas ialah tiga kelompok yang salah dalam menyikapi rezeki, apakah gerangan penyebabnya? Di antara penyebab terbesar yang mendorong tiga kelompok pertama di atas bersikap dengan perilaku yang salah di atas, ialah mereka tidak mengenal Allah dengan benar.
Mereka tidak mengenal kemahaindahan nama-nama-Nya dan kemahamuliaan sifat-sifat-Nya dan tidak melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung di dalam nama-nama-Nya dengan baik. Mengapa seseorang hingga berputus asa atau rakus terhadap rezeki, tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah ialah الرَزَّاقُ (Yang Banyak Memberi rezeqi)?

Pentingnya ma’rifatullah (mengenal Allah) dan beribadah kepada-Nya

Seorang yang hidup di dunia ini hakikatnya sedang melaksanakan perjalanan hidup menuju kepada Tuhannya, ia harus mengetahui tujuan perjalanan hidupnya, untuk apa ia diciptakan di muka bumi ini.
Tujuan penciptaan insan (tujuan hidup) itu ada dua:
1. Ma’rifatullah, semoga insan mengenal siapa Rabb-nya melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
”Allah-lah yang membuat tujuh langit dan menyerupai itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, semoga klian mengetahui bekerjsama Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar mencakup segala sesuatu” (QS.Ath-Thalaaq: 12).
2. Ibadatullah, semoga kita beribadah hanya kepada-Nya saja dengan benar.
Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
”Dan tidaklah Aku membuat jin dan insan melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku semata” (QS.Adz-Dzaariyaat : 56) [Fiqhul Asmaa`il Husnaa, hal. 8])
Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan ihwal tingginya kedudukan mengenal Allah (ma’rifatullah):
أن العلم بالله أصل كل علم، وهو أصل علم العبد بسعادته وكماله ومصالح دنياه وآخرته، والجهل به مستلزم للجهل بنفسه ومصالحها وكمالها وما تزكو به وتفلح به، فالعلم به سعادة العبد والجهل به أصل شقاوته
“Bahwa mengenal Allah ialah dasar dari seluruh ilmu (yang bermanfa’at), ia juga sebagai dasar ilmu seorang hamba ihwal kebahagiaan , kesempurnaan, maslahat dunia dan akheratnya.
Dan tidak mengenal Allah menjadikan (seseorang) tidak mengenal dirinya , tidak tahu maslahat dan kesempurnaan dirinya serta tidak mengetahui kasus yang menimbulkan suci dan beruntung dirinya. Maka mengetahui ihwal Allah lantaran kebahagiaan seorang hamba, sedangkan tidak mengetahui-Nya lantaran kesengsaraannya” (Miftah Daris Sa’adah1/312).

Mengenal Allah dengan mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya

Sesungguhnya pintu ilmu dan keyakinan yang paling besar ialah mengenal Allah Tabaraka wa Ta’ala dengan mengenal nama-nama-Nya yang husna (terindah) dan sifat-sifat-Nya yang ‘ulya (termulia) yang terkandung dalam nama-nama-Nya tersebut, Allah Ta’ala berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
                        
“Hanya milik Allah lah nama-nama yang terindah, maka berdo’a (dan beribadahlah) kalian kepada-Nya dengan nama-nama yang terindah itu” (Al-A’raaf:180).
Makna firman Allah : {فَادْعُوهُ بِهَا } “maka berdo’a (dan beribadahlah) kalian kepada-Nya dengan nama-nama yang terindah itu” mengandung tiga perkara:
Perintah untuk berdo’a dengan menyebut nama-nama-Nya yang husna (terindah) , menyerupai perkataan kita  “Ya Ghaffar (Yang Maha Pengampun) ampunilah dosa-dosa kami”.
Perintah untuk memuji-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang husna (terindah) , menyerupai perkataan kita “Subhanallah dan Alhamdulillah”
Perintah untuk beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung dalam nama-nama-Nya yang terindah itu,
seperti Al-Khasyah (takut kepada Allah), menyayangi Allah, sabar ,ruku’, sujud, dan yang lainnya (Diolah dari Madarijus Salikin: 1/420).
Dari sinilah sanggup kita ambil pelajaran bahwa mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala memiliki dampak besar dalam kehidupan seorang hamba. Ia akan terbimbing ucapan dan perbuatannya, lahir dan batinnya, dengan memahami nama-nama dan sifat Allah Ta’ala dan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung dalam nama dan sifat Allah tersebut.
Oleh lantaran itu berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah
وأكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التى يطلع عليها البشر
“Manusia yang paling tepat ibadahnya ialah orang yang beribadah kepada Allah dengan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung dalam semua nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang diketahui oleh manusia” (Madarijus Salikin: 1/420).

Mengenal nama Allah الرَزَّاقُ (Yang Banyak Memberi rezeqi)

Nama Allah itu banyak jumlahnya, diantara nama Allah ialah الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq). Menyebut suatu nama sebagai nama Allah haruslah menurut dalil atau yang diistilahkan oleh ulama kita dengan istilah tauqifiyyah.
Adapun dalil nama ini, telah disebutkan dalam Al-Quran Al-Karim,
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ    
                  
“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (Surah Adz-Dzaariyaat:58).
Dan Ayat-Ayat lainnya, yang semakna dengan ini banyak jumlahnya, seperti:
وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ     
                     
“Berilah kami rezeki, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama” (Al-Maa`idah:114).
وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan sesungguhnya Allah ialah sebaik-baik pemberi rezeki” (Al-Hajj: 58).
وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ   
     
“Dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki”  (Al-Jumu’ah: 11) [Fiqhul Asmaa`il Husnaa, hal. 103].
In sya Allah akan berlanjut kepada artikel : Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (2).
***
Referensi :
  1. Miftah Daris Sa’adah, Imam Ibnul Qoyyim.
  2. Madarijus Salikin, Imam Ibnul Qoyyim.
  3. Fiqhul Asmaa`il Husnaa, Syaikh Abdur Razzaaq.
  4. Sittu Duror, Syaikh Ar-Ramadhoni.
  5. Mu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Syaikh Khalifah At-Tamimi.
—
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id



Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (2)

Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (2)
Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu  Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (2)


Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Mempelajari nama dan sifat Allah Ta’ala memiliki imbas besar dalam kehidupan seorang hamba. Secara lahir dan batin, ucapan dan perbuatannya akan terbimbing dengan memahami dan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung dalam nama dan sifat Allah tersebut. Di antara nama-nama-Nya yang maha indah dan sangat perlu untuk kita ketahui dalam menghadapi banyak sekali pernak-pernik duduk kasus aktifitas mencari rezeki  adalah nama Allah الرَزَّاقُ (Ar-Razzaq, artinya: Yang Banyak Memberi rezeki).

Makna  الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq) dan perbedaan antaraاَلرَّزْقُ (Ar-Razqu) dengan اَلرِّزْقُ (Ar-Rizqu)

Termasuk nama-nama Allah yang husna (terindah) ialah الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq, artinya Yang Banyak Memberi rezeqi) dan الرَازِقُ  (Ar-Raaziq, artinya Yang Maha Memberi rezeki). Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bait Nuniyyah nya mengatakan,
وكذلك الرزَّاقُ من أسمائه   #    والرَّزْقُ من أفعالهِ نوعانِ
“Demikian pula Ar-Razzaaq ialah salah satu dari nama-nama-Nya # Adapun Ar-Razqu ialah salah satu dari perbuatan-perbuatan-Nya, ini terbagi menjadi dua macam.”
Syaikh Dr. Muhammad Khalil Al-Harras hafizhahullah menjelaskan bait Imam Ibnul Qoyyim di atas,  “Salah satu nama Allah Subhanahu adalah اَلرَّزَّاقُ (Ar-Razzaq, artinya Yang Banyak Memberi rezeki) merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata اَلرَّازِقُ (Ar-Raaziq, artinya Pemberi rezeki).
Perubahan bentuk kata tersebut menunjukkan sesuatu yang banyak, diambil dari kata اَلرَّزْقُ dengan fathah abjad “ra`” (Ar-Razqu yang bermakna pemberian rezeki), yang merupakan bentuk mashdar (kata dasar). Adapun اَلرِّزْقُ dengan kasrah abjad “ra`” (Ar-Rizqu) ialah sebutan bagi sesuatu yang Allah berikan kepada para hamba-Nya berupa rezeki. Makna  اَلرَّزَّاقُ (Ar-Razzaaq) ialah Yang Banyak Memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya, yang derma dan keutamaan-Nya  tidak terputus diberikan kepada mereka, walau sekejap mata.
Adapun kata اَلرَّزْقُ (Ar-Razqu, artinya pemberian rezeki) sama dengan kata Al-Khalqu (penciptaan), yaitu sebagai salah satu sifat fi’liyyah (sifat perbuatan) yang merupakan salah satu sifat-sifat-Nya sebagai Rabb (baca; sifat Rububiyyah)” (Syarh Nuuniyyah,Syaikh DR. Muhammad Khalil Al-Harras (Pdf),jilid 2/110).
Dari klarifikasi di atas sanggup disimpulkan bahwa,
  • Nama Allah اَلرَّزَّاقُ (Ar-Razzaq, artinya Yang Banyak Memberi rezeqi). اَلرَّزَّاقُ merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata اَلرَّازِقُ . Ini menunjukkan makna yang banyak. Hal ini menunjukkan banyaknya rezeki yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya dan juga menunjukkan banyaknya hamba-Nya yang mendapat rezeki tersebut.
  • Nama Allah اَلرَّازِقُ (baca: Ar-Raaziq, artinya: Yang Maha Memberi rezeki). Sifat Allah yang terkandung dalam dua nama tersebut adalahاَلرَّزْقُ (Ar-Razqu yang bermakna pemberian rezeki).

Perbedaan nama Allah اَلرَّزَّاقُ (baca : Ar-Razzaq,artinya: Yang Banyak Memberi rezeqi) dengan اَلرَّازِقُ (baca: Ar-Raaziq, artinya: Yang Maha Memberi rezeki)

Nama اَلرَّازِقُ (Ar-Raaziq, artinya Yang Maha Memberi rezeki) menunjukkan kepada Dzat yang memberi rezeki seluruh makhluk dan Dia pula yang menjamin penyempurnaan rezeki seluruh makhluk-Nya, tidaklah mati satu makhluk pun kecuali telah Dia sempurnakan rezekinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Wahai insan bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, lantaran tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut hingga kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).
Jadi, اَلرَّازِقُ (Ar-Raaziq) mengandung sifat اَلرَّزْقُ (Ar-Razq) yang bermakna pemberian rezeki. Dan Allah disebut اَلرَّازِقُ (Ar-Raaziq) artinya Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk tanpa kecuali. Adapun اَلرَّزَّاقُ  (Ar-Razzaq) menunjukkan makna banyak memberi rezeki, sehingga اَلرَّزَّاقُ  (Ar-Razzaq) artinya Yang Banyak Memberi rezeki. Dia memberi rezeki yang satu kemudian rezeki yang lain dalam jumlah yang sangat banyak.

Hanya Allah lah satu-satunya yang bisa memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya

Syaikh Dr. Muhammad Khalil Al-Harras berkata, “Sifat Ar-Razqu (pemberian rezeki) dihentikan disematkan kepada selain Allah, sehingga selain Allah, dihentikan disebut Ar-Raaziq (Sang Pemberi rezeki) sebagaimana dihentikan disebut Al-Khaaliq (Sang Pencipta)” (Syarh Nuuniyyah, Syaikh DR. Muhammad Khalil Al-Harras (Pdf),jilid 2/110).
Dalil bahwa hanya Allah lah satu-satunya yang bisa memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya ialah firman Allah Ta’ala,
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Allah-lah yang membuat kalian, kemudian memberi kalian rezeki, kemudian mematikan kalian, kemudian menghidupkan kalian (kembali). Adakah di antara yang kalian sekutukan dengan Allah itu, yang sanggup berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan” (Ar-Rum: 40).
Dalam firman Allah di atas, Allah meniadakan adanya Sang Pemberi rezeki selain-Nya, ini menunjukkan hanya Allah lah satu-satunya yang bisa memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya.
Syaikh Dr. Muhammad Khalil Al-Harras berkata, “Seluruh rezeki hanya ada di tangan Allah. Oleh lantaran itu, Dia-lah Sang Pencipta rezeki dan Sang Pencipta makhluk yang mendapat rezeki.  Dia-lah Dzat yang memberikan rezeki kepada mereka dan Dia-lah Sang Pencipta sebab-sebab (makhluk) bisa menikmati rezeki. Dengan demikian, wajib menyandarkan rezeki itu hanya kepada-Nya dan wajib pula bersyukur kepada-Nya atas karunia rezeki tersebut” (Syarh Nuuniyyah, Syaikh DR. Muhammad Khalil Al-Harras (Pdf),jilid 2/110).

Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa rezeki Allah sangatlah banyak jumlahnya dan tidak ada satupun dari makhluk kecuali pasti mendapat rezeki dari-Nya

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa lantaran اَلرَّزَّاقُ (Yang Banyak Memberi rezeki) merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata اَلرَّازِقُ  (Pemberi rezeki), maka ini menunjukkan banyaknya rezeki dan banyaknya makhluk yang mendapat rezeki tersebut.
Bahkan setiap makhluk yang berjalan di muka bumi diberi rezeki, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (Huud: 6).
Allah menjelaskan di dalam Ayat ini bahwa Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini. Siapakah di antara kita yang bisa menghitung jumlah seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini? Jumlah seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini sangatlah banyak, maka ini menunjukkan jumlah rezeki Allah yang diberikan kepada mereka juga sangatlah banyak.
Jangankan kita menghitung rezeki Allah yang didapatkan oleh seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini, menghitung rezeki yang didapatkan oleh salah satu saja dari mereka, kita pun tidak sanggup menghitungnya. Allah berfirman,
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan bila kalian menghitung-hitung nikmat Allah, pasti kalian tak sanggup memilih jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (An-Nahl:18).
Oleh lantaran itu pantas, di antara nama Allah ialah اَلرَّزَّاقُ Yang Banyak Memberi rezeqi). Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk, baik manusia, jin maupun binatang, begitu pula orang yang bertakwa maupun yang suka bermaksiat, orang yang beriman maupun yang kafir, semuanya pasti mendapat rezeki dari Allah. Seandainya dikatakan bahwa ada di antara makhuk yang tidak mendapat rezeki dari Allah, tentulah hal ini mengharuskan adanya pemberi rezeki di alam semesta ini selain Allah, dan ini suatu hal yang batil.
Orang-orang musyrikpun mengakui bahwa rezeki itu dari Allah, Allah ‘Azza wa Jallaberfirman,
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah (Hai Nabi Muhammad kepada orang-orang musyrik): “Siapakah yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah ilahi (menciptakan) telinga dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka menjawab:”Allah”. Maka katakanlah:”Mengapa kalian tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” (Yunus:31).
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman wacana hewan yang tidak sanggup memperoleh atau membawa rezekinya sendiri,
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan berapa banyak hewan yang tidak (dapat) membawa (memperoleh) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Al-‘Ankabuut: 60).
Allah menyebutkan bahwa Allah-lah yang memberi rezeki insan yang berada di daratan maupun di lautan,
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
“Dan bekerjsama telah Kami muliakan belum dewasa Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang tepat atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (Al-Israa`: 70).

Tujuan Allah memberi rezeki kepada hamba-Nya

Setelah kita mengetahui bahwa tidak ada satupun makhluk yang tidak mendapat rezeki dari Allah, maka yang harus kita yakini ialah tidaklah Allah memberi rezeki kepada hamba-Nya kecuali ada tujuannya.  Setelah diberi rezeki, tidaklah makhluk dibiarkan begitu saja menikmatinya tanpa kewajiban apapun, sehingga orang yang serakah lagi zalim dalam mencari rezeki dan dalam memanfaatkannya, disamakan dengan orang yang bertakwa dalam mencari rezeki  dan dalam memanfaatkannya. Tidaklah demikian!
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
إنما خَلَقَ الله الخَلْقَ، ليَعبُدوه، وإنما خَلَقَ الرزقَ لهم ليَسْتَعِيُنوا به على عبادته
“Sesungguhnya Allah membuat makhluk hanyalah biar mereka beribadah kepada-Nya dan Allah membuat rezeki untuk mereka semata-mata biar mereka gunakan rezeki tersebut untuk beribadah kepada-Nya” (Majmu’ul  Fatawa Imam Ibnu Taimiyyah, kitabul Iman, dari http://madrasato-mohammed.com/book232.htm).
Makara Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya untuk bersenang-senang yang melalaikan ibadah kepada-Nya dan tidak pula untuk bermaksiat kepada-Nya. Allah berikan rezeki itu kepada hamba-hamba-Nya biar mereka bisa beribadah kepada-Nya. Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka wacana bagaimana cara mereka mendapat rezeki itu kemudian mereka gunakan untuk apa.
Oleh lantaran itulah pantas bila Allah Ta’ala banyak menyebutkan rezeki-Nya di dalam Al-Qur`an  dalam konteks memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah dan melaksanakan banyak sekali macam keta’atan kepada-Nya. Allah Ta’ala mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya biar mensyukuri rezeki-Nya yang mereka dapatkan dengan mentauhidkan Allah dan menjauhi syirik,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah membuat kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, biar kalian bertakwa,”
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dialah yang menimbulkan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian; lantaran itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui” (Al-Baqarah: 21-22).
Firman Allah Ta’ala:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Allah-lah yang membuat kalian, kemudian memberi kalian rezeki, kemudian mematikan kalian, kemudian menghidupkan kalian (kembali). Adakah di antara yang kalian sekutukan dengan Allah itu, yang sanggup berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (Ar-Rum: 40) .
Allah Ta’ala mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya biar memakai rezeki-Nya untuk beramal di jalan Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum tiba hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim” (Al-Baqarah:254).
Allah Ta’ala mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya biar mensyukuri rezeki-Nya yang mereka dapatkan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, bila benar-benar kepada-Nya kau menyembah” (Al-Baqarah:172).
Allah Ta’ala mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya biar tidak bermaksiat dengan membunuh belum dewasa mereka, lantaran Allah-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan belum dewasa mereka,
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا
“Dan janganlah kalian membunuh belum dewasa kalian lantaran takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian. Sesungguhnya membunuh mereka ialah suatu dosa yang besar” (Al-Israa` : 31). Dari Ayat-Ayat di atas, nampak terang bahwa Allah Ta’ala banyak menyebutkan rezeki-Nya di dalam Al-Qur`an  dalam konteks memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah dan melaksanakan banyak sekali macam keta’atan kepada-Nya. Wallahu a’lam.
Insyaallah akan berlanjut ke artikel penggalan akhir, berjudul Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (3)
***
Referensi:
  1. Fiqhul Asmaa`il Husnaa, Syaikh Abdur Razzaaq.
  2. Syarhu Asmaa`illlaahil Husnaa, Syaikh Sa’id Al-Qohthoni.
  3. Syarh Nuuniyyah,Syaikh DR. Muhammad Khalil Al-Harras (Pdf)
  4. Khuthbah Syaikh Abdur Razzaq di : http://www.alukah.net/sharia/0/22417/
  5.  Majmu’ul  Fatawa Imam Ibnu Taimiyyah, kitabul Iman, dari: http://madrasato-mohammed.com/book232.htm
  6. Kitab Arzaaqul ‘Ibaad di: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?p=1911924
  7. http://www.dorar.net/enc/aqadia/894
  8. http://www.kalemtayeb.com/index.php/kalem/safahat/item/22527
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id

Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (3)

Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (3)
Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu  Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (3)


Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Macam-macam rezeki dan jenis rezeki yang paling utama

Rezeki Allah Ada Dua Umum dan Khusus
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bait Nuniyyah nya mengatakan,
والرَّزْقُ من أفعالهِ نوعانِ
“Adapun Ar-Razqu ialah salah satu dari perbuatan-perbuatan-Nya, ini terbagi menjadi dua macam.”
Rezeki Umum
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bait Imam Ibnul Qoyyim di atas, “Pemberian rezeki oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya ada dua macam, yaitu yang umum dan yang khusus. Pemberian rezeki yang umum ialah Allah memberikan kepada seluruh makhluk segala yang mereka butuhkan di dalam menjaga keberlangsungan dan tegaknya hidup mereka” (Al-Haqqul Waadhihul Mubiin, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di, PDF, hal. 85-86).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tersebut juga menjelaskan bahwa rezeki umum ini mempunyai dua jenis keumuman,
  1. Umum ditinjau dari sisi makhluk yang mendapatkan rezeki ini, yaitu umum meliputi orang yang baik maupun yang jahat, muslim maupun kafir, bahkan juga meliputi manusia, jin, dan hewan. Semuanya mendapatkan rezeki jenis umum ini.
  2. Umum, ditinjau dari sisi status aturan rezeki ini, yaitu umum meliputi rezeki yang halal maupun yang haram, keduanya termasuk rezeki yang umum.
Rezeki Khusus
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bait Nuniyyah nya mengatakan,
رزق على يد عبده ورسوله  # نوعان أيضاً ذان معروفان
رزق القلوب العلم والإيمان والـــــ # رزق المعد لهذه الأبدان
هذا هو الرزق الحلال…
“Rezeki yang dianugerahkan melalui perantaraan hamba dan Rasul-Nya ada dua macam juga, keduanya ialah sesuatu yang sudah dikenal. (Pertama) rezeki hati, ilmu dan keyakinan  (kedua) rezeki yang diperuntukkan untuk badan. Yaitu rezeki yang halal.”
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bait Imam Ibnul Qoyyim di atas bahwa, rezeki yang kedua ini, yaitu rezeki khusus ialah rezeki yang keuntungannya berlangsung terus di dunia maupun di darul abadi dan hanya diperoleh oleh orang-orang yang beriman. Rezeki khusus ini terbagi menjadi dua, yaitu:
  1. Rezeki untuk hati, berupa ilmu dan keyakinan (ilmu dan amal shaleh) serta hakikat keduanya diperoleh melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliaulah yang mengajarkan dan menjelaskannnya. Dengan rezeki ini, seorang hamba akan tercukupi kebutuhannya dalam mencapai tujuan penciptaanya (tujuan hidupnya), yaitu mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya.
  2. Rezeki untuk jasmani, berupa rezeki halal yang tidak mengandung dosa, yang membantu seorang mukmin biar bisa beribadah kepada Rabb nya dengan baik.
Dengan rezeki yang halal ini, seorang hamba akan merasa qana’ah (menerima dan puas) dengan pembagian rezeki dari Allah, alasannya ialah Dia telah mencukupi hamba-hamba-Nya yang beriman dengan rezeki yang halal sehingga mereka tidak membutuhkan rezeki yang haram. Seorang mukmin merasa rela dan puas dengan rezeki halal yang diperolehnya, walaupun jumlahnya sedikit, alasannya ialah hal itu menyebabkannya dicintai dan diridhai oleh Allah, sedangkan meraih kecintaan dan keridhaan Allah ialah tujuan hidupnya.
Dan kedua macam rezeki tersebut tidaklah bisa diperoleh kecuali dari Allah ‘Azza wa Jalla. Maka wajib bagi setiap orang yang beriman untuk memohon kepada Allah saja dalam memperoleh kedua macam rezeki tersebut.
Oleh alasannya ialah itu, kalau berdoa kepada Rabbnya, ‘Ya Allah, berikan kepadaku rezeki’, selayaknya ia maksudkan untuk memohon kepada-Nya sesuatu yang menimbulkan hatinya baik, berupa ilmu , petunjuk dan keimanan serta rezeki yang menimbulkan tubuhnya baik, yaitu rezeki yang halal dan baik serta tidak sulit diperoleh dan tidak mengandung dosa (Al-Haqqul Waadhihul Mubiin, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di, PDF, hal. 85-86 dengan beberapa perubahan dan tambahan).
Kesimpulan
  1. Rezeki Allah terbagi dua umum dan khusus.
  2. Rezeki umum terbagi dua halal dan haram.
Berarti orang kafir atau muslim fasik yang mencari atau memakan rezeki yang haram dikatakan telah terpenuhi jatah rezekinya, namun ia tetap dikatakan berdosa alasannya ialah mencari atau memakan rezeki yang haram.
  1. Rezeki khusus terbagi dua, rezeki hati (ilmu dan amal) dan tubuh (rezeki dunia yang halal).
  2. Rezeki hati ialah tujuan terbesar dan yang paling utama, sedangkan rezeki tubuh ialah sarana menuju tercapainya terbesar tersebut, maka jangan terlena dengan sarana dan lupa tujuan!
  3. Barangsiapa diberi dua macam rezeki khusus sekaligus, berarti kebutuhannya telah tercukupi dengan sempurna, baik kebutuhan beragama Islam maupun kebutuhan jasmaninya. Ia menjadi hamba Allah yang berbahagia di dunia dan akhirat.

Faidah dari mengimani Nama الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq)

Setiap nama dan sifat Allah Ta’ala memiliki tuntutan peribadatan atas seorang hamba.
Seberapa besar ia mengenal nama dan sifat Allah Ta’ala dan melakukan tuntutan peribadatan yang terdapat didalamnya, maka sebesar itu pulalah diperoleh kesempurnaan ‘ubudiyyah (peribadatan)nya kepada Rabb nya. Oleh alasannya ialah itu Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,
وأكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التى يطلع عليها البشر
“Manusia yang paling tepat ibadahnya ialah seorang yang beribadah kepada Allah dengan melakukan tuntutan peribadatan yang terkandung dalam semua nama dan sifat-Nya yang diketahui oleh manusia” (Madarijus Salikin: 1/420).
Maka, di sini akan kami sebutkan beberapa faidah dari mengimani nama الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq), yang hakikatnya ini merupakan tuntutan peribadatan yang terdapat di dalam nama الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq) tersebut.
1. Menumbuhkan keyakinan yang kuat
Bahwa semua bentuk rezeki itu milik Allah semata, baik rezeki umum maupun khusus.  Allah memperlihatkan kedua rezeki ini kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah memberi orang ini dan tidak memberi orang itu, menimbulkan si A kaya dan si B miskin, semua itu sesuai dengan hikmah-Nya yang agung. Inilah diam-diam yang ada dalam firman Allah,
وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (Al-Baqarah: 212).
Syaikh Abdur Rahmân bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan,
ولما كانت الأرزاق الدنيوية والأخروية, لا تحصل إلا بتقدير الله
ولن تنال إلا بمشيئة الله، قال تعالى: { وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}
“Tatkala rezeki duniawi maupun rezeki darul abadi tidak akan sanggup diperoleh kecuali dengan takdir Allah dan tidak bisa didapatkan kecuali dengan kehendak Allah, maka Allah pun berfirman اللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ” (Tafsir As-Sa’di,hal. 95).
2. Menumbuhkan tawakal yang berpengaruh kepada  الرَزَّاقُ (Yang Banyak Memberi Rezeki)
Termasuk pelajaran pertama yang bisa dipetik oleh seorang hamba ketika mendengar nama  الرَزَّاقُ (Yang Banyak Memberi Rezeki) disebutkan ialah munculnya tawakal kepada الرَزَّاقُ (Yang Banyak Memberi Rezeki). Dengan merealisasikan tawakal yang benar, maka ia akan sandarkan hatinya kepada الرَزَّاقُ, gantungkan harapannya kepada Ar-Razzaq dan iringi dengan perjuangan yang sungguh-sungguh, didasari, dengan keyakinan dalam hatinya bahwa rezekinya telah ditulis sebelum ia terlahir di dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ
“Kemudian diutuslah Malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
3. Mengesakan الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq) dalam perbuatan-Nya memberi rezeki.
Nama الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq) mengandung sifat اَلرَّزْقُ (Ar-Razqu yang bermakna proteksi rezeki) dan sifat ini termasuk sifat Rububiyyah yang selain Ar-Rabb (Allah) dilarang disematkan dengan sifat ini. Maka kita harus meyakini bahwa hanya Allah lah satu-satunya yang bisa memberi rezeki makhluk-Nya. Oleh alasannya ialah itu Allah Ta’ala berfirman,
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Allah-lah yang membuat kalian, kemudian memberi kalian rezeki, kemudian mematikan kalian, kemudian menghidupkan kalian (kembali). Adakah di antara yang kalian sekutukan dengan Allah itu, yang sanggup berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan” (Ar-Rum: 40).
Dalam firman Allah di atas, Allah meniadakan adanya Sang Pemberi rezeki selain-Nya, ini memperlihatkan hanya Allah lah satu-satunya yang bisa memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Allah pun memerintahkan kepada hamba-Nya untuk meminta rezeki hanya kepada-Nya,
إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah itu ialah berhala, dan kalian membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu tidak bisa memperlihatkan rezeki kepada kalian; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kalian akan dikembalikan” (Al-‘Ankabuut: 17).

4. Menjadi seorang hamba yang bersyukur kepada الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq) dan bertakwa, alasannya ialah  الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq) ialah Dzat yang banyak memberi rezeki kepadanya

Seorang hamba tidaklah bisa terlepas dari membutuhkan rezeki Allah sesaatpun, setiap hari ia mendapatkan rezeki-Nya. Semakin banyak seorang hamba yang shalih mendapatkan rezeki-Nya, maka semakin bersyukur kepada-Nya dengan memakai rezeki-Nya untuk beribadah kepada-Nya saja. Semakin banyak rezeki, semakin banyak pula syukur dan ibadah kepada-Nya. Hal ini alasannya ialah dia paham bahwa tujuan Allah memberinya rezeki yang halal ialah biar ia gunakan untuk merealisasikan tujuan diciptakannya di muka bumi ini, yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala.
Tipe orang menyerupai ini bukan hanya akan berhati-hati dalam memakai rezeki, namun juga berhati-hati pula dalam mencari rezeki. Dia sangat semangat mencarinya dengan cara yang dicintai oleh Rabb-nya dan bukan dengan cara-cara yang membuat Rabb nya murka. Demikian itu alasannya ialah cara yang haram bertentangan dengan tujuan Allah memberi rezeki kepadanya.
Ia juga takut seandainya tidak bisa mempertanggungjawabkan di Akhirat kelak ihwal darimana dan untuk apa rezeki yang diperolehnya. Dengan taufik Allah kemudian perilaku seseorang yang benar ini, maka rezeki yang diperolehnya pun rezeki yang halalan thoyyiba.
5. Berdo’a kepada Allah dengan menyebut nama-Nya الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq) dalam memohon rezeki, baik rezeki hati maupun jasmani.
Salah satu tuntutan peribadatan yang terkandung dalam nama  الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq) ialah berdo’a kepada Allah dengan menyebut nama-Nya الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq) dalam memohon rezeki, baik rezeki hati maupun jasmani. Ini ialah salah satu bentuk pengamalan perintah Allah Ta’ala,
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
“Hanya milik Allah lah nama-nama yang terindah, maka berdo’a (dan beribadahlah) kalian kepada-Nya dengan nama-nama yang terindah itu” (Al-A’raaf:180).
Misalnya, seseorang berdo’a dengan menyebut nama Ar-Razzaaq,
يَا رَزَّاقُ اُرْزُقْنَا
(“Ya Razzaaqu, urzuqnaa, [wahai Yang Banyak Memberi rezeki, berilah kami rezeki])
Hendaknya menghadirkan permohonan pada Ar-Razzaq berupa rezeki hati maupun rezeki tubuh di dalam hati ketika mengucapkan do’a ini atau do’a yang semakna dengannya. Rezeki hati tersebut sanggup berupa ilmu, iman, dan amal salih, sedangkan rezeki tubuh sanggup berupa rezeki yang halalan thayyiba yang akan dipakai untuk taat kepada Rabb-nya.
Baca satu faidah lagi dari efek nama الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq) dalam artikel Mengapa merasa kekurangan rezeki sehingga harus menerjang yang haram padahal rezeki telah dijamin?
***
Referensi:
  1. Al-Haqqul Waadhihul Mubiin, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di, PDF
  2. Madarijus Salikin, Imam Ibnul Qoyyim.
  3. Tafsir Abdur Rahman As-Sa’di.
  4. http://www.kalemtayeb.com/index.php/kalem/safahat/item/22527
  5. http://articles.Islamweb.net/Media/index.php?page=article&lang=A&id=175063
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id

Tuesday, 31 December 2019

Mengapa Mencari Rezeki Yang Haram Padahal Rezeki Telah Dijamin?

Mengapa Mencari Rezeki Yang Haram Padahal Rezeki Telah Dijamin?
Mengapa Mencari Rezeki Yang Haram Padahal Rezeki Telah Dijamin Mengapa Mencari Rezeki Yang Haram Padahal Rezeki Telah Dijamin?


Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:

Tak pernah merasa kekurangan sedikitpun lantaran Allah Maha Banyak Memberi rezeki

Sebagaimana sudah diketahui dari artikel sebelumnya, bahwa Allah Ta’ala adalah اَلرَّزَّاقُ (Ar-Razzaq [Yang Banyak Memberi rezeqi]) lantaran اَلرَّزَّاقُ merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata اَلرَّازِقُ (Pemberi rezeki), maka ini memperlihatkan kepada makna banyak. Yaitu memperlihatkan banyaknya rezeki yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya dan juga memperlihatkan banyaknya hamba-hamba-Nya yang mendapatkan rezeki tersebut.
Sehingga اَلرَّزَّاقُ  (Ar-Razzaq) artinya Yang Banyak Memberi rezeqi. Dia memberi rezeki yang satu kemudian rezeki yang lain dalam jumlah yang sangat banyak untuk seluruh makhluk-Nya.
Setiap makhluk yang berjalan di muka bumi ini niscaya diberi rezeki, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (Huud: 6).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
أي: جميع ما دب على وجه الأرض، من آدمي، أو حيوان بري أو بحري، فالله تعالى قد تكفل بأرزاقهم وأقواتهم، فرزقهم على الله
“Maksudnya, seluruh yang berjalan di muka bumi ini, baik dari kalangan insan (keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam), maupun binatang, baik hewan darat maupun laut, maka Allah Ta’ala telah menjamin rezeki dan masakan mereka. Jadi, rezeki mereka dijamin oleh Allah” (Tafsir As-Sa’di, hal. 422).
Berarti kita harus meyakini bahwa rezeki kita sudah dijamin oleh Allah Ta’ala. Bahkan rezeki kita telah ditulis sebelum kita terlahir di dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ
“Kemudian diutuslah Malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Rezeki yang telah ditulis untuk kita niscaya akan hingga ke kita. Tidaklah mungkin satu suap masakan yang sudah menjadi jatah kita akan masuk ke verbal orang lain. Seseorang tidaklah akan mati kalau masih ada satu butir nasi saja yang menjadi jatahnya belum ia makan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Wahai insan bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, lantaran tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut hingga kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah, dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya).
Seandainya kini seluruh insan bersepakat untuk menghalangi rezeki yang yang telah Allah memutuskan untuk Anda, maka pastilah mereka akan gagal. Sebaliknya, kini seandainya seluruh insan bersepakat untuk memberi Anda sesuatu yang tidak Allah memutuskan untuk Anda, maka pastilah mereka tidak akan bisa melakukannya.
اللهم لا مانع لما أعطيت و لا معطي لما منعت
“Ya Allah, tidak ada satupun yang bisa mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak pula ada satupun yang bisa memberi sesuatu yang Engkau cegah” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, serta yang lainnya).
Jatah rezeki Anda sudah ditetapkan, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk merasa kekurangan. Bukankah tidak ada satu pun dari makhluk  yang bisa mengurangi jatah rezeki Anda? Jika demikian, maka mustahil jatah Anda bisa berkurang. Mengapa harus merasa kekurangan?
Jika Anda mengatakan “Tapi, rezeki yang saya dapatkan sedikit, jadi saya merasa kurang, cari rezeki halal sulit dan usang kayanya! Saya ingin cepat kaya! Rezeki haram lebih cepat dan gampang didapat, apa boleh buat!” Maka kami katakan kepada Anda “Mengapa harus menerjang yang haram padahal rezeki telah dijatah?”
Ketahuilah! Bahwa orang yang merasa tidak puas dengan rezeki halal yang didapatkannya selama ini dan merasa kurang, kemudian mencarinya dengan cara yang haram, ini setidaknya ada tiga kemungkinan:
  1. Ia malas mencari rezeki dengan cara yang halal atau kurang sungguh-sungguh dalam bekerja.
  2. Ia sudah bekerja maksimal dalam mencari rezeki yang halal, tapi masih merasa kurang.
  3. Ia sudah kaya, tapi masih pula merasa kurang.
Nasihat untuk orang yang pertama, hakikatnya ia sangatlah tidak pantas merasa kekurangan, lantaran ia belum berusaha dengan maksimal. Adapun untuk orang yang kedua dan ketiga, maka setidaknya ada dua kemungkinan penyebabnya:
  1. Ia sudah tahu perilaku dan prinsip hidup seorang muslim yang benar dalam problem rezeki, lalu nekad melanggarnya.
  2. Kurang atau tidak tahu sama sekali perihal perilaku dan prinsip itu, sehingga ia terjatuh kedalam pelanggaran.
Wabillaahi nasta’iin, penjelasan berikut, semoga bisa menjadi obatnya.

Sikap yang benar terhadap rezeki

1. Rezeki atas kehendak Allah ‘Azza wa Jalla
Sikap yang harus dimiliki oleh setiap muslim terhadap rezeki yaitu Allah-lah satu-satunya Sang Pemilik dan Pemberi rezeki hamba-hamba-Nya. Maka di dalam membagikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya. Allah memberi sebagian makhluk dan mencegah pemberian untuk sebagian yang lain sesuai dengan ilmu, nasihat (kebijaksanaan), dan keadilan-Nya. Demikian juga problem banyaknya rezeki yang diberikan kepada para hamba-Nya, Allah menawarkan kepada sebagian mereka rezeki yang banyak, sedangkan kepada sebagian yang lain sedikit saja. Semua terserah Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, Allah tidak akan pernah zalim kepada mereka. Karena semuanya sesuai dengan  ilmu,hikmah (kebijaksanaan) dan keadilan-Nya. Oleh lantaran itu Allah berfirman,
وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (Al-Baqarah: 212).
Syaikh Abdur Rahmân bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan,
ولما كانت الأرزاق الدنيوية والأخروية, لا تحصل إلا بتقدير الله, ولن تنال إلا بمشيئة الله، قال تعالى: { وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}
“Tatkala rezeki duniawi maupun rizki alam abadi tidak akan sanggup diperoleh kecuali dengan takdir Allah dan tidak bisa didapatkan kecuali dengan kehendak Allah, maka Allah pun berfirman {وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}” (Tafsir As-Sa’di, hal. 95).
Allah Maha Mengetahui perihal orang yang kalau dikayakan, maka kekayaannya membuatnya melupakan Allah. Dan Allah pun Maha Mengetahui bahwa ada orang yang kalau dijadikan miskin, ia bisa bersabar dan beribadah kepada-Nya.
Jika ini dipahami, maka seorang hamba tidak protes terhadap jatah rezekinya, bahkan qona’ah (menerima dan rela) atas jatah rezekinya sembari meyakini bahwa hal ini yaitu pilihan Allah yang terbaik baginya. Ia meyakini juga bahwa Allah lebih mengetahui dan lebih sayang terhadap diri hamba-Nya daripada hamba itu sendiri. Dengan demikian ia tidak nekad menerjang yang haram. Walaupun rezeki halal yang diperolehnya sedikit, namun itu yaitu yang terbaik bagi dirinya.
2. Tujuan penciptaan (tujuan hidup) dan tujuan pemberian rezeki
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
إنما خَلَقَ الله الخَلْقَ، ليَعبُدوه، وإنما خَلَقَ الرزقَ لهم ليَسْتَعِيُنوا به على عبادته
“Sesungguhnya Allah membuat makhluk hanya untuk beribadah kepada-Nya dan Allah membuat rezeki untuk mereka semata-mata supaya mereka gunakan rezeki tersebut untuk beribadah kepada-Nya” (Majmu’ul  Fatawa Imam Ibnu Taimiyyah, kitabul Iman, dari http://madrasato-mohammed.com/book232.htm).
Jika seseorang tahu tujuan hidupnya dan tujuan Allah memberinya rezeki, maka ia akan membenci rezeki haram dan tidak mau mencari rezeki haram, lantaran rezeki haram tidak bisa ia gunakan untuk beribadah kepada Rabbnya, bahkan mengakibatkan datangnya siksa Allah. Jika memperoleh rezeki yang halal pun ia tidak gunakan secara berlebihan, sehingga ia merasa cukup dengan rezeki yang halal dan tidak membutuhkan rezeki yang haram.
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa perilaku seorang mukmin yang benar  berbeda dengan perilaku hidup orang-orang kafir:
بخلاف المؤمن فإنه وان نال من الدنيا وشهواتها فإنه لا يستمتع بنصيبه كله ولا يذهب طيباته في حياته الدنيا بل ينال منها ما ينال منها ليتقوى به على التزود لمعاده
“Lain halnya dengan seorang mukmin, meskipun mendapatkan perolehan dunia (yang halal) dan kesenangannya, namun tidak akan ia pergunakan untuk bersenang-senang semata, dan tidak akan ia pergunakan untuk menghilangkan kebaikan-kebaikannya selama hidup di dunia. Tetapi akan ia pergunakan perolehan dunia (yang halal) itu untuk memperkuat diri dalam mencari bekal di akhiratnya kelak” (Miftahu Daris Sa’adah, Ibnul Qoyyim, hal. 197).
Jadi, profil seorang mukmin adalah boro-boro mencari rezeki yang haram, memperoleh rezeki yang halal saja, ia pergunakan dengan baik untuk beribadah kepada Allah.
3. Memahami hakikat Allah memberi dan mencegah rezeki
Orang yang tidak puas dengan rezeki halal yang didapatkannya, padahal ia sudah berusaha mencarinya dengan maksimal, kemudian ia mengikuti hawa nafsunya dengan mencari rezeki dengan cara yang haram, maka hakikatnya ia tidak memahami hakikat perbuatan Allah memberi dan mencegah rezeki. Ketahuilah, bahwa Allah tidaklah sama dengan makhluk-Nya, Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatupun yang sama dengan Dia” (Asy-Syuuraa:11).
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan perihal hakikat Allah memberi dan mencegah rezeki,
“Demikianlah Ar-Rabb (Allah) Subhanahu, tidaklah mencegah hamba-Nya yang beriman mendapatkan sesuatu dari dunia, melainkan memberinya rezeki yang lebih utama dan lebih bermanfaat, dan hal itu tidaklah didapatkan oleh selain Mukmin. Karena sesungguhnya, Allah mencegah seorang mukmin dari mendapatkan suatu jatah rezeki yang rendah dan sepele dan tidak meridhoi itu untuknya dengan tujuan untuk memberinya serpihan rezeki yang lebih tinggi dan mahal. Sedangkan seorang hamba, disebabkan ketidaktahuannya terhadap masalah yang bermanfaat bagi dirinya dan terhadap kedermawanan, akal dan kelembutan Rabb nya, maka ia tidak mengetahui perbedaan antara sesuatu yang ia tercegah dari mendapatkannya, dengan sesuatu yang disimpan untuknya, bahkan ia sangat tergiur dengan kenikmatan (duniawi) yang disegerakan walaupun rendah nilainya, dan (sebaliknya) begitu rendahnya kecintaannya kepada kenikmatan (abadi/pahala) yang ditunda walaupun tinggi nilainya. Kalau seandainya, seorang hamba itu bersikap adil dalam memandang Rabb nya -namun, kapankah ia bisa bersikap demikian?- tentu ia akan mengetahui bahwa karunia-Nya untuknya yang terdapat di dalam pencegahan-Nya (kepadanya) dari (mendapatkan) dunia dan kelezatannya serta kenikmatannya hakikatnya lebih agung daripada karunia-Nya untuknya yang terdapat di dalam pemberian-Nya berupa dunia tersebut. Jadi, tidaklah Allah mencegah hamba tersebut (dari mendapatkan sebagian dari dunia) kecuali untuk memberinya (rezeki yang lebih tinggi), tidaklah menimpakan kepadanya cobaan kecuali untuk menjaganya (dari keburukan), tidaklah mengujinya kecuali untuk mensucikannya (dari dosa), tidaklah mematikannya (di dunia) kecuali untuk menghidupkannya (di Surga)” (Fawaidul Fawaid , libnil Qoyyim, Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, hal. 83).
4. Jenis rezeki yang terpenting
Dalam artikel Macam-macam rezeki dan Faidah dari mengimani Nama الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq), telah disebutkan perbedaan antara rezeki umum dengan yang khusus, sebagai berikut kesimpulannya:
  1. Rezeki Allah terbagi dua umum dan khusus.
  2. Rezeki umum terbagi dua, halal dan haram. Berarti orang kafir atau muslim yang fasik, yang mencari atau memakan rezeki yang haram, ia dikatakan telah terpenuhi jatah rezekinya, namun ia tetap dikatakan berdosa lantaran mencari atau memakan rezeki yang haram.
  3. Rezeki khusus terbagi dua, rezeki hati (ilmu dan amal) dan tubuh (rezeki dunia yang halal).
  4. Rezeki hati yaitu tujuan terbesar dan yang terpenting, sedangkan rezeki tubuh yaitu sarana menuju kepada tujuan terbesar tersebut, maka jangan terlena dengan sarana dan lupa tujuan.
  5. Barangsiapa diberi dua macam rezeki khusus sekaligus, berarti kebutuhannya telah tercukupi dengan sempurna, baik kebutuhan beragama Islam maupun kebutuhan jasmaninya. Dia menjadi hamba Allah yang berbahagia di dunia dan Akhirat.
Dari klarifikasi di atas, sanggup kita pahami bahwa rezeki hati, berupa ilmu dan amal yaitu tujuan terbesar dan yang terpenting, sedangkan rezeki badan, berupa rezeki dunia yang halal yaitu sarana tercapainya tujuan terbesar itu, maka harusnya,
  1. Yang menjadi perhatian utama seorang hamba yaitu mendapatkan rizki hati berupa ilmu, petunjuk,iman dan amal.
  2. Mencari rezeki tubuh (duniawi) bagi seorang mukmin, tidak lepas dari konteks mencari rezeki yang terpenting, yaitu rezeki hati (ilmu dan amal), lantaran rezeki tubuh sarana bagi rezeki hati, ditambah lagi bahwa tujuan pemberian rezeki yaitu untuk dipakai beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
  3. Tidak mencari rezeki yang haram, lantaran terdapat bahaya yang keras bagi pelakunya.
Untuk mengetahui lebih lanjut perihal tanggapan pekerjaan yang haram, silahkan Anda membaca goresan pena Al-Ustadz Muhammad Tausikal hafizhahullah di http://rumaysho.com/muamalah/mencari-pekerjaan-yang-halal-9616
***
Referensi:
  1. Al-Haqqul Waadhihul Mubiin, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di, PDF
  2. Fawaidul Fawaid ,libnil Qoyyim, Syaikh Ali Hasan Al-Halabi.
  3. Miftahu Daris Sa’adah, Ibnul Qoyyim
  4. Tafsir Abdur Rahman As-Sa’di.
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.Or.Id